Arang and the Magistrate Episode 2

Eun-oh menyadari kalau Arang merupakan sumber info tentang ibunya yg menghilang dan berkuda melewati malaikat kematian untuk menaikkan Arang ke atas kudanya. Mu-young begitu bersemangat dan kekuatan mistisnya sepertinya menambah kecepatannya.

Arang mengernyit ketika dia mengambil segenggam bunga peach, soalnya bunga itu merupakan pisau tajam bagi param hantu, dan melemparnya ke belakang. Mu-young berhenti dan melindungi dirinya, salah satu bunga melukai wajahnya.

Ketika sampai di pinggir sungai, Eun-oh masih tetap marah dan menarik jepit rambut itu dari rambut Arang. Flashback menunjukkan kalau dia memberikan jepit itu untuk ibunya dan sekarang dia bertanya dimana Arang mengambilnya.

Arang menarik kembali jepitnya dan menjawab kalau benda itu miliknya – dia sudah memakainya saat terbangun sebagai hantu jadi pasti miliknya saat dia masih hidup. Eun-oh berpikir Arang bertemu dengan ibunya sebelum mati tapi ingatan Arang yg belum kembali tidak membantu apapun. Arang mengucapkan terima kasih atas pertolongan Eun-oh dan pergi. Tapi Eun-oh memanggilnya dan mau membantu menemukan nama asli Arang – mungkin nantinya dia ingat soal ibu Eun-oh.

Arang senang dan mengatakan kalau dirinya benar, Arang berpikir kalau Eun-oh benar2 baik, simpatik meski dia sering bersikap dingin. Arang: “Aku penilai karakter yg hebat!” Arang terus ngoceh yg terus didengarkan Eun-oh, meski Eun-oh mengeluh tentang hantu yg tetap di dunia alih2 pergi ke dunia sana.

Arang berkata, “Jika kau belum mati, diamlah. Semua orang punya alasan masing2.” Contohnya adalah pencarian namanya. “Apa kau tahu betapa sedihnya tidak mengetahui siapa kau sebenarnya?” Eun-oh mengatakan kalau malaikat maut memanggilnya Arang, tapi menambahkan, “Aku tidak akan memanggil namamu, Amnesia.” Arang mengatakan tidak masalah, sebab mereka tidak akan lama bersama hingga harus menggunakan nama.

Mu-young tiba di Surga untuk bertemu dengan raja dan berhenti untuk melihat peri yg merawat kebun. Raja menebak kalau Mu-young sedang memikirkan adiknya dan mengatakan sekali mereka tiba di dunia roh, mereka harus memutus hubungan mereka dalam kehidupan nyata.

Mu-young melaporkan kalau dia belum menangkap hantu yg kabur. Raja Neraka datang dan bertanya bagaimana tali merah Arang bisa lepas. Raja Surga mengatakan Arang akan datang sendiri – benih takdir sudah disebar dan sudah waktunya tumbuh.

Untuk menunjukkannya, Raja Surga menyentuh bunga di taman dan semua bunga berubah putih. Raja Surga: “Inilah takdir – takdir selalu berputar dan pada satu titik semuanya kembali pada tempatnya.” Sebuah sentuhan lain dan bunga kembali seperti semula.

Kembali ke Miryang. Eun-oh mengejutkan Dol-swe dengan mengatakan keinginannya menjadi hakim. Dol-swe khawatir tuannya menderita luka dan karena dia gampang marah dank eras kepala, Dol-swe menyalahkan petugas pemerintah dan langsung mencari mereka.

Trio pegawai pemerintah itu, saat ini sedang khawatir pada hakim baru yg tidak mati. Bang nomer 1: menulis surat pada raja menjelaskan bagaimana hakim yg baru kabur tanpa peduli pada posisinya untuk itu dia menghina raja. Dia berhenti sebentar – bukankah dia benar? Bang nomer 2: “Aku rasa itu bagus. Bukankah itu yg dikatakan semua orang penting.”

Dol-swe masuk dan menarik kerah baju mereka, bertanya apa yg mereka lakukan pada tuannya. Eun-oh menghentikan itu semua. Ketiga Bang itu mendesah kalau posisi mereka sudah berakhir. Jadi mereka harus menikmati tidak memiliki bos dan memilih jalan mereka sendiri menjalankan pemerintahan.

Mereka bertanya apa yg bisa mereka lalukan. Eun-oh putra seorang bangsawan, jadi mereka tidak bisa melakukan apapun padanya. Bang 1 punya ide yg mungkin bagus. Mereka tetap harus mengisi jabatan itu dan mungkin mereka bisa mendapatkan hakim atau membohong hakim itu.

Itu artinya mereka ingin mengamati Eun-oh sebentar, untuk mengetahui kepribadiannya. Dan juga, seseorang harus mengunjungi keluarga bangsawa, keluarga Choi. Ketiga orang itu saling pandang.

Lee-bang berlutut di depan Tuan Choi, minta maaf karena memilih hakim asal2an. Ayah Eun-oh patut diwaspadai sebab Tuan Kim sangat kuat (meski belakangan ini sering absent dari dunia politik), dan begitu juga Tuan Choi. Ditanya apa yg dicari Eun-oh, Lee-bang menjawab, “Seorang wa..wa…wanita…”

Arang duduk untuk diambil gambar. Eun-oh bekerja keras menggambar wajahnya, untuk dipakai bertanya pada penduduk sekitar soal identitasnya. Masalahnya, Eun-oh artis payah, meski begitu dia puas dengan hasil gambarnya sampai Arang berteriak ngeri, “Aku terlihat seperti itu?”

Eun-oh bertahan, tetap menggambar dan menggambar yg diintai oleh para Bang. Akhirnya, Eun-oh membawa seorang artis sungguhan untuk menggambar, meski sang pelukis merasa semuanya begitu aneh – dia tidak bisa melihat hantu, jadi Eun-oh memandang lemas ke udara yg kosong.

Lee-bang menjelaskan pada Tuan Choi kalau yg Eun-oh lakukan hanya mengurung diri dan menggambar wajah seorang waniya. Tuan Choi memerintahkan apa yg Eun-oh cari. Sementara itu, bagi Eun-oh semuanya kacau jadi dia mencoba taktik lain: dimana Arang meninggal? Mereka bisa mencari jejak disana.

Masalahnya, Arang tidak tahu. Dia bangun di wilayah transit, mengikuti malaikat maut. Arang menawarkan dua klu tentang dirinya: (1) dia hantu amnesia yg berkeliaran di dunia selama 3 tahun dan (2) dia sering merasa sakit di tubuh bagian kirinya, sepertinya dia ditikam di bagian itu. Eun-oh: “Kenapa mengatakannya sekarang?”

Tugas pertama sebagai hakim: Eun-oh memerintahkan para Bang membawakannya catatan kasus pembunuhan yg tidak terpecahkan selama 3 tahun belakangan. Eun-oh membuka halaman demi halaman dan daftar itu hanya berisi catatan kematian dgn alasan seperti: bertengkar dgn ibu mertua, selingkuh. Eun-oh komen, “Kenapa mereka semua berhasrat membunuh?”

Tidak ada apa2. Arang bertanya2 apa mungkin bukan pembunuhan atau mungkin mayatnya belum ditemukan. Arang marah pd cara Eun-oh mengomentari idenya dengan tertawa. Eun-oh: “Kau pasti sedang membusuk sendirian di suatu tempat.” Arang menuduh Eun-oh tidak serius.

Arang berlari keluar kantor dan marah. Dia mengeluh kalau dia salah soal Eun-oh. Eun-oh bertanya-tanya apa yg harus dilakukan selanjutnya ketika jalan2 malamnya membawanya ke sebuah rumah yg menarik perhatiannya. Gerbangnya terkunci jadi dia melompat lewat tembok.

Cahaya menyala di dalam rumah dan dia membuka pintu pelan2. Eun-oh memperhatikan isi ruangan itu: buku masih terbuka, aksesoris wanita dan kosmetik masih bertebaran.

Saat melihat sekeliling, mata Eun-oh membelalak melihat bordiran kain dengan kupu2 menempel disana. Berjalan-jalan di daerah yg sama, Arang berhenti di luar sebuah rumah dan bertanya-tanya, “Apa yg mereka sedang lakukan di sana?”

Beberapa hantu mondar mandir di gerbang. Arang bertanya apa yg terjadi dan diberitahu ada perayaan di dalam sana. Arang langsung ingat ketika dia berkeliaran dengan perut lapar. Sesosok hantu menawarkan nasi padanya yang langsung di habiskan.

Hantu itu menanyakan namanya dan kaget waktu bilang tidak tahu. Hantu itu memberitahu Arang kalau hantu perawan disebut Arang. Hantu itu menyuruh Arang menggunakan nama itu sala. Hantu itu juga memperingatkan kalau Arang akan kelaparan, dan mengatakan kalau mereka bisa makan dari nasi yg ditebar saat perayaan.

Sekarang Arang senang mendengar ada nasi gratis. Sedangkan Eun-oh melanjutkan penyelidikan, tapi seorang pelayan muncul dan memarahinya karena masuk tanpa permisi lalu menyuruh Eun-oh mengembalikan semua barang ke tempatnya semula.

Eun-oh memperkenalkan dirinya sebagai hakin yg baru dan bertanya kamar itu punya siapa. Pelayan itu mengatakan kamar itu milik putri hakim sebelumnya. Kamar itu belum dibersihkan sebab gadis itu menghilang dan kamarnya harus tetap sama saat dia kembali: “Kamar itu segalanya baginya.” Semua berputra di kepala Eun-oh dan dia bertanya kapan menghilangnya. Tiga tahun lalu. Eun-oh berkata, “Aku menemukanmu, Amnesia.”

Para hantu masih berdesakan dan siap menerkam makanan yg akan di lempar. Arang malah pergi ke tengah2 kerumunan itu.

Gerbang dibuka. Seorang pelayan muncul membawa semangkuk makanan dan mengaturnya di depan rumah. Para hantu mulai berlari, menarik satu sama lain dan terbang melingkar mengambil mangkuk itu, yg terbang ke udara. Nasehat hantu yg dulu itu mendengung di telinga Arang: dia harus melakukan segalanya mendapatkan makanan, pertahanan terbaik hantu.

Arang kalah dari hantu lainnya yg kabur. Hantu yg tersisa beralih kepadanya, mengatakan kalau semua ini salah Arang. Mereka pergi sambil mengutuk Arang dan Arang mengeluh kalau hantu sebaiknya tidak berkelompok seperti itu lalu berteriak, “Apa kalian tidak punya harga diri?”

Saat dia sampai di tempat Eun-oh, Eun-oh sudah menunggu dengan kesal dan bertanya Arang pergi kemana. Eun-oh tidak sabar dan menarik tangan Arang untuk dibawa ke kamar itu, sambil mengatakan dia sudah menemukannya: Lee Seo-rim dulu namanya.

Arang mengambil isi ruangan itu seperti orang asing, memandangi semuanya seperti tidak kenal. Dia bertanya, “Apa kau yakin?” Eun-oh mengiyakan, menunjuk ke bordiran. Desainnya sama seperti di baju Arang. Tapi Arang tidak ingat apapun, dan tidak ada seberkas koneksi. Eun-oh mendesah kecewa.

Eun-oh bertanya pada trio Bang dan mereka berdecak-decak soal hilangnya gadis itu sbg yg tdk dapat dikategorikan: gadis itu jatuh cinta pada seorang laki2 dan kabur. Wanita kaya, yg tidak pernah menyangka dia akan kabur demi pejabat rendahan? Eun-oh marah2 mendengar penjelasan itu. Arang, yg juga mendengarkan, mendelik.

Trio Bang mengatakan tidak ada yg tahu wajah gadis itu, sebab dia selalu dikurung di kamar itu – yg membuat semakin aneh sebab dia bisa jatuh cinta pada seorang pria. Ayah gadis itu mencari kemana-mana, memerintahkan seluruh anak buahnya melakukan pencarian, tapi kemudian meninggal. Gadis itu tidak punya keluarga lain.

Tapi Lee-bang mengatakan, ada pihak lain yg terluka oleh rumor itu: gadis itu sudah bertunangan. Eun-oh berbicara dgn Arang, memintanya bersabar. Arang meringkuk di pojok, sambil mencongkel tanah dgn tongkat (aku kok inget Sin-chan!). Eun-oh hanya tertarik pada kembalinya ingatan Arang, tapi tetap saja tidak ada perubahan.

Arang memutuskan kalau dia harus bertemu tunangannya untuk bertanya manusia seperti apa dirinya. Tapi dia tidak bisa berbicara padanya, jadi… bisakah Eun-oh membantu?

Eun-oh melotot – dia tidak akan keluar sana dan mengumumkan dia bisa melihat hantu. Arang mendesah kalau Eun-oh benar dan berterima kasih atas bantuannya, lalu mengucapkan selamat tinggal. Soalnya mereka tidak punya alasan bertemu lagi.

Eun-oh tidak terima itu, matanya mendarat pada jepit rambut Arang. Dengan enggan, Eun-oh memanggil Arang, setuju untuk bertemu dengan tunangannya. Arang bersinar penuh semangat dan Eun-oh terlihat kesal.

Hari berikutnya, Eun-oh tiba di gerbang rumah tunangan Arang… yg ternyata Joo-wal, anak Tuan Choi. Eun-oh berbisik ke Arang – bagaimana bisa dia memilih pria miskin padahal ada pria kaya ini, bangsawa pula?

Dari balik tembok, Eun-oh melihat sekilas Joo-wal sedang melukis di halaman. Arang mengintip penasaran… dan nafasnya menjadi berat. Dia memegang dadanya dan bertanya-tanya pada reaksinya. Apa ini kegembiraan? Sakit?

Arang mengatakan kalau dia tdk bisa masuk ke dalam. Sambil menepuk dada dia berkata, “Ini balapan dan aku tidak bisa bernafas.” Eun-oh tidak percaya ini dan mengatakan hantu tidak punya jantung untuk dikhawatirkan dan Arang menepuk dadanya, dia mengatakan yg sejujurnya. Eun-oh berbalik akan menunjuk dada Arang tapi tiba2 ingat sebelum melakukannya.

Eun-oh menarik tangan Arang mengajaknya masuk. Tapi Arang bertahan dan mengatakan dia akan pergi lain kali. Dia terlalu malu bertemu hari ini. Eun-oh mencoba memaksanya tapi Arang tetap menolak, jadi Eun-oh menyerah dan mulai berteriak menarik perhatian Joo-wal, kalau begitu. Arang menutup mulut Eun-oh dan menyeretnya pergi. Yg tentu saja merupakan hal aneh bagi yg tidak bisa melihat hantu.

Eun-oh lupa diri dan bereaksi ke Arang dihadapan orang lain, seperti yg Eun-oh lakukan di kedai tempat mereka berhenti untuk minum. Arang menegak semua anggur beras-nya dan mengambil botol yg baru dan Eun-oh mencoba menghentikannya.

Arang sedang sakit hati. Rupanya cintanya bertepuk sebelah tangan, hanya rasa sakit tanpa kebahagiaan. Eun-oh bertanya apa alasan Arang bersikap begini dan Arang menjawab, “Aku pasti sangat menyukainya.”

Eun-oh berujar tajam kenapa gadis yg mencintai tunangannya berkhianat dengan kabur bersama orang lain. Arang juga tidak mengerti tapi menolak bertemu dengan Joo-wal. Dia pasti sangat peduli pada Joo-wal dan karenanya dia tidak boleh menemui Joo-wal seperti ini.

Eun-oh hanya berujar kalau Arang sudah meninggal, “Joo-wal tidak bisa melihatmu!” Arang menjawab, “Tetap saja, aku tidak bisa! Hati wanita tidak seperti yg kau pikirkan.” Meski dia tidak bisa dilihat, dia ingin bertemu Joo-wal tanpa rasa malu.

Eun-oh memandang kasihan pada Arang. Sedangkan Arang hanya bisa mengubur dirinya di lengannya, berkata kalau siapapun tidak akan memberikan baju pada hantu sepertinya, “Aku rasa aku harus pergi ke dunia sana.”

Eun-oh jelas tidak suka mendengar ini. Apalagi kunci tentang keberadaan ibunya adalah Arang. Mereka menuju toko baju. Dengan digendong pula! Dan Arang ternyata berat juga sampai2 Eun-oh mengatakan kalau Arang lebih ringan waktu dia diangkat naik ke kudanya.

Wajah Arang ada tepat di sebelah wajah Eun-oh dan dia membeku beberapa saat. Merasakan sesuatu? Tapi setelah pipi Arang benar2 menyentuh pipi Eun-oh, barulah Eun-oh merasakan sentuhan dingin dan menjatuhkan Arang.

Eun-oh memperingatkan dirinya kalau dia tidak harus susah payah membantu Arang berdiri sebab tidak ada orang yg bisa melihatnya. Eun-oh mengatakan kalau dia harus pelan2: “Soalnya punggungku sangat berharga!”

Eun-oh mengangkat Arang lagi, lalu ada pejalan kaki yg memandangi Eun-oh dengan aneh. Bum! Dia menjatuhkan Arang lagi. Untungnya, Arang tetap tidur sepanjang waktu. Hahahaha!

Joo-wal muncul secara tidak terduga di tempat gisaeng, yg membuat semua gisaeng kegirangan. Ini merupakan pertama kalinya Joo-wal ke tempat seperti ini, seperti kata pelayannya, meski begitu Joo-wal kelihatannya tidak akan menjelaskan alasannya pergi ke tempat seperti itu.

Joo-wal duduk sendiri di sebuah meja panjang, sedangkan para gisaeng berkumpul di sisi meja yg lainnya, berharap dipilih Joo-wal. Dia sebenarnya menyewa seluruh tempat itu utk malam ini, tapi bukan utk kegiatan seperti biasa. Joo-wal memandangi barisan itu dan melihat cincin hitamnya.

Seperti dia mencari sesuatu atau seseorang, tapi tidak dia temukan. Dia berdiri kecewa, tidak memilih siapapun. Ketika keluar, Joo-wal bertanya pada dirinya sendiri, “Apa yg aku lakukan disini? Apa kau gila, berpikir bisa menemukannya di tempat seperti ini?”

Joo-wal kembali ke dirinya yg semula. Seorang gisaeng mengikutinya untuk menggodanya. Tapi dia mendorong wanita itu dengan kasar. Tapi sesuatu pada diri wanita itu menarik perhatian Joo-wal dan dengan cepat dia mendorong wanita itu ke pohon dan menodongkan belati ke lehernya. Wanita itu gemetar ketakutan dan Joo-wal berubah pikiran lagi. Setelah memperingatkan wanita itu utk berhenti, Joo-wal pergi.

Eun-oh mengeluh dan tersandung bersama Arang di punggungnya. Setelah sampai, Arang bertanya, “Apa aku tidak berat?” Ternyata dia sudah bangun jauh sebelaumnya, yg membuat Eun-oh terkejut.

Mereka menemui Bang-wool, yg tidak takut lagi mendengar suara Arang. Khususnya ketika Arang meminta Bang-wool memberikannya baju baru yg paling bagus, soalnya usaha terakhir mereka mendapatkan baju baru sangat kacau.

Tapi Eun-oh melemparkan uang pada Bang-wool, yg membuatnya berubah pikiran. Dia perlu bantuan lain sebab Bang-wool tidak bisa melihat Arang. Yg pertama soal ukuran baju Arang. Arang mengatakan kalau dia bisa melakukannya sendiri, tapi dia malu menyebutkan ukurannya. Dia berbisik ke telinga Bang-wool yg ternyata malah mengucapkannya keras2.

Sisanya, pengukuran baju itu membuat Eun-oh dan Arang semakin dekat. Mereka saling pandang dan kesadaran itu semakin tumbuh ketika Eun-oh menyentuh bahu, lengan dan tangan Arang.

Bang-wool mengatakan sesi itu sudah selesai, mengatakan kalau berdasarkan angka2 itu, Arang memiliki bentuk tubuh yg bagus.

Karena suasana masih kaku diantara mereka, Arang menghilang terlebih dahulu. Bang-wool menahan Eun-oh utk bertanya bagaimana dia bisa melihat hantu. Apa ada metode rahasia? Eun-oh hanya memperingatkan Bang-wool agar tidak memberitahu siapapun dia bisa melihat hantu, kalau Bang-wool tidak mau menjadi salah satu dari mereka. Eun-oh pergi sambil menepuk dadanya, “Ada apa denganku? Apa kau gila? Aku pasti gila.”

Eun-oh tidak melihat Arang yg melihatnya dari atap, tersenyum. Dia terkesan dengan kebaikan Eun-oh soal baju barunya dan sekarang dia mengucapkan selamat pada dirinya karena menjadi penilai karakter yg baik.

Ketika Eun-oh menyeberangi jembatan utk kembali ke kota, dia berjumpa Joo-wal yg datang dari arah berlawanan. Mereka berpapasan dengan diam, tapi Eun-oh bertanya apa yg Arang lihat dalam diri pria itu.

Tuan Choi menerima laporan kalau Joo-wal baru kembali dari tempat gisaeng. Ayah merasa itu aneh, tapi tahu kalau Joo-wal sedang tidak menjadi dirinya sendiri. Tapi kemudian ayah bertanya berapa lama sampai bulan sabit. Joo-wal berdiri di luar memandangi bulan purnama.

Sesuatu membangunkan Eun-oh ditengah malam. Dia membuka mata dan menemukan Arang berbaring di sisinya, memandanginya. Arang mengatakan semua orang punya kesedihannya dan bertanya apa Eun-oh tahu kesedihannya. Eun-oh: “Memakai baju yg sama selama 3 tahun?”

Arang menggeleng, “Bukan. Tapi menjadi hantu perawan tanpa pernah merasakan satu ciuman.” Eun-oh: “Apa?”

Mata Eun-oh melebar. Arang semakin mendekat.

Moon Geun-young dan Park Shi-hoo di Cheongdam-dong Alice

Moon Geun Young akhirnya setuju untuk tampil sebagai pemeran utama dalam Cheongdam-dong Alice. Dan… dalam drama itu, dia dipasangkan dengan Park Shi Hoo… Siapa?????? Park Shi Hoo?????? Ya…. Akhirnya PSH balik lagi setelah memesonaku dalam Princess’ Man.

Cheongdam-dong Alice diadaptasi dari novel berjudul Cheongdam-dong Audrey, yang menampilkan tokoh utama yang sangat positif, Se-kyung, yg menjalani hidup dengan moto ‘kerja keras menciptakan kesuksesanmu.’ Bagus banget. Se-kyung merupakan pendatang baru di dunia fashion yg berbeda dan penuh konsumerisme, yaitu Cheongdam-dong, Seoul.

Se-kyung merupakan designer muda berbakat yang memenangkan beberapa kontes dan bekerja di sebuah perusahaan desain baju. Tapi Se-kyung begitu tidak disukai oleh istri bos-nya. Yang buruk, istri bos-nya itu dulunya teman satu SMA-nya, yg merupakan murid yg lebih bodoh dari Se-kyung.

Memang sih belum ada info apa2 soal peran Park Shi Hoo tapi kemungkinan besar dia merupakan presiden direktur sebuah departemen store. Cheongdam-dong Alice direncanakan tayang menggantikan Five Fingers.

Source: dramabeans

Kim So Yeon Tampil di Sageuk

Terus terang saja, selama menjadi penggemar berat drama Korea, aku belum pernah melihat Kim So Yeon tampil dalam drama sageuk. Apa ada ya, drama sageuk yg dibintangi Kim So Yeon sebelumnya???? Kasi tau aku ya…

Dan di tahun ini, Kim So Yeon bakal tampil dalam drama sageuk berjudul The Great Seer. Dia tampil bersama Ji Jin Hee, Song Chang Ui dan Go Soo. Karakter yang diperankan Kim So Yeon merupakan seorang tabib yg terlibat cinta segitiga dengan raja dan sang peramal Dae Pong-soo. Ji Jin Hee berperan sebagai raja yang membawa kehancuran bagi dinasti Goryeo dan merupakan raja pertama dinasti Joseon. Sedangkan Go Soo adalah peramal yg memastikan Ji Jin Hee benar2 menjadi raja. Karakter yg diperankan Kim So Yeon terikat takdir pada sang raja tapi jatuh cinta pada sang peramal.

Drama ini direncanakan tayang pada bulan oktober di stasiun SBS.

Source: kaedejun

Arang and the Magistrate Episode 1

Episode perdana dibuka dengan pemberitahuan kalau tembok yg membedakan kehidupan ini dengan kehidupan berikutnya telah rusak. Jadi hantu berkeliaran di dunia manusia. Hantu bisa melihat manusia tapi manusia tidak bisa melihat hantu.

Ada satu pria yang bisa melihat hantu dan sedang menuju ke Miryang, mencari ibunya yang menghilang 3 tahun yg lalu. Dia Eun-oh (Lee Jun Ki), sedang tertidur di dekat batu sementara pelayannya Dol-swe berhenti untuk minum. Dol-swe mengeluh kalau tuannya seharusnya mencari hantu, tapi dia malah tertidur saat melakukannya pekerjaan itu.

Dol-swe mendesah kalau dia tidak bisa marah pada tuan untuk hal yg tidak bisa dia lakukan, seperti “Aku minta maaf,” “Terima kasih,” atau “Aku mencintaimu.” Eun-oh mengatakan kalau hal2 itu tidak memiliki tujuan berguna dalam hidup. Dia melihat ke langit dan memprediksi akan ada badai.

Di tempat lain di hutan, Arang (Shin Min Ah) mengejar seseorang atau sesuatu, kesal karena mereka sudah tinggal bersama dan makan bersama atas bantuan Arang, dan sekarang mereka kabur. Arang mengikat rambutnya, menaikkan rok-nya dan melompati batu besar ketika dia berlari membelah hutan.

Sebuah karafan lewat di jalan, dan tiba2 muncul hantu dari udara dari balik pepohonan. Ini sekelompok hantu bandit, mengawasi karafan itu. Salah satu hantu khawatir kalau mereka tdk bisa melakukan ini tanpa Arang, tapi sang pemimpin mengatakan mereka tdk perlu Arang.

Mereka melakukan serangan, yg jadi begitu mudah soalnya mereka tidak terlihat – mereka menakuti manusia itu dengan melompat di belakang manusia2 itu dan tiba2 saja para manusia tercekik dan pingsan.

Hantu yg lain siap bergabung, ketika Arang muncul tepat dihadapan mereka, marah. Mereka ketakutan. Sang pemimpin mencoba berpura-pura kalau mereka sedang menunggu Arang. Tapi dia mendapat tinju dari Arang.

Arang sebenarnya akan mengajari mereka beberapa hal, ketika sesuatu mengalihkan perhatiannya. Dia menengadah. Sebuah jarring raksasa jatuh dari langit dan semua hantu ketakutan. Tiga hantu terjebak. Lalu, tiga malaikat maut muncul dari langit, dalam tugas berburu mereka.

Mereka berburu dengan benda2 mistis, yg semuanya berfungsi sama – menyedot hantu, membuat mereka menghilang. Salah satu malaikat maut Mu-young (Han Jung Soo) mengepung Arang dan Arang kabur menyelamatkan diri.

Eun-oh dan Dol-swe melanjutkan perjalanan melewati hutan yg mengerikan dan Dol-swe mengatakan kalau orang2 bilang gunung itu sangat berhubungan erat dengan hantu. Eun-oh mendesah, “Tidak ada hantu!”

Dol-swe bergumam: apakah tuan yakin Miryang merupakan tempat terakhir dimana ibunya terlihat? Sebab ada rumor tentang kota itu, dan tentang bagaimana setiap hakim yg tiba disana mati…

Eun-oh mendengar keributan di belakang mereka dan berhenti. Dol-swe tegang dan Eun-oh menunjuk ke bahunya, “Hantu… di belakangmu!” Dol-swe ketakutan dan Eun-oh tertawa atas leluconnya itu. Hanya saja, saat dia menoleh, Arang sedang berlari ke arahnya dengan kecepatan penuh.

Eun-oh bisa melihat Arang dan Malaikat maut dan jelas sekali ini bukan untuk yg pertama kalinya dia melihat makhluk halus. Tangannya menegang dan dia memandang lurus ke depan saat Arang melewatinya (orang tua di Bali juga ngasi tahu buat memandang lurus ke depan kalau kebetulan lihat hantu!). Tongkat malaikat maut melayang melewati wajah Eun-oh, memukul Arang.

Eun-oh menguatkan dirinya dan berjalan melewati makhluk halus itu, berusaha mengabaikan mereka. Mu-young melayang di atas Arang dan Arang bertanya apa yg Kepala Malaikat Mau lakukan dengan mengejar seorang hantu – atau mungkin Mu-young seharusnya tidak melepaskan Arang di Sungai Kematian.

Mu-young memanggil nama Arang dan mendesah, lebih seperti orang tua dengan anaknya yg nakal lalu menjelaskan kalau dia harus membayar kesalahannya juga. Tapi Arang juga harus mengikuti aturan orang mati.

Arang memaki kalau orang yg kehausan menggali sumur – itu juga hukum. Arang lalu melangkah mundur dan memasang pertahanan. Mu-young mengeluarkan tali merah. Arang menggapai sakunya dan bertanya, “Kau suka bunga peach, bukan?” lalu melemparkan segenggam kelopak bunga ke arah Mu-young. Mu-young menghindar dan melindungi wajahnya. Kelopak bunga itu melukai tangannya.

Ketika Mu-young berbalik lagi, Arang sudah menghilang. Mu-young berteriak, “Arang!” Eun-oh mendengar teriakan itu dan berusaha mengabaikannya, dan saat itu juga hujan turun. Eun-oh dan Dol-swe masuk ke rumah tua untuk menginap malam itu.

Sementara itu Arang kabur dan juga kehujanan. Dia membuka tangannya, takut karena kelopak bunga peach itu dan luka2nya ternyata sudah sembuh. Arang menghadap ke langit pada Raja Surga dan berteriak: “Kau pikir kau sehebat itu?!”

Dan di jembatan antara neraka dan surga, Kaisar Langit (Yoo Seung Ho) memasang telinganya, “Seseorang pasti mengutuk namaku!” Dia sedang bermain badook dengan saudara kembarnya, Raja Neraka (Park Joon Kyu), yg begitu ingin memenangkan permainan itu. Raja Surga lebih tertarik pada peri yg membawakan the untuknya. Dia tersenyum dan memuji gaya rambut sang peri. Wkwkwkwk…

Sang peri mengatakan kalau dia memiliki tatanan rambut yg sama kemarin, lusa, dan selama ratusan tahun. Hehehehe… Raja Neraka mengatakan kalau sekarang gilirannya. Dia menambahkan kalau hal itu juga bukan masalah lagi sebab dia sudah menang. Raja Surga melihat papan permainan (yg terbuat dari air) dan mencemplungkan miliknya ke bawah.

Raja Surga: “Oh. Oh, tidak, tidak… aku minta maaf. Aku benar2 tidak berencana memenangkan babak yg ini!” Raja Neraka marah dan Raja Surga dengan cepat mengganto topic, bertanya-tanya apakah Mu-young sudah menangkap ‘anak itu’ sekarang. Raja Surga langsung menuju Surga, meninggalkan saudaranya berteriak marah di jembatan itu.

Surga merupakan taman yg sangat indah dan Raja bicara pada kambingnya, mengatakan kalau dia tidak bermaksud memenangkannya, hanya Raja Neraka cenderung memperhitungkan semua hal kecil, “Dan ada begitu banyak hal di dunia ini yg tidak berjalan menurut perhitungan, bukan?”

Raja menyiram bunga yg tumbuh di punggung kabing, dan beralih ke bumi dimana hutan sedang diguyur hujan. Arang berlari di bawah pohon dan memetik daun untuk dipakai sebagai payung. Gumiho banget!

Ketika Dol-swe tidur, Eun-oh mendekat ke perapian dan terjaga sambil memikirkan ibunya. Flashback ke perisahan mereka, ketika Eun-oh mengatakan kalau dia ingin tinggal bersama ibunya. Ibu berteriak agar dia jangan bodoh – jika tinggal dengan ibu maka Eun-oh adalah anak budak dan jika tinggal dengan ayah, dia bangsawan.

Eun-oh menjawab kalau semua itu tdk berarti dan dia juga bukan keduanya, jadi dia akan hidup semaunya bersama ibu. Ibu berkata semua ini salah manusia, dan ketika Eun-oh memohon sambil menangis, ibu menamparnya dan menyuruhnya pergi. Eun-oh pergi dengan marah dan saat kembali esok harinya, ibu sudah pergi.

Kembali ke masa kini, perenungan Eun-oh terpotong karena Arang masuk ke rumah itu untuk menghindari hujan. Dia melewati api dan duduk di dekat api, sambil mengeluh kalau menjadi hantu tdk bisa membuatnya terhindar dari hujan.

Arang mengeluh kalau meski tdk kedinginan, tidak banyak perbedaan dengan manusia. Eun-oh mengatakan pada dirinya agar tidak menunjukkan pada Arang kalau dia bisa melihatnya, yg awalnya memang tidak pernah diduga oleh Arang sampai dia melucuti apinya.

Mata Eun-oh melebar dan mulutya ternganga. Pandangan mereka bertemu beberapa saat dan Arang dengan cepat berlindung, “Apa kau… bisa melihatku?” Eun-oh menjawab dalam hati, “Aku tidak bisa melihatmu.” Arang mengibaskan tangannya dan mendekat ke wajah Eun-oh, dan Eun-oh jadi tegang dan berusaha keras tidak bergerak. Arang: “Bisakah kau melihatku?”

Wajah Arang dan Eun-oh begitu dekat. Eun-ho tida bergerak jadi Arang menaikkan tangannya dan mencubit wajah Eun-oh dan kontak antara manusia dan hantu menimbulkan pijar biru. Eun-oh mengatakan pada dirinya untuk bertahan sebab kalau hantu itu tahu bakal tambah menyebalkan. Arang tdk mendapat respon jadi kali ini dia meniup-niup wajah Eun-oh.

Tapi Dol-swe mendengkur keras, memecah momen itu dan Eun-oh mendesah dlm hati. Kesal, Arang duduk di atas Dol-swe untuk membuatnya diam. Arang mendesah kalau tdk mungkin pria itu melihatnya dan bertanya-tanya pria itu punya cerita apa.

Arang mengatakan ceritanya pasti tdk bisa dibandingkan dengan dirinya dan dia punya ide, “Apa kau mau mendengar ceritaku?” Eun-oh (dalam hati), “Sial. Jangan ceritakan padaku. Aku tdk bisa mendengarmu!” Arang tdk punya teman bicara jadi dia hanya bicara keras2 pada dirinya dan pura2 Eun-oh bisa mendengarnya sedangkan Eun-oh pura2 tdk bisa mendengar tapi juga tdk bisa menahan diri mendengar cerita Arang.

Arang menceritakan bagaimana dia bangun suatu pagi dan dipimpin oleh seorang malaikat maut. Flashback ke saat dimana Arang bangun sebagai hantu, ketika malaikat maut menuntun Arang berjalan melewati hutan menuju sungai, terikat dengan tali merah. Tapi talinya tiba2 terlepas dan dia kabur ke arah yang lain.

Kembali ke masa kini, Arang mengatakan semua ini aneh – dia tidak ingat siapa dirinya, atau bagaimana dia mati. Dia memandang langit dan berkata kalau semua ini salah Kaisar Langit; dia tahu itu. Arang bergumam menyebut kaisar pria tua.

Arang kecewa karena Eun-oh toh tidak bisa mendengar, sebab dia ingin sekali meminta pertolongan Eun-oh. Saat itulah Eun-oh menguap dan tidur. Dia sudah mendengar cerita dari hantu dan permintaan aneh mereka. Tidak lebih dari itu.

Arang merajuk kalau Eun-oh sudah tidur lalu berbaring di sebelah Eun-oh. Eun-oh heran, apa yg salah dengan hantu ini, sementara itu Arang hanya memandangi wajah Eun-oh dan tersenyum.

Tangan Arang berada di bahu Eun-oh saat dia tertidur dan Eun-oh menggigil kedinginan. Eun-oh berbalik dan mereka tidur seperti itu, berdampingan. Ketika Eun-oh bangun keesokan paginya, Arang sudah hilang dan Eun-oh tertawa sendiri. Mereka lalu berangkat dengan penuh semangat dan sampai di Miryang.

Ketika Eun-oh dan Dol-swe tiba di pasar, sebuah prosesi membuat macet – hanya untuk satu pria – Bangsawan Choi, yg dikatakan Dol-swe sebagai Raja Miryang. Karena tidak adanya hakim di kota itu, Tuan Choi akhirnya berperan menegakkan hukum disini.

Mengekor di belakang Tuan Choi adalah Joo-wal (Yeon Woo Jin), yg mendapat perhatian dr banyak gadis. Eun-oh memperhatikan ketika seorang warga memohon belas kasihan Tuan Choi, yg mendapat pukulan atas kekacauan yg dibuatnya. Eun-oh berkata, “Dol-swe, kau kenal aku kan? Ketika aku melihat ketidakadilan…” Dol-swe menjawab, “Kau hanya membiarkannya.” Wkwkwkwkw…

Pria itu beralih ke Joo-wal untuk memohon bantuannya dan ketika para pria lainnya bergerak memukulnya lagi, Joo-wal menghentikan mereka. Joo-wal memberikan tatapan dingin pada pria itu dan menyuruhnya pergi dan pria itu kabur.

Dol-swe berkata kalau keluarga itu sedang membangun istana di sekitar sini dan di atas sungao. Hal ini menyebabkan penderitaan bagi orang yg bekerja di proyek itu dan warga kota semakin terjepit dengan pajak untuk membiayai pembangunan itu. Dan Eun-oh bertanya bagaimana Dol-swe selalu tahu apa yg sedang terjadi.

Dol-swe menyarankan agar tuannya memberikan perhatian pada manusia juga, tapi Eun-oh mengatakan kalau dia bukannya tdk bisa melakukan apapun soal itu jika dia tahu masalahnya. Dol-swe mendesah, sudah biasa pada sikap tuannya.

Eun-oh tiba2 menyuruhnya melanjutkan tanpa dirinya dan menyelinap dengan cepat. Dia berbalik arah dan berjalan melewati jalan kecil dengan sengaja, dan berbali, “Kenapa kau mengikutiku?”

Sekelompok hantu kaget, dan seorang pria tua mengatakan mereka mendengar Eun-oh bisa melihat mereka. Pria itu punya permintaan mengenai putrinya, dan berlutut dihadapan Eun-oh untuk meminta bantuannya.

Tapi Eun-oh berbalik dengan dingin, “Pergilah. Ini bukan urusanku.” Eun-oh pergi dan hantu2 itu menghilang. Dan ternyata Arang memperhatikan percakapan itu. Dia kelihatan tidak terlalu terkejut dan berkata, “Kau membodohi hantu?”

Eun-oh berhenti untuk bertanya pd orang lokal soal ibunya dan dia ingat kalau ibunya pernah menginap disana, tapi tidak tahu dia menuju kemana. Eun-oh berbalik untuk pergi dan tiba2 saja berbalik lalu menggenggam sebuah tangan. Arang… kaget, Arang bertanya apakah Eun-oh juga bisa menyentuhnya, tidak hanya melihatnya. Eun-oh mengenali Arang dan bertanya, “Apa kau mengikutiku?”

Arang bertanya apakah Eun-oh mencari seseorang – apa seorang wanita? Ibunya? Eun-oh memelototinya dan Arang berkata, “Benar! Wajahmu seperti kau kehilangan ibumu.” Eun-oh mendekat dan mengancam, “Ingin mati?” Arang ketakutan tapi kemudian ingat, “Aku sudah mati.”

Eun-oh menyuruh Arang pergi tapi dia malah mengikutinya, dan mengaku kalau dia mengerti – Eun-oh mungkin banyak mendapat permintaan dari hantu dan mungkin sangat menganggu. Eun-oh menjawab, “Kalau kau tahu, maka pergilah.”

Arang: “Tetap saja, kita sudah tidur bersama…” itu membuat Eun-oh berhenti. Eun-oh mengatakan mereka tidak melakukan apapun tapi Arang semakin mendekat, “Tidakkah kita tidur bersama tadi malam? Baiklah, kau tahu, sepertinya kau tidak membangun tembok besar setiap waktu, untuk mengatakan kau sudah tidur bersama.”

Arang mulai menceritakan kisahnya lagi dan Eun-oh mengatakan dia sudah mendengarnya. Arang berkata sederhana: dia hanya ingin tahu siapa dirinya. Arang mungkin tidak akan mendengarkan ancaman Eun-oh jadi Eun-oh meraba kantongnya dan mengeluarkan segenggam kacang merah. Itu membuat Arang takut.

Eun-oh berkata dia biasanya tidak melakukan ini tapi dia menyimpan kacang merah untuk hantu menyebalkan. Arang bersembunyi dan Eun-oh melemparnya tapi tdk ke Arang. Eun-oh tertawa tapi mengatakan kalau lain kali dia akan benar2 melakukannya. Arang berteriak marah, apa susahnya mencari beberapa lembar surat – nama orang!

Eun-oh meminta Arang bertanya pada pemerintah dan Arang berkata dia mau tapi tidak ada hakim di kota ini. Eun-oh berkata kalau itu bukan urusannya – dia bukan hakim.

Arang: “Lalau, kalau kau jadi hakim, apa kau mau melakukannya?” Eun-oh: “Jika aku jadi hakim? Tentu saja. Jika aku jadi hakim, aku akan membantumu.” Eun-oh pergi, berpikir kalau dia sudah membereskan Arang. Tapi Arang tersenyum, “Kau berjanji…”

Joo-wal bertemu dengan ayahnya, yg berteriak padanya karena ikut campur di pasar dan menunjukkan rasa kasihan. Joo-wal mengatakan dia hanya terburu-buru ke tempat tujuannya. Hubungan ayah-anak ini sepertinya dingin. Mereka kemudian bertengkar soal menemukannya ‘nya’ dan waktu semakin berkurang.

Berikutnya kita bertemu cenayang Bang-wool, yg harus pergi keluar dan meminta uang dari pelanggannya. Tapi dia memang bisa mendengar dan ketika Arang mengunjunginya, Bang-wool mengatakan kalau Arang sudah berjanji tidak akan datang lagi. Arang berkata dia perlu bantuan…

Di kantor pemerintah, ada trio Lee-bang, Hyung-bang dan Ye-bang. Mereka sebenarnya bodoh, tapi hanya mereka yg tersisa untuk menjalankan kantor pemerintah, karena basennya seorang hakim. Mereka berkata kalau mereka tidak akan menemukan hakim hanya dalam dua hari.

Tapi, Bang-wool datang kesana dan mengatakan kalau dia mendapat firasat akan ada hakim baru. Mereka langsung senang. Mereka menemui Eun-oh… dan membuatnya pingsan.

Mereka tahu kalau ini hanya untuk mengisi tugas pemerintah sebab hakim baru ini pasti akan mati seperti hakim sebelumnya dan membawanya pergi. Sementara itu, Arang menonton dari atap, bergumam kalau seseorang tidak boleh terlalu gampang berjanji.

Yang terjadi di kota itu adalah setiap hakim baru pasti akan mati begitu mereka diangkat jadi hakim. Cerita setempat mengatakan sesosok hantu mendatangi dan membunuh mereka.

Trio di kantor pemerintah tahu mereka telah menyelesaikan pekerjaan mereka jika menempatkan hakim di kantor dan mereka tidak bisa mengelak jika hakim baru ini mati seperti yg lainnya. Setelah mereka menempatkan Eun-oh di ruangan, mereka bertanya-tanya peti mati jenis apa yg harus mereka beli, Lee-bang mengatakan yg paling murah.

Eun-oh bangun di tempat tidur nyaman… terikat. Lee-bang memanggilnya ‘hakim’ dan menyuruhnya istirahat lalu kabur. Lilin mulai meredup dan Eun-oh hanya menyuruh hantu pemburu hakim segera keluar sebab dia tidak punya waktu main petak umpet.

Arang melayang terbalik, yg membuat Eun-oh terkesan. Eun-oh memutar bola matanya dan meminta Arang kembali ke posisi yg benar atau dia akan menarik rambut Arang. Arang memikirkan ulang strateginya dan berdiri.

Arang mengeluarkan suara paling menyesal dan mengingatkan Eun-oh kalau dialah yg berjanji akan menolong jika sudah jadi hakim. Eun-oh meminta Arang melepaskan ikatannya dan memintanya berhenti bersuara seperti itu.

Arang menarik rambutnya ke satu sisi dan bilang kalau ini bukan gayanya, tapi dia diberitahu bersikap begini untuk mendapatkan keinginannya. Eun-oh: “Jadi kapan sikap itu tidak berhasil, apakah saat kau membunuh mereka – semua hakim tdk bersalah itu?”

Arang merajuk kalau dia berasal sangat bersalah atas kasus itu. Flashback menunjukkan kalau dalam usaha agar dilihat oleh para hakim yg tidak bisa melihat hantu, Arang memakai tanaman yg membuatnya terlihat oleh manusia.

Arang mengunjungi hakim yg pertama, yg begitu kaget pada penampakannya hingga kena serangan jantung dan mati di tempat. Arang bertanya apa itu karena penampilannya yg kejam, jadi untuk yg kedua dia tampil lebih cantik hanya saka dia meminum setengah ramuannya…

… jadi dia hanya terlihat dari atas sampai setengah badan dan hakim kedua juga mati. Hakim yg ketiga seorang pendekar yg memanggilnya agar segera keluar… tapi juga mati setelah melihat badan Arang yg hanya dari bagian bawah sampai tengah.

Arang mengatakan kalau itu bukan salahnya dan dia tidak tahu kenapa mereka terus mengirim pria tua penakut sbg hakim. Eun-oh meminta Arang berhenti menggunakan suara seperti itu dan mengatakan kalau Arang hanya membuang waktunya. Eun-oh hanya mendengarkan orang yg masih hidup.

Arang mengataka kalau mereka berdua mirip – Eun-oh kehilagan ibu dan dia kehilangan orang tua. Dia ingin mencari tahu identitasnya jadi dia bisa berpamitan pada ortunya. Arang meneteskan air mata dan Eun-oh berbalik.

Tapi Eun-oh menyuruhnya pergi dan Arang akhirnya menghentikan tangisan palsunya. Eun-oh mengatakan Arang bahkan tidak ingat siapa dirinya – apa yg dia tahu soal ayah dan ibu? Arang pergi dengan marah.

Joo-wal jalan2 di bawah sinar bulan dan mendegarkan percakapan 3 gadis yg lewat. Mereka membicarakan bulan yg jadi yoon-dal, bulan berakar, dan ini merupakan pertanda Surga kehilangan kendali atas mereka yg mati, dan hantu berkeliaran diantara mereka, tidak ada yg tahu mereka mati atau hidup. Joo-wal jelas tertarik pada obrolan ini dan dia memasang cincin hitam di jarinya ketika melihat mereka bertiga pergi.

Pada pagi harinya, trio bodoh itu mengambil peti kecil utk menjemput sang hakim, hanya sekarang mereka begitu sedih karena memilih orang yg masih muda dengan masa depan yg masih panjang. Lee-bang membuka pintunya… Eun-oh keluar dan menakuti mereka di siang bolong dan mulai memukuli kepala mereka.

Dol-swe berlari melewati kota mendengar berita itu dan bertanya apakah tuannya baik2 saja, sekalian berteriak kpd tiga pria itu kalau mereka salah orang. Trio itu bertanya siapa Eun-oh dan ketika Dol-swe mengatakan nama ayah Eun-oh yg kaya dan berkuasa, mereka memohon, “Maafkan kami, tuan muda!”

Arang makan dengan Bang-wool dan mengeluh kalau dia sudah melakukan apa yg disuruh Bang-wool – dia sudah menagis, berpura-pura lemah, tapi tdk ada hasil. Bang-wool: “Itu hanya berarti satu hal… kau wanita yg sangat jelek!”

Bang-wool mengatakan kenapa Arang tidak mengaku saja, tapi Arang mengatakan dia juga tidak tahu – dia tidak bisa melihat dirinya juga, jadi tidak ada cara utk mengetahuinya. Mereka berdua mendesah. Bang-wool mengatakan satu2nya yg bida dilakukan adalah memakai make up dan baju bagus.

Arang bertanya dimana dia bisa mendapatkan benda sebagus itu – hantu hanya memiliki benda yg diberikan orang padanya. Lalu dia menyadari kalau Bang-wool bisa memberikannya, hanya cenayang itu berkata dia tidak punya uang. Arang: “Oh, uang? Apa itu yg kau khawatirkan?”

Mengutil. Bang-wool khawatir kalau dia akan masuk penjara tapi Arang menjamin kalau dia tidak akan tertangkap dengan hantu sebagai penjaganya dan berjanji kalau dia akan berhenti mendatangi Bang-wool kalau mau melakukan itu.

Mereka mengambil barang yg diperlukan dan hampir bebas dan kelas… ketika Bang-wool berjalan ke arah dua polisi dan menjatuhnya barang2 yg diambilnya. Ketika itu juga pedagangnya mulai berteriak kalau ada pencuri.

Bang-wool lari tapi dengan cepat terpojok. Karena itu tidak ada jalan lain menyelamatkan Bang-wool, Arang mulai memukuli orang2 di sekitar Bang-wool. Eun-oh dan Dol-swe kebetulan ada disana dan mereka tertawa, sebab kelihatannya orang2 jatuh dengan sendirinya.

Eun-oh hanya menggeleng2 dan melanjutkan perjalanan. Tapi dia memperhatikan hantu lain mulai muncul dengan khawatir – Arang membuat banyak kekacauan dan mereka tidak pernah tidak terdeteksi.

Benar saja, empat malaikat maut turun dari langit dan mendarat. Mereka berpencar untuk menangkap hantu sedangkan Mu-young langsung mengejar Arang.

Arang melihat Mu-young datang dan kabur melewati Eun-oh di jalan. Saat itulah Eun-oh melihat jepit rambut Arang – punya ibunya, yg diberikan Eun-oh pada ibu. Itu tanda yg pertama dan Arang akan ditangkap oleh malaikat maut.

Eun-oh mengambil kudan. Dia berpacu ke hutan mengejar kedua makhluk mistis itu dan menyalip malaikat maut menuju Arang.

Eun-oh mendekati Arang dan menariknya ke atas punggung kuda. Arang memandangi Eun-oh dengan kaget.

Selamat Datang di Dunia Arang and the Magistrate

Episode spesial Arang and the Magistrate menampilkan sekilas tentang drama yang dibintangi Shin Min Ah dan Lee Jun Ki ini. Episode spesial ini merupakan kumpulan adegan di balik layar serta pengenalan terhadap beberapa karakter yang nantinya memegang peranan penting dalam drama ini.

Yang paling menakjubkan dari Arang and the Magistrate adalah dunia yang ditayangkan dengan aturannya sendiri. Drama berfokus pada perbedaan antara dunia manusia dan dunia roh serta orang-orang yang terjebak diantara keduanya.

Terdapat banyak karakter supranatural dan tempat mistis untuk dijelajahi, entah itu di kerajaan para dewa, orang-orang yang bisa melihat orang mati ketika mereka seharusnya tidak mampu melihat itu dan mereka yang bisa melewati satu dunia ke dunia lainnya.

Tokoh wanita kita, Arang (Shin Min Ah), adalah gadis muda yang dibunuh dengan sadis dan ketika dia bangkit sebagai roh, dia tidak ingat siapa dirinya dan bagaimana dia mati. Tujuannya adalah mencari tahu siapa dia dan memulihkan identitasnya. Tapi tinggal bersama manusia berarti dia juga menipu kematian, jadi dia harus terus kabur dari kejaran Malaikat Maut, yang tugasnya memastikan Arang menyeberangi sungai menuju alam baka. Arang sangat ceria dan sangat suka menakuti penduduk setempat.

Sementara, Eun-oh (Lee Jun Ki) merupakan jaksa baru di kota itu yang kebetulan juga punya kemampuan melihat hantu. Dia berusaha keras mengabaikan para hantu itu, karena mereka selalu mengikutinya dan mengajukan permintaan yang membuatnya terganggu. Arang mengganggunya sama seperti hakim yang sebelumnya dan meski sudah berusaha keras mengabaikannya, Eun-oh toh tidak bisa menahan diri. Tujuannya hidup Eun-ho adalah menemukan ibunya yang tiba-tiba menghilang.

Yang membuat kisah cinta itu menjadi cinta segitiga adalah Joo-wal (Yeon Woo Jin), seorang bangsawan dan putra dari pria kaya paling berpengaruh di kota itu. Joo-wal merupakan lawan Eun-oh dalam dunia politik dan juga dalam hal wanita, dan itu artinya Joo-wal juga punya kemampuan melihat hantu.

Dan ada trio yang akan membuat penasaran: si kembar yang menguasai Surga dan Neraka serta agen mereka. Raja Surga (Yoo Seung Ho) merupakan kembar yang paling tampan sebab dia punya kekuatan melampaui kehidupan, alam, dan makhluk hidup. Raja Surga awet muda. Saudaranya, Raja Neraka (Park Joon Kyu), memiliki sifat kebalikannya. Lucu sebenarnya Yoo Seung Ho dan Park Joon Kyu memerankan tokoh kembar dan faktanya Yoo memerankan tokoh yang lebih dewasa sedangkan Park memerankan tokoh yang kekanak-kanakan.

Di alam semesta ini, Surga dan Neraka tidak terlalu banyak berperang – kedua alam itu harus tetap ada untuk menjaga keseimbangan dunia. Kedua saudara itu sering berdebat tentang keberadaan makhluk hidup dan sebagian besar waktu mereka dihabiskan memainkan badook di jembatan antara Neraka dan Surga. Raja Surga kelihatannya lebih baik dalam permainan itu.

Moo-young (Han Jung Soo) adalah pimpinan malaikat maut, pasukan yang patuh pada Raja Neraka. Dia adalah pria yang menggerakkan dunia ini dan dunia berikutnya, melapor pada raja dan memastikan aturan ditaati. Tugas Moo-young kebetulan mengantar Arang ke dunianya dan kebetulan Arang tidak mau.

Hantu di dunia ini makan, tidur, dan terlihat seperti manusia yang masih hidup, kecuali untuk tato di leher mereka, yang menandakan mereka sudah lewat masa berlakunya. Para malaikat maut juga memakai tato di tangan mereka. Makhluk dunia lain ini sebenarnya tidak dapat dilihat manusia biasa tapi karakter Hwang Bo Ra dapat melihat hantu tapi dapat mendengar mereka dan dia bahkan bicara pada Arang.

Source: dramabeans

Arang and the Magistrate

Judul asli: Arangsaddojeon/ Arang and the Magistrate
Judul lain: Arang, Arang Magistrate Story, Arang: Magistrate’s Chronicle
Genre: Fantasy, misteri, comedy, romance, action, melodrama
Episode: 20 + 1 Episode spesial
Produksi: MBC
Tayang: episode spesial (8 Agustus 2012), 15 Agustus 2012
Produser: Yoo Hyun-jong
Sutradara: Kim Sang-ho dan Jung Dae-yoon
Penulis: Jung Yoon-jung

Arang and the Magistrate merupakan drama yang diadaptasi dari cerita rakyat terkenal, Arang. Drama ini bersetting Joseon dimana hantu bernama Arang, yang dibunuh secara tragis, muncul dihadapan hakim Eun-oh dan memohon agar dia menghukum orang yang sudah membunuhnya. Eun-oh yang awalnya menghindar akhirnya mengiyakan.

The Casts:
Lee Jun Ki as Eun-oh
Shin Min Ah as Arang
Yun Woo Jin as Joo Wal
Hwang Bo Ra as Bang Wool

Kwon Oh Joong as Dol Soe
Han Jung Soo as Moo Young
Yoo Seung Ho as The Heavenly Grandfather
Park Joon Gyu as King of Underworld

Kim Yong Gun as Nobleman Choi
Kim Kwang Gyu as Lee Bang
Lee Sang Hoon as Hyung Bang
Min Seong Wook as Ye Bang

Kim Min Jae as Geo Deol
Song Jae Ryong as Kim Seo Bang
Kang Moon Young as High Shaman
Noh Hee Ji
Park Joon Gyu (cameo)

Source: dramawiki + dramabeans

Sinopsis Coffee House – Episode 11

Setelah dipecat, Seung-yeon menangis di lokasi penghargaan, duduk di tangga, bahkan masih disana saat acara sudah selesai. Akhirnya dia bangun dan pergi jadi ketika Eun-young kembali untuk melihatnya, tempat itu sudah kosong.

Semua orang berpikir kalau Jin-soo langsung pergi dari Seoul untuk melakukan perjalanan panjang lagi, jadi ketika dia menelpon kantor keesokan harinya, semuanya lega mendengar dia masih di Seoul. Dia akan mampir bertemu dengan Eun-young dan para pegawai menegang mendengar ini, sebab mereka mendapatkan sebuah kesempatan untuk mengubah pikiran Jin-soo sebelum dia secara resmi memutus kerja sama.

Selagi Jin-soo berjalan menuju kafe buku, Eun-young membicara bisnis dengan kakeknya tentang ekspansi dan rencana baru utk perusahaan. Yg mengejutkan, Eun-young punya tamu saat makan siang. Tamu ini diundang kakek, yg sengaja menjadikan ini kejutan buat Eun-young.

Pria itu bernama Hyun-seok, seorang pengacara dan dengan orang ini Eun-young dulu pernah dijodohkan. Pria itu masih tertarik, tapi Eun-young tidak pernah menelponnya dan sekarang Eun-young membuat alasan kalau dia sibuk.

Ji-won melihat kejadian ini. Ji-won langsung menarik Jin-soo yg baru sampai ke dekat pojok untuk mengintai pertemuan itu. Ji-won langsung mengatakan kalau Eun-young sedang kenca buta lagi, dank arena itulah dia menendang Jin-soo begitu cepat.

Karena marah, Ji-won memanggil Hyun-seok ‘pria jajangmyun’ – soalnya dia misterius dan aneh. Lebih jauh, Hyun-seok tidak hanya jajangmyun yg sudah basi tapi juga yg murahan. Jin-soo merasa tidak nyaman karena terseret ke masalah ini dan menegaskan kalau dia tdk ada di pihak Ji-won dan Ji-won menjawab, “Aku membencimu tapi kau lebih baik dari pria itu.”

Ji-won menyuruh Jin-soo mencari tahu dan Jin-soo memberikan salam pada Eun-young lalu mengatakan kalau dia akan menunggu Eun-young di kantornya. Akan tetapi, Hyun-seok ternyata penggemar berat Jin-soo dan memperkenalkan dirinya, bahkan menjabat tangan Jin-soo.

Jin-soo terpaksa bersikap sopan lalu permisi menuju kantor Eun-young. Ketika Eun-young menyusulnya beberapa menit kemudian, para pegawai memohon agar Eun-young memanfaatkan kesempatan terakhir ini untuk mempertahankan kontrak dgn Jin-soo.

Eun-young mengatakan pada Jin-soo kalau dia menduga Jin-soo akan meninggalkan negara ini segera. Jin-soo mengatakan jika awalnya dia memang ingin menyerah saja menulis tapi berubah pikiran sebab dia sudah sangat dekat dengan bab akhirnya. Jin-soo sudah selesai mengerjakan draft yang pertama dan perlu beberapa bulan lagi menyelesaikan buku itu.
Eun-young menyebut tentang Seung-yeon tapi Jin-soo menyuruhnya diam. Jin-soo mengatakan kalau tdk ada alasan bagi Eun-young untuk memikirkan Seung-yeon. Seung-yeon sudah melewati batas dan memang begitulah keputusannya. Mendengar kalimat itu, Eun-young bergumam, “Kenapa begitu banyak wanita yang dengan bodohnya melewati batas denganmu?”

Eun-young tahu kalau Jin-soo datang untuk membereskan kontraknya jadi dia mengambil surat2nya dan mempersiapkan diri tanda tangan. Suasana jadi tegang waktu Eun-young melakukan itu dan dia tahu kalau pada saat dia tanda tangan maka dia akan kehilangan miliaran won. Dengan suara bergetar, Eun-young memegang gelas kopinya di atas surat2 itu, bingung apakah dia perlu menjatuhkan kopinya ke atas dokumen.

Tapi tidak, Jin-soo mengambil gelas itu dan Eun-young mulai tanda tangan. Ketika tangan Eun-young menggores kertas itu, setitik air mata jatuh di atasnya. Jin-soo melihat wajah Eun-young dan air mata lebih banyak berjatuhan. Tanda tangan Eun-young memburam di atas kertas.

Jin-soo menghapus air mata Eun-young dengan tissue dan setitik air mata jatuh di tanganya. Eun-young bercanda kalau dia pasti sangat menyukai uang makanya dia bereaksi seperti itu. Ketika Eun-young bangkit membuat salinan, Jin-soo memandangi air mata di tangannya.

Eun-young mengumpulkan kekuatan dan mengulurkan tangan pada Jin-soo. Dia mengatakan kalau mereka harus merayakan apa yang disebut hubungan yg bagus.

Jin-soo setuju membereskan studionya pada akhir minggu soalnya dia sudah menemukan kantor yg baru dan akan menyelesaikan tulisannya disana. Tempat itu dulunya kantor seorang teman yg jd dosen dan tidak akan menggunakan kantor itu semester depan.

Jin-soo mengucapkan selamat tinggal dengan cara yg aneh dan bahkan mencoba bercanda saat dia beranjak pergi. Jin-soo mengatakan agar Eun-young memastikan kencannya berbanding lurus soalnya teman kencan Eun-young kelihatan lebih tertarik pada Jin-soo ketimbang Eun-young. Setelah Jin-soo pergi, Eun-young hanya bisa mendesah.

Jin-soo mengemasi barangnya dan mengembalikan kuncinya. Tapi dia sadar kalau kunci yg kedua ada pada Seung-yeon. Sedikit enggan, Jin-soo bertanya apa Seung-yeon datang, tapi sang pegawai (Dong-min) mengatakan tidak tahu.

Selagi Jin-soo pindah ke kantor yg baru, Dong-min menghubungi Seung-yeon untuk bertanya soal kunci yg kedua.

Seung-yeon kembali bekerja di coffee shop milik ayahnya. Setelah mendengar dari pelanggan kalau kopi buatannya lebih enak dari ayahnya, Seung-yeon bertanya-tanya apa ini artinya dia telah belajar beberapa hal pada akhirnya.

Dong-wook juga ada di kafe, sedang bermain Go-Stop dengan ayah dan nenek Seung-yeon. Seung-yeon bertanya apa tidak apa bila Dong-wook menemaninya disini. Sebenarnya bukan pertanyaan kejam tapi sepertinya Seung-yeon ingin ditemani Dong-wook.

Ketika Dong-min menelpon menanyakan kunci itu, Seung-yeon senang sebab dia jadi tahu kalau Jin-soo belum meninggalkan negara ini. Karena begitu ingin bertemu dengan Jin-soo, jadi dia menanyakan alamat baru Jin-soo pada Dong-min.

Seung-yeon muncul di rumah baru Jin-soo, memohon agar diberikan kesempatan menjelaskan semuanya. Jin-soo menyuruhnya diam. Jin-soo mengatakan dia tahu apa yg akan dikatakan Seung-yeon, jadi lewati saja bagian itu dan langsung saja ke pokok yg paling penting (kunci). Jin-soo memberikan jawaban yg akan Seung-yeon dapat seandainya Jin-soo mau mendengarkan pidato Seung-yeon, yaitu buku Jin-soo bakal terbit tanpa bantuan Seung-yeon dan dia tidak akan mempekerjakan sekretarisnya lagi.

Jin-soo menasehati Seung-yeon agar mencari pekerjaan baru, dan mengingatkan Seung-yeon kalau keputusan pemecatannya tidak diambil dalam waktu singkat. Karena itu, Seung-yeon tidak akan mampu mengubah pikiran Jin-soo lewat air mata. Jin-soo lalu menutup pintu rumahnya sebelum Seung-yeon mampu berkata apapun.

Seung-yeon tidak mau menyerah dan duduk di depan pintu rumah Jin-soo. Ketika Jin-soo keluar, Seung-yeon mencoba mengajaknya bicara lagi. Berlawanan dengan perkiraan Jin-soo, Seung-yeon datang bukan untuk memohon pekerjaannya lagi – dia hanya ingin bicara sebentar. Jin-soo sedikit kesal karena Seung-yeon bukan datang buat pekerjaan, jadi dia hanya memberikan 30 detik untuk Seung-yeon bicara.

Ini membuat Seung-yeon marah dan protes kalau 30 detik bukan waktu yg mencukupi buat bicara. Jin-soo menjawab kalau Seung-yeon tdk bisa bicara dalam 30 detik maka memberikann waktu 30 menit juga tidak akan lebih baik.

Jin-soo naik ke sepedanya dan setelah beberapa saat Seung-yeon mengejarnya. Saat Jin-soo menepi di dekat sebuah bangunan, Seung-yeon baru bisa menyusulnya, dengan napas berat dan keringat banyak. Seung-yeon meminta 30 detiknya lagi tapi kali ini, Jin-soo hanya memberinya 20 detik.

Seung-yeon: Aku minta maaf. Sebagai sekretaris aku melewati batas. Pada awalnya aku merasa bersalah, tapi setelah beberapa hari aku menyadari kau benar. Aku tidak professional dan aku sekretaris yg buruk. Aku benar2 minta maaf. Aku harap kau bisa ingat kalau aku benar2 minta maaf. Aku sangat tertekan kalau memikirkan kau akan meninggalkan negara ini dan aku tidak akan bisa mengatakan ini padamu. Aku senang mendapatkan kesempatan meminta maaf padamu.

Seung-yeon menyelelesaikan pidato 20 detiknya dan Jin-soo terkejut pada apa yg dikatakan Seung-yeon, tidak mengerti maksudnya. Kenapa Seung-yeon mengejarnya sejauh ini hanya untuk mengatakan itu, padahal dia tahu pidato itu tidak akan mengubah segalanya. Apa bedanya mengatakan kalimat itu atau pun tidak mengatakannya?

Seung-yeon menjawab, “Meski situasinya tidak berubah, perasaan tetap berubah. Ada perbedaan antara kau tahu dan tidak tahu bagaimana perasaanku, bahwa aku benar2 minta maaf dan bukannya kecewa atau merasa bersalah. Aku rasa ada perbedaan besar.”

Jin-soo tersadar. Jadi ketika Seung-yeon mengatakan kalau bagian akhir pidatonya diperpendek (dia sudah mempersiapkan untuk 30 detik sebenarnya saat berlari), Jin-soo memberikan tambahan 10 detik untuk menyelesaikannya.

Seung-yeon: Aku kecewa karena aku harus berhenti tanpa mempelajari dengan baik tidak hal yg kau ingin aku lakukan. Aku hanya berusaha mengerot pensil tapi tidak membuat kopi dan mempelajari buku fosil dan aku juga minta maaf soal itu.

Karena sekarang Seung-yeon sudah mengatakan semuanya, Jin-soo menyuruhnya pergi. Ketika Jin-soo masuk ke gedung itu, dia terlihat merasa bingung. Dia bahkan berhenti sejenak untuk memandangi Seung-yeon lagi, tapi dia tidak tahu mau bicara apa. Seung-yeon sendiri senang karena sudah mengeluarkan uneg2nya.

Jin-soo bekerja sampai larut malam dan dia tetap saja memikirkan kata2 Seung-yeon – khususnya tentang buku fosil. Jin-soo tidak tahu apa yang dimaksud Seung-yeon dan dia harus berpikir beberapa menit sebelum dia menyadari tugas konyol yang dia berikan pada Seung-yeon pada hari pertama bekerja – meringkas dan menerjemahkan buku fosil.

Jin-soo menyindir dan kagum bahwa Seung-yeon masih ingat permintaannya. Ketika dia mengambil minuman dari kulkas, pikirannya lebih kacau lagi ketika minuman menetes di tangannya, yang membuatnya ingat pada air mata Eun-young.

Eun-young ada pertemuan dengan Dong-wook untuk membicarakan perubahan kafe. Eun-young berencana memperluas bagian buku dan mempersempit dapur. Ide ini mendapat perlawanan dari Dong-wook, yang bersikeras kalau ketimbang menjadi kafe buku, bagian kafenya harus lebih menonjol.

Pertemuan ini disela oleh kemunculan Hyun-seok, sang pengacara. Kedatangannya merupakan kejutan, tapi dengan persetujuan kakek, Hyun-seok datang mengajak Eun-young makan siang – sebuah tindakan yg disetujui Eun-young dengan enggan.

Sadar akan acara makan siang ini, Ji-won mencari Ji-won di sekolah dan menyeretnya jadi mereka bisa mengacaukan kencan makan siang Eun-young. Jin-soo tidak suka, tapi Ji-won berusaha menghapus keengganan Jin-soo dan memaksanya pergi, “Jajangmyun sepertinya menyukaimu. Ayo bergabung dengan mereka.”

Eun-young langsung tahu kalau ini bukan kebetulan, tapi Hyun-seok menerimanya dengan senang hati dan setuju agar Ji-won-Jin-soo bergabung. Sebenarnya, Hyun-seok sangat ingin mengobrol dengan Jin-soo!

Suasana berubah tegang waktu Ji-won mulai menjelek-jelekkan Hyun-seok. Dia menghina pengacara itu, misalnya saja dengan mengatakan nama Hyun-seok begitu aneh. Hyun-seok tidak tahu kenapa dia diserang, tapi dia mengabaikan Ji-won dan melanjutkan memuji novel Jin-soo, menyebut Jin-soo jenius.

Sepanjang acara makan itu, Jin-soo menerima pujian Hyun-seok dgn tidak nyaman. Dia hanya berharap makan siang ini segera selesai. Eun-young juga begitu ingin pergi; dia pergi sebentar dari mejanya untuk memanggil Hyun-joo, meminta pertolongan.

Ketika Hyun-seok permisi untuk menelpon, Jin-soo meminta Ji-won mengakhiri ini semua. Ji-won berkata kalau dia tidak suka Hyun-seok – dan lagi, apa Jin-soo mampu menyaksikan Eun-young berkencan dengannya? sebagai teman, mereka harus stop ini.

Jin-soo dan Eun-young ditinggalkan berdua di meja untuk beberapa saat dan Jin-soo memanfaatkan kesempatan ini untuk meminta maaf pada Eun-young atas kekacauan ini.

Eun-young di sisi lain malah bertanya pada Jin-soo kenapa dia mengenalkan Ji-won padanya beberapa tahun yg lalu. Jin-soo pasti melihat sisi positif Ji-won makanya Eun-young dijodohkan dengannya, jadi apa saja sisi positif itu? Jin-soo tidak punya jawaban yg bagus dan bercanda kalau sifat terbuka Ji-won merupakan jebakan.

Eun-young bertanya, “Kau tahu kenapa aku berkencan dengannya? Karena dia orang yg kau kenalkan padaku. Aku mempercayaimu.” Eun-young berpikir waktu itu, Ji-won pasti pria baik. Akan tetapi, sekarang dia berpikir kalau Jin-soo mengenalkan Ji-won padanya tanpa pikir panjang. Begitu bukan? Eun-young mendesah, “Di masa lalu, aku mengira kau setulus diriku.”

Ji-won menemui Hyun-seok di toilet saat dia sedang pipis. Ji-won seolah-olah menghina ‘punya’ Hyun-seok dan akhirnya Hyun-seok tidak tahan lagi bersikap sopan dan berteriak, “Apa masalahmu?”

Ji-won ini sangat konyol. Dia malah semakin marah waktu diperlakukan tidak sopan padahal bukan Hyun-seok yg mulai duluan. Ji-won marah dan mengeluarkan kata2 kasar dihadapan Hyun-seok. Pertengkaran itu terhenti waktu Jin-soo tiba dan masuk untuk merelai kedua pria itu.

Ji-won berpikir kalau Jin-soo ada di pihaknya, tapi Jin-soo malah menonjok wajahnya dan berteriak agar semua ini diakhiri. Marah, Ji-won berkata kalau dia adalah sunbae Jin-soo (dan pantas mendapatkan hormat), tapi Jin-soo membalas, “Kau harus bersikap seperti sunbae kalau ingin menjadi sunbae!”

Sekarang pertengkaran jadi milik Ji-won dan Jin-soo. Mereka bertengkar dari dalam toilet hingga keluar. Sekarang Hyun-seok yang berteriak agar mereka berhenti dan tenang. Keadaan ini membuat Eun-young sendirian di mejanya dan dia tahu dari Hyun-seok kalau Ji-won dan Jin-soo bertengkar.

Akan tetapi, Ji-won dan Jin-soo mendengar kalau Hyun-seok sedang mengarahkan Eun-young datang ke tempat mereka dan Jin-soo menghentikan itu semua dengan mengambil hp Hyun-seok. Eun-young ingin berkeliling tapi Hyun-joo melarang sebab Eun-young hampir telat untuk meeting.

Setelah Hyun-seok pergi, kedua pria itu meneruskan aksi mereka lagi dengan sisa tenaga yg ada. Wajar kalau Ji-won yg mantan petinju menang. Meski begitu, keduanya terlihat babak belur pada akhirnya.

Sehabis pertarungan itu, mereka melanjutkan saling ejek. Jin-soo meneriakkan semua hal jelek tentang Ji-won – dia aneh, egois, dan gila. Jin-soo berkata, “Apa kau tahu betapa menyesalnya aku memperkenalkan Eun-young padamu?”

Akhirnya mereka berhenti karena lelah dan Ji-won bertanya, “Hey, dimana pria jajangmyun itu?” Jin-soo di sisi lain malah memikirkan kalimat Seung-yeon yg malah menjelaskan tentang dirinya meski tidak ada harapan mengubah keadaannya. Dia juga ingat perkataan Eun-young kalau dia kurang tulus.

Tiba2, kalimat2 ini menyatu di pikirannya – sampai sekarang kalimat itu berputar di kepalanya, seolah-olah mereka begitu penting tapi tidak menyatakan kenapa mereka penting. Sekarang, mereka semua menyatu dan Jin-soo mendapatkan tenaga. Dia berdiri lagi dan berlari.

Jin-soo pergi ke kafe buku dimana para pegawai kaget melihatnya begitu kacau. Dia mengabaikan semua itu dan menuju rak buku, mencari buku fosil yg dia berikan pada Seung-yeon dulu. Sekarang buku itu sedikit berbeda soalnya begitu banyak ditempeli post-it dan memo.

Kaget dan sedikit kagum, Jin-soo menelpon Seung-yeon dan bertanya kenapa Seung-yeon mau meneruskan pekerjaan yg jelas2 tidak ada ujungnya. Apa dia begitu bodoh? Apa Seung-yeon benar2 berpikir kalau pekerjaan itu untuk membantu naskah Jin-soo?

Tapi Jin-soo tidak dapat menerima jawaban Seung-yeon: “Tapi kau tidak pernah mengatakannya.” Seung-yeon tahu kalau Jin-soo tidak akan memakai tugas yg dia berikan, tapi Jin-soo tidak pernah menyuruhnya berhenti mengerjakannya.

Jin-soo tertawa – begitu aneh, tidak terduga, dan gila. Menunjuk ke tujuh alasan yg Jin-soo berikan kenapa memecat Seung-yeon, Jin-soo menyuruh Seung-yeon untuk melakukan perubahan – membuat alasan agar tidak dipecat.

Dengan nada tegas, Jin-soo menegur Seung-yeon karena tidak membedakan mana yg nyata dan tidak nyata. jin-soo mengatakan kalau orang yg professional harus mampu mengerti orang lain untuk membuatnya mengerti.

Saat Seung-yeon mengatakan kalau dia tidak tahu apakah bisa membuat alasan2 itu, Jin-soo berteriak, “kalau begitu karang saja. Apa kau tidak belajar berbohong dariku?”

Berikutnya, Jin-soo menuju kantor mencari Eun-young tapi dia mendengar kalau Eun-young baru saja berangkat melakukan perjalanan bisnis. Tepat saat Eun-young akan naik kereta dengan tim-nya, telponnya berdering. Jin-soo kehabisan nafas karena berlari, “Apa kau di dalam kereta?”

Eun-young mulai menanyakan tentang perkelahian Jin-soo saat makan siang tapi Jin-soo memotongnya dengan berkata, “Ada yang aku katakan padamu. Aku sudah banyak berbohong padamu sebelumnya, tapi aku rasa aku harus memberitahumu tentang ini.”

Jin-soo: kejadian itu (ciuman) bukan insting pria tapi karena kau Seo Eun-young makanya aku menciumu. Aku berbohong padamu hari itu. Aku minta maaf. Tapi meski memikirkan itu, aku harus meninggalkanmu – jadi lupakan aku selamanya. Aku tidak bisa menghapus Hee-soo dan melihatmu seorang. Aku rasa tidak akan berhasil meski aku mencoba. Bagiku, melihatmu selamanya berarti memiliki Hee-soo di sisiku selamanya juga. Ini penyakit. Aku tahu itu tapi tidak bisa mengendalikannya.

Eun-young berkata, “Meski kau meninggalkanku, itu artinya kau bisa meninggalkan Hee-soo selamanya, kalau begitu.” Jin-soo menjawab, “pikiranku itu datang padaku tiba2, jadi karena itulah aku menelponmu.”

Eun-young berkata, “Kau harusnya memberitahuku lebih dulu. Apa kau tidak tahu aku ada di sisimu? Apa yang kau manfaatkan dariku?” Jin-soo berkata kalau dia akan memberikan bukunya pada Eun-young, “Buku itu milikmu.”

Eun-young menjawab kalau kalimat itu kedengaran seperti kalimat seorang pria yg berhutang padanya. Dia menggoda Jin-soo kalau kalimat Jin-soo sepertinya menyiratkan mereka berbicara hal lain – sebab Jin-soo sudah menghilang begitu lama bersama perasaannya, sekarang semua yg dia bilang seperti kurang ketulusan.

Jin-soo: Aku serius.
Eun-young: Tidak 100%. Aku bertanya-tanya apa aku akan bisa melihat Lee Jin-soo 100% tulus sebelum aku mati. Hanya… untuk semenit, apa kau pernah 100% tulus denganku

Kalimat itu mempengaruhi Jin-soo, dan ada beberapa saat hening diantara mereka. Akan tetapi, panggilan terakhir untuk naik kereta diumumkan dan Eun-young harus naik kereta jadi dia mulai menyudahi pembicaraan itu.

Jin-soo berkata serius pada Eun-young, “Satu menit bisa lebih besar dari sepuluh tahun. Apa akan terjadi begitu?”

Eun-young bingung, tidak mendapatkan maksud Jin-soo. Jin-soo menutup telpon dan mulai berlari – dia menelpon dari tlpon umum di stasiun kereta. Sekarang dia menuruni tangga dan menuju ke tempat Eun-young. Sementara Eun-young mendesah dan naik kereta.

Jin-soo mencapai pintu kereta dan meraih Eun-young untuk menciumnya.

Saat mereka selesai berciuman, Eun-young bertanya, “Ini 100%, benar bukan?” Jin-soo mengangguk, masih dengan nafas berat dan terus memandangi Eun-young.

Eun-young berkata, “Sudah cukup kalau begitu.”

Lalu kereta mulai berjalan, memaksa mereka menjauh. Mereka masih saling pandang ketika keretanya sudah tidak tampak lagi.