Sinopsis Coffee House – Episode 11

Setelah dipecat, Seung-yeon menangis di lokasi penghargaan, duduk di tangga, bahkan masih disana saat acara sudah selesai. Akhirnya dia bangun dan pergi jadi ketika Eun-young kembali untuk melihatnya, tempat itu sudah kosong.

Semua orang berpikir kalau Jin-soo langsung pergi dari Seoul untuk melakukan perjalanan panjang lagi, jadi ketika dia menelpon kantor keesokan harinya, semuanya lega mendengar dia masih di Seoul. Dia akan mampir bertemu dengan Eun-young dan para pegawai menegang mendengar ini, sebab mereka mendapatkan sebuah kesempatan untuk mengubah pikiran Jin-soo sebelum dia secara resmi memutus kerja sama.

Selagi Jin-soo berjalan menuju kafe buku, Eun-young membicara bisnis dengan kakeknya tentang ekspansi dan rencana baru utk perusahaan. Yg mengejutkan, Eun-young punya tamu saat makan siang. Tamu ini diundang kakek, yg sengaja menjadikan ini kejutan buat Eun-young.

Pria itu bernama Hyun-seok, seorang pengacara dan dengan orang ini Eun-young dulu pernah dijodohkan. Pria itu masih tertarik, tapi Eun-young tidak pernah menelponnya dan sekarang Eun-young membuat alasan kalau dia sibuk.

Ji-won melihat kejadian ini. Ji-won langsung menarik Jin-soo yg baru sampai ke dekat pojok untuk mengintai pertemuan itu. Ji-won langsung mengatakan kalau Eun-young sedang kenca buta lagi, dank arena itulah dia menendang Jin-soo begitu cepat.

Karena marah, Ji-won memanggil Hyun-seok ‘pria jajangmyun’ – soalnya dia misterius dan aneh. Lebih jauh, Hyun-seok tidak hanya jajangmyun yg sudah basi tapi juga yg murahan. Jin-soo merasa tidak nyaman karena terseret ke masalah ini dan menegaskan kalau dia tdk ada di pihak Ji-won dan Ji-won menjawab, “Aku membencimu tapi kau lebih baik dari pria itu.”

Ji-won menyuruh Jin-soo mencari tahu dan Jin-soo memberikan salam pada Eun-young lalu mengatakan kalau dia akan menunggu Eun-young di kantornya. Akan tetapi, Hyun-seok ternyata penggemar berat Jin-soo dan memperkenalkan dirinya, bahkan menjabat tangan Jin-soo.

Jin-soo terpaksa bersikap sopan lalu permisi menuju kantor Eun-young. Ketika Eun-young menyusulnya beberapa menit kemudian, para pegawai memohon agar Eun-young memanfaatkan kesempatan terakhir ini untuk mempertahankan kontrak dgn Jin-soo.

Eun-young mengatakan pada Jin-soo kalau dia menduga Jin-soo akan meninggalkan negara ini segera. Jin-soo mengatakan jika awalnya dia memang ingin menyerah saja menulis tapi berubah pikiran sebab dia sudah sangat dekat dengan bab akhirnya. Jin-soo sudah selesai mengerjakan draft yang pertama dan perlu beberapa bulan lagi menyelesaikan buku itu.
Eun-young menyebut tentang Seung-yeon tapi Jin-soo menyuruhnya diam. Jin-soo mengatakan kalau tdk ada alasan bagi Eun-young untuk memikirkan Seung-yeon. Seung-yeon sudah melewati batas dan memang begitulah keputusannya. Mendengar kalimat itu, Eun-young bergumam, “Kenapa begitu banyak wanita yang dengan bodohnya melewati batas denganmu?”

Eun-young tahu kalau Jin-soo datang untuk membereskan kontraknya jadi dia mengambil surat2nya dan mempersiapkan diri tanda tangan. Suasana jadi tegang waktu Eun-young melakukan itu dan dia tahu kalau pada saat dia tanda tangan maka dia akan kehilangan miliaran won. Dengan suara bergetar, Eun-young memegang gelas kopinya di atas surat2 itu, bingung apakah dia perlu menjatuhkan kopinya ke atas dokumen.

Tapi tidak, Jin-soo mengambil gelas itu dan Eun-young mulai tanda tangan. Ketika tangan Eun-young menggores kertas itu, setitik air mata jatuh di atasnya. Jin-soo melihat wajah Eun-young dan air mata lebih banyak berjatuhan. Tanda tangan Eun-young memburam di atas kertas.

Jin-soo menghapus air mata Eun-young dengan tissue dan setitik air mata jatuh di tanganya. Eun-young bercanda kalau dia pasti sangat menyukai uang makanya dia bereaksi seperti itu. Ketika Eun-young bangkit membuat salinan, Jin-soo memandangi air mata di tangannya.

Eun-young mengumpulkan kekuatan dan mengulurkan tangan pada Jin-soo. Dia mengatakan kalau mereka harus merayakan apa yang disebut hubungan yg bagus.

Jin-soo setuju membereskan studionya pada akhir minggu soalnya dia sudah menemukan kantor yg baru dan akan menyelesaikan tulisannya disana. Tempat itu dulunya kantor seorang teman yg jd dosen dan tidak akan menggunakan kantor itu semester depan.

Jin-soo mengucapkan selamat tinggal dengan cara yg aneh dan bahkan mencoba bercanda saat dia beranjak pergi. Jin-soo mengatakan agar Eun-young memastikan kencannya berbanding lurus soalnya teman kencan Eun-young kelihatan lebih tertarik pada Jin-soo ketimbang Eun-young. Setelah Jin-soo pergi, Eun-young hanya bisa mendesah.

Jin-soo mengemasi barangnya dan mengembalikan kuncinya. Tapi dia sadar kalau kunci yg kedua ada pada Seung-yeon. Sedikit enggan, Jin-soo bertanya apa Seung-yeon datang, tapi sang pegawai (Dong-min) mengatakan tidak tahu.

Selagi Jin-soo pindah ke kantor yg baru, Dong-min menghubungi Seung-yeon untuk bertanya soal kunci yg kedua.

Seung-yeon kembali bekerja di coffee shop milik ayahnya. Setelah mendengar dari pelanggan kalau kopi buatannya lebih enak dari ayahnya, Seung-yeon bertanya-tanya apa ini artinya dia telah belajar beberapa hal pada akhirnya.

Dong-wook juga ada di kafe, sedang bermain Go-Stop dengan ayah dan nenek Seung-yeon. Seung-yeon bertanya apa tidak apa bila Dong-wook menemaninya disini. Sebenarnya bukan pertanyaan kejam tapi sepertinya Seung-yeon ingin ditemani Dong-wook.

Ketika Dong-min menelpon menanyakan kunci itu, Seung-yeon senang sebab dia jadi tahu kalau Jin-soo belum meninggalkan negara ini. Karena begitu ingin bertemu dengan Jin-soo, jadi dia menanyakan alamat baru Jin-soo pada Dong-min.

Seung-yeon muncul di rumah baru Jin-soo, memohon agar diberikan kesempatan menjelaskan semuanya. Jin-soo menyuruhnya diam. Jin-soo mengatakan dia tahu apa yg akan dikatakan Seung-yeon, jadi lewati saja bagian itu dan langsung saja ke pokok yg paling penting (kunci). Jin-soo memberikan jawaban yg akan Seung-yeon dapat seandainya Jin-soo mau mendengarkan pidato Seung-yeon, yaitu buku Jin-soo bakal terbit tanpa bantuan Seung-yeon dan dia tidak akan mempekerjakan sekretarisnya lagi.

Jin-soo menasehati Seung-yeon agar mencari pekerjaan baru, dan mengingatkan Seung-yeon kalau keputusan pemecatannya tidak diambil dalam waktu singkat. Karena itu, Seung-yeon tidak akan mampu mengubah pikiran Jin-soo lewat air mata. Jin-soo lalu menutup pintu rumahnya sebelum Seung-yeon mampu berkata apapun.

Seung-yeon tidak mau menyerah dan duduk di depan pintu rumah Jin-soo. Ketika Jin-soo keluar, Seung-yeon mencoba mengajaknya bicara lagi. Berlawanan dengan perkiraan Jin-soo, Seung-yeon datang bukan untuk memohon pekerjaannya lagi – dia hanya ingin bicara sebentar. Jin-soo sedikit kesal karena Seung-yeon bukan datang buat pekerjaan, jadi dia hanya memberikan 30 detik untuk Seung-yeon bicara.

Ini membuat Seung-yeon marah dan protes kalau 30 detik bukan waktu yg mencukupi buat bicara. Jin-soo menjawab kalau Seung-yeon tdk bisa bicara dalam 30 detik maka memberikann waktu 30 menit juga tidak akan lebih baik.

Jin-soo naik ke sepedanya dan setelah beberapa saat Seung-yeon mengejarnya. Saat Jin-soo menepi di dekat sebuah bangunan, Seung-yeon baru bisa menyusulnya, dengan napas berat dan keringat banyak. Seung-yeon meminta 30 detiknya lagi tapi kali ini, Jin-soo hanya memberinya 20 detik.

Seung-yeon: Aku minta maaf. Sebagai sekretaris aku melewati batas. Pada awalnya aku merasa bersalah, tapi setelah beberapa hari aku menyadari kau benar. Aku tidak professional dan aku sekretaris yg buruk. Aku benar2 minta maaf. Aku harap kau bisa ingat kalau aku benar2 minta maaf. Aku sangat tertekan kalau memikirkan kau akan meninggalkan negara ini dan aku tidak akan bisa mengatakan ini padamu. Aku senang mendapatkan kesempatan meminta maaf padamu.

Seung-yeon menyelelesaikan pidato 20 detiknya dan Jin-soo terkejut pada apa yg dikatakan Seung-yeon, tidak mengerti maksudnya. Kenapa Seung-yeon mengejarnya sejauh ini hanya untuk mengatakan itu, padahal dia tahu pidato itu tidak akan mengubah segalanya. Apa bedanya mengatakan kalimat itu atau pun tidak mengatakannya?

Seung-yeon menjawab, “Meski situasinya tidak berubah, perasaan tetap berubah. Ada perbedaan antara kau tahu dan tidak tahu bagaimana perasaanku, bahwa aku benar2 minta maaf dan bukannya kecewa atau merasa bersalah. Aku rasa ada perbedaan besar.”

Jin-soo tersadar. Jadi ketika Seung-yeon mengatakan kalau bagian akhir pidatonya diperpendek (dia sudah mempersiapkan untuk 30 detik sebenarnya saat berlari), Jin-soo memberikan tambahan 10 detik untuk menyelesaikannya.

Seung-yeon: Aku kecewa karena aku harus berhenti tanpa mempelajari dengan baik tidak hal yg kau ingin aku lakukan. Aku hanya berusaha mengerot pensil tapi tidak membuat kopi dan mempelajari buku fosil dan aku juga minta maaf soal itu.

Karena sekarang Seung-yeon sudah mengatakan semuanya, Jin-soo menyuruhnya pergi. Ketika Jin-soo masuk ke gedung itu, dia terlihat merasa bingung. Dia bahkan berhenti sejenak untuk memandangi Seung-yeon lagi, tapi dia tidak tahu mau bicara apa. Seung-yeon sendiri senang karena sudah mengeluarkan uneg2nya.

Jin-soo bekerja sampai larut malam dan dia tetap saja memikirkan kata2 Seung-yeon – khususnya tentang buku fosil. Jin-soo tidak tahu apa yang dimaksud Seung-yeon dan dia harus berpikir beberapa menit sebelum dia menyadari tugas konyol yang dia berikan pada Seung-yeon pada hari pertama bekerja – meringkas dan menerjemahkan buku fosil.

Jin-soo menyindir dan kagum bahwa Seung-yeon masih ingat permintaannya. Ketika dia mengambil minuman dari kulkas, pikirannya lebih kacau lagi ketika minuman menetes di tangannya, yang membuatnya ingat pada air mata Eun-young.

Eun-young ada pertemuan dengan Dong-wook untuk membicarakan perubahan kafe. Eun-young berencana memperluas bagian buku dan mempersempit dapur. Ide ini mendapat perlawanan dari Dong-wook, yang bersikeras kalau ketimbang menjadi kafe buku, bagian kafenya harus lebih menonjol.

Pertemuan ini disela oleh kemunculan Hyun-seok, sang pengacara. Kedatangannya merupakan kejutan, tapi dengan persetujuan kakek, Hyun-seok datang mengajak Eun-young makan siang – sebuah tindakan yg disetujui Eun-young dengan enggan.

Sadar akan acara makan siang ini, Ji-won mencari Ji-won di sekolah dan menyeretnya jadi mereka bisa mengacaukan kencan makan siang Eun-young. Jin-soo tidak suka, tapi Ji-won berusaha menghapus keengganan Jin-soo dan memaksanya pergi, “Jajangmyun sepertinya menyukaimu. Ayo bergabung dengan mereka.”

Eun-young langsung tahu kalau ini bukan kebetulan, tapi Hyun-seok menerimanya dengan senang hati dan setuju agar Ji-won-Jin-soo bergabung. Sebenarnya, Hyun-seok sangat ingin mengobrol dengan Jin-soo!

Suasana berubah tegang waktu Ji-won mulai menjelek-jelekkan Hyun-seok. Dia menghina pengacara itu, misalnya saja dengan mengatakan nama Hyun-seok begitu aneh. Hyun-seok tidak tahu kenapa dia diserang, tapi dia mengabaikan Ji-won dan melanjutkan memuji novel Jin-soo, menyebut Jin-soo jenius.

Sepanjang acara makan itu, Jin-soo menerima pujian Hyun-seok dgn tidak nyaman. Dia hanya berharap makan siang ini segera selesai. Eun-young juga begitu ingin pergi; dia pergi sebentar dari mejanya untuk memanggil Hyun-joo, meminta pertolongan.

Ketika Hyun-seok permisi untuk menelpon, Jin-soo meminta Ji-won mengakhiri ini semua. Ji-won berkata kalau dia tidak suka Hyun-seok – dan lagi, apa Jin-soo mampu menyaksikan Eun-young berkencan dengannya? sebagai teman, mereka harus stop ini.

Jin-soo dan Eun-young ditinggalkan berdua di meja untuk beberapa saat dan Jin-soo memanfaatkan kesempatan ini untuk meminta maaf pada Eun-young atas kekacauan ini.

Eun-young di sisi lain malah bertanya pada Jin-soo kenapa dia mengenalkan Ji-won padanya beberapa tahun yg lalu. Jin-soo pasti melihat sisi positif Ji-won makanya Eun-young dijodohkan dengannya, jadi apa saja sisi positif itu? Jin-soo tidak punya jawaban yg bagus dan bercanda kalau sifat terbuka Ji-won merupakan jebakan.

Eun-young bertanya, “Kau tahu kenapa aku berkencan dengannya? Karena dia orang yg kau kenalkan padaku. Aku mempercayaimu.” Eun-young berpikir waktu itu, Ji-won pasti pria baik. Akan tetapi, sekarang dia berpikir kalau Jin-soo mengenalkan Ji-won padanya tanpa pikir panjang. Begitu bukan? Eun-young mendesah, “Di masa lalu, aku mengira kau setulus diriku.”

Ji-won menemui Hyun-seok di toilet saat dia sedang pipis. Ji-won seolah-olah menghina ‘punya’ Hyun-seok dan akhirnya Hyun-seok tidak tahan lagi bersikap sopan dan berteriak, “Apa masalahmu?”

Ji-won ini sangat konyol. Dia malah semakin marah waktu diperlakukan tidak sopan padahal bukan Hyun-seok yg mulai duluan. Ji-won marah dan mengeluarkan kata2 kasar dihadapan Hyun-seok. Pertengkaran itu terhenti waktu Jin-soo tiba dan masuk untuk merelai kedua pria itu.

Ji-won berpikir kalau Jin-soo ada di pihaknya, tapi Jin-soo malah menonjok wajahnya dan berteriak agar semua ini diakhiri. Marah, Ji-won berkata kalau dia adalah sunbae Jin-soo (dan pantas mendapatkan hormat), tapi Jin-soo membalas, “Kau harus bersikap seperti sunbae kalau ingin menjadi sunbae!”

Sekarang pertengkaran jadi milik Ji-won dan Jin-soo. Mereka bertengkar dari dalam toilet hingga keluar. Sekarang Hyun-seok yang berteriak agar mereka berhenti dan tenang. Keadaan ini membuat Eun-young sendirian di mejanya dan dia tahu dari Hyun-seok kalau Ji-won dan Jin-soo bertengkar.

Akan tetapi, Ji-won dan Jin-soo mendengar kalau Hyun-seok sedang mengarahkan Eun-young datang ke tempat mereka dan Jin-soo menghentikan itu semua dengan mengambil hp Hyun-seok. Eun-young ingin berkeliling tapi Hyun-joo melarang sebab Eun-young hampir telat untuk meeting.

Setelah Hyun-seok pergi, kedua pria itu meneruskan aksi mereka lagi dengan sisa tenaga yg ada. Wajar kalau Ji-won yg mantan petinju menang. Meski begitu, keduanya terlihat babak belur pada akhirnya.

Sehabis pertarungan itu, mereka melanjutkan saling ejek. Jin-soo meneriakkan semua hal jelek tentang Ji-won – dia aneh, egois, dan gila. Jin-soo berkata, “Apa kau tahu betapa menyesalnya aku memperkenalkan Eun-young padamu?”

Akhirnya mereka berhenti karena lelah dan Ji-won bertanya, “Hey, dimana pria jajangmyun itu?” Jin-soo di sisi lain malah memikirkan kalimat Seung-yeon yg malah menjelaskan tentang dirinya meski tidak ada harapan mengubah keadaannya. Dia juga ingat perkataan Eun-young kalau dia kurang tulus.

Tiba2, kalimat2 ini menyatu di pikirannya – sampai sekarang kalimat itu berputar di kepalanya, seolah-olah mereka begitu penting tapi tidak menyatakan kenapa mereka penting. Sekarang, mereka semua menyatu dan Jin-soo mendapatkan tenaga. Dia berdiri lagi dan berlari.

Jin-soo pergi ke kafe buku dimana para pegawai kaget melihatnya begitu kacau. Dia mengabaikan semua itu dan menuju rak buku, mencari buku fosil yg dia berikan pada Seung-yeon dulu. Sekarang buku itu sedikit berbeda soalnya begitu banyak ditempeli post-it dan memo.

Kaget dan sedikit kagum, Jin-soo menelpon Seung-yeon dan bertanya kenapa Seung-yeon mau meneruskan pekerjaan yg jelas2 tidak ada ujungnya. Apa dia begitu bodoh? Apa Seung-yeon benar2 berpikir kalau pekerjaan itu untuk membantu naskah Jin-soo?

Tapi Jin-soo tidak dapat menerima jawaban Seung-yeon: “Tapi kau tidak pernah mengatakannya.” Seung-yeon tahu kalau Jin-soo tidak akan memakai tugas yg dia berikan, tapi Jin-soo tidak pernah menyuruhnya berhenti mengerjakannya.

Jin-soo tertawa – begitu aneh, tidak terduga, dan gila. Menunjuk ke tujuh alasan yg Jin-soo berikan kenapa memecat Seung-yeon, Jin-soo menyuruh Seung-yeon untuk melakukan perubahan – membuat alasan agar tidak dipecat.

Dengan nada tegas, Jin-soo menegur Seung-yeon karena tidak membedakan mana yg nyata dan tidak nyata. jin-soo mengatakan kalau orang yg professional harus mampu mengerti orang lain untuk membuatnya mengerti.

Saat Seung-yeon mengatakan kalau dia tidak tahu apakah bisa membuat alasan2 itu, Jin-soo berteriak, “kalau begitu karang saja. Apa kau tidak belajar berbohong dariku?”

Berikutnya, Jin-soo menuju kantor mencari Eun-young tapi dia mendengar kalau Eun-young baru saja berangkat melakukan perjalanan bisnis. Tepat saat Eun-young akan naik kereta dengan tim-nya, telponnya berdering. Jin-soo kehabisan nafas karena berlari, “Apa kau di dalam kereta?”

Eun-young mulai menanyakan tentang perkelahian Jin-soo saat makan siang tapi Jin-soo memotongnya dengan berkata, “Ada yang aku katakan padamu. Aku sudah banyak berbohong padamu sebelumnya, tapi aku rasa aku harus memberitahumu tentang ini.”

Jin-soo: kejadian itu (ciuman) bukan insting pria tapi karena kau Seo Eun-young makanya aku menciumu. Aku berbohong padamu hari itu. Aku minta maaf. Tapi meski memikirkan itu, aku harus meninggalkanmu – jadi lupakan aku selamanya. Aku tidak bisa menghapus Hee-soo dan melihatmu seorang. Aku rasa tidak akan berhasil meski aku mencoba. Bagiku, melihatmu selamanya berarti memiliki Hee-soo di sisiku selamanya juga. Ini penyakit. Aku tahu itu tapi tidak bisa mengendalikannya.

Eun-young berkata, “Meski kau meninggalkanku, itu artinya kau bisa meninggalkan Hee-soo selamanya, kalau begitu.” Jin-soo menjawab, “pikiranku itu datang padaku tiba2, jadi karena itulah aku menelponmu.”

Eun-young berkata, “Kau harusnya memberitahuku lebih dulu. Apa kau tidak tahu aku ada di sisimu? Apa yang kau manfaatkan dariku?” Jin-soo berkata kalau dia akan memberikan bukunya pada Eun-young, “Buku itu milikmu.”

Eun-young menjawab kalau kalimat itu kedengaran seperti kalimat seorang pria yg berhutang padanya. Dia menggoda Jin-soo kalau kalimat Jin-soo sepertinya menyiratkan mereka berbicara hal lain – sebab Jin-soo sudah menghilang begitu lama bersama perasaannya, sekarang semua yg dia bilang seperti kurang ketulusan.

Jin-soo: Aku serius.
Eun-young: Tidak 100%. Aku bertanya-tanya apa aku akan bisa melihat Lee Jin-soo 100% tulus sebelum aku mati. Hanya… untuk semenit, apa kau pernah 100% tulus denganku

Kalimat itu mempengaruhi Jin-soo, dan ada beberapa saat hening diantara mereka. Akan tetapi, panggilan terakhir untuk naik kereta diumumkan dan Eun-young harus naik kereta jadi dia mulai menyudahi pembicaraan itu.

Jin-soo berkata serius pada Eun-young, “Satu menit bisa lebih besar dari sepuluh tahun. Apa akan terjadi begitu?”

Eun-young bingung, tidak mendapatkan maksud Jin-soo. Jin-soo menutup telpon dan mulai berlari – dia menelpon dari tlpon umum di stasiun kereta. Sekarang dia menuruni tangga dan menuju ke tempat Eun-young. Sementara Eun-young mendesah dan naik kereta.

Jin-soo mencapai pintu kereta dan meraih Eun-young untuk menciumnya.

Saat mereka selesai berciuman, Eun-young bertanya, “Ini 100%, benar bukan?” Jin-soo mengangguk, masih dengan nafas berat dan terus memandangi Eun-young.

Eun-young berkata, “Sudah cukup kalau begitu.”

Lalu kereta mulai berjalan, memaksa mereka menjauh. Mereka masih saling pandang ketika keretanya sudah tidak tampak lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s