Sinopsis Coffee House – Episode 10

Setelah Jin-soo pingsan di studionya, dia masih memiliki cukup tenaga untuk membuat catatan untuk Seung-yeon dan menyuruhnya menebus resep obat. Dengan tergesa-gesa, Seung-yeon berlari ke RS mencari dokter Jin-soo, menebus obat dan kembali ke studio.

Seung-yeon memberikan obat pada Jin-soo, yg bisa sendiri menyuntikkan obat itu ke tubuhnya. Seung-yeon terpana melihat kemampuan pengobatan Jin-soo, sampai Jin-soo menyuruh Seung-yeon melihat lagi biodatanya. Jin-soo pernah sekolah dokter.

Ketika Eun-young menelpon, Jin-soo tidak mau menjawabnya, jadi Seung-yeon membuatkan alasannya. Eun-young menerima begitu saja jawaban itu dengan sedikit rasa kecewa.

Jin-soo menyuruh Seung-yeon pulang, yg membuatnya semakin khawatir sebab dia tidak suka meninggalkan Jin-soo sendiri dengan kondisi seperti itu. Untuk saat ini, Seung-yeon tahu Jin-soo tidak akan protes jadi dia memikirkan sebuah ide: dia mengirim nenek untuk merawat Jin-soo.

Saat berikutnya Seung-yeon menjelaskan pada Dong-wook, Jin-soo sebenarnya tdk bisa kejam pd orang asing. Bisa saja Seung-yeon mengerahkan semua tenaganya merawat Jin-soo, menyuruhnya makan, tapi Jin-soo pasti akan mengusirnya. Jin-soo tidak terlalu kenal dengan nenek Seung-yeon jadi Jin-soo akan lebih menurut ketika nenek menyuruh makan.

Ketika Jin-soo mendapati dirinya bersama seorang nenek yg menyuruhnya makan, dia menelpon Seung-yeon, yg berpura-pura kalau koneksi tlp lagi jelek untuk mengabaikan kemarahannya. Seung-yeon merasa cukup bangga dan tidak merasa bersalah karena mengabaikan keinginan Jin-soo yg ingin ditinggal sendiri.

Seung-yeon menjelaskan semua ini pada Dong-wook di kafe buku sambil berbagi makanan ringan. Para pegawai lain berpikir kalau Dong-wook pintar karena tetap mulus dalam menjaga hubungannya dengan Seung-yeon.

Seung-yeon berbicara soal pekerjaannya, pikirannya yg masih tertuju ke Jin-soo yg sakit sedangkan Dong-wook hanya mendengarkan setengah hati, sebab dia juga memikirkan melakukan beberapa hal memenangkan hati Seung-yeon. Seperti memberinya kue beras.

Benar tebakan Seung-yeon. Jin-soo tdk mampu mengusir nenek dan dia duduk di meja memakan semua yg sudah disiapkan nenek. Selagi Jin-soo mencoba segera menyudahinya, nenek bertanya soal hidup Jin-soo, dan terus menambah kimchi di mangkuk Jin-soo dengan tangannya. Pada awalnya, Jin-soo merasa jijik dan dengan enggan memakan kimchinya. Tapi lama kelamaan, Jin-soo mulai menyukai rasanya. Dan pada akhir percakapan, Jin-soo menjulurkan sendoknya agar diisi kimchi oleh nenek.

Selagi nenek berbicara, menanyakan pertanyaan yg Jin-soo jawab pendek2. Contohnya, apartemen ini bukan milik Jin-soo, meski dia tinggal disini saat menulis. Kenyataannya, Jin-soo bahkan tidak punya rumah sendiri. Orang tuanya meninggal saat dia kuliah, jadi dia menghabiskan waktunya berkelana dari satu tempat ke tempat lainnya.

Nenek mengerti hal itu, tapi dia tidak memperlakukan Jin-soo dengan rasa kasihan. Nenek merecoki Jin-soo kalau dia harus menikah, tdk baik hidup sendiri terus.

Nenek pergi setelah mengatakan ke Seung-yeon kalau Jin-soo sudah makan dan sekarang istirahat. Saat diperiksa, Jin-soo ngomel dan menuduh Seung-yeon sudah gila karena menjebaknya dengan kejam. Akan tetapi, Jin-soo terlalu lelah marah2 dan malah tiduran.

Seung-yeon tidak takut, soalnya dia tahu kalau dia sudah melakukan yg terbaik. Seung-yeon meminta Jin-soo menelponnya saat dia sakit atau bosan. Seung-yeon terlalu pede karena berpikir tahu segalanya dan Jin-soo mengatakan kalau Seung-yeon sudah berkembang, tapi tetap saja semua itu tidak membuat Jin-soo terkesan.

Malam itu Eun-young selesai bekerja dan menelpon Jin-soo, ingin singgah sebentar ke tempat Jin-soo. Jin-soo menolaknya, bersikap normal dan mengatakan kalau dia lagi sibuk tapi Eun-young memaksa dan mengatakan kalau dia hanya sebentar.

Jin-soo tidak ingin Eun-young tahu kalau dia sakit – jika Eun-young tahu, maka dia juga tahu kalau Jin-soo sangat khawatir saat dia menghilang. Jin-soo tdk bisa membiarkan dirinya dalam keadaan itu. Jadi Jin-soo bangkit dari tempat tidur dan membuka pintu utk bicara dengan Eun-young tapi hanya sampai ambang pintu.

Eun-young memulai dengan lancar, tapi mengakui kalau dia merasa tdk enak setelah mendengar Jin-soo khawatir selama akhir pekan. Tetapi sekarang dia melihat kalau Jin-soo tdk khawatir sama sekali dan berpikir, “Aku yg malu dan terluka – kenapa kau menghindariku? Menggelikan sekali.”

Jin-soo mengatakan kalau dia tdk menghindari Eun-young, lalu dia menyingkirkan Eun-young cepat2 sebelum Seung-yeon tiba, membawa obatnya. Jin-soo sudah memerintahkan agar kondisinya dirahasiakan dari Eun-young, jadi Seung-yeon menyembunyikan obatnya saat berpapasan dengan Eun-young.

Jiw-on berpikir serius dan menelpon Eun-young untuk minta maaf karena sudah menyakitinya 2 tahun lalu. Lucu jg karena Ji-won baru sadar sekarang. Dia benar2 menyesal dan minta maaf. Ji-won bahkan mau menerima 70% tanggung jawan atas putusnya mereka. Bahkan menaikkan jd 80% lalu 90%.

Eun-young menganggap Ji-won aneh dan menghentikannya saat dia mulai mengungkit hubungannya dengan Jin-soo. Dengan santai Eun-young mengatakan kalau semua itu hanya sandiwara untuk membuat Ji-won menyerah dan bahwa Jin-soo akan segera pergi. Dia akan mulai berkencan lagi. Eun-young mengatakan juga kalau Ji-won sudah keluar dari hatinya selamanya. Lalu Eun-young menutup telponnya.

Eun-young kemudian menguhubungi pengacara dan meminta agar dokumen kontraknya dengan Jin-soo dibatalkan. Dokumen ini tdk hanya membebaskan Jin-soo dari perusahaan Eun-young tapi juga berlaku segera, yg artinya dia tdk menggunakan buku Jin-soo. Pegawai Eun-young kaget, sebab bagi mereka, ini begitu mendadak dan tanpa penjelasan. Meski Jin-soo mengerti alasan Eun-young, tapi dia juga kaget diserahi surat itu.

Jin-soo menemui Eun-young dengan ekpresi serius dan bertanya apa arti semua itu. Ini bukan berita bagus buat Jin-soo, meski ini membuatnya ada di posisi bagus ketimbang Eun-young, sebab perusahaan Eun-young akan rugi banyak ketimbang Jin-soo yg kehilangan kontrak.

Eun-young menjelaskan pada Jin-soo jika dia menyadari alasan Jin-soo menulis yaitu untuk membayar hutang lamanya. Dia tidak ingin mendapat uang dgn cara begitu. Eun-young ingin menghentikan kontrak ini agar mereka bisa kembali ke keadaan ketika mereka pertama bertemu dan mengingatkan Jin-soo kalau Jin-soo mengatakan dia (Eun-young) pintar kembali ke keadaan aslinya.

Eun-young mengingatkan bagaimana mereka sebelum menjadi teman atau rekan bisnis – dulu mereka sebatas kenal yg senang berbincang dan bersenang2 bersama. Jin-soo sudah menutup kesempatan itu tapi tdk Eun-young dan sekarang dia ingin kembali seperti itu. Tapi bukan ini yg Jin-soo inginkan atau mau dan semuanya tertulis di wajahnya.

Eun-young melanjutkan. Dia mengatakan akan sangat baik kalau mereka kembali ke hubungan dekat mereka, ke bagaimana mereka sebelum ulang tahun Jin-soo – sebelum ciuman itu – tapi mereka tdk dapat melakukan itu. Eun-young mengatakan meski Jin-soo ingin dia santai menjalani semuanya, tapi dia tdk bisa, jadi hanya ini hal terbaik yg bisa dia lakukan.

Eun-young terus tersenyum kecut saat dia berpisah dengan Jin-soo tapi saat dia mulai jauh, Eun-young menjadi semakin muram dan muram. Eun-young sepertinya tdk berada dalam dirinya, bahkan melewatkan kesempatan menyeberang.

Jin-soo mengikuti Eun-young dan menghampirinya di pertigaan. Jin-soo bertanya, “Jika kau membuangku, apa yg akan aku tulis? Kenapa aku harus menulis?” Pandangan Eun-young semakin kacau tapi dia tetap bersikap santai dan berkata kalau Jin-soo pasti puas dengan suksesnya hingga bicara seperti itu, lalu Eun-young pergi.

Saat Jin-soo kembali ke rumahnya, pegawai Eun-young memberikan undangan ke sebuah acara bernama International Peace Seoul Awards. Dia bertanya apa Jin-soo akan datang. Pria itu menebak kalau Jin-soo tdk mau menerima penghargaannya tapi dia meminta jawaban pasti – mereka tdk bisa memaksa Jin-soo setuju pergi.

Jin-soo melihat undangan itu dan bertanya apakah dengan pergi ke acara itu akan mencegah Eun-young membatalkan kontrak. Jin-soo bercanda kalau dia tdk ingin ‘dipecat’ Eun-young.

Eun-young kaget ketika Jin-soo bergabung dengannya di mobil yg membawanya ke acara penghargaan itu. Jin-soo tetap santai wakti dia bilang kalau dia tidak ingin diusir dari tempat kerjanya yg bagus: “Bisa kan kita terus seperti ini? Dengan sedikit keanehan? Atau bisa disebut rakus?”

Seung-yeon tidak tahu soal pembatalan kontrak itu sampai mobil berjalan menuju ke acara penghargaan. Hyun-joo yg mengatakan padanya lalu bertanya apa ada sesuatu terjadi saat ultah Jin-soo – sebelumnya keadaan baik2 saja. Semuanya berubah aneh setelah ultah dan Hyun-joo bertanya apa Seung-yeon tahu sesuatu.

Seung-yeon memang tahu – dia hanya tdk tahu cerita lengkapnya, tapi dia menyaksikan percakapan di atap itu – tapi tdk punya hak mengungkapkannya, jd dia mengalihkan key g lain. Saat berada di lokasi award, tim itu mulai bekerja mempersiapkan Jin-soo dan Eun-young untuk bagian mereka.

Seung-yeon mengatakan pembatalan kontrak itu dengan Jin-soo tapi Jin-soo menyuruhnya diam. Seung-yeon tdk bisa memaksa Jin-soo tapi tdk bisa berhenti berpikir kalau ini tdk bagus, jd berikutnya dia mencari Eun-young. Jin-soo melihat kedua wanita itu berbincang tapi dia tidak melakukan apapun.

Seung-yeon mengatakan pada Eun-young kalau Jin-soo sangat khawatir dan Jin-soo juga juga minum banyak obat tidur. Seung-yeon melihat kalau Jin-soo sangat peduli pada Eun-young dan pembatalan kontrak ini hanya soal salah paham.

Eun-young menangis dan memang terbukti kalau Jin-soo sudah berbohong padanya. Eun-young mengatakan kalau Jin-soo memang selalu berusaha menutupi kebenaran dan Eun-young tidak akan mampu tahu kebenaran tanpa Seung-yeon. Eun-young bergumam, “Apa semuanya selalu kacau buat kami karena kami tidak punya sekretaris?”

Eun-young mengucapkan terima kasih atas bantuannya. Seung-yeon merasa kalau dia melakukan hal yg benar, bahwa dia melakukan tugas sebagai sekretaris yg baik, dan menghilangkan semua kekecewaannya.

Saat Jin-soo menunggu naik panggung, Eun-young mendekatinya, sekarang bersikap lebih manis. Eun-young menggenggam tangan Jin-soo dan mengatakan agar melakukan yg terbaik.

Ketika Eun-young melepaskan tangannya, Jin-soo menemukan sebuah catatan. Jin-soo membukanya: “Ayo cari jawabannya bersama. Jangan berjuang sendiri, kumohon. Aku minta maaf sudah menyulitkanmu tanpa tahu kalau kau sakit.”

Jin-soo bingung tapi Seung-yeon muncul dan memberikan tanda ‘berjuang’ agar beruntung. Sekarang Jin-soo mulai berpikir, dan menyadari kalau Seung-yeon mengatakan yg sebenarnya pada Eun-young.

Pendangan Jin-soo mulai goyah – sekelilingnya mulai memudar dan cahaya panggung membutakan – sedangkan wajah Jin-soo mulai tegang.

Ketika Jin-soo naik ke panggung menerima penghargaan, cahaya panggung membuat sosok Jin-soo memudar. Eun-young dan Seung-yeon ingin tahu apa yg dipikirkan Jin-soo tapi hanya mampu melihat punggungnya.

Jin-soo melewati malam itu dengan baik dan setelahnya Seung-yeon memberikan dua jempol. Mereka semua diundang ke pesta setelah itu tapi Jin-soo malah menyuruh Seung-yeon pulang ke rumah. Ketika Seung-yeon bertanya kenapa, Jin-soo mengatakan, “Kau dipecat.”

Kalimat itu membuat senyum Seung-yeon menghilang dan dia bingung. Dia bertanya kenapa dan Jin-soo mengatakan secara terang2an: Seung-yeon sudah mengatakan hal yg dia percayakan agar tetap rahasia, dia mengganggu hidup Jin-soo dengan banyak delusi, dia bersikap kasihan berlebihan, dia menghancurkan kepercayaan Jin-soo padanya, dan terakhir dia menghancurkan harapan Jin-soo kalau dia bisa jadi sekretaris yg professional.

Jin-soo mengatakan semua ini tanpa rasa marah. Dia meninggalkan Seung-yeon yg kacau dan bergabung dengan Eun-young di limousine menuju ke tempat pesta.

Eun-young yakin kalau keadaan sudah membaik jadi dia kaget waktu mendengar kalau Jin-soo baru saja memecat sekretarisnya. Jin-soo menjelaskan kalau dia tidak bisa mempekerjakan sekretaris yg berbohong lalu mengatakan pada Eun-young semua yg dikatakan Seung-yeon bohong, “Jangan percaya satu pun ucapan itu.”

Eun-young terlihat kecewa ketika Jin-soo mengeluarkan dokumen dan sekarang setuju kalau Eun-young benar bila ingin memutus hubungan mereka: “Kita sudah cukup jauh dan aku rasa tidak bagus bagi kita berdua bila terus melanjutkannya.” Jin-soo setuju pada semua syarat Eun-young.

Jin-soo menandatangi surat itu dan meminta kendaraan itu menepi. Dia mengatakan agar Eun-young bersenang-senang di pesta. Jin-soo keluar dan meninggalkan dua wanita yg dibuatnya terkejut.

2 thoughts on “Sinopsis Coffee House – Episode 10

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s