Arsip

Sinopsis The Return of Iljimae Episode 24 – Final

Setelah siuman, Iljimae menjalani masa penyembuhan yang cukup lama dan saat dia benar2 sembuh, dia mendengar semua berita itu.

 

 

Berita yang sanga buruk – perang telah pecah. Seperti rencana, pasukan Qing mencapai Hanyang dalam waktu 10 hari. Bangsa Korea mengalami serangan selama 1,5 bulan sebelum akhirnya dipaksa menyerah. Ribuan tahanan Korea dibawa ke Cina, semua orang kehilangan harapan. Raja mereka bahkan diminta berlutut dihadapan kaisar Qing.

 

Mereka tahu kalau pesan peringatan mereka sudah sampai ke tangan pasukan Joseon dan menyimpulkan bahwa Kim Ja-jeom menyimpan info itu diam2.

 

 

Wol-hee mengucapkan terima kasih pada Yeol-gong karena menjaganya tapi sekarang waktunya pindah ke rumah lamanya bersama Keol-chi dan bayinya yang baru lahir.

 

Mereka masih berharap akan berita tentang Iljimae. Wol-hee mengakui kalau ada satu hal yang muncul setelah penjajahan – saat Qing mengambil alih kuasa, mereka mengeluarkan keputusan pengampunan, yang artinya semua orang yang berada dalam pemerintahan sebelumnya diampuni. Ini termasuk Iljimae, jadi dia bukan lagi buronan.

 

Wol-hee dan Keol-chi mencari tahu kabar Iljimae dari tawanan yang sudah kembali ke rumah dari penjara Cina. Keol-chi menggambarkan Iljimae sebagai pria ‘tinggi’ dan terlihat seperti perempuan.’ Wkwkwkw

 

 

Di Cina, Iljimae dan Yi-myung melihat perlakuan kejam terhadap tahanan Korea dengan berat hati. Pemerintah melepaskan beberapa tawanan tapi hanya jika mereka membayar dengan jumlah yg besar. Karena itulah beberapa anggota keluarga melakukan perjalanan jauh untuk mengambil kembali keluarga mereka yg jadi tawanan, dan rela bangkrut.

 

Iljimae memerhatikan seorang tawanan wanita. Ayahnya sudah menjual semuanya dank e Cina untuk membawa uang sebesar 300 nyang. Tapi para petugas – yg tahu kalau gadis itu cantik – menaikkan harganya menjadi 500 nyang. Sang ayah tak bisa berbuat apapun. Iljimae sedih karena dia bangun dan melihat penderitaa ini.

 

 

Jadi saat petugas menyeret gadis itu, Iljimae maju dan meminta gadis itu dilepaskan. Dia berkelahi dengan petugas itu dan menyerahkan sang gadis pada ayahnya.

 

Tapi itu hanya satu orang. Iljimae sangat sedih karena banyak tahanan yang tidak mampu membayar kebebasan mereka sendiri. Pria yg masih muda akan dikirim ke medan perang sedangkan yg masih mudan dan yg sudah tua menjadi budak. Para wanita akan dijadikan budak rumah tangga.

 

 

Yi-myung tahu kalau semua ini sangat membebani Iljimae dan mengatakan kalau ini bukan salah Iljimae, tapi Iljimae tidak mau tahu dan tetap merasa kalau ini adalah tanggung jawabnya. Kalau saja dia mengangantarkan surat itu…

 

Yi-myung memberitahu kalau pangeran mahkota Korea, Pangeran So-hyun, juga ditawan dan ditempatkan tidak jauh dari sini. Dia meminta bertemu dengan Iljimae.

 

Meski kondisinya buruk, pangeran melakukan semua yg bisa dia lakukan membantu para tawanan. Misalnya, menjual barang berharga dia miliki untuk membeli kebebasan para tawanan. Tapi dia hanya bisa membeli sedikit dan masih banyak yg patut dibantu.

 

 

Pangeran meratapi kondisi mereka, jika memang sebgian bisa lolos, mereka pasti juga akan mati dalam perjalanan pulang ke rumah, khususnya saat menyeberangi jembatan di dekat perbatasan. Mereka perlu orang untuk menuntut mereka – bisakah Iljimae melakukannya?

 

Iljimae setuju membantu dengan mengawal para tahanan yg lolos melewati hutan dan menyeberang sungai di perbatasan.

 

 

.

Ini tidak bisa berlangsung lama, sebab setiap kelompok hanya terdiri dari beberapa orang saja. Dalam satu kesempatan, menyerang petugas patroli dan Iljimae melindungi mereka sedangkan tawanan kabur menyelamatkan diri. Para petugas dengan mudah dikalahkan dengan shuriken Iljimae.

 

Salah satu anak yg ditawan adalah Cha-dol, yg dipaksa bekerja. Keadaan ini membuatnya terkenang akan hidup yg dia jalani sebelaum bertemu Bae Sun-dal – bekerja di bawah tekanan dan siksaan fisik – dan Cha-dol yg biasanya cerah menjadi murung.

 

Untuk mengembalikan Cha-dol, Bae Sun-dal pergi sendiri ke Cina dan akhirnya berhasil menemukan Cha-dol. Dia membeli kebebasan Cha-dol dan pertemua mereka sangat indah.

 

Bae sebenarnya sudah sakit sebelum berangkat ke Cina dan perjalanan itu memperparah sakitnya. Dia tidak punya banyak waktu, sebab ingin mengungkapkan harapan terakhirnya pada Cha-dol.

 

 

Dia memberikan sebuah dokumen pada Cha-dol – dia sudah mendaftarkan Cha-dol ke dalam keluarganya. Dia sudah mengadopsi Cha-dol, yg artinya dengan dokumen itu Cha-dol berhak mewarisi semua kekayaan Bae. Cha-dol senang, sedih, dan takut kehilangan Bae.

 

Bae berkata kalau dia tidak punya anak yg bisa mewarisi hartanya. Sekarang Cha-dol bisa meneruskan garis keturunannya dan mengurus pemakamannya. Cha-dol menangis dan memanggilnya ‘ayah’ untuk pertama kalinya.

 

Bae punya permintaan lagi: dia meminta Cha-dol menyelesaikan buku ‘Riwayat Iljimae’ buku yg sudah dia kerjakan beberapa tahun belakangan ini. Dia meminta Cha-dol melakukannya jadi dia bisa pergi dengan tenang dan Cha-dol mengiyakan. Tidak peduli apapun, dia akan menyelesaikannya.

 

Bae: jangan menangis. Manusia datang dan pergi. Tapi aku bisa bertemu 2 orang paling berharga di muka bumi ini. Kau dan Iljimae. Sulit sekali menemukan orang2 seperti kalian, tapi sudah diberikan dua, bukankah aku benar2 diberkati?

 

Bae tersenyum dan menutup matanya dengan tenang.

 

Wol-hee melanjutkan pekerjaannya menyalin buku, tapi atasannya khawatir pada jumlah kerta yg menipis. Ini menjadi masalah di seluruh negeri, jadi Wol-hee meminta Yeol-gong untuk mengajarinya membuat kertas. Selain memberikan manfaat, ini juga menghasilkan cukup uang untuk Wol-hee.

 

 

Prosesnya cukup susah dan memerlukan banyak tenaga, tapi Wol-hee mencurahkan perhatiannya. Wol-hee mempekerjaan tawanan yg kembali dari Cina dan memberikan imbalan pada mereka. Mereka senang karena bisa bekerja lagi dan mereka bahkan menyebut penyelamat mereka.

 

Keol-chi mereka kalau yg mereka bicarakan Iljimae, jadi Wol-hee bertanya pada mereka. Tidak hanya tingkah sang penyelamat yg familiar, dia juga punya luka bakar di wajahnya. Wol-hee mencoba tidak terlalu berharap, tapi ini berita yg menjanjikan.

 

Pangeran So-hyun prihatin dengan bertambahnya kesulitan yg dihadapi melewati jalan bawah tanah, penjagaan diperketat dan perbatasan bahkan lebih mengerikan lagi untuk dilewati.

 

 

Lebih jauh, pria yg biasa menyeberangkan tawanan dengan perahunya meninggal karena sakit. Pangeran begitu sedih, tapi Iljimae tetap yakin. Mereka harus menemukan orang baru, tapi dia meyakinkan So-hyun kalau dia akan terus bekerja keras membebaskan tawanan.

 

Cha-dol mengunjungi Iljimae, mematuhi permintaan Bae Sun-dal. Iljimae sedih mendengar kepergian Bae.

 

Iljimae: kalau dilihat lagi, ada begitu banyak orang yg peduli padaku. Tapi meski aku menerima cinta itu, aku terkurung dalam duniaku sendiri hingga aku tidak menyadarinya.

 

Cha-dol merasakan hal yg sama – dia menyesal tdk memperlakukan Bae dengan baik. Tapi Cha berseri-seri ketika bertanya, “Apa kau tahu kalau Wol-hee punya bayi?”

 

Iljimae kaget – tidak, dia tidak tahu. Iljimae menangis dan tersenyum saat mengetahui berita ini: “Wol-hee melahirkan anakku?”

 

Kejutan lain menunggu Iljimae ketika dia pergi menemui orang yg akan menyeberangkan para tawanan: ternyata Yang-po.

 

Saat perang pecah, Yang-po bergabung dengan militer dan membunuh banyak orang. Tapi suatu hari, dia diselimuti perasaan sedih, “Membunuh musuhku agar aku dapat hidup – aku tidak mampu menahannya.” Dia harus pergi dan menemukan pekerjaan ini. Dia mendengar kalau ada seseorang yg menyelundupkan tahanan Korea pulang ke Joseon.

 

 

Yang-po berkata pada Iljimae, “Saat aku mendengar berita itu, aku tahu orang itu kau!” Iljimae bertanya, “Karena itukah kau datang menolongku?” Yang-po mengangguk.

 

 

Sembilan tahun kemudian.

 

 

Anak Wol-hee dari Iljimae, Young, sudah tumbuh besar dan Wol-hee tetap bekerja menyalin buku pada atasannya yg dulu. Hari ini dia kaget melihat tumpukan buku di rak dengan judul ‘Riwayat Iljimae.’

 

Dengan gugup, Wol-hee bertanya dari mana datangnya buku2 itu, siapa yg membawanya, Wol-hee ingin bertemu orang itu. Dia diberitahu kalau pria muda itu masih disini, dan Wol-hee berbalik…

 

Cha-dol juga sudah tumbuh dewasa (aktor-nya udah dihanti). Sesuai dengan permintaan Bae, Cha-dol sudah selesai menulis buku2 itu dan memberikan beberapa untuk Wol-hee.

 

Keol-chi dan Young meminta Wol-hee membacakan buku itu untuk mereka. Wol-hee mulai membaca halaman awal tentang masa kanak-kanak Iljimae.

 

 

Akan tetapi, ketika dia sampai pada pertemuannya dengan Iljimae, Wol-hee merasa begitu sedih. Dia menutup bukunya dan mengatakan kalau dia tidak mampu melanjutkan membaca, dan buru2 keluar. Saat sendiri, dia menangis, merindukan Iljimae.

 

Selama ini, Iljimae tetap membantu tahanan perang melarikan diri. Dia berusaha tidak tertangkap, yg merupakan hal sulit sebab pasukan Qing sangat ingin menangkapnya. Pada akhirnya, mereka mengirim Wang Hweng-bo – dia sukses dalam peperangan – menangkap Iljimae, soalnya dia punya pengalaman berurusan dengan Iljimae.

 

Iljimae tidak takut pada Wang Hweng-bo, hanya saja dia tdk ingin menghabiskan waktunya dengan Hweng-bo. Iljimae pergi, tapi Wang memerintahkan anak buahnya beraksi, dan mereka memukul drum. Wang tahu kelemahan Iljimae.

 

Pertama, tubuh Iljimae langsung tegang dan dia merasa kesakitan. Wang Hweng-bo menyaksikan Iljimae berjuang melawan kelemahannya… dia menunggu Iljimae menyerah… tapi Iljimae tidak menyerah.

 

 

Pelan2, Iljimae mulai terbiasa dan bahkan bersikap normal ketika bunyi drum semakin kencang. Dia berbalik dan menghadapi Wang yg mulai ketakutan: “Kenapa kau tidak menyerah? Menyerahlah!”

 

Iljimae: ketika kau sembuh dari luka yg begitu parah, kau sadar kalau lukamu yg sebenarnya bukan apa2 lagi. Kalian telah mengganguku dan negaraku luka parah. Aku sudah melupakan luka-ku yg dulu sekarang.

 

Sekali lagi Iljimae beranjak pergi dan kali ini Wang menghentikannya. Dia punya alasan lain ada disini: kaisar ingin bertemu Iljimae. Iljimae mengira ini jebakan tapi Wang mengatakan yg sebenarnya – kaisar sedang sakit dan ada sesuatu yg harus dia ambil dari Iljimae. Wang Hweng-bo hanya tahu kalau benda ini harus dia terima sebagai pertukaran sebuah bunga plum emas.

 

Iljimae pernah melakukan pertemuan rahasia dengan Huang Taiji, yg mengenali Iljimae sudah sejak lama, ketika Iljimae masih tinggal dengan ortu angkatnya dan putra Huang telah menyerang Iljimae. Huang tidak melupakan nama dan tatapan mata Iljimae.

 

Kaisar meminta pedangnya, yg memegang peranan penting. Iljimae tahu kalau pedang itu merupakan sumber kekuatan kaisar tapi Huang berkata kalau pedang itu lebih dari itu – semuanya kembali lagi ke jaman dulu, dan hanya pemilik pedang itu yg bisa disebut sebagai kaisar yg sebenarnya.

 

 

Kaisar membuat pedang palsu setelah pencurian itu tapi waktunya sudah tidak banyak lagi dan dia ingin memberikan pedang yg asli kepada putranya: “Jika aku tidak melakukannya, negara ini akan jadi kacau.” Huang berkata, “Aku tahu kenapa kau mengambil pedang itu. Kau ingin menunjukkan padaku bahwa kau bisa membunuhku, dan memintaku tidak berperang.”

 

Meski kaisar tidak menghiraukan peringatannya, Iljimae masih punya rasa kasihan. Dia berujar, “Banyak jiwa mati dalam perang ini. Kau mengeret warga tak bersalah ke negeri ini dimana mereka menderita.”

 

Kaisar menawarkan negosiasi, jadi Iljimae menjawab, “Lepaskan tahanan Joseon.” Jika pedang itu begitu berharga, kaisar pasti sanggup melakukannya. Untuk memastikan ini bukan janji kosong, Iljimae memperingatkan, “Jika kau tidak menepati janjimu, aku akan mengambil pedang itu lagi.”

 

Mereka berpandangan cukup lama, sampai kaisar setuju. Dan Iljimae membuat mereka terkejut dengan mengatakan kalau pedang itu tidak pernah meninggalkan istana. Ada di langit2 kamar sang kaisar.

 

Akhirnya pertukaran dalam perang: rezim Ming jatuh dan Qing mengambil alih. Putra Mahkota So-hyun diijinkan pulang begitu pula 30 ribu tahanan Joseon. Perintah kaisar.

 

Pekerjaan Iljimae hampir selesai dan dia bisa pulang ke rumah. Pangeran So-hyun memberitahunya, “Ayo kembali sekarang dan menciptakan negara baru. Ayo pulang bersama.”

 

Lagi, Wol-hee dan Keol-chi datang melihat tahanan yg pulang, menunggu Iljimae muncul. Mereka menunggu cukup lama sampai hampir semua tahanan habis dan tetap saja tidak ada tanda2 keberadaan Iljimae.

 

 

Keol-chi berkata dia akan menunggu dan meminta Wol-hee serta Young pulang duluan. Ibu dan anak mengambil jalan kecil pulang ke rumah dan menikmati hari itu – yg artinya rumah sedang kosong saat Iljimae pulang.

 

 

Ingat tempat persembunyian di dinding, Iljimae mengambil kunci gerbang rumah dan juga menemukan surat yg Wol-hee tulis beberapa tahun yg lalu.

 

Wol-hee: untukmu yg akan kembali suatu hari nanti. Aku pikir kau pergi selamanya hari itu. Tapi apa yg terjadi? Meski kau bermil-mil jauhnya, aku pikir kau tidak jauh. Tidak peduli jarak diantara kita, aku bisa merasakan dirimu. Hatiku dan hatimu berdetak bersama. Apapun yg kau lihat dan dengar, aku juga bisa, entah suara angina, air, awan, atau bahkan cahaya bintang. Aku bisa mendengar dan melihat mereka. Kau akan kembali nanti. Aku telah menulis rasa rinduku disini, yg tidak semuanya dapat diungkap dengan kata2.

 

Saat Iljimae selesai membaca, Young muncul di depan gerbang sendirian, terhenti karena melihat orang asing. Iljimae langsung tahu kalau anak itu putranya dan mendekatinya. Berlutut di depan anak itu, Iljimae bertanya, “Apa kau tahu siapa aku?”

 

Anak itu mengungkapkan, seolah-olah dia sudah mengingat ini begitu lama, “Pria yg membaca surat itu adalah ayahku. Ibuku mengatakan demikian.”

 

Iljimae tersenyum pada putranya dan bertakata, “Kau sudah tumbuh besar. Aku minta maaf tidak dapat melihatmu tumbuh. Bisakah kau memaafkanku?”

 

 

Anak itu mengangguk dan Iljimae pun memeluknya. Young mendahului ibunya pulang, jadi Wol-hee masih di pasar. Iljimae dan Young bergandengan tangan menyambut kedatangan Wol-hee.

 

Wol-hee melihat Iljimae dan berhenti. Dia menangis melihat dua pria dalam hidupnya berdiri berdampingan. Dia berkata, “Kau sudah pulang.” Iljimae membalas, “Ya, aku sudah pulang.”

 

Malam itu Wol-hee terbangun dan mendapati dirinya sendiri. Dia menemukan Iljimae duduk sendiri di luar, terbangun karena mimpinya.

 

 

Iljimae: dunia itu tidak aku kenali. Bahkan di waktu malam, cahaya terang membutakan mata, dan rumah2 membentang sejauh mata memandang. Dunia itu dihuni oleh orang2 yg mengenakan baju berbeda dengan kita. Aku tidak tahu kapan, tapi aku merasa dunia itu belum tiba waktunya.
Wol-hee: seratus tahu dari sekarang? Dua ratus?
Iljimae: aku tidak yakin. Lebih dari itu? Meski begitu, aku menyamar dan berdiri di atas atap sebuah rumah yg tinggi, seolah-olah tugasku belum selesai.

Wol-hee: itu menyedihkan, jika kau masih melakukan pekerjaan seperti itu.
Iljimae: ya, menyedihkan.
Wol-hee: tapi tak usah khawatir, itu hanya mimpi. Dalam masa depan yg jauh, akan ada dunia yg tidak memerlukan seorang Iljimae.
Iljimae: menurutmu begitu?
Wol-hee: ya, aku yakin begitu.

 

Wol-hee menyuruh Iljimae tidur. Iljimae membaringkan kepalanya di pangkuan Wol-hee dan tertidur.

 

Saat garis air sungai Han berubah dari era Joseon ke Korea masa kini, sang narrator mengatakan kalau Kim Ja-jeom tidak mencapai ambisi terbesarnya dan dieksekusi.

 

 

Mimpi Iljimae terlihat, ketika versi modern dari dirinya berdiri di atas atap, di sebuah dunia yg tidak memerlukan pahlawan yg menyebut dirinya Iljimae.

 

PS: akhirnya selesai juga. Aku minta maaf sekali kepada semua pembaca karena harus begitu lama menunggu. Aku sedikit bimbang, ada tekanan dari banyak orang dan aku juga harus memilih. Aku bahkan sempat membuat blog baru, tapi nggak ada gunanya. Aku rasa, yg pertama lebih baik. Apapun itu yg terjadi. Makasi sudah setia menunggu..

 

Sinopsis The Return of Iljimae Episode 23

Iljimae begitu gugup menantikan pertemuan dengan ibunya. Iljimae memasuki rumah Baek-mae dan menemukannya sedang tertidur, sambil memeluk bunga plum emas. Iljimae berlutut dihadapan Baek-mae dan memanggilnya dengan lembut dan syukurlah, Baek-mae membuka matanya.

Bingung, Baek-mae bertanya kenapa Iljimae ada disini. Iljimae lalu mengeluarkan puisi yang Baek-mae tulis untuknya ketika dia masih bayi dan membacakan puisi itu untuknya. Mendengar kata2 yang tidak asing itu, Baek-mae menengadah dan sebuah kesadaran menamparnya… Baek-mae meminta bantuan untuk duduk ketika Iljimae berkata, “Ibu, aku Iljimae.” Baek-mae berkata kalau dia mendengar Iljimae telah ditangkap dan mati. Iljimae menjelaskan kalau Gu Ja-myung telah menyelamatkannya dan menyuruhnya kesini: “Aku benar2 putramu, Ibu.” Baek-mae akhirnya memercayainya dan mereka pun berpelukan.

Tapi Baek-mae jatuh dari pelukan itu. Dengan khawatir, Iljimae bertanya apa ibu sakit. Dengan penuh usaha, Baek-mae mendesah, “Bagaimana bisa ini terjadi? Seandainya saja aku tahu kalau kau masih hidup…” Kemarahan Iljimae muncul mendengar kata2 itu serta setelah memegang tangan ibunya yang dingin. Melihat berkeliling ruangan, Iljimae melihat amplop dengan bubuk dan ketakutan pun menyebar di wajah Iljimae. Baek-mae menjelaskan, “Aku akan mengikutimu.”

Iljimae protes dan Baek-mae mengakui kalau merupakan sebuah beban menjalani beberapa tahun belakangan ini: “Sekarang ibumu akan membuang semua bebannya dan beristirahat. Saatnya merasakan kelegaan.” Iljimae memohon agar ibunya bertahan. Baek-mae kehilangan kesadaran waktu dia selesai mengucapkan kata terakhirnya, “Anakku…” Iljimae mulai terisak, “Bagaimana ini bisa terjadi? Aku tidak bisa mengucapkan selamat tinggal seperti ini. Ketika kita baru saja bertemu…”

Beberapa saat kemudian, Iljimae bersiap-siap kembali ke Hanyang, hanya saja dia disambut oleh kemunculan Yang-po. Meski ada fakta kalau Yang-po sempat menawan Iljimae, tapi dia berkata kalau dia ada di pihak Iljimae dan kelihatannya dia dapat dipercaya. Ada suasana yang aneh dalam kemunculan Yang-po sebab sikapnya merupakan sebuah tantangan langsung bagi Iljimae terhadap semua harapannya, tapi Yang-po malah memiliki kode etik tertentu dan kode itu kelihatannya sangat terhormat.

Yang-po menjelaskan kalau Iljimae sama sekali tidak memberikan apapun bagi dirinya disini selain hukuman mati. Iljimae juga sebaiknya kembali ke rumah lamanya di Yodong dan menikahi Moran. Iljimae sama sekali tidak punya keinginan itu dan mengatakan pada Yang-po untuk kembali. Yang-po mengingatkan Iljimae kalau dia tidak aman di Joseon lalu mengatakan dimana Iljimae dapat bertemu dengannya kalau Iljimae berubah pikiran.

Merasa sangat putus asa dengan pilihan yang terbatas, Iljimae menemui Yeol-gong dan mendapatkan kesimpulan, “Aku tidak punya cara lain. Aku harus bertemu dengan raja dan memegang kepala Kim Ja-jeom.” Reaksi Yeol-gong begitu kering, “Apa kau ingin raja meninggal karena terkejut?” Tidak, sebenarnya Yeol-gong sangat menentang pembunuhan. Dia tidak punya solusi tapi menyarankan agar Tuan Choi mungkin punya jalan keluar dengan kekuasaan yang dia miliki.

Tuan Choi bertanya bagaimana pendapat Iljimae kalau dia pergi ke Cina. Perang sekarang sudah dekat dan mereka harus bersiap-siap untuk kenyataan yang akan datang. Iljimae bertanya apakah ini artinya negara Joseon sudah tidak punya harapan lagi dan Choi menjawab, “Kita tidak bisa menang tapi kita bisa menjauhi kekalahan.” Ada beberapa orang yang bekerja secara rahasia untuk menemukan strategi perang Cina. Mereka ada di Cina dan Iljimae dapat menjadi bantuan besar bagi mereka.

Akan tetapi, Iljimae enggan, merasa begitu sakit. Tuan Choi percaya kalau Iljimae bisa melakukan yang terbaik di Cina tapi Iljimae bertanya apa hal itu akan membawa perbedaan. Iljimae berkata pada Yeol-gong, “Semua orang yang peduli padaku di negeri ini sudah pergi. Dal-yi, guru, Gu Ja-myung dan ibuku. Aku adalah orang yang tidak bisa menjaga nyawa orang2 yang dekat denganku. Seberapa baik aku akan jadinya? Apakah semuanya akan menjadi baik jika aku bersama Wol-hee dan membuatnya bahagia?” Yeol-gong meminta Iljimae memikirkan kebaikan yang lebih besar, tapi Iljimae tahu kalau setidaknya dia mampu membuat Wol-hee bahagia.

Yeol-gong: Jika kau mengandaikan sebuah gunung, apa kau suka atau tidak, kau adalah lereng gunung. Takdirmu adalah menjadi yang paling pertama yang merasakan hujan dan angin. Wol-hee adalah sebatang pohon. Tapi jika kau menanam pohon di lereng gunung, maka pohon itu tidak akan tumbuh. Dan badai tidak akan menidurkanmu.

Ini sangat sulit bagi Iljimae… tapi nasehat itu meyakinkannya. Keol-chi sangat marah para keputusan Iljimae. Keol-chi memaki Iljimae atas sikap kejam Iljimae kepada Wol-hee: “Kau seharusnya tidak melakukan ini. Aku menyalamatkanmu bukan untuk membiarkanmu melakukan ini. Bukankah kau anakku, ketika aku mengambilmu dari air itu dan memelukmu? Kau adalah anak yang diberikan surga padaku. Begitulah aku membesarkanmu, tapi bukan begini seseorang seharusnya memperlakukan orang lain.

Kata2 itu menyakitkan, tapi Iljimae tetap yakin pada tugasnya. Keol-chi menyampaikan percakapannya pada Wol-hee yang segera berlari menemui Iljimae. Wol-hee masih lemah dan bahkan sulit bangun dari tempat tidurnya. Satu hal yang tidak perlu ditakutkan Iljimae yaitu menemukan jalan ke Cina, sebab hal itu sudah terselesaikan: Yang-po tidak berharap Iljimae berubah pikiran, tapi dia senang mendengar kalau Iljimae mau ikut. Yang-po setuju pada permintaan Iljimae agar segera berangkat dan menghentikan kekhawatiran Wang Hweng-bo kalau Iljimae bisa saja menipu mereka.

Keberangkatan mereka diganggu oleh kedatangan Wol-hee, yang datang dengan menunggang kuda. Wang Hweng-bo mengatakan kalau kemunculan seorang kekasih bisa saja mengubah pikiran Iljimae, tapi Yang-po dengan bijak mengatakan kalau mereka sebaiknya menunggu. Wol-hee jatuh ke tanah tapi Iljimae sama sekali tidak menolongnya. Wol-hee memohon: “Bawa aku juga. Yang harus kau lakukan adalah membawaku, entah itu ke Cina atau ke ujung dunia, atau bahkan ke dunia lain.” Iljimae menyuruh Wol-hee kembali. Wol-hee menjawab, “Tidak akan. Jika aku akan kembali, aku tidak akan mengikutimu dari awal. Aku juga akan pergi.”

Iljimae tidak membiarkan emosi mengubah pikirannya dan berkata, “Aku sudah selesai dengan semua yang bisa aku lakukan di negeri ini. Jangan bersikap seperti itu dan kembalilah.” Penolakan Iljimae begitu tenang hingga Yang-po dan Wang Hweng-bo pun merasa kasihan pada Wol-hee. Ketiga orang ini pun berangkan ke Yodong lalu berpisah setelah mereka tiba disana. Tujuan pertama Iljimae adalah kuburan ibu angkatnya. Disinilah Moran, mantan kekasih Iljimae, akhirnya berrtemu lagi dengan Iljimae ketika Iljimae memberi hormat pada orang tua angkatnya.

Iljimae mengatakan pada Moran kalau dia sangat berdosa pada kedua orang tuanya. Iljimae bahkan tidak tahu apa yang terjadi pada mereka dan bagaimana ibunya meninggal. Moran mengatakan semuanya. Ibu angkat Iljimae meninggal dunia setahun setelah Iljimae pergi ke Joseon. Ayah angkatnya lalu ikut ajaran katolik dan suatu hari dia pergi begitu saja, memutuskan semua tali komunikasi. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi padanya.

Moran senang Iljimae akhirnya kembali. Dia tahu semua tentang Iljimae sebab Yang-po selalu mengiriminya surat. Bahkan luka bakar yang dialami Iljimae juga dilaporkan. Ketika Iljimae mulai bicara, Moran mulai merasakan kalau Iljimae akan mengatakan hal2 yang membuat harapannya hancur. Jadi Moran menyela, “Kau tidak harus mengatakan apapun. Sudah cukup kau kembali lagi kesini.” Moran memegang tangan Iljimae dan bersumpah, “Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi.” Moran mencari Yang-po memohon untuk menghentikan Iljimae agar jangan pergi, tapi Yang-po menolak – pekerjaannya sudah selesai.

Dua orang lagi ternyata juga mengikuti Iljimae ke Cina: biksu Dok-bo dan Soo-ryun. Tiga wanita bersaudara bernama Jin, Sun dan Mi melakukan pertunjukkan. Iljimae duduk di sebuah meja dan mengeluarkan kipasnya, yang merupakan tanda bagi ketiganya. Salah satu dari tiga wanita itu mendekati Iljimae dan mengatakan kalimat misterius dan Iljimae menjawab dengan tenang. Setelah percakapan ini, ketiga wanita itu menuntun Iljimae ke sebuah ruangan dimana dia dikenalkan pada pemimpinnya, seorang pria bernama Yi-myung, yang merupakan rekan Iljimae di Cina.

Ye-myung dan ketiga wanita itu bekerja secara rahasia menemukan strategi pasukan Qing untuk menyerang Joseon. Rencana itu sudah ditulis dan mereka tahu dimana rencana itu diletakkan tapi mereka tidak bisa masuk ke sana sebab rencana itu diletakkan di istana Qing. Kembali ke Hanyang, dimana kondisi Wol-hee semakin lemah. Karena inilah, Yeol-gong akhirnya bertindak dan menunjukkan sesuatu pada Wol-hee. Iljimae ternyata menyuruh Yeol-gong menjaga baju pengantin yang dulu dia beli di pasar untuk Wol-hee. Baju itu adalah baju yang tidak jadi dibeli Wol-hee.

Yeol-gong menjelaskan, “Iljimae tidak menyuruhku untuk menyerahkan baju ini padamu sekarang, tapi menjaganya sampai dia kembali. Tapi melihatmu seperti ini, aku tidak menyimpan ini terus menerus.” Iljimae sebenarnya tidak ingin memberikan baju itu langsung pada Wol-hee, untuk jaga2 kalau dia tidak kembali. Hal ini membuat semua orang tenang. Tidak hanya Wol-hee yang senang mendengar kalau Iljimae berencana kembali. Mereka tidak lagi kecewa pada Iljimae dan meminta Wol-hee untuk berbahagia sebab dia sudah tahu bagaimana perasaan Iljimae.

Wang Hweng-bo berencana kembali menjalani hidupnya yang dulu, tapi tidak dapat menghubungi pemimpinnya yang dulu. Saat dia pergi ke markasnya yang lama, ternyata markasnya itu sudah kosong. Dok-bo mengambil kesempatan dan menawarinya sebuah posisi – bagaimana kalau Hweng-bo bekerja bagi kaisar? Dan apa yang Hweng-bo tahu soal Iljimae? Karena itulah, Wang kembali mengikuti Iljimae berkeliling kota, dan melaporkan kalau Iljimae melakukan pengintaian di sekitar istana. Dia pasti punya rencana.

Sementara itu, trio Jin-Sun-Mi bertemu dengan petugas kekaisaran Qing. Meski mereka bekerja dengan Yi-kyung untuk Joseon, sekarang mereka menawarkan info kalau Iljimae berkeliaran di istana dan mungkin berusaha mengacau. Malam itu, Iljimae masuk ke dalam istana, melewati Wang Hweng-bo, yang mengintai Iljimae muncul. Untuk itulah, ketika petugas Qing meminta anak buahnya menangkap pengintai, mereka malah menangkap Wang Hweng-bo yang mereka yakini sebagai Iljimae.

Iljimae bergerak tanpa terlihat dan menggunakan alat membuat lubang melalui langit2 di ruang kaisar. Iljimae masuk ke ruangan itu, mengikuti detail yang diberikan Yi-myung dimana pada saat seperti ini para dayang dan kaisar tidak muncul. Seperti info yang diberikan, Iljimae menemukan rencana penyerangan di laci di dekat pedang kerajaan. Iljimae harus melihat dokumen itu dan menghafal isinya, tapi tidak mengambil dokumen itu – jika Qing tahu maka mereka akan mengubah rencana.

Setelah memeriksa dokumen itu, Iljimae melihat pedang kaisar, yang sudah diwariskan turun temurun. Ketika kaisar kembali ke ruangannya, dia menyadari kalau pedangnya menghilang. Pada tempatnya, ada sebuah bunga plum emas. Sang narrator mengatakan kalau cara ini sama seperti ketika Iljimae menempelkan pisau ke bantal Kim Ja-jeom sebagai sebuah peringatan.

Wang Hweng-bo ditangkap petugas istana, dan dianggap sebagai Iljimae sesuai dengan info yang didapat. Para petugas itu tidak percaya pengakuan Wang kalau mereka menangkap orang yang salah. Dan Wang Hweng-bo pun disiksa agar memberikan informasi. Iljimae memberitahukan rencana tentara Qing pada Yi-myung: mereka pertama-tama berencana menyerang dari utara, sedangkan sisa tentara yang lainnya menyerang Hanyang langsung. Mereka hanya perlu 10 hari mencapai Hanyang dari perbatasan, yang jauh lebih cepat dari perkiraan Joseon sebelumnya.

Ini info penting dan Yi-kyung menulis rencana musuh di selembar kertas. Iljimae akan mengantarkan surat itu kepada Joseon tepat waktu untuk mempersiapkan pertahanan. Ketika Iljimae bersiap-siap melakukan perjalanan pulang, Iljimae mendapatkan sebuah kunjungan: Soo-ryun. Iljimae tersenyum, mengira kalau Soo-ryun sepihak, tapi ekspresi wanita itu muram. Tanpa peringatan Soo-ryun kemudian menusuk Iljimae dan menuduh Iljimae telah membunuh Gu Ja-myung.

Sambil memegang perutnya, Iljimae ambruk ke lantai. Dia mengatakan kalau Soo-ryun salah – dia tidak akan pernah membunuh Gu. Tapi dia tidak punya waktu membela diri, hal yang paling serius saat ini adalah menyerahkan dokumen itu. Iljimae menyerahkannya pada Soo-ryun lalu Iljimae pingsan.

Soo-ryun tidak mengerti isi dokumen itu tapi mengambilnya juga, tepat ketika para penjahat menyerangnya. Dia melawan para penjahat itu, berlari ke luar ruangan dan berusaha kabur dari mereka dijalanan. Ketika Soo-ryun berpikir kalau dia aman, dia dipojokkan oleh Yi-myung. Dok-bo sampai di kamar Iljimae untuk memeriksa kerusakan – dia telah mengirim anak buahnya mengejar Iljimae dan beberapa diantara mereka telah dikalahkan Soo-ryun.

Iljimae masih berjuang untuk hidup tapi Yi-myung memarahi Soo-ryun karena sikap bodohnya itu. Yi-myung menceritakan tentang kematian Gu dimana Iljimae bercerita kalau Gu rela menukar hidupnya dengan Iljimae. Soo-ryun menyangkap tapi Yi-myung lalu meminta Soo-ryun membaca dokumen itu. Soo-ryun pun akhirnya mengerti. Yi-myung berkata dengan kasar, “Karena sikapmu ini, nasib negara telah dilempar ke keadaan yang parah. Kau membuat kematian Gu tidak berarti. Dia mengajarkan Iljimae cara menolong orang lain, tapi bagaimana bisa kau tidak mengerti?”

Jin Sun Min menawarkan diri membawa dokumen itu tapi Yi-myung menolak dengan alasan situasi sudah panas dan jalan sudah ditutup. Jadi Soo-ryun menawarkan diri melakukan tugas itu, dia bersumpah akan mengantar dokumen itu ke orang yang tepat. Jalanan menjadi begitu sulit bagi Soo-ryun. Dia bahkan harus bertarung dengan pasukan Qing di dekat perbatasan. Soo-ryun tetap berusaha kabur tapi tentara Qing terlalu banyak dan mereka sudah semakin dekat.

Ketika Soo-ryun dipanah di tangannya, wanita ini tetap sanggup meneruskan perjalanannya, dengan menarik anak panah itu. Dengan tentara yang mendekat, Soo-ryun memandangi sungai di bawahnya dan bergumam, “Aku harus mengantarkan surat itu.” Soo-ryun melompat ke dalam air dan para tentara mulai memanah ke arah sungai. Soo-ryun masih hidup tapi mungkin karena anak panah di punggungnya, Soo-ryun akhirnya meninggal juga.

Berikutnya, dokumen itu telah dibawa oleh seorang tentara Joseon ke seorang panglima di perkemahan tentara. Panglima itu membaca isi dokumen lalu bertindak untuk melanjutkan informasi di dokumen itu. Tapi detik berikutnya, dokumen itu dibawa ke panglima yang lain, yang mungkin saja bertanggung jawab atas masalah itu. Panglima itu membaca dokumennya. Tapi Kim Ja-jeom lah yang membakar surat itu.

Sinopsis The Return of Iljimae Episode 22

Wol-hee dan Iljimae dipojokkan dalam usaha mereka untuk melarikan diri. Tapi ninja dengan kostum hitam2, datang menyelamatkan Wol-hee – dan bayangan Iljimae yang siap2 melempar shuriken membuat para pria berpedang itu lari tunggang langgang. Hanya saja, orang itu adalah Cha-doljimae!

Sedangkan, Iljimae yang asli berhadapan dengan Park Bi-su. Park dikeliling oleh anak buah Kim Ja-jeom tapi Park menyatakan kalau pertempuran itu adalah pertempuran satu lawan satu. Park Bi-su menghunus pedangnya, melemparnya ke dinding, dan membuat kedua orang itu, Park dan Iljimae, melakukan perang tanpa senjata. Mereka saling serang, tapi kemudian saling meraih pedang masing2 untuk bertempur lagi.

Pertarungan ini seimbang sebab kedua saling serang dengan seimbang. Mereka saling serang dengan pedang tapi ada saat dimana mereka berhenti untuk memastikan siapakah yang terluka. Lalu sesuatu terjatuh dari bagian perut Iljimae – benda itu adalah sebuah figura yang dulu diberikan oleh Miyamoto yang dimaksudkan untuk memberikan Iljimae perlindungan.

Park Bi-su memandangi tangannya dan melihat ada darah segar mengalir melalui pedangnya – dia telah ditebas oleh pedang Iljimae. Iljimae berkata kalau dia sangat ingin membunuh Park Bi-su tapi dia sudah bersumpah tidak akan membunuh lagi, lalu memperingatkan Park agar tidak ikut campur lagi. Gugup, beberapa pria yang lain melakukan persiapan untuk melawan Iljimae saat dia beranjak pergi – sampai suara drum menghentikan langkah Iljimae.

Anak buah Kim Ja-jeom berbaris memukul drum itu, yang memberikan efek yang diingkan pada Iljimae. Iljimae berjuang untuk mempertahankan agar dirinya tetap tenang tapi dia menjatuhkan pedangnya dan jatuh berlutut. Anak buah Kim mengikat Iljimae dan menyeretnya pergi. Akan tetapi, Gu Ja-myung dan anak buahnya juga tiba di TKP. Anak buah Kim yang mengenakan topi bamboo mencoba kabur dan dipanah oleh para polisi. Iljimae akhirnya bangun dari pingsannya.

Gu Ja-myung memerintahkan anak buahnya untuk menangkap orang2 itu sebab terlibat dalam peledakan illegal. Tapi sayang, Kim Ja-jeom datang dengan lugunya dan menambah kacau situasi di tempat itu. Kim mengatakan kalau dia berada di sekitar daerah itu dan melihat Iljimae bertarung dengan para pria bertopi bamboo itu, jadi secara naluriah dia memerintahkan anak buahnya menangkap Iljimae, karena Iljimae merupakan buronan polisi. Gu tahu kalau ini hanyalah bualan belaka. Tapi dia juga sadar kalau dia sefang berhadapan dengan seorang pria yang berkuasa. Jadi Gu Ja-myung berusaha untuk bersikap tenang.

Gu Ja-myung dan Kim Ja-jeom berdebat tentang bagaimana Iljimar harus dihukum. Gu Ja-myung ingin membawa Iljimae ke kantor polisi, tapi Kim Ja-jeom malah ingin membawa Iljimae ke petugas pengawal istana. Tapi untuk kali ini Gu menang dan membuktikan kalau merupakan tanggung jawabnya menangkap Iljimae – Iljimae sudah menyerah pada mereka. Gu Ja-myung mengeluarkan surat yang ditulis oleh Iljimae. Surat itulah yang mengarahkan Gu menangkap Iljimae dan pria lainnya dan mencatat semua perampokan yang pernah dilakukan Iljimae di masa silam. Lebih jauh, Iljimae memberikan info kepada Gu Ja-myung lokasi dimana dia ditangkap. Untuk itulah, merupakan kewenangan polisi menangkap Iljimae.

Iljimae, yang sejauh ini memandangi Kim Ja-jeom dengan amarah akhirnya berbicara: “Meski aku tertangkap, aku tidak akan tertangkap oleh tanganmu.” Gu Ja-myung melaporkan pada atasannya, mendapatkan petunjuk bagaimana menangani Iljimae. Surat yang menjelaskan jejak kejahatan Iljimae, tapi tidak ada bukti nyata yang membuktikan kalau Iljimae berhubungan dengan perampokan itu. Lebih jauh, korbannya adalah para bangsawan korup yang tidak akan mengakui kalau mereka dirampok.

Gu Ja-myung menyebutkan kalau ketika seorang penjahat mengakui dan menyerahkan dirinya, dia diberikan hukuman yang lebih ringan. Contohnya, pengasingan ketimbang hukuman mati. Lebih jauh, Iljimae membantu pemerintah menghentikan aktivitas para kelompok gang di masa lalu, membuatnya memperoleh nilai baik karena melakukan perbuatan terpuji. Sang atasan setuju dengan saran Gu Ja-myung melakukan pengasingan, tapi dia juga tidak yakin apakah peraturan undang2 akan memungkinkan hal itu terjadi.

Semua teman-teman Iljimae bersedih atas kabar tertangkapnya Iljimae – Keol-chi menangis, sedangkan Wol-hee merasa bersalah sebab dia yakin Iljimae tertangkap adalah karena dirinya. Bae Sun-dal berpikir kalau Iljimae melakukan hal yang cerdas dan meminta Wol-hee melihat sisi baiknya – jika Iljimae ditangkap Kim Ja-jeom, Iljimae pasti sudah dibunuh. Wol-hee mengatakan kalau dia sudah tidak punya harapan lagi, sambil menangis tersedu-sedu. Wol-hee melanjutkan, “Hukum di negeri ini menguntungkan mereka yang kaya! Hukum di negeri ini tidak memberikan keuntungan bagi orang2 biasa! Harapan?!”

Gu Ja-myung menyelidiki kasus itu dengan optimis yang mana Iljimae sama sekali tidak punya optimisme itu – Gu Ja-myung berharap meski Iljimae diasingkan, dia akan bisa bertemu dengan ibunya, tapi Iljimae sudah begitu yakin kalau dirinya akan dihukum mati. Ketidakyakinan Iljimae sepertinya lebih nyata dari keyakinan Gu Ja-myung, dimana hal ini terbukti dengan perintah raja untuk menyerahkan penyelidikan kasus Iljimae kepada polisi kerajaan. Tidak hanya itu, orang yang menginterogasi Iljimae nantinya adalah Kim Ja-jeom.

Kim Ja-jeom menuduh Iljimae memiliki niat makar, yang merupakan tuduhan tidak wajar sehingga Iljimae harus tertawa setelah mendengarkannya. Tapi Kim Ja-jeom lebih kuat dalam posisinya kali ini, dan dia punya kemampuan menambahkan tuduhan palsu kepada Iljimae.

Pertama-tama, Kim Ja-jeom mengancam akan menyeret Tuan Choi jika Iljimae tidak mengakui pengkhianatannya. Jika melakukan itu maka pengembangan senjata yang dilakukan Tuan Choi akan terungkap. Tentu saja, Tuan Choi bekerja atas perintah raja tapi perintah itu adalah perintah rahasia, jadi sudah tentu raja tidak akan mengakuinya, yang artinya Choi pasti dihukum mati. Kim Ja-jeom memberikan pilihan – iljimae bertanggung jawa atas semuanya sendiri atau menyeret semua orang bersamanya. Yang bisa Iljimae lakukan hanyalah marah, memperingatkan Kim Ja-jeom kalau Surga akan menghukumnya atas semua dosa2nya. Kim jelas tidak takut pada surga.

Jadi pada akhirnya Iljimae diberikan hukuman mati. Gu Ja-myung ketakutan – tidak masuk akal menuduh Iljimae melakukan maker; tidak ada satu bukti pun yang mengarah kesana. Tapi karena Iljimae mengaku, fakta dan bukti itu tidak lagi jadi masalah. Eksekusi hukuman mati itu bahkan tidak akan ditunda lagi: besok. Gu Ja-myung sangat panik – tidak hanya ini artinya dia akan gagal menyelamatkan Iljimae tapi dia juga akan melanggar janjinya mempersatukan ibu dan anak. Gu Ja-myung sama sekali tidak punya waktu.

Setelah mempertimbangkan dilemma yang dialaminya, Gu Ja-myung memutuskan kalau dia tidak bisa mengatakan pada Baek-mae kalau dia tidak bisa menepati janjinya, atau bahwa putranya telah mati. Gu Ja-myung bersumpah: “Aku akan memenuhi janjiku padamu.”

Ketika Gu Ja-myung menyelesaikan rencana akhirnya, Gu menulis surat dan menutupnya. Dia juga menyuruh Soo-ryun pulang dan mengunjungi ruang tahanan Iljimae. Gu Ja-myung sebenarnya tidak diijinkan melihat Iljimae tapi Gu memperdengarkan suaranya yang paling tegas dan mengatakan kalau kepolisian masih punya tahap akhir penyelidikan sebelum dilakukan hukuman mati. Dia memerintahkan petugas yang lain keluar agar dia mendapatkan privasi.

Di dalam tahanan, Iljimae diam tanpa harapan untuk bisa kabur. Tapi ketika Gu Ja-myung menjelaskan dimana Iljimae bisa menemui ibunya, perkataan2 itu membuat Iljimae seolah-olah terbangun – bagaimana Baek-mae dulu datang ke Hanyang untuk memasakkan makan malam buat Gu Ja-myung yang dia makan bersama Iljimae, dan bagaimana Gu berpikir kalau Baek-mae sudah pulang ke rumah, tapi pada kenyataannya dia malah tinggal di rumah Gisaeng.

Iljimae akhirnya menyadari siapa ibunya ketika Gu Ja-myung menjelaskan ibunya tinggal di lading ginseng. Iljimae tersadar, “Ibuku ada di depan mataku dan aku tidak mengenalinya. Ibu yang begitu aku rindukan.” Iljimae meminta Gu agar tidak memberitahukan ibunya kalau dia meninggal tapi hanya mengatakan kalau dia pergi jauh. Tapi Gu Ja-myung membuat Iljimae bingung dengan mengatakan kalau dia harus menemui Baek-mae lalu Gu melepaskan borgol Iljimae. Gu Ja-myung melepaskan lencana polisinya dan mengatakan baju tahanan, dan memerintahkan Iljimae untuk keluar dari dalam ruang tahanan.

Iljimae keberatan – dia tidak bisa menukar hidupnya dengan Gu Ja-myung. Tapi Gu menjawab dengan tenang, “Aku sudah berjanji pada Baek-mae, bahwa tidak peduli apapun yang terjadi, aku akan menyelamatkan putranya.” Pekerjaannya sebagai polisi juga merupakan sebuah janji, “Tapi janjiku pada Baek-mae juga sebuah janji. Aku tidak akan berjanji kalau aku tidak dapat memenuhinya.”

Demikianlah, Iljimae mengenakan seragam Gu Ja-myung lalu kabur. Di dalam ruang tahanan, Gu mengeluarkan cincin kawin yang dia beli untuk dirinya dan Baek-mae lalu mendesah bahwa cincin kawin milik Baek-mae tidak akan pernah sampai pada pemiliknya. Pada saat inilah kita tahu apa isi surat yang Gu Ja-myung tulis yang ditujukan untuk kepala polisi – sebuah surat bunuh diri. Di dalam surat itu, Gu Ja-myung meminta maaf karena sikapnya tapi juga menjelaskan bahwa dia punya alasan yang bagus menyelamatkan Iljimae. Gu Ja-myung bunuh diri di dalam penjara.

Setelah menerima surat dari Gu Ja-myung, kepala polisi menyimpulkan kalau dia harus merahasiakan alasan kematian Gu yang sebenarnya. Bakal menjadi hal gila mengakui bahwa Gu Ja-myung membebaskan seorang penjahat. Sebaliknya, mereka akan mengarang cerita kalau Iljimae membunuh Gu Ja-myung dan melarikan diri. Ketika berita kaburnya Iljimae tersebar, Kim Ja-jeom menjadi was2. Dia yakin kalau dirinya akan menjadi target pertama Iljimae dan tidak ada Park Bi-su yang melindunginya lagi. Kim Ja-jeom lalu memanggil peramal untuk mengetahui takdirnya.

Berita yang diramalkan lebih baik dari yang dikira, sebab sang peramal mengatakan kalau Kim Ja-jeom akan naik ke posisi perdana menteri. Senang dengan hasil ramalan itu, Kim tidak memaksa lebih jauh lagi waktu sang peramal menolak menjelaskan apalagi yang akan terjadi dan bahkan dia menerima permintaan sang peramal agar berhenti memanggilnya sebab dia akan pensiun dan tinggal di gunung.

Akan tetapi, ketika sang peramal pulang ke rumahnya, dia segera mengemasi barang2nya dan mengatakan pada pria yang tinggal bersamanya kalau mereka harus segera pergi: “Mereka yang ada di dekat Tuan Kim akan mati semuanya.” Sang peramal tidak bisa mengatakan pada Kim Ja-jeom bagian lanjutan dari ramalan – bahwa setelah Kim menjadi perdana menteri, dia tidak akan diingat. Dengan meninggalnya Gu Ja-myung, petugas polisi yang lain dipaksa menutupi cerita yang sebenarnya dan diperintahkan menangkap Iljimae. Soo-ryun sangat marah kehilangan bos yang dicintainya dan bersumpah akan mengejar Iljimae.

Yang-po dan Wang Hweng-bo juga kembali memutuskan akan menangkap Iljimae sebab akan sangat memalukan kembali ke Cina dengan tangan kosong. Tidak sadar akan perkembangan yang terbaru, Baek-mae tetap mencari berita tentang Iljimae dari para pengelana yang mengatakan padanya kalau Iljimae berhasil ditangkap oleh polisi. Khawatir atas keselamatan Iljimae, Baek-mae memutuskan untuk keluar mencari info lanjutannya dan bertanya kepada para pengelana dari Hanyang tentang berita terbaru Iljimae.

Akan tetapi, para pengelana ini telah meninggalkan kota sebelum hukuman diumumkan – hari sebelum kaburnya Iljimae – jadi mereka yakin kalau Iljimae sudah mati. Baek-mae hancur. Selama bertahun-tahun, dia hidup dengan satu harapan kalau dia akan bersatu dengan Iljimae, yang sekarang sudah pergi. Dan ketika Iljimae sedang menuju ke rumah ibunya, Baek-mae menulis sebuah surat yang ditujukan untuk Gu Ja-myung, tanpa tahu kalau Gu Ja-myung sudah meninggal:

Baek-mae: sebelum aku bertemu denganmu, hidupku hanyalah nama lain dari ketidakbahagiaan. Memikirkan hal itu, rahasanya benar2 kehidupan yang kosong. Kau mengatakan padaku tentang anakku dan memintaku hidup bersama denganmu. Kau bilang kau ingin bersama, bahwa orang2 seperti kita bisa hidup bahagia. Apa hari itu bisa datang? Apa itu nyata? Aku tidak percaya. Tapi sedikit demi sedikit, aku mulai bertanya apa kebahagiaan jadinya nanti dan apakah aku juga bisa merasakannya. Aku tersenyum ketika memikirkan itu dan menyadarai kalau itu adalah kebahagiaan. Aku bahagia. Selagi aku merindukan kebahagiaan, dalam beberapa hal aku bahagia. Terima kasih sudah menghargaiku ketimbang yang aku lakukan sendiri… Selamat tinggal yang aku rindukan.

Iljimae terus melangkahkan kakinya, ratusan bunga plum bermekaran yang menandakan kalau dia sudah semakin dekat dengan tempat tujuan. Ketika Iljimae mendekati rumah Baek-mae, dia sudah selesai menulis surat dan mengambil sebuah kantong. Di dalam kantong itu terdapat satu amplop bubuk.

Iljimae sudah dekat tapi berhenti di pasar untuk membeli hadiah, sebuah sikat kaligrafi. Dia tidak tahu kalau waktunya sudah hamper habis dimana pada saat yang bersamaan, Baek-mae menaburkan bubuk itu ke dalam air, dia percaya kalau putranya sudah mati… akhirnya, Iljimae tiba di luar rumah Baek-mae. Iljimae mendekat dengan perlahan.

Sinopsis The Return of Iljimae Episode 21

Sung-kae menarik Iljimae dan berhenti untuk memasak makanan. Iljimae bangun dan berusaha mengingat bagaimana dia sampai disana, ingat kalau dia dibius. Dia bangkit dari kelumpuhan temporernya, berjalan pelan ke tempat Sung-kae, yang dia pandang dengan curiga. Iljimae bertanya pada Sung-kae apa maksud pria itu sebenarnya. Iljimae masih lemah, tapi Sung-kae takut pada kemarahannya dan mengatakan kalau Iljimae salah sangka. Dengan panik, Sung-kae megeluarkan senjatanya, yang Iljimae tangkis dengan mudah. Sung-kae kehilangan keseimbangan dan malah terjatuh. Sung-kae mendarat di atas senjatanya sendiri dan berteriak kalau Iljimae salah sangka, dan Sung-kae mati akibat tusukan senjatanya sendiri (ironis banget!).

Iljimae meneruskan perjalanan, tapi dia begitu lemah hingga tidak sanggup lagi meneruskan perjalanan. Dia pingsan di hutan, kelelahan. Ketika dia terbangun, dia berada dalam perawatan Baek-mae, yang menemukan Iljimae di lading ginseng dan membawanya pulang. Saat Baek-mae mengoleskan obat ke wajah Iljimae, Baek-mae bertanya bagaimana Iljimae mendapatkan luka2nya itu. Karena Baek-mae mengenal Iljimae sebagai pria cabul di penginapan beberapa waktu sebelumnya itu, Iljimae mengatakan padanya kalau dia mendapatkan masalah karena mengejar wanita.

Baek-mae memarahi Iljimae dengan mangatakan kalau orang tuanya tahu masalah yang menimpanya, mereka pasti akan sangat khawatir. Baek-mae mengatakan ini dengan rasa prihatin, yang membuat Iljimae tersentuh – meski di Hanyang Baek-mae memandang Iljimae dengan jijik, jadi kenapa Baek-mae mau merawatnya? Baek-mae mengingatkan Iljimae pada perkataannya sendiri kalau dia bukan pria jahat, dan bahwa ada beberapa hal di dunia ini yang tidak dapat dijelaskan dengan kata2. Ekspresi Iljimae terlihat terluka, seolah-olah Baek-mae telah menilainya salah.

Iljimae menanyakan soal anak Baek-mae dan Baek-mae berhenti sejenak sebelum menjawab, “Aku punya seorang putra.” Dia tidak yakin putranya itu berada dimana, meski dilaporkan dia berada di Hanyang. Iljimae menanyakan beberapa pertanyaan, tapi Baek-mae malah mengalihkan pembicaraan itu ke hal lain. Baek-mae membawakan Iljimae makanan, yang rasanya membuat Iljimae mematung dan mengingat sesuatu. Baek-mae bertanya apakah makanan itu tidak enak tapi Iljimae menjelaskan, “Aku pernah memakan makanan seenak ini sekali saja dulu. Aku memikirkan itu. Aku ingin makan seperti ini setiap hari.”

Baek-mae senang dengan pujian itu, meski begitu dia menjawab, “Makanan ini tidak mungkin seenak makanan yang disiapkan ibumu di rumah.” Berikutnya, Baek-mae mengemasi pakaian Iljimae, tapi sayangnya Baek-mae melewatkan surat yang dia tulis untuknya ketika masih anak2. Sementara itu, di tengah hutan Yang-po dan Wang Hweng-bo berbaring akibat luka mereka yang parah. Yang-po mendekati nyala api dan membakar lukanya dengan bara api!

Biksu Bok-do sedang berjalan ketika kedua orang itu mulai pulih dan membuat penawaran agar dia ikut ke Cina bersama mereka. Yang-po menjawab kalau mereka sedang tidak dalam kondisi yang baik untuk melakukan perjalanan, tapi biksu itu mengatakan kalau dia bisa sangat membantu. Biksu itu menyimpan alas an kenapa mau membantu mereka, tapi tentu saja ini ada hubungannya dengan uang sebab kita sudah tahu bagaimana persekongkolannya dengan Kim Ja-jeom.

Gu dengan segera mengetahui ledakan di gunung, tapi informasi itu telah ditutupi oleh petugas yang lebih tinggi. Gu menebak kalau itu merupakan aktivitas rahasia Raja yang dilaksanakan oleh Tuan Choi. Ledakan itu juga berarti bahwa rencana Choi gagal, dan apapun rencana itu, pasti sangat penting bagi kemakmuran negeri ini. Kesenanangan Kim Ja-jeom akan kekalahan Iljimae berubah menjadi ketakutan saat dia tahu kalau Iljimae menghilang. Park Bi-su melaporkan kalau Iljimae sudah kalah sebelum ledakan itu, meski bukan karena luka yang dia dapatkan. Iljimae juga pernah seperti itu sebelumnya saat ingin menyelamatkan Wol-hee. Mereka membicarakan penjelasan hal tersebut dan bertanya-tanya apakah hal itu berhubungan dengan suara drum.

Kim memanggil lagi dukun wanitanya untuk mendapatkan info mengenai kondisi Iljimae. Wanita itu mendengar suara drum dan bayangan Dal-yi lewat, mengikat reaksi Iljimae ke suara drum dengan traumanya terhadap kehilangan pacarnya. Karena Kim merupakan orang yang sangat jahat, maka dia mencoba mencari tahu bagaimana dia bisa menggunakan ini untuk keuntungannya, dan menyadari kalau dia menangkap Wol-hee, Iljimae pasti akan datang. Kim meminta info bagaimana menemukan pacar Iljimae, tapi dukun wanita itu terlihat enggan, mengisyaratkan kalau dia ingin sesuatu dari Kim Ja-jeom. Kim tertawa setelah mendengar satu permintaan ketika dukun wanita itu mengakui kalau dia perlu seorang pria. Benar saja, Kim memanjakan dukun itu dengan memberikan salah satu anak buahnya!

Wol-hee dan Keol-chi mengendap-endap kembali ke persembunyian yang hancur itu untuk menunggu kepulangan Iljimae. Keol-chi tidak nyaman tinggal disana dan ingin pergi demi kemanan mereka, tapi Wol-hee telah berjanji pada Iljimae kalau tidak peduli pada apapun, dia akan menunggu Iljimae disana. Tidak sanggup melihat Wol-hee begitu sedih, Keol-chi menasehati Wol-hee untuk mencari pria lain dan menikah. Iljimae bagaikan putranya sendiri dan Wol-hee adalah putrinya, tapi lebih baik bagi Wol-hee untuk melanjutkan hidupnya saja.

Wol-hee menjawab kalau dia tidak akan menikah: “Jika bukan dengan Iljimae, aku tidak akan menikah. Meski aku berubah menjadi batu karena menunggu, aku akan menunggunya disini. Sebab dia bilang dia akan kembali. Iljimae pasti akan segera kembali.” Baek-mae menyarankan agar Iljimae tinggal di rumahnya untuk beberapa hari lagi sampai dia benar2 sembuh, tapi Iljimae harus segera pergi, sebab ada seseorang yang menunggunya disana. Baek-mae dan Iljimae sudah membentuk semacam tali pertemanan, dan tepat saat Iljimae akan pergi, dia bertanya, “Apa kau pernah mendengar tentang Iljimae?” Iljimae memberikan bunga plum emas pada Baek-mae dan berkata, “Aku ingin memberikan ini padamu. Tolong ambilah… ini merupakan salah satu bunga yang ditnggalkan Iljimae.”

Baek-mae kaget dan bertanya bagaimana Iljimae mendapatkan benda itu tapi dia kemudian kecewa ketika Iljimae mengarang cerita kalau dia mengambilnya di sebuah rumah Gisaeng. Baek-mae jelas membela Iljimae, “Iljimae mungkin saja disebut pencuri, tapi dia menolong orang miskin. Bagaimana mungkin ceritamu benar? Ambil saja benda itu kembali.” Jadi Iljimae harus mengubah ceritanya, “Sebenarnya aku mendapatkannya dengan tidak sengaja, tapi jika aku hanya memberikannya begitu saja padamu, kau mungkin mengira aku Iljimae. Aku tidak bermaksud apap2, jadi tolong terimalah.” Ini membuat Baek-mae marah dan berkata, “Bagaimana mungkin aku mengira playboy seperti dirimu merupakan Iljimae?”

Iljimae membuat Baek-mae tersenyum dengan mengatakan, “Aku belum pernah bertemu langsung dengannya, tapi Iljimae tentu saja tampan sepertiku.” Setelah Iljimae pergi, Baek-mae memandangi bunga plum emas itu dan di saat yang bersamaan sang narrator mengatakan, “Baek-mae tidak tahu apakah benda itu palsu atau tidak, tapi menyentuh benda itu seperti menyentuh tangan putranya sendiri.” Baek-mae lalu mengeluarkan surat Gu Ja-myung lagi, sambil memikirkan hari ketika mereka semua akan hidup bersama.

Wol-hee masih menolak pergi dan memilih untuk tetap menunggu Iljimae. Dia mengatakan pada dirinya sendiri kalau Iljimae akan muncul jika dia menghitung sampai sepuluh. Jika tidak, maka dia akan menghitung sampai sejuta… semilyar… atau selamanya. Jadi ketika anak buah Kim Ja-jeom muncul, Wol-hee dengan mudah dapat ditangkap. Mereka meninggalkan pesan pada Keol-chi: jika Iljimae muncul, dia harus menemui Kim Ja-jeom. Jika tidak datang, maka mereka akan membunuh Wol-hee.

Ketika Iljimae tiba di tempat persembunyian itu, dia mendengar berita penculikan itu dari Keol-chi, lalu segera menuju rumah Kim Ja-jeom. Pencarian sekilas yang dilakukan Iljimae di rumah itu menunjukkan kalau Wol-hee tidak ada disana. Satu2nya info yang bisa mengarahkan Iljimae ke tempat Wol-hee disembunyikan yaitu para penculik yang memakai topi bambu dengan bagian mata saja yang terlihat (untuk menyembunyikan wajah mereka). Bae Sun-dal mengenali ciri2 itu sebagai sebuah kelompok pendekar tertentu, tapi mereka begitu tertutup hingga sedikit info yang ada tentang mereka.

Pada saat inilah Cha-dol muncul, menawarkan bantuan untuk mencari tahu dimana markas orang2 itu – dia punya koneksi dengan anak2 lokal disana. Cha-dol membayar sekelompok anak2 desa dan meminta mereka untuk mencari orang2 dengan topi bambu. Dia menawarkan lebih banyak hadiah bagi siapa saja yang bisa mengikuti mereka dan menemukan tempat persembunyian mereka.

Anak2 itu menyebar untuk memulai pencarian. Seorang gadis, Soon-yi, juga menjadi bagian dari kelompok itu meski anak laki2 yang lain meremehkannya karena dia seorang gadis. Iljimae menemui Kim dan memerintahkannya mengatakan dimana Wol-hee berada. Kim Ja-jeom mencoba menguasai pertemuan itu dan memerintahkan Iljimae menurunkan senjatanya lalu berlutut dihadapannya. Iljimae tidak akan melakukan itu – dia mengaku kalau dia lemah dan Kim menang waktu itu, tapi Kim tidak akan menunjukkan dimana Wol-hee disembunyikan.

Kim berkata, “Apakah aku harus mengatakan apa yang paling aku inginkan? Bawa semua benda yang pernah kau curi dariku.” Kim Ja-jeom menginginkan semua emas yang pernah dicuri, dan dia ingin benda itu dikembalikan besok sore. Ini tugas yang tidak mudah tapi Iljimae setuju. Anak2 desa tidak beruntung menemukan orang2 yang memakai topi jenis yang disebutkan Cha-dol. Tapi, si gadis cilik Soo-yi muncul dan mengatakan kalau dia telah berhasil. Dia memang pintar dan bertanya pada penjual topi siapa yang membeli topi seperti itu. Info ini membawa Cha-dol ke tempat yang dijaga ketat, ke sebuah bangunan yang berbeda dari yang lainnya. Menggunakan kecerdasannya, Cha-dol melihat seorang anak pengantar makanan muncul dari bangunan itu, lalu mendekati penjaga dan berpura-pura sebagai saudara anak itu.

Cha-dol mengatakan kalau saudaranya tidak membawa daftar pembayaran yang benar dan ayah mereka marah. Kalau dia tidak kembali ke dalam dan mengambil pembayaran yang benar, dia akan dipukuli. Cha-dol menawarkan minuman untuk membuat hati para panjaga itu melunak dan mereka pun membiarkan Cha-dol masuk. Dia mendapati dirinya di sebuah lokasi perjudian rahasia. Dia menyelinap ke sebuah ruang bawah tanah, bersembunyi saat dia melihat beberapa pria bertopi berbincang.

Dia ditangkap oleh pria bertopi yang kebetulan membawa pedang, tapi Cha-dol membuat alasan kalau dia sedang mencari toilet dan akhirnya bisa keluar dengan selamat. Iljimae menemui Cha-dol sebab dia sudah diberitahu oleh Soon-yi. Gadis itu mengikuti Cha-dol ke tempat judi itu dan Cha-dol jadi bertanya-tanya apakah itu memiliki makna tersembunyi: “Apa dia menyukaiku?” Cha-dol melaporkan penemuannya kepada Iljimae: dia tidak melihat Wol-hee tapi dia melihat ruang bawah tanah yang dijaga ketat. Iljimae mengiyakan dan menyelinap ke dalam tempat judi itu. Iljimae lalu menelusuri bagian atas ruang bawah tanah yang dimaksud Cha-dol. Mengintip ke bagian bawah, Iljimae melihat Wol-hee disumbat mulutnya dan diikat serta dijaga oleh anak buah Park Bi-su.

Iljimae tidak bisa merencanakan misi penyelamatan sekarang jadi dia hanya menandai tempat itu dan kembali ke rumah malam itu, dimana dia menggumamkan situasinya yang sulit. Tidak akan mudah membebaskan Wol-hee kali ini, plus dia tahu pihak oposisi sangat kuat – Park Bi-su adalah orang yang sangat sulit dikalahkan. Bae Sun-dal telah mendengar teknik pedang Park Bi-su dan menyebutnya tidak terkalahkan. Iljimae begadang semalaman itu mengkhawatirkan langkah yang akan dia ambil. Dia memandangi Keol-chi yang sedang tertidur sambil berkata, “Kau membesarkanku. Jangan terlalu sedih mendengar kematianku. Jika bukan karenamu, aku pasti sudah mati begitu aku dilahirkan. Ini mungkin yang terakhir dariku.”

Pada pagi harinya, Gu Ja-myung menerima surat dari Baek-mae, yang isinya sangat mengejutkan hingga Gu berlari untuk menemukan pengantar surat itu. Dia lalu beraksi, sebab itu merupakan berita yang sangat penting. Sedangkan, Kim Ja-jeom menunggu waktu dimana dia akan menerima semua emas yang dicuri Iljimae darinya. Tidak heran, Iljimae tidak muncul, jadi dia memerintahkan anak buahnya menyiapkan drum. Tapi tiba2 Iljimae muncul. Anak buah Kim melihat Iljimae di atap rumah dan Park Bi-su berlari keluar menghadapi Iljimae. Iljimae memancing Park Bi-su keluar, dengan cara berlari di jalanan seperti kucing dan tikus yang saling kejar, dengan gerakan yang cepat.

Setelah melakukan pengejaran beberapa saat, Parl Bi-su kehilangan jejak… dan kita tahu ini hanyalah Iljimae bohongan. Cha-dol tidak bertindak sendirian – dia berperan sebagai pengacau untuk memberikan Iljimae yang asli kesempatan masuk ke ruangan yang dijaga ketat. Iljimae menyiapkan bom asap, menggunakan bom itu sebagai pelindung selagi dia kabur dan membebaskan Wol-hee. Dia juga menghalangi pengejarnya dengan menebar paku di lantai yang menusuk kaki mereka.

Iljimae menyuruh Wol-hee lari menyelamatkan diri dengan mengatakan kalau dia akan menyusul. Akan tetapi, tidak lama setelah Wol-hee keluar, dia dihadang oleh pria berpedang. Iljimae tetap tinggal dan berhadapan dengan Park Bi-su, yang dibantu oleh timnya. Jadi Wol-hee terpojok dan Iljimae kalah jumlah.

Sinopsis The Return of Iljimae Episode 20

Sesuai dengan rencana Iljimae, anak buahnya menuju ke gunung yang tersembunyi, bersama dengan pekerja yang disediakan oleh bangsawan Tuan Choi Myung-gil. Tuan Choi juga memperkenalkan pada mereka seorang pria Belanda yang akan mengajari mereka rahasia dari senjata itu: ledakan.

Selama beberapa hari, tim itu belajar bagaimana mengembangkan dan menggunakan berbagai senjata menggunakan bubuk mesiu. Akan tetapi, Iljimae harus tetap berhati-hati dan bersembunyi, yang menjadi sumber kemarahan Wol-hee. Dia merasa tidak berguna dan terganggu sebab Iljimae begitu baik bersembunyi dan membebani dirinya dengan pekerjaan seperti memasak dan mencuci.

Ketika Wol-hee menangani segunung cucian di sungai, dia didekati oleh dua orang bayaran Kim Ja-jeom, yang telah mengintai adanya kegiatan yang mencurigakan. Mereka tidak tahu apa yang direncanakan Iljimae, tapi merasa aneh bahwa Wol-hee mencuci begitu banyak pakaian – apa yang dia sembunyikan? Apa yang sedang terjadi di balik gerbang itu? Mereka memaksa Wol-hee untuk mengatakan semuanya serta mengancam Wol-hee dengan kekerasan.

Sebuah batu yang dilempar ke tempat para pria itu yang membuat mereka berhenti dimana hal ini juga memberikan kesempatan pada Wol-hee untuk kabur. Kedua pria itu kabur saat mereka diburu oleh anak buah Choi. Kaki tangan Kim Ja-jeom itu akhirnya melapor kepada majikannya bahwa mereka sangat yakin Iljimae telah ikut campur, tapi mereka tidak bisa melihat sosok Iljimae disana. Akan tetapi, salah satu pria mengenali wajah Wol-hee yang begitu familiar dimatanya – dia adalah kekasih Iljimae.

Iljimae bertindak untuk memberikan peringatan, dengan meninggalkan sebuah surat di kamar Kim Ja-jeom, tertancap di bantal pria jahat itu dengan sebuah pisau. Keinginan Iljimae jelas: Ini artinya, jika aku mau, aku bisa saja membunuhmu! Jika bukan karena petuah yang dia pelajari dari biksu Yeol-gong, Iljimae pasti sudah membunuh Kim Ja-jeom malam itu juga.

Kim sangat marah setelah membaca surat itu, yang memperingatkannya agar tidak macam-macam dengan Wol-hee. Tapi Kim menenangkan dirinya, mengingatkan dirinya kalau dia tidak bisa melupakan betapa kuatnya seorang musuh bernama Iljimae. Kim Ja-jeom memutuskan bahwa dia harus bertemu secara langsung dengan Iljimae. Dia mengirim seorang pelayannya ke tempat persembunyian di gunung itu dengan sebuah pesan untuk Wol-hee.

Petugas Gu Ja-myung tahu kalau Tuan Choi sudah bertemu dengan Iljimae dan bertanya mengenai beberapa informasi. Berharap mendapatkan kepercayaan bangsawan itu, Gu mengaku kalau dia belum melaporkan apa yang dia ketahui ini pada atasannya. Dia tidak ingin menemukan Iljimae sebagai seorang polisi, tapi demi kepentingan ibunya. Tapi Gu Ja-myung memberikan sedikit penekanan, dengan mengatakan kalau Tuan Choi tidak mengatakan apa2 padanya, maka Gu akan mengatakan apa yang dia ketahui pada pihak kepolisian.

Usaha ini lemah, dan Tuan Choi menjawab jika memang benar Iljimae terlihat memasuki rumahnya, tapi dia tidak tahu apapun soal itu, dan belum pernah bertemu dengan Iljimae. Meski Choi berbohong soal tidak mengenal Iljimae, cerita lainnya merupakan kebenaran saat Choi mengatakan pada Gu Ja-myung bahwa dia sedang mengerjakan sesuatu atas perintah Raja – hal ini penting dan rahasia dan tidak bisa dihentikan. Pekerjaan ini tidak ada hubungannya dengan Iljimae dan pekerjaan ini demi kesejahteraan negeri ini. Tapi Choi memberikan Gu sebuah klu jika pekerjaan ini berhasil (yang artinya Gu harus berhenti ikut campur), Iljimae mungkin akan dimaafkan.

Baek-mae seperti biasa sangat ingin mendengar berita tentang anaknya dan bertanya pada para pria yang bertualang keluar Hanyang untuk informasi lebih lanjut. Dia kecewa sebab tidak ada info terbaru, tapi dia senang setelah menerima surat dari Gu Ja-myung. Berdasarkan reaksi Baek-mae pada surat itu, kita bisa tahu kalau Baek-mae telah memiliki semacam rasa suka pada Gu Ja-myung dan mengkhawatirkan kesehatan Gu Ja-myung seperti dia mengkhawatirkan Iljimae.

Pesan dari Gu itu mengatakan kalau Iljimae sedang melakukan pekerjaan yang sangat penting, dan jika pekerjaan itu berhasil, maka dia mungkin dimaafkan. Baek-mae sangat lega dan tenang mendengar berita tersebut. Wol-hee menerima surat dari Kim Ja-jeom, yang artinya harus diberikan kepada Iljimae. Iljimae tahu hal ini dan dengan diam2 masuk ke kamar Wol-hee malam itu untuk mengambil surat itu saat Wol-hee tertidur. Tapi ketika Iljimae melangkah keluar, Wol-hee bangkit dan mengatakan kalau dia terbangun, serta menjadi semakin marah sebab Iljimae beranjak pergi tanpa mengatakan apa2 padanya. Iljimae mengatakan kalau dia tidak boleh dilihat oleh yang lainnya, tapi Wol-hee memeluk Iljimae, dan Iljimae tinggal disana untuk beberapa saat.

Dengan matahari pagi yang semakin mendekat, Iljimae harus segera pergi, tapi Wol-hee memeluk Iljimae dengan sangat erat dan memohon agar dia tinggal lebih lama. Pertengkaran kecil mereka terhenti oleh kedatangan Yeol-gong, yang marah karena Iljimae tidak seharusnya datang kesini dan membawakan Wol-hee beberapa bungkus obat untuk kelelahannya bekerja lembur. Pada pagi harinya, Iljimae menemani Yeol-gong keluar lalu membaca surat dari Kim Ja-jeom. Surat itu menyatakan: ‘Iljimae. Aku menerima hadiahmu. Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu. Ayo kita bertemu, hanya kita berdua saja.’

Kim Ja-jeom mempersiapkan pertemuan rahasianya dan tiba lebih dulu di tempat yang sudah disepakati. Saat Iljimae tiba, Kim membuka kalimatnya dengan kata-kata datang dengan mengatakan kalau dia mengerti Iljimae bekerja untuk kebaikan banyak orang. Lalu Kim mengejutkan Iljimae dengan menanyakan: “Kalau begitu, bagaimana bila kau bekerja sama denganku?” Sebagai ganti karena sudah mengehtikan sikap jahatnya, Kim Ja-jeom menawarkan Iljimae kekuatan dan kehormatan, memberikan janji pada Iljimae sebuah posisi dalam pemerintahan yang akan datang.

Tapi Iljimae menjadi curiga, dia mengeluarkan pedangnya, dan mendekatkannya ke leher Kim Ja-jeom, yang membuat pria itu berteriak, “Aku tidak berbohong sama sekali!” Iljimae sama sekali tidak senang mendengar penawaran ini; dia mengingatkan Kim tentang surat rahasia yang menyatakan sikap pengkhianatnya terhadap negerinya sendiri. Iljimae menuduh Kim Ja-jeom melakukan kejahatan yang tidak dapat dimaafkan sama sekali yang membuatnya sama sekali tidak berharga menjalani hidup ini: “Apa aku harus membuat lubang di dadamu? Atau lehermu?”

Kim mengatakan kalau dia percaya pada kesetiaan Iljimae, tapi Iljimae mengatakan kalau dia sama sekali tidak punya kesetiaan pada pengkhianat seperti Kim Ja-jeom dan menghancurkan senjata yang disembunyikan Kim Ja-jeom – ternyata dia membawa pisau yang disembunyikan. Iljimae pergi dan meninggalkan Kim yang bernafas terengha sebab mengira dia sudah mati.

Satu hal posistif yang didapatkan Kim Ja-jeom dari pertemuannya dengan Iljimae, yaitu dia bisa menebak kalau Iljimae sama sekali tidak punya surat rahasia itu. Ini merupakan berita baik untuknya! Lebih jauh, dia menerima laporan tentang tempat persembunyian di gunung itu, dimana senjata api sedang dibuat. Tahu kalau bahan peledak diatur oleh negara, Kim menebak kalau Tuan Choi pasti bekerja atas nama perintah rahasia Raja.

Sedangkan, pengembangan senjata peledak berjalan dengan baik dan anak buah Tuan Choi yang bekerja di tempat persembunyian Iljimae senang dengan perkembangan pekerjaan mereka. Kim Ja-jeom bukan satu2nya yang menyelidiki diam2 tempat rahasia di gunung itu; Yang-po dan Wang Hweng-bo juga memutuskan untuk melakukan sebuah rencana buat menangkap Iljimae, yang akan mereka bawa ke Cina bersama mereka. Mereka membuat persiapan dan mengemas senjata rahasia mereka: sebuah drum.

Iljimae adalah orang pertama yang sadar kalau sekelompok pengerusuh sedang dalam perjalanan naik gunung. Dia langsung bergegas memberikan peringatan pada Wol-hee pada bahaya ini, dan memerintahkannya untuk mengatakan pada yang lain untuk cepat2 dan membawa pergi simpanan bubuk senjata dan senapan mereka. Wol-hee tidak langsung mengerti betapa genting berita itu sebab dia merasa marah karena Iljimae datang hanya untuk memberikan perintah dan pergi, tapi Iljimae menarik tangannya dan mengatakan kalau ini urusan penting. Jika mereka tertangkap sekarang, jika senjata mereka ditemukan, mereka semua akan hancur.

Iljimae meminta Wol-hee untuk pergi bersama Keol-chi dan berjanji, “Apapun yang terjadi, aku pasti akan datang padamu.” Setelah itu, Iljimae menghadapi anak buah Kim Ja-jeom, membela rakyatnya dan tempat persembunyiannya. Park Bi-su maju paling awal, mengenali Iljimae dari pertempuran mereka yang dulu, lalu melawan Iljimae sendirian. Dia memerintahkan anak buahnya untuk meneruskan perjalanan tanpa dirinya. Akan tetapi, Iljimae tahu kalau melindungi pekerjaan mereka adalah yang utama, jadi ketimbang bergulat dengan Park Bi-su, dia mengejar anak buah pria itu saja. Park mengejar ketika Iljimae menuju ke persembunyian dan terjadilah pertempuran besar antara anak buah Kim dan anak buah Choi.

Iljimae menuju ke tempat penyimpanan senjata mereka dan melihat salah satu benda itu telah dinyalakan. Iljimae bergegas untuk memadamkannya sebelum meledak – tapi tiba2 saja, drum berdendang, membuat Iljimae lemah dan berlutut. Dia memegang dadanya penuh rasa sakit, berjuang agar dia tetap mampu sadar… tapi reaksi Iljimae pada drum itu sangat membahayakan. Bunyi itu membuatnya lumpuh, lalu membuatnya pingsan. Tapi tiba2 saja, senjata itu meledak dan seluruh senjata di tempat itu meledak besar2an.

Iljimae melayang ke udara bersama ledakan itu lalu jatuh ke tanah. Dari kejauhan, Tuan Choi begitu terpukul melihat harapan besar mereka meledak bersama tempat persembunyian itu. Sedangkan, Wol-hee hanya memikirkan keselamatan Iljimae dan tidak sabar ingin kembali ke tempat persembunyian itu dan mencari Iljimae. Ketika dia tiba disana, Iljimae menghilang begitu saja. Keol-chi menyuruh Wol-hee untuk berlindung, tapi dia menolah meninggalkan tempat itu.

Kim Ja-jeom menerima berita dan tertawa gembira. Dia lebih suka Iljimae mati ketimbang hanya terluka, tapi dia tenang mendengar berita kalau Iljimae terluka parah. Dia juga menyukai ironi kalau petugas keamanan negara harus menutupi berita itu, sebab jika berita tentang bahan peledak menyebar, banyak orang akan ada dalam masalah, sebab hal tersebut akan membuat keterlibatan Raja dipertanyakan.

Tubuh Iljimae dibawa pergi oleh Wang Hweng-bo dan Yang-po, yang juga memberikan obat padanya, iljimae bergumam penuh rasa sakit, tapi dia terlalu lemah untuk menahan ketika mereka memaksakan obat lumpuh yang mereka bawa. Setelah itu, dua pria Cina berlindung di hutan, mendapatkan kenyamanan setelah makan dan minum, tahu bahwa mereka sangat dekat dengan tanah air mereka.

Iljimae bangun, tapi dia terluka, terikat, dan masih dalam pengaruh obat bius, jadi dia tidak mampu bergerak ketika Wang Hweng-bo dan Yang-po membicarakan rencana mereka. Iljimae berjuang untuk bertanya, “Kemana kalian membawaku?” Wang Hweng-bo hanya memberikan Iljimae obat bius lagi, lalu duduk bersantai.

Merasa aman, kedua pria itu tidur siang – tapi sang narrator mengatakan kalau kedua pria ini tidak awas. Seseorang menyelinap saat mereka tidur dan mengelilingi Iljimae yang pingsan, dan mengintip kedua pria yang tidur itu… orang itu Sung-kae! Dia berkata, “Kalian mencuri salah satu rakyat negeriku demi keuntungan negeri kalian? Aku juga tahu bagaimana caranya bersikap pahlawan!”

Dan Sung-kae menusuk dada Yang-po. Wang Hweng-bo bangun kaget dan Sung-kae menusuk matanya. Ketika mereka berdua mengeluh kesakitan, Sung-kae mengatakan pada mereka kalau dia mungkin saja seorang penjahat, tapi dia tidak akan diam melihat salah satu orang setanah airnya diculik. Meninggalkan mereka berdua yang sedang terluka, Sung-kae menarik kereta yang menjadi tempat tidur Iljimae lalu pergi dari tempat itu.

Sinopsis The Return of Iljimae Episode 19

Setelah Kim Ja-jeom berkonsultasi dengan peramal, dia merasa tenang pada jaminan kalau Iljimae tidak akan menyerang selama sepuluh hari. Memanfaatkan kesempatan ini untuk bersantai, Kim Ja-jeom mengadakan serangkaian pesta. Selagi rumah Kim mengendorkan penjagaannya, Iljimae mampir berpakaian seperti bangsawan untuk berbincang dengan Park Su-dong, pemimpin kelompok pemburu yang disewa untuk menangkap Iljimae.

Park Su-dong merasa tidak nyaman dengan pesta Kim Ja-jeom dan merasa harus pergi jalan2 keluar, dimana Iljimae berbicara padanya tentang perumpaan membingungkan tentang kesetiaan anjing kepada pemiliknya, yang tidak peduli pada kebajikan tuannya. Sepanjang waktu, Iljimae merencanakan serangannya bersama tim yang dia buat sebab operasi ini memerlukan bantuan semua orang.

Pada akhir hari ke sepuluh, dia mengirim pesan kepada Kim Ja-jeom yang menuduh Kim sebagai penjahat yang menjual negaranya. Malam itu, Iljimae muncul di rumah Kim dimana dia ditunggu oleh Park Su-dong dan para pemburu. Tapi Iljimae tidak diam disana dan malah kabur menuju hutan dimana para pemburu mengikuti jejaknya.

Mereka mencari Iljimae sepanjang malam dan pada pagi harinya, Kim Ja-jeom marah pada sedikitnya informasi yang bisa didapat. Kelihatannya Iljimae sengaja menarik keluar para pengejarnya, sebab dia selalu mengawasi dan dengan mudah membuat dirinya diketahui. Tapi dia menunggu hingga pagi, membuat para pemburu mendekat ke jejaknya, lalu meloncat ke kerumunan mereka guna menyandera satu pria.

Ketika Iljimae mengarahkan pisau ke leher pria itu, Iljimae mengatakan pada Park Su-dong kejahatan Kim Ja-jeom. Ini dia maksud dari anjing yang punya kesetiaan buta pada tuannya, karena Park Su-dong itu suka harta jadi dia tidak terganggu pada perkataan Iljimae. Tapi saat dia mendengar kalau Kim Ja-jeom adalah pengkhianat negaranya sendiri, kita tahu kalau Park punya moral. Dia lalu menarik para pemburunya. Lebih jauh, dia mengembalikan semua hadiah Kim dan meninggalkan Hanyang sambil meninggalkan pesan kalau Kim lain kali akan menjadi targetnya.

Kejutan lain menyapa Kim Ja-jeom waktu dia membuka gudangnya yang terkunci dimana dia mendapati kalau ruangan itu benar2 kosong. Ruangan itu dijaga dengan ketat jadi mereka bingung pada penyebab hilangnya Wol-hee, sampai Park Bi-su menemukan lubang besar di bagian bawah ruangan itu. Selagi Kim membuat pesta selama sepuluh hari, sadar kalau Iljimae tidak akan menyerang, tim Iljimae sibuk menggali terowongan bawah tanah dari rumah Bae Sun-dal.

Untuk itulah, saat Iljimae menarik para pemburu menjauh, Cha-dol dan Keol-chi mendapatkan kesempatan untuk melewati lorong itu yang terhubung dengan rumah Kim untuk menyelamatkan Wol-hee. Untuk menghindarkan kecurigaan terhadap rumah Bae Sun-dal, mereka telah punya persiapan untuk menghalangi jejak mereka, yaitu dengan menghalagi jalan yang gunakan kabur dengan memasang umpan ke arah yang lain. Ini membuat anak buah Kim Ja-jeom melewati jalan yang salah.

Setelah kembali dengan selamat, Wol-hee melihat gambar Bae tentang riwayat petualangan Iljimae, termasuk pertemuan pertamanya dengan Wol-hee. Wol-hee yakin kalau Iljimae pasti akan datang menyelamatkannya tapi sekarang dia bertanya-tanya, “Dimana kau?” Sebuah suara berkata di belakangnya, “Aku berada di dekat Wol-hee.” Melihat Iljimae secara langsung, Wol-hee mulai menitikkan air mata, meski dia mengatakan pada Iljimae kalau dia tahu Iljimae pasti datang untuknya.

Sedangkan untuk masalah pengkhianatan Kim, Bae Sun-dal menyarankan agar Iljimae menemui menteri pemerintah, Tuan Choi Myung-gil, yang memiliki posisi yang unik sebab dia mencoba menciptakan hubungan yang baik dengan bangsa Cina tapi di sisi lain dia juga menyiapkan untuk mempertahankan negaranya sendiri. Karena Iljimae tidak punya bukti rencana jahat Kim Ja-jeom, Iljimae mungkin bisa mendapatkan solusi dengan cara bicara pada Choi.

Malam itu, Iljimae menguping pembicaraan Tuan Choi yang sedang mabuk dimana dia mencurahkan kesedihannya pada seorang teman. Choi kelihatannya pria baik namun sesuatu pasti mengganggu pikirannya hingga membuatnya mabuk seperti itu, setidaknya itulah yang dikatakan sang narrator. Iljimae menyelinap ke rumah Tuan Choi selama beberapa malam sampai dia menemukan apa yang dia cari. Sebuah surat rahasia – surat resmi dari kerajaan yang memerintahkan Choi untuk meningkatkan persenjataan yang akan digunakan dalam perang melawan Cina.

Dalam perjalanannya keluar, Iljimae ditangkap olej polisi yang sedang berpatroli, tapi mungkin dia sudah mendapatkan pengalaman dan memakai pikiran logisnya – ketimbang bertarung – untuk menyelesaikan konflik ini. Lucu juga bagaimana Iljimae membuat takut para polisi itu dengan mengatakan kalau mereka pasti sudah mendengar betapa hebatnya dia menggunakan shuriken, jadi mereka pasti tahu kalau mereka tidak akan menang melawannya. Untuk itulah, guna menghindari dilempari shuriken dan dipukul, Iljimae menawarkan jika mereka tidak menyerang, maka Iljimae juga akan diam.

Iljimae membagi info yang dia dapat dengan Bae Sun-dal, yang mengerti akan perintah kerajaan itu. Dia sudah mendengar senjata baru ini, yang akan menjadi asset besar bagi Korea dalam mempertahankan diri melawan musuh. Akan tetapi, dilemma Tuan Choi yaitu pengembangan mereka terhadap senjata ini harus tetap menjadi rahasia – berita kalau Korea mengembangkan senjata akan membuat Cina marah dan mungkin memicu perang. Ini artinya, bendahara Negara takut mengeluarkan dana untuk membiayai proyek ini, sebab takut kalau berita itu akan bocor.

Karena itulah Tuan Choi berada pada posisi yang sulit: dia menerima perintah untuk menggali dana tapi tidak dapat sepenuhnya melakukan itu. Malahan, dia minum2. Iljimae menemui Wol-hee yang sedang menjahit dan melukai tangannya. Iljimae langsung khawatir dan mulai mengobati luka Wol-hee, yang membuat Wol-hee tertawa pada reaksi berlebihan Iljimae itu. Tapi tawa Wol-hee langsung berubah menjadi tangis, yang membuat Iljimae khawatir kalau dia sudah membuat Wol-hee menangis karena membentaknya.

Wol-hee mengatakan pada Iljimae kalau dia menangis karena dia senang, “Karena aku senang kau memikirkanku.” Iljimae memeluknya dan berkata, “Jangan menangis. Aku disini bersamamu.” Wol-hee ternyata bisa juga menjadi begitu kekanak-kanakan dari waktu ke waktu. Jadi ingat bagaimana Wol-hee membuat perbandingan Wol-hee vs Dal-yi waktu Iljimae pingsan dulu. Wol-hee merengek agar Iljimae bangun tapi Iljimae tidak peduli dan Wol-hee mulai meniup wajahnya dengan lembut. Dia bahkan memaksa membuka mata Iljimae.

Pada pagi harinya, Gu Ja-myung dan anak buahnya mampir di rumah Tuan Choi untuk memeriksa laporan yang menyebutkan kalau Iljimae melompati tembok rumahnya pada malam sebelumnya. Choi tidak khawatir dengan mengatakan kalau tidak ada barang berharga yang bisa dijual dari rumahnya. Tapi dia tiba2 ingat, dan bergegas masuk ke dalam untuk memeriksa surat rahasianya, bernafas lega sebab masih menemukannya disana. Tapi dia menemukan surat lain terselip di belakang suratnya yang ditandai dengan bunga plum emas, yang menyatakan kalau Iljimae akan mampir malam itu setelah bel berdering.

Choi menjamin kalau dia sama sekali tidak kehilangan apapun – yang memang benar – dan menyingkirkan kekhawatiran yang lain. Lebih lagi, Iljimae terkenal hanya melukai orang jahat dan menolong yang miskin, bukan? Jung-tae merasa kalau Choi berbohong – seperti bangsawan lain yang menjadi target Iljimae di masa lalu – tapi Gu merasa tidak penting apakah dia berbohong atau tidak. Yang paling penting adalah kenapa Iljimae mendatangi rumah Choi.

Gu merasa penasaran sebab Choi adalah bangsawan yang terhormat, jadi tidak mungkin Iljimae merencanakan sesuatu yang buruk padanya. Masih, Gu memerintahkan anak buahnya untuk mengawasi rumah Choi. Malam itu, Choi mempersiapkan diri untuk menyambut tamunya yang penting, dan mendapati Iljimae menunggu dalam kamarnya. Berlawanan dengan serangan Iljimae pada malam2 yang lainnya, Iljimae membungkuk penuh hormat, berlutut dihadapan Choi, dan membuka topengnya.

Iljimae pertama-tama meminta maaf karena mencuri-curi masuk ke rumah Tuan Choi dan membaca surat2nya. Dia mengatakan kalau dia memiliki sesuatu yang mungkin akan digunakan untuk hal2 jahat dan akan menyerahkannya kepada Choi, yang mungkin dapat memenuhi permintaan kerajaan. Iljimae mengacu pada benda dan kekayaan yang menjadi milik Kim Ja-jeom, yang mungkin saja akan digunakan oleh para pengkhianat untuk menjual Negara ini pada Cina.

Iljimae akan mengungkapkan nama pengkhianat itu tapi Choi menghentikannya. Dia mengatakan pada Iljimae dengan sedih bahwa kata2, sekali diucapkan, tidak dapat didengar. Apa Iljimae punya bukti yang mendukung pernyataannya? Dengan menyesal Iljimae harus mengatakan tidak – dia dulu punya bukti tapi tanpa pikir panjang dia menghancurkannya. Iljimae setuju untuk tidak mengatakan nama itu, tapi tetap melanjutkan penawarannya: dia tahu sebuah tempat tersembunyi di gunung, dimana dia bisa menyembunyikan material. Iljimae lalu meminta bantuan Tuan Choi: sebuah tim pekerja untuk mengembangkan senjata.

Iljimae berbincang dengan tim-nya, merencanakan untuk memindahkan barang2 Kim Ja-jeom ke tempat persembunyian besok. Setiap orang akan mempunyai peran khusus, contohnya, Wol-hee dan Keol-chi adalah yang bertanggungjawab untuk menyediakan makanan bagi para pekerja. Iljimae berencana untuk melakukan perjalanan bersama mereka, tapi tidak seperti yang lainnya, dia harus tetap tak terlihat sebab Iljimae adalah sosok yang paling dicari. Di samping berbahaya karena akan ditangkap, kehadirannya mungkin akan membuat segalanya jadi sulit bagi Tuan Choi, sebagai seorang menteri pemerintah.

Ini membuat Wol-hee tidak senang, begitu juga tidak nyaman. Iljimae memberikan jaminan padanya bahwa dia akan tetap bersamanya, tapi ketakutan Wol-hee kalau Iljimae akan meninggalkannya benar2 sudah mengakar dalam dan ini membawa mereka ke keadaan sulit lagi serta menjadikan Wol-hee marah. Iljimae mengatakan dengan lembut pada Wol-hee kalau ini adalah hal yang harus dia lakukan untuk negaranya dan Wol-hee berkata, “Tapi Negara ini belum melakukan apapun untukmu. Negara ini hanya membuangmu, melukaimu, dan menyiksamu. Kenapa kau harus melakukan ini untuk Negara ini?”

Iljimae: Ketika aku masih muda, aku melihat banyak orang kehilangan segalanya – keluarga mereka dan rumah mereka – satu pagi di kala perang, yang diseret sebagai tahanan. Orang2 itu tidak diperlakukan layaknya manusia, dan harus hidup, tidur, dan makan seperti binatang. Kalau begitu, itu adalah masalah yang menjadi perhatian bagi Negara orang lain. Aku pikir itu seperti sesuatu yang tidak bisa aku lakukan. Tapi sekarang bukan masalah negeri orang. Hal itu adalah hal yang diderita oleh negaraku. Jika perang pecah lagi, situasinya bisa sangat buruk. Bencana perang selalu menimpa yang lemah, miskin, paling awal. Orang2 seperti ibuku. Orang2 yang hidupnya memang susah. Meski aku tidak bisa membuat mereka lebih bahagia, mereka tidak boleh lebih tidak bahagia dari keadaan mereka yang sekarang.

Wol-hee mencerna kata2 Iljimae malam itu, “Kapan kita akan bahagia? Kapan kita akan bisa menjalani hidup yang penuh cinta? Apa hari itu akan benar2 datang?” Iljimae berbaring di samping Wol-hee, terbangun. Dia mengatakan pada Wol-hee, “Hari itu akan datang.” Selagi Wol-hee berbelanja untuk kebutuhan di desa, dia berhenti di depan stan ginseng, tidak tahu bagaimana memilih yang terbaik. Baek-mae kebetulan lewat dan melihat keraguan Wol-hee dan membantunya, memilihkan beberapa yang bagus untuknya sebab dia menghabiskan banyak waktu menumbuhkan ginseng. Percakapan yang terjadi singkat, tapi Wol-hee senang atas bantuan Baek-mae dan membungkuk pada Baek-mae waktu mereka berpisah.

Sedangkan, pertemuan rahasia Choi Myung-gil dengan Iljimae ternyata bukan rahasia: baik Kim Ja-jeom dan Gu Ja-myung mendengar berita itu. Kim yakin kalau mereka sudah tahu apa artinya surat menjual Negara pada Cina itu, sedangkan Gu memerintahkan anak buahnya untuk menjaga rahasia itu agar tidak bocor. Gu tahu ada sesuatu yang sedang terjadi, tapi tidak yakin apakah itu hal buruk, karena reputasi Choi yang baik. Tapi dia masih khawatir apa arti pertemuan itu.

Wang Hweng-bo dikunjungi oleh orang yang mengaku sebagai satu warga negara: Yang-po. Dia sama sekali tidak menolak untuk membantu misi Yang-po: menangkap Iljimae – Yang-po memang mengacaukan bisnis obat Hweng-bo – tapi dia menjelaskan kalau karena Wang Hweng-bo, Iljimae datang ke Korea. Ketika Iljimae meninggalkan Cina, ayah tunangan Iljimae yang ditinggalkan sangat marah hingga ia memerintahkan agar Iljimae dibunuh. Akan tetapi, mantan tunangan Iljimae, Moran, sangat frustasi hingga menolak menikah. Lebih jauh, dia menjadi jauh dari ayahnya yang sangat putus asa akan apa yang harus dilakukan.

Untuk itulah, Wang Hweng-bo membawa Yang-po untuk menangkap Iljimae dengan berbagai cara. Yang-po bersumpah kalau dia tidak akan kembali sampai dia sukses. Masalahnya adalah Iljimae tidak punya keinginan untuk kembali ke Cina dan Yang-po tidak dapat memaksanya hanya dengan ketrampilan berkelahi saja. Wang Hweng-bo menyebutkan kalau Iljimae terlalu kuat untuk dilawan.

Yang-po menyarankan satu metode: mereka awalnya harus membuat Iljimae tidak sadarkan diri, lalu memberinya obat untuk membuatnya tetap tertidur lalu membawanya. Yang-po tahu kelemahan Iljimae – suara drum, yang mengingatkannya pada masa lalu dan memperngaruhinya secara fisik. Jika Wang Hweng-bo membantu membawa Iljimae ke Cina, Yang-po berjanji memberikan Wang Hweng-bo gelas bangsawan yang sudah dijanjikan.

Sedangkan, Iljimae dan Yeol-gong berkelana melalui jalan pegunungan menuju ke tempat persembunyian mereka. Iljimae meminta Yeol-gong agar tidak datang ke tempat ini lagi, sebab dia yakin ada pengkhianat yang mengikuti Tuan Choi (mungkin orang yang dikirim oleh Kim Ja-jeom).

Yeol-gong bertanya apa yang Iljimae akan lakukan pada Kim, seolah-olah ingin mencegah agar Iljimae tidak membunuh lagi. Sang biksu mengingatkan kalau Kim adalah orang yang kuat, dan jika seluruh negeri percaya kalau dia dibunuh, itu bisa menjadi penyebab ketidakstabilan di negeri ini. Iljimae berkata kalau dia mengerti, tapi ekspresi wajahnya suram ketika dia berbalik dan memandangi lembah serta kota di bawahnya.

Sinopsis The Return of Iljimae Episode 18

Setelah ditembak, Iljimae pingsan di tengah hutan dimana beberapa anak2 menemukannya. Mereka membalut luka di tangan Iljimae dan sangat mengkhawatirkan kondisinya yang parah. Namun sayang mereka tidak dapat melakukan apa2 dan pergi meninggalkan Iljimae terbaring disana. Antara sadar dan tidak sadar, Iljimae menyeret dirinya ke kuil dimana pada akhirnya dia ditemukan oleh Yeol-gong.

Wol-hee dibiarkan sendiri menunggu Keol-chi dan dia tetap berada dikotahingga malam hari, dimana Wol-hee sangat khawatir kenapa Keol-chi belum datang juga. Seorang pria tua yang baik bertanya apa yang Wol-hee lakukan dan menawarkan bantuan. Jika Wol-hee tidak keberatan berbagi kamar dengan putrinya maka pria itu bisa membiarkan Wol-hee menginap di rumahnya.

Wol-hee tidak punya tempat tujuan malam itu, jadi dia mengikuti pria itu ke rumahnya. Ketika berada di rumah pria itu, Wol-hee mulai merasa tidak nyaman sebab ada yang aneh dengan pria itu – dia begitu bersemangat menawarkan Wol-hee sebuah kamar. Pria itu mendekat dan membuat pernyataan yang tidak pantas, membuat Wol-hee ngeri dan melakukan protes. Pria itu mengatakan kalau dia kesepian – istri dan anaknya pergi sudah selama berbulan2 – lalu dia menarik Wol-hee. Wol-hee melawan dan terbanting ke pintu dan membuat pintu terbuka. Disanalah seorang biksu menunggu dengan murka.

Lucu juga bagaimana Yeol-gong membuat pria itu menjadi malu dan meminta maaf hanya dengan beberapa kalimat saja. Pria itu meminta ampunan waktu biksu Yeol-gong mengancam akan melaporkan pria itu kepada istrinya. Akhirnya Yeol-gong mendapatkan janji pria hidung belang itu untuk tidak macam2 malam ini. Apalagi, Yeol-gong menginap di rumahnya.

Malam itu, Wol-hee mencoba tidur dan menggenggam lengan baju biksu itu seolah-olah sebagai jaminan keamanannya. Pada pagi harinya, Yeol-gong menuntun Wol-hee kembali ke kuil, mengatakan kalau dia tahu dimana pria yang Wol-hee cari berada. Ketika biksu itu kelihatannya tahu siapa dia dan Keol-chi sebenarnya, Wol-hee menyadarai kalau biksu ini pasti Yeol-gong, yang sudah pernah dibicarakan Iljimae beberapa kali. Wol-hee menduga kalau pria yang Yeol-gong maksud adalah Keol-chi, yang dia khawatirkan sudah ditangkap oleh polisi.

Tapi tidak. Yang Yeol-gong maksud disini adalah Iljimae – dan mendengar itu membuat Wol-hee menghentikan langkahnya. Wol-hee memutuskan kalau dia tidak mau pergi, masih merasa sakit atas penolakan Iljimae. Yeol-gong tidak mencoba memaksa Wol-hee, tapi dia malah mengatakan hal yang berbeda, dengan mengatakan kalau dia harus kembali membawa bungkusan obat2annya. Mendengar ini, Wol-hee kaget – apa Iljimae sakit? Biksu itu mengatakan pada Wol-hee tentang tembakan senapan itu dan menggambarkan kondisi Iljimae sangat parah.

Cara ini berhasil sebab Wol-hee buru2 mengikuti Yeol-gong menuju kuil. Dia melihat Iljimae terbaring tidak sadarkan diri, dan dia pun menyibukkan dirinya dengan merawat Iljimae. Wol-hee merebus obat untuk Iljimae dan berada di sisinya selama beberapa hari. Sang narrator drama ini mengatakan kalau racun dalam tembakan senapan itu bisa saja membunuh orang yang lebih lemah dari Iljimae: “Dan perawatan Wol-hee sedikit lebih kuat dari racun itu.”

Saat tidur, Iljimae menyebut-nyebut nama Wol-hee dan berkata, “Wol-hee, jangan pergi. Kau tidak boleh pergi.” Jika Wol-hee merasa tersentuh, ini membuktikan kalau dia sangat berarti bagi Iljimae dan mendengar ini merupakan sebuah ketenangan besar bagi Wol-hee dan tentu saja ini juga membuatnya nyaman.

Berikutnya dia menggumamkan, “Ibu, dimana kau?” yang ini tidak mendapatkan banyak perhatian Wol-hee. Tapi kemudian Iljimae berkata, “Dal…” yang ini membuat Wol-hee mulai marah tapi setelah Iljimae berkata, “Wol-hee,” emosi Wol-hee menurun lagi. Tapi saat Iljimae yang tidak sadarkan diri kembali menyebut nama Dal-yi, kali ini Wol-hee mengakali dengan mengambil sebuah kertas tas dan membuat perbandingan berapa banyak Iljimae menyebut nama dirinya dan Dal-yi.

Kim Ja-jeom memanggil dukun wanitanya untuk mendapatkan informasi keberadaan Iljimae, meski begitu ucapan wanita itu malah membuatnya frustasi sebab kata2nya begitu ambigu dan sulit ditebak. Wanita itu menyebut tentang pilar berwarna merah dengan berbagai aksesorisnya. Wanita itu sedikit tergganggu sebab Kim Ja-jeom ingin semuanya dijelaskan dengan detail. Kemudian dukun wanita itu mengatakan kalau pilar merah bisa menandakan istana atau kuil Budha. Lebih jauh, orang yang sedang dibicarakan sedang terluka, berdarah, dan di sebuah bangunan batu di daerah pegunungan. Akan tetapi, sesuatu menghalangi pandangan dukun itu dan dia tidak bisa mendapatkan bayangan yang jelas.

Iljimae semakin membaik, meski dia belum bangun juga. Ketika Wol-hee memandangi Iljimae, Wol-hee mencuri ciumnya, yang dilihat oleh Dok-bo, seorang biksu baru. Dia tidak senang dan memarahi Wol-hee, yang memberikan sedikit gambaran kalau Dok-bo itu jahat. Wol-hee membaringkan kepalanya di samping Iljimae dan beberapa saat kemudian, Iljimae membuka matanya.

Adegan ini benar2 indah dengan akting kedua artis ini yang bagitu bagus, ketika Iljimae berbalik untuk melihat Wol-hee berbaring di sampingnya. Mata Wol-hee membuka perlahan dan keduanya sadar apa yang mereka lihat. Mengabaikan rasa sakitnya, Iljimae bangun, memandangi Wol-hee dengan tatapan tidak percaya; Iljimae masih percaya kalau Wol-hee sudah meninggal. Wol-hee mengatakan dengan yakin, “Ini aku, Wol-hee.” Dengan nada suara sedih, Iljimae berkata, “Wol-hee sudah meninggal.”

Wol-hee: Aku tidak mati. Aku hidup.

Iljimae: Kau hidup?

Wol-hee: Ya. Aku hidup.

Iljimae: aku berbuat salah. Aku tidak akan mau kehilangan kau lagi.

Bertahan dari luka tembakan senapan tidak membuat Iljimae lolos dari hukuman Yeol-gong, yang memukul Iljimae dengan kayu untuk membunuh manusia. Wol-hee menyaksikan dengan khawatir sementara Iljimae menerima hukumannya dengan tabah. Iljimae mengatakan tujuannya, sebab Tuan Kwon akan menjual negeri ini pada Cina. Tapi Yeol-gong mengatakan kalau bukan hak Iljimae untuk memberikan hukuman seperti itu – Iljimae tidak berhak membunuh.

Iljimae berkata, “Aku sudah gila. Aku pikir Wol-hee sudah meninggal.” Itu membuat Wol-hee memandangi Iljimae penuh tanda Tanya selagi Iljimae melanjutkan, “Tapi sekarang, aku tidak akan membunuh lagi. Aku akan mengikuti ajaran Buddha yang membuat Wol-hee hidup.” Yeol-gong bertanya apakah Iljimae mau bersumpah untuk hal itu dan Iljimae mengiyakan. Biksu itu mulai mengulangi pukulannya tapi sekarang Wol-hee memohon pada Yeol-gong untuk berhenti dan melangkah untuk melindungi Iljimae agar tidak dipukul. Wol-hee mengatakan kalau Biksu Yeol-gong ingin memukul seseorang, dia sebaiknya memukulnya dulu. Yeol-gong berhenti lalu mengatakan pada Iljimae kalau disini bukan wilayahnya untuk memilih orang mana yang harus dihukum – tak seorang pun menyuruhnya melakukan itu. Yeol-gong bersikap seperti sebelumnya menyelamatkan Iljimae.

Sementara itu, sekali lagi Wang Hweng-bo bosan dan memerlukan lebih banyak tindak penipuan untuk memuaskan dirinya. Kali ini dia mengusulkan pada Sung-kae kalau mereka akan menjual obat dan mendapatkan uang. Tidak peduli mereka punya obat atau tidak atau uang untuk membeli obatnya – sebab mereka bisa menggunakan kotoran. Keduanya segera bekerja keras untuk mengubah kotoran menjadi pil dimana Wang Hweng-bo dengan senang hati menambahkan ludah dan kotoran telinganya.

 

Kemudian, dia menarik perhatian masyarakat di pasar dengan menunjukkan kekuatannya yang menakjubkan dan kemampuan bertarungnya yang hebat, yang tentu saja merupakan latihan keras yang dia lakukan tapi dia mengatakan pada orang2 kalau kemampuan itu dia dapat dari obat baru yang dia buat. Pil itu sangat berkhasiat dan membuat yang meminumnya menjadi kuat, tapi obat itu hanya dijual satu hari saja, sebab dia akan segara pergi. Hweng-bo mendapatkan respon yang bagus dan orang2 yang lewat berpikir kalau mereka harus memanfaatkan kesempatan ini dan membeli obat ajaib itu. Sebuah suara terdengar dan mengatakan kalau obat itu palsu. Orang itu Yang-po dan dia menantang Wang Hweng-bo untuk meminum obat itu dulu untuk membuktikan keampuhannya.

 

Wang Hweng-bo mencoba memikirkan alas an untuk menghindari hal ini – tahu apa yang dicampur ke dalam obat itu – lalu dia berbohong kalau dia sudah banyak meminum obat ini dan tidak baik bila meminumnya dalam dosis banyak. Akhirnya dia menyerah dan setuju untuk mengunyah satu pil itu-huek! Tapi dia tidak dapat menelannya dan muntah. Sementara itu, Keol-chi yang ditangkap oleh polisi dan diminta untuk membersihkan jamban, mencoba melarikan diri. Karena dia melakukan ini tanpa perencanaan, maka dia dibawa kehadapan Gu Ja-myung.

 

Petugas Gu menginginkan informasi tentang Iljimae, tapi Keol-chi bersikeras kalau dia belum mendengar apa2 mengenai Iljimae dan sudah lama kehilangan kontak. Karena sangat inginnya menekankan kalau dia tidak tahu apapun, Keol-chi keceplosan mengatakan tentang pondok tempat tinggal mereka di gunung, fakta yang sempat didengar Gu. Gu memerintahkan anak buahnya untuk bersiap-siap dengan tim pemanah dan berangkat menuju tempat sasaran. Mendengar kalau Keol-chi ditahan oleh polisi, Iljimae keluar untuk menyelamatkannya, dan mendapati kalau Wol-hee enggan membiarkannya pergi. Iljimae menebak, “Kau takut aku akan pergi lagi?”

 

Perkataan itu benar2 mengena, sebab Wol-hee masih merasa gugup kalau Iljimae mungkin menghilang seperti sebelumnya. Dengan penuh keyakinan, Iljimae memberikan ucapan terima kasih yang tulus pada Wol-hee karena sudah mampu bertahan dan berkata, “Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi lagi!” Sedangkan Kim Ja-jeom menerima tamu yang misterius lagi, kali ini biksu Dok-bo, yang motifnya masih belum jelas. Biksu ini mengatakan kalau dia punya hadiah untuk Tuan Kim Ja-jeom!

Biksu Dok-bo tentu punya koempetitor sebab polisi juga memburu Iljimae. Gu Ja-myung memimpin anak buahnya ke pondok di gunung yang Keol-chi sebutkan secara tidak sengaja, dan mereka mendekati rumah itu dengan anak panah yang siap melesat kapan saja. Iljimae kebetulan berada di dalam rumah itu ketika dia merasakan ada bahaya mendekat, dan mendapatkan cukup waktu untuk bersembunyi sebelum para polisi itu masuk ke dalam. Iljimae merangkak di atap rumah itu, dan tetap diam selagi para petugas itu mencari keberadaannya dan mendapatkan kalau rumah itu koosng.

 

Gu menebak kalau Iljimae pasti akan mencari Keol-chi, dan memberikan perintah pada dua orang petugas untuk tetap berjaga. Sisanya pergi dan menuju ke markas. Untuk itulah, kuil menjadi kosong ketika para pemburu dengan senapan itu muncul dengan sasaran baru. Dengan perginya Iljimae, mereka memburu kekasihnya, dan sesuai dengan perintah Kim Ja-jeom agar membawanya hidup2. Mereka tahu hubungan Iljimae dengan Wol-hee dan berniat menggunakan Wol-hee sebagai umpan guna memancing Iljimae keluar

 

Parapemburu, dipimpin oleh Park Su-dong, menarik Wol-hee dan berniat untuk menyeretnya, tapi dengan cepatnya Yeol-gong tiba yang menghentikan tindakan itu. Mereka semua tenang dan membungkuk dihadapan biksu itu – mereka mungkin saja membunuh dan menculik tapi mereka kelihatannya juga tahu rasa hormat pada pemimpin agama. Tapi sayang, rasa hormat pada Yeol-gong tidak menghentikan niat mereka pada rencana semula. Malah, itu membuat mereka semakin ingin melanjutkan aksinya. Gu Ja-myung melepaskan Keol-chi dari penjara. Iljimae, yang siap membebaskan keol-chi dari penjara, mendekati pria tua itu di pasar.

 

Setelah bersatu lagi, mereka beranjak pergi, namun berhenti sejenak ketika Keol-chi berpapasan dengan Baek-mae, yang baru saja tiba di Hanyang. Sesuatu tentang penampilan wanita itu menjentik ingatannya Keol-chi, dan dia berhenti untuk mengenang wajah yang familier itu. Ketika Keol-chi ingat bagaimana dia mengenal wanita itu, Keol-chi mengatakan pada Iljimae kalau wanita itu – kemungkinan – adalah ibunya. Iljimae tidak yakin, tapi wanita itu sangat mirip dengannya. Iljimae mulai menyusul Baek-mae, tapi dia sudah berbelok ke jalan lain dan mereka kehilangan jejak Baek-mae.

 

Baek-mae menjelaskan tujuannya kembali ke Hanyang pada Soo-ryun, yang melihatnya di depan kantor polisi. Baek-mae merasakan hal yang tidak nyaman dan mengalami mimpi buruk sehingga dia khawatir pada keselamatan Gu Ja-myung. Soo-ryun bertanya-tanya apakah mimpi Baek-mae ada hubungannya dengan masalah yang menimpa Iljimae belakangan ini, dan dengan enggan membicarakan hal tersebut. Soo-ryun mengatakan kalau Iljimae telah melakukan pembunuhan dan polisi sedang mencari tahu kasus ini guna menemukan latar belakangnya.

 

Setelah melewati shocknya, Baek-mae mencerna apa akibat dari kejahatan Iljimae, dimana dia sadar kalau itu artinya polisi harus menangkap Iljimae sekarang. Baek-mae meratap kalau seharusnya dia tinggal di rumah dan menunggu berita selanjutnya dengan keyakinan, sebab perjalannya ke Hanyang mengatakan bahwa, “Aku berkata aku percaya padanya, tapi dalam kebenaran aku sama sekali tidak memiliki apapun.”

 

Baek-mae meminta Soo-ryun untuk tidak mengatakan pada Gu kalau dia sempat kesini dan berkata, “Aku lebih takut sekarang ketimbang sebelumnya, hingga aku mungkin kehilangan salah satu dari mereka.” Iljimae dan Keol-chi kembali ke kuil, hanya untuk mendapati kalau Wol-hee sudah ditangkap oleh para pemburu. Iljimae kesal sebab Yeol-gong membiarkan hal tersebut terjadi, tapi Yeol-gong mengatakan kalau dia hanya seorang biksu – apa Iljimae mengharapkannya bertarung? Dan juga kelompok pemburu itu membawa senapan.

 

Mereka juga meninggalkan pesan untuk Iljimae, yang mengatakan kalau Iljimae harus membawa apa yang sudah dia curi dari Tuan Kwon dan mengantarkannya ke Kim Ja-jeom. Ini membuktikan kalau Kim Ja-jeom terlibat dalam konspirasi menjual Negara itu dan lebih jauh, dia pastilan orang dibalik aksi Tuan Kwon. Hal ini membawa mereka ke rumah Bae Sun-dal dan Cha-dol, yang senang melihat Iljimae di tengah2 mereka. Mereka seperti penggemar berat Iljimae, dimana keduanya menggenggam tangan Iljimae dengan kagum. Iljimae menarik tangannya dari Cha-dol, sebab dia merasa tidak nyaman pada perhatian seperti itu.

 

Alasan kunjungan ini adalah karena rumah Cha-dol dan Bae Sun-dal kebetulan berdekatan dengan Kim Ja-jeom. Iljimae menanyakan pada mereka informasi tentang penghuni rumah itu serta denah rumah Kim Ja-jeom, mencoba mendapatkan beberapa detail untuk menyelamatkan Wol-hee.

 

Pada saat itu, Wol-hee disekap di ruang penyimpanan besar di rumah itu, meski begitu dia tidak takut kali ini. Sebaliknya, dia menantikan Iljimae akan datang menyelamatkannya. Reaksi Wol-hee berubah menjadi jijik ketika Kim Ja-jeom memeriksa keadaannya, dia senang karena sudah menangkap umpan yang sangat sempurna. Dengan Wol-hee aman disekap di gudang, tim pemburu Park Su-dong menyebar dan bersembunyi di tempat2 tertentu dan mempersiapkan diri mereka untuk kedatangan Iljimae.

 

Akan tetapi, ramalan sang dukun wanita sedikit berbeda, sebab dia mengatakan pada Kim Ja-jeom kalau dia tidak bisa merasakan apapun saat ini dan bahwa Iljimae tidak akan beraksi setidaknya hingga sepuluh hari lagi. Itu membuat Kim tenang dan meminta para pemburu untuk keluar dari tempat persembunyiannya. Tidak ada gunanya bersiaga seperti itu ketika tidak akan ada hal yang terjadi. Lebih jauh, Kim Ja-jeom merasa senang sebab ada satu tim pemburu yang akan melawan Iljimae.

Untuk itulah, dia memanggil para gisaeng untuk berpesta malam ini. Park Su-dong tidak begitu tenang dan tetap berjaga, tidak ikut menikmati kemewahan itu. Dia melangkah keluar, menjauh dari pesta itu, dimana dia bertemu dengan bangsawan yang sangat tampan…