Arang and the Magistrate Episode 2

Eun-oh menyadari kalau Arang merupakan sumber info tentang ibunya yg menghilang dan berkuda melewati malaikat kematian untuk menaikkan Arang ke atas kudanya. Mu-young begitu bersemangat dan kekuatan mistisnya sepertinya menambah kecepatannya.

Arang mengernyit ketika dia mengambil segenggam bunga peach, soalnya bunga itu merupakan pisau tajam bagi param hantu, dan melemparnya ke belakang. Mu-young berhenti dan melindungi dirinya, salah satu bunga melukai wajahnya.

Ketika sampai di pinggir sungai, Eun-oh masih tetap marah dan menarik jepit rambut itu dari rambut Arang. Flashback menunjukkan kalau dia memberikan jepit itu untuk ibunya dan sekarang dia bertanya dimana Arang mengambilnya.

Arang menarik kembali jepitnya dan menjawab kalau benda itu miliknya – dia sudah memakainya saat terbangun sebagai hantu jadi pasti miliknya saat dia masih hidup. Eun-oh berpikir Arang bertemu dengan ibunya sebelum mati tapi ingatan Arang yg belum kembali tidak membantu apapun. Arang mengucapkan terima kasih atas pertolongan Eun-oh dan pergi. Tapi Eun-oh memanggilnya dan mau membantu menemukan nama asli Arang – mungkin nantinya dia ingat soal ibu Eun-oh.

Arang senang dan mengatakan kalau dirinya benar, Arang berpikir kalau Eun-oh benar2 baik, simpatik meski dia sering bersikap dingin. Arang: “Aku penilai karakter yg hebat!” Arang terus ngoceh yg terus didengarkan Eun-oh, meski Eun-oh mengeluh tentang hantu yg tetap di dunia alih2 pergi ke dunia sana.

Arang berkata, “Jika kau belum mati, diamlah. Semua orang punya alasan masing2.” Contohnya adalah pencarian namanya. “Apa kau tahu betapa sedihnya tidak mengetahui siapa kau sebenarnya?” Eun-oh mengatakan kalau malaikat maut memanggilnya Arang, tapi menambahkan, “Aku tidak akan memanggil namamu, Amnesia.” Arang mengatakan tidak masalah, sebab mereka tidak akan lama bersama hingga harus menggunakan nama.

Mu-young tiba di Surga untuk bertemu dengan raja dan berhenti untuk melihat peri yg merawat kebun. Raja menebak kalau Mu-young sedang memikirkan adiknya dan mengatakan sekali mereka tiba di dunia roh, mereka harus memutus hubungan mereka dalam kehidupan nyata.

Mu-young melaporkan kalau dia belum menangkap hantu yg kabur. Raja Neraka datang dan bertanya bagaimana tali merah Arang bisa lepas. Raja Surga mengatakan Arang akan datang sendiri – benih takdir sudah disebar dan sudah waktunya tumbuh.

Untuk menunjukkannya, Raja Surga menyentuh bunga di taman dan semua bunga berubah putih. Raja Surga: “Inilah takdir – takdir selalu berputar dan pada satu titik semuanya kembali pada tempatnya.” Sebuah sentuhan lain dan bunga kembali seperti semula.

Kembali ke Miryang. Eun-oh mengejutkan Dol-swe dengan mengatakan keinginannya menjadi hakim. Dol-swe khawatir tuannya menderita luka dan karena dia gampang marah dank eras kepala, Dol-swe menyalahkan petugas pemerintah dan langsung mencari mereka.

Trio pegawai pemerintah itu, saat ini sedang khawatir pada hakim baru yg tidak mati. Bang nomer 1: menulis surat pada raja menjelaskan bagaimana hakim yg baru kabur tanpa peduli pada posisinya untuk itu dia menghina raja. Dia berhenti sebentar – bukankah dia benar? Bang nomer 2: “Aku rasa itu bagus. Bukankah itu yg dikatakan semua orang penting.”

Dol-swe masuk dan menarik kerah baju mereka, bertanya apa yg mereka lakukan pada tuannya. Eun-oh menghentikan itu semua. Ketiga Bang itu mendesah kalau posisi mereka sudah berakhir. Jadi mereka harus menikmati tidak memiliki bos dan memilih jalan mereka sendiri menjalankan pemerintahan.

Mereka bertanya apa yg bisa mereka lalukan. Eun-oh putra seorang bangsawan, jadi mereka tidak bisa melakukan apapun padanya. Bang 1 punya ide yg mungkin bagus. Mereka tetap harus mengisi jabatan itu dan mungkin mereka bisa mendapatkan hakim atau membohong hakim itu.

Itu artinya mereka ingin mengamati Eun-oh sebentar, untuk mengetahui kepribadiannya. Dan juga, seseorang harus mengunjungi keluarga bangsawa, keluarga Choi. Ketiga orang itu saling pandang.

Lee-bang berlutut di depan Tuan Choi, minta maaf karena memilih hakim asal2an. Ayah Eun-oh patut diwaspadai sebab Tuan Kim sangat kuat (meski belakangan ini sering absent dari dunia politik), dan begitu juga Tuan Choi. Ditanya apa yg dicari Eun-oh, Lee-bang menjawab, “Seorang wa..wa…wanita…”

Arang duduk untuk diambil gambar. Eun-oh bekerja keras menggambar wajahnya, untuk dipakai bertanya pada penduduk sekitar soal identitasnya. Masalahnya, Eun-oh artis payah, meski begitu dia puas dengan hasil gambarnya sampai Arang berteriak ngeri, “Aku terlihat seperti itu?”

Eun-oh bertahan, tetap menggambar dan menggambar yg diintai oleh para Bang. Akhirnya, Eun-oh membawa seorang artis sungguhan untuk menggambar, meski sang pelukis merasa semuanya begitu aneh – dia tidak bisa melihat hantu, jadi Eun-oh memandang lemas ke udara yg kosong.

Lee-bang menjelaskan pada Tuan Choi kalau yg Eun-oh lakukan hanya mengurung diri dan menggambar wajah seorang waniya. Tuan Choi memerintahkan apa yg Eun-oh cari. Sementara itu, bagi Eun-oh semuanya kacau jadi dia mencoba taktik lain: dimana Arang meninggal? Mereka bisa mencari jejak disana.

Masalahnya, Arang tidak tahu. Dia bangun di wilayah transit, mengikuti malaikat maut. Arang menawarkan dua klu tentang dirinya: (1) dia hantu amnesia yg berkeliaran di dunia selama 3 tahun dan (2) dia sering merasa sakit di tubuh bagian kirinya, sepertinya dia ditikam di bagian itu. Eun-oh: “Kenapa mengatakannya sekarang?”

Tugas pertama sebagai hakim: Eun-oh memerintahkan para Bang membawakannya catatan kasus pembunuhan yg tidak terpecahkan selama 3 tahun belakangan. Eun-oh membuka halaman demi halaman dan daftar itu hanya berisi catatan kematian dgn alasan seperti: bertengkar dgn ibu mertua, selingkuh. Eun-oh komen, “Kenapa mereka semua berhasrat membunuh?”

Tidak ada apa2. Arang bertanya2 apa mungkin bukan pembunuhan atau mungkin mayatnya belum ditemukan. Arang marah pd cara Eun-oh mengomentari idenya dengan tertawa. Eun-oh: “Kau pasti sedang membusuk sendirian di suatu tempat.” Arang menuduh Eun-oh tidak serius.

Arang berlari keluar kantor dan marah. Dia mengeluh kalau dia salah soal Eun-oh. Eun-oh bertanya-tanya apa yg harus dilakukan selanjutnya ketika jalan2 malamnya membawanya ke sebuah rumah yg menarik perhatiannya. Gerbangnya terkunci jadi dia melompat lewat tembok.

Cahaya menyala di dalam rumah dan dia membuka pintu pelan2. Eun-oh memperhatikan isi ruangan itu: buku masih terbuka, aksesoris wanita dan kosmetik masih bertebaran.

Saat melihat sekeliling, mata Eun-oh membelalak melihat bordiran kain dengan kupu2 menempel disana. Berjalan-jalan di daerah yg sama, Arang berhenti di luar sebuah rumah dan bertanya-tanya, “Apa yg mereka sedang lakukan di sana?”

Beberapa hantu mondar mandir di gerbang. Arang bertanya apa yg terjadi dan diberitahu ada perayaan di dalam sana. Arang langsung ingat ketika dia berkeliaran dengan perut lapar. Sesosok hantu menawarkan nasi padanya yang langsung di habiskan.

Hantu itu menanyakan namanya dan kaget waktu bilang tidak tahu. Hantu itu memberitahu Arang kalau hantu perawan disebut Arang. Hantu itu menyuruh Arang menggunakan nama itu sala. Hantu itu juga memperingatkan kalau Arang akan kelaparan, dan mengatakan kalau mereka bisa makan dari nasi yg ditebar saat perayaan.

Sekarang Arang senang mendengar ada nasi gratis. Sedangkan Eun-oh melanjutkan penyelidikan, tapi seorang pelayan muncul dan memarahinya karena masuk tanpa permisi lalu menyuruh Eun-oh mengembalikan semua barang ke tempatnya semula.

Eun-oh memperkenalkan dirinya sebagai hakin yg baru dan bertanya kamar itu punya siapa. Pelayan itu mengatakan kamar itu milik putri hakim sebelumnya. Kamar itu belum dibersihkan sebab gadis itu menghilang dan kamarnya harus tetap sama saat dia kembali: “Kamar itu segalanya baginya.” Semua berputra di kepala Eun-oh dan dia bertanya kapan menghilangnya. Tiga tahun lalu. Eun-oh berkata, “Aku menemukanmu, Amnesia.”

Para hantu masih berdesakan dan siap menerkam makanan yg akan di lempar. Arang malah pergi ke tengah2 kerumunan itu.

Gerbang dibuka. Seorang pelayan muncul membawa semangkuk makanan dan mengaturnya di depan rumah. Para hantu mulai berlari, menarik satu sama lain dan terbang melingkar mengambil mangkuk itu, yg terbang ke udara. Nasehat hantu yg dulu itu mendengung di telinga Arang: dia harus melakukan segalanya mendapatkan makanan, pertahanan terbaik hantu.

Arang kalah dari hantu lainnya yg kabur. Hantu yg tersisa beralih kepadanya, mengatakan kalau semua ini salah Arang. Mereka pergi sambil mengutuk Arang dan Arang mengeluh kalau hantu sebaiknya tidak berkelompok seperti itu lalu berteriak, “Apa kalian tidak punya harga diri?”

Saat dia sampai di tempat Eun-oh, Eun-oh sudah menunggu dengan kesal dan bertanya Arang pergi kemana. Eun-oh tidak sabar dan menarik tangan Arang untuk dibawa ke kamar itu, sambil mengatakan dia sudah menemukannya: Lee Seo-rim dulu namanya.

Arang mengambil isi ruangan itu seperti orang asing, memandangi semuanya seperti tidak kenal. Dia bertanya, “Apa kau yakin?” Eun-oh mengiyakan, menunjuk ke bordiran. Desainnya sama seperti di baju Arang. Tapi Arang tidak ingat apapun, dan tidak ada seberkas koneksi. Eun-oh mendesah kecewa.

Eun-oh bertanya pada trio Bang dan mereka berdecak-decak soal hilangnya gadis itu sbg yg tdk dapat dikategorikan: gadis itu jatuh cinta pada seorang laki2 dan kabur. Wanita kaya, yg tidak pernah menyangka dia akan kabur demi pejabat rendahan? Eun-oh marah2 mendengar penjelasan itu. Arang, yg juga mendengarkan, mendelik.

Trio Bang mengatakan tidak ada yg tahu wajah gadis itu, sebab dia selalu dikurung di kamar itu – yg membuat semakin aneh sebab dia bisa jatuh cinta pada seorang pria. Ayah gadis itu mencari kemana-mana, memerintahkan seluruh anak buahnya melakukan pencarian, tapi kemudian meninggal. Gadis itu tidak punya keluarga lain.

Tapi Lee-bang mengatakan, ada pihak lain yg terluka oleh rumor itu: gadis itu sudah bertunangan. Eun-oh berbicara dgn Arang, memintanya bersabar. Arang meringkuk di pojok, sambil mencongkel tanah dgn tongkat (aku kok inget Sin-chan!). Eun-oh hanya tertarik pada kembalinya ingatan Arang, tapi tetap saja tidak ada perubahan.

Arang memutuskan kalau dia harus bertemu tunangannya untuk bertanya manusia seperti apa dirinya. Tapi dia tidak bisa berbicara padanya, jadi… bisakah Eun-oh membantu?

Eun-oh melotot – dia tidak akan keluar sana dan mengumumkan dia bisa melihat hantu. Arang mendesah kalau Eun-oh benar dan berterima kasih atas bantuannya, lalu mengucapkan selamat tinggal. Soalnya mereka tidak punya alasan bertemu lagi.

Eun-oh tidak terima itu, matanya mendarat pada jepit rambut Arang. Dengan enggan, Eun-oh memanggil Arang, setuju untuk bertemu dengan tunangannya. Arang bersinar penuh semangat dan Eun-oh terlihat kesal.

Hari berikutnya, Eun-oh tiba di gerbang rumah tunangan Arang… yg ternyata Joo-wal, anak Tuan Choi. Eun-oh berbisik ke Arang – bagaimana bisa dia memilih pria miskin padahal ada pria kaya ini, bangsawa pula?

Dari balik tembok, Eun-oh melihat sekilas Joo-wal sedang melukis di halaman. Arang mengintip penasaran… dan nafasnya menjadi berat. Dia memegang dadanya dan bertanya-tanya pada reaksinya. Apa ini kegembiraan? Sakit?

Arang mengatakan kalau dia tdk bisa masuk ke dalam. Sambil menepuk dada dia berkata, “Ini balapan dan aku tidak bisa bernafas.” Eun-oh tidak percaya ini dan mengatakan hantu tidak punya jantung untuk dikhawatirkan dan Arang menepuk dadanya, dia mengatakan yg sejujurnya. Eun-oh berbalik akan menunjuk dada Arang tapi tiba2 ingat sebelum melakukannya.

Eun-oh menarik tangan Arang mengajaknya masuk. Tapi Arang bertahan dan mengatakan dia akan pergi lain kali. Dia terlalu malu bertemu hari ini. Eun-oh mencoba memaksanya tapi Arang tetap menolak, jadi Eun-oh menyerah dan mulai berteriak menarik perhatian Joo-wal, kalau begitu. Arang menutup mulut Eun-oh dan menyeretnya pergi. Yg tentu saja merupakan hal aneh bagi yg tidak bisa melihat hantu.

Eun-oh lupa diri dan bereaksi ke Arang dihadapan orang lain, seperti yg Eun-oh lakukan di kedai tempat mereka berhenti untuk minum. Arang menegak semua anggur beras-nya dan mengambil botol yg baru dan Eun-oh mencoba menghentikannya.

Arang sedang sakit hati. Rupanya cintanya bertepuk sebelah tangan, hanya rasa sakit tanpa kebahagiaan. Eun-oh bertanya apa alasan Arang bersikap begini dan Arang menjawab, “Aku pasti sangat menyukainya.”

Eun-oh berujar tajam kenapa gadis yg mencintai tunangannya berkhianat dengan kabur bersama orang lain. Arang juga tidak mengerti tapi menolak bertemu dengan Joo-wal. Dia pasti sangat peduli pada Joo-wal dan karenanya dia tidak boleh menemui Joo-wal seperti ini.

Eun-oh hanya berujar kalau Arang sudah meninggal, “Joo-wal tidak bisa melihatmu!” Arang menjawab, “Tetap saja, aku tidak bisa! Hati wanita tidak seperti yg kau pikirkan.” Meski dia tidak bisa dilihat, dia ingin bertemu Joo-wal tanpa rasa malu.

Eun-oh memandang kasihan pada Arang. Sedangkan Arang hanya bisa mengubur dirinya di lengannya, berkata kalau siapapun tidak akan memberikan baju pada hantu sepertinya, “Aku rasa aku harus pergi ke dunia sana.”

Eun-oh jelas tidak suka mendengar ini. Apalagi kunci tentang keberadaan ibunya adalah Arang. Mereka menuju toko baju. Dengan digendong pula! Dan Arang ternyata berat juga sampai2 Eun-oh mengatakan kalau Arang lebih ringan waktu dia diangkat naik ke kudanya.

Wajah Arang ada tepat di sebelah wajah Eun-oh dan dia membeku beberapa saat. Merasakan sesuatu? Tapi setelah pipi Arang benar2 menyentuh pipi Eun-oh, barulah Eun-oh merasakan sentuhan dingin dan menjatuhkan Arang.

Eun-oh memperingatkan dirinya kalau dia tidak harus susah payah membantu Arang berdiri sebab tidak ada orang yg bisa melihatnya. Eun-oh mengatakan kalau dia harus pelan2: “Soalnya punggungku sangat berharga!”

Eun-oh mengangkat Arang lagi, lalu ada pejalan kaki yg memandangi Eun-oh dengan aneh. Bum! Dia menjatuhkan Arang lagi. Untungnya, Arang tetap tidur sepanjang waktu. Hahahaha!

Joo-wal muncul secara tidak terduga di tempat gisaeng, yg membuat semua gisaeng kegirangan. Ini merupakan pertama kalinya Joo-wal ke tempat seperti ini, seperti kata pelayannya, meski begitu Joo-wal kelihatannya tidak akan menjelaskan alasannya pergi ke tempat seperti itu.

Joo-wal duduk sendiri di sebuah meja panjang, sedangkan para gisaeng berkumpul di sisi meja yg lainnya, berharap dipilih Joo-wal. Dia sebenarnya menyewa seluruh tempat itu utk malam ini, tapi bukan utk kegiatan seperti biasa. Joo-wal memandangi barisan itu dan melihat cincin hitamnya.

Seperti dia mencari sesuatu atau seseorang, tapi tidak dia temukan. Dia berdiri kecewa, tidak memilih siapapun. Ketika keluar, Joo-wal bertanya pada dirinya sendiri, “Apa yg aku lakukan disini? Apa kau gila, berpikir bisa menemukannya di tempat seperti ini?”

Joo-wal kembali ke dirinya yg semula. Seorang gisaeng mengikutinya untuk menggodanya. Tapi dia mendorong wanita itu dengan kasar. Tapi sesuatu pada diri wanita itu menarik perhatian Joo-wal dan dengan cepat dia mendorong wanita itu ke pohon dan menodongkan belati ke lehernya. Wanita itu gemetar ketakutan dan Joo-wal berubah pikiran lagi. Setelah memperingatkan wanita itu utk berhenti, Joo-wal pergi.

Eun-oh mengeluh dan tersandung bersama Arang di punggungnya. Setelah sampai, Arang bertanya, “Apa aku tidak berat?” Ternyata dia sudah bangun jauh sebelaumnya, yg membuat Eun-oh terkejut.

Mereka menemui Bang-wool, yg tidak takut lagi mendengar suara Arang. Khususnya ketika Arang meminta Bang-wool memberikannya baju baru yg paling bagus, soalnya usaha terakhir mereka mendapatkan baju baru sangat kacau.

Tapi Eun-oh melemparkan uang pada Bang-wool, yg membuatnya berubah pikiran. Dia perlu bantuan lain sebab Bang-wool tidak bisa melihat Arang. Yg pertama soal ukuran baju Arang. Arang mengatakan kalau dia bisa melakukannya sendiri, tapi dia malu menyebutkan ukurannya. Dia berbisik ke telinga Bang-wool yg ternyata malah mengucapkannya keras2.

Sisanya, pengukuran baju itu membuat Eun-oh dan Arang semakin dekat. Mereka saling pandang dan kesadaran itu semakin tumbuh ketika Eun-oh menyentuh bahu, lengan dan tangan Arang.

Bang-wool mengatakan sesi itu sudah selesai, mengatakan kalau berdasarkan angka2 itu, Arang memiliki bentuk tubuh yg bagus.

Karena suasana masih kaku diantara mereka, Arang menghilang terlebih dahulu. Bang-wool menahan Eun-oh utk bertanya bagaimana dia bisa melihat hantu. Apa ada metode rahasia? Eun-oh hanya memperingatkan Bang-wool agar tidak memberitahu siapapun dia bisa melihat hantu, kalau Bang-wool tidak mau menjadi salah satu dari mereka. Eun-oh pergi sambil menepuk dadanya, “Ada apa denganku? Apa kau gila? Aku pasti gila.”

Eun-oh tidak melihat Arang yg melihatnya dari atap, tersenyum. Dia terkesan dengan kebaikan Eun-oh soal baju barunya dan sekarang dia mengucapkan selamat pada dirinya karena menjadi penilai karakter yg baik.

Ketika Eun-oh menyeberangi jembatan utk kembali ke kota, dia berjumpa Joo-wal yg datang dari arah berlawanan. Mereka berpapasan dengan diam, tapi Eun-oh bertanya apa yg Arang lihat dalam diri pria itu.

Tuan Choi menerima laporan kalau Joo-wal baru kembali dari tempat gisaeng. Ayah merasa itu aneh, tapi tahu kalau Joo-wal sedang tidak menjadi dirinya sendiri. Tapi kemudian ayah bertanya berapa lama sampai bulan sabit. Joo-wal berdiri di luar memandangi bulan purnama.

Sesuatu membangunkan Eun-oh ditengah malam. Dia membuka mata dan menemukan Arang berbaring di sisinya, memandanginya. Arang mengatakan semua orang punya kesedihannya dan bertanya apa Eun-oh tahu kesedihannya. Eun-oh: “Memakai baju yg sama selama 3 tahun?”

Arang menggeleng, “Bukan. Tapi menjadi hantu perawan tanpa pernah merasakan satu ciuman.” Eun-oh: “Apa?”

Mata Eun-oh melebar. Arang semakin mendekat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s