Arang and the Magistrate Episode 1

Episode perdana dibuka dengan pemberitahuan kalau tembok yg membedakan kehidupan ini dengan kehidupan berikutnya telah rusak. Jadi hantu berkeliaran di dunia manusia. Hantu bisa melihat manusia tapi manusia tidak bisa melihat hantu.

Ada satu pria yang bisa melihat hantu dan sedang menuju ke Miryang, mencari ibunya yang menghilang 3 tahun yg lalu. Dia Eun-oh (Lee Jun Ki), sedang tertidur di dekat batu sementara pelayannya Dol-swe berhenti untuk minum. Dol-swe mengeluh kalau tuannya seharusnya mencari hantu, tapi dia malah tertidur saat melakukannya pekerjaan itu.

Dol-swe mendesah kalau dia tidak bisa marah pada tuan untuk hal yg tidak bisa dia lakukan, seperti “Aku minta maaf,” “Terima kasih,” atau “Aku mencintaimu.” Eun-oh mengatakan kalau hal2 itu tidak memiliki tujuan berguna dalam hidup. Dia melihat ke langit dan memprediksi akan ada badai.

Di tempat lain di hutan, Arang (Shin Min Ah) mengejar seseorang atau sesuatu, kesal karena mereka sudah tinggal bersama dan makan bersama atas bantuan Arang, dan sekarang mereka kabur. Arang mengikat rambutnya, menaikkan rok-nya dan melompati batu besar ketika dia berlari membelah hutan.

Sebuah karafan lewat di jalan, dan tiba2 muncul hantu dari udara dari balik pepohonan. Ini sekelompok hantu bandit, mengawasi karafan itu. Salah satu hantu khawatir kalau mereka tdk bisa melakukan ini tanpa Arang, tapi sang pemimpin mengatakan mereka tdk perlu Arang.

Mereka melakukan serangan, yg jadi begitu mudah soalnya mereka tidak terlihat – mereka menakuti manusia itu dengan melompat di belakang manusia2 itu dan tiba2 saja para manusia tercekik dan pingsan.

Hantu yg lain siap bergabung, ketika Arang muncul tepat dihadapan mereka, marah. Mereka ketakutan. Sang pemimpin mencoba berpura-pura kalau mereka sedang menunggu Arang. Tapi dia mendapat tinju dari Arang.

Arang sebenarnya akan mengajari mereka beberapa hal, ketika sesuatu mengalihkan perhatiannya. Dia menengadah. Sebuah jarring raksasa jatuh dari langit dan semua hantu ketakutan. Tiga hantu terjebak. Lalu, tiga malaikat maut muncul dari langit, dalam tugas berburu mereka.

Mereka berburu dengan benda2 mistis, yg semuanya berfungsi sama – menyedot hantu, membuat mereka menghilang. Salah satu malaikat maut Mu-young (Han Jung Soo) mengepung Arang dan Arang kabur menyelamatkan diri.

Eun-oh dan Dol-swe melanjutkan perjalanan melewati hutan yg mengerikan dan Dol-swe mengatakan kalau orang2 bilang gunung itu sangat berhubungan erat dengan hantu. Eun-oh mendesah, “Tidak ada hantu!”

Dol-swe bergumam: apakah tuan yakin Miryang merupakan tempat terakhir dimana ibunya terlihat? Sebab ada rumor tentang kota itu, dan tentang bagaimana setiap hakim yg tiba disana mati…

Eun-oh mendengar keributan di belakang mereka dan berhenti. Dol-swe tegang dan Eun-oh menunjuk ke bahunya, “Hantu… di belakangmu!” Dol-swe ketakutan dan Eun-oh tertawa atas leluconnya itu. Hanya saja, saat dia menoleh, Arang sedang berlari ke arahnya dengan kecepatan penuh.

Eun-oh bisa melihat Arang dan Malaikat maut dan jelas sekali ini bukan untuk yg pertama kalinya dia melihat makhluk halus. Tangannya menegang dan dia memandang lurus ke depan saat Arang melewatinya (orang tua di Bali juga ngasi tahu buat memandang lurus ke depan kalau kebetulan lihat hantu!). Tongkat malaikat maut melayang melewati wajah Eun-oh, memukul Arang.

Eun-oh menguatkan dirinya dan berjalan melewati makhluk halus itu, berusaha mengabaikan mereka. Mu-young melayang di atas Arang dan Arang bertanya apa yg Kepala Malaikat Mau lakukan dengan mengejar seorang hantu – atau mungkin Mu-young seharusnya tidak melepaskan Arang di Sungai Kematian.

Mu-young memanggil nama Arang dan mendesah, lebih seperti orang tua dengan anaknya yg nakal lalu menjelaskan kalau dia harus membayar kesalahannya juga. Tapi Arang juga harus mengikuti aturan orang mati.

Arang memaki kalau orang yg kehausan menggali sumur – itu juga hukum. Arang lalu melangkah mundur dan memasang pertahanan. Mu-young mengeluarkan tali merah. Arang menggapai sakunya dan bertanya, “Kau suka bunga peach, bukan?” lalu melemparkan segenggam kelopak bunga ke arah Mu-young. Mu-young menghindar dan melindungi wajahnya. Kelopak bunga itu melukai tangannya.

Ketika Mu-young berbalik lagi, Arang sudah menghilang. Mu-young berteriak, “Arang!” Eun-oh mendengar teriakan itu dan berusaha mengabaikannya, dan saat itu juga hujan turun. Eun-oh dan Dol-swe masuk ke rumah tua untuk menginap malam itu.

Sementara itu Arang kabur dan juga kehujanan. Dia membuka tangannya, takut karena kelopak bunga peach itu dan luka2nya ternyata sudah sembuh. Arang menghadap ke langit pada Raja Surga dan berteriak: “Kau pikir kau sehebat itu?!”

Dan di jembatan antara neraka dan surga, Kaisar Langit (Yoo Seung Ho) memasang telinganya, “Seseorang pasti mengutuk namaku!” Dia sedang bermain badook dengan saudara kembarnya, Raja Neraka (Park Joon Kyu), yg begitu ingin memenangkan permainan itu. Raja Surga lebih tertarik pada peri yg membawakan the untuknya. Dia tersenyum dan memuji gaya rambut sang peri. Wkwkwkwk…

Sang peri mengatakan kalau dia memiliki tatanan rambut yg sama kemarin, lusa, dan selama ratusan tahun. Hehehehe… Raja Neraka mengatakan kalau sekarang gilirannya. Dia menambahkan kalau hal itu juga bukan masalah lagi sebab dia sudah menang. Raja Surga melihat papan permainan (yg terbuat dari air) dan mencemplungkan miliknya ke bawah.

Raja Surga: “Oh. Oh, tidak, tidak… aku minta maaf. Aku benar2 tidak berencana memenangkan babak yg ini!” Raja Neraka marah dan Raja Surga dengan cepat mengganto topic, bertanya-tanya apakah Mu-young sudah menangkap ‘anak itu’ sekarang. Raja Surga langsung menuju Surga, meninggalkan saudaranya berteriak marah di jembatan itu.

Surga merupakan taman yg sangat indah dan Raja bicara pada kambingnya, mengatakan kalau dia tidak bermaksud memenangkannya, hanya Raja Neraka cenderung memperhitungkan semua hal kecil, “Dan ada begitu banyak hal di dunia ini yg tidak berjalan menurut perhitungan, bukan?”

Raja menyiram bunga yg tumbuh di punggung kabing, dan beralih ke bumi dimana hutan sedang diguyur hujan. Arang berlari di bawah pohon dan memetik daun untuk dipakai sebagai payung. Gumiho banget!

Ketika Dol-swe tidur, Eun-oh mendekat ke perapian dan terjaga sambil memikirkan ibunya. Flashback ke perisahan mereka, ketika Eun-oh mengatakan kalau dia ingin tinggal bersama ibunya. Ibu berteriak agar dia jangan bodoh – jika tinggal dengan ibu maka Eun-oh adalah anak budak dan jika tinggal dengan ayah, dia bangsawan.

Eun-oh menjawab kalau semua itu tdk berarti dan dia juga bukan keduanya, jadi dia akan hidup semaunya bersama ibu. Ibu berkata semua ini salah manusia, dan ketika Eun-oh memohon sambil menangis, ibu menamparnya dan menyuruhnya pergi. Eun-oh pergi dengan marah dan saat kembali esok harinya, ibu sudah pergi.

Kembali ke masa kini, perenungan Eun-oh terpotong karena Arang masuk ke rumah itu untuk menghindari hujan. Dia melewati api dan duduk di dekat api, sambil mengeluh kalau menjadi hantu tdk bisa membuatnya terhindar dari hujan.

Arang mengeluh kalau meski tdk kedinginan, tidak banyak perbedaan dengan manusia. Eun-oh mengatakan pada dirinya agar tidak menunjukkan pada Arang kalau dia bisa melihatnya, yg awalnya memang tidak pernah diduga oleh Arang sampai dia melucuti apinya.

Mata Eun-oh melebar dan mulutya ternganga. Pandangan mereka bertemu beberapa saat dan Arang dengan cepat berlindung, “Apa kau… bisa melihatku?” Eun-oh menjawab dalam hati, “Aku tidak bisa melihatmu.” Arang mengibaskan tangannya dan mendekat ke wajah Eun-oh, dan Eun-oh jadi tegang dan berusaha keras tidak bergerak. Arang: “Bisakah kau melihatku?”

Wajah Arang dan Eun-oh begitu dekat. Eun-ho tida bergerak jadi Arang menaikkan tangannya dan mencubit wajah Eun-oh dan kontak antara manusia dan hantu menimbulkan pijar biru. Eun-oh mengatakan pada dirinya untuk bertahan sebab kalau hantu itu tahu bakal tambah menyebalkan. Arang tdk mendapat respon jadi kali ini dia meniup-niup wajah Eun-oh.

Tapi Dol-swe mendengkur keras, memecah momen itu dan Eun-oh mendesah dlm hati. Kesal, Arang duduk di atas Dol-swe untuk membuatnya diam. Arang mendesah kalau tdk mungkin pria itu melihatnya dan bertanya-tanya pria itu punya cerita apa.

Arang mengatakan ceritanya pasti tdk bisa dibandingkan dengan dirinya dan dia punya ide, “Apa kau mau mendengar ceritaku?” Eun-oh (dalam hati), “Sial. Jangan ceritakan padaku. Aku tdk bisa mendengarmu!” Arang tdk punya teman bicara jadi dia hanya bicara keras2 pada dirinya dan pura2 Eun-oh bisa mendengarnya sedangkan Eun-oh pura2 tdk bisa mendengar tapi juga tdk bisa menahan diri mendengar cerita Arang.

Arang menceritakan bagaimana dia bangun suatu pagi dan dipimpin oleh seorang malaikat maut. Flashback ke saat dimana Arang bangun sebagai hantu, ketika malaikat maut menuntun Arang berjalan melewati hutan menuju sungai, terikat dengan tali merah. Tapi talinya tiba2 terlepas dan dia kabur ke arah yang lain.

Kembali ke masa kini, Arang mengatakan semua ini aneh – dia tidak ingat siapa dirinya, atau bagaimana dia mati. Dia memandang langit dan berkata kalau semua ini salah Kaisar Langit; dia tahu itu. Arang bergumam menyebut kaisar pria tua.

Arang kecewa karena Eun-oh toh tidak bisa mendengar, sebab dia ingin sekali meminta pertolongan Eun-oh. Saat itulah Eun-oh menguap dan tidur. Dia sudah mendengar cerita dari hantu dan permintaan aneh mereka. Tidak lebih dari itu.

Arang merajuk kalau Eun-oh sudah tidur lalu berbaring di sebelah Eun-oh. Eun-oh heran, apa yg salah dengan hantu ini, sementara itu Arang hanya memandangi wajah Eun-oh dan tersenyum.

Tangan Arang berada di bahu Eun-oh saat dia tertidur dan Eun-oh menggigil kedinginan. Eun-oh berbalik dan mereka tidur seperti itu, berdampingan. Ketika Eun-oh bangun keesokan paginya, Arang sudah hilang dan Eun-oh tertawa sendiri. Mereka lalu berangkat dengan penuh semangat dan sampai di Miryang.

Ketika Eun-oh dan Dol-swe tiba di pasar, sebuah prosesi membuat macet – hanya untuk satu pria – Bangsawan Choi, yg dikatakan Dol-swe sebagai Raja Miryang. Karena tidak adanya hakim di kota itu, Tuan Choi akhirnya berperan menegakkan hukum disini.

Mengekor di belakang Tuan Choi adalah Joo-wal (Yeon Woo Jin), yg mendapat perhatian dr banyak gadis. Eun-oh memperhatikan ketika seorang warga memohon belas kasihan Tuan Choi, yg mendapat pukulan atas kekacauan yg dibuatnya. Eun-oh berkata, “Dol-swe, kau kenal aku kan? Ketika aku melihat ketidakadilan…” Dol-swe menjawab, “Kau hanya membiarkannya.” Wkwkwkwkw…

Pria itu beralih ke Joo-wal untuk memohon bantuannya dan ketika para pria lainnya bergerak memukulnya lagi, Joo-wal menghentikan mereka. Joo-wal memberikan tatapan dingin pada pria itu dan menyuruhnya pergi dan pria itu kabur.

Dol-swe berkata kalau keluarga itu sedang membangun istana di sekitar sini dan di atas sungao. Hal ini menyebabkan penderitaan bagi orang yg bekerja di proyek itu dan warga kota semakin terjepit dengan pajak untuk membiayai pembangunan itu. Dan Eun-oh bertanya bagaimana Dol-swe selalu tahu apa yg sedang terjadi.

Dol-swe menyarankan agar tuannya memberikan perhatian pada manusia juga, tapi Eun-oh mengatakan kalau dia bukannya tdk bisa melakukan apapun soal itu jika dia tahu masalahnya. Dol-swe mendesah, sudah biasa pada sikap tuannya.

Eun-oh tiba2 menyuruhnya melanjutkan tanpa dirinya dan menyelinap dengan cepat. Dia berbalik arah dan berjalan melewati jalan kecil dengan sengaja, dan berbali, “Kenapa kau mengikutiku?”

Sekelompok hantu kaget, dan seorang pria tua mengatakan mereka mendengar Eun-oh bisa melihat mereka. Pria itu punya permintaan mengenai putrinya, dan berlutut dihadapan Eun-oh untuk meminta bantuannya.

Tapi Eun-oh berbalik dengan dingin, “Pergilah. Ini bukan urusanku.” Eun-oh pergi dan hantu2 itu menghilang. Dan ternyata Arang memperhatikan percakapan itu. Dia kelihatan tidak terlalu terkejut dan berkata, “Kau membodohi hantu?”

Eun-oh berhenti untuk bertanya pd orang lokal soal ibunya dan dia ingat kalau ibunya pernah menginap disana, tapi tidak tahu dia menuju kemana. Eun-oh berbalik untuk pergi dan tiba2 saja berbalik lalu menggenggam sebuah tangan. Arang… kaget, Arang bertanya apakah Eun-oh juga bisa menyentuhnya, tidak hanya melihatnya. Eun-oh mengenali Arang dan bertanya, “Apa kau mengikutiku?”

Arang bertanya apakah Eun-oh mencari seseorang – apa seorang wanita? Ibunya? Eun-oh memelototinya dan Arang berkata, “Benar! Wajahmu seperti kau kehilangan ibumu.” Eun-oh mendekat dan mengancam, “Ingin mati?” Arang ketakutan tapi kemudian ingat, “Aku sudah mati.”

Eun-oh menyuruh Arang pergi tapi dia malah mengikutinya, dan mengaku kalau dia mengerti – Eun-oh mungkin banyak mendapat permintaan dari hantu dan mungkin sangat menganggu. Eun-oh menjawab, “Kalau kau tahu, maka pergilah.”

Arang: “Tetap saja, kita sudah tidur bersama…” itu membuat Eun-oh berhenti. Eun-oh mengatakan mereka tidak melakukan apapun tapi Arang semakin mendekat, “Tidakkah kita tidur bersama tadi malam? Baiklah, kau tahu, sepertinya kau tidak membangun tembok besar setiap waktu, untuk mengatakan kau sudah tidur bersama.”

Arang mulai menceritakan kisahnya lagi dan Eun-oh mengatakan dia sudah mendengarnya. Arang berkata sederhana: dia hanya ingin tahu siapa dirinya. Arang mungkin tidak akan mendengarkan ancaman Eun-oh jadi Eun-oh meraba kantongnya dan mengeluarkan segenggam kacang merah. Itu membuat Arang takut.

Eun-oh berkata dia biasanya tidak melakukan ini tapi dia menyimpan kacang merah untuk hantu menyebalkan. Arang bersembunyi dan Eun-oh melemparnya tapi tdk ke Arang. Eun-oh tertawa tapi mengatakan kalau lain kali dia akan benar2 melakukannya. Arang berteriak marah, apa susahnya mencari beberapa lembar surat – nama orang!

Eun-oh meminta Arang bertanya pada pemerintah dan Arang berkata dia mau tapi tidak ada hakim di kota ini. Eun-oh berkata kalau itu bukan urusannya – dia bukan hakim.

Arang: “Lalau, kalau kau jadi hakim, apa kau mau melakukannya?” Eun-oh: “Jika aku jadi hakim? Tentu saja. Jika aku jadi hakim, aku akan membantumu.” Eun-oh pergi, berpikir kalau dia sudah membereskan Arang. Tapi Arang tersenyum, “Kau berjanji…”

Joo-wal bertemu dengan ayahnya, yg berteriak padanya karena ikut campur di pasar dan menunjukkan rasa kasihan. Joo-wal mengatakan dia hanya terburu-buru ke tempat tujuannya. Hubungan ayah-anak ini sepertinya dingin. Mereka kemudian bertengkar soal menemukannya ‘nya’ dan waktu semakin berkurang.

Berikutnya kita bertemu cenayang Bang-wool, yg harus pergi keluar dan meminta uang dari pelanggannya. Tapi dia memang bisa mendengar dan ketika Arang mengunjunginya, Bang-wool mengatakan kalau Arang sudah berjanji tidak akan datang lagi. Arang berkata dia perlu bantuan…

Di kantor pemerintah, ada trio Lee-bang, Hyung-bang dan Ye-bang. Mereka sebenarnya bodoh, tapi hanya mereka yg tersisa untuk menjalankan kantor pemerintah, karena basennya seorang hakim. Mereka berkata kalau mereka tidak akan menemukan hakim hanya dalam dua hari.

Tapi, Bang-wool datang kesana dan mengatakan kalau dia mendapat firasat akan ada hakim baru. Mereka langsung senang. Mereka menemui Eun-oh… dan membuatnya pingsan.

Mereka tahu kalau ini hanya untuk mengisi tugas pemerintah sebab hakim baru ini pasti akan mati seperti hakim sebelumnya dan membawanya pergi. Sementara itu, Arang menonton dari atap, bergumam kalau seseorang tidak boleh terlalu gampang berjanji.

Yang terjadi di kota itu adalah setiap hakim baru pasti akan mati begitu mereka diangkat jadi hakim. Cerita setempat mengatakan sesosok hantu mendatangi dan membunuh mereka.

Trio di kantor pemerintah tahu mereka telah menyelesaikan pekerjaan mereka jika menempatkan hakim di kantor dan mereka tidak bisa mengelak jika hakim baru ini mati seperti yg lainnya. Setelah mereka menempatkan Eun-oh di ruangan, mereka bertanya-tanya peti mati jenis apa yg harus mereka beli, Lee-bang mengatakan yg paling murah.

Eun-oh bangun di tempat tidur nyaman… terikat. Lee-bang memanggilnya ‘hakim’ dan menyuruhnya istirahat lalu kabur. Lilin mulai meredup dan Eun-oh hanya menyuruh hantu pemburu hakim segera keluar sebab dia tidak punya waktu main petak umpet.

Arang melayang terbalik, yg membuat Eun-oh terkesan. Eun-oh memutar bola matanya dan meminta Arang kembali ke posisi yg benar atau dia akan menarik rambut Arang. Arang memikirkan ulang strateginya dan berdiri.

Arang mengeluarkan suara paling menyesal dan mengingatkan Eun-oh kalau dialah yg berjanji akan menolong jika sudah jadi hakim. Eun-oh meminta Arang melepaskan ikatannya dan memintanya berhenti bersuara seperti itu.

Arang menarik rambutnya ke satu sisi dan bilang kalau ini bukan gayanya, tapi dia diberitahu bersikap begini untuk mendapatkan keinginannya. Eun-oh: “Jadi kapan sikap itu tidak berhasil, apakah saat kau membunuh mereka – semua hakim tdk bersalah itu?”

Arang merajuk kalau dia berasal sangat bersalah atas kasus itu. Flashback menunjukkan kalau dalam usaha agar dilihat oleh para hakim yg tidak bisa melihat hantu, Arang memakai tanaman yg membuatnya terlihat oleh manusia.

Arang mengunjungi hakim yg pertama, yg begitu kaget pada penampakannya hingga kena serangan jantung dan mati di tempat. Arang bertanya apa itu karena penampilannya yg kejam, jadi untuk yg kedua dia tampil lebih cantik hanya saka dia meminum setengah ramuannya…

… jadi dia hanya terlihat dari atas sampai setengah badan dan hakim kedua juga mati. Hakim yg ketiga seorang pendekar yg memanggilnya agar segera keluar… tapi juga mati setelah melihat badan Arang yg hanya dari bagian bawah sampai tengah.

Arang mengatakan kalau itu bukan salahnya dan dia tidak tahu kenapa mereka terus mengirim pria tua penakut sbg hakim. Eun-oh meminta Arang berhenti menggunakan suara seperti itu dan mengatakan kalau Arang hanya membuang waktunya. Eun-oh hanya mendengarkan orang yg masih hidup.

Arang mengataka kalau mereka berdua mirip – Eun-oh kehilagan ibu dan dia kehilangan orang tua. Dia ingin mencari tahu identitasnya jadi dia bisa berpamitan pada ortunya. Arang meneteskan air mata dan Eun-oh berbalik.

Tapi Eun-oh menyuruhnya pergi dan Arang akhirnya menghentikan tangisan palsunya. Eun-oh mengatakan Arang bahkan tidak ingat siapa dirinya – apa yg dia tahu soal ayah dan ibu? Arang pergi dengan marah.

Joo-wal jalan2 di bawah sinar bulan dan mendegarkan percakapan 3 gadis yg lewat. Mereka membicarakan bulan yg jadi yoon-dal, bulan berakar, dan ini merupakan pertanda Surga kehilangan kendali atas mereka yg mati, dan hantu berkeliaran diantara mereka, tidak ada yg tahu mereka mati atau hidup. Joo-wal jelas tertarik pada obrolan ini dan dia memasang cincin hitam di jarinya ketika melihat mereka bertiga pergi.

Pada pagi harinya, trio bodoh itu mengambil peti kecil utk menjemput sang hakim, hanya sekarang mereka begitu sedih karena memilih orang yg masih muda dengan masa depan yg masih panjang. Lee-bang membuka pintunya… Eun-oh keluar dan menakuti mereka di siang bolong dan mulai memukuli kepala mereka.

Dol-swe berlari melewati kota mendengar berita itu dan bertanya apakah tuannya baik2 saja, sekalian berteriak kpd tiga pria itu kalau mereka salah orang. Trio itu bertanya siapa Eun-oh dan ketika Dol-swe mengatakan nama ayah Eun-oh yg kaya dan berkuasa, mereka memohon, “Maafkan kami, tuan muda!”

Arang makan dengan Bang-wool dan mengeluh kalau dia sudah melakukan apa yg disuruh Bang-wool – dia sudah menagis, berpura-pura lemah, tapi tdk ada hasil. Bang-wool: “Itu hanya berarti satu hal… kau wanita yg sangat jelek!”

Bang-wool mengatakan kenapa Arang tidak mengaku saja, tapi Arang mengatakan dia juga tidak tahu – dia tidak bisa melihat dirinya juga, jadi tidak ada cara utk mengetahuinya. Mereka berdua mendesah. Bang-wool mengatakan satu2nya yg bida dilakukan adalah memakai make up dan baju bagus.

Arang bertanya dimana dia bisa mendapatkan benda sebagus itu – hantu hanya memiliki benda yg diberikan orang padanya. Lalu dia menyadari kalau Bang-wool bisa memberikannya, hanya cenayang itu berkata dia tidak punya uang. Arang: “Oh, uang? Apa itu yg kau khawatirkan?”

Mengutil. Bang-wool khawatir kalau dia akan masuk penjara tapi Arang menjamin kalau dia tidak akan tertangkap dengan hantu sebagai penjaganya dan berjanji kalau dia akan berhenti mendatangi Bang-wool kalau mau melakukan itu.

Mereka mengambil barang yg diperlukan dan hampir bebas dan kelas… ketika Bang-wool berjalan ke arah dua polisi dan menjatuhnya barang2 yg diambilnya. Ketika itu juga pedagangnya mulai berteriak kalau ada pencuri.

Bang-wool lari tapi dengan cepat terpojok. Karena itu tidak ada jalan lain menyelamatkan Bang-wool, Arang mulai memukuli orang2 di sekitar Bang-wool. Eun-oh dan Dol-swe kebetulan ada disana dan mereka tertawa, sebab kelihatannya orang2 jatuh dengan sendirinya.

Eun-oh hanya menggeleng2 dan melanjutkan perjalanan. Tapi dia memperhatikan hantu lain mulai muncul dengan khawatir – Arang membuat banyak kekacauan dan mereka tidak pernah tidak terdeteksi.

Benar saja, empat malaikat maut turun dari langit dan mendarat. Mereka berpencar untuk menangkap hantu sedangkan Mu-young langsung mengejar Arang.

Arang melihat Mu-young datang dan kabur melewati Eun-oh di jalan. Saat itulah Eun-oh melihat jepit rambut Arang – punya ibunya, yg diberikan Eun-oh pada ibu. Itu tanda yg pertama dan Arang akan ditangkap oleh malaikat maut.

Eun-oh mengambil kudan. Dia berpacu ke hutan mengejar kedua makhluk mistis itu dan menyalip malaikat maut menuju Arang.

Eun-oh mendekati Arang dan menariknya ke atas punggung kuda. Arang memandangi Eun-oh dengan kaget.

One thought on “Arang and the Magistrate Episode 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s