Arsip

Hometown Legends Episode 3 – Curse of the Sajin Sword

Ini malam yang gelap dan dua orang pria bersaudara berpisah di pintu tempat mereka menempa besi, dengan gembira menantikan hasil pekerjaan yang akan mereka dapat. Yang tertua berlari ke kamar mandi dengan lenteranya tapi dia dikejar oleh hantu wanita bermata merah. Pria itu bersandar di tembok selama pengejaran itu dan dimakan oleh kekuatan kosmis kegelapan.

Keesokan paginya, dua orang penjaga dipanggil ke kantor atasan mereka, dimana sang atasan memberitahu mereka kalau seorang pandai besi meninggal di desa dekat ibu kota. Kasus pembunuhan seperti ini tidaklah sekhusus itu, tapi mereka mendapatkan perintah secara langsung dari raja untuk menyelediki persoalan kematian pria itu. Kedua penjaga itu tahu ada yang sedang direncanakan, dan diberitahu kalau pria yang meninggal itu adalah satu2 yang diminta untuk membuat pedang bagi anggota keluarga raja.

Faktanya, masalah ini begitu penting dan mencakup sekelompok pendeta penyihir yang diduga terlibat hingga membuat kepala detektif marah. Kepala detektif itu sangat sopan pada wanita itu dan mengenalkan dirinya sebagai Yoon-in. Wanita itu membalas sikap sopannya dan mengatakan namanya Mu-ryeong.

Yoon-in langsung pada penyelidikannya dan menanyakan Mu-ryeong tentang pedang yang dipertanyakan itu. Pada awalnya, Mu-ryeong hanya melakukan perintah pendeta penyihir itu… tapi kemudian dia mengatakan kalau yang mati itu sedang menempa pedang Sajin – dibuat di tahun, bulan, hari dan jam Sa, dan ini untuk dipakai khusus oleh anggota keluarga kerajaan.

Mu-ryeong juga menjelaskan kalau pedang itu untuk menghabisi iblis yang merupakan ancaman bagi keluarga kerajaan dan untuk memperluas wilayah kerajaan. Yoon-in sangat skeptis dan bercanda kalau ini hanya ganjalan selama upacara tapi Mu-ryeong kesal pada sikap sembrono Yoon-in dan pergi begitu saja.

Ketiga orang tadi langsung berangkat ke desa dan mendapatkan penyambutan. Seorang wanita tua gila dengan rambut berantakan menahan mereka dengan pisau dapur dan meneriakkan tentang kutukan yang tidak dapat dielakkan oleh hantu wanita. Pejabat setempat muncul dan menjelaskan kalau wanita itu menjadi gila setelah kehilangan putra satu2nya dan memerintahkan agar wanita itu dikurung. Mu-ryeong terlihat berpikir.

Mereka lalu dibimbing ke tempat mayat itu, yang menghitam seolah-olah dia dibakar hingga mati, tapi pakaiannya baik2 saja. Termasuk pria yang tewas itu, ada lima pria yang bekerja menyelesaikan pedang Sajin, dan tidak ada satu pun dari mereka yang terlihat mampu membakar teman sesama pandai besi hingga hangus. Yoon-in pergi untuk melihat nenek tua tadi sedangkan Mu-ryeong tinggal di TKP untuk menyelidiki.

Nenek tua itu mengutuk Yoon-in dari balik jeruji kayu. Pejabat lokal tadi terlihat tidak nyaman dan menyarankan agar mereka pergi, yang artinya dia mungkin saja pria jahat dengan sesuatu yang disembunyikannya. Seorang gadis cantik datang dan menenangkan nenek itu. Gadis ini dipertemukan dengan Yoon-in dan diperkenalkan sebagai pelaku kejahatan yang menghabisi pandai besi itu. Sang gadis menolak.

Yoon-in bertanya apa hukuman untuk gadis itu dan dijawab oleh Mu-ryeong. Ini takdir yang tidak bagus. Yoon-in kaget pada kekuasaan hukum Mu-ryeong dan dikirim kembali ke markas karena masalahnya. Lalu, Mu-ryeong mendekati pejabat lokal itu dan bertanya apakah gadis itu adalah ‘persembahan’ dalam upacara itu. Pejabat itu merendah sedikit dan menjamin kalau hal ini bukan hal yang salah. Mu-ryeong mengatakan kalau lebih baik tidak sebab mereka sudah menantikan ini selama 24 tahun.

Yoon-in dan Mu-ryeong sama sekali tidak cocok. Mereka punya pandangan sendiri-sendiri. Di tempat lain, empat pandai besi yang tersisa minum-minum bersama setelah gelap. Saudara pria yang mati itu menggerutu gugup dan yakin kalau ini pasti pekerjaan gadis yang mereka korbankan untuk menempa pedang tahun lalu. Dia diminta untuk diam sebab pria yang lainnya juga tidak nyaman dengan pembicaraan ini.

Mu-ryeong sedang melantunkan doa2nya di kamarnya ketika dia merasakan sepasang tangan wanita. Dia langsung tahu kalau dia adalah ‘gadis itu.’ Hantu itu mengejar pandai besi yang lainnya yang dikejar hingga ke tempat penempaan. Pria itu juga dibakar. Hantu itu mengulangi kalau dia dibunuh oleh mereka dan dia tidak akan bisa memaafkannya.

Mayat pria itu ditemukan keesokan harinya, yang tentu saja membuat Yoon-in beraksi. Dia ingin mengajak pandai besi itu pergi ke suatu tempat yang aman, tapi pejabat disana menolak membawa mereka pergi dari tempat penempaan pedang itu. Mu-ryeong mengingatkan kembali kepala pendetanya untuk menyelesaikan pedang ini apapun caranya, atau sekte mereka akan kehilangan tempatnya.

Bawahan Yoon-in memberitahu Yoon-in gossip dari para penduduk lokal kalau ini semua adalah pekerjaan hantu yang ingin balas dendam. Tapi sikap skeptis Yoon-in muncul dan dia malah memukul bawahannya itu (hehehe). Yoon-in lalu mencari Mu-ryeong untuk meminta ijin mewawancarai para pandai besi, tapi Mu-ryeong malah menggunakan alat untuk memukul hantunya dan memberhentikan Yoon-in dari tugas ini serta berusaha membuatnya tutup mulut. Yoon-in pergi dengan langkah berat.

Dua penjaga mengirim nenek pulang ke rumahnya, menciptakan kesempatan bagi Yoon-in untuk bicara dengan Hyang, gadis cantik yang dituduh sebagai pelaku kejahatan. Hyang sangat cantik dimana dia dibesarkan oleh nenek dan para pandai besi sebab dia dibuang ortu-nya saat masih bayi. Hyang menyebutkan kalau ada upacara penting selama peresmian pedang itu, yang mungkin saja akan membuat penjaganya berhenti bicara dengannya dan membebaskannya dari penjara.

Malam itu, Mu-ryeong melakukan upacara pemanggilan hantu di luar. Dia mendapatkan hantu yang dia kejar, tapi hantu ini lebih kuat dari yang bisa dilawan gurunya, dan berusaha menghancurkan kotak yang difungsikan sebagai tempat untuk mengurungnya. Kemudian dia menahan Mu-ryeong untuk beberapa saat sebelum akhirnya menghilang. Sekarang kita tahu kalau upacara ini melibatkan gadis muda (mungkin yang masih perawan) dimana para gadis muda ini dilempar ke dalam api! Omo…

Pandai besi nomer 3 pulang ke rumah, sendirian di tengah malam dan malah dihadang. Sedangkan, hantu itu masuk ke tempat dimana Hyang ditahan dan menyalakan api di tempat itu. Hyang berhasil lolos sedangkan panjaga terbunuh. Ternyata, Yoon-in dan bawahannya memainkan peranan polisi baik dan jahat di kegelapan untuk mendapatkan kebenaran dari pandai besi nomer 3 dan sangat membantu dengan pedang besar yang digoyangkan!

Jadi, 25 tahun yang lalu, ibu pandai besi yang pertama mengambil seorang anak gadis. Gadis itu adalah pengemis dan secara otomatis banyak orang menganggap dia sebagai anak penyihir. Tapi, dia bebas dari tuduhan itu dengan baik. Akan tetapi, keadaan ini berubah terbalik dan gadis itu malah diperkosa. Kemudian, kepala pendeta yaitu guru Mu-ryeong datang ke desa itu untuk meminta pandai besi disana menempa pedang Sajin. Pada akhirnya, dia meminta sebuah upacara mewah sebagai penyelesaian pembuatan pedang itu dan meminta gadis perawan untuk mengkombinasikan yin/yang. Pedang Sajin itu adalah yang.

Akan tetapi, gadis yang dulunya pengemis itu sudah punya anak jadi upacara itu tidak berjalan lancar. Upacara yang terbaru akan melibatkan anak pengemis itu, Hyang, sebagai persembahan. Di penjara, mereka menemukan Hyang sudah lolos. Kae-hwa, hantu itu, yang juga ibu Hyang bertanggung jawab atas lolos-nya Hyang.

Yoon-in dan bawahannya kaget bukan main. Para penjaga berlarian mencari Hyang yang hilang. Hyang dikuasai oleh roh ibunya dan mencari pria yang memperkosanya. Pria itu dibakar tapi para pencari berhasil menangkapnya. Roh Kae-hwa benar2 sangat kuat dan lolos lagi. Dalam perjalanan, tubuh Hyang yang masih dikuasai roh bertemu dengan Yoon-in, yang sangat prihatin melihat Hyang. Yoon-in mengucapkan pertanyaannya dengan buruk dan malah dilempar ke sebuah rumah dengan keras untuk masalah2nya.

Keesokan harinya, Mu-ryeong mengingat lagi kata2 gurunya dan mendapatkan masalah. Sang guru ingin mengorbankan siapapun untuk melakukan upacara itu sehingga nantinya dia akan mendapatkan kepercayaan dari keluarga kerajaan. Pada akhirnya, guru akan bisa memimpin kerajaan dengan kekuatan penuh.

Ngomong2, Yoon-in muncul dan mereka langsung berhadapan tentang penempaan pedang itu, yang menurut Yoon-in, secara jelas dibuat bukan untuk hal demikian sehingga negara bisa mendapatkan kemakmuran. Dia meminta Mu-ryeong untuk menghentikan segalanya. Mu-ryeong mengatakan kalau sebuah kekuatan manusia fana sedang berusaha menghentikannya.

Kepala pendeta tiba. Dia memarahi Mu-ryeong karena begitu baik pada orang2 tidak berharga lalu mengumumkan kalau dirinya akan terlibat dalam masalah ini. Jika Mu-ryeong tidak ingin petani tidak bersalah mati dalam upacara itu, pendeta itu berpikir logis, kalau begitu Mu-ryeong harus mau membiarkan dirinya mati. Dalam kegelapan, Hyang puas karena target utamanya ada disini.

Kepala penyihir (guru Mu-ryeong) memutuskan untuk menggunakan dua pandai besi yang tersisa sebagai umpan untuk hantu itu, dimana hal itu juga akan membunuh semua orang yang terlibat dalam pembuatan pedang Sajin. Mu-ryeong mencoba menyelamatkan mereka, tapi malah dikurung dan dihukum ketika upacara selesai karena sudah ikut campur. Ketika penyihir itu sedang memantrai pintu dan menyalakan api, dia mengatakan pada pejabat disana kalau dia akan menggunakan Mu-ryeong sebagai persembahan.

Untungnya, Yoon-in dan bawahannya menembus penjara tepat waktu untuk mencegah Mu-ryeong dipenjarakan. Sekarang, mereka akhirnya bekerja sama. Mu-ryeong mengikatkan sutra biru pada Yoon-in untuk melindunginya dari kekuatan setan. Yoon-in benar2 tersentuh dibuatnya.

Di halaman pejabat lokal desa itu, kepala penyihir merancang jebakan untuk Hyang. Dia menempatakan pandai besi di tengah, terikat dan tidak berdaya. Sedangkan, penyihir sendiri menyiapkan benda2 magis untuk menangkis Hyang. Hyang muncul di halaman yang kosong. Setelah beberapa perjuangan tidak berarti, dia memanggang kepala penyihir juga. Ketiga pahlawan kita (Mu-ryeong, Yoon-in dan bawahannya) muncul untuk mendengar teriakan sang kepala penyihir.

Mu-ryeong mencoba menghentikan hantu itu dengan mempertimbangkan anaknya. Yang bisa membuat Kae-hwa berhenti tapi belum cukup. Dia masih dendam karena pandai besi memutuskan untuk mengorbankannya untuk membuat wanita yang lain aman. Yoon-in berjanji kalau Kae-hwa membiarkan dua orang itu pergi, maka dia akan menjaga Hyang dengan nyawanya. Ketika Yoon-in mendekat, dia bicara dengan hantu itu yang terlihat sudah tenang.

Yoon-in: Aku bisa mengeri apa yang kau rasakan sekarang, harapan yang dimiliki seorang ibu, hanya menginginkan agar anaknya selamat dan bahagia. Sekarang aku memintamu untuk menghapus dendam di hatimu untuk kembali ke tempat dimana seharusnya kau berada. Aku berjanji akan menjaga putrimu dengan selamat. Tolong lepaskan rasa sakit dan bencimu dan kembalilah kea lam bawah sana.

Mu-ryeong berjalan dan membawa cermin khususnya untuk melepaskan hantu itu dari tubuh Hyang. Kae-hwa mengucapkan selamat tinggal pada anaknya sambil menangis. Hyang pingsan dan Mu-ryeong merangkulnya di tangannya seperti yang dilakukan seorang ibu. Pagi pun tiba.

Cerita belum berakhir. Mu-ryeong memutuskan untuk pergi. Dia ingin pergi ke tempat dimana dia benar2 bisa membantu orang lain. Yoon-in juga mendapatkan laporannya, meski begitu dia tidak terlalu khawatir tentang pedang Sajin yang ditempa lagi. Bawahannya bertanya padanya apakah masyarakat akan menderita sekarang karena tidak ada pedang itu lagi dalam pandangan.

Yoon-in: Kita menciptakan hidup kita dengan tangan kita sendiri. Jika kita ingin tahu seperti apa masa depan, kita seharusnya melihat apa yang kita lakukan sekarang.

Iklan

Hometown Legends Episode 2 – Child, Let’s Go to the Mountains

Semuanya dimulai pada sebuah malam yang bulannya bersinar terang, dimana seorang petani yang kelelahan memeluk bayinya dengan erat. Di sebuah rumah bangsawan, seorang ibu dengan gelisah menunggui putrinya yang sakit parah dan belum juga sembuh. Suaminya menyuruh wanita itu untuk menunggu dengan sabar sampai seorang tabib terkenal tiba dan melihat keadaan putri mereka.

Di suatu tempat yang lainnya, seorang pria membuang mayat laki2, di tengah malam dan darahnya berceceran, tapi tanda darah itu sama sekali tidak mau hilang. Kemudian dia mengeluarkan peralatan yang berisi pisau dan mulai memotong mayat itu.

Kamera kemudian mengikuti seekor kupu2 kuning yang terbang ke tumpukan batu nisan. Rupanya pria itu adalah penjual organ tubuh manusia. Dia menyerahkan sebuah organ tubuh tertentu pada seorang wanita yang make-up nya berlebihan. Wanita itu adalah tabib wanita setempat atau dia mungkin saja penyihir. Dia tidak bisa melakukan pekerjaannya tanpa kiriman bagian tubuh manusia.

Keesokan paginya, gadis bangsawan, yang bernama Yon-hwa itu dirawat oleh tabib terbaik di ibukota. Gadis itu sadar cukup lama untuk mengenali ibunya tapi kemudian pingsan lagi. Setelah melakukan pemeriksaan, dokter itu memberitahu orang tua Yon-hwa yang sangat stress itu kalau sakit putri mereka akan bertambah parah meski dia sudah melakukan semua teknik akupuntur. Ibu Yon-hwa tidak mau membiarkan anaknya mati begitu saja (dia sudah pernah kehilangan anaknya yang lain) dan bersumpah akan melakukan apa saja.

Pada malam hari, ibu memberi makan Yon-hwa semangkuk kecil darahnya. Yon-hwa sadar perlahan-lahan dan bertanya apakah dia akan mati seperti kakak lelakinya. Ibu Yon-hwa pergi ke kuil untuk berdoa, untuk waktu yang sangat lama, bahkan sampai siang. Seorang pelayan tiba dan membawa berita tentang seorang penyihir hebat yang bisa menyembuhkan sakit semua orang. Pada awalnya, ibu tidak menghiraukan apa yang dikatakan oleh pelayannya karena dia tidak percaya pada hal2 yang berbau penyihir. Tapi keinginan untuk menyembuhkan anaknya membuatnya tergoda juga.

Ketika ibu pergi untuk bertemu penyihir itu, dia memberikan penyihir itu banyak kotak hadiah – pada dasarnya, dia mau mengosongkan rumahnya untuk memberikan apapun yang diinginkan penyihir itu asalkan dia bisa punya anak yang sehat. Ibu Yon-hwa menolak keras menggunakan hati bayi manusia (karena masih suci) untuk menyembuhkan anaknya. Akan tetapi, penyihir itu malah marah dan mengatakan hal2 yang seharusnya tidak diketahui ibu, yang membuat ibu yakin kalau penyihir ini bisa menyembuhkan Yon-hwa.

Pada akhirnya, keinginan ibu untuk menymbuhkan Yon-hwa mengalahkan moralnya. Pada tengah malam, penyihir itu menggali kubur seorang anak yang telah mati beberapa waktu tapi mayat itu sudah busuk. Wanita penyihir itu ketakutan dan ingat apa yang pernah dikatakan pencuri makam padanya – sebelum musim dingin tiba, pencuri itu harus mendapatkan organ dari manusia yang masih hidup atau mereka yang baru mati beberapa hari.

Tuan Pemburu Mayat dipukuli oleh para pria lainnya di sebuah tempat minum sebab mereka berpikir pekerjaan sebagai pemburu mayat sangat menjijikkan. Dia pulang ke rumah dengan tertekan dan setuju pada pekerjaan baru yang diberikan penyihir. Kali ini tidak memotong mayat manusia. Pria itu harus berdandan sebagai seorang yangban dan berpura-pura akan mengadopsi mayat. Dia sangat gembira karena akan melakukan hal baik tapi tentu saja, kita sudah tahu apa yang akan terjadi pada anak yang dia adopsi.

Keesokan harinya, pria ini bertabrakan dengan wanita yang kita lihat di awal film. Wanita miskin ini sedang berjuang untuk mencari makan dan meninggalkan anaknya sendirian. Usahanya untuk mengemis makanan tidak menghasilkan apa2, jadi dia pulang ke rumah dengan hati hancur dan menunggu kematian menjemput dia dan anaknya. Pria itu membuntuti wanita miskin itu pulang dan memberinya makan. Dia berusaha meyakinkan wanita itu agar mau melepaskan anaknya dengan dalih kalau anaknya lebih baik bersama keluarga kaya.

Wanita miskin itu berusaha mengikuti pria itu pulang ke rumah penyihir. Menyadari ada yang salah, wanita itu mencoba merebut kembali bayinya dan mencoba kabur tapi dia dihentikan oleh ayunan pisau penyihir. Dalam pertarungan yang terjadi, ibu miskin itu menerima luka parah di leher dari pencuri organ manusia yang menyamar sbg yangban itu. Ketika pria itu mencoba mengubur wanita miskin di tengah malam, wanita itu menghilang dan dia jatuh ke dalam kubur yang dia gali dengan kaget.

Ibu Yon-hwa memasakkan hati untuk anaknya dan memberikan makanan itu pada anaknya. Yon-hwa menolaknya tapi penyihir sudah memberitahu ibu untuk memerikan makan Yon-hwa makanan itu sampai habis. Jadi gadis miskin itu dikorbankan dalam hal ini.

Berita bagusnya – yang membuatnya orang tuanya kaget – adalah Yon-hwa mendapatkan kesembuhannya kembali. Ibu Yon-hwa melakukan kunjungan ke tempat penyihir itu. Dia mengucapkan terima kasih pada penyihir itu karena sudah membantu kesembuhan anaknya. Ibu juga membawa banyak makanan dan uang. Ibu menambahkan kalau segala hal yang diperlukan anggota keluarga bayi yang meninggal harus dipenuhi.

Ibu miskin itu sebenarnya tidak meninggal dan menghabiskan waktunya untuk mencari bayinya yang hilang – dia kelihatannya telah melupakan kejadian dramatis yang menimpanya malam sebelumnya. Kemudian wanita itu jatuh ke jurang sedangkan rohnya berkelana mencari anaknya. Ketika dia datang ke jurang itu dan melihat mayatnya sendiri, dia ingat semua kejadian yang terjadi pada anaknya.

Pada suatu malam, Yon-hwa bangun dengan cahaya setan di matanya sebagai jawaban atas panggilan ibu miskin itu terhadap anaknya. Yon-hwa berjalan dalam tidurnya sebentar dan ibu mampu membawa Yon-hwa kembali ke dunia nyata.

Pada suatu siang, seorang penebang pohon menemukan mayat wanita miskin itu di jurang, memegang bayinya dengan tangannya. Si pemburu organ diusir oleh si penyihir dan dia akhirnya berakhir menjadi tukang mandi mayat di kantor polisi lokal.

Dia mencoba untuk memisahkan tubuh mayat dihadapannya tapi dia tidak bisa melakukannya. Ketika dia mengambil kapak untuk memisahkan mayat ibu dan anak itu, sang ibu malah berbalik dari posisinya semula yang telungkup sebagai pertanyaan untuk mengembalikan bayinya kembali. Pria itu tidak tahu dan mencoba kabur dari wanita itu dengan ketakutan. Akan tetapi, dia tersandung kompor batu bara dan terlempar ke dalam api. Wanita itu melihat ketika pria itu terbakar dan mati dengan cara yang sangat mengenaskan.

Penyihir itu mengadakan upacara pengusiran setan di rumahnya. Tidak ada gunanya sebab wanita itu tetap datang di tengah malam untuk mencari bayinya. Stempel di pintu rumahnya jelas bisa mencegah hantu itu masuk. Keesokan harinya, Yon-hwa berlari dengan gembira bersama pelayan ibunya ketika ibunya mendapatkan kunjungan dari penyihir itu. Ibu mendapatkan lencana pelindung yang disimpan dalam kantong sutra. Penyihir itu memperingatkan agar ibu tidak membukan kantong itu kalau ibu ingin agar nyawa anaknya tetap selamat.

Yon-hwa menangis waktu melihat penyihir itu tapi dia diberikan kantong itu sebagai hadiah karena sudah bersikap baik. Ibu bersumpah bersama anaknya kalau mereka tidak akan membuka kntong itu dan Yon-hwa menjadi tambah penasaran. Ketika Yon-hwa membuka kntong itu, dia menemukan dua jari yang sudah membusuk.

Penyihir langsung tahu kalau ada yang tidak beres saat ibu bertanya kenapa ad jari manusia di dalam kantong itu. Yon-hwa dikabarkan hilang dari kamar tidur siangnya dan malah berada di kamar pelayan. Penyihir memutuskan untuk melakukan upacara pengusiran setan di rumah bangsawan itu.

Yon-hwa pada dasarnya kembali menjadi bayi wanita miskin itu. Dia memiliki kepribadian bayi iyu. Ibu Yon-hwa diperintahkan untuk tidak membuka pintu malam ini tidak peduli apapun yang terjadi. Dia diperingatkan kalau tidak akan ada yang hidup di rumah itu jika ibu membuka pintu.

Malam itu, kembali hantu wanita miskin itu dapat ditangkis dari pintu dan Yon-hwa menangis meminta ibunya (bayi wanita miskin itu yang bicara). Hantu itu pergi ke kamar pelayan. Dia mengenali kalau anak itu bukan bayinya dan melemparnya jauh.

Keesokan harinya, bayi di ruang pelayan ditemukan tewas dan pelayannya menjadi gila. Ayah Yon-hwa mendengar para pelayan bergosip dan mengerti kalau itu menjadi tidak menyenangkan karena istrinya mempekerjakan penyihir. Ibu Yon-hwa sama sekali tidak dan mau melakukan apa saja untuk menyelamatkan anaknya. Ayah tinggal bersama Yon-hwa saat ibu dan penyihir itu menyelesaikan tahap akhir upacara pengusiran setan.

Yon-hwa mengalami demam dan meminta ayah untuk membuka pintu tapi ayah sudah diperintahkan untuk tidak membuka pintu manapun. Pelayan di rumah itu sudah dirasuki oleh hantu dan pergi ke penyihir itu dan meminta anaknya. Penyihir itu melemparkan pisaunya dan pergi dengan perasaan puas. Tapi hantu itu bangkit kembali dan malah menusuk sang penyihir dari belakang lalu pergi mencari Yon-hwa.

Yon-hwa semakin parah dan ayah bergerak keluar untuk mencari pertolongan. Dia melupakan janjinya untuk tidak membuka pintu bagi hantu itu dan akhirnya Yon-hwa dirasuki juga oleh hantu. Yon-hwa yang sudah dirasuki hantu mencoba mencekik ayah.

Ketika ibu berlari ke putrinya yang sedang dirasuki, ayah sedang bergulat dengan Yon-hwa. Ayah melakukan segala cara untuk menghentikan Yon-hwa dan istrinya harus melakukan cara gila untuk melepaskan suaminya dari Yon-hwa: dia memukul kepala suaminya dengan sebuah botol.

Ibu membawa putrinya (dengan digendong di punggungnya) ke pegunungan. Dia berjalan kesana hingga tengah malam. Dia pergi ke tempat dimana hantu itu jatuh hingga mati dan hantu itu muncul lagi. Kedua ibu itu berkelahi untuk mendapatkan kepemilikan anaknya. Pada awalnya, Yon-hwa mengenali ibunya tapi kemudian dia malah pergi ke hantu itu.

Pada akhir perkelahian itu, Yon-hwa berteraik dengan keras dan kesakitan. Ibu kandung Yon-hwa akhirnya memutuskan untuk membiarkan anaknya pergi ketimbang dia menderita lagi. Dia meminta Yon-hwa untuk berjanji agar mengingat wajah ibunya dan lahir kembali menjadi anaknya. Tapi tetap saja, melepaskan itu sulit buat ibu Yon-hwa.

Kekuatan mistis menang dan hantu itu membawa Yon-hwa ke dasar jurang dimana dia jatuh hingga mati. Ibu Yon-hwa sama sekali tidak bisa hidup tanpa anaknya dan akhirnya ikut meloncat juga. Tidak berapa lama, keluarga Yon-hwa yang lain yang prihatin terhadap keadaan ini, juga ikut melompat.

Dalam kehidupan yang lain, kita melihat dua ibu itu dan anaknya berlari bahagia di sebuah padang liar. Tidak ada kilat dan petir. Semuanya terlihat sangat bahagia.

The end.

Hometown Legends Episode 1 – The Gumiho

Pada jaman dahulu kala, seorang gadis cantik diculik dari rumahnya di tengah malam gelap. Di bawah bulan purnama, sekelompok bangsawan menunggu gadis itu dimana dua diantara bangsawan itu dikenal oleh sang gadis. Gadis itu diikat dan mulutnya disumpal. Dia tidak bisa melakukan apa2, hanya menangis dan memohon.

Dengan upacara besar, sebuah pedang diserahkan dari satu orang ke orang yang lainnya. Yang jelas, mereka akan membunuh gadis itu. Salah satu orang di dalam kelompok pembunuh itu adalah kakak lelaki sang gadis yang mengatakan agar jangan menyalahkannya. Ayah gadis itu mengalihkan tatapannya ketika dia menusuk putrinya tepat di jantung.

Gadis itu mati dengan kebencian di matanya. Mayatnya dibuang di sumur terdekat. Tapi, sebenarnya gadis itu belum mati. Di dasar sumur, gadis itu dibangunkan oleh suara tikus dan dia pun mencoba untuk memanjat naik. Dia mencoba naik dengan tangannya yang berlumuran darah. Dia mencoba dengan keras tapi tembok sumur itu terlalu licin. Dia menjemput kematiannya dengan suara yang mengerikan. Mirip raungan.

Di atas sumur, para pria terlihat tidak nyaman. Mereka saling pandang satu sama lain. Ketidaknyamanan mereka bukan karena mereka baru saja membunuh gadis tidak bersalah tapi karena bulan yang bertambah merah. Dan ada juga petir yang menyambar-nyambar di langit. Di bawah sumur, kuku gadis yang sudah mati itu bertambah panjang. Di sekujur tubuhnya muncul garis2 hitam. Hal ini menandakan sesuatu akan terjadi.

Di tempat lain. Di rumah sebuah keluarga bangsawan sedang diadakan persiapan upacara pernikahan yang megah. Seorang pria muda terburu-buru keluar. Dia berhenti sebentar untuk bertukar pandang dengan seorang pria lainnya yang berpakaian bangsawan.

Ibu dari gadis itu sedih sebab dia tidak bisa melihat putrinya sebelum dinikahkan dan suaminya mencoba menghiburnya. Akan tetapi, seorang wanita yang dihormati dalam keluarga itu memarahi ibu ini karena berpikir untuk menghina aturan keluarga. Wanita yang dihormati ini punya katarak besar di matanya yang membuat wanita ini menjadi terlihat menakutkan.

Ibu yang bersedih itu harus diseret. Di belakang, dua sepupu pengantin itu mengendap-endap untuk melihat pengantin itu untuk yang terakhir kalinya. Gadis yang lebih tua lebih waspada dan tenang serta mengingatkan adiknya pada akibat jika mereka tertangkap. Tapi, adiknya itu sangat penasaran ingin melihat.

Kakak dari pengantin itu membalik sebuah buku rahasia yang berisi susunan perbintangan dan tes dengan darah. Dia tidak ingin membunuh ‘anak itu’ (yang artinya mereka belum yakin apakah dia seekor serigala). Akan tetapi, ayah memberitahu kakak kalau kemakmuran keluarga Lee berasal dari ketaatan pada ritual. Sebelum pergi, ayah mengingatkan kakak untuk tidak buka mulut tentang apa yang terjadi tadi malam pada setiap wanita di keluarga itu.

Para gadis ada tepat di luar dimana sepupu mereka berada dan Myung-ok memanggil gadis itu. Tapi kita ditunjukkan gambar Yin-ok yang sangat pucat yang mengindikasikan kalau gadis ini sudah meninggal. Jadi tentu saja dia tidak bisa menjawab panggilan gadis yang lebih muda itu. Dia juga mengajak kakaknya untuk pergi ke halaman untuk mengucapkan selamat tinggal. Keduanya mengangkat tirai yang menyembunyikan mayat itu. Seorang sepupu pria mereka mengingatkan mereka kalau bibi dan nenek mereka datang.

Mereka lari tanpa sempat melihat wajah sepupu mereka. Mereka cekikian karena memiliki cukuran seperti pekerja pria yang buta. Para pria dari keluarga itu berkumpul dalam formasi yang sama seperti tadi malam. Salah satunya memeriksa jam mataharinya untuk menentukan waktu keberangkatan yang tepat. Ketika para gadis melihat dengan diam2, ibu dari pengantin itu menangis ingin mengucapkan selamat tinggal pada anaknya.

Semua pria di keluarga itu terlihat bersalah. Ketika mayat itu dibawa pergi, sebuah tanda hitam muncul di dadanya yang kemudian meruncing ke lehernya. Nenek dan menantu tertuanya membicarakan rahasia dan kewajiban keluarga yang lebih buruk. Mereka juga merasa bersalah tapi semuanya selalu dilakukan seperti ini. Kemudian keduanya menduga-duga tentang gadis lainnya yang akan mendapatkan giliran mereka.

Malam itu, kedua gadis yang mengintip tadi memandangi bintang. Gadis yang lebih muda mengutarakan keinginannya untuk selalu dekat dengan kakaknya. Karena orang tua mereka sudah meninggal jadi mereka hanya memiliki diri mereka satu sama lain. Kekhawatiran Myung-ok adalah terhadap kebiasaan keluarga yang melarang untuk saling bertemu setelah menikah. Kakak yang begitu dekat dengannya bisa saja menghilang dari kehidupannya seperti yang dilakukan Yin-ok pagi ini.

Kedua bersaudari ini berjanji untuk selalu saling memikirkan ketika mereka melihat bintang. Di saat yang bersamaan, kakak laki2 gadis yang meninggal itu dilantik untuk masuk ke dalam rahasia dan kewajiban keluarganya. Bagian dari sumpah itu adalah meminum darah. Laki2 itu mematuhi pada akhirnya meski ada keengganan.

Setelah upacara, kedua gadis itu mendapatkan pelajaran bersama kakak sepupu mereka yang paling tua – ini dilakukan diam2 sebab kakek mereka melarang wanita belajar tapi kakak sepupu mereka yang satu ini selalu baik pada mereka. Kakak sepupu ini melihat hantu gadis yang meninggal itu dan ketakutan. Hal ini membuat bingung kedua gadis itu.

Myung-ok yang penasaran bertanya apa yang terjadi pada sepupu mereka dan dia diminta untuk mengikuti aturan pada tetua. Ini berlawanan dengan apa yang telah diajarkan sepupu laki2-nya itu. Tapi kakak sepupu laki2nya tidak bisa memberitahukan apa yang terjadi, “Omong2, kita dikutuk dan mulai dari sekarang dan seterusnya setiap sepupu perempuan kita akan dinikahkan dan tidak akan terdengar kabarnya lagi.” Kedua gadis itu terlihat tidak nyaman. Mereka pergi tidur tapi Myung-ok sama sekali tidak bisa tidur.

Seorang pria tua duduk dengan pakaian serba putih di sebuah ruangan kosong. Tiba2 saja kekuatan mistis membuatnya terbangun. Myung-ok mengendap-endap dengan baju tidurnya di tengah malam dimana dia juga menyeret kakaknya. Mereka mengikuti kakek dan nenek ke tanah sakral keluarga yang mana kakak tertua mereka saja tidak boleh tahu tempat itu. Saudaranya Myung-ok terlihat gugup tapi dia terus saja ikut.

Kakek dan nenek membungkuk di depan seorang pria tua dan mereka memberikan banyak benda pada pria tua itu: darah, hati, jantung, yang jelas segala sesuatu yang berasal dari gadis serigala yang sudah meninggal itu. Myung-ok ketakutan dan kabur bersama kakaknya. Tapi pria tua itu sudah mendengar mereka dan mengejar.

Ibu Yin-ok mendengar seseorang menangis di tengah malam dan membuka jendela. Dia membuka jendela dan melihat Yin-ok sedang menangis. Ketika ibu mencoba untuk menyentuhnya, Yin-ok membuka mata dan terlihatlah mata merah darah Yin-ok. Ibu terbangun – itu hanya mimpi. Sementara itu, Myung-ok dan kakaknya berlari ke kamar mereka dan gemetaran di bawah selimut mereka. Kakak Myung-ok, karena tidak melihat ada yang aneh, tidak setakut Myung-ok.

Mereka berganti pakaian dan pergi untuk menemui kakak laki2 mereka. Myung-ok mengaku kalau ada hantu di ruang terlarang. Yang aneh adalah hanya Myung-ok yang melihat hantu itu. Myung-ok bersikeras bahwa mereka harus pergi ke ruangan itu untuk melihat hantunya. Kakak laki2 mereka mengatakan kalau keluarga mereka sebenarnya dikutuk oleh Serigala Berekor Sembilan dan aturan yang banyak itu adalah untuk melindungi para gadis itu agar tidak disakiti oleh siluman itu.

Keesokan harinya, Myung-ok mendengar kakeknya bercerita kepada sepupunya yang lain kalau Serigala Berekor Sembilan itu adalah setan dan untuk itu harus diberantas. Kakak laki2 Myung-ok menemui adik2nya dan mendapati kalau kakak Myung-ok telah menstruasi. Bersama darah merah biasa, ada juga darah hitam yang mengalir dari pahanya. Burung2 yang ada di kandangnya menjadi gelisah.

Yang lebih membuat kaget adalah kakak menyuruh kedua gadis itu untuk menyembunyikan kain yang mereka gunakan saat menstruasi agar tidak dilihat oleh semua orang. Kakak juga mengatakan (pada Myung-ok) kalau dia tidak ingin kehilangan kedua gadis itu.

Para penduduk desa membicarakan masalah politik malam itu dimana Jepang dan Amerika mulai berdagang ke Cina. Malam itu Seo-ok (kakak Myung-ok), mengubur kain yang dia gunakan saat menstruasi. Sayangnya, kain itu ditemukan oleh nenek. Keempat gadis dalam keluarga itu dipanggil ke kamar nenek untuk diperiksa. Nenek tahu siapa yang sudah menstruasi dan segera menyiapkan upacaranya.

Semua wanita memegangi Seo-ok. Mereka menusuk tubuh gadis itu sehingga membentuk lingkaran lalu menjatuhkan darahnya ke dalam sebuah wadah air. Darah itu dibiarkan mengalir ke selembar kertas kemudian dibakar. Terakhir, dibuang ke dalam mangkuk yang berisi bubuk putih. Seo-ok positif!

Para pria dalam keluarga itu bertemu untuk mendiskusikan apa yang akan dilakukan pada bibi yang sekarang berkelana entah kemana. Mereka memutuskan untuk membunuh bibi saja. Kakek juga mengungkapkan kalau orang tua Myung-ok juga mati karena mereka ingin menyelamatkan kedua putri mereka. Nenek dan bibi tertua sebenarnya gembira. Mereka mempersiapkan pernikahan Seo-ok dan pada dasarnya memastikan bahwa dia adalah Serigala sejati sebelum menyerahkannya pada pria tua yang dilihat Myung-ok sebelumnya itu untuk dimakan.

Ibu Yin-ok kembali entah dari mana. Dia benar2 terlihat gila dan sangat khawatir pada putrinya. Myung-ok mengendap-endap untuk berkunjung. Dia takut hal buruk akan terjadi pada kakaknya. Sedihnya, insting Myung-ok ini benar – dia tidak akan melihat kakaknya setelah menikah – yang akan dilaksanakan besok. Myung-ok memberikan anting2 favoritnya pada kakak.

Saat indah ini dikacaukan oleh kedatangan ibu Yin-ok yang mengira Seo-ok adalah anaknya. Ibu Yin-ok diberitahu cerita yang sebenarnya dimana menikah berarti nyawa mereka akan segera hilang. Parahnya, ibu Yin-ok ditarik dengan kereta dan dicekik hingga mati. Sebelum mati, wanita itu melihat Yin-ok, anaknya, berubah menjadi gadis yang berduka.

Kakak lelaki tidak ingin membunuh Seo-ok tapi ayahnya mengatakan kalau merupakan kewajibannya untuk membunuh Seo-ok dengan tangannya sendiri. Dia juga mengatakan kalau perlindungan keluarga terancam bila salah satu gadis di keluarga mereka berubah menjadi Serigala Berekor Sembilan. Seo-ok memberikan hadiah selamat tinggal pada kakak lelakinya dan berterima kasih karena kakak sudah sangat baik padanya. Kakak laki2 Seo-ok itu menangis.

Malam itu, Seo-ok diculik oleh orang yang sama yang muncul di awal film ini. Posisi mereka sama. Myung-ok dibangunkan oleh suara ribut burung2 dan dia melihat anting2 kakaknya jatuh di tanah. Kakak laki2 Myung-ok itu tentu tidak bisa membunuh Seo-ok. Tapi yang menyedihkan adalah Myung-ok melihat kakak yang dia sayangi ditusuk di jantungnya.

Seo-ok tidak berubah menjadi Serigala setelah dibuang ke sumur. Ketika ketahuan, Myung-ok menjadi dingin dan penuh dengan marah. Kakak lelakinya protes bahwa kutukan yang sebenarnya adalah kutukan yang membuat keluarga Lee terus membunuh keturunannya. Para tetua tetap menyeret Myung-ok dan mengurungnya di sebuah ruangan tak terpakai. Nanti, ketika matahari sudah muncul, Myung-ok akan dibunuh.

Kakak laki2 Myung-ok membela adiknya. Akan tetapi, dia kalah jumlah dari orang2 yang ada disana. Seorang saudara mengatakan kebenarannya yaitu darah dan hati Serigala Berekor Sembilan membuat panjang umur dan pria tua yang tinggal di ruang terlarang telah hidup selama 400 tahun.

Di dalam ruangan, ketika cahaya bulan merah muncul dari celah pintu, Myung-ok berubah menjadi Serigala Berekor Sembilan. Karena merasa sangat dendam, dia membunuh kakeknya dan kemudian beralih ke pria tua yang tinggal di ruang terlarang. Ketika pria itu telah terbunuh, Myung-ok beralih ke setiap pria yang telah melakukan pembunuhan.

Myung-ok sekarang diberikan ekor yang super panjang jadi dia bisa mengejar musuhnya dengan mudah. Myung-ok membunuh sepupu yang telah membunuh kakaknya. Dia lantas membunuh pamannya yang tega membunuh istri dan anaknya. Akan tetapi, yang dilihat paman yang mencekik dirinya adalah istri dan anaknya.

Ketika Myung-ok akan membunuh paman yang tertua, kakak laki2 Myung-ok yang baik itu, memohon dengan sangat agar paman tidak dibunuh. Kakak menjanjikan tidak akan membunuh gadis tidak bersalah di masa yang akan datang. Kakak menempatkan dirinya diantara Myung-ok dan buruannya. Tanda hitam menghilang dan Myung-ok pergi dari lingkungan itu.

20 tahun kemudian, semua berlanjut lagi. Hal yang sama seperti sebelumnya kembali dilakukan.

Hometown Legends

Judul: Hometown Legends
Genre: Horror
Episode: 8
Produksi: KBS2
Masa Tayang: 6 Agustus – 3 September 2008

Waktunya menyajikan tayangan yang sereeeemmm. KBS2 memberikan Hometown Legends sebaagi solusi bagi kamu yang suka banget sama film horror. Hometown Legends terdiri dari 8 episode yang masing2 hadir dengan judul yang berbeda. Yang jelas, di setiap episode kamu bakal disuguhkan sama never ending terror!

Episode 1 – Gumiho (Nine Tailed Fox): Tragedi ini terjadi di sebuah keluarga yang dikutuk oleh Gumiho atau Serigala Berekor Sembilan. Setelah mendapatkan kutukan ini, mereka dengan rapat menyembunyikannya hingga 12 generasi dan 400 tahun. Di dalam keluarga ini ada seorang anak gadis. Dia adalah anak yang ceria, terbukan, dan jelas berbeda sekali dengan kakaknya yang cenderung tertutup. Dia berusaha dengan baik menjaga rahasia keluarga mereka. Kedua perempuan ini punya kakak laki2 yang tertarik memperlajari ilmu modern tapi sebenarnya dia adalah pria yang lemah.

Episode 2 – Child, Let’s Go to the Mountain: Anak seorang bangsawan mengalami sakit yang sangat parah. Hal ini membuat ibunya mencari obat ke seorang penyihir. Akan tetapi, penyihir ini begitu kejam dan licik. Dia mengatakan kalau satu2nya cara untuk menyembuhkan putrinya yang sakit adalah dengan memberinya makan hati bayi. Ibu yang menderita ini mengabaikan akal sehat agar putrinya sembuh. Ketika anaknya itu benar2 sembuh, hal-hal aneh pun mulai terjadi.

Episode 3 – Curse of the Sajin Sword: Choi Su Jong memerankan seorang detektif hebat yang dikirm ke sebuah desa untuk menyelidiki kasus kematian misterius seorang pandai besi. Pandai besi ini adalah orang yang menempa pedang berharga, Pedang Sajin. Detektif itu ditemani oleh Sa Kang dan Lee Jung untuk mengungkapkan misteri desa itu. Di tempat itu, mereka bertiga disapa oleh penyihir yang membicarakan tentang kutukan. Mereka pun mulai merasakan ketakutan setelah melihat mayat yang menghitam.

Episode 4 – Your Letter: Pada tahun 546, seorang Raja meninggal setelah 9 bulan memerintah kerajaannya. Setelah kematian ini, beberapa kejadian aneh muncul dengan meminta korban nyawa. Buruknya, para korban ini mati dengan cara yang mirip dengan cerita hantu berjudul Legenda Seol Gong-chan. Masyarakat mulai mengatakan kalau Raja yang meninggal itu kembali dan melakukan pembunuhan. Teman masa kecil raja yang meinggal ini mulai melakukan penyelidikan sebab dia tidak percaya pada cerita hantu itu.

Episode 5 – Young Lord Ogu: Jae Hee memerankan pria yang kehilangan kekasihnya. Dia mampu melihat hantu dan hidup diantara batas kematian dan kehidupan. Suatu hari, dia tiba di sebuah desa dimana orang yang mati dan masih hidup bercampur dalam sebiah kegilaan. Untuk membersihkan desa itu dari roh, dia harus mengungkap misteri desa itu satu per satu. Di desa itu pula, dia bertemu dengan wanita yang mirip sekali dengan kekasihnya.

Episode 6 – Gisaeng House Ghost Story: Di sebuah rumah Gisaeng, seorang pria minum tapi temannya malah mati! Berita dengan cepat menyebar yang mengatakan kalau ada hantu gisaeng gentayangan di rumah Gisaeng itu (Hwahonuk). Suatu hari, ada pria yang minum disana sambil ditemani beberapa Gisaeng. Pria ini tiba2 mengeluarkan gambar yang mirip sekali dengan Gisaeng yang mati itu. Temannya sesame gisaeng sangat terkejut sebab wanita dalam gambar itu sudah lama menghilang dan bahkan hantunya diberitakan gentayangan di rumah gisaeng itu. Malam itu, mayat gisaeng itu ditemukan dan misteri kematiannya pun mulai terungkap.

Episode 7 – Demon’s Story: Cerita seorang pembawa pesan dari dunia arwah yang kembali ke dunia nyata tapi dia kehilangan daftar namanya. Daftar itu adalah bagian paling penting dari pekerjaannya sebab itu menentukan siapa yang hidup dan mati. Dia harus menemukan daftar itu sebelum gerbang kematian dibuka lagi. Dia mendengar kalau daftar itu adalah di rumah Gubernur. Bersama dengan asistennya, pembawa pesan inipun pergi ke rumah sang Gubernur dan bermaksud untuk mengambil kembali daftar itu. Tapi semuanya tidak berjalan dengan mudah.

Episode 8 – Loose Woman: Pada hari pernikahannya Seo-yeon ditangkap oleh tentara Cina dan dibawa pergi. Tapi dia berhasil kabur dan kembali ke rumah mertuanya. Akan tetapi, sang mertua malah mengatakan kalau Seo-yeon sedang mengandung anak dari tentara Cina. Seo-yeon pun pulang kembali ke rumah orang tuanya. Ketika pulang pun, Seo-yeon masih mendapatkan bencana. Ayahnya berbaring sakit di tempat tidur. Karena hal inilah, kakaknya mengambil alih pengaturan keluarganya. Karena istri kakaknya ini juga dibawa kabur tentara Cina, maka sang kakak hidup tanpa tali pernikahan dengan seorang wanita yang pekerjaannya adalah membuat racun yang membuat orang yang kena racun ini punya keinginan untuk bunuh diri. Pria itu meracuni istri tidak sah-nya dan Seo-yoen. Tak lama, Seo-yeon menjadi hantu yang menggoda lelaki dan membunuh mereka. Sementara itu, suami Seo-yeon mengabdikan dirinya pada pemerintah dan ditugasi untuk menyelidiki kematian aneh yang terjadinya. Untuk pertama kalinya pria ini berhadapan dengan hantu istrinya.

Source: dramabeans