Arsip

Sinopsis Chuno – Episode 11

Dae Gil mabuk berat. Dia mengatakan pada Seol Hwa kalau dia adalah pria paling jahat di Korea. Seol Hwa mencoba menghibur Dae Gil. Dia menyuruhnya untuk menangis saja, melepaskan semuanya. Tapi Dae Gil tidak bisa menangis apalagi di depan seorang wanita.

Dae Gil akhirnya ambruk. Seol Hwa menyeretnya untuk menyelimutinya dan membiarkannya tidur. Tapi Dae Gil kemudian menarik Seol Hwa dan menggenggamnya erat sekali. Awalnya Seol Hwa berusaha melepaskan diri tapi ketika dia mendengar penderitaan di suara Dae Gil, dia berhenti membebaskan dirinya. Seol Hwa lantas mengambil tangan Dae Gil.

Di tempat lain, di sebuah gudang yang sederhana, Hye Won aka Un Nyun, Song Tae Ha, Kwok Han Seom, dan Pangeran sedang menghabiskan malam. Mereka sedang dalam perjalanan untuk menemui lebih banyak lagi anak buah Tae Ha yang diaktifkan melalui pesan rahasia Almarhum Perdana Menteri Im. Sekarang, Un Nyun yang merawat Pangeran.

Sementara itu, Kwok lebih memilih diam di luar gudang sebagai penjaga. Tae Ha menyadari beban yang dipikul Kwok selama ini dan dia sama sekali tidak ingin membicarakannya.

Song Tae Ha masuk ke dalam gubuk dimana dia menyatakan sesuatu pada Hye Won. Dia berjanji padanya bahwa dia tidak akan pernah meninggalkan Hye Won. Dia lalu mengambil tangan Hye Won. Ketimbang merespon dengan baik, Hye Won malah mengkritik Tae Ha karena tidak bisa bersikap romantis. Kemudian Hye Won tersenyum.

Di Han Yang, gi-saeng favorit Perdana Menteri Lee, Chan, sedang menggoda beberapa bengasawan agar tinggal lebih lama ketika sebuah tembakan terdengar dan salah satu bangsawan ambruk ke tanah. Chan berteriak kertakutan. Satu tembakan lagi dan satu lagi bengsawan ambruk. Eop Bok telah menembak dua lagi bangsawan dan sekarang dia harus cepat kabur.

Eop Bok akhirnya bertemu Cho Bok, yang membantunya menyembunyikan senjatanya. Eop Bok memandang kagum pada Cho Bok sebab wanita itu begitu pintar menyembunyikan barang terlarang itu. Tapi, dia juga terlihat ragu – ragu karena sekarang dia berlabel pembunuh.

Keesokan paginya, Lee Gyeong Shik ada acara sarapan pagi dengan Chan. Gi-saeng ini menginformasikan pada Lee Gyeong Shik kalau dua bangasawan dibunuh lagi. Kedua bangsawan ini adalah kaki tangan Gyeong Shik. Chan mengemukakan teorinya: para bangsawan yang terbunuh itu ada hubungannya dengan proyek Lee Gyeong Shik di pasar tanduk kerbau. Lee Gyeong Shik terkejut mendengar laporan ini – ada seseorang yang ingin menghalanginya memperluas kekuasaannya.

Pagi musim dingin datang lebih cepat. Tae Ha, Kwok, Hye Won, dan Pangeran, melanjutkan perjalanan mereka. Hye Won kelihatan sangat menerima gagasan ‘Selamatkan Pangeran, Selamatkan Dunia’. Hye Won menasehati Kwok agar dia saja yang menggendong Pangeran dan berhenti memanggil Tae Ha ‘Jenderal’ karena hal ini menarik perhatian yang tidak diperlukan. Kwok kaget menerima perintah dari Hye Won. Siapa dia? Tapi Tae Ha melihat ada kebijaksanaan dalam kata-kata Hye Won.

Dae Gil dan Seol Hwa juga mulai bergerak. Dae Gil sudah terlihat lebih baik dan siap melanjutkan perjalanan. Tapi Seol Hwa lapar dan benar-benar ingin makan. Melihat Seol Hwa yang mengganggunya membuat Dae Gil teringat bagaimana dulu dia bertemu dengan Wang Son dan Choi.

Lima atau enam tahun lalu, Wang Son adalah seorang pencopet. Suatu hari, dia menargetkan Choi sebagai korbannya. Choi adalah siswa sekolah militer yang akan mengikuti ujian. Wang Song mengambil dompet Choi dengan cara menabrak pria malang itu lalu kabur untuk menemukan cara menhabiskan uangnya.

Wang Son yang berteriak kalau dia baru saja mendapatkan kekayaan menarik perhatian banyak orang. Salah satunya adalah Dae Gil, yang mulai beraksi dengan jurus ‘ biar aku lihat tanda pengenalmu’. Wang Son tentu tidak bodoh dan tahu dengan pasti kalau Dae Gil sedang menakut-nakutinya.

Wang Son melempar salju ke wajah Dae Gil dan kabur. Dae Gil marah dan mulai mengejar. Mereka berlari melewati lorong-lorong sempit hingga melompati tembok. Dan akhirnya, Wang Son berhenti juga… dihadapan Choi yang sangat marah. Dia mengeluarkan tombaknya dan memukul Wang Son.

Tapi, ketika Choi mendapatkan kembali dompetnya, Dae Gil muncul dan mengambilnya lagi. Dae Gil mengira Choi juga ikut mengincar uang Wang Son. Pertarungan dimulai lagi. Tapi setiap kali Wang Son mencoba mengambil dompet itu, dia selalu kena tinju.

Dae Gil memiliki ilmu bela diri yang memadai dan membuat pertarungannya jadi berlangsung lama. Dia akhirnya menyarankan untuk membagi uang itu saja. Choi tentu saja marah. Itu kan uangnya. Benar-benar uangnya yang akan dia gunakan untuk membayar biaya ujian. Tapi akhirnya Choi menyerah, dan setuju menyerahkan setengah uangnya pada Dae Gil. Tapi Dae Gil belum selesai. Dia menawarkan kesempatan pada Choi apa dia mau bergabung dengannya. Tentu saja Choi tidak siap menjalani hidup dengan Dae Gil.

Dae Gil: “Hey! Pria bijak! Jika nanti kau berubah pikiran, datang saja ke Dong Dae Moon di Han Yang. Aku bahkan akan memanggilmu Jenderal!”

Di sisi lain, Wang Son melihat ini sebagai kesempatan bagus dan akhirnya ikut dengan Dae Gil dan memanggilnya ‘Unni’. Dae Gil mau mengajak Wang Son bersamanya. Jadi sebenarnya Choi bukan jenderal sungguhan!

Kembali ke masa kini. Seol Hwa senang karena dia sudah tahu dari awal kalau Wang Son itu pria jahat. Dae Gil memiliki pandangan yang berbeda dan bertanya kenapa Wang Son disebut pria jahat. Dae Gil bertanya apakah hukum berharga untuk dihormati. Seol Hwa menjawab kalau tentu saja begitu. Jika kau melanggar hukum maka kau adalah penjahat.

Dae Gil mengangkat masalah penting. Di dunia perbudakan baik dan buruk tidak ada artinya. Mempertahankan integritas adalah hal yang paling baik. Tidak mengikuti hukum yang yang tidak mendukung bertahannya sebuah hubungan, tidak akan berpengaruh besar pada kehidupan.

Wang Son juga menerapkan hukum itu dan mencoba menjalin hubungan dengan wanita yang kesepian. Bosan tinggal di penginapan, Wang Son memerintahkan Choi untuk menerapkan seni merayunya. Mereka menemukan rumah orang kaya yang semua prianya sedang pergi berbisnis dan hanya meninggalkan para wanita di rumah. Choi dan Wang Son memulai aksinya.

Choi dengan cepat dipukul setelah menunjukkan tubuhnya yang diukir potongan kayu sementara, Wang Son mendapatkan apa yang diinginkannya. Sayangnya, Tuan rumah itu pulang dan Wang Son serta Choi harus keluar lebih awal.

Kembali ke Dae Gil dan Seol Hwa, yang sangat kelaparan dan kesal dengan rencana Dae Gil yang elbih memilih berjalan sampai mereka bertemu dengan Choi dan Wang Son. Rencana macam apa ini? Tapi ini adalah rencana jenius karena Wang Son dan Choi juga sedang berjalan ke arah mereka. Mereka berempat akhirnya bisa bertemu kembali.

Seol Hwa berlari senang ke Wang Son dan Choi sementara, Dae Gil hanya tersenyum.

Dae Gil: Apa kalian bebas dari masalah?

Choi: Tentu saja!

Dae Gil: Bagaimana denganmu?

Wang Son: Beginilah hidup! Tadi malam kami mendapat sedikit kesenangan! Haha!

Dae Gil: Dengan pria ini, apa lagi yang kalian lakukan selain pergi ke rumah seorang wanita dan membuat kekacauan!

Seol Hwa: Orabeoni, apa kalian tidak merindukanku?

Wang Son: Tidak.

Choi: Apa kau menjaga dirimu dengan cara khasmua selama ini?

Seol Hwa: Tentu saja! Di dunia ini hanya aku yang bisa melakukan itu.

Wang Son: Ahhh, apa itu benar?

Seol Hwa: Tentu saja!

Choi menyerahkan pesan rahasia yang ditemukan di rumah Perdana Mneteri Im kepada Dae Gil. Dia membacanya keras-keras.

Dae Gil: Bagi pria yang jejaknya tak bisa diungkap, kemampuan terburuknya tertidur…

Choi: Kelihatannya seperti kode rahasia yang hanya bisa dipecahkan oleh mereka…

Dae Gil: Kemampaun terburuknya tertidur… Wah-bool!

Wah Bool adalah patung Buddha tidur. Dan di Korea, ada satu tempat terkenal dengan patung Buddha tidur: Kuil Buddha Un Joo! Dae Gil mulai menghitung waktu dan jarak tempat itu. Jaraknya 2 hari bila berjalan kaki dan bisa 1,5 hari bila cepat-cepat. Tapi dia tahu hal itu tetap saja bakal terlambat.

Dae Gil mulai terlihat aneh dan Choi menarik Dae Gil untuk menghentikannya sebelum dia melakukan hal yang sangat bodoh. Tapi Dae Gil malah memukul Choi dan berlari kencang ke sebuah pos penjagaan militer dimana dia melihat kuda. Dae Gil dengan sigap berhadapan dengan 10 tentara tanpa senjata!

Dae Gil kemudian mengambil salah satu kuda dan pergi. Choi, Wang Son, dan Seol Hwa mengejar Dae Gil dan sampai ke para tentara yang bergeletakan di tanah. Wang Son dan Choi tidak percaya pada resiko yang diambil Dae Gil dan berpikir kalau dia pasti sudah gila. Sampai, Seol Hwa mengatakan tentang Un Nyun yang sudah menikah dan suaminya adalah seorang pria yang bernama Song Tae Ha. Choi dan Wang Son saling pandang. Mereka lalu menarik kuda yang tersisa dan mengejar Dae Gil.

Sementara itu, di Un Joo juga sudah terlihat Song Tae Ha dan yang lain. Mereka sekarang menunggu anak buah Tae Ha yang lain. Tak lama, yang ditunggu pun tiba. Kwok Han Seom akhirnya bertemu dengan teman-temannya. Mereka semua saling mengungkap tato budak masing-masing seperti yang dimiliki Tae Ha.

Mereka telah mengorbankan semuanya demi Pangeran yang sekarang ada di tangan Hye Won. Tae Ha sendiri masih terlihat terkejut bertemu dengan anak buahnya dengan tato budak di dahi masing-masing.

Kurang dari 10 mil, Dae Gil dan kawan-kawannya menghentikan kuda. Mereka tidak mau terlihat dengan kuda curian. Setelah berlari beberapa mil, mereka akhirnya sampai di dasar gunung dimana di atas gunung tersebut adalah letak patung Buddha tidur. Ketiga orang ini lalu membuat rencana penyerangan. Mereka akan mendekati Kuil Un Joo sehingga memperbesar kesempatan mereka untuk bertemu Un Nyun dan Tae Ha.

Pada saat itu, Tae Ha dan anak buahnya memberikan penghormatan pada Pangeran. Bagi mereka ini mempunyai makna utama. Inilah alasan kenapa mereka tidak menolak bila disebut pencuri. Pangeran adalah alasan kenapa mereka rela hidup direndahkan.

Sementara itu, Dae Gil berlari dengan kecepatan penuh sambil mengingat kekasihnya…

Sinopsis Chuno – Episode 10

Episode ini dimulai dengan Dae Gil yang berlari ke arah kakak Un Nyun dan menodongkan pria itu pisau. Dia menyerah dan berlutut. Dae Gil pun mulai menanyakan pertanyaan yang selama ini berputar-putar di kepalanya: “Dimana Un Nyun?”

Kakak Un Nyun tidak diam tanpa perlawanan. Dia berkata pada Dae Gil untuk membunuhnya saja. Dae Gil mulai mengencangkan pisaunya di leher pria itu. Tapi, dia kembali ragu-ragu. Kakak Un Nyun (Seong Hwan) bertanya kenapa Dae Gil ragu-ragu. Dia bahkan mengingatkan Dae Gil kalau dia adalah orang yang membunuh ayahnya. Dae Gil membalaskan dendamnya. Dia melukai wajah Seong Hwa tepat di matanya dengan membuat goresan seperti yang Dae Gil miliki.

Sementara itu, Tae Ha dan Un Nyun di kelilingi oleh pasukan dan tidak bisa lagi kabur kemana-mana. Tae Ha meyakinkan Un Nyun kalau semuanya akan baik-baik saja. Un Nyun mengangguk. Matanya penuh dengan keyakinan. Tae Ha berlutut dan melipat tangannya di belakang kepala sebagai tanda menyerah. Beberapa orang bersiap-siap akan mengikatnya. Tapi itu hanya tipuan – saat pasukan itu mendekat, Tae Ha merampas tali yang mereka bawa dan mulai bertarung.

Di tengah-tengah pertarungan, seorang tentara mengarahkan panahnya ke Un Nyun dan bersiap-siap memanah. Tae Ha melihat hal ini dan berlari untuk menghentikannya. Un Nyun memang selamat. Tapi panah itu mengenai lengan Tae Ha.

Tentara yang menembakkan panah itu kabur dan Tae Ha menarik anak panah yang menembus lengannya. Un Nyun memintanya untuk berhenti lalu berlari untuk mengumpulkan sesuatu dari sebuah kendi yang seperti terdapat benda yang berguna untuk mengobati luka Tae Ha.

Di pihak lain, pelayan pangeran masih mengejar Han Seom aka Kwok yang lari bersama pangeran. Pelayan itu tidak mau menyerah. Han Seom akhirnya berhenti dan menyerahkan pangeran padanya, yang membuat wanita itu menjadi tenang. Han Seom kemudian mengatakan kalau ada seorang pembunuh yang ingin menghabisi nyawa pangeran. Wanita itu sadar bagaimana sulit situasinya sekarang dan menurut saja perintah Han Seom.

Tae Ha dan Un Nyun sampai di tempat yang sama dengan pangeran dan pelayannya. Begitu pula dengan Hwang Chul Woong. Tae Ha ingin jalan terus tapi Un Nyun bersikeras agar mereka berhenti dan merawat lukanya. Saat merawat luka Tae Ha, Un Nyun bertanya soal pangeran dan pelayannya. Kali ini Tae Ha menjawab dengan jujur pertanyaan itu. Un Nyun juga bertanya apakah pangeran akan menjadi raja suatu hari kelak. Tae Ha memastikan hal itu padanya. Un Nyun kemudian ingat pada hari dimana dulu Dae Gil berjanji padanya kalau dia akan mengubah negara dan menciptakan asas persamaan jadi mereka dapat bersatu. Un Nyun kemudian bertanya: “Kalau kita punya raja baru, apakah dunia akan berubah?” Tae Ha sekali lagi berkata bahwa hal itu harus!

Un Nyun tersenyum mendengar jawaban ini. Dia selesai merawat luka sang mantan jenderal. Tae Ha kemudian berkata kalau mereka harus segera pergi. Un Nyun membuat Tae Ha terkejut dengan berkata tidak. Dia juga mengatakan kalau dia tidak ingin mencampuri urusan penting Tae Ha. Un Nyun berkata: “Kau harus berhasil dan menciptakan dunia yang lebih baik!”

Tae Ha terdiam dan mencerna ucapan Un Nyun. Kemudian dengan manis dia berkata: “Meski ini bertentangan dengan ajaran moral, tapi aku akan terus menggenggam tanganmu… karena kita harus lari.”

Tae Ha kemudian menjulurkan tangannya pada Un Nyun. Wanita itu ternyata meraih uluran tangan Tae Ha. Mereka saling pandang dan sudah pasti kini mereka yakin untuk tidak mau berpisah. Mereka pun pergi.

Di tempat lain, Dae Gil sudah berancang-ancang akan menginterogasi Seong Hwa ketika dia diganggu oleh sebuah suara. Seol Hwa telah ditangkap oleh anak buah Seong Hwa. Salah satunya bahkan menodongkan pedang ke leher Seol Hwa sambil mengancam akan membunuhnya bila Dae Gil tidak melepaskan Seong Hwa.

Dae Gil sepertinya tidak peduli. Dia memarahi Seol Hwa karena sudah menghilangkan kuda-kuda mereka. Jadi suatu hari nanti dia harus membayar hutangnya. Seol Hwa ketakutan mendengar hal itu dan memohon pada Dae Gil agar tidak mendekat dan berteriak kalau dia akan mati bila Dae Gil mendekat.

Dae Gil sebenarnya sudah menebak kalau anak buah Seong Hwa hanya mengancam saja. Memang benar begitu. Sebab, detik berikutnya, mereka malah berlari ke Dae Gil dan mulai menyerang. Seol Hwa ditinggalkan di belakang. Dengan cepat, Dae Gil menghabisi orang-orang itu.

Seong Hwan bertanya apakah Dae Gil tidak penasaran kenapa dia membantai keluarganya 10 tahun yang lalu. Dae Gil bilang dia tidak peduli tapi Seong Hwan bercerita juga. Ceritanya ini sangat mengejutkan. Dia dan Dae Gil ternyata bersaudara tiri. Ibu Seong Hwan yang seorang budak dihamili oleh ayah Dae Gil. Kemudian ibu Seong Hwan menikah dengan budak lainnya dan melahirkan Un Nyun. Jadi mereka sebenarnya saling terikat. Kemudian dia berkata: “Hari itu aku tidak membunuh ayahmu. Tapi, aku membunuh ayahku!”

Dae Gil yang terkejut mendengar cerita itu, berteriak menyuruh kakak Un Nyun untuk diam. Dia kembali menodongkan pisau ke leher pria itu, mencoba mengumpulkan tenaga untuk membunuhnya. Seong Hwan berkata: “Apa kau masih mencintai Un Nyun? Kalau begitu lupakan saja dia sekarang. Un Nyun sudah menikah. Dengan Song Tae Ha.”

Mendengar kalimat ini, Dae Gil menangis dan melepaskan Seong Hwan. Dia kembali teringat pada saat dia melemparkan pisau dan mengenai wanita yang berkuda bersama Song Tae Ha. Dia sempat melihat wajah wanita itu. Dae Gil kembali memastikan: “Apa kau menyebut Song Tae Ha? Un Nyun sudah menikah dengan Song Tae Ha?” Bahkan, saat Seong Hwan berkata pada Dae Gil untuk melupakan Un Nyun saja, Dae Gil sepertinya tidak mendengarkan. Seong Hwan kemudian merampas pisau Dae Gil dan menusuk perutnya sendiri. Seong Hwan mati.

Dae Gil menangis dan bertanya-tanya kenapa harus Song Tae Ha. Kenapa Un Nyun menikahi pria itu? Dia kemudian menarik kerah baju Seong Hwan dan memintanya untuk bangun. Dia tidak boleh mati.

Dae Gil ambruk. Seol Hwa yang menyaksikan semua kejadian ini berlutut di samping Dae Gil. Dia memegang tangan pria itu yang berlumuran darah. Berharap hal itu dapat membuatnya tenang.

Kembali ke Han Seom. Mereka bertiga beristirahat di sebuah gua, dan Han Seom bercerita kalau selama ini dia berpura-pura menjadi orang jahat agar bisa tetap dekat dengan pangeran sehingga bisa menyelamatkannya saat keadaan bertambah buruk. Tae Ha sendiri yang meminta Han Seom melakukan ini dan juga menyuruhnya untuk menunggu perintah ketika waktunya tiba.

Mereka bertiga kemudian melanjutkan perjalanan. Han Seom tetap masih ingin melamar pelayan pangeran, menjanjikan kalau mereka akan hidup bahagia. Mereka saling berkelakar. Han Seom menanyakan nama wanita itu. Dari mana dia berasal, dsb… tapi, Hwang Chul Woong berada sudah sangat dekat dengan ketiga orang itu. Waktu wanita itu berkata: “Namaku…” Hwang Chul Woong berhasil melihat mereka.

Dia mempersiapkan sebuah tombak dan melemparkannya. Tombak itu tepat mengenai punggung sang pelayan. Sekarat, dia masih melanjutkan perkataannya: “Namaku… Jang.. Pil… Soon…” Dia juga meminta Han Seom untuk menjaga pangeran.

Chul Woong akhirnya sampai dan mencoba membunuh pangeran. Dia gagal karena Han Seom selalu berhasil menangkis serangannya. Saat Han Seom sudah terpojok, mereka mendengar sebuah suara: Tae Ha sudah tiba disana juga. Dia menyuruh Chul Woong untuk berhenti. Dia lalu memungut pedang Han Seom yang terjatuh. Sebab, Tae Ha sendiri tidak membawa pedangnya.

Tae Ha: “Berhenti. Bukankah kita teman yang berlumuran darah di medan perang?”

Chul Woong: “Teman? Pernahkah kau menganggapku sebagai seorang teman? Bukankah kau selalu memandang rendah diriku dan memberiku perintah?”

Tae Ha: “Jika kau melanjutkannya, aku akan membunuhmu.”

Chul Woong: “Apakah kau berpikir karena sudah pernah menyelamatkan hidupku membuat nyawaku menjadi milikmu?”

Tae Ha tidak menyahut. Dia menyuruh Han Seom pergi dan menyelamatkan pangeran. Dia menurut.

Sementara itu, Un Nyun melanjutkan perjalannya dengan mengikuti jalan yang diambil Tae Ha. Dia berusaha secepat mungkin. Tiba-tiba saja dia berhenti. Dia melihat pedang Tae Ha yang ditinggalkan untuknya, yang menandakan kalau laki-laki itu akan kembali untuknya. Un Nyun berhenti dan duduk. Dia mengayunkan pedang itu.

Pertarungan antara Tae Ha dan Chul Woong jelas berlangsung sengit. Mereka awalnya imbang. Tapi kemudian Tae Ha berhasil menggores Chul Woong dengan pedangnya. Chul Woong kalah tapi masih bersikeras melanjutkan pertarungan. Tae Ha berhasil kembali dengan menodongkan pedangnya ke leher Chul Woong.

Tae Ha: “Berhenti mengejarku sekarang.”

Chul Woong: “Jangan berbicara padaku seolah-olah kau sedang memberiku perintah!”

Tae Ha kabur dan Chul Woong berteriak padanya untuk kembali dan bertarung hingga mati.

Tae Ha bergabung dengan Han Seom dan Pangeran. Mereka bertiga menuju rakit yang sudah dipersiapkan sebelumnya untuk mereka pakai saat kabur. Tae Ha berkata bahwa dia harus kembali dan menjemput seseorang. Tae Ha pergi dan mencari Un Nyun.

Han Seom: “Saya tahu bahwa seseorang yang tidak bisa menyelamatkan satu nyawa, tidak akan bisa menyelamatkan negerinya. Yang Mulia, saya tidak melakukan apa-apa dan hanya bisa kabur… tapi Jenderal… pergi untuk menyelamatkan satu nyawa lagi. Bukankan dia orang yang bisa membangun seluruh negeri? Bukankah demikian, Yang Mulia?”

Sementara itu Dae Gil, yang sangat sedih, sedang berjalan di sebuah jalan setapak. Di sampingnya, Seol Hwa berusaha membuatnya senang kembali. Dia bahkan menari dan menyanyi. Dan ketika Dae Gil sama sekali tidak merespon, Seol Hwa berkata: “Hidup denganku saja! Lebih baik hidup dengan wanita yang menyenangkan daripada wanita yang cantik.”

Di hadapan Dae Gil tiba-tiba muncul bayangan Un Nyun. Rambutnya sudah diikat yang menandakan kalau dia sudah menikah. Wajahnya terlihat sedih. Seolah-olah dia mengucapkan selamat tinggal pada Dae Gil. Waktu Dae Gil mendekatinya, Un Nyun malah berjalan menjauh. Dia perlahan-lahan memalingkan wajahnya. Dia pergi.

Di saat yang bersamaan, Tae Ha sampai ke tempat Un Nyun sedang duduk. Un Nyun melihat kedatangan Tae Ha dan langsung bangkit. Mereka berdua berjalan mendekat.

Tae Ha: “Kau menungguku?”

Un Nyun: “Kau meninggalkan pedangmu.”

Tae Ha memeluk Un Nyun… dia kemudian menciumnya. Awalnya Un Nyun ragu, tapi akhirnya memejamkan mata dan menerima ciuman itu…

Ketika semua itu terjadi, bayangan Un Nyun yang dilihat oleh Dae Gil perlahan-lahan memudar. Dia berbalik. Pergi. Dan akhirnya benar-benar menghilang. Dae Gil menatap jalan yang kosong dengan hati yang terluka…

Sinopsis Chuno – Episode 9

Sang pembunuh Yoon Ji meluncurkan serangan mengejutkan pada Un Nyun dan hanya kecepatan Tae Ha yang dapat menyelamatkannya. Yoon Ji kemudian terpaksa berhadapan dengan Tae Ha dengan mengeluarkan jurus berputar dengan belati. Dia memakai dua belati dan Tae Ha yang gesit tetap tak tersentuh. Akan tetapi, ikat kepala mantan jenderal itu terpotong oleh salah satu belati Yoon Ji dan mengungkap tato mengerikan di dahi Tae Ha. Sebuah tato yang menegaskan kalau dia adalah seorang budak.

Un Nyun yang benar-benar percaya pada Tae Ha ketika dia mengatakan kalau dia bukan budak, sangat terkejut. Baginya, pengungkapan ini memiliki arti khusus. 10 tahun yang lalu, dia dan kakaknya Seong Hwan, lari dari rumah keluarga Dae Gil. Menyatu ke dalam masyarakat sebagai manusia bebas, mereka memutuskan untuk menghapus tato di badan mereka dengan menggunakan besi panas dan membakar tanda budak itu. Un Nyun membeku melihat tato di dahi Tae Ha.

Tae Ha membuat Yoon Ji membayar mahal atas serangan mendadak yang dilakukannya. Berhadapan dengan lawan yang lebih unggul adalah sebuah ide buruk apabila serangan awal gagal. Dengan sigap, Tae Ha menusukkan salah satu belati yang digenggam Yoon Ji ke perut wanita itu sendiri!

Seperti yang diprediksi oleh Dae Gil, Tae Ha dan Un Nyun pergi ke pulau Jeju melalui kota pelabuhan yang terdekat yang menuju ke pulau itu. Tae Ha menggenggam pergelangan tangan Un Nyun dan naik ke atas perahu. Karena tidak ada halangan lagi, mereka berangkat menuju pulau Jeju.

Sementara itu, gerakan tergesa-gesa Dae Gil agar cepat sampai ke Tae Ha dan Un Nyun dihalangi ketika Baek Ho dan anak buahnya menghadang. Dae Gil dapat lolos dari serangan awal Baek Ho yang bisa saja membelahnya menjadi dua bagian. Dae Gil dengan cepat dapat mengalahkan orang-orang Baek Ho lalu berhadapan dengan pria yang mendapat perintah dari kakak Un Nyun untuk membunuh Dae Gil.

Kemudian Baek Ho melakukan hal yang sangat mengejutkan. Dia menunjukkan gambar Un Nyun pada Dae Gil. Jelas saja laki-laki itu membeku. Sebab, Baek Ho punya gambar terbaru Un Nyun. Itu berarti, dia pernah bertemu dengan Un Nyun. Baek Ho meluncurkan serangan mematikan pada Dae Gil, namun sebelum hal itu tercapai, dia sudah dihentikan. Choi menyelamatkan Dae Gil dengan lemparan tombak yang sangat akurat.

Tombak itu menembus dada Baek Ho! Dia sekarat dan hanya punya sedikit waktu untuk menunjukkan rasa cintanya pada Un Nyun. Gambar Un Nyun robek menjadi dua. Salah satu robekannya dipungut oleh Baek Ho sementara yang lainnya di ambil oleh Dae Gil.

Dae Gil menggeledah mayat Baek Ho untuk mencari sesuatu yang mungkin bisa dijadikan petunjuk untuk menemukan Un Nyun. Dia menemukan sesuatu: tanda pengenal Baek Ho, yang bertuliskan nama Baek Ho, tempat tinggal, tahun lahir, dan derajat!

Dengan petunjuk itu, Dae Gil segera pergi ke desa tempat tinggal Baek Ho dan bahkan tidak menunggu Choi dan Wang Son. Dia kembali ke tempat Seol Hwa dan merampas tali pengikat kuda dari tangan wanita itu lalu menunggangi kudanya. Seol Hwa naik ke kuda yang terakhir dan mengejar Dae Gil. Choi dan Wang Son tiba terlambat!

Kembali ke ibukota Han yang, beberapa anak buah Chun Ji Ho diperintahkan untuk bertemu dengan Perdana Menteri Lee Gyeong Shik di paviliunnya sementara, Chun Ji Ho dan yang lainnya masih mengikuti Hwang Chul Woong. Orang-orang itu akan bertemu dengan Perdana Menteri Lee sambil membawakan surat dari Komandan Hwang yang berisi informasi tentang kematian Perdana Menteri Im.

Perdana Menteri Lee sangat senang dengan berita itu dan segera pergi, meninggalkan orang-orang Chun Ji Ho di tempat itu dengan meja yang penuh makanan lezat. Anak buah Ji Ho menyenangkan diri mereka dengan menyantap makanan itu tanpa tahu kalau Lee Gyeong Shik sudah meracuninya! Mereka mati dengan cara yang mengenaskan lalu digantung bak penjahat!

Di tempat lain, Tae Ha dan Un Nyun sedang dalam perjalanan ke Wando. Dan Un Nyun punya banyak pertanyaan!

Un Nyun: Bagaimana kau bisa menjadi seorang budak?

Tae Ha: Aku bukan budak.

Un Nyun: Lalu apa arti semua ini? Kau budak tapi bukan budak. Kau yang dikejar tapi tidak sedang dalam pelarian. Ucapan macam apa ini? Yang mana yang bisa aku percaya dan yang mana yang harus aku lupakan?

Tae Ha menceritakan semuanya. Setelah dihianati anak buahnya, Hwang (yang bersekongkol dengan Lee Gyeong Shik), Perdana Menteri Im menemui Tae Ha dan menceritakan tentang surat rahasia yang ditulis Putra Mahkota pada Tae Ha. Sangat penting bagi Tae Ha untuk bertahan hidup jadi dia membiarkan dirinya dan anak buahnya menjadi budak sebab Perdana Menteri Im punya rencana untuk mengaktifkan Tae Ha dan anak buahnya ketika waktunya sudah tepat.

Un Nyun: Lalu apakah kau mencoba mengungkap tuduhan palsu ini dan kembali ke kehidupanmu sebelum kau menjadi budak? Karena itukah kau melarikan diri?

Tae Ha: Ada hal lebih penting yang harus aku lakukan ketimbang menghapus status budak.

Un Nyun: Adakah hal lebih penting dari membebaskan dirimu dari perbudakan?

Tae Ha: Ada hal yang harus aku lakukan, meski itu artinya aku harus diubah menjadi sesuatu yang lebih buruk dari menjadi seorang budak.

Un Nyun memandang Tae Ha dan pelan-pelan menggelengkan kepalanya. Tae Ha mungkin saja benar. Tapi jelas dia tidak tahu apa-apa tentang apapun yang diucapkannya. Kemudian Un Nyun berkata kalau tidak ada yang lebih buruk di dunia ini dari menjadi seorang budak.

Meski Un Nyun menggelengkan kepala, dia kemudian melepas mantelnya dan merobek pakaian itu untuk membuatkan ikat kepala yang baru bagi Tae Ha. Pria itu tersentuh pada hadiah yang diberikan Un Nyun. Sebenarnya bisa saja dia menyuruh Tae Ha merobek pakaiannya sendiri. Tapi, Un Nyun malah merobek pakaiannya sendiri.

Konspirasi pemberontakan budak berlanjut. Eop Bok sebelumnya telah membunuh seorang bangsawan dan mencuri semua uang bangsawan itu. Malam itu, Eop Bok dan kekasihnya, Cho Bok, sedang jalan-jalan. Dia bertanya pada Cho Bok apakah mungkin menjalankan misi mereka menggunakan orang yang tidak tepat? Cho Bok berpikir sejenak, kemudian dia tersenyum dan menggenggam tangan Eop Bok.

Di tempat lain, Dae Gil dan Seol Hwa berkemah karena hari sudah malam. Seol Hwa masih belum tahu kenapa mereka harus meninggalkan Choi dan Wang Son tapi Dae Gil sama sekali tidak mengatakan apa-apa. Seol Hwa menggeliat karena puas dan tidak puas pada hidupnya.

Seol Hwa mencoba mengajak Dae Gil mengobrol. Dia mengatakan sesuatu yang berani dengan bilang bahwa dia ingin menjadi pemburu budak saja seperti Dae Gil dan kawan-kawannya. Hal itu mengejutkan Dae Gil yang merespon ucapan Seol Hwa itu.

Dae Gil: Sekarang kau sudah sampai di dasarnya. Inikah hal yang menurutmu berharga untuk dilakukan?

Seol Hwa: Lalu kenapa kau melakukannya?

Dae Gil terdiam dan tanpa sadar meraba luka yang dia dapat dari kakak Un Nyun, yang sudah membunuh seluruh keluarganya dan manghancurkan rencana hidupnya dengan Un Nyun. Dae Gil berkata: “Karena para budak yang kabur harus ditangkap. Para budak yang mengkhianati tuannya harus ditangkap dan dikembalikan ke tempat mereka semula.”

Keesokkan paginya, Seol Hwa dan Dae Gil sampai di desa tempat asal Baek Ho. Dae Gil memerintahkan Seol Hwa untuk bertanya dan menemukan tempat tinggal Baek Ho, siapa   tuannya, apakah ada yang mengenal Un Nyun dan seterusnya. Seol Hwa kemudian bertanya apakah Dae Gil akan meninggalkannya ketika dia pergi bertanya.

Seol Hwa: Kalau kau meninggalkanku lagi, aku tidak akan membiarkannya begitu saja. Meski aku tidak percaya pada setiap pria di dunia ini… kau tahu aku percaya padamu, kan? Dan kau tahu kan apa artinya ketika seorang wanita berkata pada seorang pria jika dia mempercayainya?!

Kembali ke Tae Ha dan Un Nyun. Mereka akhirnya menemukan kapal barang yang menuju ke Jeju. Kelihatannya, Un Nyun mulai menyukai Tae Ha. Setelah melewati malam yang penuh kegelisahan di dalam kapal barang itu dimana mereka saling pandang, Tae Ha dan Un Nyun bertemu di dek pada paginya. Un Nyun berterimakasih pada Tae Ha karena sudah meminjamkan mantelnya sebagai selimut lalu menyerahkannya pada Tae Ha. Dia memperhatikan jaket yang diserahkan Un Nyun yang sudah terlipat dengan rapi. Tae Ha sudah pernah menikah sebelumnya dan tahu kalau sikap Un Nyun itu berarti lebih dari sekedar mengembalikan sebuah jaket.

Jauh di Jeju, Penjaga Kwok sedang berjudi dengan kawan-kawannya. Setelah mengalami kekalahan, dia memutuskan untuk mencari udara segar dan menuju tong air untuk minum. Tapi kemudian dia mengeluarkan sebuah kertas kosong dan di lemparkannya ke dalam air. Itu adalah surat rahasia Perdana Mneteri Im. Kwok berubah pucat waktu membaca pesan itu. Dia sadar kalau waktunya sangat sedikit dan harus segera membawa kabur pangeran.

Waktunya bahkan sepertinya sudah habis saat dia menuruni jalan desa dan melihat Hwang Chul Woong sedang mendekat. Dengan cepat Kwok membunuh kawan-kawannya. Suara ribut membuat perawat pangeran keluar tapi dia terkejut ketika Kwok merenggut pangeran dan kabur. Setelahnya, Hwang dan Chun Ji Ho tiba dan dikejutkan oleh suara teriakkan.

Hwang melakukan pemeriksaan. Dia memerintahkan Ji Ho dan Man Deuk untuk mengejar pangeran dan siapapun yang bersamanya. Tapi Man Deuk malah meminta uang lagi yang membuatnya kehilangan nyawa. Komandan Hwang tidak punya waktu buat bermain-main. Chun Ji Ho kabur ketika Hwang menyerangnya juga. Hwang harus menemukan pangeran. Meski ada banyak mayat bergelimpangan, dia tetap masuk ke dalam gubuk dan mencari tanda. Dia sadar kalau semua ini sudah diatur dan dia menemukan sebuah klu yang menuntunnya ke arah utara.

Satu atau dua mil jauhnya, Tae Ha dan Un Nyun juga menuju gubuk yang sama, tidak tahu kalau mereka sudah sedikit telat. Ketika sampai mereka melihat ada 6 mayat tergetak disana.

Tae Ha mencari-cari dan menemukan tanda yang sama seperti yang ditemukan Hwang sebelumnya. Tapi terlambat artinya mati. Saat dia dan Un Nyun keluar dari dalam gubuk, mereka sudah dikepung oleh 12 tentara termasuk 10 orang dengan panah.

Akhirnya Seol Hwa kembali ke Dae Gil dengan informasi tentang tempat tinggal Baek Ho. Awalnya dia menggoda Dae Gil. Namun, keceriaan Seol Hwa berubah jadi menakutkan saat melihat tatapan Dae Gil. Tapi, dia memberikan informasi itu pada Dae Gil. Tidak membuang-buang waktu, Dae Gil memasuki rumah seorang Yang Ban untuk mencari jawaban.

Pada malam harinya, Dae Gil masuk dengan kasarnya ke rumah tuan itu dan bertanya pada pemilik rumah keras-keras apakah Baek Ho tinggal disana. Terkejut, sang pemilik rumah keluar untuk bertemu Dae Gil. Mengejutkan! Itu adalah kakak Un Nyun. Dae Gil mengeluarkan belatinya dan berteriak ketika dia mulai menyerang…

Sinopsis Chuno – Episode 8

Episode ini dimulai dengan sebuah flashback dimana Dae Gil menggendong Un Nyun dan menceritakan pada wanita yang dicintainya itu rencananya – dia akan lulus ujian nasional, mendapatkan posisi penting di pengadilan dan menciptakan dunia yang tidak mendiskriminasi kelas sosial seseorang. Dunia ini adalah dunia yang penuh dengan impian dimana dia dan Un Nyun bisa hidup bersama dalam keabadian.

Kembali ke masa sekarang…. Di episode sebelumnya, Hye Won aka Un Nyun yang pingsan menjatuhkan benda kesayangannya: batu pemberian Dae Gil! Apa yang bakal terjadi?

Pada pagi harinya, Seol Hwa dibangunkan oleh para pemburu budak yang ingin tahu apa yang dilakukan Seol Hwa pada kuda-kuda dan uang mereka. Dia mengatakan kalau dia menjual kuda-kuda itu dan menghabiskan semua uangnya untuk membeli makanan dan minuman. Choi kehilangan ketenangannya mendengar berita itu. Wang Son mengusulkan agar menjual Seol Hwa saja untuk menutupi kerugian. Akan tetapi, Dae Gil hanya bersikap dingin dan menyuruhnya untuk pergi saja. Seol Hwa pergi dengan penuh air mata.

Dae Gil menyadari kalau lagi-lagi Seol Hwa meninggalkan haegeum-nya. Berlawanan dengan sikap dinginnya pada wanita itu, dia menyelamatkan benda kesayangan Seol Hwa itu.

Sementara itu, Tae Ha membawa Hye Won ke rumah mantan atasannya. Ketika Hye Won tertidur, dengan perlahan-lahan Tae Ha membuka ikat kepalanya yang menunjukkan dengan sangat jelas tanda budak di dahinya. Tae Ha meninggalkan semangkuk bubur untuk Hye Won, pakaian baru, dan aksesoris rambut.

Tae Ha meminta maaf pada mantan atasannya karena sudah membawa masalah ke rumahnya. Laki-laki itu berhenti dari jabatannya ketika Joseon dikalahkan oleh Qing dan hanya memiliki harapan untuk menghabiskan sisa hidupnya dalam kedamaian.
Jenderal: Apakah wanita itu juga budak?
Tae Ha: Dia wanita dari kaum bangsawan. Dan aku bukan budak.

Jenderal mencela Tae Ha karena melanggar hukum dan menerangkan kalau di bawah hukum, dia masih seorang budak. Tae Ha menegaskan kalau dirinya difitnah namun Jenderal berkata hal itu bukan alasan. Seorang pegawai negeri harus selalu taat pada hukum – begitulah cara seseorang melayani rajanya dan menjaga rakyatnya.

Tae Ha: Kenapa kau menolak menyerah pada Qing dan meninggalkan pasukan? Bukankah itu melanggar hukum?
Jenderal: Ada perintah-perintah tertentu yang tidak bisa dipatuhi oleh seorang tentara.
Tae Ha: Sama saja bagiku.
Lalu Tae Ha memberitahunya kalau Im Young Ho sudah dibunuh oleh Chul Woong.

Di tempat lain, Mahasiswa Jo melanjutkan rencana almarhum Im Young Ho untuk menciptakan dunia baru. Dia menyebarkan pesan yang ditulis Im Young Ho dalam tinta tak terlihat pada orang-orang Tae Ha, yang selama dua tahun ini hidup sebagai budak. Setelah mengungkap dan membaca pesan rahasia itu, mereka ikut dalam acara makan makanan yang kaya serat.

Sementara Tae Ha berbincang dengan mantan atasannya, Hye Won/Un Nyun mengenakan hanbok dan jepit rambut yang dibawakan Tae Ha untuknya. Dia melihat luka di dadanya dimana tanda budaknya dulu berada dan kemudian menyadari kalau batu kesayangannya hilang. Dia mencarinya dimana-mana dan menyadari mungkin dia menjatuhkannya ketika pingsan. Dengan berat hati Hye Won mengenang kembali masa indahnya bersama Dae Gil dan batu itu.

Flashback: saat Dae Gil sedang belajar untuk ujian nasional, Hye Won membawakannya kudapan. Dia menarik wanita itu ke ruangannya dan mengingatkannya pada janjinya jika dia akan membawa Hye Won keliling negara, dan bercanda kalau dia mau meninggalkan ujian bila Hye Won menginginkannya. Mereka sebenarnya akan berciuman namun Hye Won mundur dan bertanya apakah dia tidak sedang dipermainkan. Waktu kecil, Hye berpikir kalau mereka sederajat, namun kemudian sadar kalau ada kelas yang memisahkan mereka.

Un Nyun mengingat semua ini dan berduka atas kehilangannya.

Tae Ha berkata dia akan pergi ke Pulau Jeju untuk menyelamatkan putra bungsu Pangeran So Hyeon, tapi Jenderal memperingatkannya kalau sejarah tidak dengan mudah dapat diubah. Akan tetapi, dia setuju untuk memperlambat waktu ketika Chul Woong tiba jadi dia dan Hye Won dapat kabur.

Hwang Chul Woong, yang dulunya adalah bawahan Jenderal, bertarung dengan atasannya. Dan jelas saja kalau mantan bawahan Jenderal dapat mengalahkannya.
Jenderal: Jadi kau sudah meningkat dengan pesat…
Chul Woong: Beristirahatlah dengan tenang.

Tae Ha dan Hye Won meninggalkan rumah Jenderal dengan pakaian seorang bangsawan. Mereka melewati Chun Ji Ho yang memperhatikan jika ada yang aneh dengan pasangan tersebut. Dia menyuruh pasangan itu untuk berhenti namun Tae Ha dan Hye Won selamat karena Chun Ji Ho mendapat tugas dari Chul Woong untuk mengurus mayat lagi.

Di pihat lain, orang-orang Baek Ho melanjutkan pencarian terhadap Hye Won. Bae Ho sendiri pergi menemui kakak Un Nyun dan memberitahukan bahwa Un Nyun telah menikah dengan Song Tae Ha. Sudah cukup buruk adiknya menikah dengan budak, Kim Seong Hwa (kakak Un Nyun) juga mengetahui kalau pemburu budak yang mengejar Tae Ha dan Un Nyun adalah Dae Gil. Pria yang disangkanya telah mati. Untuk melindungi adiknya, Seong Hwan memerintahkan Baek Ho untuk membunuh Dae Gil.

Karena Seol Hwa sudah menghabiskan semua uang mereka, para pemburu budak harus mengisi kembali pundi-pundi uang mereka. Mereka melakukan penipuan dengan menjadi petugas pemeriksaan dan meminta setiap warga yang lewat untuk menunjukkan tanda pengenal. Bagi yang tidak bisa menunjukkannya, akan dimintai uang!

Ketika Dae Gil menyusuri jalan utama, Seol Hwa sedang berdiri di penjual makanan, berharap mendapatkan makanan gratis. Karena sangat sial, Seol Hwa malah lari ke rombongan tarinya yang dulu. Kali ini dia tidak akan dibebaskan. Dia diminta untuk bernyanyi biar dapat uang. Saat itulah, dia melihat Dae Gil dan meminta tolong. Teriakannya mengingatkan Dae Gil pada Un Nyun yang juga berteriak padanya saat ditangkap tentara Qing. Untuk sementara, dia hanyut dalam kenangannya. Namun kemudian dia kembali ke masa kini lagi.

Seol Hwa yang diminta untuk menari, mendekati Dae Gil yang berakting sebagai seorang penonton. Seol Hwa memeluknya dan menjatuhkannya ke tanah, senang karena dia datang untuk menyelamatkannya.

Rombongan tari itu tentu tidak akan melepaskan Seol Hwa begitu saja. Dae Gil menawarkan 200 nyang pada pimpinan kelompok itu yang sangat tidak bisa ditolak. Namun, saat hanya menerima 15 nyang, dia memerintahkan orang-orangnya untuk memberi pelajaran pada Dae Gil. Sudah pasti, dia dapat mengalahkan mereka.

Kembali ke jurang, Wang Son memamerkan hasil jarahannya pada Choi, yang menghasilkan lebih sedikit. Kemudian, Dae Gil, yang Wang Son yakin akan membawa paling banyak jarahan, malah membawa… Seol Hwa!? Wang Son merasa marah tapi kemudian dapat tenang oleh perkataan Seol Hwa. Dia bersumpah tidak akan membuat masalah lagi dan mau mengerjakan perkerjaan feminin Wang Son: memasak, mencuci, menjahit, dsb.

Sialnya, kemampuan memasak Seol Hwa yang jelek membuat Wang Son tetap memasak malam itu.

Karena sudah malam, Tae Ha dan Hye Won berhenti di sebuah penginapan untuk menginap. Mereka berbagi kamar dengan hanya dibatasi kain. Tae Ha meminta Hye Won untuk pergi bersamanya ke Pulau Jeju. Tempat dimana semuanya dimulai… dimana sejarah akan ditulis ulang. Hye Won sebenarnya tidak ingin terlibat dalam misi penting Tae Ha. Tapi Tae Ha menunjukkan maksudnya untuk melindungi Hye Won (sesuatu yang tidak bisa dia lakukan untuk istri dan putranya). Ketika kain yang membatasi mereka tiba-tiba terjatuh, ternyata mereka bisa tahu kalau sedang melihat satu sama lain.

Di Mokpo, Hwang Chul Woong mengirim dua anak buah Chun Ji Ho bersama sebuah surat kembali ke Hanyang untuk bertemu dengan Lee Gyeong Shik, lalu mengambil alih sebuah perahu militer untuk dibawa pergi ke Jeju.

Sementara itu, Tae Ha dan Hye Won berangkat ke Jeju menggunakan Wando. Dae Gil, yang telah mngetahui rute yang akan dilalui Tae Ha, memulai lagi pengejaran dengan penuh semangat. Tapi ancaman lain datang dari Yoon Ji. Menyamar sebagai wanita bangsawan, dia mencoba menancapkan pisaunya ke tubuh Hye Won. Tae Ha cukup cepat jadi Hye Won bisa selamat. Saat Yoon Ji dan Tae Ha sedang bertarung, wanita pembunuh itu mengeluarkan pisaunya yang lain. Tapi dengan cepat Tae Ha mengelak. Sayangnya, hal itu membuat ikat kepalanya terlepas dan tanda budak di dahinya terlihat.

Hye Won melihat tanda itu, Tae Ha tahu Hye Won melihat tanda itu, dan Dae Gil berada cukup dekat untuk bisa bertemu lagi dengan kekasih hatinya.

Sinopsis Chuno – Episode 7

Dae Gil berada sangat dekat dengan Un Nyun aka Hye Won. Dia hanya berjarak dua detik dari wanita yang dicintainya dengan sepenuh hati yang sudah dia cari selama 10 tahun. Kelihatannya pertemuan itu tidak dapat dihindarkan. Meski Dae Gil tersandung atau dihalangi oleh keramaian pasar, dia pasti akan melihat Un Nyun dan tidak akan ada yang menghalanginya untuk berjumpa dengan wanita yang dia cintai.

Hanya saja, Un Nyun melakukan sesuatu yang sangat disayangkan. Dia menjatuhkan batu yang diberikan Dae Gil padanya. Menyadari hal itu, Un Nyun berhenti untuk mengambil kembali batu berharganya itu yang melambangkan cintanya pada Dae Gil. Tentu saja, dia dengan mudah dapat ditangkap oleh Baek Ho sebelum melihat Dae Gil.

Dae Gil sampai di perempatan jalan tanpa bertemu dengan Un Nyun dan segera mempersiapkan dirinya untuk menghadapi Tae Ha. Sang pemburu budak dan budak yang diburu mengubah pasar tempat mereka bertarung menjadi tempat yang penuh dengan potongan-potongan sayuran. Dae Gil dan Tae Ha saling berhadapan dan jelas-jelas perhatian Tae Ha berada pada orang lain. Dae Gil segera memutar kepalanya untuk melihat siapa yang sedang diperhatikan Tae Ha dan hanya melihat punggung seorang wanita yang ditangkap.

Dae Gil merasa bahwa Tae Ha ingin menyelamatkan wanita misterius berbaju putih itu. Tapi dia tidak peduli. Dia benar-benar harus menangkap Tae Ha. Tae Ha yang sangat menderita menjatuhkan tenda ke Dae Gil dan secepatnya kabur. Hanya dalam waktu beberapa detik saja, Tae Ha sampai ke tempat Baek Ho dan orang-orangnya. Tiga lawan satu.

Tapi, di atas atap, tempat dimana seharusnya Wang Son berada, seorang pembunuh bernama Yoon Ji menunggu kesempatan untuk menyerang. Yoon Ji dikirm oleh Tuan Choi, orang yang dinikahi Un Nyun, untuk membunuh atau menangkap pengantin yang lari itu. Dia dengan tepat menebak bahwa sangat sulit menangkap Un Nyun, jadi Yoon Ji mempersiapkan belati untuk dilemparkan ke Un Nyun. Tujuannya jelas, tapi Baek Ho, yang dikirm untuk melindungi dan mengawal Un Nyun kembali ke kakaknya, melihat belati itu dan malah melemparkan dirinya di depan Un Nyun untuk menerima lemparan belati Yoon Ji. Un Nyun berteriak histeris melihat serangan itu.

Tae Ha yang berpikir cepat menyelesaikan misi penyelamatannya terhadap Un Nyun dengan merampas seekor kuda dan kabur! Nice!

Setelah terbebas dari tenda yang dijatuhkan Tae Ha, Dae Gil bangkit dan memanfaatkan waktu yang sudah terbuang. Dia melihat Tae Ha kabur bersama seorang wanita. Dia kemudian melemparkan sebuah pisau pada dua orang yang kabur dengan kuda itu. Lemparan yang pertama gagal. Namun, yang kedua mengenai sasaran. Un Nyun tertusuk pisau yang dilempar oleh Dae Gil! Tapi, Komandan Hwang berhasil melukai Dae Gil. Dia pun pingsan tak sadarkan diri.

Berikutnya, Baek Ho yang sedang memulihkan diri dari serangan Tae Ha, bertanya-tanya, dia dan orang-orangnya melibatkan diri dalam masalah apa. Siapakah orang-orang dengan kemampuan bertarung luar biasa itu? Apakah mereka semua dikirm oleh Tuan Choi?

Sementara itu, Chun Ji Ho dan anak buahnya mendapati diri mereka di tempat yang sudah seperti acar saja. Seperti yang diperintahkan, dia dan orang-orangnya tetap memperhatikan Hwang membunuh seseorang di sebuah rumah orang kaya. Hwang membunuh banyak sekali orang-orang dengan menampilan bagus dan uang yang diterima mereka kelihatannya tidak cukup. Chun Ji Ho mungkin bukan petarung yang hebat. Tapi dia punya banyak orang pintar dan 500 nyang yang mereka terima tidaklah cukup. Chun Ji Ho yang diperintahkan untuk mengubur mayat yang berserakan oleh Hwang hanya diam saja. Dia meminta uang lagi. Hal ini tentu saja membuat Hwang marah dan menodongkan pedang ke leher Ji Ho – tapi sama sekali tidak membunuhnya.

Tidak terlalu jauh, Dae Gil bangun dari pingsannya dengan kepala pusing. Tapi, siapa yang peduli pada Dae Gil yang sekarat. Un Nyun masih hidup! Choi dan Wang Son sama sekali tidak bisa mempercayainya. Mereka sudah melihatnya beberapa kali. Tapi Dae Gil tetap kukuh – Un Nyun masih hidup! Menceritakan semua yang telah terjadi, Choi meminta Dae Gil untuk menghentikan pencariannya. Tapi Dae Gil terlalu punya banyak alasan penting untuk berhenti – cintanya, reputasinya, uangnya, dan hidupnya – semua ini sekarang sedang dipertaruhkan. Sudah sangat terlambat untuk kembali. Un Nyun masih hidup dan sangat dekat dengannya.

Dae Gil, Choi dan Wang Son kembali ke semak belukar tempat mereka meninggalkan Seol Hwa dan kuda-kudanya tapi sama sekali tidak menemukan apa-apa. Mereka mencari-cari wanita itu namun sama sekali tidak dapat menemukannya. Kemana dia pergi? Apa yang akan dilakukan para pemburu budak tanpa kuda-kuda mereka?

Kembali ke Tae Ha dan Un Nyun yang sudah kabur cukup jauh. Tae Ha dipaksa untuk berurusan dengan luka yang didapat Un Nyun. Dia menemukan sebuah tempat yang aman untuk merawat lukanya. Un Nyun mengeluarkan banyak darah. Jadi Tae Ha pergi sebentar untuk mencari obat-obatan guna menghentikan pendarahan wanita itu. Tae Ha kembali dan mendapati dirinya harus menelanjangi Un Nyun untuk mengobatinya.

Beberapa jam kemudian, Un Nyun bangun dan mendapati dirinya setengah telanjang karena baru saja disembuhkan oleh Tae Ha. Dia mendapati pedang Tae Ha disampingnya sebagai bukti bahwa Tae Ha tidak meninggalkannya dan akan selalu melindunginya. Un Nyun menyadari apa yang sudah dilakukan Tae Ha untuknya dan segera pergi keluar gua untuk mengucapkan terima kasih.

Tae Ha berada tepat diluar gua dan sedang mendengarkan suara air terjun. Dia menerima ucapan terima kasih Un Nyun dan mengindikasikan kalau dia ingin segera meneruskan perjalanan. Un Nyun kali ini diam saja. Tidak banyak bertanya. Menariknya, Baek Ho sudah dapat mengendus jejak Tae Ha dan mengikutinya hingga ke gua tempat mereka bersembunyi.

Ketika Tae Ha dan Un Nyun meneruskan perjalanan melalui hutan bambu, Bae Ho dan anak buahnya muncul dari balik rimbunnya pohon bambu. Baek Ho tahu bahwa dirinya sedang menghadapi petarung super canggih, tapi tetap melawan. Tidak terlalu mengejutkan, setelah beberapa jurus, Baek Ho dapat dikalahkan. Tae Ha mengatakan bahwa Baek Ho dan orang-orang memang harus terus berusaha, tapi bisakah dia memberikan ketenangan satu malam saja pada dirinya dan Un Nyun? Sebagai pria terhormat, Baek Ho setuju lalu dia mendapati fakta kalau orang yang bersama Un Nyun adalah Jenderal Song Tae Ha! Baek Ho dan anak buahnya memberi hormat padanya setelah menyadari fakta itu. Baek Ho bertanya pada Un Nyun adakah pesan yang ingin disampaikan pada kakaknya. Un Nyun memberikan pesan yang sangat mengejutkan:
Un Nyun: Katakan padanya bahwa pria ini adalah suamiku!

Di tempat lain, di rumah Lee Gyeong Shik, konspirasi lain sedang direncanakan. Dia menugaskan menantunya yang lain untuk menyelesaikan urusan perdagangan tanduk kerbau. Kelihatannya, sekarang Perdana Menteri Lee menjadi pendukung Putra Mahkota Bong Rim (yang merupakan adik dari Pangeran So Hyeon) untuk naik tahta. Akan ada perang dengan Qing dan posisi perdana menteri di istana akan semakin kuat.

Untuk mendukung rencana ini, dia memanggil seorang putra pedagang kaya, yang hampir selama satu decade diabaikan untuk menduduki posisi di kementrian. Lee Gyeong Shik mengatakan bahwa ada lowongan untuk mengisi sebuah posisi di kementrian dan merupakan kesempatan yang bagus buat laki-laki itu untuk maju ke panggung politik. Akan tetapi, untuk memuluskan rencana itu, dia harus menyerahkan sejumlah uang pada Perdana Menteri Lee. Anak pedagang kaya itu setuju sebab, dia bisa mendapatkan uang yang lebih banyak setelah menjadi menteri nantinya.

Seol Hwa sedih. Dia menunggu seharian tapi Dae Gil, Choi, dan Wang Son tidak muncul juga. Kemana mereka? Seol Hwa menyimpulkan bahwa mereka bertiga sudah meninggalkannya. Dia menelan rasa pahit itu. Pelan-pelan, dia menuntun kuda-kuda yang dijaganya untuk dijual. Seol Hwa sendiri lagi, dan menuju sebuah kedai untuk menghilangkan kesedihannya.

Saat seseorang mencoba untuk menggerayangi Seol Hwa yang sedang mabuk, Dae Gil muncul. Dia memukul pria itu. Seol Hwa melihat penyelamatnya. Dia berteriak dan menangis kegirangan lalu memeluk Dae Gil.

Dengan lembut, Dae Gil menaikkan Seol Hwa yang hampir pingsan ke punggungnya, membawanya pergi dari kedai itu. Seol Hwa mabuk tapi benar-benar senang karena pria seperti Dae Gil datang menolongnya! Mereka kembali ke perkemahan. Dae Gil mengoceh sebentar tentang bagaimana rasanya diabaikan. Akhirnya Seol Hwa pingsan dan menjatuhkan miliknya, hae geum-nya yang dibungkus kain. Dae Gil memperhatikan dan mendesah. Haruskah dia pungut? Setelah mempertimbangkan beberapa saat, dia membungkuk dan memungut alat musik itu.

Di sisi lain, pemandangan yang sama juga berlangsung. Un Nyun mengirim pulang Baek Ho dan anak buahnya dengan sebuah pesan pada kakaknya: “Berhentilah mengirim orang untuk mengejarku. Aku tidak akan kembali pada Tuan Choi, aku sudah menikah dengan pria lain, Jenderal Song Tae Ha!” Tapi saat Un Nyun mencoba menjelaskan kenapa dia mengatakan hal itu pada Tae Ha, dia jatuh pingsan.

Dengan lembut, Tae Ha menaikkan Un Nyun yang pingsan ke punggungnya lalu berjalan menuju ke arah selatan. Dia tidak bisa menghentikan misinya untuk membalaskan dendam tuannya dan menyelamatkan putra tuannya, meski dia harus membawa wanita cantik dan tidak berdaya ini selama perjalanannya. Kehidupan mereka terhubung sekarang, mungkin oleh takdir. Pada saat itu juga Un Nyun menjatuhkan batu pemberian Dae Gil yang sudah dibawanya selama 10 tahun dan yang sudah membuatnya terluka.