Sinopsis Coffee House – Episode 8

Pagi itu Eun-young bangun dan memikirkan kembali kejadian sebelumnya, saat dia bangun dan melihat Jin-soo merenung di dekat jendela. Yg Jin-soo katakan hanya agar Eun-young kembali tidur, tapi Eun-young merasa ada perubahan dalam sikap Jin-soo – lebih serius – lalu keluar dari ruangan memikirkan bagaimana sikap Jin-soo sekarang.

Tapi Jin-soo bersikap normal, bicara dengan santai seolah-olah tidak ada yg terjadi dan Eun-young terlihat kecewa.
.
Ketika Eun-young masuk ke kamar mandi, Jin-soo menjelaskan agar Eun-young menunggu sampai dia tidak dapat mendengar sebab Jin-soo akan mendengarkan musik. Jin-soo kayaknya sadar kalau Eun-young melihat perubahan sikapnya malam sebelumnya. Sedangkan buat Eun-young, dia hanya mendesah kecewa sebab sudah susah2 datang kesini memastikan keadaannya.

Setelah sarapan, Jin-soo cekikikan saat ingat tentang film tadi malam dan meminta Eun-young menebak siapa yg disukai Dong-wook. Eun-young menebak orang lain terlebih dahulu sebelum akhirnya mendaratkan tebakan pada Seung-yeon dan kaget pada kenyatan itu. Jin-soo bercanda kalau lebih jauh ikut campur dalam kencan itu, dia mungkin akan mati.

Eun-young mengubah opininya soal Seung-yeon. Meski dia kelihatan tidak terlalu pintar, tapi dia punya tekad. Dengan pengembangan sedikit saja, Seung-yeon bisa menjadi sangat berguna bila Jin-soo terus mempekerjakannya. Tapi Jin-soo bilang dia tidak bisa melakukan itu, sebab, “Aku akan pergi.”

Kemudian terjadi percakapan serius saat Jin-soo berkata kalau dia sudah bekerja keras dan menulis dengan rajin selama 2 tahun belakangan, jadi dia ingin menghilang selama 2 tahun ke depan. Dia merasa dia sudah terlalu lama disini dan ingin pergi. Eun-young heran dan bertanya apa karena itu Jin-soo cepat2 menyelesaikan tulisannya – agar cepat selesai dan bisa langsung pergi. Jin-soo mengiyakan. Dia ingin pergi jauh dari gangguan Eun-young, tapi Eun-young merasa kalau itu tidak lucu. Jin-soo bilang dia hanya bercanda tapi Eun-young malah bilang itu yg sebenarnya – kebohongan yg disamarkan lewat becandaan.

Jin-soo berjanji dia akan tetap disini sampai naskahnya selesai dan bahkan mau melakukan interview di TV, hanya sekali ini saja. Akan tetapi, Eun-young merasa kalau Jin-soo tidak berani menatapnya dan Eun-young meminta Jin-soo menatapnya.

Eun-young bertanya, “Apa aku bermimpi tadi malam? Kau orang yg sama, tapi mana mungkin tatapan matamu bisa begitu berbeda?” Jin-soo tahu maksud Eun-young tapi Jin-soo lagi2 bercanda.

Perasaan aneh muncul saat mereka berkendara ke tempat kerja dan Eun-young muak melihat kebohongan Jin-soo. Eun-young memanggil Jin-soo patah harapan. Setelah menepi di pinggir jalan, Eun-young menyuruh Jin-soo keluar dari mobil. Eun-young putus asa padanya dirinya dan pada Jin-soo sebab dia berpikir semuanya sudah berubah.

Jin-soo akhirnya berjalan kaki ke kantor, dimana Seung-yeon menunggu di pintu. Jin-soo memberikan kunci padanya dengan alasan kalau kurang nyaman sekali rasanya selalu membukakan pintu untuk Seung-yeon, tapi Seung-yeon menghargai sikap itu.

Jin-soo bertanya pada Seung-yeon bagaimana ‘es krim’-nya tadi malam. Seung-yeon jelas tidak mengerti, dan berkata Jin-soo seharusnya ikut, yg membuat Jin-soo ketawa, “Aku tdk mau mempertaruhkan nyawaku demi es krim.” Jin-soo bergumam soal sikap Seung-yeon – dia bisa saja melepaskan Do-sang, tapi sekarang Dong-wook juga? Seung-yeon memandangi Jin-soo penuh tanya, tdk bisa mendengar perkataan Jin-soo dan memang tdk mengerti.

Saat melihat rekaman di kamera, Jin-soo menemukan gambar yg aneh dan meminta Seung-yeon melihat, lalu Jin-soo mendekat ke Seung-yeon menunjukkan gambar itu. Hal ini membuat Seung-yeon gugup dan segera menjauh dari Jin-soo. Ketika Jin-soo mengulangi tindakan yg sama selagi Seung-yeon membuat kopi, Seung-yeon berteriak kalau Jin-soo seharusnya menjauh dan mengeluh karena Jin-soo terus saja mengganggu.

Ini semua untuk menutupi kegugupan Seung-yeon tapi Jin-soo salah sangka dan menganggapnya sebagai pemberontakan. Marah karena sekarang karyawannya sudah berani kurang ajar, Jin-soo jadi marah dan memaki Seung-yeon karena mengambil keuntungan dari sikap Jin-soo.

Di kamar mandi, Seung-yeon memaki dirinya sendiri karena kehilangan kendali atas hormonnya, dia juga mengingatkan dirinya sendiri kalau dia lagi di tempat kerja.

Ji-won mampir ke kafe berharap kakek sudah pergi. Tapi, pegawai kafe mengatakan kalau kakek sedang duduk di luar, lalu memanggil kakek. Ji-won bersikap aneh, dan berkata, “Jangan panggil dia!” lalu sembunyi. Tapi pegawai itu malah menyingkir dan menunjuk ke Ji-won. Pegawai itu berkata pada kakek, “Kak Ji-won ada disini.” Ji-won memaksakan tawa gugup, membungkuk lalu pergi.

Kakek mengenali Jin-soo dan mengajaknya mengobrol. Kakek rupanya tdk suka Ji-won yg selalu memata-matai cucunya (Eun-young) dan meminta Jin-soo melakukan sesuatu agar Ji-won menjauh dari cucunya. Kakek mengatakan kalau solusi yg paling tepat yaitu menikahkan Eun-young dengan menyuruhnya mulai kencan buta (ortu Korea seneng bgt nyuruh anaknya kencan buta!). Perkataan ini membuat senyum Jin-soo meredup.

Eun-young bergabung dengan mereka di kafe dimana kakek bertanya apa Eun-young bertemu pria yg dulu dijodohkan dengannya. Eun-young melirik Jin-soo sekilas sebelum tersenyum pada kakek.

Ketika Jin-soo kembali ke kantor, Seung-yeon menyerahkan tlp padanya, dengan canggung dia memegang benda itu sejauh mungkin agar dia tetap bisa berjauhan dari Jin-soo. Tlp itu dari Eun-young dan Jin-soo bertanya apa Eun-young kencan buta sekarang. Kencan buta tdk cocok utk Eun-young. Eun-young berkata kalau Jin-soo pasti berpikir Eun-young lebih cocok single selamanya.

Eun-young menelpon buat memberikan jawaban atas permintaan Jin-soo saat sarapan yaitu tentang rencana masa depannya. Eun-young tahu kalau Jin-soo pasti akan pergi apapun yg terjadi, dan dari sudut pandang bisnis, Jin-soo sangat berharga untuk dilepaskan begitu saja. Eun-young berkata filosopis, tidak baik buat Jin-soo pergi lama, makanya Jin-soo harus kembali dengan buku baru. Selama keadaan mendukung, ini bisa jadi skenario baik – atau malah buruk.

Ini cara Eun-young mengatakan kalau dia menerima keputusan Jin-soo sebagai pihak penerbit. Jin-soo meminta pendapat Eun-young dari sudut pandang berbeda – yg artinya bukan sbg penerbit tapi sebagai teman. Eun-young berkata, “Aku sudah bilang padamu sebelumnya, Lee Jin-soo adalah alasan yg hilang.” Lalu telp-nya ditutup.

Ingat permintaan kakek, Jin-soo memberikan tugas pada Seung-yeon – menulis synopsis cerita-nya yg pertama. Tugas Seung-yeon adalah mencari cara menyingkirkan Ji-won dari kehidupan Eun-young.

Seung-yeon kaget, soalnya menulis skenario bukan hal yg cakap dia lakukan tapi Jin-soo berkata kalau dia memberikan kesempatan bagi Seung-yeon mengembangkan ketrampilannya. Seung-yeon cukup cerdas mengetahui kalau itu hanya akal2an Jin-soo sebab Jin-soo sendiri tidak tahu jawabannya. Wkwkwkw

Jin-soo memberikan waktu 1 jam. Seung-yeon berencana menjodohkan Ji-won dengan wanita lain. Tapi Seung-yeon belum memikirkan secara spesifik. Dan Jin-soo dengan kasar menghina ide itu – dengan siapa? Dimana mereka bisa menemukan wanita utk Ji-won? Seperti apa dia? Bagaimana mereka akan menemukan org yg lebih bagus dari Eun-young?

Saat Jin-soo menjelekkan ide Seung-yeon, kepercayaan diri cewek itu mengerut, yg membuat semangatnya juga hilang. Jin-soo menyuruh Seung-yeon mencari ide lagi dan kali ini Seung-yeon lebih hati2, menanyai Hyun-joo tentang hubungan asmara Ji-won di masa lalu. Sebenarnya dia tidak suka ide itu dan mencoba beberapa teori yg baru.

Yg pertama melibatkan peramal yg Seung-yeon kenal, yg bisa disuruh membaca keberuntungan Ji-won dan Eun-young dan menyatakan kalau mereka tdk cocok. Jin-soo berpikir kalau itu ide cacat. Lagi2, Jin-soo mengkritik imajinasi Seung-yeon yg payah. Seung-yeon mengkerut lagi.

Seung-yeon mengatakan kalau setidaknya Jin-soo harus mencoba tapi Jin-soo malah mengatakan kalau ini PR Seung-yeon – dia tdk boleh memberikan Seung-yeon jawaban agar Seung-yeon bisa berlatih. Seung-yeon malah mengatakan kalau kehabisan alasan. Jin-soo melakukan ini padanya sebab dia juga tidak punya solusi yg lebih baik. Keadaan berbalik sekarang! Wkwkwkw… funny…

Ide terakhir Seyng-yeon yaitu mencarikan pacar baru utk Eun-young. Jin-soo mulai bertanya, siap menghancurkan ide Seung-yeon lagi: Bagaimana ceritanya nanti? Siapa yg akan jadi pacar Eun-young? Saat ini Seung-yeon sudah hilang percaya diri dan mengatakan kalau Jin-soo yg harus jadi pacarnya.

Seung-yeon menjelaskan kalau ide itu masuk akal dan jika Ji-won melihatnya, dia harus menerimanya. Jin-soo bertanya apa yg akan menjadi bukti hubungan itu dan Seung-yeon bergumam, “Hal2 yg orang2 berkencan lakukan.” Jin-soo bertanya apa ini bakal memerlukan ‘adegan ranjang,’ yg dijawab tidak oleh Seung-yeon.

Jin-soo menyuruh Seung-yeon berpikir lagi dan Seung-yeon memikirkan berbagai skenario, seperti membuat mereka mabuk dan ‘memberi bukti hubungan asmara’ dengan memamerkan kemesraan pada publik.

Eun-young melihat namanya ada di catatan Seung-yeon dan mengintip dengan penasaran. Seung-yeon mencoba menutupinya dan menjelaskan kalau itu hanya latihan – hanya imajinasi dan tdk ada hubungan dengan kejadian nyata – dan Eun-young malah heran kenapa Jin-soo membuatnya menjadi subjek pelajaran.

Membaca semua daftar itu, Eun-young bergumam kalau No. 1 (menjodohkan Ji-won dengan wanita lain). Yang itu sudah Eun-young lakukan bertahun-tahun yg lalu kalau memang berhasil. No. 2, tapi yg itu tidak akan berhasil sebab orang tua mereka sudah membawa mereka ke peramal saat mereka ditunangkan dan ramalannya bagus.

Sekarang no. 3 – membuat Jin-soo menyamar sebagai pacar Eun-young. Seung-yeon segera menjelaskan kalau itu ide bodoh, tapi Eun-young begitu terlihat tertarik, “Yang ini, aku suka.” Ide itu punya kemungkinan sukses – bagaimana mereka bisa melakukannya?

Eun-young memahami skenario itu sambil memikirkan cara membuat skenario yg dapat menjatuhkan Ji-won. Seung-yeon terpaksa menemani Eun-young yg memberikan beberapa detail: Ji-won punya kebiasaan mengintip Eun-young dari jendela kantornya jadi mereka akan membuat kantor Eun-young sebagai seting-nya. Eun-young juga mengatakan kalau adegan ciuman penting – menggunakan ciuman yg bahkan meyakinkan dari kejauhan.

Yang lebih membuat Seung-yeon merasa aneh bahwa Eun-young ingin agar hal ini dirahasiakan dari Jin-soo, sebab dia tidak akan mau kerja sama jika dia tahu. Eun-young mengajak Seung-yeon bersumpah dan memuji ide itu. Setelahnya, Seung-yeon meratapi sumpahnya, “Oh, aku sudah melibatkan diriku dalam hal ini?”

Malam itu, Seung-yeon menunggu dengan gugup pelaksanaan rencananya ketika Eun-young akan melakukannya. Jin-soo mendapatkan telp yg meminta kehadirannya di kantor Eun-young dan Seung-yeon berusaha tutup mulut, dia ingin memperingatkan Jin-soo tapi takut menghancurkan rencana itu.

Bagusnya, Seung-yeon kali ini meyadari kalau dia tidak harus pergi ke kantor Eun-young sebab ada pintu nomer 3. Seung-yeon berlari ke pintu samping ke kantor Ji-won, dia ingin menghentikan Ji-won agar tidak melihat semuanya.

Eun-young menyapa Jin-soo dengan senyum cerah dan segelas anggur. Jin-soo langsung tahu ada sesuatu yg terjadi, meski dia tdk tahu apa yg direncanakan Eun-young. Pertama-tama, Eun-young membiarkan Jin-soo dalam kegelapan sedangkan dia memainkan rambutnya lalu menyentuh wajah Jin-soo sebelum mengatakan kalau Ji-won sedang melihat.

Eun-young juga menyebut Jin-soo aneh sebab dia menghina ide Seung-yeon sebab dia berpikir itu ide bagus. Ide itu paling realistic dan memiliki kemungkinan berhasil yg tinggi. Jin-soo hanya membiarkan kebencian pribadinya untuk tidak mau berperan sebagai pacar palsu Eun-young.

Seung-yeon berlari ke kantor Ji-won, siap menghentikan Ji-won melihat adegan itu lewat jendela, tapi dia terlambat. Ji-won sudah melihatnya dengan kaget saat Eun-young mendekat dan mulai membuka baju Jin-soo.

Selagi tetap menjaga suasana romantis, Eun-young mengatakan pada Jin-soo kalau dia membuat skenario ini bersama Seung-yeon dan mereka merencanakan naskahnya sepanjang sore. Jin-soo bertanya dengan gugup seberapa jauh Eun-young akan melaksanakannya, “Kau ingin tetap melanjutkan? Seberapa jauh?”

Sebenarnya Jin-soo sedikit gugup dan merasa tak nyaman, tapi setelah Eun-young mengatakan akan ada adegan ciuman, Jin-soo langsung tersenyum dan menantang Eun-young apa yg bisa dia lakukan. Eun-young beraksi, mendorong Jin-soo ke atas mejanya dan mulai mendekat.

Yang menonton adegan itu benar2 lucu – mereka sangat kaget dan Ji-won akhirnya menyadari Seung-yeon ada di kantornya. Ji-won bertanya apa yg Seung-yeon lakukan disini, tapi Seung-yeon terlalu kaget jadi dia hanya menempelkan wajahnya ke jendela. Ji-won melakukan hal yg sama.

Ada jeda lucu waktu Eun-young mendekati Jin-soo, waktu dia ada tepat di atas Jin-soo dan Jin-soo menyuruh Eun-young melanjutkan aksinya. Eun-young berbisik, “Kau ingin aku melakukannya? Aku memaksamu, jadi kau harus melakukannya.” Jin-soo berkata, “Kau bicara apa?” Lalu ada jeda lagi. Dan Eun-young berubah serius.

Dengan marah, Eun-young mengatakan pada Jin-soo agar tidak mengacaukan hidupnya: “Kau melakukan semua ini padahal aku tidak minta, lalu kau tidak mau melakukan apa yg aku minta. Aku sama sekali tidak berterima kasih. Jika kau punya sedikit rasa kasihan padaku, kau akan melakukan apa yg aku minta. Jangan terus melakukan hal yg tidak aku minta. Kapan aku pernah minta bantuanmu?”

Tapi Jin-soo malah bertanya, “Jadi apa yg kau inginkan dariku? Sebuah ciuman yg indah dan meyakinkan?”

Eun-young: Ya.
Jin-soo: Ya?
Eun-young: Ya.
Jin-soo: Ya…

Akan tetapi, keyakinan Eun-young kelihatan mulai hilang dan pandangannya mulai kacau, seolah-olah dia ingin mundur dan menyerah saja. Dan saat itulah Jin-soo memutuskan, “Kalau begitu, ayo lakukan dengan caraku. Aku tidak suka cara ini.”

Ji-won dan Seung-yeon menonton dengan ngeri dan tidak percaya saat Jin-soo bangun dan menyigkirkan semua kertas dari meja Eun-young. Dia bergerak dengan cepat dan membalik posisi: sekarang Eun-young yg berbaring di atas meja. Jin-soo semakin mendekat dan bahkan mengangkat satu kaki Eun-young.

Lalu, Jin-soo bangkit menuju jendela dimana dia memandangi Ji-won dengan sengit. Jin-soo meraba pinggangnya… dan menarik ikat pinggangnya… dan menarik tirai jendela.

Setelah itu, Jin-soo kembali seperti biasa. Dia mengenakan lagi ikat pinggangnya dan mengatakan lebih baik membuat mereka berpikir dengan imajinasi mereka sendiri. Tapi Eun-young tentu saja kaget dengan sikap tiba2 Jin-soo dan memerlukan beberapa detik untuk memulihkan diri.

Ji-won dan Seung-yeon begitu kaget dan mereka masih saja tercengang ke arah jendela kantor Eun-young. Hahahaha…

Jin-soo menyarankan agar mereka keluar untuk makan. Eun-young, yg sudah pulih dr shock-nya, mengatakan kalau Jin-soo benar dan bijak – Jin-soo lebih logis dari dirinya. Eun-young berkata, “Aku mengerti.” Eun-young menyebutkan tentang taktik Jin-soo dimana Jin-soo menampilkan pertunjukkan yg bagus.

Jin-soo mengatakan kalau tidak peduli seberapa keras Eun-young melewati sesuatu, dia selalu bisa kembali ke keadaan semula. Eun-young memaksakan senyum dan setuju – itulah dia. Dengan santai, Eun-young menolak undangan makan malam Jin-soo dan Jin-soo kembali ke kantornya.

Setelah Jin-soo pergi, Eun-young kembali berbaring di atas mejanya, masih merasakan adegan menegangkan tadi.

Ketika Jin-soo kembali ke kantornya, dia mengatakan kalau rencana konyol Seung-yeon dengan Eun-young sudah berhasil. Seung-yeon sadar kalau ini artinya Jin-soo sadar kalau semua itu hanya palsu, yg artinya bagian yg dilakukan Jin-soo juga palsu. Ini pemikiran yg membuat Seung-yeon tenang – sampai dia ingat kembali kalau dia tidak boleh merasa demikian, soalnya Jin-soo kan atasannya.

Berikutnya, Seung-yeon bekerja lagi di coffee shop keluarganya ketika Dong-wook mampir. Dong-wook senang melihat Seung-yeon lewat jendela, tapi langkah Dong-wook dihalangi oleh keluarga Seung-yeon dan dia harus melewati sedikit interogasi sebelum bisa masuk ke dalam. Dong-wook ditanya seputar keluarganya. Nenek menyukai Dong-wook meski ayah punya beberapa keberatan.

Seung-yeon tidak boleh ngantor selama 3 hari sebab Jin-soo sibuk menulis dan memintanya tidak datang sampai dia menelpon. Dong-wook kegirangan, sebab ini artinya Seung-yeon punya banyak waktu luang dan saat Dong-wook akan mengajaknya nonton, Seung-yeon mendapat telpon.

Seung-yeon menjawab telponnya dengan senang, berharap dari Jin-soo, tapi ternyata Hyun-joo. Kantor penerbit itu penuh dengan hadiah ultah dan mereka berharap Seung-yeon mau mengangkut hadiah2 itu ke tempat Jin-soo. Seung-yeon hampir percaya kalau ultah Jin-soo yg sebenarnya adalah bulan berikutnya dan ini hanya ultah bohongan saja. Tentu saja, Jin-soo sudah berbohong – Seung-yeon sudah berencana membuat pesta jadi Jin-soo memilih hari yg berbeda untuk membuat Seung-yeon diam.

Dong-wook mencoba bertanya lagi pada Eun-young tapi sekarang dia dibingungkan oleh berita ini dan tidak mendengarkan Dong-wook. Eun-young memutuskan kalau hari ini memang belum berakhir jadi masih ada waktu merencanakan pesta ultah.

Di toko, Eun-young memilih peralatan ultah yg akan sangat membuat Jin-soo terganggu dan pulang dengan benda2 itu. Akan tetapi, Jin-soo melihat leat jendela saat Eun-young berjalan dengan benda2 itu dan memutuskan untuk menyelinap sebelum Eun-young tiba disana. Jin-soo singgah di toko membeli makanan ringan lalu menelpon.

Seung-yeon sekarang punya kunci apartemen jadi dia masuk saja dan mulai mendekorasi. Saat dia menjawab telpon yg ternyata dari Jin-soo. Dia meminta Seung-yeon memindahkan semua balon dan perlengkapan pesta. Segera! Jika ada yg tertinggal saat dia kembali, dia akan memecat Seung-yeon. Seung-yeon protes tapi dia merasa kalau Jin-soo serius dan mulai mengumpulkan dekorasi itu.

Jin-soo keluar dari stand telpon umum tapi tiba2 saja hujan mengguyur. Tanpa payung dan tempat tujuan, dia masuk lagi ke dalam lalu membuka bir. Selamat ultah untukku.

Ketukan di pintu kaca membuat Jin-soo penasaran – ternyata Eun-young berdiri di luar.

Eun-young akan masuk, setelah minum sedikit sebelumnya, sebagai perayaan karena sudah mendapatkan kontrak baru. Dia meminta Jin-soo ikut dengannya, soalnya dia bawa payung, jadi Jin-soo mengambil tas plastiknya dan beranjak pergi. Tapi isi tas itu jatuh dan botol2 bir berserakan di tanah.

Jin-soo berlutut mengambil barang2 itu sedangkan Eun-young malah berkata tentang betapa anehnya Jin-soo minum sendirian di stand tlp umum saat ultahnya, padahal dia adalah penulis terkenal yg punya banyak fans. Jin-soo berpikir kalau Eun-young melupakan ultahnya. Eun-young menjawab, karena Jin-soo ingin dia melupakan ultahnya maka dia melakukannya.

Jin-soo menyukai Eun-young karena hal itu, berlawanan dengan Seung-yeon yg selalu ingin merayakan ultah Jin-soo. Eun-young menyebutkan kalau Seung-yeon normal – Jin-soo yg tdk normal. Eun-young menambahkan karena ingin mengikuti cara hidup Jin-soo, dia juga jadi berubah tdk normal, “Aku tidak bisa membeli hadiah utk teman saat ultahnya atau mengucapkan selamat.”

Jin-soo mengatakan kalau dia tidak perlu ucapan terima kasih, “Tapi sebuah hadiah cukup bagus. Berikan saja aku hadiah.” Jin-soo senang dengan hadiah, asalkan tidak ada kartu ultahnya.

Mendengar itu, pandangan mata Eun-young berubah – dia memandang Jin-soo lebih lekat saat Jin-soo bicara. Lalu, Eun-young tiba2 menjatuhkan payungnya, masuk ke stand tlp umum itu dan mencium Jin-soo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s