Arsip

Sinopsis Jumong – Episode 3

Geum-wa bertemu dengan Yooh-wa di kota Hyeon-to-goom. Dia menemukannya menangis di hadapan Hae Mosu yang tertambat pada sebuah tiang, tubuhnya penuh dengan lumuran dengan darah. Geum-wa mendekati Yooh-wa, “Aku mengandung….Anak Hae Mosu.”, ucap Yooh-wa yang menangis sambil menundukkan wajahnya. Yooh-wa berniat mengambil aksi nekat dengan mendekati Hae Mosu untuk memberitahukan bahwa dia sedang mengandung anaknya. Namun, Geum-wa dengan sigap mencegahnya, Geum-wa membawanya menjauhi Hae Mosu dan mengajaknya kesebuah tempat di luar Hyeon-to-Goom. Tidak sepatah kata pun keluar dari mulut mereka berdua di tempat itu.

Geum-wa sedang berjalan di pelataran istana dikawal oleh dua orang penjaga. Saat itu dia dilapori bahwa Jenderal Hae Mosu akan diserahkan kepada bangsa Han dalam waktu 3 hari. Geum-wa menghadap Ayahnya untuk meminta izin menyelamatkan Hae Mosu. “Biarkan aku memimpin tentara untuk misi penyelamatan.”, kata Geum-wa. “Aku tidak akan mengizinkanmu pergi. Karena kebodohan Hae Mosu, semua usaha kita telah dirusaknya! Aku tidak akan menyelamatkan orang seperti itu! Keluar!”, kata Ayah Geum-wa yang marah besar karena hal itu. Ketika Geum-wa keluar, duta besar memanggilnya, “Yang Mulia, aku harus berbicara denganmu.”, kata duta besar kepada Geum-wa. Mereka pergi ke salah satu ruangan di Istana tersebut. Duta besar meminta kepada Geum-wa untuk membatalkan niatannya untuk menyelamatkan Jenderal Hae Mosu. “Duta besar! Temanku, Hae Mosu, lebih penting bagiku melebihi nyawaku sendiri. Meskipun Yang mulia menolak untuk menyelamatkan Hae Mosu, Aku akan membawa sisa tentara DalMu untuk menyelamatkan Hae Mosu.”, kata Geum-wa. “Yang Mulia, penyebab keberhasilan pasukan Han dalam penangkapan Hae Mosu adalah karena dia masuk ke dalam perangkap. Orang yang mengatur kejatuhan Hae Mosu adalah… kau tau siapa?”, kata duta besar tanpa sedikit pun melihat lawan bicaranya. Geum-wa tidak menjawab pertanyaannya. “Itu adalah Yang Mulia”, ucap Duta besar kepada Geum- wa, namun kali ini dia menatap matanya untuk menunjukan keseriusan perkataannya itu. “Ini semua dilakukan untuk menghindari konfrontasi langsung dengan bangsa Han. Yang Mulia membuat keputusan ini untuk melindungi Yang Mulia dan BuYeo. Yang Mulia, anda harus mengerti bahwa Yang Mulia menganggap kau penting dalam hidupnya. Jangan terburu-buru lagi.”, ucap duta besar kepada Geum-wa. Geum-wa marah kepada duta besar karena duta besar mengetahui semua ini namun tidak memberitahukan kepada Geum-wa. Geum-wa emosi melihat anggukan kepala duta besar untuk mengiyakan pertanyaannya. Dia berdiri langsung mengambil pedang dari meja disampingnya, dia langsung mengarahkannya ke leher duta besar. “Aku tidak takut mati, tapi aku percaya Yang Mulia sudah membuat keputusan yang benar. Yang Mulia…. Jika Hae Mosu selamat, kemudian Buyeo dan Yang Mulia akan berada dalam bahaya besar.”, ucap duta besar kepada Geum-wa. Duta besar sama sekali tidak bergerak sewaktu Geum-wa mengarahkan pedang ke lehernya, bahkan dia sama sekali tidak berkedip maupun takut terhadap ancaman itu. Melihat duta besar yang tetap bersikukuh dengan pendiriannya itu, Geum-wa melampiaskan emosinya dengan menebaskan pedangnya itu ke meja di hadapanya dan duta besar.
Hae Mosu di kawal pasukan berkuda dan juga pasukan invanteri lainnya dari bangsa Han. Hae mosu berada dalam sebuah kereta kuda, dia duduk didalamnya dengan mata di tutup dengan penutup mata. Ditengah perjalanan itu, pasukan Dalmu menyerang mereka. Geum-wa membebaskan Hae Mosu dari kereta itu, namun Hae Mosu menolaknya karena dia tidak ingin jatuh korban lagi karena dirinya. Namun Geum-wa memaksanya dan menaikkannya ke atas kuda. Geum-wa memukul keras tubuh kuda itu sehingga dia lari dengan keras, Geum-wa menyusul dibelakannya. Hae Mosu menunggangi kuda dalam kebutaan. Dia berada tepat di belakang Geum-wa, namun ketika mereka sampai di persimpangan mereka berdua terpisah, Geum-wa yang berada di depan mengambil jalur kanan, sedangkan Hae Mosu yang tidak dapat melihat dia berjalan lurus terus. Setelah dia berjalan cukup jauh, Geum-wa tersadar bahwa Hae Mosu tidak berada dibelakangnya. Geum-wa kembali lagi ke persimpangan itu, dia menengok ke kanan dan ke kiri. Tidak lama kemudian pasukan berkuda kerajaan Han terlihat sedang menyusul mereka, Geum-wa mencoba mengecoh mereka dengan mengambil arah sebelumnya dan membiarkan Hae Mosu terpisah dari dirinya. Pasukan berkuda yang melihat hal itu membagi dua kelompok mereka, dua orang pasukan berkuda mengikuti Geum-wa sedangkan sisanya mengambil jalan lurus seperti yang di ambil oleh Hae Mosu. Hae Mosu mengendarai kudanya dengan setengah sadar, tubuhnya terpelanting kesana-sini. Hae Mosu terpojok di tepian bukit yang di depannya adalah sebuah sungai. Pasukan berkuda yang ada di belakangnya, mengarahkan dan menembakan busur panahnya ke arah Hae Mosu, dan tepat menancap di dada kirinya. Hae Mosu terjatuh dari kudanya, namun dia masih dapat berdiri. Busur panah kedua di lepaskan dan kembali mengenainya. Geum-wa menyaksikan rekannya itu terpanah dari bawah bukit. Hae Mosu terus berjalan mundur tanpa sadar, dia terjatuh ke sungai di belakangnya.

Yooh-wa sedang berusaha keras untuk melahirkan. Yooh-wa melahirkan dengan selamat, dan itu adalah seorang anak laki-laki. Sementara itu Pendeta Tertinggi kerajaan, Yeo Mi-Eul baru saja mendapatkan sebuah penglihatan, yaitu sebuah naga/burung berkaki tiga yang terbang di atas matahari Buyeo. Yeo Mi-Eul meminta pelayannya untuk memberitahu duta besar mengenai masalah ini. Raja Bu Yeo sedang tidur, namun banyak pejabat istana berkumpul disana dan salah satu pelayan yang mengenakan pakaian berwarna biru menggunakan sebuah bulu dari burung sejenis merak dan mendekatkannya ke hidung sang Raja. Yeo Mi-Eul bertemu dengan duta besar untuk membicarakan fenomena yang baru saja dilihatnya itu. “Jendral Hae Mosu sudah pasti mati?”, tanya Yeo Mi-Eul kepada duta besar yang mengiyakan pertanyaan itu. “Apakah ada yang salah?”, tanya duta besar kepada Yeo Mi-Eul. “Meskipun legenda 3 burung telah menghilang dari matahari Buyeo,…”, ucap Yeo Mi-Eul. “Gejala alam yang menentukan masa depan Buyeo telah menghilang. Itu salah satu alasan untuk membuat perayaan!”, kata duta besar. “Bagaimanapun, legenda tiga burung itu tidak mati, sebaliknya makin mengangkasa dan bertambah kuat. Selama itu tidak mati, masih ada kemungkinan bahwa itu akan terbang kembali.”, ucap Yeo Mi-Eul. “Tidak, sepertinya tidak begitu. Hae mosu pasti sudah mati, tidak mungkin dia akan dapat terbang lagi.”, kata duta besar.

Dikutip dari: kreatif.web.id

Sinopsis Jumong – Episode 2

Pasukan berkuda telah selesai menggeledah seluruh ruangan yang digunakan oleh Puteri Yooh-wa. Ketua pasukan berkuda bertanya kepada, Yooh-wa, “Apakah dia terluka di lengannya?”, tanya kepala pasukan berkuda itu. Yooh-wa hanya mengangguk, dan tidak terucap satu patah kata pun dari mulutnya, namun raut wajahnya terlihat sangat cemas. “Siapa nama pemuda itu?”, tanya ayahnya. Yooh-wa mengatakan bahwa pemuda itu bernama Lee Gan-sang. Ayahnya memarahinya karena dia tidak memberitahukan keberadaan pemuda itu sebelumnya. “Dia berasal dari mana?”, tanya pemimpin pasukan berkuda. Yoohwa-mengatakan bahwa dia berasal dari sungai Dong Jia. Pemimpin pasukan berkuda yakin bahwa itu adalah Hae Mosu, ayah Yooh-wa mencoba meyakinkan bahwa pria itu bukan lah Hae Mosu. Namun, pemimpin pasukan berkuda itu langsung menarik pedangnya dan mengarahkan ke tubuh ayah Yooh-wa. Beliau tewas, begitu pula dengan pengawalnya. Pemimpin pasukan berkuda memerintahkan untuk membunuh seluruh warga suku tersebut. Yooh-wa yang terikat dan dibawa oleh pasukan berkuda melihat pembantaian suku tersebut, dia menangis dan berteriak-teriak melihat hal itu.

Fajar tiba, desa suku putri Yooh-wa porak-poranda. Mayak tergeletak tidak beraturan, dan api yang berkobar pun sudah padam. Geum-wa dan pasukan Dalmu yang mencari Hae Mosu, melihat hal tersebut. Geum-wa mengendarai kudanya sambil melihat itu semua. Salah satu anggota pasukan Dalmu melaporkan kejadian itu kepada Geum-wa, bahwa itu semua adalah ulah pasukan berkuda. Desa itu di musnahkan karena, mereka terbukti menyembunyikan Hae Mosu. Mendengar hal itu, Geum-wa hanya terdiam, dan melihat pemandangan sekitar dari atas kudanya.

Hae Mosu kelelahan, dan minum air sungai. Tak jauh dari sana, rombongan pedagang sedang berjalan, ketua kelompok pedangan itu memutuskan untuk bermalam disana malam itu. Ketua kelompok itu, melihat Hae Mosu di tepi sungai. Dia menghampiri Hae Masu yang terlihat kelelahan dan minum di tepian sungai itu. Ketua kelompok itu juga melepaskan dahaganya dengan minum air yang sama dengan Hae Mosu, setelah menengaknya dia mengeluarkan suara seperti tidak minum selama beberapa hari. “Apakah kau seorang pengungsi?”, tanya pemimpin kelompok itu. Hae Mosu terdiam sesaat dan memandanginya, “Ya”, kata Hae Mosu. Ketua kelompok pedagang itu adalah Yeon Ta-bal, yang merupakan pemimpin dari suku GyehRuBu dari bangsa JulBoon, dia justru menawarkan Hae Mosu untuk makan bersama kelompoknya.

Perkemahan suku GyehRuBu telah selesai di dirikan. Seorang pelayan Yeon Ta-bal keluar dari tenda utama dan memanggil hae Mosu yang terdiam berdiri diantara kumpulan suku GyehRuBu yang lainnya. Pelayan itu meminta Hae Mosu untuk ikut dengannya, “yah….bahkan para pengangkut barang kami mendapatkan perlakuan yang baik dari ketua kami, tapi ketua sangat baik terutama kepada para pengungsi, kapan pun dia bertemu mereka – Aneh!”, kata pelayan itu. Dia mengatakan bahwa Hae Mosu beruntung. Di dalam tenda ada Yeon Ta-bal, istrinya dan seorang pelayan wanita. “Aku telah membawanya, tuanku”, kata pelayan itu. Yeon ta-bal memintanya untuk duduk sambil melihat istrinya. Mereka saling memperkenalkan diri, Hae Mosu memperkenalkan dirinya dengan nama Lee Gan-sang. Pelayan laki-laki yang tadi memanggil Hae Mosu, masuk lagi, kali ini dia membawa sebuah anggur yang mendekati sempurna. Dia menuangkannya ke gelas Yeon Ta-Bal yang sedang merangkul istrinya. Dia menawarkan anggur itu kepada Hae Mosu, dan menuangkannya. Yeon ta-bal, memotong paha ayam di depannya. Yeon ta-bal bertanya kepada istrinya kenapa dia tidak makan. “Saya kehilangan nafsu makan, mengingat apa yang terjadi dengan Suku Ha-baek.”, kata istrinya. Yeon Ta-bal mencoba menyakinkan istrinya dan membujuknya untuk makan. “Sebenarnya aku menyesal dan ikut prihatin dengan apa yang terjadi dengan pemimpin suku Ha Baek… Tapi, itu berarti saingan kelompok dagang kita berkurang satu!”, Yeon Ta-bal mengatakan itu semua ketika mulutnya masih penuh dengan daging yang dimakannya. Hae Mosu terdiam ketika Yeon Ta-bal mengatakan itu, dia penasaran. Hae Mosu bertanya kepada pelayan yang duduk disampingnya mengenai apa yang telah terjadi dengan suku Habaek. Pelayan itu awalnya menolak itu menjawabnya dengan memalingkan wajahnya dari Hae Mosu, “Para keparat itu… tidak, bagaimana bisa mereka membunuh rakyat…. mereka bahkan bukan tentara?”, pelayan itu menggelengkan kepalanya di akhir bicaranya. “Mereka membunuh seluruh penduduk desa Ha-Baek?”, tanya Hae Mosu dengan penuh rasa penasaran. Mendengar Hae Mosu menanyakan hal itu, Yeon Ta-bal bertanya kepada Hae Mosu, apakah dia mengenai seorang dari suku Ha-Baek? Hae mosu mengiyakan hal itu karena dia pernah tinggal di desa itu ketika dalam perjalanannya. “Mereka bilang, seseorang di desa itu telah menyembunyikan Hae Mosu, dan juga para prajurit berkuda memusnahkan desa itu sebagai sebuah hukuman.”, Yeon ta-bal mengucapkan itu semua sambil mengigit dan mengunyah ayam yang dari tadi ada di hadapannya itu. Hae mosu terdiam mendengar hal itu. Yeon ta-bal melihat ekspresi muka Hae Mosu yang tampak terkaget dan sedikit shok. Dia kembali bertanya kepada pelayan disampingnya mengenai warga yang selamat. “Mereka bilang, anak perempuan pemimpin suku Ha baek, Putri Yooh-wa adalah orang yang menyembunyikian Hae Mosu, jadi mereka membawanya ke kota Hyeon-to-Goon untuk diadili di depan umum.”, kata pelayan itu. Hae Mosu semakin terlihat shock mendengar hal itu, dia terdiam. Yeon ta-bal semakin curiga ketika melihat ekspresi muka Hae Mosu, setelah dia mendengar perkataan pelayannya itu.
Pasukan berkuda membawa puteri Yooh-wa dalam keadaan terikat dan berjalan kaki. Dia terjatuh, karena kelelahan. Salah satu anggota pasukan berkuda menariknya supaya dia bangun. Yooh-wa berjalan dengan tertatih tatih. Sementara itu, Hae Mosu, memikirkan sesuatu di pinggiran sungai berarus tenang, dia mengingat kembali perkataan Yooh-wa yang pernah diucapkannya, “Aku tau suku kami akan musnah. Tapi ketika aku berlari di jalan pegunungan, aku berfikir bahwa “itu” mungkin dia… Jantungku berdebar… aku berharap bahwa orang yang aku selamatkan adalah Hae Mosu.”

Geum-wa mengamati perjalanan pasukan berkuda dari atas bukit. Dia melihat puteri Yooh-wa yang berjalan tertatih-tatih, karena panas dan letih. Geum-wa melihat Yooh-wa, dan mengingatkannya kembali dengan kejadian di kota Hyeon-to-goom yang lalu, dia mengingat kembali perkataan yang di ucapkan oleh Yooh-wa.
Malam itu pasukan berkuda beristirahat dan berkemah di sebuah tanah lapang yang dikeliingi oleh tebing-tebing yang cukup curam. Yooh-wa di jaga oleh dua orang. Geum-wa mengamati situasi dari atas bukit, dan mencoba mencari keberadaan Yooh-wa. Begitu dia menemukannya, dia memberikan tanda kepada pasukan Dalmu. Mereka bersiap untuk membebaskan puteri Yooh-wa, Geum-wa sendiri ikut turun tangan dalam aksi ini. Dia yang membawa dan membebaskan Yooh-wa. Kuda telah disiapkan oleh salah satu Dalmu yang diambil dari salah satu kuda pasukan. Mengetahui hal itu, pasukan berkuda mencoba untuk mengejar mereka, namun karena posisi mereka yang dikelilingi tebing mereka kalah posisi karena, dari atas terdapat pasukan Dalmu yang lainnya menembakkan panah mereka.

Dikutip dari: kreatif.web.id

Sinopsis Jumong – Episode 1

Cerita dimulai ketika diselenggarakan kompetisi silat oleh kerajaan, dan disana Geum-wa sedang bertarung melawan seorang dengan seru. Geum-wa bertarung menggunakan tombaknya melawan pedang yang digunakan oleh musuhnya. Pertarungan ini berlangsung cukup seru, namun akhirnya dimenangkan oleh Geum-wa dengan menusukkan ujung tombaknya ke perut musuhnya dan menendangnya keluar dari arena. Mengetahui bahwa dirinya menang, Geum-wa berniat untuk menghadap penguasa disana untuk memberikan hormat. Namun belum sampai dia memberi hormat, seorang pendekar misterius yang mengenakan penutup wajah dan sebuah “topi” berusaha masuk dan menantang Geum-wa untuk bertanding. Pejabat setempat menolak permintaan tersebut karena pertandingan sudah usai, namun si pendekar misterius ini berkata, “Jika kamu mengejar aku terus, kamu akan menyesalinya.” Mendengar kata-kata tersebut Geum-wa menengokkan kepalanya, dan melihat antusiasme penonton, yang menyorakkinya. Setelah berfikir sejenak, Geum-wa meminta izin kepada penguasa setempat untuk bertanding dengan orang tersebut. “Biarkan saya bertanding, dia akan menerima ganjarannya dengan kematian jika dia kalah.” ujar Geum-wa. Penguasa mengizinkan pertarungan tersebut dengan meneriakkan kata mulai.

Genderang pun ditabuh, kedua pendekar tersebut masuk ke dalam arena. Mereka beradu pandang. Geum-wa mengambil tombaknya yang tergeletak di lantai dengan menggunakan kelihaian kakinya. Mereka berdua mengambil posisi bersiap, begitu pertarungan tersebut di mulai tombak dan pedang kembali beradu. Pertarungan berlangsung cukup alot dan seru. Sorakan penonton semakin menambah seru pertarungan. Pendekar misterius itu tepat menusukkan pedangnya, apabila Geum-wa terlambat untuk menghindar. Geum-wa membalasnya dengan menusukkan pedangnya kearah lawannya itu, dan berhasil masuk kedalam sela-sela “topi” yang dikenakannya. Penguasa setempat terkagum-kagum melihat hal tersebut. Pendekar Misterius itu berusaha menyingkirkan tombak Geum-wa, dan Geum-wa terdorong ke belakan. Mereka saling berpandangan dan mengarahkan masing-masing senjata mereka ke arah lawan. Serangan tombak Geum-wa berhasil ditangkis dan menyebabkan tombaknya itu patah dan terlempar ke atas. Mereka berdua memandangi tombak tersebut. Kedua penguasa kembali dibuat terpana akan adegan itu.

Si pendekar misterius itu berlompat dan menendang potongan tombak Geum-wa itu dan tepat mengenai penguasa dan ujung tombak tersebut menembus kursi yang di duduki oleh si penguasa. Melihat hal tersebut Tai Shou terheran-heran dan setengah berdiri melihat hal tersebut terjadi, seketika itu juga prajurit memerintahkan untuk melindungi Tai Shou yang dari tadi bersama dengan sang penguasa menikmati pertarungan itu. “Cepat! Lindungi Tai Shou!” Penonton berhamburan, namun beberapa diantara mereka malah mengganti pakaian mereka dan mengenakan penutup muka dan maju kearah Geum-wa dan Pendekar misterius. Para penonton yang berganti pakaian itu membunuh prajurit yang ada disana.

Seorang prajurit kerajaan Han berteriak-teriak, “Pembunuh! Pembunuh! Seorang pembunuh telah memasuki kota!”, dan terus berlari. Seorang komandan mendengar hal itu, dan memerintahkan anak buahnya untuk masuk ke kota.
Dua orang dari kelompok penyerang misterius itu menyerang dua orang penjaga benteng, dan mereka masuk ke dalam penjara. Orang-orang di dalam penjara spontan meminta tolong kepada mereka. Salah seorang dari kelompok misterius berteriak, “Kami adalah pasukan DalMu!” Mereka membebaskan para tahanan.

Sementara itu diarena pertarungan, Geum-wa dan pendekar misterius itu dikelilingi oleh kelompok misterius. Pendekar misterius itu menyerahkan pedangnya kepada Geum-wa. Prajurit kerajaan mendekat ke podium penguasa untuk melindungi Tai Shou, mereka membuat sebuah formasi bertahan. Geum-wa berjalan maju ke arah podium, sedangkan pendekar misterius itu mengarahkan busur dan menembakkan panahnya ke arah podium. Panah pertama ditembakkan, dan masih terlalu jauh dari target sasaran yang hanya mengenai pasukan pelindung terluar di depan podium. Busur panah kedua diambil dan dibidik, dia mencoba arah yang berbeda dari yang tadi. Hasilnya sudah lumayan, mengenai bagian tengah dari pasukan pelindung. Dia mengambil busur panahnya lagi, dan maju beberapa langkah sambil membidikkan panahnya, seorang prajurit mencoba membunuhnya dari belakang, namun Geum-wa melihat hal tersebut dan menebasnya dengan pedang. Namun, anah panak terlepas kurang sempurna dan meleset kurang dari 10 cm dari kepala Tai Shou.

Melihat Geum-wa yang sedikit kualahan karena tesayat pedang, pendekar misterius itu datang menolong dengan membunuh menggunakan anak panah yang ditusukkan ke badang musuh dengan tangannya. Pendekar tersebut memegangi tubuh Geum-wa dan melihat luka yang ditimbukan oleh sayatan pedang tersebut. Seketika itu juga dia melihat pintu kota terbuka dan melihat bantuan pasukan datang ke arena tersebut.

Melihat situasi tersebut si pendekar meniupkan terompet tanda mundur. Seluruh kelompok itu mundur satu per satu. Tai Shou yang dari tadi masih setengah berdiri terlihat shock dengan kejadian itu, dia merebahkan tubuhnya ke kursi seakan tidak percaya dengan kejadian yang ada di hadapannya itu.

Geum-wa mengendarai kuda bersama kelompok itu, namun ditengah jalan Geum-wa terjatuh dari kudanya dan memegang bekas lukanya itu. Pendekar misterius itu merupakan Geum-wa, pangeran Bu Yeo. Geum-wa memerintahkan untuk kembali ke markas.

Di benteng pasukan DalMu, Hae Mosu berusaha mengobati lukanya. Ada empat orang yang memegangi anggota badan Geum-wa, dari mulai tangan, kaki, sampai kepala. Hae Mosu berusaha mengeluarkan racun yang diakibatkan sayatan pedang itu dari tubuh Geum-wa.

Hae Mosu mencuci tangan dan membasuh mukanya, setelah menyelesaikan urusannya dengan Hae Mosu.

Pagi itu di kota Buyeo, Raja Hae Bu-ru sedang bercakap-cakap dengan salah satu jenderalnya. Percakapan itu berbicara tentang ulah Hae Mosu, belum lama mereka bercakap-cakap seorang pejabat bernama Bu Deuk-Bul datang menghadap Raja Bu Yeo (Hae Bu-ru). Duta besar tersebut meminta kepada Jenderal untuk tidak membantu lagi pengungsi yang datang ke tempat itu, dengan alasan pasukan berkuda bangsa Han telah melewati Liao Dong. Pasukan tersebut berjalan ke arah Hyeon-to-Geoon.

Pasukan tersebut dikirim untuk mencegah para pengungsi agar tidak melarikan diri dari peraturan keempat kelompok Han. Raja bertanya kepada Duta besar, “Bagaimana dengan para pengungsi yang tinggal di Bu Yeo?” “Mereka yang telah tinggal di negara kita sudah memperoleh kewarganeraan dari kita, sehingga mereka tidak akan tertangkap.” kata duta besar. Duta besar menyarankan supaya Bu Yeo tidak lagi menyediakan bantuan bagi para pengungsi itu, atau bangsa Bu Yeo akan mendapatkan balasan dari bangsa Han. Terlebih lagi ulah Hae Mosu yang telah membunuh Duta Besar yang merupakan kesayangan Raja Han. Raja Bu Yeo mencoba membantah perkataan duta besarnya, dan berkata “Bukankah prajurit kita dilengkapi dengan senjata besi yang sama? Sehingga kalau kita berperang…..” Duta besar memotong perkataan Raja dengan mengatakan “Pasukan kita hanya dilengkapi dengan senjata yang terbuat dari besi pilihan yang hanya sedikit lebih keras dari perunggu, sedangkan pasukan berkuda bangsa Han dilengkapi dengan tombak tembaga untuk berperang.”

Dikutip dari:http://kreatif.web.id/entertainment/drama/sinopsis-jumong-episode-1/

Jumong: The Legend is here!

Korea selalu punya serial keren buat ditayangkan. Selain the Great Queen Seon Deok, ada juga Jumong. Serial ini adalah drama spesial yang ditayangkan buat memeriahkan ulang tahun ke-45 stasiun tv MBC Korea. Awalnya Jumong dipersiapkan hanya untuk 60 episode. Tapi dalam perjalanan episodenya ditambah lagi menjadi 81 karena popularitasnya benar-benar luar biasa.

Sinopsis
Gojoseon akhirnya jatuh ke tangan Kekaisaran Han Cina dan yang tertinggal hanyalah sebuah kota yang tidak punya pilihan lain selain menyerah. Dalam serial Jumong, tentara kekaisaran Han digambarkan sebagai tentara yang kejam, dimana mereka menjadikan rakyat sebagai kelinci percobaan dari senjata baru mereka.

Hae Mosu, seorang tentara, membentuk Damulgun (Pasukan Damul) bersama putra mahkota Buyeo, Geumwa, untuk melawan keganasan tentara kekaisaran Han. Damulgun mempunyai tugas penting, yaitu menyelamatkan para pengungsi Gojoseon.

Hae Mosu terluka dalam sebuah pertempuran dengan tentara penjajah dan dalam keadaan sekarat hanyut di sebuah sungai. Lady Yuhwa, seorang puteri cantik dari suku Haebaek menemukan dan menyelamatkannya. Hae Mosu dirawat oleh Yuhwa hingga sembuh total. Tapi sayang, tentara musuh mencium keberadaan Hae Mosu. Para tentara itu dengan kejam menghancurkan suku Haebaek. Untungnya, Hae Mosu berhasil melarikan diri.

Dalam pelariannya, Hae Mosu bertemu dengan Yeon Ta Bal, pemimpin suku Gyeh Ru. Yeon dan rombongannya adalah para pedagang dan dengan tulus dia bahkan menawarkan Hae Mosu pekerjaan tanpa tahu identitas lelaki yang baru dikenalnya itu. Bahkan Yeon berani mengundangnya untuk masuk ke tendanya. Disanalah obrolan tentang kehancuran suku Haebaek menguap yang disambut dengan kegelisahan oleh Hae Mosu.

Melihat perubahan pada wajah kenalan barunya, entah mengapa Yeon merasa bahwa dia adalah Hae Mosu, buronan nomer satu tentara kekaisaran Han. Yeon bisa saja menyerahkan Hae Mosu pada tentara penjajah (sebab ada imbalan besar untuk itu). Tapi urung dilakukannya sebab Hae Mosu menyelamatkannya dan rombongannya dari serangan para perampok. Bahkan, Hae Mosu bertanggung jawab melindungi putri Yeon yang baru lahir, So Seo No. Yeon membiarkannya pergi untuk bergabung dengan Geumwa dan melanjutkan perjuangan melawan tentara Han.

Di pihak lain, Lady Yuhwa ternyata jatuh cinta pada Hae Mosu and luckily, Hae Mosu membalas cintanya. Hae Mosu memutuskan untuk melamar Yuhwa dan hidup bersamanya. Sayang, kebahagiaan itu dihancurkan oleh tentara Han yang meyamar menjadi pengungsi Gojoseon. Pengungsi gadungan itu berhasil membunuh pasukan Damul serta menangkap Hae Mosu, yang selanjutnya disiksa dan dibutakan.
Geumwa tidak tinggal diam. Dia berhasil membebaskan Hae Mosu yang meskipun buta masih mapu menunggang kuda. Akan tetapi, karena kebutaan itu pula Hae Mosu terpisah dengan sang putra mahkota dalam usaha melarikan diri dari pengejaran tentara Han. Geumwa yakin bahwa dirinya sudah gagal dalam usaha menyelamatkan Hae Mosu, yang disaksikannya terjebak dalam sebuah pondok yang dihujani panah oleh tentara Han.

Lady Yuhwa ternyata mengandung anak Hae Mosu. Setelah melahirkan putranya, Jumong, diapun menghadap Geumwa. Jumong akhirnya menjadi pangeran (setelah sebelumnya Geumwa dinobatkan sebagai raja). Sedangkan, Lady Yuhwa menjadi selir raja.

Dua puluh tahun kemudian. Jumong telah tumbuh dewasa. Malangnya, dia selalu dibayang-bayangi oleh kedua putra Geumwa, yang bernama Daeso dan Youngpo. Jumong pun tumbuh menjadi pangeran yang lemah dan suka merayu wanita. Yuhwa yang cemas akan masa depan putranya, merasa bahwa sudah saatnya Jumong dilatih menjadi seorang ksatria sejati. Sang ibu mengirm Jumong ke seorang yang dulunya seorang sipir penjara bawah tanah untuk berlatih ilmu pedang dan bela diri. Akan tetapi, Jumong malah merayu seorang pendeta wanita yang menyebabkan pendeta itu diusir dari istana. Selain itu, Jumong juga menyebabkan kekacauan diantara pandai besi. Celakanya, hal itu sampai diendus oleh tentara Han. Karena kedua hal itulah Jumong dicopot gelar pangerannya dan diasingkan. Pengasingan ini cukup meredakan persaingan antara Jumong dengan Daeso dan Youngpo, yang malah mengirim seorang pembunuh untuk menangkap dan membunuh Jumong.

Ketika berkelana tanpa arah, Jumong bertemu dengan tiga perampok yang bernama Oi, Mari, dan Hyoddo. Pada awalnya, ketiga perampok ini memperlakukan Jumong dengan sangat buruk. Tapi belakangan, setelah tahu identitas Jumong ynag sebenarnya sikap mereka jadi berubah total. Jumong juga bertemu dengan So Seo No, yang sudah berusia 21 tahun. Selain itu, Jumong juga menjalin hubungan dengan suku Gyeh Ru.

Tak disangka Jumong juga betemu dengan ayahnya dalam pengasingannya itu. Meski mereka belum menyadari adanya hubungan tersebut. Hae Mosu dengan sungguh-sungguh melatih putranya menjadi petarung sejati. Tapi, Hae Mosu akhirnya mati ditangan Daeso dan Youngpo. Serta, Jumong yang sudah mahir bela diri kembali ke istana.

Ketika Daeso mengambil alih kekuasaan Geumwa untuk sementara waktu, Jumong diminta untuk menikah denga Ye Soya. Pada saat itu juga, persaingan antara Daeso dan Youngpo memuncak. Mereka berdua sama-sama ingin menjadi putra mahkota. Hingga akhirnya terjadi sebuah kejadian dimana Youngpo mengancam nyawa Daeso. Jumong berhasil menyelamatkan Daeso dan mendapatkan kepercayaannya yang malah dipakai oleh Jumong untuk melawan balik Daeso.

Dengan bantuan dari teman-temannya, Jumong berhasil mendirikan koloni di pegunungan. Jumong menamainya Damulgun, symbol kebangkitan. Tiga tahun lamanya Damulgun (yang dipimpin Jumong) dan Gyeh Ru (yang dipimpin So Seo No) bekerja sama menyatukan koloni-koloni terdekat dibawah satu bendera. Melalui banyak pertumpahan darah denga Daeso, Youngpo, Buyeo, dan Bangsa Han, kerajaan Goguryo akhirnya berdiri dengan Jumong sebagai raja pertama dan So Seo No sebagai ratunya. Ye Soya dan putranya (Yuri) yang disangka mati oleh Jumong muncul kembali dan Yuri dinobatkan sebagai putra mahkota.

The Cast of Jumong:
Song Il Gook sbg Prince Jumong
Han Hye-Jin sbg Lady Soseono
Kim Seung Soo sbg Prince Daeso
Jeon Kwang Yeol sbg King Geumwa
Oh Yeon-Soo sbg Lady Yuhwa
Kyeon Mi-Ri sbg Queen Wonhu
Sung Ji Hyo sbg Lady Yesoya
Ahn Yong-Joon sbg Yuri
Kim Byeong-Ki sbg Yeontabal
Jin Hee-Kyeong sbg High Priestess Yeomieul
Lee Jae-Yong sbg Prime Minister Budeukbul
Heo Joon-Ho sbg General Haemosu
Won Ki-Joon sbg Prince Yeongpo
Bae Soo-Bin sbg Sayong
Park Tam-Hee sbg Lady Yangseolan
Lim So-Yeong sbg Buyeong
Yoon Dong-Hwan sbg Yangjeong
Oh Uk-Chul sbg Lord Hwang
Ahn Jeong-Hoon sbg Mari
Lim Dae-Ho sbg Hyeopbo
Yeo Ho-Min sbg Oyi
Park Kyoung-Hwan sbg Bu-Buhn-No
Jeong Ho-Bin sbg Wootae