Sinopsis Coffee House – Episode 9

Setelah Jin-soo dan Eun-young selesai berciuman, ada jeda aneh diantara mereka berdua. Jin-soo mencoba mengabaikan hal itu dengan mengatakan kalau hadiah ultah Eun-young sedikit berlebihan. Jin-soo lalu bertanya apa ini usaha lain Eun-young membodohi Ji-won.

Kayaknya Eun-young punya harapan, tapi perkataan Jin-soo itu membuatnya hilang. Eun-young, tanpa berkata apa2, berbalik, mengambil payungnya dan pergi.

Saat mulai hujan, Seung-yeon pergi keluar membawa payung, khawatir pada Jin-soo. Dia akhirnya menemukan bos-nya berjalan kebingungan, bahkan tidak memedulikan hujan yg turun dan terus saja minum bir. Seung-yeon ingin memayungi Jin-soo tapi ditolak.

Eun-young kembali ke kantor, dimana dia berusaha tersenyum ceria demi karyawannya – mereka sudah mempersiapkan pesta untuk kontrak baru itu. Segera setelah Eun-young berada di bagian kantor yg aman, dia mulai meratapi kejadian tadi – apa yg dia pikirkan? Apa yg terjadi sekarang?

Seung-yeon masih belum sadar akan perkembangan ini, dan menghampiri Hyun-joo. Dia menjelaskan kalau dia sudah datang membawa kue untuk Jin-soo, tapi dia malah disuruh membersihkan semua alat2 pesta. Hyun-joo mengundang Seung-yeon bergabung dengan pesta kantor, lalu mendapatkan ide menggabungkan keduanya. Seung-yeon menyukainya dan memutuskan kalau dia tidak bisa membiarkan ultah Jin-soo tidak dirayakan.

Seung-yeon membuka pintu belakang jadi pegawai perusahaan penerbit bisa masuk dan menarik Jin-soo untuk mengawalnya ke pesta.

Ini membuat Jin-soo jadi tidak nyaman waktu Jin-soo diseret ke pesta itu. Semua orang berpikir kalau kedua orang itu (Jin-soo dan Eun-young) pasti sangat bahagia mendapatkan pesta bersama, apalagi mereka juga dekat.

Jin-soo dan Eun-young saling menghindari tatapan masing2 tapi mereka dipaksa meniup lilin bersama untuk merayakan hari besar mereka.

Eun-young permisi dan masuk ke kamar mandi, dimana dia marah pada dirinya sendiri, “Aneh, aneh, ini begitu aneh!” Jin-soo masuk ke dalam dengan tangan penuh kue dan Eun-young memaksakan diri tertawa, berusaha bersikap tenang dan mengatakan kalau Jin-soo salah masuk kamar mandi. Sampai, Jin-soo menunjuk ke dinding – ternyata Eun-young yg salah masuk kamar mandi.

Sambil memikirkan cara menghadapi masalah ini, Eun-young memutuskan kalau yg mereka perlukan sekarang adalah waktu. Dan jarak. Banyak waktu dan jarak. Jadi Eun-young meraih tas-nya – tidak memperhatikan telponnya ketinggalan di meja – lalu keluar dari kantor sebelum ketahuan.

Lalu Eun-young malah bertemu dengan Jin-soo di dalam lift, soalnya Jin-soo juga mau kabur. Yang membuat semuanya jadi buruk adalah saat mereka bercanda bagaimana tidak nyamannya kalau lift itu berhenti. Dan lift itu berhenti. Haha…

Mereka mencoba menggedor pintu lift dan menekan tombol alarm tapi tidak ada jawaban. Mereka tertawa. Mereka mencoba berpura-pura kalau ini bukan lingkaran kesepuluh neraka.

Di sebelah, Ji-won kembali ke kantornya setelah istirahat selama beberapa hari untuk mendinginkan kepalanya. Ji-won sedang murung, sebab dia yakin kalau kesempatannya dengan Eun-young sudah diambil Jin-soo.

Ada kejadian lucu waktu Ji-won melarang sekretarisnya membuka tirai. Dengan nada tragis, Ji-won berkata, “Selama beberapa bulan yg lalu, jendela ini telah menjadi jendela kenangan, mengingatkanku pada masa mudaku yg indah. Tapi sekarang… aku harus menyebutnya jendela neraka. Pemandangan mengerikan apa yg menungguku saat jendela ini dibuka malam ini? Aku takut melihatnya.”

Mendengar itu, sekretaris Ji-won memandanginya dengan aneh. Akhirnya, Ji-won memutuskan dia harus menghadapi iblis-nya dan memerintahkan tirai dibuka.

Pemandangan itu menghentaknya: beraninya mereka berpesta setelah membuatnya terbakar di neraka? Ji-won menelpon kantor Eun-young dan mendapat jawaban dari Hyun-joo, yg mengatakan kalau saat ini Eun-young sedang tidak ada. Begitu juga Jin-soo.

Sementara itu Jin-soo dan Eun-young…

Jin-soo bergumam kalau lift itu seukuran dengan stand tlp umum – apa Eun-young punya fantasi romantis tentang menangkapnya di ruangan tertutup ini? Ini membuat Eun-young menatap tajam, jadi Jin-soo menarik kata2nya, tapi Jin-soo mengatakan kalau aneh jika Eun-young menjauh ketika DIA yang seharusnya kaget.

Eun-young mencoba menutupi rasa malunya, pertama mencoba menertawakannya, lalu berkata kalau sebuah ciuman memerluka dua peserta. Jin-soo menjawab, “Itu hanya insting. Aku seorang laki2.”

Berikutnya, lift mulai bekerja dan pintu terbuka tapi Eun-young sepertinya tidak akan melepaskan Jin-soo. Dia menarik Jin-soo dengan satu tangan dan memencet tombol menutup pintu lift dengan tangan lainnya. Pintu tertutup tepat saat Seung-yeon, yg keluar mencari mereka, melihat mereka berdiri di dalam lift. Dia melihat dari layar kalau lift itu membawa mereka ke lantai paling atas.

Eun-young memutuskan kalau lebih baik menghadapi ini semua dan mengatakan ke Jin-soo kalau mereka harus berhenti bicara berputar-putar. Eun-young mulai bicara tapi dipotong Jin-soo.

Jin-soo: kau penerbitku atau temanku? Kau ingin menghasilkan uang denganku atau bersenang-senang? Kau menyukaiku atau membenciku? Bagiku, kau hanya berarti satu hal, tapi kelihatannya kau selalu punya peran ganda, dan itu berlebihan buatku.

Jin-soo mengatakan kalau sekarang waktunya mereka menyelesaikan segalanya, tepat setelah itu Eun-young memberikan jawaban.

Eun-young: aku penerbit dan temanmu. Aku ingin mendapatkan uang denganmu dan ingin bersenang-senang denganmu. Aku ingin membunuhmu karena terganggu tapi aku juga menyukaimu. Apa yg kau ingin aku lakukan?

Jin-soo tidak suka jawaban itu dan mengatakan kalau jawaban itu melanggar aturan Eun-young – dia harus memilih satu peran dan tetap mempertahankannya. Eun-young juga tidak suka jawaban Jin-soo, yg dirancang untuk memudahkan segalanya bagi Jin-soo: “Kenapa aku satu2nya yg berada pada posisi yg kau rancang untukku? Semua org bisa berbeda key g lain. Bukankah hubungan berubah seiring dengan berjalannya waktu?”

Eun-young tidak ingin jadi orang terakhir ketika Jin-soo kembali ingin menghilang, bertanya-tanya apakah Jin-soo baik2 saja atau sudah mati. Eun-young berkata, “Aku tdak bisa kembali ke awal sekarang. Aku jg tidak mau melakukan itu. Kau bersikeras agar kita kembali ke tempat asli kita demi kenyamananmu, tapi sekarang aku juga akan bertindak sesuai perasaanku.”

Eun-young menambahkan kalau dia orang yg rakus – di atas kedua peran sebagai teman dan penerbit, dia bahkan bisa menambahkan yg lain, “Aku juga akan menjadi lebih dari itu. Apa yg tidak bisa aku lakukan?”

Itu bia jadi pengungkapan rasa cinta tapi Jin-soo hanya bilang tidak. Jin-soo: “Aku tidak menganggapmu lebih dari itu.” Eun-young meminta Jin-soo tidak berbohong. Eun-young tdk percaya kalau Jin-soo serius. Eun-young berpikir Jin-soo menolaknya karena alasan yg salah (takut? Tdk yakin?). Akan tetapi, Jin-soo meyakinkan kalau dia tidak berbohong.

Jin-soo mengatakan kalau ciuman itu hanya insting tubuh dan Eun-young sekarang menerima jawaban Jin-soo kalau Jin-soo hanya ingin menjadi temannya. Dengan sinis, Eun-young menertawakan dirinya sendiri, menyebut kalau ini adalah ringkasan keanehan hari ini.

Eun-young berusaha tidak meneteskan air mata saat dia turun. Tapi dia tidak memerhatikan kalau percakapan mereka didengan orang lain: Seung-yeon, yg mengikuti mereka ke lantai atas.

Selagi Jin-soo dibiarkan merenung di atap sendirian, Seung-yeon keluar dari gedung itu, dengan wajah muram sambil memeluk balonnya. Jadi kemistri romantis diantara mereka bukan hanya sebuah sandiwara.

Seung-yeon tidak terlalu mengerti alasan dibalik reaksinya, sebab dia tidak sepenuhnya mengakui kalau dia mulai menyukai Jin-soo, jadi ini begitu membingungkan dan memusingkan.

Saat melewati pojangmacha, Seung-yeon melihat Ji-won sedang minum. Ji-won tertawa dan mengangkat gelas untuk Seung-yeon, tapi dia tetap tenggelam dalam dunianya yg muram. Ji-won bicara pada Seung-yeon, tapi kata2 itu lebih ditujukan pada dirinya sendiri saat dia bertanya-tanya apa ini yg Eun-young rasakan ketika dia selingkuh dengan Young-mi. Jika begitu, dia pantas menerima kemarahan Eun-young dan dia mengerti perasaan ini akhirnya. Dia perlu waktu lama menyadarinya.

Di rumah, Seung-yeon menunjukkan suasana hatinya, berpikir jika berharap pasangan itu tidak berhasil merupakan jawaban normal situasi sekarang. Dia menyadari kalau org professional wajib tertarik pada pekerjaannya, “Tapi kenapa aku hanya tertarik pada orang?” Dia yakin kalau dia pasti tidak punya kualifikasi, dia tidak cocok dengan kesuksesan professional.

Hal berikutnya yg dilakukan Seung-yeon adalah menanyakan pada neneknya apa benar Dong-wook sangat menyukainya, dan berpikir apakah dia wajib memberikan kesempatan dirinya bersama Dong-wook.

Pesta itu dilakukan hari jumat dan hari senin, Jin-soo tiba di kafe buku dimana dia menguping pegawai Eun-young yg bertanya-tanya dimana Eun-young. Dia tidak bekerja dan tidak ada yg tahu kemana dia pergi.

Jin-soo memastikan ini ke Hyun-joo kalau Eun-young sudah pergi buat weekend. Dia juga meninggalkan hp-nya di kantor. Mereka sudah memeriksa ke rumahnya dan mencoba menelpon kemana-mana, tapi tidak menemukan jejak sang bos.

Karyawan Eun-young cukup khawatir, tapi Jin-soo punya alasan lebih untuk merasa khawatir setelah mengingat perckapan mereka di atap. Jin-soo menghabiskan waktunya seharian menelpon agar Eun-young pulang ke rumah, dan menghubungi semua kenalan Eun-young.

Ji-won juga mendengar berita itu dan menelpon ke kantor. Dia melihat Jin-soo lewat jendela dan memerintahkan agar dia bisa bicara dengannya, lalu menyalahkan Jin-soo karena membiarkan ini terjadi. Tidak adil kalau menyalahkan Jin-soo sebenarnya, tapi Ji-won percaya kalau Jin-soo adalah pacar Eun-young, yg punya tanggung jawab besar memastikan keadaan Eun-young.

Keadaan ini sangat mengkhawatirkan sebab Eun-young tidak pernah menghilang sebelumnya, atau secara sengaja menghilang. Akan tetapi, tuduhan Ji-won berikutnya sangat tajam: “Kenapa wanita selalu melakukan ini bila ada di dekatmu?”

Kalimat itu menusuk Jin-soo (sepertinya sebelum istrinya meninggal, juga terjadi kejadian seperti ini). Malam itu, Jin-soo menumpuk kartu domino lagi dan tetap menghubungi Eun-young, hanya saja dia selalu terhubung ke voicemail.

Akhirnya, Jin-soo meninggalkan pesan – tapi segera setelah Jin-soo mengeluarkan kata2nya, sebuah kenangan menyakitkan muncul dengan cepat. Kalimat itu sama dengan kalimat yg dia ucapkan pada istrinya, Hee-soo, ketika dia tidak dapat ditemukan dan Jin-soo sudah lelah.

Menara dominonya jatuh – simbol! Jin-soo duduk di dalam kegelapan, takut kalau kejadian itu akan terulang kembali.

Sedangkan, keadaan sedikit santai di rumah keluarga Kang, soalnya sekarang waktunya makan daging panggang, hari favorit ayah sepanjang minggu. Minggu ini mereka punya tamu khusus: Dong-wook juga diundang dan datang dengan gaya mengesankan. Ini langkah pertama Seung-yeon setelah dia memutuskan memberikan kesempatan pada Dong-wook.

Jin-soo menelpon Seung-yeon selama makan malam, yg tentu saja telpon itu hanya karena dia bosan. Seung-yeon terkejut dan ingin tahu lagi alasan Jin-soo menelpon. Jin-soo mengatakan dia bosan sekali tapi Seung-yeon tidak bisa merasakan kalau ada yg salah.

Sedangkan di keluarga Kang… Dong-wook memberikan daging panggang pada Seung-yeon. Tapi ayah malah memberikan tatapan aneh dan mengambil daging itu, lalu memberikan pada Seung-yeon. Tapi saat Seung-yeon mau memakannya, nenek mengambilnya. Begitu terus…

Kembali ke apartemen, Jin-soo duduk di dalam gelap dengan pil-nya. Dia menelannya dan mengingat kembali ke beberapa tahun yang lalu saat dia dan Eun-young pergi kemana-mana mencari Hee-soo.

Hee-soo meninggalkan satu voicemail untuknya dan mereka takut hal buruk terjadi. Saat Jin-soo sedang berkendara mencari Hee-soo, ada telpon masuk tapi tidak bisa dijawab, dia malah memandanginya dengan takut. Eun-young meyakinkan Jin-soo kalau semuanya akan baik2 saja, tapi saat Eun-young menerima telpon itu, dia mendengarkan berita buruk.

Eun-young dan Jin-soo mempercepat laju mobil menuju lokasi kecelakaan dimana mobil Hee-soo sudah terbalik. Hari2 berikutnya, Jin-soo mengalami depresi berat. Dia tidur hanya dengan bantuan obat sambil tetap mendengarkan pesan terakhir Hee-soo.

Pesan Hee-soo: Aku minta maaf membuatmu khawatir. Aku melakukannya dengan tidak sengaja. Jangan salah paham. Dan ini.. akan menjadi yg terakhir, jadi jangan merasa terganggu. Kau melakukan hal benar tapi kenapa aku tidak mampu melakukannya? Tapi kau tahu, kau benar2 kejam. Kau sangat kejam. Kau tahu itu, kan?

Paginya, Jin-soo dibangunkan. Seung-yeon datang memeriksa keadaan Jin-soo. Jin-soo mengalami malam yg buruk tapi dia baik2 saja sekarang dan mencoba bersikap kalau kekhwatiran Seung-yeon berlebihan. Seung-yeon melihat domino yg berserakan dan pil, tapi tanpa melihat itu pun dia sudah tahu kalau ada yg aneh – Jin-soo menggunakan kalimat, “Aku bosan!” untuk menunjukkan perasaannya yg sedih. Ini merupakan pengamatan yg dilakukan Seung-yeon yg membuat Jin-soo terkejut.

Jin-soo meminta Seung-yeon memeriksa pesan untuknya. Seperti di masa lalu, Jin-soo tidak tahan menjadi orang pertama yg mendengar berita buruk dan ketika Seung-yeon memeriksa telpon, Jin-soo menunggu dengan nafas berat. Seung-yeon mengatakan kalau tidak ada pesan, yg merupakan hal bagus dan buruk. Jin-soo mengatakan kalau sebaiknya mereka sarapan.

Saat mereka sedang jalan, Seung-yeon mendapat telpon dan Jin-soo tegang ketika Seung-yeon mengangkatnya. Seung-yeon tidak mengatakan apapun, tapi Jin-soo merasa kalau ini tentang Eun-young, yg dibenarkan Seung-yeon. Eun-young sudah kembali bekerja.

Tanpa menunggu Seung-yeon selesai bicara, Jin-soo dengan segera pergi ke kafe buku dengan kecepatan penuh. Saat sampai, dia berkeringat dan kehabisan nafas. Ini belum sampai dia melihat Eun-young lewat jendela kaca dan dia pun mulai tenang. Eun-young sedang meeting, dan terlihat baik2 saja.

Pegawai menjelaskan kalau Eun-young pergi ke Jepang untuk menjernihkan pikiran. Dia bahkan tidak menyadari kalau semua orang khawatir pada kepergiaannya. Selama percakapan itu, Jin-soo memandangi Eun-young lewat kaca, jelas dia merasa sangat tenang.

Ketika Eun-young melihat Jin-soo sekilas, dia permisi dan keluar, tapi Jin-soo memberi isyarat agar Eun-young berhenti. Jin-soo memperlihatkan senyumnya yg khas.

Sambil mencoba bersikap tenang, Jin-soo mengindikasi lewat gerakan kalau dia akan kembali, dan Eun-young tidak perlu menunda rapatnya. Eun-young mengerti dan mengangguk. Dia tetap ikut rapat.

Jin-soo keluar dari kantor. Dia berhenti di ambang pintu ketika Seung-yeon datang sambil berlari, kehabisan nafas.

Jin-soo mengatakan kalau mereka keluar saja dan kembali ke tempat Jin-soo. Jin-soo terpeleset karena menginjak botol pil-nya. Dia mengulurkan tangan berpegang pada meja. Tapi dia kehilangan keseimbangan dan ambruk di lantai. Jin-soo pingsan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s