Arsip

Sinopsis Coffee House – Episode 11

Setelah dipecat, Seung-yeon menangis di lokasi penghargaan, duduk di tangga, bahkan masih disana saat acara sudah selesai. Akhirnya dia bangun dan pergi jadi ketika Eun-young kembali untuk melihatnya, tempat itu sudah kosong.

Semua orang berpikir kalau Jin-soo langsung pergi dari Seoul untuk melakukan perjalanan panjang lagi, jadi ketika dia menelpon kantor keesokan harinya, semuanya lega mendengar dia masih di Seoul. Dia akan mampir bertemu dengan Eun-young dan para pegawai menegang mendengar ini, sebab mereka mendapatkan sebuah kesempatan untuk mengubah pikiran Jin-soo sebelum dia secara resmi memutus kerja sama.

Selagi Jin-soo berjalan menuju kafe buku, Eun-young membicara bisnis dengan kakeknya tentang ekspansi dan rencana baru utk perusahaan. Yg mengejutkan, Eun-young punya tamu saat makan siang. Tamu ini diundang kakek, yg sengaja menjadikan ini kejutan buat Eun-young.

Pria itu bernama Hyun-seok, seorang pengacara dan dengan orang ini Eun-young dulu pernah dijodohkan. Pria itu masih tertarik, tapi Eun-young tidak pernah menelponnya dan sekarang Eun-young membuat alasan kalau dia sibuk.

Ji-won melihat kejadian ini. Ji-won langsung menarik Jin-soo yg baru sampai ke dekat pojok untuk mengintai pertemuan itu. Ji-won langsung mengatakan kalau Eun-young sedang kenca buta lagi, dank arena itulah dia menendang Jin-soo begitu cepat.

Karena marah, Ji-won memanggil Hyun-seok ‘pria jajangmyun’ – soalnya dia misterius dan aneh. Lebih jauh, Hyun-seok tidak hanya jajangmyun yg sudah basi tapi juga yg murahan. Jin-soo merasa tidak nyaman karena terseret ke masalah ini dan menegaskan kalau dia tdk ada di pihak Ji-won dan Ji-won menjawab, “Aku membencimu tapi kau lebih baik dari pria itu.”

Ji-won menyuruh Jin-soo mencari tahu dan Jin-soo memberikan salam pada Eun-young lalu mengatakan kalau dia akan menunggu Eun-young di kantornya. Akan tetapi, Hyun-seok ternyata penggemar berat Jin-soo dan memperkenalkan dirinya, bahkan menjabat tangan Jin-soo.

Jin-soo terpaksa bersikap sopan lalu permisi menuju kantor Eun-young. Ketika Eun-young menyusulnya beberapa menit kemudian, para pegawai memohon agar Eun-young memanfaatkan kesempatan terakhir ini untuk mempertahankan kontrak dgn Jin-soo.

Eun-young mengatakan pada Jin-soo kalau dia menduga Jin-soo akan meninggalkan negara ini segera. Jin-soo mengatakan jika awalnya dia memang ingin menyerah saja menulis tapi berubah pikiran sebab dia sudah sangat dekat dengan bab akhirnya. Jin-soo sudah selesai mengerjakan draft yang pertama dan perlu beberapa bulan lagi menyelesaikan buku itu.
Eun-young menyebut tentang Seung-yeon tapi Jin-soo menyuruhnya diam. Jin-soo mengatakan kalau tdk ada alasan bagi Eun-young untuk memikirkan Seung-yeon. Seung-yeon sudah melewati batas dan memang begitulah keputusannya. Mendengar kalimat itu, Eun-young bergumam, “Kenapa begitu banyak wanita yang dengan bodohnya melewati batas denganmu?”

Eun-young tahu kalau Jin-soo datang untuk membereskan kontraknya jadi dia mengambil surat2nya dan mempersiapkan diri tanda tangan. Suasana jadi tegang waktu Eun-young melakukan itu dan dia tahu kalau pada saat dia tanda tangan maka dia akan kehilangan miliaran won. Dengan suara bergetar, Eun-young memegang gelas kopinya di atas surat2 itu, bingung apakah dia perlu menjatuhkan kopinya ke atas dokumen.

Tapi tidak, Jin-soo mengambil gelas itu dan Eun-young mulai tanda tangan. Ketika tangan Eun-young menggores kertas itu, setitik air mata jatuh di atasnya. Jin-soo melihat wajah Eun-young dan air mata lebih banyak berjatuhan. Tanda tangan Eun-young memburam di atas kertas.

Jin-soo menghapus air mata Eun-young dengan tissue dan setitik air mata jatuh di tanganya. Eun-young bercanda kalau dia pasti sangat menyukai uang makanya dia bereaksi seperti itu. Ketika Eun-young bangkit membuat salinan, Jin-soo memandangi air mata di tangannya.

Eun-young mengumpulkan kekuatan dan mengulurkan tangan pada Jin-soo. Dia mengatakan kalau mereka harus merayakan apa yang disebut hubungan yg bagus.

Jin-soo setuju membereskan studionya pada akhir minggu soalnya dia sudah menemukan kantor yg baru dan akan menyelesaikan tulisannya disana. Tempat itu dulunya kantor seorang teman yg jd dosen dan tidak akan menggunakan kantor itu semester depan.

Jin-soo mengucapkan selamat tinggal dengan cara yg aneh dan bahkan mencoba bercanda saat dia beranjak pergi. Jin-soo mengatakan agar Eun-young memastikan kencannya berbanding lurus soalnya teman kencan Eun-young kelihatan lebih tertarik pada Jin-soo ketimbang Eun-young. Setelah Jin-soo pergi, Eun-young hanya bisa mendesah.

Jin-soo mengemasi barangnya dan mengembalikan kuncinya. Tapi dia sadar kalau kunci yg kedua ada pada Seung-yeon. Sedikit enggan, Jin-soo bertanya apa Seung-yeon datang, tapi sang pegawai (Dong-min) mengatakan tidak tahu.

Selagi Jin-soo pindah ke kantor yg baru, Dong-min menghubungi Seung-yeon untuk bertanya soal kunci yg kedua.

Seung-yeon kembali bekerja di coffee shop milik ayahnya. Setelah mendengar dari pelanggan kalau kopi buatannya lebih enak dari ayahnya, Seung-yeon bertanya-tanya apa ini artinya dia telah belajar beberapa hal pada akhirnya.

Dong-wook juga ada di kafe, sedang bermain Go-Stop dengan ayah dan nenek Seung-yeon. Seung-yeon bertanya apa tidak apa bila Dong-wook menemaninya disini. Sebenarnya bukan pertanyaan kejam tapi sepertinya Seung-yeon ingin ditemani Dong-wook.

Ketika Dong-min menelpon menanyakan kunci itu, Seung-yeon senang sebab dia jadi tahu kalau Jin-soo belum meninggalkan negara ini. Karena begitu ingin bertemu dengan Jin-soo, jadi dia menanyakan alamat baru Jin-soo pada Dong-min.

Seung-yeon muncul di rumah baru Jin-soo, memohon agar diberikan kesempatan menjelaskan semuanya. Jin-soo menyuruhnya diam. Jin-soo mengatakan dia tahu apa yg akan dikatakan Seung-yeon, jadi lewati saja bagian itu dan langsung saja ke pokok yg paling penting (kunci). Jin-soo memberikan jawaban yg akan Seung-yeon dapat seandainya Jin-soo mau mendengarkan pidato Seung-yeon, yaitu buku Jin-soo bakal terbit tanpa bantuan Seung-yeon dan dia tidak akan mempekerjakan sekretarisnya lagi.

Jin-soo menasehati Seung-yeon agar mencari pekerjaan baru, dan mengingatkan Seung-yeon kalau keputusan pemecatannya tidak diambil dalam waktu singkat. Karena itu, Seung-yeon tidak akan mampu mengubah pikiran Jin-soo lewat air mata. Jin-soo lalu menutup pintu rumahnya sebelum Seung-yeon mampu berkata apapun.

Seung-yeon tidak mau menyerah dan duduk di depan pintu rumah Jin-soo. Ketika Jin-soo keluar, Seung-yeon mencoba mengajaknya bicara lagi. Berlawanan dengan perkiraan Jin-soo, Seung-yeon datang bukan untuk memohon pekerjaannya lagi – dia hanya ingin bicara sebentar. Jin-soo sedikit kesal karena Seung-yeon bukan datang buat pekerjaan, jadi dia hanya memberikan 30 detik untuk Seung-yeon bicara.

Ini membuat Seung-yeon marah dan protes kalau 30 detik bukan waktu yg mencukupi buat bicara. Jin-soo menjawab kalau Seung-yeon tdk bisa bicara dalam 30 detik maka memberikann waktu 30 menit juga tidak akan lebih baik.

Jin-soo naik ke sepedanya dan setelah beberapa saat Seung-yeon mengejarnya. Saat Jin-soo menepi di dekat sebuah bangunan, Seung-yeon baru bisa menyusulnya, dengan napas berat dan keringat banyak. Seung-yeon meminta 30 detiknya lagi tapi kali ini, Jin-soo hanya memberinya 20 detik.

Seung-yeon: Aku minta maaf. Sebagai sekretaris aku melewati batas. Pada awalnya aku merasa bersalah, tapi setelah beberapa hari aku menyadari kau benar. Aku tidak professional dan aku sekretaris yg buruk. Aku benar2 minta maaf. Aku harap kau bisa ingat kalau aku benar2 minta maaf. Aku sangat tertekan kalau memikirkan kau akan meninggalkan negara ini dan aku tidak akan bisa mengatakan ini padamu. Aku senang mendapatkan kesempatan meminta maaf padamu.

Seung-yeon menyelelesaikan pidato 20 detiknya dan Jin-soo terkejut pada apa yg dikatakan Seung-yeon, tidak mengerti maksudnya. Kenapa Seung-yeon mengejarnya sejauh ini hanya untuk mengatakan itu, padahal dia tahu pidato itu tidak akan mengubah segalanya. Apa bedanya mengatakan kalimat itu atau pun tidak mengatakannya?

Seung-yeon menjawab, “Meski situasinya tidak berubah, perasaan tetap berubah. Ada perbedaan antara kau tahu dan tidak tahu bagaimana perasaanku, bahwa aku benar2 minta maaf dan bukannya kecewa atau merasa bersalah. Aku rasa ada perbedaan besar.”

Jin-soo tersadar. Jadi ketika Seung-yeon mengatakan kalau bagian akhir pidatonya diperpendek (dia sudah mempersiapkan untuk 30 detik sebenarnya saat berlari), Jin-soo memberikan tambahan 10 detik untuk menyelesaikannya.

Seung-yeon: Aku kecewa karena aku harus berhenti tanpa mempelajari dengan baik tidak hal yg kau ingin aku lakukan. Aku hanya berusaha mengerot pensil tapi tidak membuat kopi dan mempelajari buku fosil dan aku juga minta maaf soal itu.

Karena sekarang Seung-yeon sudah mengatakan semuanya, Jin-soo menyuruhnya pergi. Ketika Jin-soo masuk ke gedung itu, dia terlihat merasa bingung. Dia bahkan berhenti sejenak untuk memandangi Seung-yeon lagi, tapi dia tidak tahu mau bicara apa. Seung-yeon sendiri senang karena sudah mengeluarkan uneg2nya.

Jin-soo bekerja sampai larut malam dan dia tetap saja memikirkan kata2 Seung-yeon – khususnya tentang buku fosil. Jin-soo tidak tahu apa yang dimaksud Seung-yeon dan dia harus berpikir beberapa menit sebelum dia menyadari tugas konyol yang dia berikan pada Seung-yeon pada hari pertama bekerja – meringkas dan menerjemahkan buku fosil.

Jin-soo menyindir dan kagum bahwa Seung-yeon masih ingat permintaannya. Ketika dia mengambil minuman dari kulkas, pikirannya lebih kacau lagi ketika minuman menetes di tangannya, yang membuatnya ingat pada air mata Eun-young.

Eun-young ada pertemuan dengan Dong-wook untuk membicarakan perubahan kafe. Eun-young berencana memperluas bagian buku dan mempersempit dapur. Ide ini mendapat perlawanan dari Dong-wook, yang bersikeras kalau ketimbang menjadi kafe buku, bagian kafenya harus lebih menonjol.

Pertemuan ini disela oleh kemunculan Hyun-seok, sang pengacara. Kedatangannya merupakan kejutan, tapi dengan persetujuan kakek, Hyun-seok datang mengajak Eun-young makan siang – sebuah tindakan yg disetujui Eun-young dengan enggan.

Sadar akan acara makan siang ini, Ji-won mencari Ji-won di sekolah dan menyeretnya jadi mereka bisa mengacaukan kencan makan siang Eun-young. Jin-soo tidak suka, tapi Ji-won berusaha menghapus keengganan Jin-soo dan memaksanya pergi, “Jajangmyun sepertinya menyukaimu. Ayo bergabung dengan mereka.”

Eun-young langsung tahu kalau ini bukan kebetulan, tapi Hyun-seok menerimanya dengan senang hati dan setuju agar Ji-won-Jin-soo bergabung. Sebenarnya, Hyun-seok sangat ingin mengobrol dengan Jin-soo!

Suasana berubah tegang waktu Ji-won mulai menjelek-jelekkan Hyun-seok. Dia menghina pengacara itu, misalnya saja dengan mengatakan nama Hyun-seok begitu aneh. Hyun-seok tidak tahu kenapa dia diserang, tapi dia mengabaikan Ji-won dan melanjutkan memuji novel Jin-soo, menyebut Jin-soo jenius.

Sepanjang acara makan itu, Jin-soo menerima pujian Hyun-seok dgn tidak nyaman. Dia hanya berharap makan siang ini segera selesai. Eun-young juga begitu ingin pergi; dia pergi sebentar dari mejanya untuk memanggil Hyun-joo, meminta pertolongan.

Ketika Hyun-seok permisi untuk menelpon, Jin-soo meminta Ji-won mengakhiri ini semua. Ji-won berkata kalau dia tidak suka Hyun-seok – dan lagi, apa Jin-soo mampu menyaksikan Eun-young berkencan dengannya? sebagai teman, mereka harus stop ini.

Jin-soo dan Eun-young ditinggalkan berdua di meja untuk beberapa saat dan Jin-soo memanfaatkan kesempatan ini untuk meminta maaf pada Eun-young atas kekacauan ini.

Eun-young di sisi lain malah bertanya pada Jin-soo kenapa dia mengenalkan Ji-won padanya beberapa tahun yg lalu. Jin-soo pasti melihat sisi positif Ji-won makanya Eun-young dijodohkan dengannya, jadi apa saja sisi positif itu? Jin-soo tidak punya jawaban yg bagus dan bercanda kalau sifat terbuka Ji-won merupakan jebakan.

Eun-young bertanya, “Kau tahu kenapa aku berkencan dengannya? Karena dia orang yg kau kenalkan padaku. Aku mempercayaimu.” Eun-young berpikir waktu itu, Ji-won pasti pria baik. Akan tetapi, sekarang dia berpikir kalau Jin-soo mengenalkan Ji-won padanya tanpa pikir panjang. Begitu bukan? Eun-young mendesah, “Di masa lalu, aku mengira kau setulus diriku.”

Ji-won menemui Hyun-seok di toilet saat dia sedang pipis. Ji-won seolah-olah menghina ‘punya’ Hyun-seok dan akhirnya Hyun-seok tidak tahan lagi bersikap sopan dan berteriak, “Apa masalahmu?”

Ji-won ini sangat konyol. Dia malah semakin marah waktu diperlakukan tidak sopan padahal bukan Hyun-seok yg mulai duluan. Ji-won marah dan mengeluarkan kata2 kasar dihadapan Hyun-seok. Pertengkaran itu terhenti waktu Jin-soo tiba dan masuk untuk merelai kedua pria itu.

Ji-won berpikir kalau Jin-soo ada di pihaknya, tapi Jin-soo malah menonjok wajahnya dan berteriak agar semua ini diakhiri. Marah, Ji-won berkata kalau dia adalah sunbae Jin-soo (dan pantas mendapatkan hormat), tapi Jin-soo membalas, “Kau harus bersikap seperti sunbae kalau ingin menjadi sunbae!”

Sekarang pertengkaran jadi milik Ji-won dan Jin-soo. Mereka bertengkar dari dalam toilet hingga keluar. Sekarang Hyun-seok yang berteriak agar mereka berhenti dan tenang. Keadaan ini membuat Eun-young sendirian di mejanya dan dia tahu dari Hyun-seok kalau Ji-won dan Jin-soo bertengkar.

Akan tetapi, Ji-won dan Jin-soo mendengar kalau Hyun-seok sedang mengarahkan Eun-young datang ke tempat mereka dan Jin-soo menghentikan itu semua dengan mengambil hp Hyun-seok. Eun-young ingin berkeliling tapi Hyun-joo melarang sebab Eun-young hampir telat untuk meeting.

Setelah Hyun-seok pergi, kedua pria itu meneruskan aksi mereka lagi dengan sisa tenaga yg ada. Wajar kalau Ji-won yg mantan petinju menang. Meski begitu, keduanya terlihat babak belur pada akhirnya.

Sehabis pertarungan itu, mereka melanjutkan saling ejek. Jin-soo meneriakkan semua hal jelek tentang Ji-won – dia aneh, egois, dan gila. Jin-soo berkata, “Apa kau tahu betapa menyesalnya aku memperkenalkan Eun-young padamu?”

Akhirnya mereka berhenti karena lelah dan Ji-won bertanya, “Hey, dimana pria jajangmyun itu?” Jin-soo di sisi lain malah memikirkan kalimat Seung-yeon yg malah menjelaskan tentang dirinya meski tidak ada harapan mengubah keadaannya. Dia juga ingat perkataan Eun-young kalau dia kurang tulus.

Tiba2, kalimat2 ini menyatu di pikirannya – sampai sekarang kalimat itu berputar di kepalanya, seolah-olah mereka begitu penting tapi tidak menyatakan kenapa mereka penting. Sekarang, mereka semua menyatu dan Jin-soo mendapatkan tenaga. Dia berdiri lagi dan berlari.

Jin-soo pergi ke kafe buku dimana para pegawai kaget melihatnya begitu kacau. Dia mengabaikan semua itu dan menuju rak buku, mencari buku fosil yg dia berikan pada Seung-yeon dulu. Sekarang buku itu sedikit berbeda soalnya begitu banyak ditempeli post-it dan memo.

Kaget dan sedikit kagum, Jin-soo menelpon Seung-yeon dan bertanya kenapa Seung-yeon mau meneruskan pekerjaan yg jelas2 tidak ada ujungnya. Apa dia begitu bodoh? Apa Seung-yeon benar2 berpikir kalau pekerjaan itu untuk membantu naskah Jin-soo?

Tapi Jin-soo tidak dapat menerima jawaban Seung-yeon: “Tapi kau tidak pernah mengatakannya.” Seung-yeon tahu kalau Jin-soo tidak akan memakai tugas yg dia berikan, tapi Jin-soo tidak pernah menyuruhnya berhenti mengerjakannya.

Jin-soo tertawa – begitu aneh, tidak terduga, dan gila. Menunjuk ke tujuh alasan yg Jin-soo berikan kenapa memecat Seung-yeon, Jin-soo menyuruh Seung-yeon untuk melakukan perubahan – membuat alasan agar tidak dipecat.

Dengan nada tegas, Jin-soo menegur Seung-yeon karena tidak membedakan mana yg nyata dan tidak nyata. jin-soo mengatakan kalau orang yg professional harus mampu mengerti orang lain untuk membuatnya mengerti.

Saat Seung-yeon mengatakan kalau dia tidak tahu apakah bisa membuat alasan2 itu, Jin-soo berteriak, “kalau begitu karang saja. Apa kau tidak belajar berbohong dariku?”

Berikutnya, Jin-soo menuju kantor mencari Eun-young tapi dia mendengar kalau Eun-young baru saja berangkat melakukan perjalanan bisnis. Tepat saat Eun-young akan naik kereta dengan tim-nya, telponnya berdering. Jin-soo kehabisan nafas karena berlari, “Apa kau di dalam kereta?”

Eun-young mulai menanyakan tentang perkelahian Jin-soo saat makan siang tapi Jin-soo memotongnya dengan berkata, “Ada yang aku katakan padamu. Aku sudah banyak berbohong padamu sebelumnya, tapi aku rasa aku harus memberitahumu tentang ini.”

Jin-soo: kejadian itu (ciuman) bukan insting pria tapi karena kau Seo Eun-young makanya aku menciumu. Aku berbohong padamu hari itu. Aku minta maaf. Tapi meski memikirkan itu, aku harus meninggalkanmu – jadi lupakan aku selamanya. Aku tidak bisa menghapus Hee-soo dan melihatmu seorang. Aku rasa tidak akan berhasil meski aku mencoba. Bagiku, melihatmu selamanya berarti memiliki Hee-soo di sisiku selamanya juga. Ini penyakit. Aku tahu itu tapi tidak bisa mengendalikannya.

Eun-young berkata, “Meski kau meninggalkanku, itu artinya kau bisa meninggalkan Hee-soo selamanya, kalau begitu.” Jin-soo menjawab, “pikiranku itu datang padaku tiba2, jadi karena itulah aku menelponmu.”

Eun-young berkata, “Kau harusnya memberitahuku lebih dulu. Apa kau tidak tahu aku ada di sisimu? Apa yang kau manfaatkan dariku?” Jin-soo berkata kalau dia akan memberikan bukunya pada Eun-young, “Buku itu milikmu.”

Eun-young menjawab kalau kalimat itu kedengaran seperti kalimat seorang pria yg berhutang padanya. Dia menggoda Jin-soo kalau kalimat Jin-soo sepertinya menyiratkan mereka berbicara hal lain – sebab Jin-soo sudah menghilang begitu lama bersama perasaannya, sekarang semua yg dia bilang seperti kurang ketulusan.

Jin-soo: Aku serius.
Eun-young: Tidak 100%. Aku bertanya-tanya apa aku akan bisa melihat Lee Jin-soo 100% tulus sebelum aku mati. Hanya… untuk semenit, apa kau pernah 100% tulus denganku

Kalimat itu mempengaruhi Jin-soo, dan ada beberapa saat hening diantara mereka. Akan tetapi, panggilan terakhir untuk naik kereta diumumkan dan Eun-young harus naik kereta jadi dia mulai menyudahi pembicaraan itu.

Jin-soo berkata serius pada Eun-young, “Satu menit bisa lebih besar dari sepuluh tahun. Apa akan terjadi begitu?”

Eun-young bingung, tidak mendapatkan maksud Jin-soo. Jin-soo menutup telpon dan mulai berlari – dia menelpon dari tlpon umum di stasiun kereta. Sekarang dia menuruni tangga dan menuju ke tempat Eun-young. Sementara Eun-young mendesah dan naik kereta.

Jin-soo mencapai pintu kereta dan meraih Eun-young untuk menciumnya.

Saat mereka selesai berciuman, Eun-young bertanya, “Ini 100%, benar bukan?” Jin-soo mengangguk, masih dengan nafas berat dan terus memandangi Eun-young.

Eun-young berkata, “Sudah cukup kalau begitu.”

Lalu kereta mulai berjalan, memaksa mereka menjauh. Mereka masih saling pandang ketika keretanya sudah tidak tampak lagi.

Sinopsis Coffee House – Episode 10

Setelah Jin-soo pingsan di studionya, dia masih memiliki cukup tenaga untuk membuat catatan untuk Seung-yeon dan menyuruhnya menebus resep obat. Dengan tergesa-gesa, Seung-yeon berlari ke RS mencari dokter Jin-soo, menebus obat dan kembali ke studio.

Seung-yeon memberikan obat pada Jin-soo, yg bisa sendiri menyuntikkan obat itu ke tubuhnya. Seung-yeon terpana melihat kemampuan pengobatan Jin-soo, sampai Jin-soo menyuruh Seung-yeon melihat lagi biodatanya. Jin-soo pernah sekolah dokter.

Ketika Eun-young menelpon, Jin-soo tidak mau menjawabnya, jadi Seung-yeon membuatkan alasannya. Eun-young menerima begitu saja jawaban itu dengan sedikit rasa kecewa.

Jin-soo menyuruh Seung-yeon pulang, yg membuatnya semakin khawatir sebab dia tidak suka meninggalkan Jin-soo sendiri dengan kondisi seperti itu. Untuk saat ini, Seung-yeon tahu Jin-soo tidak akan protes jadi dia memikirkan sebuah ide: dia mengirim nenek untuk merawat Jin-soo.

Saat berikutnya Seung-yeon menjelaskan pada Dong-wook, Jin-soo sebenarnya tdk bisa kejam pd orang asing. Bisa saja Seung-yeon mengerahkan semua tenaganya merawat Jin-soo, menyuruhnya makan, tapi Jin-soo pasti akan mengusirnya. Jin-soo tidak terlalu kenal dengan nenek Seung-yeon jadi Jin-soo akan lebih menurut ketika nenek menyuruh makan.

Ketika Jin-soo mendapati dirinya bersama seorang nenek yg menyuruhnya makan, dia menelpon Seung-yeon, yg berpura-pura kalau koneksi tlp lagi jelek untuk mengabaikan kemarahannya. Seung-yeon merasa cukup bangga dan tidak merasa bersalah karena mengabaikan keinginan Jin-soo yg ingin ditinggal sendiri.

Seung-yeon menjelaskan semua ini pada Dong-wook di kafe buku sambil berbagi makanan ringan. Para pegawai lain berpikir kalau Dong-wook pintar karena tetap mulus dalam menjaga hubungannya dengan Seung-yeon.

Seung-yeon berbicara soal pekerjaannya, pikirannya yg masih tertuju ke Jin-soo yg sakit sedangkan Dong-wook hanya mendengarkan setengah hati, sebab dia juga memikirkan melakukan beberapa hal memenangkan hati Seung-yeon. Seperti memberinya kue beras.

Benar tebakan Seung-yeon. Jin-soo tdk mampu mengusir nenek dan dia duduk di meja memakan semua yg sudah disiapkan nenek. Selagi Jin-soo mencoba segera menyudahinya, nenek bertanya soal hidup Jin-soo, dan terus menambah kimchi di mangkuk Jin-soo dengan tangannya. Pada awalnya, Jin-soo merasa jijik dan dengan enggan memakan kimchinya. Tapi lama kelamaan, Jin-soo mulai menyukai rasanya. Dan pada akhir percakapan, Jin-soo menjulurkan sendoknya agar diisi kimchi oleh nenek.

Selagi nenek berbicara, menanyakan pertanyaan yg Jin-soo jawab pendek2. Contohnya, apartemen ini bukan milik Jin-soo, meski dia tinggal disini saat menulis. Kenyataannya, Jin-soo bahkan tidak punya rumah sendiri. Orang tuanya meninggal saat dia kuliah, jadi dia menghabiskan waktunya berkelana dari satu tempat ke tempat lainnya.

Nenek mengerti hal itu, tapi dia tidak memperlakukan Jin-soo dengan rasa kasihan. Nenek merecoki Jin-soo kalau dia harus menikah, tdk baik hidup sendiri terus.

Nenek pergi setelah mengatakan ke Seung-yeon kalau Jin-soo sudah makan dan sekarang istirahat. Saat diperiksa, Jin-soo ngomel dan menuduh Seung-yeon sudah gila karena menjebaknya dengan kejam. Akan tetapi, Jin-soo terlalu lelah marah2 dan malah tiduran.

Seung-yeon tidak takut, soalnya dia tahu kalau dia sudah melakukan yg terbaik. Seung-yeon meminta Jin-soo menelponnya saat dia sakit atau bosan. Seung-yeon terlalu pede karena berpikir tahu segalanya dan Jin-soo mengatakan kalau Seung-yeon sudah berkembang, tapi tetap saja semua itu tidak membuat Jin-soo terkesan.

Malam itu Eun-young selesai bekerja dan menelpon Jin-soo, ingin singgah sebentar ke tempat Jin-soo. Jin-soo menolaknya, bersikap normal dan mengatakan kalau dia lagi sibuk tapi Eun-young memaksa dan mengatakan kalau dia hanya sebentar.

Jin-soo tidak ingin Eun-young tahu kalau dia sakit – jika Eun-young tahu, maka dia juga tahu kalau Jin-soo sangat khawatir saat dia menghilang. Jin-soo tdk bisa membiarkan dirinya dalam keadaan itu. Jadi Jin-soo bangkit dari tempat tidur dan membuka pintu utk bicara dengan Eun-young tapi hanya sampai ambang pintu.

Eun-young memulai dengan lancar, tapi mengakui kalau dia merasa tdk enak setelah mendengar Jin-soo khawatir selama akhir pekan. Tetapi sekarang dia melihat kalau Jin-soo tdk khawatir sama sekali dan berpikir, “Aku yg malu dan terluka – kenapa kau menghindariku? Menggelikan sekali.”

Jin-soo mengatakan kalau dia tdk menghindari Eun-young, lalu dia menyingkirkan Eun-young cepat2 sebelum Seung-yeon tiba, membawa obatnya. Jin-soo sudah memerintahkan agar kondisinya dirahasiakan dari Eun-young, jadi Seung-yeon menyembunyikan obatnya saat berpapasan dengan Eun-young.

Jiw-on berpikir serius dan menelpon Eun-young untuk minta maaf karena sudah menyakitinya 2 tahun lalu. Lucu jg karena Ji-won baru sadar sekarang. Dia benar2 menyesal dan minta maaf. Ji-won bahkan mau menerima 70% tanggung jawan atas putusnya mereka. Bahkan menaikkan jd 80% lalu 90%.

Eun-young menganggap Ji-won aneh dan menghentikannya saat dia mulai mengungkit hubungannya dengan Jin-soo. Dengan santai Eun-young mengatakan kalau semua itu hanya sandiwara untuk membuat Ji-won menyerah dan bahwa Jin-soo akan segera pergi. Dia akan mulai berkencan lagi. Eun-young mengatakan juga kalau Ji-won sudah keluar dari hatinya selamanya. Lalu Eun-young menutup telponnya.

Eun-young kemudian menguhubungi pengacara dan meminta agar dokumen kontraknya dengan Jin-soo dibatalkan. Dokumen ini tdk hanya membebaskan Jin-soo dari perusahaan Eun-young tapi juga berlaku segera, yg artinya dia tdk menggunakan buku Jin-soo. Pegawai Eun-young kaget, sebab bagi mereka, ini begitu mendadak dan tanpa penjelasan. Meski Jin-soo mengerti alasan Eun-young, tapi dia juga kaget diserahi surat itu.

Jin-soo menemui Eun-young dengan ekpresi serius dan bertanya apa arti semua itu. Ini bukan berita bagus buat Jin-soo, meski ini membuatnya ada di posisi bagus ketimbang Eun-young, sebab perusahaan Eun-young akan rugi banyak ketimbang Jin-soo yg kehilangan kontrak.

Eun-young menjelaskan pada Jin-soo jika dia menyadari alasan Jin-soo menulis yaitu untuk membayar hutang lamanya. Dia tidak ingin mendapat uang dgn cara begitu. Eun-young ingin menghentikan kontrak ini agar mereka bisa kembali ke keadaan ketika mereka pertama bertemu dan mengingatkan Jin-soo kalau Jin-soo mengatakan dia (Eun-young) pintar kembali ke keadaan aslinya.

Eun-young mengingatkan bagaimana mereka sebelum menjadi teman atau rekan bisnis – dulu mereka sebatas kenal yg senang berbincang dan bersenang2 bersama. Jin-soo sudah menutup kesempatan itu tapi tdk Eun-young dan sekarang dia ingin kembali seperti itu. Tapi bukan ini yg Jin-soo inginkan atau mau dan semuanya tertulis di wajahnya.

Eun-young melanjutkan. Dia mengatakan akan sangat baik kalau mereka kembali ke hubungan dekat mereka, ke bagaimana mereka sebelum ulang tahun Jin-soo – sebelum ciuman itu – tapi mereka tdk dapat melakukan itu. Eun-young mengatakan meski Jin-soo ingin dia santai menjalani semuanya, tapi dia tdk bisa, jadi hanya ini hal terbaik yg bisa dia lakukan.

Eun-young terus tersenyum kecut saat dia berpisah dengan Jin-soo tapi saat dia mulai jauh, Eun-young menjadi semakin muram dan muram. Eun-young sepertinya tdk berada dalam dirinya, bahkan melewatkan kesempatan menyeberang.

Jin-soo mengikuti Eun-young dan menghampirinya di pertigaan. Jin-soo bertanya, “Jika kau membuangku, apa yg akan aku tulis? Kenapa aku harus menulis?” Pandangan Eun-young semakin kacau tapi dia tetap bersikap santai dan berkata kalau Jin-soo pasti puas dengan suksesnya hingga bicara seperti itu, lalu Eun-young pergi.

Saat Jin-soo kembali ke rumahnya, pegawai Eun-young memberikan undangan ke sebuah acara bernama International Peace Seoul Awards. Dia bertanya apa Jin-soo akan datang. Pria itu menebak kalau Jin-soo tdk mau menerima penghargaannya tapi dia meminta jawaban pasti – mereka tdk bisa memaksa Jin-soo setuju pergi.

Jin-soo melihat undangan itu dan bertanya apakah dengan pergi ke acara itu akan mencegah Eun-young membatalkan kontrak. Jin-soo bercanda kalau dia tdk ingin ‘dipecat’ Eun-young.

Eun-young kaget ketika Jin-soo bergabung dengannya di mobil yg membawanya ke acara penghargaan itu. Jin-soo tetap santai wakti dia bilang kalau dia tidak ingin diusir dari tempat kerjanya yg bagus: “Bisa kan kita terus seperti ini? Dengan sedikit keanehan? Atau bisa disebut rakus?”

Seung-yeon tidak tahu soal pembatalan kontrak itu sampai mobil berjalan menuju ke acara penghargaan. Hyun-joo yg mengatakan padanya lalu bertanya apa ada sesuatu terjadi saat ultah Jin-soo – sebelumnya keadaan baik2 saja. Semuanya berubah aneh setelah ultah dan Hyun-joo bertanya apa Seung-yeon tahu sesuatu.

Seung-yeon memang tahu – dia hanya tdk tahu cerita lengkapnya, tapi dia menyaksikan percakapan di atap itu – tapi tdk punya hak mengungkapkannya, jd dia mengalihkan key g lain. Saat berada di lokasi award, tim itu mulai bekerja mempersiapkan Jin-soo dan Eun-young untuk bagian mereka.

Seung-yeon mengatakan pembatalan kontrak itu dengan Jin-soo tapi Jin-soo menyuruhnya diam. Seung-yeon tdk bisa memaksa Jin-soo tapi tdk bisa berhenti berpikir kalau ini tdk bagus, jd berikutnya dia mencari Eun-young. Jin-soo melihat kedua wanita itu berbincang tapi dia tidak melakukan apapun.

Seung-yeon mengatakan pada Eun-young kalau Jin-soo sangat khawatir dan Jin-soo juga juga minum banyak obat tidur. Seung-yeon melihat kalau Jin-soo sangat peduli pada Eun-young dan pembatalan kontrak ini hanya soal salah paham.

Eun-young menangis dan memang terbukti kalau Jin-soo sudah berbohong padanya. Eun-young mengatakan kalau Jin-soo memang selalu berusaha menutupi kebenaran dan Eun-young tidak akan mampu tahu kebenaran tanpa Seung-yeon. Eun-young bergumam, “Apa semuanya selalu kacau buat kami karena kami tidak punya sekretaris?”

Eun-young mengucapkan terima kasih atas bantuannya. Seung-yeon merasa kalau dia melakukan hal yg benar, bahwa dia melakukan tugas sebagai sekretaris yg baik, dan menghilangkan semua kekecewaannya.

Saat Jin-soo menunggu naik panggung, Eun-young mendekatinya, sekarang bersikap lebih manis. Eun-young menggenggam tangan Jin-soo dan mengatakan agar melakukan yg terbaik.

Ketika Eun-young melepaskan tangannya, Jin-soo menemukan sebuah catatan. Jin-soo membukanya: “Ayo cari jawabannya bersama. Jangan berjuang sendiri, kumohon. Aku minta maaf sudah menyulitkanmu tanpa tahu kalau kau sakit.”

Jin-soo bingung tapi Seung-yeon muncul dan memberikan tanda ‘berjuang’ agar beruntung. Sekarang Jin-soo mulai berpikir, dan menyadari kalau Seung-yeon mengatakan yg sebenarnya pada Eun-young.

Pendangan Jin-soo mulai goyah – sekelilingnya mulai memudar dan cahaya panggung membutakan – sedangkan wajah Jin-soo mulai tegang.

Ketika Jin-soo naik ke panggung menerima penghargaan, cahaya panggung membuat sosok Jin-soo memudar. Eun-young dan Seung-yeon ingin tahu apa yg dipikirkan Jin-soo tapi hanya mampu melihat punggungnya.

Jin-soo melewati malam itu dengan baik dan setelahnya Seung-yeon memberikan dua jempol. Mereka semua diundang ke pesta setelah itu tapi Jin-soo malah menyuruh Seung-yeon pulang ke rumah. Ketika Seung-yeon bertanya kenapa, Jin-soo mengatakan, “Kau dipecat.”

Kalimat itu membuat senyum Seung-yeon menghilang dan dia bingung. Dia bertanya kenapa dan Jin-soo mengatakan secara terang2an: Seung-yeon sudah mengatakan hal yg dia percayakan agar tetap rahasia, dia mengganggu hidup Jin-soo dengan banyak delusi, dia bersikap kasihan berlebihan, dia menghancurkan kepercayaan Jin-soo padanya, dan terakhir dia menghancurkan harapan Jin-soo kalau dia bisa jadi sekretaris yg professional.

Jin-soo mengatakan semua ini tanpa rasa marah. Dia meninggalkan Seung-yeon yg kacau dan bergabung dengan Eun-young di limousine menuju ke tempat pesta.

Eun-young yakin kalau keadaan sudah membaik jadi dia kaget waktu mendengar kalau Jin-soo baru saja memecat sekretarisnya. Jin-soo menjelaskan kalau dia tidak bisa mempekerjakan sekretaris yg berbohong lalu mengatakan pada Eun-young semua yg dikatakan Seung-yeon bohong, “Jangan percaya satu pun ucapan itu.”

Eun-young terlihat kecewa ketika Jin-soo mengeluarkan dokumen dan sekarang setuju kalau Eun-young benar bila ingin memutus hubungan mereka: “Kita sudah cukup jauh dan aku rasa tidak bagus bagi kita berdua bila terus melanjutkannya.” Jin-soo setuju pada semua syarat Eun-young.

Jin-soo menandatangi surat itu dan meminta kendaraan itu menepi. Dia mengatakan agar Eun-young bersenang-senang di pesta. Jin-soo keluar dan meninggalkan dua wanita yg dibuatnya terkejut.

Sinopsis Coffee House – Episode 9

Setelah Jin-soo dan Eun-young selesai berciuman, ada jeda aneh diantara mereka berdua. Jin-soo mencoba mengabaikan hal itu dengan mengatakan kalau hadiah ultah Eun-young sedikit berlebihan. Jin-soo lalu bertanya apa ini usaha lain Eun-young membodohi Ji-won.

Kayaknya Eun-young punya harapan, tapi perkataan Jin-soo itu membuatnya hilang. Eun-young, tanpa berkata apa2, berbalik, mengambil payungnya dan pergi.

Saat mulai hujan, Seung-yeon pergi keluar membawa payung, khawatir pada Jin-soo. Dia akhirnya menemukan bos-nya berjalan kebingungan, bahkan tidak memedulikan hujan yg turun dan terus saja minum bir. Seung-yeon ingin memayungi Jin-soo tapi ditolak.

Eun-young kembali ke kantor, dimana dia berusaha tersenyum ceria demi karyawannya – mereka sudah mempersiapkan pesta untuk kontrak baru itu. Segera setelah Eun-young berada di bagian kantor yg aman, dia mulai meratapi kejadian tadi – apa yg dia pikirkan? Apa yg terjadi sekarang?

Seung-yeon masih belum sadar akan perkembangan ini, dan menghampiri Hyun-joo. Dia menjelaskan kalau dia sudah datang membawa kue untuk Jin-soo, tapi dia malah disuruh membersihkan semua alat2 pesta. Hyun-joo mengundang Seung-yeon bergabung dengan pesta kantor, lalu mendapatkan ide menggabungkan keduanya. Seung-yeon menyukainya dan memutuskan kalau dia tidak bisa membiarkan ultah Jin-soo tidak dirayakan.

Seung-yeon membuka pintu belakang jadi pegawai perusahaan penerbit bisa masuk dan menarik Jin-soo untuk mengawalnya ke pesta.

Ini membuat Jin-soo jadi tidak nyaman waktu Jin-soo diseret ke pesta itu. Semua orang berpikir kalau kedua orang itu (Jin-soo dan Eun-young) pasti sangat bahagia mendapatkan pesta bersama, apalagi mereka juga dekat.

Jin-soo dan Eun-young saling menghindari tatapan masing2 tapi mereka dipaksa meniup lilin bersama untuk merayakan hari besar mereka.

Eun-young permisi dan masuk ke kamar mandi, dimana dia marah pada dirinya sendiri, “Aneh, aneh, ini begitu aneh!” Jin-soo masuk ke dalam dengan tangan penuh kue dan Eun-young memaksakan diri tertawa, berusaha bersikap tenang dan mengatakan kalau Jin-soo salah masuk kamar mandi. Sampai, Jin-soo menunjuk ke dinding – ternyata Eun-young yg salah masuk kamar mandi.

Sambil memikirkan cara menghadapi masalah ini, Eun-young memutuskan kalau yg mereka perlukan sekarang adalah waktu. Dan jarak. Banyak waktu dan jarak. Jadi Eun-young meraih tas-nya – tidak memperhatikan telponnya ketinggalan di meja – lalu keluar dari kantor sebelum ketahuan.

Lalu Eun-young malah bertemu dengan Jin-soo di dalam lift, soalnya Jin-soo juga mau kabur. Yang membuat semuanya jadi buruk adalah saat mereka bercanda bagaimana tidak nyamannya kalau lift itu berhenti. Dan lift itu berhenti. Haha…

Mereka mencoba menggedor pintu lift dan menekan tombol alarm tapi tidak ada jawaban. Mereka tertawa. Mereka mencoba berpura-pura kalau ini bukan lingkaran kesepuluh neraka.

Di sebelah, Ji-won kembali ke kantornya setelah istirahat selama beberapa hari untuk mendinginkan kepalanya. Ji-won sedang murung, sebab dia yakin kalau kesempatannya dengan Eun-young sudah diambil Jin-soo.

Ada kejadian lucu waktu Ji-won melarang sekretarisnya membuka tirai. Dengan nada tragis, Ji-won berkata, “Selama beberapa bulan yg lalu, jendela ini telah menjadi jendela kenangan, mengingatkanku pada masa mudaku yg indah. Tapi sekarang… aku harus menyebutnya jendela neraka. Pemandangan mengerikan apa yg menungguku saat jendela ini dibuka malam ini? Aku takut melihatnya.”

Mendengar itu, sekretaris Ji-won memandanginya dengan aneh. Akhirnya, Ji-won memutuskan dia harus menghadapi iblis-nya dan memerintahkan tirai dibuka.

Pemandangan itu menghentaknya: beraninya mereka berpesta setelah membuatnya terbakar di neraka? Ji-won menelpon kantor Eun-young dan mendapat jawaban dari Hyun-joo, yg mengatakan kalau saat ini Eun-young sedang tidak ada. Begitu juga Jin-soo.

Sementara itu Jin-soo dan Eun-young…

Jin-soo bergumam kalau lift itu seukuran dengan stand tlp umum – apa Eun-young punya fantasi romantis tentang menangkapnya di ruangan tertutup ini? Ini membuat Eun-young menatap tajam, jadi Jin-soo menarik kata2nya, tapi Jin-soo mengatakan kalau aneh jika Eun-young menjauh ketika DIA yang seharusnya kaget.

Eun-young mencoba menutupi rasa malunya, pertama mencoba menertawakannya, lalu berkata kalau sebuah ciuman memerluka dua peserta. Jin-soo menjawab, “Itu hanya insting. Aku seorang laki2.”

Berikutnya, lift mulai bekerja dan pintu terbuka tapi Eun-young sepertinya tidak akan melepaskan Jin-soo. Dia menarik Jin-soo dengan satu tangan dan memencet tombol menutup pintu lift dengan tangan lainnya. Pintu tertutup tepat saat Seung-yeon, yg keluar mencari mereka, melihat mereka berdiri di dalam lift. Dia melihat dari layar kalau lift itu membawa mereka ke lantai paling atas.

Eun-young memutuskan kalau lebih baik menghadapi ini semua dan mengatakan ke Jin-soo kalau mereka harus berhenti bicara berputar-putar. Eun-young mulai bicara tapi dipotong Jin-soo.

Jin-soo: kau penerbitku atau temanku? Kau ingin menghasilkan uang denganku atau bersenang-senang? Kau menyukaiku atau membenciku? Bagiku, kau hanya berarti satu hal, tapi kelihatannya kau selalu punya peran ganda, dan itu berlebihan buatku.

Jin-soo mengatakan kalau sekarang waktunya mereka menyelesaikan segalanya, tepat setelah itu Eun-young memberikan jawaban.

Eun-young: aku penerbit dan temanmu. Aku ingin mendapatkan uang denganmu dan ingin bersenang-senang denganmu. Aku ingin membunuhmu karena terganggu tapi aku juga menyukaimu. Apa yg kau ingin aku lakukan?

Jin-soo tidak suka jawaban itu dan mengatakan kalau jawaban itu melanggar aturan Eun-young – dia harus memilih satu peran dan tetap mempertahankannya. Eun-young juga tidak suka jawaban Jin-soo, yg dirancang untuk memudahkan segalanya bagi Jin-soo: “Kenapa aku satu2nya yg berada pada posisi yg kau rancang untukku? Semua org bisa berbeda key g lain. Bukankah hubungan berubah seiring dengan berjalannya waktu?”

Eun-young tidak ingin jadi orang terakhir ketika Jin-soo kembali ingin menghilang, bertanya-tanya apakah Jin-soo baik2 saja atau sudah mati. Eun-young berkata, “Aku tdak bisa kembali ke awal sekarang. Aku jg tidak mau melakukan itu. Kau bersikeras agar kita kembali ke tempat asli kita demi kenyamananmu, tapi sekarang aku juga akan bertindak sesuai perasaanku.”

Eun-young menambahkan kalau dia orang yg rakus – di atas kedua peran sebagai teman dan penerbit, dia bahkan bisa menambahkan yg lain, “Aku juga akan menjadi lebih dari itu. Apa yg tidak bisa aku lakukan?”

Itu bia jadi pengungkapan rasa cinta tapi Jin-soo hanya bilang tidak. Jin-soo: “Aku tidak menganggapmu lebih dari itu.” Eun-young meminta Jin-soo tidak berbohong. Eun-young tdk percaya kalau Jin-soo serius. Eun-young berpikir Jin-soo menolaknya karena alasan yg salah (takut? Tdk yakin?). Akan tetapi, Jin-soo meyakinkan kalau dia tidak berbohong.

Jin-soo mengatakan kalau ciuman itu hanya insting tubuh dan Eun-young sekarang menerima jawaban Jin-soo kalau Jin-soo hanya ingin menjadi temannya. Dengan sinis, Eun-young menertawakan dirinya sendiri, menyebut kalau ini adalah ringkasan keanehan hari ini.

Eun-young berusaha tidak meneteskan air mata saat dia turun. Tapi dia tidak memerhatikan kalau percakapan mereka didengan orang lain: Seung-yeon, yg mengikuti mereka ke lantai atas.

Selagi Jin-soo dibiarkan merenung di atap sendirian, Seung-yeon keluar dari gedung itu, dengan wajah muram sambil memeluk balonnya. Jadi kemistri romantis diantara mereka bukan hanya sebuah sandiwara.

Seung-yeon tidak terlalu mengerti alasan dibalik reaksinya, sebab dia tidak sepenuhnya mengakui kalau dia mulai menyukai Jin-soo, jadi ini begitu membingungkan dan memusingkan.

Saat melewati pojangmacha, Seung-yeon melihat Ji-won sedang minum. Ji-won tertawa dan mengangkat gelas untuk Seung-yeon, tapi dia tetap tenggelam dalam dunianya yg muram. Ji-won bicara pada Seung-yeon, tapi kata2 itu lebih ditujukan pada dirinya sendiri saat dia bertanya-tanya apa ini yg Eun-young rasakan ketika dia selingkuh dengan Young-mi. Jika begitu, dia pantas menerima kemarahan Eun-young dan dia mengerti perasaan ini akhirnya. Dia perlu waktu lama menyadarinya.

Di rumah, Seung-yeon menunjukkan suasana hatinya, berpikir jika berharap pasangan itu tidak berhasil merupakan jawaban normal situasi sekarang. Dia menyadari kalau org professional wajib tertarik pada pekerjaannya, “Tapi kenapa aku hanya tertarik pada orang?” Dia yakin kalau dia pasti tidak punya kualifikasi, dia tidak cocok dengan kesuksesan professional.

Hal berikutnya yg dilakukan Seung-yeon adalah menanyakan pada neneknya apa benar Dong-wook sangat menyukainya, dan berpikir apakah dia wajib memberikan kesempatan dirinya bersama Dong-wook.

Pesta itu dilakukan hari jumat dan hari senin, Jin-soo tiba di kafe buku dimana dia menguping pegawai Eun-young yg bertanya-tanya dimana Eun-young. Dia tidak bekerja dan tidak ada yg tahu kemana dia pergi.

Jin-soo memastikan ini ke Hyun-joo kalau Eun-young sudah pergi buat weekend. Dia juga meninggalkan hp-nya di kantor. Mereka sudah memeriksa ke rumahnya dan mencoba menelpon kemana-mana, tapi tidak menemukan jejak sang bos.

Karyawan Eun-young cukup khawatir, tapi Jin-soo punya alasan lebih untuk merasa khawatir setelah mengingat perckapan mereka di atap. Jin-soo menghabiskan waktunya seharian menelpon agar Eun-young pulang ke rumah, dan menghubungi semua kenalan Eun-young.

Ji-won juga mendengar berita itu dan menelpon ke kantor. Dia melihat Jin-soo lewat jendela dan memerintahkan agar dia bisa bicara dengannya, lalu menyalahkan Jin-soo karena membiarkan ini terjadi. Tidak adil kalau menyalahkan Jin-soo sebenarnya, tapi Ji-won percaya kalau Jin-soo adalah pacar Eun-young, yg punya tanggung jawab besar memastikan keadaan Eun-young.

Keadaan ini sangat mengkhawatirkan sebab Eun-young tidak pernah menghilang sebelumnya, atau secara sengaja menghilang. Akan tetapi, tuduhan Ji-won berikutnya sangat tajam: “Kenapa wanita selalu melakukan ini bila ada di dekatmu?”

Kalimat itu menusuk Jin-soo (sepertinya sebelum istrinya meninggal, juga terjadi kejadian seperti ini). Malam itu, Jin-soo menumpuk kartu domino lagi dan tetap menghubungi Eun-young, hanya saja dia selalu terhubung ke voicemail.

Akhirnya, Jin-soo meninggalkan pesan – tapi segera setelah Jin-soo mengeluarkan kata2nya, sebuah kenangan menyakitkan muncul dengan cepat. Kalimat itu sama dengan kalimat yg dia ucapkan pada istrinya, Hee-soo, ketika dia tidak dapat ditemukan dan Jin-soo sudah lelah.

Menara dominonya jatuh – simbol! Jin-soo duduk di dalam kegelapan, takut kalau kejadian itu akan terulang kembali.

Sedangkan, keadaan sedikit santai di rumah keluarga Kang, soalnya sekarang waktunya makan daging panggang, hari favorit ayah sepanjang minggu. Minggu ini mereka punya tamu khusus: Dong-wook juga diundang dan datang dengan gaya mengesankan. Ini langkah pertama Seung-yeon setelah dia memutuskan memberikan kesempatan pada Dong-wook.

Jin-soo menelpon Seung-yeon selama makan malam, yg tentu saja telpon itu hanya karena dia bosan. Seung-yeon terkejut dan ingin tahu lagi alasan Jin-soo menelpon. Jin-soo mengatakan dia bosan sekali tapi Seung-yeon tidak bisa merasakan kalau ada yg salah.

Sedangkan di keluarga Kang… Dong-wook memberikan daging panggang pada Seung-yeon. Tapi ayah malah memberikan tatapan aneh dan mengambil daging itu, lalu memberikan pada Seung-yeon. Tapi saat Seung-yeon mau memakannya, nenek mengambilnya. Begitu terus…

Kembali ke apartemen, Jin-soo duduk di dalam gelap dengan pil-nya. Dia menelannya dan mengingat kembali ke beberapa tahun yang lalu saat dia dan Eun-young pergi kemana-mana mencari Hee-soo.

Hee-soo meninggalkan satu voicemail untuknya dan mereka takut hal buruk terjadi. Saat Jin-soo sedang berkendara mencari Hee-soo, ada telpon masuk tapi tidak bisa dijawab, dia malah memandanginya dengan takut. Eun-young meyakinkan Jin-soo kalau semuanya akan baik2 saja, tapi saat Eun-young menerima telpon itu, dia mendengarkan berita buruk.

Eun-young dan Jin-soo mempercepat laju mobil menuju lokasi kecelakaan dimana mobil Hee-soo sudah terbalik. Hari2 berikutnya, Jin-soo mengalami depresi berat. Dia tidur hanya dengan bantuan obat sambil tetap mendengarkan pesan terakhir Hee-soo.

Pesan Hee-soo: Aku minta maaf membuatmu khawatir. Aku melakukannya dengan tidak sengaja. Jangan salah paham. Dan ini.. akan menjadi yg terakhir, jadi jangan merasa terganggu. Kau melakukan hal benar tapi kenapa aku tidak mampu melakukannya? Tapi kau tahu, kau benar2 kejam. Kau sangat kejam. Kau tahu itu, kan?

Paginya, Jin-soo dibangunkan. Seung-yeon datang memeriksa keadaan Jin-soo. Jin-soo mengalami malam yg buruk tapi dia baik2 saja sekarang dan mencoba bersikap kalau kekhwatiran Seung-yeon berlebihan. Seung-yeon melihat domino yg berserakan dan pil, tapi tanpa melihat itu pun dia sudah tahu kalau ada yg aneh – Jin-soo menggunakan kalimat, “Aku bosan!” untuk menunjukkan perasaannya yg sedih. Ini merupakan pengamatan yg dilakukan Seung-yeon yg membuat Jin-soo terkejut.

Jin-soo meminta Seung-yeon memeriksa pesan untuknya. Seperti di masa lalu, Jin-soo tidak tahan menjadi orang pertama yg mendengar berita buruk dan ketika Seung-yeon memeriksa telpon, Jin-soo menunggu dengan nafas berat. Seung-yeon mengatakan kalau tidak ada pesan, yg merupakan hal bagus dan buruk. Jin-soo mengatakan kalau sebaiknya mereka sarapan.

Saat mereka sedang jalan, Seung-yeon mendapat telpon dan Jin-soo tegang ketika Seung-yeon mengangkatnya. Seung-yeon tidak mengatakan apapun, tapi Jin-soo merasa kalau ini tentang Eun-young, yg dibenarkan Seung-yeon. Eun-young sudah kembali bekerja.

Tanpa menunggu Seung-yeon selesai bicara, Jin-soo dengan segera pergi ke kafe buku dengan kecepatan penuh. Saat sampai, dia berkeringat dan kehabisan nafas. Ini belum sampai dia melihat Eun-young lewat jendela kaca dan dia pun mulai tenang. Eun-young sedang meeting, dan terlihat baik2 saja.

Pegawai menjelaskan kalau Eun-young pergi ke Jepang untuk menjernihkan pikiran. Dia bahkan tidak menyadari kalau semua orang khawatir pada kepergiaannya. Selama percakapan itu, Jin-soo memandangi Eun-young lewat kaca, jelas dia merasa sangat tenang.

Ketika Eun-young melihat Jin-soo sekilas, dia permisi dan keluar, tapi Jin-soo memberi isyarat agar Eun-young berhenti. Jin-soo memperlihatkan senyumnya yg khas.

Sambil mencoba bersikap tenang, Jin-soo mengindikasi lewat gerakan kalau dia akan kembali, dan Eun-young tidak perlu menunda rapatnya. Eun-young mengerti dan mengangguk. Dia tetap ikut rapat.

Jin-soo keluar dari kantor. Dia berhenti di ambang pintu ketika Seung-yeon datang sambil berlari, kehabisan nafas.

Jin-soo mengatakan kalau mereka keluar saja dan kembali ke tempat Jin-soo. Jin-soo terpeleset karena menginjak botol pil-nya. Dia mengulurkan tangan berpegang pada meja. Tapi dia kehilangan keseimbangan dan ambruk di lantai. Jin-soo pingsan.

Sinopsis Coffee House – Episode 8

Pagi itu Eun-young bangun dan memikirkan kembali kejadian sebelumnya, saat dia bangun dan melihat Jin-soo merenung di dekat jendela. Yg Jin-soo katakan hanya agar Eun-young kembali tidur, tapi Eun-young merasa ada perubahan dalam sikap Jin-soo – lebih serius – lalu keluar dari ruangan memikirkan bagaimana sikap Jin-soo sekarang.

Tapi Jin-soo bersikap normal, bicara dengan santai seolah-olah tidak ada yg terjadi dan Eun-young terlihat kecewa.
.
Ketika Eun-young masuk ke kamar mandi, Jin-soo menjelaskan agar Eun-young menunggu sampai dia tidak dapat mendengar sebab Jin-soo akan mendengarkan musik. Jin-soo kayaknya sadar kalau Eun-young melihat perubahan sikapnya malam sebelumnya. Sedangkan buat Eun-young, dia hanya mendesah kecewa sebab sudah susah2 datang kesini memastikan keadaannya.

Setelah sarapan, Jin-soo cekikikan saat ingat tentang film tadi malam dan meminta Eun-young menebak siapa yg disukai Dong-wook. Eun-young menebak orang lain terlebih dahulu sebelum akhirnya mendaratkan tebakan pada Seung-yeon dan kaget pada kenyatan itu. Jin-soo bercanda kalau lebih jauh ikut campur dalam kencan itu, dia mungkin akan mati.

Eun-young mengubah opininya soal Seung-yeon. Meski dia kelihatan tidak terlalu pintar, tapi dia punya tekad. Dengan pengembangan sedikit saja, Seung-yeon bisa menjadi sangat berguna bila Jin-soo terus mempekerjakannya. Tapi Jin-soo bilang dia tidak bisa melakukan itu, sebab, “Aku akan pergi.”

Kemudian terjadi percakapan serius saat Jin-soo berkata kalau dia sudah bekerja keras dan menulis dengan rajin selama 2 tahun belakangan, jadi dia ingin menghilang selama 2 tahun ke depan. Dia merasa dia sudah terlalu lama disini dan ingin pergi. Eun-young heran dan bertanya apa karena itu Jin-soo cepat2 menyelesaikan tulisannya – agar cepat selesai dan bisa langsung pergi. Jin-soo mengiyakan. Dia ingin pergi jauh dari gangguan Eun-young, tapi Eun-young merasa kalau itu tidak lucu. Jin-soo bilang dia hanya bercanda tapi Eun-young malah bilang itu yg sebenarnya – kebohongan yg disamarkan lewat becandaan.

Jin-soo berjanji dia akan tetap disini sampai naskahnya selesai dan bahkan mau melakukan interview di TV, hanya sekali ini saja. Akan tetapi, Eun-young merasa kalau Jin-soo tidak berani menatapnya dan Eun-young meminta Jin-soo menatapnya.

Eun-young bertanya, “Apa aku bermimpi tadi malam? Kau orang yg sama, tapi mana mungkin tatapan matamu bisa begitu berbeda?” Jin-soo tahu maksud Eun-young tapi Jin-soo lagi2 bercanda.

Perasaan aneh muncul saat mereka berkendara ke tempat kerja dan Eun-young muak melihat kebohongan Jin-soo. Eun-young memanggil Jin-soo patah harapan. Setelah menepi di pinggir jalan, Eun-young menyuruh Jin-soo keluar dari mobil. Eun-young putus asa padanya dirinya dan pada Jin-soo sebab dia berpikir semuanya sudah berubah.

Jin-soo akhirnya berjalan kaki ke kantor, dimana Seung-yeon menunggu di pintu. Jin-soo memberikan kunci padanya dengan alasan kalau kurang nyaman sekali rasanya selalu membukakan pintu untuk Seung-yeon, tapi Seung-yeon menghargai sikap itu.

Jin-soo bertanya pada Seung-yeon bagaimana ‘es krim’-nya tadi malam. Seung-yeon jelas tidak mengerti, dan berkata Jin-soo seharusnya ikut, yg membuat Jin-soo ketawa, “Aku tdk mau mempertaruhkan nyawaku demi es krim.” Jin-soo bergumam soal sikap Seung-yeon – dia bisa saja melepaskan Do-sang, tapi sekarang Dong-wook juga? Seung-yeon memandangi Jin-soo penuh tanya, tdk bisa mendengar perkataan Jin-soo dan memang tdk mengerti.

Saat melihat rekaman di kamera, Jin-soo menemukan gambar yg aneh dan meminta Seung-yeon melihat, lalu Jin-soo mendekat ke Seung-yeon menunjukkan gambar itu. Hal ini membuat Seung-yeon gugup dan segera menjauh dari Jin-soo. Ketika Jin-soo mengulangi tindakan yg sama selagi Seung-yeon membuat kopi, Seung-yeon berteriak kalau Jin-soo seharusnya menjauh dan mengeluh karena Jin-soo terus saja mengganggu.

Ini semua untuk menutupi kegugupan Seung-yeon tapi Jin-soo salah sangka dan menganggapnya sebagai pemberontakan. Marah karena sekarang karyawannya sudah berani kurang ajar, Jin-soo jadi marah dan memaki Seung-yeon karena mengambil keuntungan dari sikap Jin-soo.

Di kamar mandi, Seung-yeon memaki dirinya sendiri karena kehilangan kendali atas hormonnya, dia juga mengingatkan dirinya sendiri kalau dia lagi di tempat kerja.

Ji-won mampir ke kafe berharap kakek sudah pergi. Tapi, pegawai kafe mengatakan kalau kakek sedang duduk di luar, lalu memanggil kakek. Ji-won bersikap aneh, dan berkata, “Jangan panggil dia!” lalu sembunyi. Tapi pegawai itu malah menyingkir dan menunjuk ke Ji-won. Pegawai itu berkata pada kakek, “Kak Ji-won ada disini.” Ji-won memaksakan tawa gugup, membungkuk lalu pergi.

Kakek mengenali Jin-soo dan mengajaknya mengobrol. Kakek rupanya tdk suka Ji-won yg selalu memata-matai cucunya (Eun-young) dan meminta Jin-soo melakukan sesuatu agar Ji-won menjauh dari cucunya. Kakek mengatakan kalau solusi yg paling tepat yaitu menikahkan Eun-young dengan menyuruhnya mulai kencan buta (ortu Korea seneng bgt nyuruh anaknya kencan buta!). Perkataan ini membuat senyum Jin-soo meredup.

Eun-young bergabung dengan mereka di kafe dimana kakek bertanya apa Eun-young bertemu pria yg dulu dijodohkan dengannya. Eun-young melirik Jin-soo sekilas sebelum tersenyum pada kakek.

Ketika Jin-soo kembali ke kantor, Seung-yeon menyerahkan tlp padanya, dengan canggung dia memegang benda itu sejauh mungkin agar dia tetap bisa berjauhan dari Jin-soo. Tlp itu dari Eun-young dan Jin-soo bertanya apa Eun-young kencan buta sekarang. Kencan buta tdk cocok utk Eun-young. Eun-young berkata kalau Jin-soo pasti berpikir Eun-young lebih cocok single selamanya.

Eun-young menelpon buat memberikan jawaban atas permintaan Jin-soo saat sarapan yaitu tentang rencana masa depannya. Eun-young tahu kalau Jin-soo pasti akan pergi apapun yg terjadi, dan dari sudut pandang bisnis, Jin-soo sangat berharga untuk dilepaskan begitu saja. Eun-young berkata filosopis, tidak baik buat Jin-soo pergi lama, makanya Jin-soo harus kembali dengan buku baru. Selama keadaan mendukung, ini bisa jadi skenario baik – atau malah buruk.

Ini cara Eun-young mengatakan kalau dia menerima keputusan Jin-soo sebagai pihak penerbit. Jin-soo meminta pendapat Eun-young dari sudut pandang berbeda – yg artinya bukan sbg penerbit tapi sebagai teman. Eun-young berkata, “Aku sudah bilang padamu sebelumnya, Lee Jin-soo adalah alasan yg hilang.” Lalu telp-nya ditutup.

Ingat permintaan kakek, Jin-soo memberikan tugas pada Seung-yeon – menulis synopsis cerita-nya yg pertama. Tugas Seung-yeon adalah mencari cara menyingkirkan Ji-won dari kehidupan Eun-young.

Seung-yeon kaget, soalnya menulis skenario bukan hal yg cakap dia lakukan tapi Jin-soo berkata kalau dia memberikan kesempatan bagi Seung-yeon mengembangkan ketrampilannya. Seung-yeon cukup cerdas mengetahui kalau itu hanya akal2an Jin-soo sebab Jin-soo sendiri tidak tahu jawabannya. Wkwkwkw

Jin-soo memberikan waktu 1 jam. Seung-yeon berencana menjodohkan Ji-won dengan wanita lain. Tapi Seung-yeon belum memikirkan secara spesifik. Dan Jin-soo dengan kasar menghina ide itu – dengan siapa? Dimana mereka bisa menemukan wanita utk Ji-won? Seperti apa dia? Bagaimana mereka akan menemukan org yg lebih bagus dari Eun-young?

Saat Jin-soo menjelekkan ide Seung-yeon, kepercayaan diri cewek itu mengerut, yg membuat semangatnya juga hilang. Jin-soo menyuruh Seung-yeon mencari ide lagi dan kali ini Seung-yeon lebih hati2, menanyai Hyun-joo tentang hubungan asmara Ji-won di masa lalu. Sebenarnya dia tidak suka ide itu dan mencoba beberapa teori yg baru.

Yg pertama melibatkan peramal yg Seung-yeon kenal, yg bisa disuruh membaca keberuntungan Ji-won dan Eun-young dan menyatakan kalau mereka tdk cocok. Jin-soo berpikir kalau itu ide cacat. Lagi2, Jin-soo mengkritik imajinasi Seung-yeon yg payah. Seung-yeon mengkerut lagi.

Seung-yeon mengatakan kalau setidaknya Jin-soo harus mencoba tapi Jin-soo malah mengatakan kalau ini PR Seung-yeon – dia tdk boleh memberikan Seung-yeon jawaban agar Seung-yeon bisa berlatih. Seung-yeon malah mengatakan kalau kehabisan alasan. Jin-soo melakukan ini padanya sebab dia juga tidak punya solusi yg lebih baik. Keadaan berbalik sekarang! Wkwkwkw… funny…

Ide terakhir Seyng-yeon yaitu mencarikan pacar baru utk Eun-young. Jin-soo mulai bertanya, siap menghancurkan ide Seung-yeon lagi: Bagaimana ceritanya nanti? Siapa yg akan jadi pacar Eun-young? Saat ini Seung-yeon sudah hilang percaya diri dan mengatakan kalau Jin-soo yg harus jadi pacarnya.

Seung-yeon menjelaskan kalau ide itu masuk akal dan jika Ji-won melihatnya, dia harus menerimanya. Jin-soo bertanya apa yg akan menjadi bukti hubungan itu dan Seung-yeon bergumam, “Hal2 yg orang2 berkencan lakukan.” Jin-soo bertanya apa ini bakal memerlukan ‘adegan ranjang,’ yg dijawab tidak oleh Seung-yeon.

Jin-soo menyuruh Seung-yeon berpikir lagi dan Seung-yeon memikirkan berbagai skenario, seperti membuat mereka mabuk dan ‘memberi bukti hubungan asmara’ dengan memamerkan kemesraan pada publik.

Eun-young melihat namanya ada di catatan Seung-yeon dan mengintip dengan penasaran. Seung-yeon mencoba menutupinya dan menjelaskan kalau itu hanya latihan – hanya imajinasi dan tdk ada hubungan dengan kejadian nyata – dan Eun-young malah heran kenapa Jin-soo membuatnya menjadi subjek pelajaran.

Membaca semua daftar itu, Eun-young bergumam kalau No. 1 (menjodohkan Ji-won dengan wanita lain). Yang itu sudah Eun-young lakukan bertahun-tahun yg lalu kalau memang berhasil. No. 2, tapi yg itu tidak akan berhasil sebab orang tua mereka sudah membawa mereka ke peramal saat mereka ditunangkan dan ramalannya bagus.

Sekarang no. 3 – membuat Jin-soo menyamar sebagai pacar Eun-young. Seung-yeon segera menjelaskan kalau itu ide bodoh, tapi Eun-young begitu terlihat tertarik, “Yang ini, aku suka.” Ide itu punya kemungkinan sukses – bagaimana mereka bisa melakukannya?

Eun-young memahami skenario itu sambil memikirkan cara membuat skenario yg dapat menjatuhkan Ji-won. Seung-yeon terpaksa menemani Eun-young yg memberikan beberapa detail: Ji-won punya kebiasaan mengintip Eun-young dari jendela kantornya jadi mereka akan membuat kantor Eun-young sebagai seting-nya. Eun-young juga mengatakan kalau adegan ciuman penting – menggunakan ciuman yg bahkan meyakinkan dari kejauhan.

Yang lebih membuat Seung-yeon merasa aneh bahwa Eun-young ingin agar hal ini dirahasiakan dari Jin-soo, sebab dia tidak akan mau kerja sama jika dia tahu. Eun-young mengajak Seung-yeon bersumpah dan memuji ide itu. Setelahnya, Seung-yeon meratapi sumpahnya, “Oh, aku sudah melibatkan diriku dalam hal ini?”

Malam itu, Seung-yeon menunggu dengan gugup pelaksanaan rencananya ketika Eun-young akan melakukannya. Jin-soo mendapatkan telp yg meminta kehadirannya di kantor Eun-young dan Seung-yeon berusaha tutup mulut, dia ingin memperingatkan Jin-soo tapi takut menghancurkan rencana itu.

Bagusnya, Seung-yeon kali ini meyadari kalau dia tidak harus pergi ke kantor Eun-young sebab ada pintu nomer 3. Seung-yeon berlari ke pintu samping ke kantor Ji-won, dia ingin menghentikan Ji-won agar tidak melihat semuanya.

Eun-young menyapa Jin-soo dengan senyum cerah dan segelas anggur. Jin-soo langsung tahu ada sesuatu yg terjadi, meski dia tdk tahu apa yg direncanakan Eun-young. Pertama-tama, Eun-young membiarkan Jin-soo dalam kegelapan sedangkan dia memainkan rambutnya lalu menyentuh wajah Jin-soo sebelum mengatakan kalau Ji-won sedang melihat.

Eun-young juga menyebut Jin-soo aneh sebab dia menghina ide Seung-yeon sebab dia berpikir itu ide bagus. Ide itu paling realistic dan memiliki kemungkinan berhasil yg tinggi. Jin-soo hanya membiarkan kebencian pribadinya untuk tidak mau berperan sebagai pacar palsu Eun-young.

Seung-yeon berlari ke kantor Ji-won, siap menghentikan Ji-won melihat adegan itu lewat jendela, tapi dia terlambat. Ji-won sudah melihatnya dengan kaget saat Eun-young mendekat dan mulai membuka baju Jin-soo.

Selagi tetap menjaga suasana romantis, Eun-young mengatakan pada Jin-soo kalau dia membuat skenario ini bersama Seung-yeon dan mereka merencanakan naskahnya sepanjang sore. Jin-soo bertanya dengan gugup seberapa jauh Eun-young akan melaksanakannya, “Kau ingin tetap melanjutkan? Seberapa jauh?”

Sebenarnya Jin-soo sedikit gugup dan merasa tak nyaman, tapi setelah Eun-young mengatakan akan ada adegan ciuman, Jin-soo langsung tersenyum dan menantang Eun-young apa yg bisa dia lakukan. Eun-young beraksi, mendorong Jin-soo ke atas mejanya dan mulai mendekat.

Yang menonton adegan itu benar2 lucu – mereka sangat kaget dan Ji-won akhirnya menyadari Seung-yeon ada di kantornya. Ji-won bertanya apa yg Seung-yeon lakukan disini, tapi Seung-yeon terlalu kaget jadi dia hanya menempelkan wajahnya ke jendela. Ji-won melakukan hal yg sama.

Ada jeda lucu waktu Eun-young mendekati Jin-soo, waktu dia ada tepat di atas Jin-soo dan Jin-soo menyuruh Eun-young melanjutkan aksinya. Eun-young berbisik, “Kau ingin aku melakukannya? Aku memaksamu, jadi kau harus melakukannya.” Jin-soo berkata, “Kau bicara apa?” Lalu ada jeda lagi. Dan Eun-young berubah serius.

Dengan marah, Eun-young mengatakan pada Jin-soo agar tidak mengacaukan hidupnya: “Kau melakukan semua ini padahal aku tidak minta, lalu kau tidak mau melakukan apa yg aku minta. Aku sama sekali tidak berterima kasih. Jika kau punya sedikit rasa kasihan padaku, kau akan melakukan apa yg aku minta. Jangan terus melakukan hal yg tidak aku minta. Kapan aku pernah minta bantuanmu?”

Tapi Jin-soo malah bertanya, “Jadi apa yg kau inginkan dariku? Sebuah ciuman yg indah dan meyakinkan?”

Eun-young: Ya.
Jin-soo: Ya?
Eun-young: Ya.
Jin-soo: Ya…

Akan tetapi, keyakinan Eun-young kelihatan mulai hilang dan pandangannya mulai kacau, seolah-olah dia ingin mundur dan menyerah saja. Dan saat itulah Jin-soo memutuskan, “Kalau begitu, ayo lakukan dengan caraku. Aku tidak suka cara ini.”

Ji-won dan Seung-yeon menonton dengan ngeri dan tidak percaya saat Jin-soo bangun dan menyigkirkan semua kertas dari meja Eun-young. Dia bergerak dengan cepat dan membalik posisi: sekarang Eun-young yg berbaring di atas meja. Jin-soo semakin mendekat dan bahkan mengangkat satu kaki Eun-young.

Lalu, Jin-soo bangkit menuju jendela dimana dia memandangi Ji-won dengan sengit. Jin-soo meraba pinggangnya… dan menarik ikat pinggangnya… dan menarik tirai jendela.

Setelah itu, Jin-soo kembali seperti biasa. Dia mengenakan lagi ikat pinggangnya dan mengatakan lebih baik membuat mereka berpikir dengan imajinasi mereka sendiri. Tapi Eun-young tentu saja kaget dengan sikap tiba2 Jin-soo dan memerlukan beberapa detik untuk memulihkan diri.

Ji-won dan Seung-yeon begitu kaget dan mereka masih saja tercengang ke arah jendela kantor Eun-young. Hahahaha…

Jin-soo menyarankan agar mereka keluar untuk makan. Eun-young, yg sudah pulih dr shock-nya, mengatakan kalau Jin-soo benar dan bijak – Jin-soo lebih logis dari dirinya. Eun-young berkata, “Aku mengerti.” Eun-young menyebutkan tentang taktik Jin-soo dimana Jin-soo menampilkan pertunjukkan yg bagus.

Jin-soo mengatakan kalau tidak peduli seberapa keras Eun-young melewati sesuatu, dia selalu bisa kembali ke keadaan semula. Eun-young memaksakan senyum dan setuju – itulah dia. Dengan santai, Eun-young menolak undangan makan malam Jin-soo dan Jin-soo kembali ke kantornya.

Setelah Jin-soo pergi, Eun-young kembali berbaring di atas mejanya, masih merasakan adegan menegangkan tadi.

Ketika Jin-soo kembali ke kantornya, dia mengatakan kalau rencana konyol Seung-yeon dengan Eun-young sudah berhasil. Seung-yeon sadar kalau ini artinya Jin-soo sadar kalau semua itu hanya palsu, yg artinya bagian yg dilakukan Jin-soo juga palsu. Ini pemikiran yg membuat Seung-yeon tenang – sampai dia ingat kembali kalau dia tidak boleh merasa demikian, soalnya Jin-soo kan atasannya.

Berikutnya, Seung-yeon bekerja lagi di coffee shop keluarganya ketika Dong-wook mampir. Dong-wook senang melihat Seung-yeon lewat jendela, tapi langkah Dong-wook dihalangi oleh keluarga Seung-yeon dan dia harus melewati sedikit interogasi sebelum bisa masuk ke dalam. Dong-wook ditanya seputar keluarganya. Nenek menyukai Dong-wook meski ayah punya beberapa keberatan.

Seung-yeon tidak boleh ngantor selama 3 hari sebab Jin-soo sibuk menulis dan memintanya tidak datang sampai dia menelpon. Dong-wook kegirangan, sebab ini artinya Seung-yeon punya banyak waktu luang dan saat Dong-wook akan mengajaknya nonton, Seung-yeon mendapat telpon.

Seung-yeon menjawab telponnya dengan senang, berharap dari Jin-soo, tapi ternyata Hyun-joo. Kantor penerbit itu penuh dengan hadiah ultah dan mereka berharap Seung-yeon mau mengangkut hadiah2 itu ke tempat Jin-soo. Seung-yeon hampir percaya kalau ultah Jin-soo yg sebenarnya adalah bulan berikutnya dan ini hanya ultah bohongan saja. Tentu saja, Jin-soo sudah berbohong – Seung-yeon sudah berencana membuat pesta jadi Jin-soo memilih hari yg berbeda untuk membuat Seung-yeon diam.

Dong-wook mencoba bertanya lagi pada Eun-young tapi sekarang dia dibingungkan oleh berita ini dan tidak mendengarkan Dong-wook. Eun-young memutuskan kalau hari ini memang belum berakhir jadi masih ada waktu merencanakan pesta ultah.

Di toko, Eun-young memilih peralatan ultah yg akan sangat membuat Jin-soo terganggu dan pulang dengan benda2 itu. Akan tetapi, Jin-soo melihat leat jendela saat Eun-young berjalan dengan benda2 itu dan memutuskan untuk menyelinap sebelum Eun-young tiba disana. Jin-soo singgah di toko membeli makanan ringan lalu menelpon.

Seung-yeon sekarang punya kunci apartemen jadi dia masuk saja dan mulai mendekorasi. Saat dia menjawab telpon yg ternyata dari Jin-soo. Dia meminta Seung-yeon memindahkan semua balon dan perlengkapan pesta. Segera! Jika ada yg tertinggal saat dia kembali, dia akan memecat Seung-yeon. Seung-yeon protes tapi dia merasa kalau Jin-soo serius dan mulai mengumpulkan dekorasi itu.

Jin-soo keluar dari stand telpon umum tapi tiba2 saja hujan mengguyur. Tanpa payung dan tempat tujuan, dia masuk lagi ke dalam lalu membuka bir. Selamat ultah untukku.

Ketukan di pintu kaca membuat Jin-soo penasaran – ternyata Eun-young berdiri di luar.

Eun-young akan masuk, setelah minum sedikit sebelumnya, sebagai perayaan karena sudah mendapatkan kontrak baru. Dia meminta Jin-soo ikut dengannya, soalnya dia bawa payung, jadi Jin-soo mengambil tas plastiknya dan beranjak pergi. Tapi isi tas itu jatuh dan botol2 bir berserakan di tanah.

Jin-soo berlutut mengambil barang2 itu sedangkan Eun-young malah berkata tentang betapa anehnya Jin-soo minum sendirian di stand tlp umum saat ultahnya, padahal dia adalah penulis terkenal yg punya banyak fans. Jin-soo berpikir kalau Eun-young melupakan ultahnya. Eun-young menjawab, karena Jin-soo ingin dia melupakan ultahnya maka dia melakukannya.

Jin-soo menyukai Eun-young karena hal itu, berlawanan dengan Seung-yeon yg selalu ingin merayakan ultah Jin-soo. Eun-young menyebutkan kalau Seung-yeon normal – Jin-soo yg tdk normal. Eun-young menambahkan karena ingin mengikuti cara hidup Jin-soo, dia juga jadi berubah tdk normal, “Aku tidak bisa membeli hadiah utk teman saat ultahnya atau mengucapkan selamat.”

Jin-soo mengatakan kalau dia tidak perlu ucapan terima kasih, “Tapi sebuah hadiah cukup bagus. Berikan saja aku hadiah.” Jin-soo senang dengan hadiah, asalkan tidak ada kartu ultahnya.

Mendengar itu, pandangan mata Eun-young berubah – dia memandang Jin-soo lebih lekat saat Jin-soo bicara. Lalu, Eun-young tiba2 menjatuhkan payungnya, masuk ke stand tlp umum itu dan mencium Jin-soo.

Sinopsis Coffee House – Episode 7

Setelah berhasil lolos dari interview itu, Jin-soo bertanya-tanya kemana mereka harus pergi. Setelah semua usaha itu, mereka harus menemukan tempat dimana mereka tidak akan diganggu. Dia memikirkan tempat jauh di pedesaan, mungkin pulai terpencil, tapi Seung-yeon kaget – mereka berdua? Bersama? Melihat keengganan Seung-yeon, Jin-soo mengambil keputusan untuk melakukan perjalanan ini sendiri dan mengarahkan pengemudi taksi ke lingkungan rumah Seung-yeon.

Jin-soo belum memikirkan keluarga Seung-yeon dan memberikannya tambahan, tapi Seung-yeon tidak suka karena begitu mudah dilepaskan. Seung-yeon bertanya kemana Jin-soo akan pergi tapi Jin-soo tidak memberikan jawaban, dan hanya berjanji akan menelpon kalau dia sudah kembali. Ketika Seung-yeon keluar dari taksi, dia dilihat oleh orang yang lewat, yang wajahnya menjadi cerah: Dong-wook, gembira melihat Seung-yeon sudah kembali dari perjalanannya. Tapi Seung-yeon malah terlalu memikirkan Jin-soo dan segera permisi. Dia mengejar taksi itu tepat saat ayahnya dan neneknya melihatnya berhamburan.

Seung-yeon berputar dan melompat tepat dihadapan taksi itu dan kembali masuk. Jin-soo melihat Seung-yeon dengan kaget dan memintanya untuk keluar, tapi Seung-yeon berkata kalau dia tetap tinggal. Mereka kabur bersama, jadi mereka harus melihat rencana ini berakhir bersama. Bagaimana mungkin Jin-soo meninggalkannya untuk menghadapi kemarahan Eun-young sendirian? Itu akan sangat tidak bertanggung jawab. Seung-yeon sudah berubah pikiran, dia meminta supir taksi untuk meneruskan perjalanan, dan mobil itu mulai bergerak… hanya saja sosok lain muncul untuk menghentikan mobil itu – Dong-woo. Dia baru saja bicara dengan pihak kantor dan mendengar Jin-soo kabur. Mereka pergi kemana? Dong-wook tidak bisa menerima sikap Seung-yeon dan naik ke dalam taksi dan memerintahkan supir untuk lanjut…

Hanya saja, kali ini ayah Seung-yeon yang melompat di depan mobil, meminta jawaban. Seung-yeon mencoba mengusir ayah tapi ayah menolak untuk melepaskannya pergi, dan berteriak keras dimana setelah itu sosok lain muncul – Seung-chul, adik Seung-yeon! Untuk menenangkan keluarga Seung-yeon, Jin-soo setuju untuk tinggal di tempat yang memungkinkan Seung-yeon untuk pulang setiap malam. Hal itu membatasi pilihan ke Seoul dan Jin-soo mengajak mereka ke sebuah hotel. Jin-soo menggerutu soal perubahan ini. Seung-yeon seharusnya keluar dari mobil selagi punya kesempatan. Seung-yeon protes – mereka adalah tim! Jin-soo mempermasalahkan itu dan menjelaskan apa itu artinya sebuah tim, mengatakan kalau mereka bukan pasangan yang cocok. Seung-yeon muncul dengan beberapa saran: “Don Quixote dan Sancho? Tom dan Jerry?”

Jin-soo kembali bekerja. Sedangkan Eun-young mempertahankan wajah tenang seorang professional meski ini membuatnya sakit kepala luar biasa, baik untuk tinggal personal dan bisnis. Dia melampiaskan beberapa frustasinya pada Hyun-joo, bertanya siapa orang jahatnya dalam situasi ini. Apa dia benar2 kejam? Apakah benar2 dia atau Jin-soo yang kelewat batas? Eun-young sekarang memikirkan workshop penulis yang gagal itu. Ji-won, di sisi lain, tiba di tempat Jin-soo dan membunyikan bel, berpura-pura sebagai deliveryman untuk membodohi Jin-soo agar membuka pintunya. Karena tidak ada jawaban, maka dia turun ke café, dimana dia bertanya keberadaan Eun-young dan Jin-soo.

Ini adalah kakek Eun-young. Kakek sadar akan sejarah buruk Eun-young dan Ji-won, dan kakek membuat Ji-won bekerja keras – berani2nya Ji-won kembali kesini dan mengganggu Eun-young? Tidakkah dia sadar? Ji-won membungkuk dengan penuh rasa hormat dan bicara dengan sopan, tapi dia terintimidasi oleh kakek. Ini adalah sesuatu yang sangat dihargai oleh Eun-young dan Eun-young setengah bercanda kalau kakek seharusnya tetap bersamanya agar Ji-won menjauh.

Seung-yeon mengendap-endap untuk menelpon Eun-young; Jin-soo telah menyuruh Seung-yeon untuk tidak menelpon, tapi dia merasa wajib setidaknya untuk memeriksa. Dia tidak mau memberitahu dimana Jin-soo berada, tapi menjamin Eun-young kalau mereka baik2 saja, dan bahwa dia pasti menelpon jika sesuatu terjadi. Jin-soo melihat Seung-yeon menelpon dan mengambil alih. Jin-soo bertanya apa Eun-young sedang berusaha menangani akibat dari kepergiaannya, karena ini adalah keahlian Eun-young. Eun-young berkata kalau dia sangat pintar membersihkan sampah Jin-soo dan kali ini Jin-soo telah meninggalkan banyak hal: “Jika bukumu yang berikutnya tidak sukses besara, aku yakin aku akan sangat kesal.”

Jin-soo menjawab, “Ya, karena itulah aku bekerja sangat keras.” Eun-young membalas kalau bekerja keras tidak cukup – Jin-soo sebaiknya menyingkir. Kali ini ‘kesuksesan biasa’ tidak akan cukup untuk membayar kelakuannya. Kemarahan mereka pada satu sama lain, muncul dalam kata2 mereka yang padat. Kelakukan Jin-soo kali ini sudah menguji pertemanan mereka. Eun-young bicara banyak dengan mengatakan kalau Jin-soo sudah melewati ‘Garis Maginot’ – yang artinya, Jin-soo berbuat terlalu jauh untuk melakukan pelariannya ini.

Akan tetapi, Eun-young bukan satu2nya yang merasa bersalah, Jin-soo juga merasakan sakitnya sendiri dan kalimatnya yang selanjutnya menunjukkannya: “Berapa banyak uang lagi yang harus aku dapat untuk memuaskan ambisimu?” Jin-soo berkata kalau sepertinya Eun-young lebih rakus daripada dulu, yang tidak hanya melukai Eun-young tapi membuatnya marah. Jin-soo berkata, “Berapa banyak popularitas lagi yang harus aku dapatkan untukmu agar kau puas? Aku bertanya karena sepertinya tidak ada akhirnya. Aku bukan persediaan yang tiada akhir. Tidak peduli seberapa banyak aku menulis naskah, kau akan selalu ingin lebih.”

Eun-young menjawab, “Jika kau berhenti menulis, maukah kau menghilang? Apa yang akan kau lakukan jika kau tidak bekerja? Apa kau akan bersembunyi di suatu tempat dan minum obat? Dan jika kau lelah pada hal itu, kau akan menyebutnya perhentian?” Eun-young menyebut kelakuan Jin-soo lebih buruk ketimbang menjadi lintah darat – dia memperlakukan segalanya seperti lelucon, seolah-olah tidak ada yang penting. Eun-young berkata, “Kau bilang aku sudah berubah? Yah, orang2 berubah, bajingan! Aku pikir kau mungkin sudah mengembangkan rasa tanggung jawab setelah menjadi terkenal, tapi kenapa kau tidak berubah? Kau mencoba untuk membuat sekretarismu untuk menjadi professional? Dia lebih professional daripada dirimu! Tidak peduli jebakan apa yang dibuat bos-nya untuknya, dia menurut dan dia peduli pada orang2 di sekitarnya. Apa masalahnya menjadi professional? – seseorang perlu ketulusan! Dia lebih baik darimu – siapa yang diajari sekarang?”

Eun-young memperingatkan Jin-soo untuk menyelesaikan naskah itu dalam sebulan, kalau tidak maka dia tidak bisa memaafkan Jin-soo. Eun-young mengendalikan emosinya dan kembali untuk bergabung dengan kakek, yang tentu saja sudah mendengarkan keseluruhan percakapan. Eun-young menjelaskan kalau Jin-soo kabur, dan kakek bertanya kenapa. Tanpa mengasihani diri sendiri, Eun-young menjawab dengan jujur. Senyum dan nada bicaranya berlawanan dengan apa yang dia katakan: “Karena dia sangat membenciku. Dia bilang aku lintah darat.” Meski begitu, dia tidak dapat menahan air matanya, yang benar2 membuatnya malu. Eun-young permisi, melewati Dong-wook yang melihat air mata Eun-young.

Dong-wook terus menjadi orang yang mengagumkan, khususnya ketika Seung-yeon menelpon untuk meminta beberapa kopi special dari café untuk Jin-soo. Seung-yeon tidak bisa mengambil kopi itu sendiri (itu akan menyadarkan yang lain tentang keberadaan Jin-soo di Seoul) dan meminta Dong-wook untuk mengantarkannya sendiri ke kedai kopi ayahnya, berjanji untuk mentraktir Dong-wook nanti sebagai ganti kebaikannya. Dengan cepat, Dong-wook menjawab, “Sebuah film!” Perlu waktu beberapa saat bagi Seung-yeon untuk memahami kalau Dong-wook ingin menonton film dengannya, yang disetujui oleh Seung-yeon. Dong-wook langsung bertanya lagi, “Kapan?”

Ini sedikit aneh, tapi Seung-yeon terus lanjut; dia merasa dia harus mengambil kopi itu terlebih dahulu, dan Dong-wook kembali berkata, “Malam ini.” Dong-wook juga memberitahu Seung-yeon kalau dia melihat Eun-young menangis, jadi Seung-yeon memarahi Jin-soo karena kelakuannya: “Untuk membuatmu nyaman, semua orang terjebak dalam posisi yang buruk.” Dia juga mengatakan kalau interview itu tidak akan membunuh Jin-soo dan merasa bersalah karena menuruti perintah Jin-soo sekarang hingga dia memikirkan pertengkaran itu.

Jin-soo tetap memusatkan perhatiannya pada pekerjaannya ketika Seung-yeon bicara. Tapi meski mengabaikan Seung-yeon secara terang2an, kata2 Seung-yeon benar2 masuk ke otak Jin-soo. Malam itu, Jin-soo meninggalkan hotel menuju ke kantor penerbit. Ketika Eun-young mengantar kakeknya keluar dan mengucapkan selamat tinggal, kakek bertanya apakah Eun-young sedang berpacaran dengan Jin-soo. Eun-young menjawab kalau mereka hanya bertengkar soal uang, tapi kakek tidak sepenuhnya percaya. Kakek memperingatkan Eun-young kalau hal itu bisa mengarah ke hubungan yang lebih jauh nantinya.

Selagi menyusun file di kantornya, Eun-young menemukan setumpuk foto yang merupakan foto2 lamanya saat masih kuliah. Dia tersenyum ketika membolak-balik foto2 wisuda, tapi suasana hatinya jadi suram saat melihat foto yang menggambarkan dirinya dengan Ji-won sebagai pasangan kekasih. Dia merobek Ji-won dari foto itu, lalu tetap bertahan pada foto yang menggambarkan empat orang: Jin-soo, istrinya, Eun-young, dan Ji-won.

Eun-young juga merobek foto Ji-won dari kuartet itu, lalu melipat fotonya hingga terkesan kalau dia yang duduk di samping Jin-soo, ketimbang istrinya. Dia memperhatikan foto yang sudah dirubah itu dan tidak menyadari kedatangan Jin-soo di belakangnya. Jin-soo memanggil dari pintu, yang sangat mengagetkan Eun-young hingga dia membuang foto itu dengan gugup ke tempat sampah. Foto yang berubah itu mungkin akan menimbulkan percakapan yang aneh, jadi Eun-young menghalangi pandangan Jin-soo ke tempat sampah.

Tentu saja, sikap Eun-young itu malah membuat Jin-soo semakin penasaran dan melanjutkan mendekat, pada saat itu, Eun-young mendorongnnya. Berdasarkan reaksi Jin-soo, dia menyimpulkan kalau itu adalah foto telanjang, lalu harus menambahkan kalau dia sudah pernah melihat Eun-young telanjang. Hal itu membuat Jin-soo mendapatkan tendangan di tulang keringnya. Lalu, Eun-young bertanya kenapa Jin-soo disini. Jin-soo mengatakan kalau rumor telah beredar jika Eun-young menangis sehabis interview, jadi dia kesini untuk memastikan kalau penerbit tidak bangkrut. Eun-young menertawakan perkataan itu.

Eun-young: Kau tidak punya kekuatan apapun untuk mengendalikan hidupku.
Jin-soo: Itu benar.
Eun-young: Secara alami. Ngomong2, kau siapa?
Jin-soo: Baik untukmu.
Eun-young: Kau bahkan bukan siapa2.
Jin-soo: Tepat sekali.
Eun-young: Hmmph.
Jin-soo: Kalau begitu, ya begitu. Aku pergi.

Eun-young tidak dapat mencegah dirinya untuk menanyakan dimana Jin-soo tinggal. Jin-soo menjawab kalau dia baik2 saja, jadi Eun-young tidak perlu khawatir. Eun-young bertanya, “Apa yang mengkhawatirkan?” Jin-soo menjawab, “Itu yang aku katakan. Tentu saja, kau bukan satu2nya orang yang mengkhawatirkanku. Ini hanya karena sekretarisku terlalu melebih-lebihkan.” Seung-yeon menelpon Eun-young untuk memeriksa keadaan lau menarik kesadaran Jin-soo untuk datang kesini. Eun-young tidak ingin jaminan kalau Jin-soo baik2 saja, dan dia tidak akan mengaku kalau dia khawatir… sama seperti Jin-soo yang tidak ingin terlalu peduli untuk datang kesini dan menjamin Eun-young. Jadi Jin-soo bisa menyalahkan sekretarisnya.

Selagi Jin-soo pergi ke apartemennya untuk mengambil beberapa buku, Eun-young punya segelas anggur di kantornya. Dia bertanya-tanya apa yang harus dilakukan pada Jin-soo, yang selalu tertawa dan bercanda ‘tanpa satu kata yang tulus.’ Sebuah telpon dari Jin-won membuat Eun-young menengok keluar jendela, dimana Ji-won mengintip dengan minumannya. Ji-won menawarkan diri untuk bergabung dengan Eun-young, dan Eun-young lalu menutup telponnya dan jendelanya. Eun-young menelpon Seung-yeon untuk bertanya di hotel mana mereka tinggal. Seung-yeon berusaha terus bungkam, tidak ingin melawan permintaan Jin-soo, tapi setelah mendengar kalau Jin-soo datang untuk bicara dengannya, Seung-yeon melemah. Eun-young menuju hotel itu, yang artinya kantor Eun-young kosong. Beberapa saat kemudian, Ji-won tiba dengan sebotol minuman.

Jin-soo meninggalkan kantornya ketika suara aneh menarik perhatiannya, yang berasal dari kantor penerbit. Dia berjalan mendekat ke kantor Eun-young dan menemukan sumber suara itu: Ji-won yang mabuk melempar-lempar isi keranjang sampah sambil menangisi foto yang sudah rusak. Ji-won tidak percaya kalau Eun-young tega menghilangkannya dari ingatan, ketika Ji-won selalu menghargai kenangannya. Dia lalu beralih ke Jin-soo untuk menangkan diri, yang mengalihkan perhatiannya ke foto yang dipertanyakan. Salah satunya menarik perhatian Jin-soo: foto yang Eun-young lipat untuk membuat gambar mereka berdekatan. Jin-soo memandangi foto itu untuk beberapa saat.

Eun-young tidak di hotel sebelum Jin-soo kembali dan mengatakan pada Seung-yeon, “Kau lebih mampu dari yang aku duga, sebagai seorang sekretaris.” Memutuskan untuk menunggu, Eun-young melakukannya sambil minum anggur. Seung-yeon menolak untuk minum dan hanya duduk di samping Eun-young, sedangkan Eun-young hanyut dalam pikirannya yang bertambah semakin melankolis ketika dia tambah banyak minum. Eun-young bertanya apa Seung-yoen mengalami kesulitan bekerja dengan Jin-soo, mengakui kalau dia mengalami kesulitan. Seung-yeon setuju kalau memang sulit pada awalnya, tapi semakin lama, dia semakin terbiasa, “Dan sekarang aku bahkan bisa menemukan pola apa yang akan dia bilang selanjutnya.” Eun-young mendesah, “Mengesankan. Ini hanya bertambah sulit untukku. Kenapa begitu? Pasti ada masalah denganku.”

Ketika Jin-soo tiba, hari sudah malam dan Eun-young tidur di kamar setelah menghabiskan sebotol anggur. Jin-soo meminta Seung-yeon untuk pulang malam ini, dan menyelimuti Eun-young di tempat tidur. Dengan foto itu masih segar di pikirannya, Jin-soo memandangi Eun-young dengan tatapan kacau. Jin-soo begitu tersita pikirannya hingga dia menjatuhkan ketel-nya dan menjatuhkan kopi yang dia buat. Seung-yeon yang baru saja akan pergi, membersihkan kotoran itu tapi Jin-soo malah membentaknya.

Jin-soo lalu melembutkan suaranya dan bertanya apakah Seung-yeon akan pulang, seolah-olah Jin-soo akan menyarankan sesuatu. Akan tetapi, karena Seung-yeon punya rencana – dengan Dong-wook – maka dia menyuruh Seung-yeon pulang. Seung-yeon merasa kalau Jin-soo punya sesuatu di pikirannya dan menawarkan dirinya untuk membatalkan rencananya sebab dia lebih suka tinggal bersama Jin-soo. Jin-soo meminta Seung-yeon tidak membatalkan, tapi dia malah mengundang dirinya ke acara itu. Seung-yeon setuju. Dalam perjalanan dengan bus, Seung-yeon menyebutkan bagaimana Jin-soo melakukan kesan pertama yang mengesankan. Faktanya, Seung-yeon berpikir kalau Jin-soo lebih penyendiri semakin sedikit seseorang mengenalnya. Dia menjamin kalau itu bukan berarti jika dia tidak menyukai Jin-soo sekarang, hanya saja ada perbedaan besar dari kesan pertama itu.

Ketika bus menepi, Jin-soo bergerak untuk menyeimbangkan Seung-yeon, yang membuatnya kaget. Seung-yeon menjelaskan kalau aneh rasanya melihat Jin-soo begitu perhatian setelah cara biasa Jin-soo memperlakukannya, tapi Jin-soo menjawab kalau Seung-yeon bukan pegawainya sekarang; Jin-soo hanya mengacaukan Seung-yeon ketika dia menjadi pegawainya. Jin-soo menambahkan, “Nikmati saja ketika aku memperlakukanmu seperti wanita.” Dan. Ada tatapan marah di mata Dong-wook ketika dia melihat teman kencannya membawa kencan!

Seung-yeon tetap tidak sadar dan perlu waktu beberapa saat bagi Jin-soo untuk menyadarinya. Pada awalnya, Jin-soo hanya merasa Dong-wook diam membingungkan, contohnya ketika Seung-yeon tersandung di kegelapan dan Jin-soo menarik tangannya untuk menyeimbangkannya. Lalu Jin-soo mengikuti Seung-yeon dalam barisan, meninggalkan Dong-wook di belakang, dan Dong-wook lagi2 memandang Jin-soo dengan tatapan tidak suka. Akhirnya, Jin-soo mengerti dan menawari Dong-wook tempat duduk di samping Seung-yeon. Hanya saja, kursi itu milik orang lain jadi Seung-yeon meminta Jin-soo untuk duduk di sebelahnya. Mendapatkan tatapan kesal sekali lagi dari Dong-wook, Jin-soo merenung, “Aku datang untuk menonton satu film dan mungkin berakhir dengan ditikam.”

Ketika yang lainnya menikmati film-nya, pikiran Jin-soo berkelana dan mendarat di sebuah kenangan lama. Dalam sebuha kilas balik, dia dan Eun-young sedang tertawa dan bicara ketika tiba2 Ji-won muncul, membuatkan tempat bagi dirinya sendiri diantara mereka serta membuat Jin-soo tersingkir, memonopoli perhatian Eun-young. Setelah nonton, Seung-yeon menyarankan untuk makan es krim, tapi Jin-soo menangkap gelengan kepala tak nampak Dong-wook padanya. Jin-soo permisi pulang dan memanggil taksi, dan jelas sekali Seung-yeon kecewa dan Dong-wook lega.

Di hotel, Jin-soo menemukan Eun-young tertidur di tempat tidur. Atau pura-pura tidur sebab dia bergumam dengan gugup, “Itu terdengar seperti suara Lee Jin-soo. Apa itu kau?” Jin-soo duduk di samping Eun-young dan tanpa membuka matanya, Eun-young berkata kalau Jin-soo akan menyesal bila Jin-soo kehilangan dirinya juga.

Eun-young: Kau tidak bisa melakukan apapun tanpa aku, bajingan. Kau tidak punya ketulusan. Karena kau tidak punya maka tidak ada yang memperlakukanmu dengan tulus. Bukannya aku tidak rakus – kau yang membuatku begitu, kau tahu itu? Aku tidak bisa membiarkanmu pergi begitu saja dengan ini.
Jin-soo: Biarkan aku sedikit kendor. Jika kau tidak melakukannya, siapa yang akan melakukannya?
Eun-young: Aku lelah pada hal itu. Kau sudah habis. Hidup seperti itu akan berarti akhir dari dirimu.

Kata2 Eun-young berefek pada Jin-soo, yang menghabiskan malam itu dengan merenung. Dia terjaga sepanjang malam dan ketika matahari terbit, dia tetap terbangun masih di ruangan dimana Eun-young tidur. Ketika Eun-young bangun, dia melihat Jin-soo masih duduk di samping jendela, menatap jauh entah kemana.

Sinopsis Coffee House – Episode 6

Eun-young bangun dari mimpinya tentang kecelakaan yang membunuh istri Jin-soo dengan air mata di pipinya. Jin-soo masuk ke dalam ruangan dan melihatnya dan meski Eun-young mengatakan itu bukan apa2, Jin-soo tidak percaya meski dia tidak meminta penjelasan lagi. Para asisten (Hyun-joo dan Dong-min) bercanda soal situasi itu, membayangkan bagaimana lucunya bagi Jin-soo untuk datang ke Eun-young dalam keadaan seperti itu. Kalau orang lain, mungkin akan berakhir menjadi cerita romantis tapi bagi kedua orang ini, mungkin akan berakhir di pengadilan.

 

 

Seung-yeon bertanya tentang sejarah mereka, dan tahu kalau Eun-young berteman dengan istri Jin-soo yang sudah meninggal. Ini mengejutkan, sebab dia diberitahu kalau Jin-soo dan istrinya bercerai. Hyun-joo menjelaskan kalau wanita itu meninggal dalam sebuah kecelakaan tidak lama setelah mereka bercerai, yang membuat Dong-min bertanya, “Apakah itu pembunuhan?” Jin-soo tahu kalau Eun-young merasa sedih dan bertanya apa masalahnya. Eun-young menyediakan banyak alasan kenapa dia merasa tertekan – dia terluka, dia ada rapat yang dibatalkan, Jin-soo melihatnya telanjang – tapi sekali lagi Jin-soo merasa ada yang lebih dari itu.

 

 

Untuk menghibur, Jin-soo mengatakan pada Eun-young kalau dia benar: Eun-young memang punya figur yang mengagumkan. Eun-young membentak kalau Jin-soo bahkan tidak melihatnya, tapi Jin-soo menjawab, “Para pria bisa melihat apa yang berharga untuk dilihat dalah satu detik.” Jin-soo bahkan menawarkan untuk menggambarkan Eun-young sebuah gambar. Menjadi lebih serius untuk beberapa saat, Jin-soo mengatakan pada Eun-young kalau dia jadi tertekan bila melihat Eun-young tertekan, “Jadi berbahagialah.” Eun-young mengesampingkannya, meminta Jin-soo untuk menyingkirkan sikap manis itu. Jin-soo berkata, “Kau tahu aku tidak berpura-pura.”

 

 

Jin-soo punya banyak penelitian untuk dilakukan, dan dia bersiap-siap dengan sekretaris ‘kyak kyak’-nya – itu adalah suara yang Seung-yeon buat ketika dia menikmati hidupnya, yang Jin-soo tunjukkan pada Eun-young. Jin-soo mempraktekkan sikap dan mimic Eun-young dengan baik dan sangat mirip dengan yang biasanya dilakukan Seung-yeon. Begitu pulalah reaksi Seung-yeon ketika dia beroh-oh melihat kuda Andromeda Jin-soo. Setidaknya, itulah nama yang diberikan Seung-yeon; dan dia mengetahui dari pengurus kuda kalau nama kuda itu adalah Bok-soon. Suatu hari nanti, Seung-yeon akan belajar membedakan mana lelucon dan kebenaran, tapi bukan hari ini.

 

 

Seung-yeon kagum pada pemandangan sekitarnya dan betapa kerennya Jin-soo, tapi hari Seung-yeon tidak akan sekeren itu. Faktanya: Jin-soo menyuruh Seung-yeon bekerja memotret kotoran kuda. Tidak hanya satu jenis, tapi semua jenis, dari seluruh jenis kuda yang ada. Ketika dia selesai mengambil foto yang diminta, Seung-yeon akhirnya mampu melepaskan tisu yang dia gunakan untuk menyumbat hidungnya dan bicara pada Jin-soo. Saat Jin-soo menyerahkan sinopsisnya pada Seung-yeon, Seung-yeon kehilangan pegangan dan kertas itu terbang bersama angina ke tumpukan pupuk itu. Jin-soo mendesah kalau Seung-yeon tidak akan menjadi dirinya tanpa kekacauan seperti ini, lalu bertanya tajam, “Apa kau tidak tahu apa yang harus kau lakukan?” Seung-yeon kembali menggunakan tisu itu sebagai penyumbat hidung.

 

 

Dengan kecewa, Seung-yeon mulai mengambil kertas itu dari kotoran kuda itu, mencoba tetap berada sejauh mungkin. Yang artinya, ketika Seung-yeon menggapai kertas yang jauh, dia tersandung dan jatuh di atas tumpukan kotoran itu! Jin-soo tidak mau sekretarisnya penuh dengan kotoran kuda dan menawarkan diri untuk membantu membersihkan Seung-yeon. Jin-soo memegang pipa taman, membuat Seung-yeon menggeleng kepalanya dengan liar dengan campuran takut dan tidak mau. Dia bertanya, “K-kenapa? Apa yang akan kau lakukan?”

 

 

Jin-soo membiarkan Seung-yeon menerimanya, menyiram sekretarisnya dengan air dan menikmati setiap momennya. Ketika Seung-yeon berlari melewati jangkauan pipa itu, Jin-soo mengambil semangkuk air dan menyiram Seung-yeon dengan air itu. Seung-yeon membalas dengan pipa itu. Jin-soo kembali dan melempar seluruh buket ke arah Seung-yeon. Jadi Seung-yeon mengambil segenggam kotoran sapid an mengejar Jin-soo dengan itu. Beralih ke rumah sakit. Dengan kondisinya, Eun-young dipaksa menyerah dengan perhatian Ji-won saat dia datang untuk menjenguknya. Eun-young mencoba menarik tangannya sendiri tapi pegangan Ji-won kuat dan pergerakan Eun-young terbatas, jadi dia merinding selama Ji-won berpidato dan mencoba untuk mempercepat keberangkatan Ji-won.

 

 

Contohnya, ketika Ji-won memberitahu Eun-young kalau dia sedih saat Eun-young membela Jin-soo saat di gym tinju untuk mempertimbangkan melepaskan Eun-young pergi, Eun-young meledak, “Kalau begitu biarkan pergi!” Ji-won mengabaikan itu dan mencium tangan Eun-young, yang membuat Eun-young sekali lagi mencoba melepaskan tangannya, yang malah berakhir dengan sakit leher. Ji-won menikmati keuntungan untuk beberapa saat dan berkata kalau Eun-young tidak bisa kabur atau mengusirnya.

 

 

Sekarang Seung-yeon benar2 basah, Jin-soo menyarankan agar mereka membeli pakaian baru. Mereka berhenti di toko turis dan Seung-yeon mengambil T-shirt yang sangat normal, sedangkan Jin-soo mencoba meyakinkan Seung-yeon untuk mencoba kostum yang jelek. Seung-yeon menolak dan pergi untuk membayar bajunya, hanya saja mesin kartu kredit toko itu rusak. Seung-yeon tidak membawa uang tunai dan penjaga toko itu meminta teman Seung-yeon untuk membayarinya. Jin-soo menawarkan untuk membelikan baju buat Seung-yeon tapi kemudian Jin-soo melihat lagi baju konyolnya tadi. Jin-soo meminta Seung-yeon untuk berganti pakaian, menolak untuk membayarkan baju kecuali dia menyetujuinya.

 

 

Seung-yeon berubah menjadi bibi badut. Dengan Seung-yeon yang berdandan nyentrik seperti ini, Jin-soo bercanda kalau dia tidak akan kehilangan Seung-yeon sekarang. Seung-yeon bertanya apa selanjutnya di dalam jadwal, dan Jin-soo menolak memberitahu – bukan karena itu rahasia tapi jawabannya akan membuat Seung-yeon terganggu. Jadi saat Jin-soo memandang Seung-yeon untuk mengukur responnya, Seung-yeon menolak untuk memberikan kepuasan pada Jin-soo. Dia bertanya kenapa dan Seung-yeon menjawab kalau jawabannya akan mengganggul Jin-soo. Sebuah suara berdering membuat mereka berdua bingung, sebab keduanya tidak membawa hp ke Pulau Jeju. Suara itu ternyata berasal dari kantong Jin-soo, ternyata itu adalah hp yang diselipkan Eun-young, untuk tetap berkomunikasi ketika Jin-soo sedang bekerja.

 

 

Selagi Jin-soo bicara dengan Eun-young, Seung-yeon melihat seseorang tiba – Ji-won! – dan dengan cepat memperingatkan Jin-soo. Apapun alasan Ji-won ada disini, pasti tidak bagus. Mereka bersembunyi di pojok toko souvenir, bersembunyi di ruang pas ketika Ji-won melihat-lihat. Es krim Seung-yeon meleleh ke jaket Jin-soo dan Jin-soo membalas dendam dengan menyebarkan es krim itu ke wajah Seung-yeon. Benar2 gaya Jin-soo!!!

 

 

Tepat saat Ji-won berbalik untuk pergi, hp yang diselipkan tadi berdering, yang menarik perhatian Ji-won ke dua pasang kaki yang ada di ruang pas. Jin-soo mampu mematikan hp-nya tapi Ji-won menduga kalau sepasang kekasih semakin asik di balik tirai dan dia tidak tahan untuk mengintip ke ruangan itu untuk memeriksanya sendiri. Apa yang dia lihat lebih baik dari apa yang dia bayangkan sebab (1) dia menangkap Jin-soo dalam posisi yang menjanjikan, (2) ini memberinya gagasan kalau Jin-soo tertarik pada sekretarisnya, (3) yang artinya Jin-soo tidak akan mengejar Eun-young.

 

 

Seung-yeon melihat dari mobil saat Ji-won dan Jin-soo berbicara di tempat yang cukup jauh. Khawatir kalau perkelahian akan pecah, Seung-yeon mengumpulkan batu untuk mempersenjatai dirinya kalau2 dia perlu turun tangan untuk membantu Jin-soo. Jin-soo sendiri menduga kalau Ji-won ada disini untuk melakukan perkelahian yang lain, jadi dia kaget waktu mendengar Ji-won telah memutuskan untuk memaafkannya. Jin-soo bereakdi dengan jelas, ketika dia meminta Ji-won untuk tidak memaafkannya karena dia bersalah banyak pada Ji-won. Faktanya, dia mengerti jika Ji-won tidak pernah mau melihatnya lagi.

 

Pemberian maaf Ji-won datang dengan satu syarat – dia mengatakan pada Jin-soo untuk melupakan ketertarikan romantis pada Eun-young meski ini tidak penting karena Jin-soo telah mengarahkan ketertarikannya ke tempat lain. Ji-won menjelaskan keinginannya untuk membiarkan ini lenyap adalah karena mereka bertiga – tidak, berempat termasuk mantan istri Jin-soo – memiliki banyak sejarah bersama. Jin-soo kaget pada perkataan soal perasaan romantis antara dirinya dan Eun-young, tapi setelah mendengar yang keempat disebut, suasana hati Jin-soo menjadi muram.

 

 

Melihat percakapan itu dengan gugup, Seung-yeon hampir melepaskan senjatanya pada Ji-won, tapi senang ketika dia berjalan kembali ke mobil tanpa ada tanda2 kekerasan. Ji-won bertanya apa yang Seung-yeon lihat begitu menarik dari Jin-soo, lalu menebak kalau gadis muda itu lebih suka tipe yang paling gila. Ji-won memperingatkan Seung-yeon untuk tidak terlalu dekat, karena Seung-yeon akan berakhir dengan sakit hati. Seung-yeon tidak tahu apa yang Ji-won sindir dan merasa kalau perkataan Ji-won membingungkan.

 

Tapi pekerjaan Seung-yeon belum selesai: Jin-soo punya pesan untuk Ji-won, yang Seung-yeon diminta untuk mengirimnya. Ketika Seung-yeon mendengar apa pesannya, dia memaki dan meminta Jin-soo untuk mengatakannya sendiri. Jin-soo menjawab kalau dia mengatakannya, Ji-won akan membunuhnya. Hal ini adalah hal yang sama sekali tidak enak untuk diucapkan oleh Seung-yeon. Jadi dengan apresiasi tinggi, Seung-yeon mengetuk pintu mobil Ji-won dan mengulangi apa yang Jin-soo ucapkan. Seung-yeon berkata, “Jin-soo memintaku untuk mengatakannya seperti ini: Sunbae, aku tidak bisa memberitahumu sebelumnya, tapi jangan… bersikap seperti… seperti pecundang dihadapan Nona Seo (Eun-young). Benar2 memalukan untuk dilihat.”

 

Itu jelas mendapatkan perhatian Ji-won, dan itu belum semuanya. Seung-yeon menunduk ketika dia membawakan bagian terakhir dari perintah Jin-soo, dan mata Ji-won melebar waktu dia melihat gerakan tangan senonoh Seung-yeon. Setelah itu, Ji-won keluar dari mobilnya untuk mengejar Jin-soo yang kabur. Jin-soo tertawa puas saat dia menceritakan kisah itu pada Eun-young, tapi dia masih kesal dan bereaksi berbeda dengan Jin-soo. Kekecewaan Eun-young berbeda dari yang sebelumnya, sebab kelihatannya Eun-young cemburu pada betapa mudahnya Jin-soo akrab dengan sekretarisnya. Eun-young berkata kalau kelihatannya Jin-soo datang ke Pulau Jeju untuk bermain-main, yang dijawab oleh Jin-soo kalau pun itu tidak benar, “tapi sepertinya aku memang begitu, karena sekretarisku terus membuatku tertawa.”

 

 

Eun-young memohon pada Jin-soo tentang apakah Ji-won mengatakan sesuatu yang aneh dan kali ini Jin-soo tahu apa maksudnya. Akan tetapi, Jin-soo berpura-pura tidak tahu, dan meminta klarifikasi. Eun-young menyuruh Jin-soo pergi dengan berkata kalau Jin-soo perlu tidur dan Eun-young tidak ingin Jin-soo tinggal dengannya. Setelah Jin-soo pergi, Eun-young mendesah, membiarkannya terkubur – tidak seperti dia memancing Jin-soo untuk tetap tinggal, tapi dia ingin Jin-soo yang ingin tinggal.

 

 

Jin-soo kembali ke ruangan itu. Dia tidak melakukan pekerjaan besar, memilih untuk bersikap seperti ini bukanlah masalah besar dan bukan bentuk rasa peduli. Eun-young mengakui kalau manis rasanya bila Jin-soo menjaganya, menyebutkan kalau Jin-soo lemah pada dua hal: air mata dan sakit. Setengah bercanda, Eun-young mengatakan kalau dia seharusnya lebih awal, sebab dia belum pernah menerima sisi Jin-soo yang ini. Statemen tulus Eun-young hampir keluar dan Jin-soo membuat bagian percakapannya sembrono dengan mengatakan dengan menjadi sakit secara sengaja memang membuat Eun-young mendapatkan perhatiannya tapi menghilangkan daya tarik Eun-young, yaitu sikap cool-nya.

 

 

Sedangkan, Eun-young mengobrol dengan Hyun-joo, yang berkata kalau dia ingin punya klien terkenal seperti Jin-soo suatu hari nanti dan membangun perusahaan penerbitnya sendiri. Seung-yeon menganggap lelucon Hyun-joo serius tentang memburu Jin-soo sebagai klien, jadi Hyun-joo menjamin Seung-yeon kalau Jin-soo dan Eun-young akan tetap bekerja sama. Tidak hanya itu, kecuali Eun-young membebaskan Jin-soo lebih dulu, Jin-soo tidak akan pernah mengkhianati Eun-young dengan pergi begitu saja. Alasannya adalah:

 

Jin-soo punya sejarah mengadakan interview, pergi berbulan-bulan tanpa kenalan, lalu muncul tanpa diduga seolah-olah tidak terjadi apa2. Sebuah kilas balik menggambarkan skenario seperti itu. Penjelasan Hyun-joo masuk akal, tapi ternyata, bahkan ada alasan yang lebih dalan tentang ikatan mereka. Malam itu, Jin-soo tidur di sofa di ruangan Eun-young, sedangkan Eun-young memandangnya dengan murung. Mata Jin-soo terbuka, yang mengindikasikan kalau kilas balik berikutnya adalah milik Jin-soo, meski Eun-young juga berbagi pikiran itu.

 

 

Di masa lalu, Eun-young menggedor sebuah pintu dengan gila, tahu kalau Jin-soo sedang dalam masalah di dalam. Pegawai hotel membuka pintu untuk Eun-young, dan dia berhamburan masuk, melewati ruang tamu yang dipenuhi botol alkohol dan obat2an yang bertebaran. Di dalam kamar tidur, dia mendapati Jin-soo hampir tidak sadarkan diri, duduk di samping segelas air dan pil yang bertebaran lebih banyak lagi. Eun-young memohon agar Jin-soo bangun, menggoyangkannya dan menampar wajahnya, mencoba untuk mendapatkan respon. Kepala Jin-soo lunglai meski matanya terbuka dan dia sama sekali tidak bisa bereaksi.

 

 

Eun-young memegang kertas, mengatakan pada Jin-soo kalau ini adalah kontrak. Eun-young menghentakkan ibu jari Jin-soo untuk membuatnya sah dan bersikeras agar Jin-soo menandatangani kontraknya sekarang, yang artinya Jin-soo punya banyak pekerjaan di masa depan. Sambil terisak, Eun-young menampar Jin-soo lagi, meminta Jin-soo untuk menemukan keinginan untuk menulis lagi dan untuk itu tetap hidup – dan akhirnya Jin-soo mengangkat kepalanya dengan sedikit kehati-hatian dan dia pun menangis.

 

Dong-wook tahu kalau Seung-yeon sedang dalam perjalanan kerja, tapi dia tetap pergi ke café ayah Seung-yeon, penasaran ingin tahu apakah dia sudah kembali. Ini hari minggu jadi café itu tutup, seperti yang diinformasikan saudara Seung-yeon, Seung-chul. Dong-wook tetap tinggal dan bertanya apakah sesuatu ‘telah datang.’ Bingung akan kata2 yang dia tanyakan, dari Pulau Jeju… yang Seung-chul terjemahkan artinya sebagai jus. Atau mungkin jeruk? Apa lagi yang berasal dari Jeju? Dan ternyata Seung-chul berpikir kalau Dong-wook mungkin menanyakan kakaknya lalu memberikan senyum pada Dong-wook. Seung-chul pulang ke rumah untuk memberitahu info ini kepada ayah dan nenek yang takjub: noona mendapatkan prospektif pacar baru.

 

 

Jin-soo dan Seung-yeon diantar kembali ke Seoul oleh para pegawai, dan Jin-soo kaget mendengar bahwa Eun-young pergi pada pagi hari tanpa memberitahunya. Dia meminta Dong-min untuk menelpon Eun-young, yang dengan gampangnya Dong-min melakukan telpon bohongan dan melaporkan bahwa saluran Eun-young sedang sibuk pada saat ini. Ketika mobilnya menepi di bagian belakang café buku ketimbang di depan, Dong-min membuat alasan kalau sedang ada perbaikan.

 

 

Semua ini membuat Jin-soo berpikir kalau sesuatu yang aneh sedang terjadi, dan dia mencoba mencari tahu apa itu. Sayangnya, dia terlambat beberapa detik saja, sebab belum sampai Jin-soo membuka pintu depan, dia menyadari apa yang terjadi, dan terlalu terlambat untuk kabur. Eun-young telah merencanakan interview TV untuk Jin-soo, dan para kru TV itu sedang bersiap-siap dia tempat Jin-soo. Ketika Jin-soo berbalik untuk pergi, sekelompok pegawai yang merasa bersalah menghalangi jalannya.

 

Untuk itulah sulit meloloskan diri. Eun-young mengenalkan Jin-soo kepada sutradaranya, dan ketika Jin-soo memberikan tatapan sengit pada Eun-young, dia harus memberikan senyum ramah pada sang sutradara, lalu berkata dengan sopan, “Oh, jangan khawatir! Ini bukan apa2!” Jin-soo mengganti pakaiannya sebagai persiapan interview itu, dan setelahnya Eun-young mendekati dengan enggan, lupa pada kemarahan Jin-soo tapi ingin menenangkan semuanya. Eun-young berjanji kalau ini adalah hal terakhir yang dia paksa Jin-soo lakukan, dan mulai besok, Jin-soo bisa melakukan apa saja sesuai keinginannya. Ini adalah interview yang Jin-soo tolak sebelumnya, tapi yang Eun-young ingatkan kepada Jin-soo sebagai interview yang terpenting dan tidak dapat dihindari.

 

Jin-soo menebak kalau Eun-young telah merencanakan ini selagi dia duduk di sisi tempat tidur Eun-young di rumah sakit. Inilah kenapa Eun-young bersikeras ingin tinggal di Jeju sampai hari untuk interview-nya tiba, mencocokkan kepulangan Eun-young dengan jadwal interview untuk memastikan Jin-soo tidak pulang lebih awal. Eun-young telah mempersiapkan dirinya untuk reaksi Jin-soo, tapi dia merasakan sense Jin-soo terhadap pengkhianatan ini. Eun-young mencoba membela dirinya dengan mengatakan dia tidak menikmati ini, dan bertanya apakah mereka harus mengakhiri kontrak mereka setelah buku ini. Eun-young takut apa yang akan terjadi pada mereka jika mereka tetap seperti ini, yang mungkin akan mendaratkan mereka di pengadilan. Jin-soo berkata kalau Eun-young tidak perlu khawatir, karena Eun-young akan menang dan dia akan bangkrut.

 

 

Itu agak kejam dan Eun-young mengatakan pada Jin-soo dia bukan orang yang hanya akan menang di pengadilan. Jin-soo bertanya, jelas tidak percaya pada Eun-young, “Benarkah?” Eun-young berkata, “Benar.” Jin-soo bertanya dengan tajam lagi, “Benarkah?” Eun-young mulai menyerah dan berkata, “Jika kau benar2 tidak menyukainya…” Tapi kedatangan tim make up dan staff pendukung menggangu mereka, dan mereka mulai menyulap Jin-soo. Seung-yeon juga ada disana dan Jin-soo melakukan usaha terakhir untuk mengendalikan keadaan. Dia memberikan tatapan pada Seung-yeon – bukan sembarang tatapan, tapi tatapan penuh arti, seolah-olah Jin-soo ingin Seung-yeon membaca pikirannya untuk menangkap idenya yang tak terucapkan.

 

 

Jin-soo memperkenalkan Seung-yeon ke yang lainnya dan memberikannya pesan kode yang terdengar tidak berbahaya bagi pendengar biasa tapi menekankan artinya. Jin-soo berkata, “Kau sudah bekerja padaku selama tiga bulan sekarang, benar kan? Itu artinya kau harus mampu menebak apa yang aku maksud sekarang.” Tapi Jin-soo mengkombinasikannya dengan gerak matanya dan menekankan beberapa kata, Jin-soo memastikan bahwa Seung-yeon tahu dia sedang mengiriminya pesan. Seperti berkata, “Kau seharusnya tahu apa yang ingin aku lakukan.”

 

 

Setelah membisikkan kata2nya di pikiran Seung-yeon, Seung-yeon mengerti dan mulai bekerja. Dia berkeliaran di area kantor dengan santai, jadi tidak menarik perhatian yang tidak perlu, selagi Seung-yeon menarik barang2 Jin-soo. Sebuah pandangan keluar jendela memetakan rute keluarnya, dan dia berjalan perlahan ke rak buku untuk menghalangi pintu belakang, memindahkannya agar muat dengan satu orang. Seung-yeon membuka pintu dan membiarkannya terbuka sedikit.

 

 

Demikianlah saat Jin-soo keluar untuk melakukan interview, dia melihat kalau seung-yeon telah membangun rute pelariannya dan dengan santai berjalan ke belakang rak buku. Persiapan Seung-yeon memberikan keuntungan beberapa detik untuk Jin-soo dan dia bergerak menuruni tangga lalu keluar di jalan belakang, dimana Seung-yeon sedang menunggu dengan sebuah taksi. Para pegawai mengejar Jin-soo keluar apartemen, lalu ke jalanan dan benar2 kehilangan Jin-soo ketika taksi sudah melaju kencang.

 

 

Sebagai tambahan rasa putus asanya, Eun-young mengatakan kalau Jin-soo bersama Seung-yeon – seperti pelajaran Eun-young sudah tenggelam dan sekretaris itu telah menyatukan kesetiaannya kepada Jin-soo melalui Eun-young. Di dalam mobi, Seung-yeon bangga pada dirinya karena mengerti pesan Jin-soo dan mengusahakan pelarian ini dengan sukses. Di atas semua itu, dia berusaha mengemas barang2 dan keperluan Jin-soo.

 

 

Seung-yeon menjelaskan kalau dia khawatir akan menyalahartikan keinginan Jin-soo atau Jin-soo mengambil rute lain, tapi berhenti di tengah kalimat ketika Jin-soo menggapai untuk mengacak-acak rambut Seung-yeon dengan antusias, senang pada perubahan suasana ini.

 

 

 

 

 

 

Sinopsis Coffee House – Episode 5

Eun-young melihat keluar dari jendelanya, kaget menemukan Ji-won melotot padanya dari sisinya. Setelah mengetahui bahwa Eun-young dan Jin-soo sudah mempermainkannya seperti orang bodoh, dia sama sekali tidak senang karena sudah dikerjai habis2an, dan membanting jendelanya hingga tertutup. Eun-young sebenarnya marah karena Ji-won menutup jendelanya lebih dulu, sebab dia punya lebih banyak alasan untuk marah padanya ketimbang Ji-won kepadanya.

 

 

Di studio penulis, Seung-yeon dengan enggan mencoba menghentikan pembangunan domino Jin-soo. Seperti remaja yang mencoba mencuri tidur beberapa menit sebelum sekolah, Jin-soo memperpanjang deadline-nya lagi dan lagi – dia berjanji akan berhenti dengan domino itu pada siang hari, dan sekarang sudah lewat – dan Seung-yeon mengingatkan Jin-soo kalau hal yang dilakukan orang professional adalah menetapi janjinya. Tapi Jin-soo tidak memiliki itu semua dan satu2nya janji Jin-soo adalah dengan pihak penerbit.

 

 

Eun-young menelpon Seung-yeon dan menebak kalau Jin-soo kembali ke domino-nya. Menjamin bahwa dia akan bertanggung jawab, Eun-young meminta Seung-yeon untuk mencampuri urusan domino itu, dan, meski berlawanan dengan keinginannya, Seung-yeon melakukannya. Hal ini mendapatkan omelan kejam dari Jin-soo, yang menolak menerima telpon Eun-young dan melempar telpon itu. Di bawah, manajer Dong-wook telah mendengarkan akhir percakapan Eun-young dan khawatir apa artinya ini untuk Seung-yeon – tidakkah Jin-soo akan sangat marah padanya? Yang membuat Dong-woo kaget, Eun-young mengatakan kalau Jin-soo pasti kesal – Seung-yeon seharusnya menunjukkan kesetiaan pada bos-nya bukan kepada Eun-young.

 

 

Itulah yang terjadi pada Jin-soo dan berteriak pada Seung-yeon karena Seung-yeon tidak menyedarai pihak mana yang seharusnya dia pilih. Sambil memegang beberapa panah, Jin-soo berkata kalau salah satu dari mereka mengenai sisi hitam papan, maka Seung-yeon dipecat. Karena tidak mengharapkan hukuman yang mengerikan seperti ini, Seung-yeon hanya melihat dengan ngeri ketika Jin-soo melempar empat anak panah dengan ketepatan yang akurat. Putih – putih – putih – garis! Jin-soo memegang panah yang terakhir dan bertanya siapa yang akan Seung-yeon dengarkan, Jin-soo atau Eun-young? Seung-yeon berjanji akan mendengarkan Jin-soo, tapi Jin-soo berkata, “Sudah terlambat. Kau seharusnya tahu itu sejak awal.” Lalu melemparkan panah yang terakhir. Hitam.

 

 

Seung-yeon tidak dapat berkata apa-apa. Jin-soo menduga kalau Seung-yeon berharap semua ini adalah lelucon, lalu menjelaskan bahwa ini bukan lelucon dengan berkata, “Kemasi barang2mu!” Eun-young tiba untuk meminta Jin-soo berkonsentrasi pada naskahnya dan kaget mendengar kalau Jin-soo baru saja memecat sekretarisnya. Sekarang Eun-young merasa bersalah karena bagiannya dalam skenario itu, dan meminta Jin-soo untuk memikirkan ulang. Jin-soo menjawab kalau Eun-young merasa bersalah, dia bisa memberikan pekerjaan pada Seung-yeon. Melihat kalau Jin-soo tidak akan mengubah pikirannya, Seung-yeon mengemasi barang2nya dan mengucapkan selamat tinggal yang muram. Jin-soo bersikap tidak peduli pada kepergian Seung-yeon hingga Seung-yeon berusaha menahan tangisnya.

 

 

Akan tetapi, Eun-young kenal baik Jin-soo dan menebak kalau Jin-soo hanya menjadi seperti ini untuk memberikan pelajaran pada Seung-yeon dengan cara yang kejam. Jin-soo berkata kalau Seung-yeon terlalu bodoh hingga dia harus menjelaskan maksudnya benar2 jelas agar Seung-yeon mengerti untuk tidak melakukan ini lagi. Sekarang ancaman pemecatan yang sebenarnya sudah pergi, Eun-young bertanya-tanya kenapa Jin-soo tidak benar2 memecat Seung-yeon, karena dia toh tidak terlalu berguna. Jin-soo menjawab kalau lebih baik Seung-yeon ada disini ketimbang tidak.

 

Untuk memperjelas maksud Jin-soo tentang lebih memilih Seung-yeon disini, Jin-soo melihat pensilnya dengan kagum. Dia berpikir kalau itu adalah pensilnya, tapi ini adalah pensil yang Seung-yeon tajamkan. Inilah maksud Jin-soo – Seung-yeon punya kebiasaan mengeluarkan satu hal solid saat kau tidak mengharapkannya. Jin-soo sudah berencana untuk membiarkan Seung-yeon merana untuk beberapa hari, tapi sekarang dia menggapai telponnya sebelum mundur lagi. Dia akan menunggu 24 jam untuk memastikan pelajarannya benar2 meresap.

 

 

Saat Seung-yeon melangkah lemas, Ji-won yang ada di dalam mobilnya menepi di dekatnya. Setelah mendengar kalau Seung-yeon dipecat, Ji-won berjanji akan bicara pada Jin-soo soal itu, dan untuk itulah mereka sekarang berada di depan pintu Jin-soo bersama-sama. Jin-soo membuka pintunya dengan senyuman, berharap hanya melihat Seung-yeon, sebelum Ji-won menarik keras pintu hingga terbuka, dan membuat kehadirannya diketahui. Ji-won menarik kaos Jin-soo dan mengutukanya karena semua leluconnya. Dia menantang Jin-soo untuk bertinju.

 

Jin-soo sama sekali tidak mengharapkan ini sebab dia tahu kalau Ji-won adalah petinju amatir di masanya dulu. Jin-soo berkata pada Seung-yeon kalau ini pasti balas dendam Seung-yeon karena sudah memecatnya. Seung-yeon protes dengan berkata kalau Ji-won berjanji akan membicarakan semuanya dengan Jin-soo demi kepentingan Seung-yeon. Jin-soo menjawab kalau dia sudah mengatakan dengan jelas kalau dia tidak menganggap Ji-won sebagai teman.

 

 

Ji-won melakukan pemanasan dengan bersemangat, tidak sabar ingin balas dendam, sedangkan Jin-soo menyeret kakinya dengan lemas sebab dia tahu dia pasti kalah dan dengan enggan bergabung dengan Ji-won di atas ring. Ji-won memperingatkan Jin-soo kalau Jin-soo sebaiknya tidak mengkhawatirkan soal menang tapi sebaiknya memikirkan nyawanya saja. Jin-soo melakukan yang terbaik demi dirinya sendiri, dan meski dia sukses melayangkan beberapa pukulan, dia malah berakhir mendapatkan banyak pukulan. Karena sangat panik, Seung-yeon menelpon Eun-young untuk menghentikan semua ini.

 

 

Setelah memukul Jin-soo dengan serangan yang ringan, Ji-won mendaratkan pukulan pamungkas yang membuat Jin-soo melayang di udara dan jatuh di matras dengan suara keras. Ji-won belum selesai dan masih punya banyak serangan tapi Jin-soo masih berbaring di atas matras, dingin, jadi Ji-won meninggalkannya dengan peringatan agar Jin-soo tidak mengganggunya dan Eun-young lagi. Seung-yeon bergegas ke sisi Jin-soo dan dikuasai oleh kepanikan lalu mencoba membangunkan Jin-soo, berusaha dengan membuat semacam tekanan di dada. Ketika tidak berhasil, Seung-yeon bergerak untuk melakukan CPR. Tapi Jin-soo sebenarnya hanya berpura-pura pingsan saja jadi Seung-yeon sebenarnya tidak perlu melakukan itu. Jin-soo mendorong Seung-yeon dan mulai bergumam kesal – apa yang Seung-yeon pikir sedang dilakukannya?

 

Dalam perjalanannya keluar di koridor, Ji-won mendengar Jin-soo berteriak dan sadar kalau dia sudah dibohongi lagi. Bertambah marah, Ji-won kembali untuk melanjutkan pertandingan. Usaha Jin-soo untuk lari sebelum Ji-won memojokkannya di ring sangat lucu. Jin-soo tidak bisa lari lagi jadi dia terpaksa menjalani ronde ke 2, yang sama buruknya bagi Jin-soo dengan yang pertama. Eun-young datang dan menyuruh mereka berdua untuk berhenti. Dia menarik seutas tali untuk menarik JI-won dari Jin-soo dan berteriak pada kedua pria itu untuk berhenti. Eun-young menghadapi Ji-won dengan marah dan berkata kalau dia tidak dewasa – dia seharusnya membicarakan ini dengannya bukan berkelahi dengan Jin-soo.

 

 

Ketika mereka berjalan pulang ke rumah, Jin-soo mengomeli Seung-yeon karena ketidakmampuannya membedakan mana pingsan yang nyata dan mana yang bohongan. Untuk membela diri, Seung-yeon mengatakan kalau dia tidak berpikir Jin-soo akan berbohong tentang hal yang seperti ini. Bukankah para pria biasanya mengeluarkan performa terbaik untuk menang? Jin-soo bahkan tidak mencoba untuk menang, dan hingga akhir pertandingan, Jin-soo hanya menahan serangan2 Ji-won.

 

Jin-soo menjawab kalau Seung-yeon salah mengerti tentang apa yang perlu dilakukan seorang yang professional. Orang professional tidak perlu mengerahkan tenaganya untuk segala hal – menjadi professional berarti kau memfokuskan tenagamu dimana mereka paling diperlukan. Jika kau mencoba segala hal dengan setengah2, apa yang bisa kau selesaikan? Dia Jin-soo juga bergumam, bagamana dengan CPR tadi? Apa Seung-yeon berpikir kalau hal itu hanya dilakukan di setiap keadaan gawat? Jelas Seung-yeon terlalu banyak nonton drama.

 

 

Ingat kalau dia sudah meninggalkan sweater-nya di gym, Jin-soo mengirim Seung-yeon untuk mengambilnya, dimana dia secara tidak sengaja mendengar pertengkaran antara Eun-young dan Ji-won. Eun-young memuntahkan amarahnya pada Ji-won karena melakukan pertandingan itu, karena meskipun mereka benar2 mempermainkan Ji-won, dia tidak punya hal untuk semarah ini. Eun-young meminta Ji-won untuk melanjutkan hidupnya. Akan tetapi, Ji-won merasakan sesuatu yang lebih dari keadaan ini, dan bertanya apa hubungan Eun-young dengan Jin-soo – apa yang terjadi dan apa yang terjadi ketika dia pergi untuk membuat mereka kembali bersama? Kenapa Jin-soo mau menolong Eun-young?

 

Eun-young sama sekali tidak punya gagasan untuk menjawab pertanyaan2 itu dan berkata kalau Jn-soo mungkin hanya merasa bersalah atas keadaannya? Tapi Ji-won adalah orang yang sangat mudah curiga dan tajam dan tidak menerima penjelasan singkat itu. Dia yakin kalau Jin-soo pasti menyukai Eun-young – lalu melihat dengan lekat reaksi Eun-young dan bertanya apa dia juga menyukai Jin-soo. Kalimat Ji-won berikutnya penuh dengan ancaman saat dia mengatakan kalau hubungan diantara Jin-soo dan Eun-young tidak boleh terjadi dan Eun-young seharusnya tahu itu.

 

Ketika Eun-young meninggalkan ruangan, dia melihat Seung-yeon berdiri di koridor, dan berjalan dengan malu karena ada yang menyaksikan percakapan itu. Seung-yeon kembali ke kantor dengan sweater dan bertanya kenapa Jin-soo memilih menganggu Ji-won. Kelihatannya Jin-soo melakukan itu tidak murni karena dia tidak menyukai Ji-won, tapi Jin-soo menjawab pendek kalau semuanya memang seperti itu. Jin-soo meminta es dan tidak sampai Seung-yeon sibuk mempersiapkan itu bahwa dia menyadari kalau dia sudah dipecat hari ini. Dalam segala kesibukan itu, mereka kembali menjadi pegawai dan bos. Tapi sekarang Seung-yeon ingat kebenarannya. Seung-yeon mengingatkan Jin-soo semua ini dan dengan suasana kecewa Seung-yeon mulai meninggalkan kantor.

 

 

Jin-soo menghentikan kepergian Seung-yeon dengan pertanyaan sederhana: Bagaimana Seung-yeon menajamkan pensilnya? Hal ini menimbulkan senyuman kegembiraan di wajah Seung-yeon – kalau begitu dia sudah sukses? Seung-yeon gembira mendengar berita ini, dan mengatakan pada Jin-soo kalau dia menggunakan mikroskop untuk memeriksa pensil itu. Soalnya Jin-soo mengatakan padanya kalau penajamkan pensil bukanlah hal yang bisa dilakukan sembarangan. Jin-soo terkesan – dia tidak pernah berpikir kalau akan ada orang yang menggunakan mikroskop.

 

Eun-young mampir untuk minta maaf pada Jin-soo. Dia menjamin kalau dia akan menangani Ji-won lalu bertanya apa Ji-won mengatakan sesuatu padanya. Eun-young sangat ingin tahu apa Ji-won membagi opininya dengan Jin-soo tentang mereka yang menyukai satu sama lain. Melihat kalau Jin-soo tidak mengerti apa yang Eun-young maksud, Eun-young memintanya untuk melupakannya saja, berkata kalau Ji-won sudah banyak mengatakan hal2 tidak masuk akal. Eun-young mengatakan pada Jin-soo untuk mengabaikan apapun yang Ji-won katakan. Malam itu, Seung-yeon membaca soal CPR, dan kaget setelah tahu kalau CPR tidak cocok untuk semua keadaan darurat.

 

 

Eun-young menelpon untuk meminta bantuan, yang langsung ditolak oleh Seung-yeon, berpikir kalau dia akan diminta untuk melakukan hal yang tidak diinginkan Jin-soo. Dia benar2 memperlajari pelajaran itu. Tapi permintaan Eun-young adalah Seung-yeon berpura-pura kalau dia tidak pernah mendengarkan percakapan antara dirinya dan Ji-won, sebab Eun-young tidak ingin gossip menyebar diantara para pegawai. Bagusnya, Seung-yeon tidak cepat berpikir kesana, karena dia tidak terlalu memikirkan hal tersebut dan meyakinkan Eun-young kalau dia punya niat untuk menyebarkan gossip.

 

 

Dong-wook masuk ke Café ayah Seung-yeon malam itu, dan kehadirannya yang tidak terduga membuat Seung-yeon kaget – khususnya cara berpakaian Dong-wook. Berlawanan dengan penampilannya yang biasa, Dong-wook kali ini lebih terlihat konyol. Sebenarnya dia mirip sekali dengan Seung-yeon. Bahkan, Seung-yeon sendiri menyadari kemiripan mereka dengan menunjuk pakaian Dong-wook. Dong-woo berkata kalau dia kebetulan berada di sekitar sini. Padahal sebenarnya dia disini untuk memeriksa Seung-yeon setelah kejadian tadi di kantor.

 

 

Tapi Seung-yeon menerima jawaban Dong-wook dan menangani pesanannya. Seung-yeon grogi memberikan kopinya ke spesialistnya, tapi Dong-woo mengesap kopinya dan menutupi seringainya serta mengatakan kalau kopi itu enak sebenarnya. Ketika Seung-yeon berkomentar betapa Dong-woo beda sekali sekarang, Dong-woo menjelaskan kalau di Café dia merasa wajib untuk menampilkan imej tertentu. Itu jga kenapa dia tidak bicara terlalu banyak – dia sadar pada aksen-nya yang berbeda, yang dianggap tidak keren, jadi dia memilih untuk menjadi pendiam. Seung-yeon tertawa pada penemuan ini dan berkata kalau Dong-woo sebenarnya banyak bicara.

 

 

Selagi Seung-yeon mengantar Dong-woo keluar, ayah Seung-yeon menjawab hp-nya yang berdering, yang ternyata telpon dari Jin-soo. Ayah sudah minum cukup banyak jadi mood-nya berubah cepat sekali. Awalnya dia ramah dan ceria tapi lama kelamaan dia berubah menjadi sedih saat menceritakan bagaimana dia mengkhawatirkan Seung-yeon yang malang, yang sangat terluka setelah kematian ibunya. Jin-soo merasakan bersimpati saat mendengarkan meski dia tidak mengatakan apapun.

 

Saat Seung-yeon kembali dia menemukan pesan untuknya. Jin-soo memerintahkan agar Seung-yeon datang ke bandara dengan pakaian pantas dan dia hanya punya waktu satu setengah jam sebelum pesawat berangkat. Ketika Seung-yeon menemukan Jin-soo di bandara, Jin-soo melihat pakaian Seung-yeon dengan kecewa – apa Seung-yeon tidak mengerti pesannya kalau dia harus berdandan? Seung-yeon menjawab kalau ini adalah pakaian paling pantas yang dia punya – sampai Jin-soo menjawab kalau mereka akan pergi ke pemakaman.

 

 

Mereka terbang ke lokasi pemakaman di Pulau Jeju, tapi karena pakaian Seung-yeon yang pink cerah akan dianggap tidak menghormati, maka dia tidak bisa ikut dengan Jin-soo. Sayangnya, Seung-yeon telah melupakan hp-nya karena terburu-buru, tapi Jin-soo berkata kalau acaranya hanya setengah jam dan memerintahkan Seung-yeon untuk menunggunya di luar. Ini adalah kewajiban professional bagi Jin-soo, yang juga dihadiri oleh anggota perusahaan penerbit. Eun-young memberitahunya beberapa penerbit besar menunggu untuk bicara dengannya dan mengajak Jin-soo berkeliling untuk memberikan salam. Jin-soo menuduh Eun-young membuatkan banyak pertemuan untuk menjebaknya; Eun-young menjawab kalau dia harus mengambil keuntungan dari keadaan ini, sebab Jin-soo tidak bisa menunda pertemuan seperti yang mungkin dia lakukan di kesempatan lain.

 

 

Pertemuan itu memerlukan waktu yang lebih lama dari yang diharapkan dan salah satu kenalan mereka menyarankan agar mereka pergi ke tempat yang lebih tenang untuk melanjutkan perbincangan mereka. Pria itu akan terbang ke Jepang pada pagi harinya jadi dia ingin memanfaatkan kesempatan ini selagi dia bisa. Jadi mereka menuju ke rumah liburan pria itu untuk menghabiskan malam, dan belum sampai di mobil Jin-soo ingat bahwa dia telah melupakan sekretarisnya. Dia meminta supir untuk kembali dan menjemput Seung-yeon, tapi Eun-young bersikeras bahwa mereka tidak boleh membiarkan pria itu menunggu. Supir berjanji akan menjemput Seung-yeon tepat setelah mereka sampai disana.

 

 

Saat mereka sampai di rumah itu, Jin-soo duduk di dekat telpon untuk menunggu telpon dari supir setelah dia menjemput Seung-yeon – sekarang jam 2 pagi dan Jin-soo khawatir karena sudah meninggalkan Seung-yeon disana. Eun-young tidak terlalu dan bercanda kalau Seung-yeon bisa berubah menjadi sumber ketidaknyamanan. Sampai saat ini, Eun-young telah memperlakukan Seung-yeon dengan ramah dan selagi dia tidak kejam, candaannya kadang2 kejam. Dia menyebut Seung-yeon gadis dalam kekacauan.

 

Jin-soo menanggapi suasana yang tidak adil itu dan bertanya apakah gadis dalam bencana melakukan sesuatu pada Eun-young sehingga Eun-young berkata seperti itu. Eun-young hanya berkata kalau itu rasa sakit dan menuju kamarnya untuk istirahat. Tapi karma itu cepat sekali berjalan. Setelah melepaskan pakaiannya, Eun-young berjalan telanjang kaki ke kamar mandi dan terpeleset di lantai hingga jatuh cukup keras ke lantai. Akibatnya Eun-young tidak dapat bergerak dan membuat seluruh tubuhnya sakit, khususnya lehernya.

 

 

Untungnya, Eun-young memegang hp-nya, tapi dalam posisi yang memalukan seperti ini dia sama sekali tidak ingin meminta tolong. Eun-young menelpon pegawainya, Hyun-joo, sebab tidak memalukan bila meminta bantuan wanita lain. Tapi Hyun-joo masih ada di mobil dengan supir, dan sedang dalam perjalanan menjemput Seung-yeon. Mereka terbagi dalam dua tugas tapi memutuskan kalau orang yang terluka lebih penting dari orang yang menunggu lalu memutuskan kalau mereka harus kembali ke rumah itu. Tapi kemudian mereka ingat kalau Jin-soo ada disana, jadi Hyun-joo lantas menelpon Jin-soo untuk memintanya memeriksa Eun-young yang mungkin perlu bantuan medis.

 

 

Ketika Jin-soo membuka pintu, dia dan Eun-young sangat kaget dan malu. Dengan wajah memerah, Jin-soo langsung keluar dan bicara lewat pintu. Sedangkan, Eun-young sedang dalam percakapan dengan teman dokternya tentang langkah apa yang harus diambil – malu? Santai? Atau menertawakannya? Temannya itu meminta Eun-young untuk bersikap santai jadi saat Jin-soo datang sambil membawa handuk, Eun-young memaksa dirinya untuk menggoda reaksi Jin-soo, melucu kalau sosok Eun-young yang hebat pasti membuat Jin-soo malu. Jin-soo mengatakan kalau Eun-young memilih ‘konsep’ yang salah – seharusnya Eun-young malu – dan menertawakan Eun-young.

 

Eun-young tidak mau pergi ke rumah sakit dengan handuk, jadi dia meminta Jin-soo untuk menagmbil pakaian dari kopernya dan menyeringai malu waktu Jin-soo meraba-raba pakaian dalam bermotif leopard sebelum menemukan pakaian yang dimaksud. Semuanya bertambah buruk dari sana sebab Eun-young kesulitan memakai pakaiannya. Jin-soo akhirnya beraksi dan menarik pakaian itu hingga masuk ke tubuh Eun-young, yang benar2 memalukan buat mereka berdua.

 

 

Jin-soo bertanya dengan kata2 Eun-young sebelumnya – siapa yang menjadi gadis dalam kekacauan sekarang? Kau tahu tipe gadis yang bicara besar kemudian terluka dan memerlukan seorang pria untuk menyelamatkan dan membawanya ke tempat yang aman. Suasana berubah menjadi serius ketika Jin-soo melihat Eun-young dimasukkan ke ambulance, yang membawa kenangan yang kurang menyenangkan. Pandangan Jin-soo mengabur di cahaya lampu ambulance dan dia duduk di sisi Eun-young dengan suasana hati muram. Saat Eun-young mengomentarinya, Jin-soo mengingatkan Eun-young kalau ambulance tidak memberikan kenangan indah pada mereka.

 

 

Ketika mereka melaju menuju rumah sakit – dimana lokasi upacara pemakaman juga berlangsung – Jin-soo melihat sosok familiar dari jendela ambulance, berbaju pink. Itu Seung-yeon, yang masih menunggu Jin-soo di pinggir jalan. Saat Jin-soo memeriksa jam, sudah jam 5.30 pagi. Seung-yeon terluka dan marah dan bertanya kenapa Jin-soo tega membiarkannya menunggu disini selama hampir 6 jam. Jin-soo merasa bersalah hingga rasa marah pada dirinya keluar dalam pertanyaannya langsung pada Seung-yeon, kenapa Seung-yeon berdiri disana saja tanpa memikirkan rencana cadangan. Tidak bisakah Seung-yeon memikirkan cara untuk menangani situasi semacam ini?

 

 

Seung-yeon membalas kalau dia sudah mencoba memikirkan alternative, tapi dia takut kehilangan kedatangan Jin-soo – dia bahkan tidak pergi ke kamar kecil sekali pun sebab dia tidak ingin pergi jika/ketika Jin-soo datang. Dan bagaimana kalau Jin-soo marah padanya lagi? Seung-yeon lelah kalau harus diomeli oleh Jin-soo sepanjang waktu. Dengan nada lebih tenang, Jin-soo mengatakan kalau dia minta maaf, dan tahu kalau dia menyusahkan Seung-yeon hari ini. Kata2 sederhana itu mampu membuat Seung-yeon tenang, sebab Jin-soo belum pernah meminta maaf padanya sebelumnya. Itu juga membuat Seung-yeon mencair dan dia tersenyum pada Jin-soo.

 

Jin-soo berkata kalau sekarang dia sudah minta maaf jadi sekarang waktunya memarahi Seung-yeon – kenapa seorang sekretaris bisa melupakan hp-nya dan berdandan seperti itu ke acara pemakaman? Tapi kalimat2 itu tidak ada efeknya sebab Seung-yeon terlalu sibuk tersenyum. Jin-soo mengirim Seung-yeon ke ruang istirahat, dan selagi dia menunggu, suara ambulance membawa kenangan pahitnya kembali:

 

 

Dalam sebuah kilas balik, ada sebuah kecelakaan berdarah. Seorang wanita dinaikkan ke ambulance dengan darah meluncur dari lukanya. Eun-young dan Jin-soo yang masih muda duduk di sisi wanita itu. Jin-soo terisak. Ingatan ini juga muncul di kepala Eun-young dalam tidurnya, dan dia bangun di rumah sakit sambil menangis.