Sinopsis Wish Upon a Star – Episode 15

Setelah keluarga Jin dan Kang-ha pulang, Jae-young menunjukkan sikap ramah palsunya dan semua orang dewasa tahu kalau itu palsu. Kang-ha menggertakkan rahangnya dan pergi ke kamarnya tanpa berkata apapun, diikuti oleh Jae-young. Sekarang setelah berada di kamar Kang-ha, Jae-young menunjukkan amarahnya. Apa yang terjadi dan kenapa wajah Kang-ha memar dan terluka? Tae-kyu masuk untuk mengucapkan selamat pada pasangan itu. Kang-ha merasa lelah berurusan dengan semua ini dan minta ditinggalkan sendiri.

Anak-anak tidak merasakan suasana yang memanas itu dan hanya menyimpulkan kalau Kang-ha sudah keluar dari daftar calon suami kakaknya. Akan tetapi Pa-rang bersikukuh, “Tidak! Tuan Paman Pengacara menyukai kakak!” Cho-rok bertanya, “Apa pria seperti Kang-ha mau menikahi orang lain?” Jun-ha menemui Kang-ha dan bertanya apa arti semuanya – wajahnya, mengajak anak2 ke taman, segalanya. Kang-ha mencoba mengatakan jika semuanya hanya untuk memenuhi keinginan Pa-rang tapi Jun-ha tidak yakin dan bertanya, “Sejak kapan kau mulai mendengarkan orang lain?” Dia menasehati Kang-ha agar menyelesaikan semua ini dengan Jae-young, tanpa memanfaatkan Pal-kang.

Kang-ha bertanya, “Apa kau tidak apa jika aku menikahi Jae-young?” Jun-ha bersikap tenang, berkata kalau Jae-young akan jadi ipar yang baik, tapi dia penasaran kenapa Kang-ha mengubah pikirannya begitu tiba-tiba. Jun-ha tidak dapat jawaban. Sendirian di ruangan, baik Kang-ha maupun Pal-kang memikirkan kembali saat2 bahagia mereka. Pal-kang tidak bisa berbohong kalau dia juga terpengaruh oleh berita pernikahan Kang-ha tapi dia mencoba bersikap rasional. Sambil menangis, Pal-kang berkata, “Tetap saja, lamanya lima tahun. Karena itulah kau seperti ini. Tak apa – hanya saja, karena lamanya telah lima tahun.”

Keesokan harinya, Pal-kang telat bangun dan bergegas ke dapur untuk menyiapkan makanan, tapi yang membuatnya kaget, Jun-ha sedang memasak. Sambil tersenyum, dia berkata Pal-kang mungkin lelah karena kegiatan kemarin, jadi dia berinisiatif menyiapkan makanan. Jun-ha menolak bantuan Pal-kang lalu menyiapkan meja. Anak2 menyukai masakan Jun-ha dan No-rang adalah yang paling keras memuji Jun-ha dengan menyebutnya suami utama.

Maret artinya waktu sekolah bagi anak2 dimulai dan Jun-ha menawarkan untuk mengantar mereka. Anak2 masuk ke mobil Jun-ha, meninggalkan Kang-ha yang memandang mereka ketika dia berangkat sendiri. Jun-ha bahkan menawarkan Pal-kang bicara dengan kepala sekolah, bersikap sebagai ayah yang peduli yang membuat Pal-kang tidak nyaman. Mereka juga mengantar Nam ke tempat penitipan, dimana Pa-rang juga akan tinggal beberapa hari sampai sekolahnya dimulai.

Jae-young ingin Kang-ha bertemu dengan orang tuanya lagi karena Kang-ha kehilangan kesempatan pertama untuk bertemu mereka sebagai pengantin prianya. Kang-ha mengingatkan jika Jae-young sudah setuju memberinya waktu tapi Jae-young bilang kalau Kang-ha menunggu terlalu lama maka Kang-ha hanya akan mengulangi semuanya. Hal terbaik buat Kang-ha adalah mengikuti tuntunan Jae-young tanpa protes. Tahu kalau Kang-ha sangat menghormati kakek Jung, Jae-young mengingatkan Kang-ha untuk tidak mengecewakan kakeknya. Kang-ha setidaknya harus menunjukkan rasa hormat.

Tapi kekak Jung sudah tahu bagaimana perasaan Kang-ha dan menunjukkan keprihatinan atas perubahan hatinya. Belum lama Kang-ha kukuh tidak mau menikahi Jae-young, jadi apa yang terjadi? Apa Kang-ha mencintai Jae-young? Kang-ha mengabaikan pertanyaan itu dan menjawab, “Aku akan menikahinya.” Kakek tidak akan tertipu dengan elakan itu jadi dia bertanya lagi. Kang-ha tidak bisa berbohong, jadi dia bilang, “Aku akan melakukannya nanti, setelah kami menikah.” Kakek Jung berujar lagi, “Dan jika kau tidak bisa melakukannya nanti?” Kang-ha menjawab, “Aku hanya akan menjalaninya.” Kakek Jung mendesah dan Kang-ha meminta maaf: “Hanya ini yang bisa aku katakan sekarang.”

Di lift kantor, semua penumpang keluar kecuali Kang-ha, yang mendengar dengusan. Ternyata Pal-kang, yang menangis sendiri di bagian belakang, yang kaget waktu melihat Kang-ha. Tertangkap basah, dan yang hanya bisa dilakukan Pal-kang adalah mencoba kabur diam2 tapi Kang-ha menarik tangannya. Prihatin, Kang-ha bertanya, “Apa yang terjadi?” Pal-kang berbohong kalau tidak ada apa2, tapi Kang-ha tidak menerima kebohongan itu dan mengulangi pertanyaannya lagi.

Kang-ha mengajak Pal-kang ke kafe terdekat dimana Pal-kang tetap diam dan menolak menjelaskan kenapa dia menangis. Kang-ha berkata, “Apa kau hanya akan menangis di kantor seharian?” Pal-kang tidak menjawab jadi Kang-ha menaikkan alisnya, “Apa kau tidak akan membentakku karena berkata begitu?” Tidak ada reaksi jadi Kang-ha berkata lagi, “Seharusnya kau marah dan bilang ‘Aku punya alasan kenapa menangis. Kenapa tidak, ketika keadaannya sangat buruk hingga membuatku menangis’ Itu lebih seperti dirimu.”

Setelah itu Pal-kang mendesah dan mulai menjelaskan, “Menjadi seperti aku adalah masalah terbesarnya.” Pal-kang baru saja berpikir bahwa dia melakukan pekerjaannya dengan baik tapi sekarang kelihatannya dia tidak berguna seperti dulu. Dia senang sekali karena memenangkan kontrak baru, yang bernilai 2 juta won. tapi hari ini Pal-kang mendapati kalau pabrik penerima kontrak itu terbakar. Periode emas dalam polis asuransi itu sudah lewat jadi Pal-kang tidak bisa mengembalikan uang mereka, yang artinya mereka tidak bisa mendapatkan polis asuransi mereka dan harus menundanya.

Kang-ha melihat kenapa ini begitu buruk tapi tidak berpikir jika ini harus ditangisi sebab hal ini terjadi sering sekali di dunia asuransi. Jika Pal-kang menangis karena tidak bisa mendapatkan bonusnya, dia hanya harus menerimanya. Tapi Pal-kang melanjutnya sambil menangis jika ini adalah salahnya. Dia memaksakan polis yang besar pada kliennya itu, jadi ini salah Pal-kang mereka kehilangan 2 juta won. Kang-ha sangat sedih melihat Pal-kang diselimuti rasa bersalah dan berkeras kalau ini tidak apa-apa sama sekali.

Pal-kang dengan enggan memulai, “Pernikahanmu…” yang berhasil membuat Kang-ha memandanginya. Tapi Pal-kang hanya melanjutkan, “Selamat atas pernikahannya. Kalian berdua terlihat cocok bersama.” Setelah melihat reaksi Kang-ha, kakek Jung meminta Jae-young untuk memikirkan lagi pernikahannya karena Kang-ha tidak mencintainya. Jae-young mempertahankannya dan bahkan menjelaskan bahwa karena ayah Kang-ha, selalu ada kemungkinan perselisihan kedua kubu. Jika dia menikahi Kang-ha, masa depan perusahaan juga akan stabil.

Kakek Jung berkata kalau kelihatannya Jae-young mengutamakan perusahaan. Jae-young berkata kalau perusahaan sama pentingnya seperti manusia, “Aku rasa sangat menguntungkan aku bisa memiliki keduanya bersamaan.” Dia yakin dia bisa suskes dalam karir dan pernikahan. Akan tetapi, Kang-ha berbicara dengan In-gu dan meminta agar dipindahkan ke cabang AS, untuk setahun atau 6 bulan. Kang-ha bilang dia ingin lebih banyak pengalaman kerja sebelum menikah, yang tidak masuk akal buat In-gu sebab Kang-ha tidak perlu pengalaman kerja. Kang-ha tetap meminta pemindahan itu.

Bingung, In-gu bertanya pada putrinya apa arti semua ini, tapi Jae-young juga tidak tahu. Dengan marah, Jae-young masuk ke kantor Kang-ha mempertanyakan apa arti semua ini. Kang-ha mengeram, “Aku hanya ingin pergi.” Karena Jun-ha mengikuti Jae-young ke kantor Kang-ha, Jae-young melancarkan serangannya dengan kalimat ambigu. Dia mengingatkan Kang-ha ada sesuatu yang bisa dia lakukan dalam situasi seperti ini. Jae-young memperingatkan, “Jangan buat aku melakukan itu.”

Tentu saja, kalimat aneh seperti itu tidak dimengerti Jun-ha, dan bertanya pada kakaknya apa artinya itu. Apa ada sesuatu yang tidak dia tahu? Kang-ha menjawab kalau Jae-young mengatakan itu karena sedang marah sebab dia melarikan diri. Jun-ha tidak percaya ini jadi dia menemui Jae-young untuk tahu arti ancaman itu. Akan tetapi, ancaman itu akan hilang dari Kang-ha kalau dia bilang yang sebenarnya jadi Jae-young menggunakan penjelasan lain, “Artinya aku benar2 bisa mati.”

Jun-ha mengingatkan kalau Jae-young sudah pernah menggunakan ancaman itu tapi tidak berhasil. Jae-young mengungkapkan kalau ibunya meracuni dirinya akan bisa menikah dengan ayahnya jadi Jae-young bersumpah sebagai anak ibunya, “Aku tidak hanya sekedar mengancam. Aku benar2 bisa melakukannya.” Jae-young telah mengatakan ini pada Kang-ha, dan itu pasti yang telah mengubah pikiran Kang-ha.

Pal-kang merasa bersalah pada kliennya yang tidak beruntung dan meminta maaf pada supervisornya tapi wanita itu tidak memakinya. Dia malah menasehati Pal-kang untuk menawarkan bantuan pada kliennya itu, hanya itu yang Pal-kang bisa lakukan sebagai orang yang terlibat dalam kesulitan keuangan kliennya. Demikianlah, Pal-kang membantu kliennya di toko bajunya. Karena dia akan bekerja lembur, maka dia menyuruh Ju-hwang untuk menjemut Nami dari tempat penitipan.

Won bersaudara minum di bar setelah pulang kerja dimana Jae-young juga bergabung dengan mereka. Dia duduk dan ingin membuat Kang-ha mabuk agar mau mengubah pikirannya agar tidak jadi ke AS. Kang-ha, di sisi lain, merasa terluka dan berkata kalau dia perlu waktu enam bulan untuk memikirkan segala sesuatunya, “Aku tidak ingin menikahimu. Tapi aku harus melakukannya. Kalau begitu, bisakah kau memberiku waktu enam bulan untuk diriku sendiri?” Tepat saat Jun-ha bergabung di meja itu, Jae-young berkata kalau Jun-ha terlihat mirip seperti ibunya sedangkan Kang-ha tidak. Kenapa begitu? Lebih jauh, kepribadian Jun-ha mirip sekali dengan ibunya. Lalu kenapa Kang-ha begitu berbeda?

Jun-ha bingung tapi Kang-ha begitu marah. Dengan marah, Kang-ha menarik tangan Jae-young dan membawa ke tangga sambil berkata, “Apa kau ingin bermain kotor seperti ini?” Jae-young menjawab, “Kau orang yang membuatku seperti ini.” Pada akhirnya, Kang-ha kehilangan kesabaran dan berteriak, “Baiklah! Kalau begitu ayo kita jalani pernikahan sialan ini!” Kang-ha pergi. Jun-ha mendekati Jae-young yang menangis dan berkata, “Kau mendapatkan apa yang kau inginkan. Kenapa kau menangis?” Jae-young menjawab, “Lebih konyol bagi seorang wanita pernikahan sialan itu dan ditertawakan.” Jun-ha berkata kalau bukan Jae-young namanya jika menangis dank arena dia mendapatkan apa yang dia mau, Jae-young lebih baik bersenang-senang.

Mungkin Jae-young ingin mendapatkan simpati sebab dia berkata, “Won Jun-ha, bagaimana mungkin kau juga seperti ini? Kau seharusnya tidak memperlakukanku seperti ini. Kau temanku. Pada saat seperti ini, kau seharusnya mengatakan padaku ‘kakakku adalah bajingan kejam. Tapi karena kau menikahinya, selamat.’ Kau seharusnya mengatakan itu.” Untuk sesaat, Jun-ha memandang Jae-young dengan tatapan kecewa. Jun-ha menjelaskan kalau dia berada di sisi Jae-young saat dia percaya diri, “Tapi anehnya, melihatmu menangis tidak menyakiti hatiku lagi.”

Malam itu, Jae-young pulang ke rumah dalam keadaan mabuk dimana ibunya menanyainya soal Kang-ha yang ingin pergi ke AS. Apa Jae-young harus menikahi pria yang lari darinya? Jae-young malah membalikkan semuanya, “Kau juga melakukan itu.” Nyatanya, Min-kyung mengorbankan hidupnya dengan menelan pil agar kakek Jung mengubah pikirannya dan menyetujui pernikahannya dengan In-gu. Bukankah dia seharusnya puas karena putrinya menyikuti jalannya tanpa terluka?

Min-kyung benci ketika Jae-young membandingkan dirinya dengan ibunya, sebab Jae-young tidak perlu mengalami kehidupannya yang keras semasa muda. Jae-young menjawab, “Bukankah ini adalah kehidupan yang kau inginkan?” Jae-young mengatakan kalau ibunya melakukan itu karena alasan mementingkan diri sendiri: “Karena memilih pernikahan berdasarkan ambisi bukan cinta, kau seharusnya memukul punggungku. Aku belajar darimu, jadi kau harus bangga padaku!” Min-kyung menampar putrinya sebab dia merasa terluka karena kelancangan Jae-young itu.

Min-kyung: Itulah yang dikatakan semua orang. Bahwa Lee Min-kyung menggunakan seorang anak tanpa cinta sebagai keuntungan untuk mengubah hidupnya dan sukses. Bahwa dia bahkan menggunakan bunuh diri untuk menggantungkan hidupnya pada seorang pria. Dia tidak sungguh2 ingin mati tapi melakukan itu untuk pamer. Ya, ibu dan ayahku melakukan itu, mereka menyuruh anak mereka untuk minum obat dan mencoba mati hingga melakukan pekerjaan dengan bagus. Itulah cara buat sukses. Kenapa aku tidak bisa bangga padamu? Sebab aku benar2 ingin mati. Aku tidak ingin melahirkanmu ke dunia ini dimana kau akan dicurigai sebagai bukan anak ayahmu. Jadi aku tidak bisa memukul punggungmu.

Min-kyung berkata tidak harus Kang-ha – dia hanya ingin putrinya dicintai. Sadar kalau dia kelewat batas, Jae-young meminta maaf. Dia juga tidak tahu kenapa harus Kang-ha – semuanya dimulai saat dia masih muda ketika kakek lebih menyukai Kang-ha ketimbang dirinya, “Dia mendapatkan cinta yang tidak aku dapatkan. Setelah beberapa saat, aku merasa aku harus menikahinya.” Min-kyung mulai mengerti dan bertanya, “Apa kau ingin menerima pengakuan yang orang tuamu tidak bisa peroleh dari kakekmu?” Jae-young menjawab, “Saat aku masih muda, aku berpikir begitu. Itu yang aku lakukan pada awalnya, tapi sekarang aku tidak bisa melihat orang lain kecuali Kang-ha. Jadi jangan bilang kalau ini ambisi. Meski aku tidak bisa menerima cinta, aku ingin hidup dengan orang yang aku cinta.”

Min-kyung sekarang mengerti kalau dia sudah salah mengerti putri mereka dan bertanya apa yang dapat mereka lakukan untuk Jae-young sekarang. Jun-ha menunggu Pal-kang di luar kereta bawah tanah lalu menawarkan minum. Pal-kang duduk bersama Jun-ha di pojangmacha tapi tidak menyentuh minumannya, bilang kalau dia tidak minum belakangan ini. Dia dulu minum tapi setelah orang tuanya meninggal, dia memutuskan berhenti. Jun-ha menebak kalau Pal-kang pasti ingin minum hari ini setelah mendengar pernikahan Kang-ha. Sebaliknya, Pal-kang menjelaskan kalau meski ada cinta sebelah tangan, ini bukan pengalaman yang membuat patah hati.

Jun-ha bertanya pada Pal-kang bagaimana Pal-kang tahu dia menyukai Jae-young. Pal-kang menjawab tiap kali Kang-ha masuk dengan anak2, Jun-ha melihat reaksi Jae-young, terlihat seperti Jun-ha ingin memukul kakaknya. Pal-kang bertanya kenapa Jun-ha tidak pernah mengatakan perasaannya pada Jae-young, apalagi Jun-ha tahu Kang-ha tidak mencintai Jae-young. Jun-ha berkata kalau ini karena Jae-young mencintai Kang-ha. Plus, ibunya selalu meminta Jun-ha untuk tidak mengacaukan hidup kakaknya.

Saat mereka berjalan pulang, Jun-ha tersandung di tangga depan dan dia mengakui rahasia yang lain. Malam ini dia menjauhi Jae-young meski dia sedang menangis, yang tidak pernah bisa dia lakukan di masa lalu. Untuk beberapa alasan, dia mampu melakukannya hari ini. Pal-kang berkata, “Mungkin artinya kau lebih terluka jadi kau tidak sanggup melihatnya.” Jun-ha melihat Kang-ha berjalan naik tangga dan kedua bersaudara itu bertatapan selama beberapa saat. Tiba2 saja, Jun-ha memeluk Pal-kang, “Apa yang bisa aku lakukan agar membuatmu percaya kalau bukan seperti yang kau duga? Hanya saat menjadi cinta yang bertepuk sebelah tangan sudah berakhir, aku mengaku kalau cintaku juga begitu.”

Pal-kang mulai melepaskan diri tapi Jun-ha malah memeluknya lebih erat saat Kang-ha memandangi. Jun-ha bertanya, “Atau apakah kau tidak mengkahirinya? Apa karena itu kau tidak ingin mendengar aku sudah menyerah?” Dengan kekuatan lebih besar, Pal-kang berusaha melepaskan diri dan meminta Jun-ha berhenti, “Jika kau sedih, tahan saja sendiri. Ini tidak akan membuatmu nyaman. Hal yang paling bisa aku lakukan adalah menjadi teman minummu.” Pal-kang berjalan menjauhi Jun-ha, masuk ke dalam rumah dan tidak melihat keberadaan Kang-ha.

Kang-ha tidak tertipu oleh sikap Jun-ha dan berkata, “Kau bisa menghentikannya. Aku akan menikahi Jae-young jadi kau tidak perlu bekerja sekeras ini.” Kang-ha menjelaskan kalau Jun-ha keras kepala dan tidak mengubah pikirannya dengan mudah, “Jadi hentikan permainan aneh yang kau lakukan dengan wanita itu.” Jun-ha mencibir, “Dan kalau itu bukan permainan?” Kang-ha tidak percaya kalau Jun-ha serius dan berkata kalau ada kunci perbedaan diantara keduanya – Kang-ha tidak pernah terganggu oleh ilusi wanita dan dia tidak tertarik pada wanita yang sudah dimiliki orang lain. Jun-ha, sebaliknya justru tidak bisa melepaskan, “Meski kau tidak menjadikannya wanitamu.”

Kang-ha: Apa kau sudah memikirkan kalau itu bahkan lebih kejam?
Jun-ha: Apa kau khawatir Jin Pal-kang akan ditipu oleh pria kejam sepertiku? Kau akan menikahi Jae-young tapi kau masih mengkhawatirkan kalau Pal-kang akan dimanfaatkan pria kejam sepertiku. Jujurlah – kalau kau khawatir padanya. Bahwa kau tidak punya keberanian untuk memilihnya, tapi bahwa kau tidak punya keyakinan kau tidak akan jatuh cinta padanya jadi kau memaksakan dirimu menikah. Atau kalau tidak, hentikan semuanya. Lepaskan wanita yang kau cintai tapi tidak bisa memilih, dan jangan jalani pernikahan yang tidak kau inginkan. Kalau begitu Jae-young tidak akan menjadi orang yang malang juga.
Kang-ha: Aku akan menikahi Jae-young.
Jun-ha: Kalau begitu kenapa kau mengkhawatirkan Jin Pal-kang, apakah aku main2 dengannya atau tidak.
Kang-ha: Karena aku tidak mau kau disiksa dengan bertanya-tanya kenapa kau menjadi pria kejam! Itulah hal yang aku khawatirkan.

Jun-ha sudah membuat Pal-kang begitu tidak nyaman. Jadi dia lantas menelpon kakek Jung untuk menanyakan permintaan kakaku Jung menemukan teman ibunya. Kalau Pal-kang bisa menemukan pria itu, apa kakek akan memberikan uangnya? Dia belum mendapatkan info apapun tapi dia perlu uang itu untuk mendapatkan tempat tinggal. Semuanya memuncak keesokan paginya ketika Pal-kang ke dapur. Karena ingin bersaing dengan Jun-ha, Tae-kyu memaksakan dirinya membuat sarapan, hanya makanan Tae-kyu kacau dan dia tertidur saat memasak.

Tae-kyu bersikeras kalau dia harus membuktikan cintanya pada Pal-kang tapi Pal-kang sudah habis kesabaran. Ketika Pal-kang kehilangan kendali, Jun-ha dan Kang-ha muncul dari kamar mereka tepat waktu untuk mendengar suara Pal-kang yang meninggi. Pal-kang mengumumkan kalau dia akan pindah jika kontraknya sudah berakhir, sebab dia sudah muak dengan semua ini. Dia sudah muak menjadi mainan pria kaya di rumah ini! Mendengar itu, Kang-ha memandangi saudaranya. Malam itu, Kang-ha menemukan Pa-rang tidur di kamarnya. Kali ini, Kang-ha membawa anak itu keluar dari kamarnya dan turun ke lantai bawah. Dia menyerahkan anak itu pada Pal-kang, lalu tanpa berkata apapun kembali ke kamarnya.

Saat sudah di kamarnya, Kang-ha berbalik ke arah pintu dimana dia ingin menarik sikapnya yang tadi. Tapi dia diam. Keesokan harinya, Kang-ha bangun dan menemukan tempat tidurnya kosong. Dia terlihat kecewa tapi ketika dia membuka pintu, Kang-ha menemukan Pa-rang tertidur di depan kamarnya. Kang-ha mengajak anak itu turun. Dia menemui Pal-kang dan mengatakan agar memeriksakan kelainan Pa-rang pada dokter. Juga, Pal-kang harus memastikan agar Pa-rang tidak naik lagi. Pa-rang bertanya pada kakaknya kenapa paman pengacara bersikap seperti itu dengan tiba2.

Jun-ha menawarkan mengantar Pa-rang ke dokter dan dokter mengatakan kalau masalah yang dialami Pa-rang pasti akan hilang ketika dia mulai tumbuh dewasa. Akan tetapi, dokter hanya memberikan resep obat untuk mencegah Pa-rang mengalami rasa sakit. Hari ini, Pal-kang mengaku pada Jun-ha kalau dia merasa perhatian Jun-ha padanya sangat membebani. Jun-ha bertanya, “Apa kau tahu kau benar2 kejam?” Sementara itu, Kang-ha dan Jae-young mempercayakan pesta pertunangan mereka pada mantan pacar Jun-ha.

Mantan Jun-ha membantu Jae-young mencoba baju pertunangan sementara Kang-ha menunggu dengan bosan di luar. Wanita itu bertanya pada Jae-young apa semua wanita di perusahaan JK punya tubuh yang bagus, dan menjelaskan kalau wanita bernama Jin Pal-kang datang kesini sebelumnya untuk menawarkan asuransi. Dia merasa aneh kenapa Jun-ha mengenalkan Pal-kang jadi dia memakaikan baju pengantin pada Pal-kang untuk melihat reaksi Jun-ha dan menebak hubungan macam apa yang mereka jalani. Dia juga secara gamblang mengaku menyukai Jun-ha. Semua ini membuat Jae-young kaget.

Mantan Jun-ha berniat untuk menunjukkan betapa cantikanya Jae-young dengan gaunnya tapi Kang-ha tidak ada disana sama sekali… Kang-ha baru saja menerima telpon dan bergegas keluar. Di rumah sakit, Pal-kang dan Jun-ha mencari-cari Pa-rang, yang hilang waktu dia masuk ke kamar kecil. Kang-ha melihat Pa-rang berjalan di pinggir jalan saat dia berkendara dan mendekatinya.

Pa-rang menjelaskan kalau dia tersesat tapi Kang-ha bertanya kenapa dia malah menelpon dirinya dan bukannya kakaknya. Kemudian Kang-ha bertanya, “Apa kau benar2 tersesat?” Pa-rang mulai menangis dan dia memeluk Kang-ha sambil meraung-raung kalau dia tidak tersesat. Alasan kenapa Pa-rang menelpon Kang-ha adalah untuk mengatakan, “Paman, jangan menikahi wanita lain!”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s