Sinopsis The Return of Iljimae Episode 15

Dengan Wang Hweng-bo yang meniru Iljimae dan mengganggu petugas polisi, bos Bongsuni bebas mengeluarkan tahanan dari dalam penjara. Dia pertama-tama membebaskan mantan pencuri Bongsuni, tapi grup lain yang merupakan mantan Haedongchung juga memohon untuk dibebaskan, menjanjikan kesetiaan. Pembebasan itu tidak diketahui sampai semuanya terlambat, sebab Hweng-bo melakukan pekerjaan bagus dengan mengalihkan polisi dengan meminta untuk bertemu dengan Gu Ja-myung. Karena Gu sedang bebas tugas, kepala polisi meminta seseorang untuk mencari Gu.

Petugas Gu kembali ke rumah dengan murung dari pencarian tidak suksesnya terhadap Baek-mae, hanya untuk menemukan Iljimae sedang menunggunya. Setelah mendengar kalau ibunya baru saja tiba di Hanyang, dia ada disini untuk mendapatkan informasi dari Gu, tapi harus menghadapi kekecewaan ketika mendengar kalau Iljimae sudah terlambat – Baek-mae pergi setelah tahu bahwa Iljimae adalah penjahat yang sedang dicari.

Gu menjelaskan lebih jauh, “Dia pergi karena bertemu denganmu berarti bahwa aku akan menangkapmu.” Yang mengejutkan, Gu sama sekali tidak menggunakan kekuatannya terhadap Iljimae atau menangkapnya. Malah, dia duduk di depan meja makan malam dan mengundang Iljimae untuk bergabung dengannya. Semua ini disiapkan oleh ibunya: “Dia mungkin tidak ada disini, tapi akan membuatnya senang setelah tahu bahwa kita memakan ini bersama.”

Setelah beberapa saat yang penuh keraguan, Iljimae akhirnya duduk dan makan. Gu berkata pada Iljimae, “Makanlah. Dan pastikan kau tidak pernah ditangkap oleh tanganku.” Iljimae bertanya apakah Gu benar2 bisa menangkapnya atau memasukkannya ke dalam penjara, yang dijawab oleh Gu, “Jangan anggap aku enteng. Aku mungkin tidak tahu hal lain selain menangkap pencuri, tapi di sisi lain, tidak ada yang tidak aku ketahui tentang menangkap pencuri. Dalam beberapa kasus, kau adalah pencuri dan aku adalah petugas penangkap pencuri.” Mereka berdua makan dengan tenang. Mereka diganggu oleh kedatangan seorang petugas di luar. Gu bicara dengan bawahannya lewat pintu yang tertutup sedangkan Iljimae bergerak untuk bersembunyi, dan mereka berdua kaget karena Iljimae palsu telah muncul serta meminta ingin bertemu dengan Gu.

Gu menyuruh Iljimae untuk menyelesaikan makannya sebelum dia pergi, lalu berbalik untuk pergi dengan kalimat terakhir, “Ini akan menjadi pertemuan terakhir bagiku dan bagimu.” Tentu saja, ketika Gu tiba untuk menemui Iljimae palsu, dia sudah pergi. Tapi adalah masalah yang lebih besar dihadapan mereka: penjara kosong. Gu memerintahkan anak buahnya untuk melakukan pencarian dan menyisir area yang merupakan tempat persembunyian yang mungkin. Saat Iljimae kembali ke gua, Keol-chi dan Wol-hee bertanya dengan penasaran apa yang terjadi. Apa dia sudah bertemu dengan ibunya? Iljimae, dengan mood muram, berkata tidak; ibunya sudah pergi.

Iljimae berkata pada Yeol-gong kalau dia akan mencari orang yang menirunya dan meminta sesuatu: “Aku tidak perlu rumah, tapi Wol-hee dan Keol-chi perlu.” Kalimat itu membuat Yeol-gong penasaran dan bertanya apakah Iljimae berencana untuk pergi. Iljimae berkata, “Karena segalanya, aku takut kalau aku akan kehilangan Wol-hee sama seperti Dal-yi. Tolong jaga mereka berdua.” Yeol-gong mendesah, “Wol-hee yang malang. Kalau bagitu sekali lagi, tidak ada yang tidak punya bayangan.” Kalimat ini seperti kalimat Wol-hee dan kalimat ini benar2 menyerang Iljimae.

Iljimae tiba di rumah gisaeng (yang juga merupakan penginapan) dan bersikap begitu berbeda. Ini hanya akting – alasannya akan menjadi sangat jelas nanti – tapi manis sekali melihat Iljimae tersenyum dan ceria, meski dia hanya bersandiwara. Dia membawa kotak besar dan menyombong kalau kotak itu penuh dengan uang, meminta madam gisaeng sebuah ruangan di pojok. Semua ini memberi kesan kalau Iljimae suka membuang waktu, kaya, dan perayu wanita.

Madam gisaeng itu melihat banyak kesempatan untuk mendapatkan banyak uang, jadi dia dengan gembira menyambut Iljimae. Wanita ini punya usia yang sama dengan Baek-mae dan merupakan kenalan ibu Iljimae itu (mereka dulu gisaeng di tempat yang sama) – dan faktanya, disinilah sekarang Baek-mae bekerja setelah kepergiannya dari rumah Gu. Madam itu menugaskan gisaeng Chun-wol untuk mengunjungi Iljimae dan mengingatkannya untuk melakukan yang terbaik sehingga mereka bisa menghasilkan uang yang banyak. Chun-wol, yang sama matre-nya dengan madam, berjanji untuk melayani Iljimae dengan baik demi semua uangnya.

Akan tetapi, keinginan Chun-wol untuk mendapatkan uang hilang ketika dia menghabiskan waktu dengan Iljimae. Chun-wol jatuh cinta pada Iljimae dan bersikap malu2. Iljimae mengabaikan sikap playboy-nya dan merenung semalaman sampai akhirnya Chun-wol mendekat dan memeganginya. Iljimae membuat Chun-wol pingsan dengan satu totokan tepat, jadi ketika dia bangun keesokan harinya, dia menduga mereka sudah menghabiskan malam bersama. Chun-wol tidak yakin tapi berharap kalau malam mereka bersama berarti sesuatu dan untuk itu marah ketika Iljimae memberikannya uang. Sekarang, Chun-wol sudah tidak ingin uang itu – dia menginginkan hati Iljimae.

Iljimae bersikap seperti perayu wanita yang sudah tidak peduli lagi dan menyuruh Chun-wol pergi, dan menambah luka Chun-wol dengan meminta gadis yang lain untuk malam ini. Chun-wol terluka – tapi Iljimae mengatakan kalau dia tidak menghabiskan malam dua kali dengan seorang gadis – dan dengan marah, Chun-wol memukul Iljimae dengan bantal. Sikap Iljimae memang kejam tapi dia juga tidak bisa disalahkan. Chun-wol berteriak dan madam gisaeng mengingatkan Chun-wol karena dia sudah membiarkan dirinya menyukai seseorang yang seharusnya hanya menjadi tamu.

Baek-mae mempunyai pengalaman dengan pria seperti ini, dan sangat kecewa karena Iljimae berubah menjadi salah satu dari mereka. Ketika Baek-mae sedang membersihkan kamarnya, Iljimae menyebutkan kalau pernah bertemu dengannya di desa. Baek-mae memandang Iljimae dengan tatapan kecewa, sambil berkata, “Aku tidak berpikir kau orang macam itu. Kenapa kau berubah seperti ini?” Iljimae bersikap seperti diirnya sendiri dan membalas, “Ketika kau bisa mati kapan saja, itu bisa saja disini atau di tempat lain, kan?”

Baek-mae tidak menerima alasan itu, “Meski seseorang meninggal, namanya masih tetap ada seperti bau.” Iljimae berkata, “Bau. Tapi apa yang bisa aku lakukan? Aku sudah menjadi nama yang tertinggal di belakang bau busuk.” Baek-mae bangkit akan pergi tapi Iljimae menghentikannya, “Sebenarnya, aku bukan pria mengerikan seperti itu. Ada beberapa hal yang tidak bisa kita ungkapkan dengan kata-kata, bukan? Jadi tolong jangan begitu membenciku.”

Alasan semua permainan ini menjadi jelas malam itu. Sekali lagi, Iljimae menghabiskan malam dengan gisaeng yang lain. Dia berpura-pura tidur ketika sepasang pencuri mengendap-endap ke kamarnya dan membawa kotak uangnya. Kesombongan Iljimae memiliki dampak panjangnya: berita sudah menyebar kalau ada pria kaya tinggal di rumah gisaeng. Para pencuri itu mengharapkan kotak itu penuh dengan harta, hanya untuk menemukan kalau kotak itu diberatkan oleh batu. Melihat kalau kotak itu juga berisi pakaian hitam, mereka menyadari, “Kita mencuri dari Iljimae?”

Pada titik itu, Iljimae tiba untuk membenarkan tebakan mereka dan menanyakan siapa yang meniru dirinya. Mereka mengaku kalau peniru itu sudah meninggalkan Hanyang dan telah merencanakan akan bertemu dengan mereka di Provinsi Kyungsangdo. Mereka juga merencanakan perampokan besar terhadap sesuatu untuk dipersembahkan pada raja.

Pada pagi harinya, para gisaeng menemukan bahwa barang2 Iljimae sudah hilang dan dia tidak ada dimana-mana. Madam menjelaskan kalau tidak ada gunanya melapor kepada polisi sebab para polisi sedang sibuk dengan tahanan yang kabur. Baek-mae terlihat kaget ketika mereka mengatakan bahwa Iljimae adalah orang yang membebaskan para tawanan itu. Cha-dol mengintai, seperti kebiasaannya selalu, memancing berita. Iljimae mendatanginya dan menyuruhnya kembali, tapi karena anak itu sangat ingin bermanfaat, dia dipercayakan sebuah urusan. Cha-dol mengirimkan pesan kepada polisi untuk memberitahukan Petugas Gu tentang ancaman perampokan di Kyungsangdo.

Bae bertanya-tanya kenapa Iljimae membebaskan para tahanan, lalu memberitahu polisi lokasi mereka. Cha-dol menebak kalau Iljimae palsu pasti sedang berkeliaran, yang menjernihkan kebingungan itu. Iljimae mengendap ke rumah Wol-hee, yang sudah digeledah oleh pejabat dalam ketidakhadiran mereka, dan mengambil kotak bunga plum emasnya. Dia sudah menyembunyikannya dengan baik. Dia membuka sebuah pintu jebakan di langit-langit, mengambil tongkat dengan kait, dan menggunakannya untuk menarik sebuah peti.

Selama itu, Wol-hee mengkhawatirkan ketidakhadiran Iljimae. Dia meminta Keol-chi untuk memohon pada Iljimae agar tidak pergi lagi, karena Keol-chi adalah yang terdekat seperti sosok ayah. Ketika Iljimae kembali, Wol-hee sangat tenang, tapi juga sedikit marah. Suasana hati Wol-hee menjadi cerah ketika Iljimae menghadiahkan kecapi-nya pada Wol-hee, yang dia ambil dari rumah.

Dengan informasi dari Cha-dol, petugas polisi mempersempit pencarian mereka untuk tahanan yang kabur, tapi Gu merasa ragu untuk pergi – sebab dia sedang menunggu berita tentang Baek-mae. Dia sudah mengirim seseorang ke rumah Baek-mae yang lama dan seharusnya membawa berita segera. Soo-ryun memberitahu Gu kalau Baek-mae masih di Hanyang, akan tetapi – dia enggan memberikan informasi itu, tapi dia juga tidak bisa berbohong pada Gu.

Jadi Gu menemukan Baek-mae di rumah gisaeng. Percakapan mereka ditonton oleh para gisaeng yang penasaran, yang menganggap Gu tampan dan mereka situasi itu rada2 romantis. Baek-mae memberitahu Gu kalau takdir mereka sudah melewati mereka, dan menyuruh Gu kembali. Gu tidak bisa membiarkan Baek-mae pergi lagi dan berkata kalau dia tidak akan bergerak seinci pun sampai Baek-mae setuju untuk kembali bersamanya. Baek-mae tidak kebal pada emosi Gu, tapi dia tetap pada tuduhannya, mengatakan pada Gu kalau ini adalah perbuatan yang gagal. Bagi Gu, tidak melakukan apa2 lebih buruk dari melakukan sesuatu yang gagal dan Gu bersikeras bahwa dia akan menunggu, “Meski ini tidak berguna, aku harus melakukannya.”

Meski merasa bersalah, Baek-mae masuk ke dalam dan meninggalkan Gu berdiri sendirian di depan. Dia terus diganggu oleh kata batinnya dan akhirnya mengirim seorang gisaeng untuk mengajak Gu masuk ke dalam. Dengan menyedihkan, Soo-ryun juga sudah menunggu di luar ketika itu dan dia menangis saat Gu disuruh masuk ke dalam.

Baek-mae menawarkan makanan pada Gu dan untuk sekali ini nada suaranya lembut dan kurang melawan ketika dia menceritakan sebuah cerita dari masa lalu. Baek-mae membicarakan Gu, meski dia tidak menyebut namanya, mengenang bagaimana seorang pria datang dan menunggunanya di luar kamarnya di rumah gisaeng setiap malam, “Pria itu berbeda dari pria lainnya.” Dia tidak kejam atau tukang mabuk atau selalu mencoba menggunakan kekuasaannya.

Malah, “Dia hanya berdiri disana. Aku terluka dan patah hati dan merasa bersalah pada pria yang datang untuk bertemu denganku. Tapi tidak ada yang bisa aku lakukan.” Mereka duduk dalam diam untuk beberapa saat sampai Baek-mae menanyakan minuman dan meminta Gu untuk tidur disini malam ini. Tawaran itu membawa banyak arti, hal itu mengartikan kalau Baek-mae mau mengubah pikirannya dan memberikan kesempatan pada Gu.

Perdana menteri Kim Ja-jeom mengumpulkan kaum bangsawan – semuanya korban perampokan – untuk mendiskusikan apa yang sedang dilakukan untuk menangkap Iljimae. Perdana menteri Kim memperkenalkan Park Bi-su, pendekar yang disewa untuk menangkap Iljimae. Pada akhirnya, Park Bi-su telah merekrut sekelompok petarung dan telah melatih mereka untuk melawan Iljimae – contohnya, memberikan cara bagaimana menghindari agar tidak kena lemparan shuriken.

Berkata Yeol-gong, Iljimae membawa Wol-hee dan Keol-chi ke rumah baru mereka. Rumah ini lebih kecil dan lebih buruk dari rumah mereka yang sebelumnya, tapi Wol-hee berkeliling dengan gembira, tidak sabar ingin menempatinya. Dalam kegembiraannya, dia tidak memperhatikan bagaimana terganggunya Iljimae terlihat, khususnya ketika Wol-hee mencetuskan ide untuk membuat rumah itu nyaman.

Iljimae menjelaskan bahwa rumah ini jauh lebih jelek dari rumah Wol-hee yang sebelumnya dan kelihatannya Iljimae membicarakan rasa bersalahnya – kebahagiaan Wol-hee membuat Iljimae merasa bersalah atas apa yang akan dia lakukan. Jawaban Wol-hee tidak menentramkan rasa bersalah Iljimae, karena Wol-hee menjawab dengan gembira, “Tidak masalah. Sebenarnya, aku bahkan tidak mengharapkan rumah seperti ini. Aku tidak perlu rumah dan aku bisa hidup di tempat yang lebih buruk dari ini, kalau aku memilikimu.”

Kalimat terakhir itu seperti peringatan besar buat Iljimae. Maka, dia bicara pada Keol-chi, “Tolong jaga Wol-hee baik2. Dan kalau ada apa2, bicaralah pada Yeol-gong.” Keol-chi bertanya apa maksud Iljimae dengan mengatakan ini dan Iljimae menjawab kalau ada beberapa tempat yang harus dia kunjungi. Untuk itu, ketika Wol-hee memanggil para pria itu untuk makan malam, Keol-chi harus memberitahu Wol-hee kalau Iljimae sudah pergi – dia pergi ke Kyungsangdo.

Wol-hee mencoba untuk tetap tenang ketika dia bertanya kapan Iljimae akan kembali tapi air mata menguasainya. Dia berlari ke hutan, meneriakkan nama Iljimae dan mengejarnya meski dia tahu ini sudah terlambat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s