Sinopsis Coffee House – Episode 7

Setelah berhasil lolos dari interview itu, Jin-soo bertanya-tanya kemana mereka harus pergi. Setelah semua usaha itu, mereka harus menemukan tempat dimana mereka tidak akan diganggu. Dia memikirkan tempat jauh di pedesaan, mungkin pulai terpencil, tapi Seung-yeon kaget – mereka berdua? Bersama? Melihat keengganan Seung-yeon, Jin-soo mengambil keputusan untuk melakukan perjalanan ini sendiri dan mengarahkan pengemudi taksi ke lingkungan rumah Seung-yeon.

Jin-soo belum memikirkan keluarga Seung-yeon dan memberikannya tambahan, tapi Seung-yeon tidak suka karena begitu mudah dilepaskan. Seung-yeon bertanya kemana Jin-soo akan pergi tapi Jin-soo tidak memberikan jawaban, dan hanya berjanji akan menelpon kalau dia sudah kembali. Ketika Seung-yeon keluar dari taksi, dia dilihat oleh orang yang lewat, yang wajahnya menjadi cerah: Dong-wook, gembira melihat Seung-yeon sudah kembali dari perjalanannya. Tapi Seung-yeon malah terlalu memikirkan Jin-soo dan segera permisi. Dia mengejar taksi itu tepat saat ayahnya dan neneknya melihatnya berhamburan.

Seung-yeon berputar dan melompat tepat dihadapan taksi itu dan kembali masuk. Jin-soo melihat Seung-yeon dengan kaget dan memintanya untuk keluar, tapi Seung-yeon berkata kalau dia tetap tinggal. Mereka kabur bersama, jadi mereka harus melihat rencana ini berakhir bersama. Bagaimana mungkin Jin-soo meninggalkannya untuk menghadapi kemarahan Eun-young sendirian? Itu akan sangat tidak bertanggung jawab. Seung-yeon sudah berubah pikiran, dia meminta supir taksi untuk meneruskan perjalanan, dan mobil itu mulai bergerak… hanya saja sosok lain muncul untuk menghentikan mobil itu – Dong-woo. Dia baru saja bicara dengan pihak kantor dan mendengar Jin-soo kabur. Mereka pergi kemana? Dong-wook tidak bisa menerima sikap Seung-yeon dan naik ke dalam taksi dan memerintahkan supir untuk lanjut…

Hanya saja, kali ini ayah Seung-yeon yang melompat di depan mobil, meminta jawaban. Seung-yeon mencoba mengusir ayah tapi ayah menolak untuk melepaskannya pergi, dan berteriak keras dimana setelah itu sosok lain muncul – Seung-chul, adik Seung-yeon! Untuk menenangkan keluarga Seung-yeon, Jin-soo setuju untuk tinggal di tempat yang memungkinkan Seung-yeon untuk pulang setiap malam. Hal itu membatasi pilihan ke Seoul dan Jin-soo mengajak mereka ke sebuah hotel. Jin-soo menggerutu soal perubahan ini. Seung-yeon seharusnya keluar dari mobil selagi punya kesempatan. Seung-yeon protes – mereka adalah tim! Jin-soo mempermasalahkan itu dan menjelaskan apa itu artinya sebuah tim, mengatakan kalau mereka bukan pasangan yang cocok. Seung-yeon muncul dengan beberapa saran: “Don Quixote dan Sancho? Tom dan Jerry?”

Jin-soo kembali bekerja. Sedangkan Eun-young mempertahankan wajah tenang seorang professional meski ini membuatnya sakit kepala luar biasa, baik untuk tinggal personal dan bisnis. Dia melampiaskan beberapa frustasinya pada Hyun-joo, bertanya siapa orang jahatnya dalam situasi ini. Apa dia benar2 kejam? Apakah benar2 dia atau Jin-soo yang kelewat batas? Eun-young sekarang memikirkan workshop penulis yang gagal itu. Ji-won, di sisi lain, tiba di tempat Jin-soo dan membunyikan bel, berpura-pura sebagai deliveryman untuk membodohi Jin-soo agar membuka pintunya. Karena tidak ada jawaban, maka dia turun ke café, dimana dia bertanya keberadaan Eun-young dan Jin-soo.

Ini adalah kakek Eun-young. Kakek sadar akan sejarah buruk Eun-young dan Ji-won, dan kakek membuat Ji-won bekerja keras – berani2nya Ji-won kembali kesini dan mengganggu Eun-young? Tidakkah dia sadar? Ji-won membungkuk dengan penuh rasa hormat dan bicara dengan sopan, tapi dia terintimidasi oleh kakek. Ini adalah sesuatu yang sangat dihargai oleh Eun-young dan Eun-young setengah bercanda kalau kakek seharusnya tetap bersamanya agar Ji-won menjauh.

Seung-yeon mengendap-endap untuk menelpon Eun-young; Jin-soo telah menyuruh Seung-yeon untuk tidak menelpon, tapi dia merasa wajib setidaknya untuk memeriksa. Dia tidak mau memberitahu dimana Jin-soo berada, tapi menjamin Eun-young kalau mereka baik2 saja, dan bahwa dia pasti menelpon jika sesuatu terjadi. Jin-soo melihat Seung-yeon menelpon dan mengambil alih. Jin-soo bertanya apa Eun-young sedang berusaha menangani akibat dari kepergiaannya, karena ini adalah keahlian Eun-young. Eun-young berkata kalau dia sangat pintar membersihkan sampah Jin-soo dan kali ini Jin-soo telah meninggalkan banyak hal: “Jika bukumu yang berikutnya tidak sukses besara, aku yakin aku akan sangat kesal.”

Jin-soo menjawab, “Ya, karena itulah aku bekerja sangat keras.” Eun-young membalas kalau bekerja keras tidak cukup – Jin-soo sebaiknya menyingkir. Kali ini ‘kesuksesan biasa’ tidak akan cukup untuk membayar kelakuannya. Kemarahan mereka pada satu sama lain, muncul dalam kata2 mereka yang padat. Kelakukan Jin-soo kali ini sudah menguji pertemanan mereka. Eun-young bicara banyak dengan mengatakan kalau Jin-soo sudah melewati ‘Garis Maginot’ – yang artinya, Jin-soo berbuat terlalu jauh untuk melakukan pelariannya ini.

Akan tetapi, Eun-young bukan satu2nya yang merasa bersalah, Jin-soo juga merasakan sakitnya sendiri dan kalimatnya yang selanjutnya menunjukkannya: “Berapa banyak uang lagi yang harus aku dapat untuk memuaskan ambisimu?” Jin-soo berkata kalau sepertinya Eun-young lebih rakus daripada dulu, yang tidak hanya melukai Eun-young tapi membuatnya marah. Jin-soo berkata, “Berapa banyak popularitas lagi yang harus aku dapatkan untukmu agar kau puas? Aku bertanya karena sepertinya tidak ada akhirnya. Aku bukan persediaan yang tiada akhir. Tidak peduli seberapa banyak aku menulis naskah, kau akan selalu ingin lebih.”

Eun-young menjawab, “Jika kau berhenti menulis, maukah kau menghilang? Apa yang akan kau lakukan jika kau tidak bekerja? Apa kau akan bersembunyi di suatu tempat dan minum obat? Dan jika kau lelah pada hal itu, kau akan menyebutnya perhentian?” Eun-young menyebut kelakuan Jin-soo lebih buruk ketimbang menjadi lintah darat – dia memperlakukan segalanya seperti lelucon, seolah-olah tidak ada yang penting. Eun-young berkata, “Kau bilang aku sudah berubah? Yah, orang2 berubah, bajingan! Aku pikir kau mungkin sudah mengembangkan rasa tanggung jawab setelah menjadi terkenal, tapi kenapa kau tidak berubah? Kau mencoba untuk membuat sekretarismu untuk menjadi professional? Dia lebih professional daripada dirimu! Tidak peduli jebakan apa yang dibuat bos-nya untuknya, dia menurut dan dia peduli pada orang2 di sekitarnya. Apa masalahnya menjadi professional? – seseorang perlu ketulusan! Dia lebih baik darimu – siapa yang diajari sekarang?”

Eun-young memperingatkan Jin-soo untuk menyelesaikan naskah itu dalam sebulan, kalau tidak maka dia tidak bisa memaafkan Jin-soo. Eun-young mengendalikan emosinya dan kembali untuk bergabung dengan kakek, yang tentu saja sudah mendengarkan keseluruhan percakapan. Eun-young menjelaskan kalau Jin-soo kabur, dan kakek bertanya kenapa. Tanpa mengasihani diri sendiri, Eun-young menjawab dengan jujur. Senyum dan nada bicaranya berlawanan dengan apa yang dia katakan: “Karena dia sangat membenciku. Dia bilang aku lintah darat.” Meski begitu, dia tidak dapat menahan air matanya, yang benar2 membuatnya malu. Eun-young permisi, melewati Dong-wook yang melihat air mata Eun-young.

Dong-wook terus menjadi orang yang mengagumkan, khususnya ketika Seung-yeon menelpon untuk meminta beberapa kopi special dari café untuk Jin-soo. Seung-yeon tidak bisa mengambil kopi itu sendiri (itu akan menyadarkan yang lain tentang keberadaan Jin-soo di Seoul) dan meminta Dong-wook untuk mengantarkannya sendiri ke kedai kopi ayahnya, berjanji untuk mentraktir Dong-wook nanti sebagai ganti kebaikannya. Dengan cepat, Dong-wook menjawab, “Sebuah film!” Perlu waktu beberapa saat bagi Seung-yeon untuk memahami kalau Dong-wook ingin menonton film dengannya, yang disetujui oleh Seung-yeon. Dong-wook langsung bertanya lagi, “Kapan?”

Ini sedikit aneh, tapi Seung-yeon terus lanjut; dia merasa dia harus mengambil kopi itu terlebih dahulu, dan Dong-wook kembali berkata, “Malam ini.” Dong-wook juga memberitahu Seung-yeon kalau dia melihat Eun-young menangis, jadi Seung-yeon memarahi Jin-soo karena kelakuannya: “Untuk membuatmu nyaman, semua orang terjebak dalam posisi yang buruk.” Dia juga mengatakan kalau interview itu tidak akan membunuh Jin-soo dan merasa bersalah karena menuruti perintah Jin-soo sekarang hingga dia memikirkan pertengkaran itu.

Jin-soo tetap memusatkan perhatiannya pada pekerjaannya ketika Seung-yeon bicara. Tapi meski mengabaikan Seung-yeon secara terang2an, kata2 Seung-yeon benar2 masuk ke otak Jin-soo. Malam itu, Jin-soo meninggalkan hotel menuju ke kantor penerbit. Ketika Eun-young mengantar kakeknya keluar dan mengucapkan selamat tinggal, kakek bertanya apakah Eun-young sedang berpacaran dengan Jin-soo. Eun-young menjawab kalau mereka hanya bertengkar soal uang, tapi kakek tidak sepenuhnya percaya. Kakek memperingatkan Eun-young kalau hal itu bisa mengarah ke hubungan yang lebih jauh nantinya.

Selagi menyusun file di kantornya, Eun-young menemukan setumpuk foto yang merupakan foto2 lamanya saat masih kuliah. Dia tersenyum ketika membolak-balik foto2 wisuda, tapi suasana hatinya jadi suram saat melihat foto yang menggambarkan dirinya dengan Ji-won sebagai pasangan kekasih. Dia merobek Ji-won dari foto itu, lalu tetap bertahan pada foto yang menggambarkan empat orang: Jin-soo, istrinya, Eun-young, dan Ji-won.

Eun-young juga merobek foto Ji-won dari kuartet itu, lalu melipat fotonya hingga terkesan kalau dia yang duduk di samping Jin-soo, ketimbang istrinya. Dia memperhatikan foto yang sudah dirubah itu dan tidak menyadari kedatangan Jin-soo di belakangnya. Jin-soo memanggil dari pintu, yang sangat mengagetkan Eun-young hingga dia membuang foto itu dengan gugup ke tempat sampah. Foto yang berubah itu mungkin akan menimbulkan percakapan yang aneh, jadi Eun-young menghalangi pandangan Jin-soo ke tempat sampah.

Tentu saja, sikap Eun-young itu malah membuat Jin-soo semakin penasaran dan melanjutkan mendekat, pada saat itu, Eun-young mendorongnnya. Berdasarkan reaksi Jin-soo, dia menyimpulkan kalau itu adalah foto telanjang, lalu harus menambahkan kalau dia sudah pernah melihat Eun-young telanjang. Hal itu membuat Jin-soo mendapatkan tendangan di tulang keringnya. Lalu, Eun-young bertanya kenapa Jin-soo disini. Jin-soo mengatakan kalau rumor telah beredar jika Eun-young menangis sehabis interview, jadi dia kesini untuk memastikan kalau penerbit tidak bangkrut. Eun-young menertawakan perkataan itu.

Eun-young: Kau tidak punya kekuatan apapun untuk mengendalikan hidupku.
Jin-soo: Itu benar.
Eun-young: Secara alami. Ngomong2, kau siapa?
Jin-soo: Baik untukmu.
Eun-young: Kau bahkan bukan siapa2.
Jin-soo: Tepat sekali.
Eun-young: Hmmph.
Jin-soo: Kalau begitu, ya begitu. Aku pergi.

Eun-young tidak dapat mencegah dirinya untuk menanyakan dimana Jin-soo tinggal. Jin-soo menjawab kalau dia baik2 saja, jadi Eun-young tidak perlu khawatir. Eun-young bertanya, “Apa yang mengkhawatirkan?” Jin-soo menjawab, “Itu yang aku katakan. Tentu saja, kau bukan satu2nya orang yang mengkhawatirkanku. Ini hanya karena sekretarisku terlalu melebih-lebihkan.” Seung-yeon menelpon Eun-young untuk memeriksa keadaan lau menarik kesadaran Jin-soo untuk datang kesini. Eun-young tidak ingin jaminan kalau Jin-soo baik2 saja, dan dia tidak akan mengaku kalau dia khawatir… sama seperti Jin-soo yang tidak ingin terlalu peduli untuk datang kesini dan menjamin Eun-young. Jadi Jin-soo bisa menyalahkan sekretarisnya.

Selagi Jin-soo pergi ke apartemennya untuk mengambil beberapa buku, Eun-young punya segelas anggur di kantornya. Dia bertanya-tanya apa yang harus dilakukan pada Jin-soo, yang selalu tertawa dan bercanda ‘tanpa satu kata yang tulus.’ Sebuah telpon dari Jin-won membuat Eun-young menengok keluar jendela, dimana Ji-won mengintip dengan minumannya. Ji-won menawarkan diri untuk bergabung dengan Eun-young, dan Eun-young lalu menutup telponnya dan jendelanya. Eun-young menelpon Seung-yeon untuk bertanya di hotel mana mereka tinggal. Seung-yeon berusaha terus bungkam, tidak ingin melawan permintaan Jin-soo, tapi setelah mendengar kalau Jin-soo datang untuk bicara dengannya, Seung-yeon melemah. Eun-young menuju hotel itu, yang artinya kantor Eun-young kosong. Beberapa saat kemudian, Ji-won tiba dengan sebotol minuman.

Jin-soo meninggalkan kantornya ketika suara aneh menarik perhatiannya, yang berasal dari kantor penerbit. Dia berjalan mendekat ke kantor Eun-young dan menemukan sumber suara itu: Ji-won yang mabuk melempar-lempar isi keranjang sampah sambil menangisi foto yang sudah rusak. Ji-won tidak percaya kalau Eun-young tega menghilangkannya dari ingatan, ketika Ji-won selalu menghargai kenangannya. Dia lalu beralih ke Jin-soo untuk menangkan diri, yang mengalihkan perhatiannya ke foto yang dipertanyakan. Salah satunya menarik perhatian Jin-soo: foto yang Eun-young lipat untuk membuat gambar mereka berdekatan. Jin-soo memandangi foto itu untuk beberapa saat.

Eun-young tidak di hotel sebelum Jin-soo kembali dan mengatakan pada Seung-yeon, “Kau lebih mampu dari yang aku duga, sebagai seorang sekretaris.” Memutuskan untuk menunggu, Eun-young melakukannya sambil minum anggur. Seung-yeon menolak untuk minum dan hanya duduk di samping Eun-young, sedangkan Eun-young hanyut dalam pikirannya yang bertambah semakin melankolis ketika dia tambah banyak minum. Eun-young bertanya apa Seung-yoen mengalami kesulitan bekerja dengan Jin-soo, mengakui kalau dia mengalami kesulitan. Seung-yeon setuju kalau memang sulit pada awalnya, tapi semakin lama, dia semakin terbiasa, “Dan sekarang aku bahkan bisa menemukan pola apa yang akan dia bilang selanjutnya.” Eun-young mendesah, “Mengesankan. Ini hanya bertambah sulit untukku. Kenapa begitu? Pasti ada masalah denganku.”

Ketika Jin-soo tiba, hari sudah malam dan Eun-young tidur di kamar setelah menghabiskan sebotol anggur. Jin-soo meminta Seung-yeon untuk pulang malam ini, dan menyelimuti Eun-young di tempat tidur. Dengan foto itu masih segar di pikirannya, Jin-soo memandangi Eun-young dengan tatapan kacau. Jin-soo begitu tersita pikirannya hingga dia menjatuhkan ketel-nya dan menjatuhkan kopi yang dia buat. Seung-yeon yang baru saja akan pergi, membersihkan kotoran itu tapi Jin-soo malah membentaknya.

Jin-soo lalu melembutkan suaranya dan bertanya apakah Seung-yeon akan pulang, seolah-olah Jin-soo akan menyarankan sesuatu. Akan tetapi, karena Seung-yeon punya rencana – dengan Dong-wook – maka dia menyuruh Seung-yeon pulang. Seung-yeon merasa kalau Jin-soo punya sesuatu di pikirannya dan menawarkan dirinya untuk membatalkan rencananya sebab dia lebih suka tinggal bersama Jin-soo. Jin-soo meminta Seung-yeon tidak membatalkan, tapi dia malah mengundang dirinya ke acara itu. Seung-yeon setuju. Dalam perjalanan dengan bus, Seung-yeon menyebutkan bagaimana Jin-soo melakukan kesan pertama yang mengesankan. Faktanya, Seung-yeon berpikir kalau Jin-soo lebih penyendiri semakin sedikit seseorang mengenalnya. Dia menjamin kalau itu bukan berarti jika dia tidak menyukai Jin-soo sekarang, hanya saja ada perbedaan besar dari kesan pertama itu.

Ketika bus menepi, Jin-soo bergerak untuk menyeimbangkan Seung-yeon, yang membuatnya kaget. Seung-yeon menjelaskan kalau aneh rasanya melihat Jin-soo begitu perhatian setelah cara biasa Jin-soo memperlakukannya, tapi Jin-soo menjawab kalau Seung-yeon bukan pegawainya sekarang; Jin-soo hanya mengacaukan Seung-yeon ketika dia menjadi pegawainya. Jin-soo menambahkan, “Nikmati saja ketika aku memperlakukanmu seperti wanita.” Dan. Ada tatapan marah di mata Dong-wook ketika dia melihat teman kencannya membawa kencan!

Seung-yeon tetap tidak sadar dan perlu waktu beberapa saat bagi Jin-soo untuk menyadarinya. Pada awalnya, Jin-soo hanya merasa Dong-wook diam membingungkan, contohnya ketika Seung-yeon tersandung di kegelapan dan Jin-soo menarik tangannya untuk menyeimbangkannya. Lalu Jin-soo mengikuti Seung-yeon dalam barisan, meninggalkan Dong-wook di belakang, dan Dong-wook lagi2 memandang Jin-soo dengan tatapan tidak suka. Akhirnya, Jin-soo mengerti dan menawari Dong-wook tempat duduk di samping Seung-yeon. Hanya saja, kursi itu milik orang lain jadi Seung-yeon meminta Jin-soo untuk duduk di sebelahnya. Mendapatkan tatapan kesal sekali lagi dari Dong-wook, Jin-soo merenung, “Aku datang untuk menonton satu film dan mungkin berakhir dengan ditikam.”

Ketika yang lainnya menikmati film-nya, pikiran Jin-soo berkelana dan mendarat di sebuah kenangan lama. Dalam sebuha kilas balik, dia dan Eun-young sedang tertawa dan bicara ketika tiba2 Ji-won muncul, membuatkan tempat bagi dirinya sendiri diantara mereka serta membuat Jin-soo tersingkir, memonopoli perhatian Eun-young. Setelah nonton, Seung-yeon menyarankan untuk makan es krim, tapi Jin-soo menangkap gelengan kepala tak nampak Dong-wook padanya. Jin-soo permisi pulang dan memanggil taksi, dan jelas sekali Seung-yeon kecewa dan Dong-wook lega.

Di hotel, Jin-soo menemukan Eun-young tertidur di tempat tidur. Atau pura-pura tidur sebab dia bergumam dengan gugup, “Itu terdengar seperti suara Lee Jin-soo. Apa itu kau?” Jin-soo duduk di samping Eun-young dan tanpa membuka matanya, Eun-young berkata kalau Jin-soo akan menyesal bila Jin-soo kehilangan dirinya juga.

Eun-young: Kau tidak bisa melakukan apapun tanpa aku, bajingan. Kau tidak punya ketulusan. Karena kau tidak punya maka tidak ada yang memperlakukanmu dengan tulus. Bukannya aku tidak rakus – kau yang membuatku begitu, kau tahu itu? Aku tidak bisa membiarkanmu pergi begitu saja dengan ini.
Jin-soo: Biarkan aku sedikit kendor. Jika kau tidak melakukannya, siapa yang akan melakukannya?
Eun-young: Aku lelah pada hal itu. Kau sudah habis. Hidup seperti itu akan berarti akhir dari dirimu.

Kata2 Eun-young berefek pada Jin-soo, yang menghabiskan malam itu dengan merenung. Dia terjaga sepanjang malam dan ketika matahari terbit, dia tetap terbangun masih di ruangan dimana Eun-young tidur. Ketika Eun-young bangun, dia melihat Jin-soo masih duduk di samping jendela, menatap jauh entah kemana.

2 thoughts on “Sinopsis Coffee House – Episode 7

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s