Sinopsis Coffee House – Episode 6

Eun-young bangun dari mimpinya tentang kecelakaan yang membunuh istri Jin-soo dengan air mata di pipinya. Jin-soo masuk ke dalam ruangan dan melihatnya dan meski Eun-young mengatakan itu bukan apa2, Jin-soo tidak percaya meski dia tidak meminta penjelasan lagi. Para asisten (Hyun-joo dan Dong-min) bercanda soal situasi itu, membayangkan bagaimana lucunya bagi Jin-soo untuk datang ke Eun-young dalam keadaan seperti itu. Kalau orang lain, mungkin akan berakhir menjadi cerita romantis tapi bagi kedua orang ini, mungkin akan berakhir di pengadilan.

 

 

Seung-yeon bertanya tentang sejarah mereka, dan tahu kalau Eun-young berteman dengan istri Jin-soo yang sudah meninggal. Ini mengejutkan, sebab dia diberitahu kalau Jin-soo dan istrinya bercerai. Hyun-joo menjelaskan kalau wanita itu meninggal dalam sebuah kecelakaan tidak lama setelah mereka bercerai, yang membuat Dong-min bertanya, “Apakah itu pembunuhan?” Jin-soo tahu kalau Eun-young merasa sedih dan bertanya apa masalahnya. Eun-young menyediakan banyak alasan kenapa dia merasa tertekan – dia terluka, dia ada rapat yang dibatalkan, Jin-soo melihatnya telanjang – tapi sekali lagi Jin-soo merasa ada yang lebih dari itu.

 

 

Untuk menghibur, Jin-soo mengatakan pada Eun-young kalau dia benar: Eun-young memang punya figur yang mengagumkan. Eun-young membentak kalau Jin-soo bahkan tidak melihatnya, tapi Jin-soo menjawab, “Para pria bisa melihat apa yang berharga untuk dilihat dalah satu detik.” Jin-soo bahkan menawarkan untuk menggambarkan Eun-young sebuah gambar. Menjadi lebih serius untuk beberapa saat, Jin-soo mengatakan pada Eun-young kalau dia jadi tertekan bila melihat Eun-young tertekan, “Jadi berbahagialah.” Eun-young mengesampingkannya, meminta Jin-soo untuk menyingkirkan sikap manis itu. Jin-soo berkata, “Kau tahu aku tidak berpura-pura.”

 

 

Jin-soo punya banyak penelitian untuk dilakukan, dan dia bersiap-siap dengan sekretaris ‘kyak kyak’-nya – itu adalah suara yang Seung-yeon buat ketika dia menikmati hidupnya, yang Jin-soo tunjukkan pada Eun-young. Jin-soo mempraktekkan sikap dan mimic Eun-young dengan baik dan sangat mirip dengan yang biasanya dilakukan Seung-yeon. Begitu pulalah reaksi Seung-yeon ketika dia beroh-oh melihat kuda Andromeda Jin-soo. Setidaknya, itulah nama yang diberikan Seung-yeon; dan dia mengetahui dari pengurus kuda kalau nama kuda itu adalah Bok-soon. Suatu hari nanti, Seung-yeon akan belajar membedakan mana lelucon dan kebenaran, tapi bukan hari ini.

 

 

Seung-yeon kagum pada pemandangan sekitarnya dan betapa kerennya Jin-soo, tapi hari Seung-yeon tidak akan sekeren itu. Faktanya: Jin-soo menyuruh Seung-yeon bekerja memotret kotoran kuda. Tidak hanya satu jenis, tapi semua jenis, dari seluruh jenis kuda yang ada. Ketika dia selesai mengambil foto yang diminta, Seung-yeon akhirnya mampu melepaskan tisu yang dia gunakan untuk menyumbat hidungnya dan bicara pada Jin-soo. Saat Jin-soo menyerahkan sinopsisnya pada Seung-yeon, Seung-yeon kehilangan pegangan dan kertas itu terbang bersama angina ke tumpukan pupuk itu. Jin-soo mendesah kalau Seung-yeon tidak akan menjadi dirinya tanpa kekacauan seperti ini, lalu bertanya tajam, “Apa kau tidak tahu apa yang harus kau lakukan?” Seung-yeon kembali menggunakan tisu itu sebagai penyumbat hidung.

 

 

Dengan kecewa, Seung-yeon mulai mengambil kertas itu dari kotoran kuda itu, mencoba tetap berada sejauh mungkin. Yang artinya, ketika Seung-yeon menggapai kertas yang jauh, dia tersandung dan jatuh di atas tumpukan kotoran itu! Jin-soo tidak mau sekretarisnya penuh dengan kotoran kuda dan menawarkan diri untuk membantu membersihkan Seung-yeon. Jin-soo memegang pipa taman, membuat Seung-yeon menggeleng kepalanya dengan liar dengan campuran takut dan tidak mau. Dia bertanya, “K-kenapa? Apa yang akan kau lakukan?”

 

 

Jin-soo membiarkan Seung-yeon menerimanya, menyiram sekretarisnya dengan air dan menikmati setiap momennya. Ketika Seung-yeon berlari melewati jangkauan pipa itu, Jin-soo mengambil semangkuk air dan menyiram Seung-yeon dengan air itu. Seung-yeon membalas dengan pipa itu. Jin-soo kembali dan melempar seluruh buket ke arah Seung-yeon. Jadi Seung-yeon mengambil segenggam kotoran sapid an mengejar Jin-soo dengan itu. Beralih ke rumah sakit. Dengan kondisinya, Eun-young dipaksa menyerah dengan perhatian Ji-won saat dia datang untuk menjenguknya. Eun-young mencoba menarik tangannya sendiri tapi pegangan Ji-won kuat dan pergerakan Eun-young terbatas, jadi dia merinding selama Ji-won berpidato dan mencoba untuk mempercepat keberangkatan Ji-won.

 

 

Contohnya, ketika Ji-won memberitahu Eun-young kalau dia sedih saat Eun-young membela Jin-soo saat di gym tinju untuk mempertimbangkan melepaskan Eun-young pergi, Eun-young meledak, “Kalau begitu biarkan pergi!” Ji-won mengabaikan itu dan mencium tangan Eun-young, yang membuat Eun-young sekali lagi mencoba melepaskan tangannya, yang malah berakhir dengan sakit leher. Ji-won menikmati keuntungan untuk beberapa saat dan berkata kalau Eun-young tidak bisa kabur atau mengusirnya.

 

 

Sekarang Seung-yeon benar2 basah, Jin-soo menyarankan agar mereka membeli pakaian baru. Mereka berhenti di toko turis dan Seung-yeon mengambil T-shirt yang sangat normal, sedangkan Jin-soo mencoba meyakinkan Seung-yeon untuk mencoba kostum yang jelek. Seung-yeon menolak dan pergi untuk membayar bajunya, hanya saja mesin kartu kredit toko itu rusak. Seung-yeon tidak membawa uang tunai dan penjaga toko itu meminta teman Seung-yeon untuk membayarinya. Jin-soo menawarkan untuk membelikan baju buat Seung-yeon tapi kemudian Jin-soo melihat lagi baju konyolnya tadi. Jin-soo meminta Seung-yeon untuk berganti pakaian, menolak untuk membayarkan baju kecuali dia menyetujuinya.

 

 

Seung-yeon berubah menjadi bibi badut. Dengan Seung-yeon yang berdandan nyentrik seperti ini, Jin-soo bercanda kalau dia tidak akan kehilangan Seung-yeon sekarang. Seung-yeon bertanya apa selanjutnya di dalam jadwal, dan Jin-soo menolak memberitahu – bukan karena itu rahasia tapi jawabannya akan membuat Seung-yeon terganggu. Jadi saat Jin-soo memandang Seung-yeon untuk mengukur responnya, Seung-yeon menolak untuk memberikan kepuasan pada Jin-soo. Dia bertanya kenapa dan Seung-yeon menjawab kalau jawabannya akan mengganggul Jin-soo. Sebuah suara berdering membuat mereka berdua bingung, sebab keduanya tidak membawa hp ke Pulau Jeju. Suara itu ternyata berasal dari kantong Jin-soo, ternyata itu adalah hp yang diselipkan Eun-young, untuk tetap berkomunikasi ketika Jin-soo sedang bekerja.

 

 

Selagi Jin-soo bicara dengan Eun-young, Seung-yeon melihat seseorang tiba – Ji-won! – dan dengan cepat memperingatkan Jin-soo. Apapun alasan Ji-won ada disini, pasti tidak bagus. Mereka bersembunyi di pojok toko souvenir, bersembunyi di ruang pas ketika Ji-won melihat-lihat. Es krim Seung-yeon meleleh ke jaket Jin-soo dan Jin-soo membalas dendam dengan menyebarkan es krim itu ke wajah Seung-yeon. Benar2 gaya Jin-soo!!!

 

 

Tepat saat Ji-won berbalik untuk pergi, hp yang diselipkan tadi berdering, yang menarik perhatian Ji-won ke dua pasang kaki yang ada di ruang pas. Jin-soo mampu mematikan hp-nya tapi Ji-won menduga kalau sepasang kekasih semakin asik di balik tirai dan dia tidak tahan untuk mengintip ke ruangan itu untuk memeriksanya sendiri. Apa yang dia lihat lebih baik dari apa yang dia bayangkan sebab (1) dia menangkap Jin-soo dalam posisi yang menjanjikan, (2) ini memberinya gagasan kalau Jin-soo tertarik pada sekretarisnya, (3) yang artinya Jin-soo tidak akan mengejar Eun-young.

 

 

Seung-yeon melihat dari mobil saat Ji-won dan Jin-soo berbicara di tempat yang cukup jauh. Khawatir kalau perkelahian akan pecah, Seung-yeon mengumpulkan batu untuk mempersenjatai dirinya kalau2 dia perlu turun tangan untuk membantu Jin-soo. Jin-soo sendiri menduga kalau Ji-won ada disini untuk melakukan perkelahian yang lain, jadi dia kaget waktu mendengar Ji-won telah memutuskan untuk memaafkannya. Jin-soo bereakdi dengan jelas, ketika dia meminta Ji-won untuk tidak memaafkannya karena dia bersalah banyak pada Ji-won. Faktanya, dia mengerti jika Ji-won tidak pernah mau melihatnya lagi.

 

Pemberian maaf Ji-won datang dengan satu syarat – dia mengatakan pada Jin-soo untuk melupakan ketertarikan romantis pada Eun-young meski ini tidak penting karena Jin-soo telah mengarahkan ketertarikannya ke tempat lain. Ji-won menjelaskan keinginannya untuk membiarkan ini lenyap adalah karena mereka bertiga – tidak, berempat termasuk mantan istri Jin-soo – memiliki banyak sejarah bersama. Jin-soo kaget pada perkataan soal perasaan romantis antara dirinya dan Eun-young, tapi setelah mendengar yang keempat disebut, suasana hati Jin-soo menjadi muram.

 

 

Melihat percakapan itu dengan gugup, Seung-yeon hampir melepaskan senjatanya pada Ji-won, tapi senang ketika dia berjalan kembali ke mobil tanpa ada tanda2 kekerasan. Ji-won bertanya apa yang Seung-yeon lihat begitu menarik dari Jin-soo, lalu menebak kalau gadis muda itu lebih suka tipe yang paling gila. Ji-won memperingatkan Seung-yeon untuk tidak terlalu dekat, karena Seung-yeon akan berakhir dengan sakit hati. Seung-yeon tidak tahu apa yang Ji-won sindir dan merasa kalau perkataan Ji-won membingungkan.

 

Tapi pekerjaan Seung-yeon belum selesai: Jin-soo punya pesan untuk Ji-won, yang Seung-yeon diminta untuk mengirimnya. Ketika Seung-yeon mendengar apa pesannya, dia memaki dan meminta Jin-soo untuk mengatakannya sendiri. Jin-soo menjawab kalau dia mengatakannya, Ji-won akan membunuhnya. Hal ini adalah hal yang sama sekali tidak enak untuk diucapkan oleh Seung-yeon. Jadi dengan apresiasi tinggi, Seung-yeon mengetuk pintu mobil Ji-won dan mengulangi apa yang Jin-soo ucapkan. Seung-yeon berkata, “Jin-soo memintaku untuk mengatakannya seperti ini: Sunbae, aku tidak bisa memberitahumu sebelumnya, tapi jangan… bersikap seperti… seperti pecundang dihadapan Nona Seo (Eun-young). Benar2 memalukan untuk dilihat.”

 

Itu jelas mendapatkan perhatian Ji-won, dan itu belum semuanya. Seung-yeon menunduk ketika dia membawakan bagian terakhir dari perintah Jin-soo, dan mata Ji-won melebar waktu dia melihat gerakan tangan senonoh Seung-yeon. Setelah itu, Ji-won keluar dari mobilnya untuk mengejar Jin-soo yang kabur. Jin-soo tertawa puas saat dia menceritakan kisah itu pada Eun-young, tapi dia masih kesal dan bereaksi berbeda dengan Jin-soo. Kekecewaan Eun-young berbeda dari yang sebelumnya, sebab kelihatannya Eun-young cemburu pada betapa mudahnya Jin-soo akrab dengan sekretarisnya. Eun-young berkata kalau kelihatannya Jin-soo datang ke Pulau Jeju untuk bermain-main, yang dijawab oleh Jin-soo kalau pun itu tidak benar, “tapi sepertinya aku memang begitu, karena sekretarisku terus membuatku tertawa.”

 

 

Eun-young memohon pada Jin-soo tentang apakah Ji-won mengatakan sesuatu yang aneh dan kali ini Jin-soo tahu apa maksudnya. Akan tetapi, Jin-soo berpura-pura tidak tahu, dan meminta klarifikasi. Eun-young menyuruh Jin-soo pergi dengan berkata kalau Jin-soo perlu tidur dan Eun-young tidak ingin Jin-soo tinggal dengannya. Setelah Jin-soo pergi, Eun-young mendesah, membiarkannya terkubur – tidak seperti dia memancing Jin-soo untuk tetap tinggal, tapi dia ingin Jin-soo yang ingin tinggal.

 

 

Jin-soo kembali ke ruangan itu. Dia tidak melakukan pekerjaan besar, memilih untuk bersikap seperti ini bukanlah masalah besar dan bukan bentuk rasa peduli. Eun-young mengakui kalau manis rasanya bila Jin-soo menjaganya, menyebutkan kalau Jin-soo lemah pada dua hal: air mata dan sakit. Setengah bercanda, Eun-young mengatakan kalau dia seharusnya lebih awal, sebab dia belum pernah menerima sisi Jin-soo yang ini. Statemen tulus Eun-young hampir keluar dan Jin-soo membuat bagian percakapannya sembrono dengan mengatakan dengan menjadi sakit secara sengaja memang membuat Eun-young mendapatkan perhatiannya tapi menghilangkan daya tarik Eun-young, yaitu sikap cool-nya.

 

 

Sedangkan, Eun-young mengobrol dengan Hyun-joo, yang berkata kalau dia ingin punya klien terkenal seperti Jin-soo suatu hari nanti dan membangun perusahaan penerbitnya sendiri. Seung-yeon menganggap lelucon Hyun-joo serius tentang memburu Jin-soo sebagai klien, jadi Hyun-joo menjamin Seung-yeon kalau Jin-soo dan Eun-young akan tetap bekerja sama. Tidak hanya itu, kecuali Eun-young membebaskan Jin-soo lebih dulu, Jin-soo tidak akan pernah mengkhianati Eun-young dengan pergi begitu saja. Alasannya adalah:

 

Jin-soo punya sejarah mengadakan interview, pergi berbulan-bulan tanpa kenalan, lalu muncul tanpa diduga seolah-olah tidak terjadi apa2. Sebuah kilas balik menggambarkan skenario seperti itu. Penjelasan Hyun-joo masuk akal, tapi ternyata, bahkan ada alasan yang lebih dalan tentang ikatan mereka. Malam itu, Jin-soo tidur di sofa di ruangan Eun-young, sedangkan Eun-young memandangnya dengan murung. Mata Jin-soo terbuka, yang mengindikasikan kalau kilas balik berikutnya adalah milik Jin-soo, meski Eun-young juga berbagi pikiran itu.

 

 

Di masa lalu, Eun-young menggedor sebuah pintu dengan gila, tahu kalau Jin-soo sedang dalam masalah di dalam. Pegawai hotel membuka pintu untuk Eun-young, dan dia berhamburan masuk, melewati ruang tamu yang dipenuhi botol alkohol dan obat2an yang bertebaran. Di dalam kamar tidur, dia mendapati Jin-soo hampir tidak sadarkan diri, duduk di samping segelas air dan pil yang bertebaran lebih banyak lagi. Eun-young memohon agar Jin-soo bangun, menggoyangkannya dan menampar wajahnya, mencoba untuk mendapatkan respon. Kepala Jin-soo lunglai meski matanya terbuka dan dia sama sekali tidak bisa bereaksi.

 

 

Eun-young memegang kertas, mengatakan pada Jin-soo kalau ini adalah kontrak. Eun-young menghentakkan ibu jari Jin-soo untuk membuatnya sah dan bersikeras agar Jin-soo menandatangani kontraknya sekarang, yang artinya Jin-soo punya banyak pekerjaan di masa depan. Sambil terisak, Eun-young menampar Jin-soo lagi, meminta Jin-soo untuk menemukan keinginan untuk menulis lagi dan untuk itu tetap hidup – dan akhirnya Jin-soo mengangkat kepalanya dengan sedikit kehati-hatian dan dia pun menangis.

 

Dong-wook tahu kalau Seung-yeon sedang dalam perjalanan kerja, tapi dia tetap pergi ke café ayah Seung-yeon, penasaran ingin tahu apakah dia sudah kembali. Ini hari minggu jadi café itu tutup, seperti yang diinformasikan saudara Seung-yeon, Seung-chul. Dong-wook tetap tinggal dan bertanya apakah sesuatu ‘telah datang.’ Bingung akan kata2 yang dia tanyakan, dari Pulau Jeju… yang Seung-chul terjemahkan artinya sebagai jus. Atau mungkin jeruk? Apa lagi yang berasal dari Jeju? Dan ternyata Seung-chul berpikir kalau Dong-wook mungkin menanyakan kakaknya lalu memberikan senyum pada Dong-wook. Seung-chul pulang ke rumah untuk memberitahu info ini kepada ayah dan nenek yang takjub: noona mendapatkan prospektif pacar baru.

 

 

Jin-soo dan Seung-yeon diantar kembali ke Seoul oleh para pegawai, dan Jin-soo kaget mendengar bahwa Eun-young pergi pada pagi hari tanpa memberitahunya. Dia meminta Dong-min untuk menelpon Eun-young, yang dengan gampangnya Dong-min melakukan telpon bohongan dan melaporkan bahwa saluran Eun-young sedang sibuk pada saat ini. Ketika mobilnya menepi di bagian belakang café buku ketimbang di depan, Dong-min membuat alasan kalau sedang ada perbaikan.

 

 

Semua ini membuat Jin-soo berpikir kalau sesuatu yang aneh sedang terjadi, dan dia mencoba mencari tahu apa itu. Sayangnya, dia terlambat beberapa detik saja, sebab belum sampai Jin-soo membuka pintu depan, dia menyadari apa yang terjadi, dan terlalu terlambat untuk kabur. Eun-young telah merencanakan interview TV untuk Jin-soo, dan para kru TV itu sedang bersiap-siap dia tempat Jin-soo. Ketika Jin-soo berbalik untuk pergi, sekelompok pegawai yang merasa bersalah menghalangi jalannya.

 

Untuk itulah sulit meloloskan diri. Eun-young mengenalkan Jin-soo kepada sutradaranya, dan ketika Jin-soo memberikan tatapan sengit pada Eun-young, dia harus memberikan senyum ramah pada sang sutradara, lalu berkata dengan sopan, “Oh, jangan khawatir! Ini bukan apa2!” Jin-soo mengganti pakaiannya sebagai persiapan interview itu, dan setelahnya Eun-young mendekati dengan enggan, lupa pada kemarahan Jin-soo tapi ingin menenangkan semuanya. Eun-young berjanji kalau ini adalah hal terakhir yang dia paksa Jin-soo lakukan, dan mulai besok, Jin-soo bisa melakukan apa saja sesuai keinginannya. Ini adalah interview yang Jin-soo tolak sebelumnya, tapi yang Eun-young ingatkan kepada Jin-soo sebagai interview yang terpenting dan tidak dapat dihindari.

 

Jin-soo menebak kalau Eun-young telah merencanakan ini selagi dia duduk di sisi tempat tidur Eun-young di rumah sakit. Inilah kenapa Eun-young bersikeras ingin tinggal di Jeju sampai hari untuk interview-nya tiba, mencocokkan kepulangan Eun-young dengan jadwal interview untuk memastikan Jin-soo tidak pulang lebih awal. Eun-young telah mempersiapkan dirinya untuk reaksi Jin-soo, tapi dia merasakan sense Jin-soo terhadap pengkhianatan ini. Eun-young mencoba membela dirinya dengan mengatakan dia tidak menikmati ini, dan bertanya apakah mereka harus mengakhiri kontrak mereka setelah buku ini. Eun-young takut apa yang akan terjadi pada mereka jika mereka tetap seperti ini, yang mungkin akan mendaratkan mereka di pengadilan. Jin-soo berkata kalau Eun-young tidak perlu khawatir, karena Eun-young akan menang dan dia akan bangkrut.

 

 

Itu agak kejam dan Eun-young mengatakan pada Jin-soo dia bukan orang yang hanya akan menang di pengadilan. Jin-soo bertanya, jelas tidak percaya pada Eun-young, “Benarkah?” Eun-young berkata, “Benar.” Jin-soo bertanya dengan tajam lagi, “Benarkah?” Eun-young mulai menyerah dan berkata, “Jika kau benar2 tidak menyukainya…” Tapi kedatangan tim make up dan staff pendukung menggangu mereka, dan mereka mulai menyulap Jin-soo. Seung-yeon juga ada disana dan Jin-soo melakukan usaha terakhir untuk mengendalikan keadaan. Dia memberikan tatapan pada Seung-yeon – bukan sembarang tatapan, tapi tatapan penuh arti, seolah-olah Jin-soo ingin Seung-yeon membaca pikirannya untuk menangkap idenya yang tak terucapkan.

 

 

Jin-soo memperkenalkan Seung-yeon ke yang lainnya dan memberikannya pesan kode yang terdengar tidak berbahaya bagi pendengar biasa tapi menekankan artinya. Jin-soo berkata, “Kau sudah bekerja padaku selama tiga bulan sekarang, benar kan? Itu artinya kau harus mampu menebak apa yang aku maksud sekarang.” Tapi Jin-soo mengkombinasikannya dengan gerak matanya dan menekankan beberapa kata, Jin-soo memastikan bahwa Seung-yeon tahu dia sedang mengiriminya pesan. Seperti berkata, “Kau seharusnya tahu apa yang ingin aku lakukan.”

 

 

Setelah membisikkan kata2nya di pikiran Seung-yeon, Seung-yeon mengerti dan mulai bekerja. Dia berkeliaran di area kantor dengan santai, jadi tidak menarik perhatian yang tidak perlu, selagi Seung-yeon menarik barang2 Jin-soo. Sebuah pandangan keluar jendela memetakan rute keluarnya, dan dia berjalan perlahan ke rak buku untuk menghalangi pintu belakang, memindahkannya agar muat dengan satu orang. Seung-yeon membuka pintu dan membiarkannya terbuka sedikit.

 

 

Demikianlah saat Jin-soo keluar untuk melakukan interview, dia melihat kalau seung-yeon telah membangun rute pelariannya dan dengan santai berjalan ke belakang rak buku. Persiapan Seung-yeon memberikan keuntungan beberapa detik untuk Jin-soo dan dia bergerak menuruni tangga lalu keluar di jalan belakang, dimana Seung-yeon sedang menunggu dengan sebuah taksi. Para pegawai mengejar Jin-soo keluar apartemen, lalu ke jalanan dan benar2 kehilangan Jin-soo ketika taksi sudah melaju kencang.

 

 

Sebagai tambahan rasa putus asanya, Eun-young mengatakan kalau Jin-soo bersama Seung-yeon – seperti pelajaran Eun-young sudah tenggelam dan sekretaris itu telah menyatukan kesetiaannya kepada Jin-soo melalui Eun-young. Di dalam mobi, Seung-yeon bangga pada dirinya karena mengerti pesan Jin-soo dan mengusahakan pelarian ini dengan sukses. Di atas semua itu, dia berusaha mengemas barang2 dan keperluan Jin-soo.

 

 

Seung-yeon menjelaskan kalau dia khawatir akan menyalahartikan keinginan Jin-soo atau Jin-soo mengambil rute lain, tapi berhenti di tengah kalimat ketika Jin-soo menggapai untuk mengacak-acak rambut Seung-yeon dengan antusias, senang pada perubahan suasana ini.

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s