Sinopsis Triple – Episode 6

Tema untuk episode kali ini adalah ‘lompatan’ dan Ha-ru menjelaskan kalau penting untuk berusaha melompat tapi lebih penting lagi untuk melakukannya dengan aman dan indah. Jangan memikirkan akan jatuh atau menggapai yang tertinggi.

 

 

Tanpa ada iklan yang dikerjakan, Hae-yoon menghabiskan banyak waktunya di tempat Sang-hee. Hubungan mereka telah dilabuhkan ke alur yang nyaman – yaitu, sampai Jae-wook mampir dan bertanya apakah dia bisa berlindung di bar itu. Melihat Sang-hee yang dengan mudah menyetujui, Hae-yoon memandanginya dengan tidak percaya dan bertanya, “Apa kau gila?” Sedangkan, Hwal dan Hyun-tae nongkrong di kantor tanpa melakukan apapun. Ketika Hwal bangkit untuk menjemput Ha-ru di lapangan es, Hyun-tae mengatakan keprihatinan yang terjadi, “Berapa lama kau pikir kita akan bertahan seperti ini?”

 

 

Su-in menyerahkan sebuah CD kepada Ha-ru dan mengatakan padanya untuk membiasakan dirinya dengan itu – itu adalah musik untuk kompetisi besarnya. Mendengarkan musik itu dalam perjalanan pulang, Ha-ru mulai secara mental merancang programnya. Dia sedikit kaget waktu Hwal membenarnya satu idenya, kaget karena dia mengerti istilah skating dengan baik, tapi secara keseluruhan senang memikirkan, “Kau belajar karena aku, kan?” Ini membuat Hwal kesal lagi dan dia mengeluarkan CD-nya.

 

 

Hae-yoon senang waktu mendengar Ha-ru memanggilnya oppa, dan dia mengulangnya berulang-ulang kali. Tapi Hwal menghancurkan kegembiraan itu dengan berkomentar kalau Hae-yoon dan Ha-ru terlihat seperti ayah dan anak. Hae-yoon menjawab cepat kalau dia adalah oppa dan bukan appa. Hae-yoon bertanya dengan santai apa pendapat Ha-ru tentang Sang-hee yang membiarkan Jae-wook tinggal di tempatnya dan Hae-yoon senang mendengar Ha-ru mengatakan kalau hal itu aneh – ini sah saja kalau Hae-yoon tidak berlebihan bila dia merasa bermasalah dengan hal itu.

 

 

Su-in menanti kencannya dengan Hwal dengan perasaan gugup dan gembira. Dan malam itu berjalan dengan agak janggal. Contohnya, Su-in mencoba menceritakan cerita lucu tapi suasananya tegang dan semuanya berjalan dengan tidak mulus. Lucu juga waktu Su-in bertanya, “Apa kau mungkin punya banyak cerita lucu tapi pura-pura tidak punya?” Setidaknya Hwal tertawa mendengar itu. Su-in bertanya apakah semuanya seaneh ini waktu mereka pertama kali bertemu, dan Su-in senang mendengar jawaban Hwal, “Aku tidak tahu, ketika aku pertama kali bertemu denganmu, aku begitu gugup dan satu2nya hal yang aku ingat aku dengar adalah jantungku yang berdetak.”

 

Hae-yoon sudah tidak senang dengan Jae-wook yang tinggal di bar Sang-hee, tapi dia mengira itu hanya untuk sementara dan bertambah tidak senang lagi karena dia masih disana. Hae-yoon menemukan sikat gigi Jae-wook di kamar mandi, bersama sikat giginya dan Sang-hee. Dia menunjukkan itu pada Sang-hee dan frustasi ketika Sang-hee hanya bereaksi pada warnanya yang menarik. Hae-yoon kehilangan kesabaran dan bertanya, “Aku harus seberapa pengertian?” Dia mulai berteriak namun kemudian dia menahan dirinya. Hae-yoon melempar sikat gigi itu dan beranjak keluar.

 

 

Saat latihan skating, Ha-ru dan Hye-jin mengalami hari yang buruk: Ha-ru terus saja jatuh dan Su-in memaksa Hye-jin untuk tersenyum dan menunjukkan beberapa emosi dalam skatingnya. Ini menuntun ke suasana yang putus asa, yang hilang ketika Hyun-tae tiba2 muncul die s, tersandung dan meluncur, dan dia disini untuk kelas pemula. Ha-ru menyambut Hyun-tae dengan sikap hangatnya, tapi Su-in terganggu sebab dia tahu itu karena dirinya. Sesuai dengan ciri khas Hyun-tae, dia sama sekali tidak gentar dengan respon Su-in yang dingin dan mengatakan pada Su-in kalau sikap ini adalah bagian dari daya tariknya.

 

 

Setelahnya, Hyun-tae mengantar Ha-ru pulang dan saat mereka bersiap-siap untuk tancap gas dengan motor Hyun-tae, Poong-ho tiba dengan sepedanya dan melakukan aksi. Karena merasa terancam, dia bertanya siapa ‘bajingan ini’ dan bertanya-tanya apakah ini pria yang diberitahu Ha-ru yang disukainya. Ha-ru hanya memutar bola matanya pada kekanak-kanakan Poong-ho dan langsung pergi. Kaget, Poong-ho mengikuti mereka dan tidak berapa lama kemudian di rumah Ha-ru, berkeringat dan kehabisan nafas. Menggumamkan ketidaksenangannya, Poong-ho melompati pagar dan masuk, dimana dia melihat Hyun-tae lagi dan berteriak. Tapi sikap Hae-yoon membuatnya berhenti, merasa bersalah.

 

 

Setelah sedikit tenang, Poong-ho memperkenalkan dirinya sebagai pacar Ha-ru dan bertanya mereka siapa. Mereka tidak terlihat seperti saudara Ha-ru – apa mereka paman Ha-ru? Para pria ini merasa Poong-ho sangat muda dan menghibur, dan Hyun-tae melakukan sedikit lelucon, memperkenalkan diri sebagai suami Ha-ru. Poong-ho menarik nafas dengan tidak percaya selagi Hyun-tae melanjutkan leluconnya, memperkenalkan Hae-yoon sebagai mantan suami Ha-ru. Ha-ru memang sedikit muda tapi dia dewasa untuk wanita seusianya dan mereka hidup bahagia sebagai keluarga modern. Yang terakhir, Hwal diperkenalkan sebagai saudara laki2 Ha-ru – adik lelakinya, yang berlawanan dengan penampilannya.

 

Poong-ho cukup mudah ditipu oleh lelucon yang pertama tapi dia sadar setelah yang ketiga. Tapi ketika dia pergi, dia kembali lagi dengan tampang senang (sebab ancamannya sudah disingkirkan). Dia mengumumkan keinginannya dengan bertanya, “Hyungnim! Bisakah aku menjadi suami pertama Ha-ru?” Hwal menguruh Poong-ho pergi wajib militer dulu dan setelah itu mereka akan bicara.

 

 

Peringatan kematian ibu Ha-ru semakin dekat, jadi ayah menyuruh Ha-ru untuk menghormati ibu dengan pergi ke makam bersama Hwal. Ha-ru mencoba mengemukakan keinginan untuk mengunjungi makam orang tua mereka tapi Hwal yang sensitive tidak akan terima dan menghentikan dirinya. Malah, Hwal bertanya tentang latihan Ha-ru dan dia mengatakan kalau keinginan utamanya adalah fokus pada skating tapi sekarang dia sudah meningkat dan mendapat banyak pengalaman, dia juga menjadi lebih ambisius. Hwal kemudian berkata, “Jika kau ingin melakukan itu, lakukan saja, apa masalahnya?”

 

 

Bagi Ha-ru, ini tidak mudah – manusia tidak langsung mendapatkan apa yang dia inginkan – tapi filosofi Hwal sangat cocok dengannya dan Ha-ru menghargainya. Sekali lagi, latihan skating tidak berjalan dengan baik – Su-in frustasi lagi dengan skaternya – ketika Hyun-tae muncul untuk latihannya. Kali ini, dia melangkah ke es dengan meniru gaya Su-in, menunjukkan bagaimana tidak bergunanya menyuruh orang tersenyum dengan marah2, tapi melakukannya dengan ceria yang membuat gadis2 disana tertawa. Hyun-tae mengatakan pada mereka kalau pelatih mereka bermaksud baik, tapi mengingatkan mereka untuk tersenyum, memberi semangat pada keadaan yang serius itu.

 

Setelah latihan, Su-in memutuskan untuk mengambil pendekatan yang berbeda pada Hye-jin dengan memintanya datang lebih awal besok untuk mengajar kelas pemula. Secara alami, ibu Hye-jin yang pemarah tidak bisa menerima ini, tapi Su-in meminta Hye-jin untuk memikirkannya lagi. Ulang tahun Hwal semakin dekat dan Ha-ru memilih Hae-yoon untuk merencanakan pesta. Hae-yoon mengatakan pada Ha-ru kalau Hwal sudah tidak merayakan ultahnya selama 5 tahun, sebab orang tuanya meninggal sehari setelah ultahnya dan membuat suasananya menjadi muram. Masih saja Ha-ru ingin melakukan perayaan kecil dan mencari-cari foto yang menggambarkan ketiga pria itu ketika masih sekolah dan Sang-hee yang masih remaja.

 

Selagi mereka mencari ide, Hwal masuk ke dalam ruangan itu, yang membuat kedua pencari ide itu kelabakan menutupi rencana mereka. Hae-yoon berpura-pura bersikap tenang. Sedangkan, Hyun-tae yang tidak bisa tidur memilih untuk pergi ke halaman rumah Su-in dengan kantong tidur. Dia mengabaikan protes Su-in dan mengucapkan selamat tidur, menarik risleting kantong tidurnya untuk tidur. Keesokan harinya di tempat latihan, Hye-jin tersenyum bahagia sekali setelah mengajar kelas yang lebih muda. Tidak hanya menyenangkan terlibat dengan yang lebih muda, untuk beberapa alasan hal itu juga membantu menghilangkan bebannya, yang sudah mengganggunya.

 

 

Ha-ru bertanya pada Hye-jin, siapa yang lebih maju daripada dirinya, apakah ada sesuatu dengan gaya skating Hye-jin yang memberinya masalah. Bagi Ha-ru, spiral adalah yang termudah, jadi Hye-jin menyuruhnya mencoba, lalu mendorongnya untuk menahan kakinya lebih tinggi, lebih tinggi, dan lebih tinggi lagi hingga Ha-ru jatuh di es. Menggunakan hal ini sebagai contoh, Hye-jin mengatakan bahwa bahkan tugas yang paling mudah pun sulit.

 

 

Bond Factory: karena tidak adanya pekerjaan, Hwal mendapatkan ide, dipicu oleh setumpuk flyer yang tertambat di jendela mobilnya. Dia ingat apa yang dikatakan bos lamanya bilang dia lakukan ketika dia memulai perusahaan Koryeo – dia berkeliling dan melihat-lihat flyer yang di letakkan oleh pebisnis, lalu menggunakan itu sebagai titik awal untuk menawarkan pelayannya sendiri. Yang lainnya tidak antusias tapi Hwal memaksa. Untuk itulah, Hwal mendekati pemilik resto, dan produk mereka yang direvisi memperoleh persetujuan. Pekerjaan yang kecil tapi berhasil.

 

Hwal juga bertemu dengan president Bok Man Chicken, berharap untuk menggodanya melakukan iklan TV. Hwal tidak yakin sebab dia tahu president itu pelit dan anti kampanye mewah, tapi Hwal melakukan pendekatan asertif dan menunjukkan iklan competitor perusahaan itu. Hal itu menyakiti presiden, sebab itu membuat kompetitornya mendapatkan bisnis yang bagus, tapi dia mengatakan kalau iklan itu tidak bagus amat. Hwal kasihan, dengan berkata kalau dia mengerti bagaimana putus asanya melihat pekerjaan yang jelek menghasilkan kesuksesan bagi seorang rival. Presiden menerima pendekatan tidak masuk akal Hwal.

 

 

Dan inilah kompetisi skating. Dengan mengharukan, Poong-ho meminta temannya untuk membantu memberi semangat pada Ha-ru dengan tanda yang bertuliskan Lee Ha-ru ♥ Ji Poong-ho. Bukannya terbalik?! Ha-ru bertanding di grup terakhir dan memerangi groginya ketika dia melangkah di atas es, berskating ke program yang dia dan Hwal rancang. Lompatan Ha-ru lancar dan dia bekerja keras untuk elemennya – bahkan spiralnya lebih tinggi dari biasanya – dan mengakhiri program itu dengan bagus dan banyak tepuk tangan.

 

 

Hye-jin yang berikutnya dan Ha-ru mendoakannya semoga beruntung. Mereka masih bertengkar tapi mereka sudah mencapai level rasa hormat tertentu dan Hye-jin sudah melihat program Ha-ru yang mengesankan. Karena Hye-jin sudah berskating dengan baik, ketika dia melangkah di atas es, dia jatuh pada dua lompatan dan tersandung di lompatan yang lain, dan saat dia menyelesaikan programnya, dia tahu seberapa buruk dia mengacau. Lebih jauh semua orang kaget – Ha-ru yang selalu menjadi yang paling apes diantara keduanya dan kalau ada yang punya masalah, seseorang akan mengharapkan itu Ha-ru bukan Hye-jin.

 

 

Ha-ru memenangkan medali emas, yang dia hormati dengan senang, tapi suasana hatinya tegang karena bercampur dengan rasa kasihan pada penampilan buruk tak terduga Hye-jin. Su-in mengucapkan selamat pada Ha-ru yang melakukan pekerjaannya dengan baik, dan hal ini didengar oleh ibu Hye-jin yang meledak dengan marah kalau Su-in tidak pernah melatih dengan baik dan dia akan mengganti pelatih segera. Ha-ru mendekati mobil dengan ragu untuk bicara dengan Hye-jin yang terguncang, tapi Hye-jin tidak mengatakan apa2 dan menutup pintu sambil menangis.

 

 

Tanpa diduga, Hwal dkk mendapat telpon dari Presiden Bok Man Chicken dan mereka semua bertanya-tanya ada acara apa. Mereka takut kalau ini berita buruk, khususnya setelah presiden memulai dengan mengeluhkan iklan perusahaan pesaing, yang membuatnya terjaga semalaman. Untuk itu, dia mengumumkan pada ketiga pria itu kalau mereka sebaiknya melakukan pekerjaan yang bagus dan setidaknya lebih baik dari competitor dan Hwal dkk perlu waktu beberapa saat untuk menyadari kalau mereka baru saja mendapatkan proyek. Ketika mereka keluar, mereka takjub pada perubahan ini – sudah lama sejak mereka mengerjakan iklan TV, yang lebih menarik dan memuaskan ketimbang membuat flyer.

 

 

Presiden bahkan memberikan mereka sekotak ayam untuk dibawa pulang sebagai hadiah – dan saat inilah Hae-yoon dan Hyun-tae menyadari sesuatu. Mereka bertukar pandang dan memberikan tumpukan kotak mereka pada Hwal, dan bergegas pergi sambil mengatakan pada Hwal untuk memberikan ayam itu pada siapa saja dan dia akan melihat mereka di rumah. Ini membuat Hwal bingung dan dia tidak mengerti kepergian mereka yang buru2 sampai dia tiba di rumah. Lampu padam dan ketika Hwal mencoba menyalakannya, dia dituntun ke sebuah layar proyektor besar. Saat Hwal melihat ke layar, dia mulai melihat slide show dari foto lama Hwal saat masih sekolah, dan suara Ha-ru mulai terdengar:

 

 

Rekaman Ha-ru: Lihat, kakak – sangat menarik bahwa aku bisa melihat bagian dari dirimu yang tidak aku ketahui. Kakak yang dulu terlihat seperti temanku, dan juga seperti adikku. Shin Hwal, Jo Hae-yoon, Jang Hyun-tae, dan Kang Sang-hee remaja – aku menyukainya. Tapi kenapa kau lahir lebih awal? Akan lebih baik bila kau lahir belakangan. Hingga aku bisa mengobrol dengan kakak dalam gambar ini dan kita bisa nongkrong bersama. Terlalu buruk. Terima kasih sudah membiarkanku tinggal denganmu. Selamat ulang tahun, kakak.

 

 

Saat slideshow-nya berakhir, Ha-ru muncul dari tempat persembunyiannya dan mengucapkan selamat ulang tahun pada Hwal: “Mulai dari sekarang, aku akan membantu merayakan ulang tahunmu yang hilang karena aku.” Lalu Hae-yoon dan Hyun-tae muncul dari tempat persembunyian mereka dengan membawa kue, dan muncullah perang kue. Ketika Sang-hee muncul untuk bergabung dengan pesta itu, Hae-yoon mengabaikannya, masih kesal tentang Jae-wook. Meski saat Sang-hee mengatakan padanya kalau Jae-wook telah menemukan tempat baru, Hae-yoon tetap dingin. Mengerti kalau Hae-yoon masih marah, Sang-hee bicara dengannya agar ragu2, berharap ada gencatan senjata atau awal yang baru. Malahan, Hae-yoon memberitahu Sang-hee kalau mereka tidak cocok – mereka mungkin baik2 saja berkencan tapi akan sulit bagi mereka untuk melangkah ke hubungan yang lebih.

 

Sang-hee bertanya dengan enggan, “Apa aku membuat kesalahan?” Hae-yoon berkata datar, “Kau tidak membuat kesalahan. Aku yang salah karena berpikir kau akan berubah.” Sang-hee tetap ceria di depan yang lainnya tapi pulang lebih cepat. Saat Hwal mendapatkan sms dari Su-in, Hwal juga keluar dan menghancurkan pesta saat pemotongan kue. Setelah mabuk, Sang-hee menelpon Hae-yoon dari kursi taman di luar resto, meneriakkan permintaan maafnya dan menyuruh Hae-yoon menjemputnya. Hae-yoon bertarung dengan pikirannya sebelum keluar untuk menjemput Sang-hee, tapi dia tidak cukup cepat sebab Jae-wook menjemput Sang-hee lebih awal. Sang-hee tidak menelponnya tapi dia mengatakan kalau Hae-yoon tidak akan mampu melakukannya. Jae-wook lalu membawa Sang-hee pulang.

 


 

Hwal tiba di rumah Su-in dimana Su-in memberikannya kue. Ketika Hwal meniup lilin, Su-in melihat keluar dan menemukan Hyun-tae tiba di depan rumahnya dengan motornya. Hyun-tae melihat pemandangan itu di dalam rumah Su-in, lalu berbalik dan pergi dengan muram. Su-in juga tidak bereaksi dan Hwal pura2 tidak tahu. Hwal telah mendengar suara mesin dan tahu apa yang terjadi. Untuk itu, saat dia pulang ke rumah, dia furstasi pada Hyun-tae. Hwal berkata, “Semuanya masih rumit antara aku dan Choi Su-in, jadi jangan terlibat juga.” Plus, dia menasehati Hyun-tae untuk tidur di rumah, bukan di halaman depan seseorang, yang mengindikasikan kalau dia tahu hal itu juga.

 

 

Hwal menuju kamarnya, masih frustasi, dimana dia menemukan sepotong kue yang ditinggalkan oleh Ha-ru. Dia juga meninggalkan medali skatingnya dengan pesan yang mengatakan kalau dia memenangkan tempat pertama; dia seorang skater nasional sekarang. Hwal lalu memakan kue itu dan membangunkan Ha-ru untuk mengunjungi makam orang tua mereka. Ketika mereka berkendara, Hwal mengucapkan terima kasih pada Ha-ru atas pestanya dan meminatnya untuk tidak usah melakukan itu lagi. Ha-ru berujar, “Aku rasa aku mengerti bagaimana perasaanmu. Aku berpikir ketika lima tahun sudah lewat, aku tidak akan sedih lagi. Tapi aku tetap memikirkan ibu, setiap hari.  Juni adalah bulan yang kurang kau sukai, iya kan?”

 

 

Saat Ha-ru bertanya Hwal pergi kemana tadi, Hwal menjawab, “Pacarku.” Awalnya, Ha-ru berpikir Hwal bercanda, tapi ketika menyedari dia mengatakan yang sebenarnya, Ha-ru menjadi jengkel dan menolak melihat Hwal. Kuburan itu masih jauh jadi Hwal menepi untuk tidur sejenak. Ha-ru membicarakan soal nama mereka, berkata kalau dia diberi nama Ha-ru (sehari) sebab diperlukan waktu seharian untuk melahirkannya. Apa artinya Hwal? Ha-ru bertanya-tanya. Hwal tidak tahu dan menyuruh Ha-ru untuk tidur. Ketika Hwal bersandar dan menutup mata, Ha-ru menjelajah dengan tangannya mulai dari atas tangan Hwal hingga ke atas wajahnya. Hwal merasakan itu dan menyuruh Ha-ru untuk berhenti. Hwal membuka matanya dan melihat Ha-ru memandangnya dengan seksama, yang memberikannya perasaan aneh jadi dia berbalik dan menghadap pintu. Ketidaknyamanan Hwal menjadi-jadi, so dia keluar untuk menghirup udara segar.

 

 

Pada pagi harinya, mereka tiba di makam dan memberi hormat pada orang tua mereka, meninggalkan bunga dan membersihkan batu nisan. Ha-ru melihat nama mereka dicetak di penanda dan bertanya-tanya, “Kenapa aku adikmu?” Mereka menuju rumah setelah kunjungan mereka dan narasi Ha-ru menutup tema episode ini. Dia mengenang buku yang pernah dia lihat yang mengatakan bahwa jatuh dengan sayap, yang membuat Ha-ru tidak mengerti.

 

 

Narasi Ha-ru: Kenapa kau jatuh saat kau punya sayap? Tapi hari ini, aku tiba2 ingin punya sayap. Sayap yang membuatku bisa terbang tinggi, sayap kuat untuk membawaku ke tempat yang jauh…

 

Hari berikutnya sebelum berlatih, Su-in memberikan berita bagus untuk Ha-ru: Ha-ru sudah dijamin mendapatkan satu tempat dengan Hye-jin dalam kompetisi Eurasia yang akan datang. Ha-ru sangat merindign sedangkan Su-in menuju kantornya untuk beberapa saat, sampai perhatian Ha-ru teralihkan oleh suara hp Su-in. Dengan penasaran, Ha-ru mengintip pemandangan layarnya, yang menunjukkan foto Su-in dan Hwal dan penjelas, “Suamiku”. Penasaran dan kaget, Ha-ru mengangkap hp itu tepat saat narasinya berakhir:

 

 

Narasi Ha-ru: …. Meski aku jatuh pada waktu tertentu.

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s