Sinopsis Coffee House – Episode 5

Eun-young melihat keluar dari jendelanya, kaget menemukan Ji-won melotot padanya dari sisinya. Setelah mengetahui bahwa Eun-young dan Jin-soo sudah mempermainkannya seperti orang bodoh, dia sama sekali tidak senang karena sudah dikerjai habis2an, dan membanting jendelanya hingga tertutup. Eun-young sebenarnya marah karena Ji-won menutup jendelanya lebih dulu, sebab dia punya lebih banyak alasan untuk marah padanya ketimbang Ji-won kepadanya.

 

 

Di studio penulis, Seung-yeon dengan enggan mencoba menghentikan pembangunan domino Jin-soo. Seperti remaja yang mencoba mencuri tidur beberapa menit sebelum sekolah, Jin-soo memperpanjang deadline-nya lagi dan lagi – dia berjanji akan berhenti dengan domino itu pada siang hari, dan sekarang sudah lewat – dan Seung-yeon mengingatkan Jin-soo kalau hal yang dilakukan orang professional adalah menetapi janjinya. Tapi Jin-soo tidak memiliki itu semua dan satu2nya janji Jin-soo adalah dengan pihak penerbit.

 

 

Eun-young menelpon Seung-yeon dan menebak kalau Jin-soo kembali ke domino-nya. Menjamin bahwa dia akan bertanggung jawab, Eun-young meminta Seung-yeon untuk mencampuri urusan domino itu, dan, meski berlawanan dengan keinginannya, Seung-yeon melakukannya. Hal ini mendapatkan omelan kejam dari Jin-soo, yang menolak menerima telpon Eun-young dan melempar telpon itu. Di bawah, manajer Dong-wook telah mendengarkan akhir percakapan Eun-young dan khawatir apa artinya ini untuk Seung-yeon – tidakkah Jin-soo akan sangat marah padanya? Yang membuat Dong-woo kaget, Eun-young mengatakan kalau Jin-soo pasti kesal – Seung-yeon seharusnya menunjukkan kesetiaan pada bos-nya bukan kepada Eun-young.

 

 

Itulah yang terjadi pada Jin-soo dan berteriak pada Seung-yeon karena Seung-yeon tidak menyedarai pihak mana yang seharusnya dia pilih. Sambil memegang beberapa panah, Jin-soo berkata kalau salah satu dari mereka mengenai sisi hitam papan, maka Seung-yeon dipecat. Karena tidak mengharapkan hukuman yang mengerikan seperti ini, Seung-yeon hanya melihat dengan ngeri ketika Jin-soo melempar empat anak panah dengan ketepatan yang akurat. Putih – putih – putih – garis! Jin-soo memegang panah yang terakhir dan bertanya siapa yang akan Seung-yeon dengarkan, Jin-soo atau Eun-young? Seung-yeon berjanji akan mendengarkan Jin-soo, tapi Jin-soo berkata, “Sudah terlambat. Kau seharusnya tahu itu sejak awal.” Lalu melemparkan panah yang terakhir. Hitam.

 

 

Seung-yeon tidak dapat berkata apa-apa. Jin-soo menduga kalau Seung-yeon berharap semua ini adalah lelucon, lalu menjelaskan bahwa ini bukan lelucon dengan berkata, “Kemasi barang2mu!” Eun-young tiba untuk meminta Jin-soo berkonsentrasi pada naskahnya dan kaget mendengar kalau Jin-soo baru saja memecat sekretarisnya. Sekarang Eun-young merasa bersalah karena bagiannya dalam skenario itu, dan meminta Jin-soo untuk memikirkan ulang. Jin-soo menjawab kalau Eun-young merasa bersalah, dia bisa memberikan pekerjaan pada Seung-yeon. Melihat kalau Jin-soo tidak akan mengubah pikirannya, Seung-yeon mengemasi barang2nya dan mengucapkan selamat tinggal yang muram. Jin-soo bersikap tidak peduli pada kepergian Seung-yeon hingga Seung-yeon berusaha menahan tangisnya.

 

 

Akan tetapi, Eun-young kenal baik Jin-soo dan menebak kalau Jin-soo hanya menjadi seperti ini untuk memberikan pelajaran pada Seung-yeon dengan cara yang kejam. Jin-soo berkata kalau Seung-yeon terlalu bodoh hingga dia harus menjelaskan maksudnya benar2 jelas agar Seung-yeon mengerti untuk tidak melakukan ini lagi. Sekarang ancaman pemecatan yang sebenarnya sudah pergi, Eun-young bertanya-tanya kenapa Jin-soo tidak benar2 memecat Seung-yeon, karena dia toh tidak terlalu berguna. Jin-soo menjawab kalau lebih baik Seung-yeon ada disini ketimbang tidak.

 

Untuk memperjelas maksud Jin-soo tentang lebih memilih Seung-yeon disini, Jin-soo melihat pensilnya dengan kagum. Dia berpikir kalau itu adalah pensilnya, tapi ini adalah pensil yang Seung-yeon tajamkan. Inilah maksud Jin-soo – Seung-yeon punya kebiasaan mengeluarkan satu hal solid saat kau tidak mengharapkannya. Jin-soo sudah berencana untuk membiarkan Seung-yeon merana untuk beberapa hari, tapi sekarang dia menggapai telponnya sebelum mundur lagi. Dia akan menunggu 24 jam untuk memastikan pelajarannya benar2 meresap.

 

 

Saat Seung-yeon melangkah lemas, Ji-won yang ada di dalam mobilnya menepi di dekatnya. Setelah mendengar kalau Seung-yeon dipecat, Ji-won berjanji akan bicara pada Jin-soo soal itu, dan untuk itulah mereka sekarang berada di depan pintu Jin-soo bersama-sama. Jin-soo membuka pintunya dengan senyuman, berharap hanya melihat Seung-yeon, sebelum Ji-won menarik keras pintu hingga terbuka, dan membuat kehadirannya diketahui. Ji-won menarik kaos Jin-soo dan mengutukanya karena semua leluconnya. Dia menantang Jin-soo untuk bertinju.

 

Jin-soo sama sekali tidak mengharapkan ini sebab dia tahu kalau Ji-won adalah petinju amatir di masanya dulu. Jin-soo berkata pada Seung-yeon kalau ini pasti balas dendam Seung-yeon karena sudah memecatnya. Seung-yeon protes dengan berkata kalau Ji-won berjanji akan membicarakan semuanya dengan Jin-soo demi kepentingan Seung-yeon. Jin-soo menjawab kalau dia sudah mengatakan dengan jelas kalau dia tidak menganggap Ji-won sebagai teman.

 

 

Ji-won melakukan pemanasan dengan bersemangat, tidak sabar ingin balas dendam, sedangkan Jin-soo menyeret kakinya dengan lemas sebab dia tahu dia pasti kalah dan dengan enggan bergabung dengan Ji-won di atas ring. Ji-won memperingatkan Jin-soo kalau Jin-soo sebaiknya tidak mengkhawatirkan soal menang tapi sebaiknya memikirkan nyawanya saja. Jin-soo melakukan yang terbaik demi dirinya sendiri, dan meski dia sukses melayangkan beberapa pukulan, dia malah berakhir mendapatkan banyak pukulan. Karena sangat panik, Seung-yeon menelpon Eun-young untuk menghentikan semua ini.

 

 

Setelah memukul Jin-soo dengan serangan yang ringan, Ji-won mendaratkan pukulan pamungkas yang membuat Jin-soo melayang di udara dan jatuh di matras dengan suara keras. Ji-won belum selesai dan masih punya banyak serangan tapi Jin-soo masih berbaring di atas matras, dingin, jadi Ji-won meninggalkannya dengan peringatan agar Jin-soo tidak mengganggunya dan Eun-young lagi. Seung-yeon bergegas ke sisi Jin-soo dan dikuasai oleh kepanikan lalu mencoba membangunkan Jin-soo, berusaha dengan membuat semacam tekanan di dada. Ketika tidak berhasil, Seung-yeon bergerak untuk melakukan CPR. Tapi Jin-soo sebenarnya hanya berpura-pura pingsan saja jadi Seung-yeon sebenarnya tidak perlu melakukan itu. Jin-soo mendorong Seung-yeon dan mulai bergumam kesal – apa yang Seung-yeon pikir sedang dilakukannya?

 

Dalam perjalanannya keluar di koridor, Ji-won mendengar Jin-soo berteriak dan sadar kalau dia sudah dibohongi lagi. Bertambah marah, Ji-won kembali untuk melanjutkan pertandingan. Usaha Jin-soo untuk lari sebelum Ji-won memojokkannya di ring sangat lucu. Jin-soo tidak bisa lari lagi jadi dia terpaksa menjalani ronde ke 2, yang sama buruknya bagi Jin-soo dengan yang pertama. Eun-young datang dan menyuruh mereka berdua untuk berhenti. Dia menarik seutas tali untuk menarik JI-won dari Jin-soo dan berteriak pada kedua pria itu untuk berhenti. Eun-young menghadapi Ji-won dengan marah dan berkata kalau dia tidak dewasa – dia seharusnya membicarakan ini dengannya bukan berkelahi dengan Jin-soo.

 

 

Ketika mereka berjalan pulang ke rumah, Jin-soo mengomeli Seung-yeon karena ketidakmampuannya membedakan mana pingsan yang nyata dan mana yang bohongan. Untuk membela diri, Seung-yeon mengatakan kalau dia tidak berpikir Jin-soo akan berbohong tentang hal yang seperti ini. Bukankah para pria biasanya mengeluarkan performa terbaik untuk menang? Jin-soo bahkan tidak mencoba untuk menang, dan hingga akhir pertandingan, Jin-soo hanya menahan serangan2 Ji-won.

 

Jin-soo menjawab kalau Seung-yeon salah mengerti tentang apa yang perlu dilakukan seorang yang professional. Orang professional tidak perlu mengerahkan tenaganya untuk segala hal – menjadi professional berarti kau memfokuskan tenagamu dimana mereka paling diperlukan. Jika kau mencoba segala hal dengan setengah2, apa yang bisa kau selesaikan? Dia Jin-soo juga bergumam, bagamana dengan CPR tadi? Apa Seung-yeon berpikir kalau hal itu hanya dilakukan di setiap keadaan gawat? Jelas Seung-yeon terlalu banyak nonton drama.

 

 

Ingat kalau dia sudah meninggalkan sweater-nya di gym, Jin-soo mengirim Seung-yeon untuk mengambilnya, dimana dia secara tidak sengaja mendengar pertengkaran antara Eun-young dan Ji-won. Eun-young memuntahkan amarahnya pada Ji-won karena melakukan pertandingan itu, karena meskipun mereka benar2 mempermainkan Ji-won, dia tidak punya hal untuk semarah ini. Eun-young meminta Ji-won untuk melanjutkan hidupnya. Akan tetapi, Ji-won merasakan sesuatu yang lebih dari keadaan ini, dan bertanya apa hubungan Eun-young dengan Jin-soo – apa yang terjadi dan apa yang terjadi ketika dia pergi untuk membuat mereka kembali bersama? Kenapa Jin-soo mau menolong Eun-young?

 

Eun-young sama sekali tidak punya gagasan untuk menjawab pertanyaan2 itu dan berkata kalau Jn-soo mungkin hanya merasa bersalah atas keadaannya? Tapi Ji-won adalah orang yang sangat mudah curiga dan tajam dan tidak menerima penjelasan singkat itu. Dia yakin kalau Jin-soo pasti menyukai Eun-young – lalu melihat dengan lekat reaksi Eun-young dan bertanya apa dia juga menyukai Jin-soo. Kalimat Ji-won berikutnya penuh dengan ancaman saat dia mengatakan kalau hubungan diantara Jin-soo dan Eun-young tidak boleh terjadi dan Eun-young seharusnya tahu itu.

 

Ketika Eun-young meninggalkan ruangan, dia melihat Seung-yeon berdiri di koridor, dan berjalan dengan malu karena ada yang menyaksikan percakapan itu. Seung-yeon kembali ke kantor dengan sweater dan bertanya kenapa Jin-soo memilih menganggu Ji-won. Kelihatannya Jin-soo melakukan itu tidak murni karena dia tidak menyukai Ji-won, tapi Jin-soo menjawab pendek kalau semuanya memang seperti itu. Jin-soo meminta es dan tidak sampai Seung-yeon sibuk mempersiapkan itu bahwa dia menyadari kalau dia sudah dipecat hari ini. Dalam segala kesibukan itu, mereka kembali menjadi pegawai dan bos. Tapi sekarang Seung-yeon ingat kebenarannya. Seung-yeon mengingatkan Jin-soo semua ini dan dengan suasana kecewa Seung-yeon mulai meninggalkan kantor.

 

 

Jin-soo menghentikan kepergian Seung-yeon dengan pertanyaan sederhana: Bagaimana Seung-yeon menajamkan pensilnya? Hal ini menimbulkan senyuman kegembiraan di wajah Seung-yeon – kalau begitu dia sudah sukses? Seung-yeon gembira mendengar berita ini, dan mengatakan pada Jin-soo kalau dia menggunakan mikroskop untuk memeriksa pensil itu. Soalnya Jin-soo mengatakan padanya kalau penajamkan pensil bukanlah hal yang bisa dilakukan sembarangan. Jin-soo terkesan – dia tidak pernah berpikir kalau akan ada orang yang menggunakan mikroskop.

 

Eun-young mampir untuk minta maaf pada Jin-soo. Dia menjamin kalau dia akan menangani Ji-won lalu bertanya apa Ji-won mengatakan sesuatu padanya. Eun-young sangat ingin tahu apa Ji-won membagi opininya dengan Jin-soo tentang mereka yang menyukai satu sama lain. Melihat kalau Jin-soo tidak mengerti apa yang Eun-young maksud, Eun-young memintanya untuk melupakannya saja, berkata kalau Ji-won sudah banyak mengatakan hal2 tidak masuk akal. Eun-young mengatakan pada Jin-soo untuk mengabaikan apapun yang Ji-won katakan. Malam itu, Seung-yeon membaca soal CPR, dan kaget setelah tahu kalau CPR tidak cocok untuk semua keadaan darurat.

 

 

Eun-young menelpon untuk meminta bantuan, yang langsung ditolak oleh Seung-yeon, berpikir kalau dia akan diminta untuk melakukan hal yang tidak diinginkan Jin-soo. Dia benar2 memperlajari pelajaran itu. Tapi permintaan Eun-young adalah Seung-yeon berpura-pura kalau dia tidak pernah mendengarkan percakapan antara dirinya dan Ji-won, sebab Eun-young tidak ingin gossip menyebar diantara para pegawai. Bagusnya, Seung-yeon tidak cepat berpikir kesana, karena dia tidak terlalu memikirkan hal tersebut dan meyakinkan Eun-young kalau dia punya niat untuk menyebarkan gossip.

 

 

Dong-wook masuk ke Café ayah Seung-yeon malam itu, dan kehadirannya yang tidak terduga membuat Seung-yeon kaget – khususnya cara berpakaian Dong-wook. Berlawanan dengan penampilannya yang biasa, Dong-wook kali ini lebih terlihat konyol. Sebenarnya dia mirip sekali dengan Seung-yeon. Bahkan, Seung-yeon sendiri menyadari kemiripan mereka dengan menunjuk pakaian Dong-wook. Dong-woo berkata kalau dia kebetulan berada di sekitar sini. Padahal sebenarnya dia disini untuk memeriksa Seung-yeon setelah kejadian tadi di kantor.

 

 

Tapi Seung-yeon menerima jawaban Dong-wook dan menangani pesanannya. Seung-yeon grogi memberikan kopinya ke spesialistnya, tapi Dong-woo mengesap kopinya dan menutupi seringainya serta mengatakan kalau kopi itu enak sebenarnya. Ketika Seung-yeon berkomentar betapa Dong-woo beda sekali sekarang, Dong-woo menjelaskan kalau di Café dia merasa wajib untuk menampilkan imej tertentu. Itu jga kenapa dia tidak bicara terlalu banyak – dia sadar pada aksen-nya yang berbeda, yang dianggap tidak keren, jadi dia memilih untuk menjadi pendiam. Seung-yeon tertawa pada penemuan ini dan berkata kalau Dong-woo sebenarnya banyak bicara.

 

 

Selagi Seung-yeon mengantar Dong-woo keluar, ayah Seung-yeon menjawab hp-nya yang berdering, yang ternyata telpon dari Jin-soo. Ayah sudah minum cukup banyak jadi mood-nya berubah cepat sekali. Awalnya dia ramah dan ceria tapi lama kelamaan dia berubah menjadi sedih saat menceritakan bagaimana dia mengkhawatirkan Seung-yeon yang malang, yang sangat terluka setelah kematian ibunya. Jin-soo merasakan bersimpati saat mendengarkan meski dia tidak mengatakan apapun.

 

Saat Seung-yeon kembali dia menemukan pesan untuknya. Jin-soo memerintahkan agar Seung-yeon datang ke bandara dengan pakaian pantas dan dia hanya punya waktu satu setengah jam sebelum pesawat berangkat. Ketika Seung-yeon menemukan Jin-soo di bandara, Jin-soo melihat pakaian Seung-yeon dengan kecewa – apa Seung-yeon tidak mengerti pesannya kalau dia harus berdandan? Seung-yeon menjawab kalau ini adalah pakaian paling pantas yang dia punya – sampai Jin-soo menjawab kalau mereka akan pergi ke pemakaman.

 

 

Mereka terbang ke lokasi pemakaman di Pulau Jeju, tapi karena pakaian Seung-yeon yang pink cerah akan dianggap tidak menghormati, maka dia tidak bisa ikut dengan Jin-soo. Sayangnya, Seung-yeon telah melupakan hp-nya karena terburu-buru, tapi Jin-soo berkata kalau acaranya hanya setengah jam dan memerintahkan Seung-yeon untuk menunggunya di luar. Ini adalah kewajiban professional bagi Jin-soo, yang juga dihadiri oleh anggota perusahaan penerbit. Eun-young memberitahunya beberapa penerbit besar menunggu untuk bicara dengannya dan mengajak Jin-soo berkeliling untuk memberikan salam. Jin-soo menuduh Eun-young membuatkan banyak pertemuan untuk menjebaknya; Eun-young menjawab kalau dia harus mengambil keuntungan dari keadaan ini, sebab Jin-soo tidak bisa menunda pertemuan seperti yang mungkin dia lakukan di kesempatan lain.

 

 

Pertemuan itu memerlukan waktu yang lebih lama dari yang diharapkan dan salah satu kenalan mereka menyarankan agar mereka pergi ke tempat yang lebih tenang untuk melanjutkan perbincangan mereka. Pria itu akan terbang ke Jepang pada pagi harinya jadi dia ingin memanfaatkan kesempatan ini selagi dia bisa. Jadi mereka menuju ke rumah liburan pria itu untuk menghabiskan malam, dan belum sampai di mobil Jin-soo ingat bahwa dia telah melupakan sekretarisnya. Dia meminta supir untuk kembali dan menjemput Seung-yeon, tapi Eun-young bersikeras bahwa mereka tidak boleh membiarkan pria itu menunggu. Supir berjanji akan menjemput Seung-yeon tepat setelah mereka sampai disana.

 

 

Saat mereka sampai di rumah itu, Jin-soo duduk di dekat telpon untuk menunggu telpon dari supir setelah dia menjemput Seung-yeon – sekarang jam 2 pagi dan Jin-soo khawatir karena sudah meninggalkan Seung-yeon disana. Eun-young tidak terlalu dan bercanda kalau Seung-yeon bisa berubah menjadi sumber ketidaknyamanan. Sampai saat ini, Eun-young telah memperlakukan Seung-yeon dengan ramah dan selagi dia tidak kejam, candaannya kadang2 kejam. Dia menyebut Seung-yeon gadis dalam kekacauan.

 

Jin-soo menanggapi suasana yang tidak adil itu dan bertanya apakah gadis dalam bencana melakukan sesuatu pada Eun-young sehingga Eun-young berkata seperti itu. Eun-young hanya berkata kalau itu rasa sakit dan menuju kamarnya untuk istirahat. Tapi karma itu cepat sekali berjalan. Setelah melepaskan pakaiannya, Eun-young berjalan telanjang kaki ke kamar mandi dan terpeleset di lantai hingga jatuh cukup keras ke lantai. Akibatnya Eun-young tidak dapat bergerak dan membuat seluruh tubuhnya sakit, khususnya lehernya.

 

 

Untungnya, Eun-young memegang hp-nya, tapi dalam posisi yang memalukan seperti ini dia sama sekali tidak ingin meminta tolong. Eun-young menelpon pegawainya, Hyun-joo, sebab tidak memalukan bila meminta bantuan wanita lain. Tapi Hyun-joo masih ada di mobil dengan supir, dan sedang dalam perjalanan menjemput Seung-yeon. Mereka terbagi dalam dua tugas tapi memutuskan kalau orang yang terluka lebih penting dari orang yang menunggu lalu memutuskan kalau mereka harus kembali ke rumah itu. Tapi kemudian mereka ingat kalau Jin-soo ada disana, jadi Hyun-joo lantas menelpon Jin-soo untuk memintanya memeriksa Eun-young yang mungkin perlu bantuan medis.

 

 

Ketika Jin-soo membuka pintu, dia dan Eun-young sangat kaget dan malu. Dengan wajah memerah, Jin-soo langsung keluar dan bicara lewat pintu. Sedangkan, Eun-young sedang dalam percakapan dengan teman dokternya tentang langkah apa yang harus diambil – malu? Santai? Atau menertawakannya? Temannya itu meminta Eun-young untuk bersikap santai jadi saat Jin-soo datang sambil membawa handuk, Eun-young memaksa dirinya untuk menggoda reaksi Jin-soo, melucu kalau sosok Eun-young yang hebat pasti membuat Jin-soo malu. Jin-soo mengatakan kalau Eun-young memilih ‘konsep’ yang salah – seharusnya Eun-young malu – dan menertawakan Eun-young.

 

Eun-young tidak mau pergi ke rumah sakit dengan handuk, jadi dia meminta Jin-soo untuk menagmbil pakaian dari kopernya dan menyeringai malu waktu Jin-soo meraba-raba pakaian dalam bermotif leopard sebelum menemukan pakaian yang dimaksud. Semuanya bertambah buruk dari sana sebab Eun-young kesulitan memakai pakaiannya. Jin-soo akhirnya beraksi dan menarik pakaian itu hingga masuk ke tubuh Eun-young, yang benar2 memalukan buat mereka berdua.

 

 

Jin-soo bertanya dengan kata2 Eun-young sebelumnya – siapa yang menjadi gadis dalam kekacauan sekarang? Kau tahu tipe gadis yang bicara besar kemudian terluka dan memerlukan seorang pria untuk menyelamatkan dan membawanya ke tempat yang aman. Suasana berubah menjadi serius ketika Jin-soo melihat Eun-young dimasukkan ke ambulance, yang membawa kenangan yang kurang menyenangkan. Pandangan Jin-soo mengabur di cahaya lampu ambulance dan dia duduk di sisi Eun-young dengan suasana hati muram. Saat Eun-young mengomentarinya, Jin-soo mengingatkan Eun-young kalau ambulance tidak memberikan kenangan indah pada mereka.

 

 

Ketika mereka melaju menuju rumah sakit – dimana lokasi upacara pemakaman juga berlangsung – Jin-soo melihat sosok familiar dari jendela ambulance, berbaju pink. Itu Seung-yeon, yang masih menunggu Jin-soo di pinggir jalan. Saat Jin-soo memeriksa jam, sudah jam 5.30 pagi. Seung-yeon terluka dan marah dan bertanya kenapa Jin-soo tega membiarkannya menunggu disini selama hampir 6 jam. Jin-soo merasa bersalah hingga rasa marah pada dirinya keluar dalam pertanyaannya langsung pada Seung-yeon, kenapa Seung-yeon berdiri disana saja tanpa memikirkan rencana cadangan. Tidak bisakah Seung-yeon memikirkan cara untuk menangani situasi semacam ini?

 

 

Seung-yeon membalas kalau dia sudah mencoba memikirkan alternative, tapi dia takut kehilangan kedatangan Jin-soo – dia bahkan tidak pergi ke kamar kecil sekali pun sebab dia tidak ingin pergi jika/ketika Jin-soo datang. Dan bagaimana kalau Jin-soo marah padanya lagi? Seung-yeon lelah kalau harus diomeli oleh Jin-soo sepanjang waktu. Dengan nada lebih tenang, Jin-soo mengatakan kalau dia minta maaf, dan tahu kalau dia menyusahkan Seung-yeon hari ini. Kata2 sederhana itu mampu membuat Seung-yeon tenang, sebab Jin-soo belum pernah meminta maaf padanya sebelumnya. Itu juga membuat Seung-yeon mencair dan dia tersenyum pada Jin-soo.

 

Jin-soo berkata kalau sekarang dia sudah minta maaf jadi sekarang waktunya memarahi Seung-yeon – kenapa seorang sekretaris bisa melupakan hp-nya dan berdandan seperti itu ke acara pemakaman? Tapi kalimat2 itu tidak ada efeknya sebab Seung-yeon terlalu sibuk tersenyum. Jin-soo mengirim Seung-yeon ke ruang istirahat, dan selagi dia menunggu, suara ambulance membawa kenangan pahitnya kembali:

 

 

Dalam sebuah kilas balik, ada sebuah kecelakaan berdarah. Seorang wanita dinaikkan ke ambulance dengan darah meluncur dari lukanya. Eun-young dan Jin-soo yang masih muda duduk di sisi wanita itu. Jin-soo terisak. Ingatan ini juga muncul di kepala Eun-young dalam tidurnya, dan dia bangun di rumah sakit sambil menangis.

 

 

 

 

 

 

Iklan

2 thoughts on “Sinopsis Coffee House – Episode 5

  1. HUAAAAA coffee house !! ryni suka filmnya !!! suka-suka-suka !
    endingnya bagus,g nyangka kalo Jin Soo bakal sama Seong Yeon … 😀
    teruskan sinopsis chapternya… 😀

  2. ihh..pengen bget nonton dramanya, tapi ga dpat2
    lanjutin donk sinopsis selanjutnya..penasaran nih…
    ya..ya..ya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s