Sinopsis The Return of Iljimae Episode 11

Mendengar putranya disebut, sikap beku Baek-mae berubah menjadi sinis; dia dengan datar menyangkal kebenaran itu meski ketika Gu menceritakan masa lalunya, tentang bagaimana Baek-mae dipaksa untuk menyerahkan bayinya. Untuk menyakinkannya, Gu mengatakan pada Baek-mae bagaimana putranya tidak diasuh dengan baik tapi malah ditinggalkan untuk mati dalam kedinginan. Untungnya, anak itu diselamatkan dan dibesarkan dengan nama Iljimae dan juga, Gu mungkin telah menemukannya.

 

 

Baek-mae beraksi dengan campuran harapan dan keputusasaan – bagaimana dia bisa yakin kalau Gu telah menemukan orang yang benar, bahwa Iljimae adalah putranya? Ketika Gu Ja-myung mengatakan puisi yang Baek-mae ditinggalkan bersama bayi itu, Baek-mae akhirnya mempercayai Gu, meski dia diselimuti oleh rasa bersalah pada pikiran bahwa dia sudah salah selama ini, berpikir bahwa putranya selamat dan dibesarkan dengan baik.

 

 

Soo-ryun mendengarkan ketika Gu setuju pada permintaan Baek-mae untuk mengatur pertemuan dengan anaknya, lalu melihat dengan ketenangan dingin ketika Gu menambahkan: “Dan ketika aku membawa Iljimae padamu, aku ingin menjadi ayahnya.” Kalimat ini membuat Baek-mae kaget; Gu melanjutkan, “Biarkan aku menjaga kau dan Iljimae.” Baek-mae berpikir kalau Gu sedang mengasihaninya, merasa sulit percaya kalau Gu sudah memendam perasaan padanya selama 20 tahun. Gu menjamin bahwa dia tulus, “Aku mungkin melihatmu satu kali dua puluh tahun yang lalu, tapi selama dua puluh tahun ini, tak sehari pun aku tidak memikirkanmu.”

 

Baek-mae menjawab dengan pesimis kalau sudah terlambat sekarang, dia sudah jatuh terlalu jauh – dia tidak ingin membodohi dirinya dengan memikirkan kalau kebahagiaan itu ada padahal sebenarnya tidak ada. Gu menjawab, “Kebhagiaan itu tidak pergi, kebahagiaan itu ada disini.” Gu meminta jawaban sebelum dia pergi. Baek-mae meminta waktu untuk memikirkannya selagi Gu mencari putranya. Ketika Baek-mae sudah merubah pikirannya, dia akan mengabarkan.

 

 

Kembali ke Hanyang dimana Iljimae memulai karirnya dalam perampokan terhadap para bangsawan. Dia menargetkan bangsawan dan pejabat pemerintah yang korup. Iljimae mengendap malam2 ke rumah mereka dan mencuri barang haram yang mereka miliki. Tidak ada yang tahu siapa yang ada di balik pencurian itu, karena satu2nya tanda kegiatan pencuri itu adalah bunga plum emas yang ditinggalkan pencuri itu saat beraksi.

 

 

Bae Sun-dal khawatir kalau kalahnya dua gang bandit berarti bahwa Iljimae akan pergi bersembunyi atau pensiun dan khawatri kalau Iljimae Jeon (Riwayat Iljimae)-nya sudah berakhir. Akan tetapi, Cha-dol muncul dengan gembira, membawa berita menjanjikan tentang pencuri yang baru saja beraksi – pencuri yang hanya mencuri dari orang kaya tak bermoral dan meninggalkan bunga plum. Pencuri itu pasti Iljimae.

 

 

Kejadian berikutnya adalah kejadian yang menggambarkan orang2 miskin yang tidak mampu membeli makanan atau obat. Iljimae melihat perjuangan mereka untuk hidup dan dengan diam-diam meninggalkan uang dan bunga plum emas di depan rumah mereka yang mereka temukan dengan gembira. Berita segara menyebar kalau penolong baik hati mereka adalah Iljimae.

 

 

Mempelajari tanda bunga plum Iljimae, Perdana Mentri Kim marah setelah menduga-duga kalau emas Iljimae berasal dari batang emasnya yang dicuri. Dengan hidupnya legenda Iljimae setiap hari, bahkan Wang Hweng-bo iri pada keberuntungan Iljimae. Dia dan mantan bos Bongsuni bersembunyi di sebuah kamar sewaan untuk menghindarkan diri dari masalah, dan ini membuat Wang Hweng-bo bosan dan lelah. Dia berkelana keluar dalam sebuah misi yang diperbaharui dan insting mencurinya tetap tidak bisa diam dan terus mengincar target – kali ini seorang pria yang membawa sekantong uang.

 

 

Kejadian ini kembali begitu lucu. Dan bertambah semakin lucu. Wang Hweng-bo mencuri kantong uang pria itu dan sang korban sadar lalu mengejar Wang. Wang lari dengan cepat tapi kelihatannya sang korban masih belum mau menyerah. Wang akhirnya menghadapi pria itu dalam kelelahannya dan meminta pria itu untuk bersumpah agar tidak mengejarnya lagi. Bah! Pria itu kembali mengejar. Wang meratap karena pria itu melanggar janjinya dan terhuyung-huyung menyelamatkan diri.

 

 

Ketika Wol-hee mengganggap Keol-chi sebagai ayah mertuanya, Keol-chi mengatakan pada Wol-hee bahwa hanya karena dia dan Iljimae tinggal bersama bukan berarti mereka menikah. Juga, dia berkata dari pengalaman ketika dia memperingatkan kalau Iljimae adalah pria yang mungkin menghilang kapan saja.

 

Ini tidaklah mengganggu Wol-hee sebelumnya, tapi sekarang dia memikirkannya. Keol-chi ada benarnya juga. Tanpa pernikahan, dia tidak punya jaminan Iljimae akan terus tinggal dengannya dan ini mulai membebani pikirannya. Untuk itu, dia sedang dalam suasana hati tidak pasti saat makan malam, bersungut-sungut kalau Keol-chi wajib berkontribusi dalam biaya rumah tangga – dan saat Keol-chi berkata, “Bagaimana kalau menjadi ayah mertuamu?” Wol-hee mengulangi kata2 Keol-chi padanya bahwa dia bukan ayah mertuanya karena Iljimae dan dirinya tidak menikah.

 

 

Pada saat mengucapkan kata ‘menikah’, Iljimae mengunyah makanannya dengan matanya melihat berkeliling dengan waspada. Keol-chi menjawab kalau mereka tidak punya uang untuk mengganti biaya2 itu jadi Wol-hee menyuruh mereka berdua untuk bekerja untuk mempertahankan tempat mereka di rumah itu. Wol-hee menugaskan mereka untuk menangani pekerjaan seperti menyiapkan makanan, mencuci, dan belanja ke pasar. Karena para pria yang menyiapkan makanan, Iljimae bertanya-tanya apakah dia wajib menikahi Wol-hee. Keol-chi menjelaskan dengan bijak jika Wol-hee bersikap seperti ini karena dia merasa tidak pasti – hanya Iljimae yang dia punya, dan apa yang akan terjadi dia dia bosan dan meninggalkan Wol-hee suatu hari nanti?

 

 

Berikutnya mereka pergi berbelanja di pasar dimana Wol-hee melihat belanjaan Keol-chi dan Iljimae. Wol-hee terlihat marah tapi sebenarnya kelihatan jelas juga kalau dia menikmati semua ini. Dan di pasarlah mereka melihat kebengisan penagih hutang, Shim Chan-kyu, mengancam seorang pedagang dengan hutangnya.

 

Pedagang itu meminta belas kasihan tapi Shim malah menyuruh anak buahnya untuk memukuli orang itu. Pedagang itu hanya meminjam 30 nyang dari Shim tapi bunga yang Shim berikan membuat hutang itu menjadi 300 nyang. Pertemuan dengan penagih hutang itu memberikan ide selanjutnya bagi Iljimae, jadi dia mengendap malam itu untuk menuju target selanjutnya. Dia melewati Keol-chi yang sedang tidur, tapi menemukan Wol-hee berdiri di halaman.

 

Wol-hee sedang dalam suasana hati yang murung dan bertanya-tanya dengan sedih bagaimana mereka bisa terus hidup bersama jika Iljimae selalu menyelinap tiap malam. Melihat kesedihan Wol-hee, Iljimae berpikir beberapa saat. Lalu berkata, “Wol-hee… mari atur sebuah kencan dan menikah.” Wol-hee tidak langsung menjawab, jadi Iljimae bertanya dengan gugup apa Wol-hee tidak mau menikah dengannya. Wol-hee dengan cepat menjawab, “Siapa bilang aku tidak ingin?” lalu melanjutkan kalau dia akan memikirkan ini.

 

 

Menuju ke rumah Shim Chan-kyu, Iljimae menemukan banyak batangan emas dan harta lainnya, semuanya diperoleh melalui kekejaman dan ada juga tumpukan surat2 berharga Shim. Shim terbangun dan melihat bunga plum emas dan malah senang karena mendapatkan batangan emas lagi. Aneh. Padahal, emas itu hanyalah kompensasi atas semua emas milik Shim yang sudah Iljimae ambil. Yang terburuk adalah Iljimae membakar surat hutang Shim dihadapan pria itu.

 

 

Shim protes tapi Iljimae mengancam akan memotong lehernya dan tidak hanya tangannya bila dia melanjutkan dengan bunga tinggi. Shim dengan takut setuju untuk berhenti. Iljimae pergi dari rumah itu tapi Shim tidak dengan mudah akan membiarkannya pergi. Dia memanggil semua anak buahnya termasuk petarung bayaran (Petarung Seo), seorang petarung besar dengan senjata pedang besar bernama ‘wal-do’ (pisau bulan). Seo menyusul Iljimae dan keduanya saling beradu pedang masing2.

 

 

Bae Sun-dal dan Cha-dol, seperti biasa, telah mengikuti Iljimae dengan harapan menyaksikan lebih banyak aksi heroiknya. Mereka beroh-oh dan ah-ah waktu kedua petarung beraksi dengan pedang mereka, melompat ke udara saat mereka menyerang dan menangkis serangan. Akan tetap, Bae dan Cha-dol mulai khawatir kalau Iljimae tidak mendominasi pertarungan seperti yang telah mereka harapkan. Iljimae memegang pedangnya sendiri dan menangkis semua serangan wal-do tapi kelihatannya dia tidak melakukan banyak kerusakan dalam membalas. Cha-dol marah – apa ini artinya Iljimae kalah saing?

 

 

Ketika Iljimae kabur, Cha-dol lebih khawatir lagi bahwa Iljimae tidak akan mampu mengalahkan pria ini. Bae menduga kalau ada alasan lain bagi aksi Iljimae itu, dan mereka mengikuti pertarungan itu dari halaman ke sebuah paviliun.

 

Saat bagian pertama pertarungan ini membosankan, bagian yang kedua justru lebih seru. Bae memperhatikan kalau Seo sedang dilucuti – semua senjata punya kelemahan dan Iljimae sedang mencari kelemahan senjata Seo. Yaitu, wal-do berat dan besar, dan untuk menghadapi, Iljimae mengajak Seo bertarung berputar, membuatnya bingung, memukul dan lari. Pria besar dengan pedang besar itu tidak punya kesempatan untuk bereaksi tepat waktu.

 

Iljimae sangat cerdik. Dari atas paviliun dia turun ke bawah untuk melanjutkan pertarungan itu. Pada titik ini, Seo mendapatkan masalah dengan pedangnya yang besar itu. Akhirnya, Iljimae bahkan tidak perlu senjata untuk mengalahkan Seo – dia menyerang pria itu di bagian dada dengan tangannya, lalu melompat dan menjebak Seo ke pilar dengan tendangannya.

 

 

Cha-dol dan Bae praktis berteriak girang karena pertarungan ini sangat keren. Memiliki berita segar, Cha-dol sekali lagi menceritakan kisahnya pada pendengar yang penasaran dan dia memberikan dirinya sedikit tempat. Dia berkata kalau dia menasehati Iljimae, “Ingat tuan, semua senjata punya kelemahannya!”

 

 

Soo-ryun berdandan seperti wanita dengan hanbok ketimbang dandanannya dengan tomboy-nya dengan damo seperti yang selalu dia kenakan selama ini. Dia menjelajahi kota dan berhenti di toko yang menjual perhiasan rambut. Dia tidak membeli apa2 lalu mulai melanjutkan perjalannya – lalu dia kembali untuk membeli penjepit rambut.

 

 

Soo-ryun tiba di rumah Gu sambil membawa sebuah surat tapi tidak ingin dia berikan langsung. Gu terlihat kaget dari ruangan dengan wallpaper dan bertanya, “Kenapa kau berdandan seperti wanita?” Soo-ryun menjawab, “Aku tidak berdandan seperti wanita, aku seorang wanita!” Gu tertawa hampir lupa pada kenyataan itu – dia selalu mempercayai Soo-ryun sebagai bawahan tapi tidak sebegai wanita, yang membuat Soo-ryun kecewa. Gu sedang menyiapkan kedatangan Baek-mae dan ketika Soo-ryun mengingatkan kalau Baek-mae belum memberikan jawaban, Gu mengaku, “Jika aku tidak melakukan sesuatu, aku pikir aku tidak akan tahan menunggu.”

 

 

Soo-ryun menyerahkan surat itu, yang datang dari desa ginseng. Dengan segera, Gu menyambarnya, tahu kalau surat itu adalah balasan dari Baek-mae dan dengan penasaran membacanya. Jawaban Baek-mae membuat Gu dikuasai oleh senang dan gugup. Baek-mae telah memutuskan untuk menerima lamaran Gu meski kekhawatiran wanita itu adalah Iljimae mungkin tidak akan mau bertemu dengannya. Tapi jika Iljimae setuju untuk sebuah reuni, Baek-mae setuju untuk memulai awal yang baru.

 

Akan tetapi, Petugas Jung-tae membawa pesan tentang perampok baru di kota, yang mencuri dari orang kaya korup dan membagi harta hasil curian itu di kalangan orang miskin. Berita itu sampai dengan terlambat ke pihak yang berwenang sebab tidak satu pun dari korbannya yang melaporkan perampokan itu. Dan parahnya, nama perampok itu adalah Iljimae.

 

Iljimae dan Keol-chi membantu mencuci pakaian (sebagai pekerjaan baru mereka) dan keduanya membantu Wol-hee menjemur pakaian. Wol-hee bertanya-tanya apakah Iljimae akan bertanya apakah dia akan menikahinya, jadi Iljimae bertanya. Wol-hee menjawab kalau dia sudah memikirkannya berulang-ulang dan memutuskan untuk setuju. Iljimae tersenyum kecil, tapi reaksi keseluruhannya begitu biasa jadi Wol-hee mengulangi, “Aku bilang aku setuju.” Iljimae tersenyum lebih lebar dan menggangguk sambil berkata, “Terima kasih.”

 

 

Dan Wol-hee mengharapkan sesuatu yang lebih. Reaksi Iljimae begitu biasa hingga dia merasa agak kesal. Wol-hee mengalihkan perhatiannya ke cucian, menggoyangnya begitu kuatnya. Iljimae mengikuti Wol-hee ke tali jemuran dan bertanya, “Ada apa? Aku bilang terima kasih.” Wol-hee ingin jawaban yang lebih dari itu.

 

Sekarang giliran Iljimae yang menyibukkan diri dengan cucian, berpindah dan Wol-hee mengikutinya di bawah tali jemuran. Wol-hee berpindah ke samping Iljimae dan memintanya untuk mengatakan sesuatu, jadi Iljimae menyeberang ke sisi yang berlawanan. Mungkin Iljimae tidak ingin mengatakan sesuatu sebab dia merasa sangat bingung. Dia sangat menginginkan Wol-hee tapi ada sesuatu yang menahannya. Akhirnya Iljimae menemui Biksu Yeol-gong.

 

 

Biksu itu berkata karena tidak ada hubungan keluarga atau alasan politik dalam kasus mereka, pernihakan seharusnya bagi dua orang yang saling mencintai. Apa ini artinya Wol-hee sudah memasuki hati Iljimae? Sudahkah Iljimae melupakan Dal-yi? Iljimae terlihat kaget pada pertanyaan itu dan menjawab, “Aku ingin melindungi Wol-hee. Aku dulu lemah dan tidak bisa melindungi Dal-yi. Tapi Wol-hee…” Tapi Biksu Yeol-gong memotong, “Aku bertanya apakah Wol-hee sudah memasuki hatimu? Kalau begitu, apakah Wol-hee sudah mengambil tempat Dal-yi?” Iljimae tidak suka pikiran itu, “Bukan begitu.”

 

 

Biksu Yeol-gong mendekat dan menunjuk dada Iljimae, “Ayo tanya hatimu langsung. Apa orang di dalam sana Wol-hee atau Dal-yi?” Dengan sedikit gugup, Iljimae bertanya, “Apa katanya?” Yeol-gong menjawab, “Kenapa kau bertanya padaku tentang hatimu?”

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s