Sinopsis Coffee House – Episode 4

Saat sedang membaca buku tentang UFO dan kemampuan telepati mereka, Ji-won menerima sebuah paket tanpa pengirim di kantornya. Paket itu berisi dompet dan hp-nya. Kelegaannya segera berubah menjadi kecurigaan – bagaimana pencurinya tahu kemana harus mengirim dompetnya? Dan dimana kunci mobilnya?

Tentu saja, kunci mobil itu ada pada Jin-soo. Tanpa menjelaskan tujuannya, dia memerintahkan Seung-yeon untuk mengambil kunci itu dan mengendarai mobil itu ke lokasi tertentu. Karena sekarang sudah terbiasa pada permintaan aneh Jin-soo, Seung-yeon mengendarai mobil itu ke sebuah lokasi pembangunan, memarkirnya sesuai perintah lalu melanjutkan tugas yang kedua. Akan tetapi, waktu dia tiba di kantor dan mulai melaporkan tentang masalah es, Jin-soo menyuruhnya untuk diam. Masalahnya disini sedang ada Ji-won yang menceritakan tentang kejadian aneh yang menimpanya.

Ji-won menyimpulkan kalau ini bukanlah pekerjaan alien dan untuk itu, ini pasti ulah manusia. Jin-soo bersikap seolah-olah ini adalah misteri yang rumit dan mamutar otak untuk mempersempit kecurigaan Ji-won terhadap seseorang. Dia dapat ide: mungkinkah ini penguntit Eun-young? Ini hanya hipotesis tapi Jin-soo mengarang cerita yang sangat masuk akal. Bagaimana kalau Eun-young punya penguntit yang sudah mengawasinya selama bertahun-tahun dan merasa terancam dengan kemunculan Ji-won? Kejadian baru2 ini bisa jadi ulahnya yang ingin memperingatkan Ji-won agar menjauh. Lepas dari semua itu, Jin-soo telah mempelajari orang gila untuk sebuah cerita, jadi dia tahu bahwa menjadi gila karena cinta adalah hal biasa.

Jin-soo adalah penulis hebat dan dia menjual ide dengan sangat baik – meski ceritanya terdengar aneh di telinga, tapi Ji-won memercayainya. Dia harus bergegas pergi ketika dia mendapatkan telpon dari seorang pekerja konstruksi yang marah – mobil Ji-won diparkir di lokasi pembangunan mereka dan menghalangi truk. Setelah Ji-won pergi untuk menangani masalah ini, Jin-soo tertawa lepas. Seung-yeon belum menyadari apa yang terjadi sampai telpon tentang mobil itu dan dia memandang Jin-soo dengan sedikit rasa kecewa.

Jin-soo menebak apa yang sedang dipikirkan Seung-yeon, “Pria itu telah melewati batas dan menjadi gila. Semua itu tidak cukup untuk menyiksaku jadi sekarang dia menggunakanku untuk menyiksa orang lain? Kenapa pula aku harus menjadi sekretarisnya? Aku seharusnya menurut saja waktu ayah menyuruhku berhenti.” Hal ini membuat Seung-yeon merasa ngeri tentang bagaimana Jin-soo dengan baik dapat membaca pikirannya. Sebab, secara garis besar itulah yang dia pikirkan.

Tapi kemudian, Jin-soo mengatakan kalau Seung-yeon mungkin juga berpikir bahwa kejahatan semacam ini memerlukan waktu dan usaha yang besar. Sebenarnya mudah saja membuat marah orang yang dibenci – seperti mantan pacar Seung-yeon misalnya. Tapi untuk membuat pacar Seung-yeon jatuh menggunakan kecerdasan Seung-yeon? Itu adalah sebuah ketrampilan. Jika hal itu bukan bagian dari ide asli Seung-yeon, maka sudah jelas sekarang – Jin-soo bisa sangat meyakikan kalau dia memang mau.

Di lokasi pembangunan, Ji-won mencoba menjelaskan pada sekelompok pekerja bangunan yang marah. Dia tidak bisa melakukan apa2 terhadap mobilnya sebab dia tidak punya kuncinya. Tepat saat kerumunan sulit dikendalikan, seorang pria tiba dengan sebuah antaran untuk Ji-won, yang ternyata adalah sebuah balok es dan di dalam balok itu kunci mobil Ji-won dibekukan. Banyak hal yang dilakukan: memecahkan, memukul, membakar – pokoknya banyak ha yang dilakukan para pekerja dan Ji-won untuk mengeluarkan kunci mobilnya. Sampai akhirnya, Ji-won bisa berkendara lagi.

Ketika Ji-won menggapai kotak kaca di mobilnya, sebuah kertas meluncur yang ternyata dari penjahat yang memperingatkan Ji-won untuk berhenti mengejar Eun-young. Jin-soo menyarankan agar Ji-won wajib mempertahankan sikap rendah hati untuk bisa berada jauh dari radar penguntit. Untuk itu, Ji-won lebih baik menjauh dari Eun-young selama beberapa waktu.

Yang melihat semua ini terungkap adalah Seung-yeon, yang mendapatkan ketenangan karena tidak menjadi satu2nya mainan Jin-soo – ini membuktikan kalau dia tidak bodoh karena percaya pada kebohongan sang penulis. Jin-soo sangat pintar berbohong.

Lebih jauh, ini adalah keuntungan buat Eun-young dan dia sangat menghargai itu. Ternyata sudah seharian tidak tidak mendengar apa2 dari Ji-won – untuk kali ini, dia tidak mengganggu Eun-young dengan telpon atau sms. Sebuah senyuman merekah di wajah Eun-young waktu dia bertanya-tanya apakah ini artinya Jin-soo telah sukses dengan rencananya. Dia dengan lembut menempelkan stiker di poster Jin-soo dan menepuk kepalanya.

Seung-yeon melihat Dong-wook naik bus dan mengikutinya. Dengan enggan dia mengganggu Dong-wook yang sedang mendengarkan musik untuk minta maaf karena sudah mengira dia bisu. Dong-wook sudah melupakannya tapi sekarang suasana menjadi aneh jadi Seung-yeon melakukan usaha keras untuk memulai percakapan. Seung-yeon bertanya dari mana Dong-wook berasal dan sebagainya. Sikap diam Dong-wook dan ketidaksamaan mereka membuat percakapan itu menjadi janggal.

Melihat Dong-wook memegang headset-nya membuat Seung-yeon merasa bersalah karena telah mengganggu Dong-wook dari musiknya dan menyuruhnya melanjutkan saja mendengarkan musik. Dong-wook dengan sopan menolaknya tapi Seung-yeon berkata tidak apa karena dia bisa mendengarkan musik juga. Setelah itu, Seun-yeon meraba-raba ke dalam tas-nya untuk mencari MP3-nya tapi Dong-wook melekatkan headset-nya di telinga Seung-yeon jadi mereka mendengarkan musik dalam diam dan tidak terlalu tahu bagaimana menangani situasi ini.

Dan tibalah tahap paling rendah dimana Seung-yeon berpikir bagaimana Dong-wook salah mengerti ucapannya – dia tidak menyarankan agar mereka mendengarkan bersama. Seung-yeon tidak bisa menolak dan semakin lama mereka duduk disini, semakin aneh jadinya. Sementara itu, Dong-wook begitu sopan di luar tapi dia dalam, dia juga berpikir (menggerutu) kalau Seun-yeon sangat berani karena mengundang dirinya sendiri untuk mendengarkan musik bersama ketika Dong-wook lebih suka bila mendengarkan musik sendiri saja. Mereka berdua mendesah, “Ah, ini aneh. Benar-benar aneh!”

Sudah sebulan Seung-yeon menjadi sekretaris dan di atas itu semua, Jin-soo telah memberikannya beberapa hari istirahat, berkata kalau tidak ada yang bisa dilakukan Seung-yeon sebab dia punya kesulitan menulis. Hari berikutnya Seung-yeon tiba di tempat Jin-soo, dia disambut oleh pemandangan yang tidak biasa. Suasananya gelap dan pintu dibiarkan sedikit terbuka dan dia secara tidak sengaja menggerakkan susunan domino di ruang tamu. Dan ketika kita tiba di ujung lorong, kita menemukan Jin-soo yag terlihat lemas – dia tidak bercukur dan terlihat kusut. Karena dia masih sedang menyusun susunan domino itu, dia berteriak dengan frustasi dan mendelik. Kemudian, dia memberi libur pada Seung-yeon lagi.

Keesokan paginya, Seung-yeon muncul dan menemukan Jin-soo sedang bekerja membangun benteng domino. Jin-soo berkata kalau Seung-yeon sekarang juga boleh libur. Seung-yeon membuatkan Jin-soo kopi juga dan meruncingkan pensil. Jin-soo meneguk kopinya dan melihat pensil yang diruncingkan Seung-yeon. Jin-soo kemudian menunduk dengan letih dan bertanya apakah Seung-yeon belum bosan sampai sekarang. Dia sudah melakukan perhitungan untuk menemukan berapa pensil yang Seung-yeon runcingkan dengan sia2 dan mengatakan sekarang sudah saatnya mengambil petunjuknya. Apakah Seung-yeon masih berpikir dirinya bisa sesuai dengan syarat Jin-soo?

Seung-yeon dengan enggan berkata bahwa dengan waktu yang lebih banyak, dia bisa. Jin-soo mengejek dan menyuruh Seung-yeon untuk pulang ke rumah – satu2nya hal yang bisa dilakukan Seung-yeon untuknya sekarang hanyalah membuat kopi dan meruncingkan pensil tapi karena Seung-yeon tidak bisa melakukan keduanya maka tidak ada alasan kenapa Seung-yeon harus berada disini sekarang. Dengan penuh harap, Seung-yeon memberitahu Jin-soo kalau pekerjaannya adalah membuat Jin-soo menghilangkan stress-nya. Tapi Jin-soo dengan letih menjawab kalau hal itu perlu waktu dan usaha, yang keduanya tidak dimiliki Jin-soo sekarang.

Untuk itulah ketika Eun-young menelpon Seung-yeon untuk memeriksa perkembangan Jin-soo, Seung-yeon sedang berada di rumah. Mendengar tentang perubahan sikap Jin-soo, Eun-young langsung tahu kalau ada yang salah dan bertanya apakah Jin-soo sedang melakukan hal2 dengan domino lagi. Mendengar kepastian Seung-yeon, Eun-young hanya bisa mendesah karena ini artinya naskah Jin-soo akan terlambat. Eun-young merasa tidak nyaman karena kebetulan dia berada di Busan untuk sebuah seminar. Untuk itulah, dia tidak bisa datang dan mengusir kesuntukan Jin-soo. Seung-yeon menawarkan diri untuk kembali dan memeriksa Jin-soo tapi Eun-young melarangnya karena Seung-yeon tidak akan mampu melakukan apa2. Ketika Jin-soo menjadi seperti ini, hanya Eun-young yang bisa membuatnya menjadi diri sendiri lagi.

Ada satu hal yang bisa Seung-yeon lakukan yaitu melihat tempat Jin-soo saat dia sedang keluar – Jin-soo pasti menyimpan pil tidur di suatu tempat. Kemudian ada pemandangan yang mengerikan: Ji-won berjalan melintasi lobi hotel. Eun-young bersembunyi agar tidak dilihat tapi dia terlambat dan Ji-won melihatnya. Ji-won takut mendekati Eun-young disini karena dia telah sengaja menjauh karena masalah penguntit itu. Karena itulah, Ji-won tetap siaga kalau2 ada penguntit di lingkungan ini. Dia memandang seorang pria dengan curiga, padahal pria itu hanya memakai masker kesehatan.

Tidak berapa lama kemudian, Ji-won mampir ke kamar Eun-young untuk mengajaknya minum (yang membuat Eun-young cemas). Eun-young pasti dengan senang hati menyingkirkan Ji-won dan tahu kalau akan lebih mudah bila mengerjai Ji-won ketimbang memperngaruhinya dengan hal yang masuk akal. Dia melakukan telpon cepat lalu mengundang Ji-won masuk untuk minum anggur. Ji-won menganggap ini sebagai tanda positif gembira karena sudah membuat kemajuan, atau setidaknya dia berpikir begitu.

Tepat saat Eun-young menyarankan agar memesan piring keju dari room service, ada ketukan di pintu. Itu adalah room service dengan piring keju. Selagi Eun-young terlihat bingung, Ji-won menyimpulkan dan memutuskan kalau ini adalah pekerjaan dari seorang penguntit. Dia segera bergegas keluar dan melihat sebuah sosok dan mengejarnya, meninggalkan Eun-young sendirian yang mendesah karena Ji-won itu idiot. Ji-won tidak bisa melacak penguntit yang dimaksud lalu menuju ke bawah ke ruang room service untuk menanyakan siapa orang yang melakukan pemesanan. Yang mengagetkan, Ji-won mendapatkan jawaban kalau yang melakuka pemesanan adalah seorang wanita – wanita yang ada di ruangan bersama Ji-won.

Seung-yeon tidak bisa tidur malam itu, tetap terjaga dengan kekhawatiran tentang Jin-soo. Dia membayangkan skenario tiada akhir tentang Jin-soo yang beralih ke pil untuk membantu tidur dan overdosis. Dia marah memiliki kekhawatiran tentang kemungkinan gila itu, tapi apa yang bisa dia lakukan? Hanya dia yang bisa membantu Jin-soo di keadaan seperti ini. Seung-yeon mengendap-endap keluar rumah, tapi kemudian berhenti – bagaimana kalau Jin-soo kesal padanya karena mengganggunya di jam seperti ini? Dia baru saja akan memarahi diri sendiri ketika mendapatkan telpon. Yang membuat Seung-yeon kaget adalah ketika dia sampai di rumah Jin-soo, penulis ini terlihat normal.

Jin-soo minta maaf karena menelpon Seung-yeon di tengah malam. Tapi Seung-yeon menjamin kalau itu tidak apa2 karena dia juga tidak bisa tidur. Jin-soo bertanya kenapa tapi tentu saja Seung-yeon tidak bisa mengatakan apa yang membuatnya tidak bisa tidur jadi dia hanya menjawab pertanyaan dengan kebohongan. Sekarang ke permasalahan pemanggilan: Jin-soo berbaring di tempat tidurnya dan menepuk tempat di sebelahnya untuk Seung-yeon dan menyuruhnya untuk tidur di sebelahnya. Seung-yeon benar2 merasa tidak nyaman pada hal ini tapi Jin-soo menjelaskan kalau dia tidak bisa tidur karena suara2 tertentu dan ingin Seung-yeon juga mendengarkan. Inilah yang membuat Jin-soo tidak bisa tidur selama beberapa malam dan sekarang dia sangat ingin tidur.

Seung-yeon sebenarnya sedikit kecewa, yang langsung dikomentari Jin-soo – apakah Seung-yeon berpikir dia dipanggil untuk membantu mencari ide? Seung-yeon menjawab kalau dia berharap bisa membantu. Sedikit tidak nyaman, Seung-yeon naik ke tempat tidur dan Jin-soo memerintahkannya mendengarkan dengan cermat suara itu. Yang pertama adalah suara gitar tapi ada suara tambahan yang membuat Jin-soo tidak bisa tidur. Seung-yeon menekan telinganya ke tempat tidur yang membuatnya berhadap-hadapan dengan Jin-soo. Tapi Jin-soo tidak memerhatikan karena matanya tertutup tapi hal ini membawa efek besar terhadap Seung-yeon jadi dia cepat2 berbalik kea rah lain.

Kemudian Seung-yeon kembali ke tugasnya dan sekarang dia bisa mendengarkan suara kedua, yaitu suara berlari. Tidak yang lebih spesifik adalah suara orang melompat tali. Tapi itu belum selesai, Jin-soo punya yang ketiga – yang paling mengganggu – dan mereka mendengarkan dengan cermat untuk tahu itu suara apa. Dan saat Seung-yeon mengetahuinya, suara itu membuatnya tertawa – itu suara porno. Kemudian Jin-soo memerintahkan, “Sekarag temukan suara2 itu.”

Tugas ini membuat Seung-yeon kaget – sendirian? Di jam seperti ini? Seung-yeon mngumpulkan semangatnya dan keluar. Dia sangat ingin menemukan suara2 itu dan membuat mereka diam. Seung-yeon membuat telinganya siaga. Dia berjalan kesana kesini di lingkungan itu dan mendengarkan semua suara satu per satu dengan cermat, lalu membuat mereka tenang. Jin-soo tahu kapan setiap suara ini berhenti dan ketika yang terakhir diam – pria porno itu mendengarkan dengan headphone – Jin-soo tersenyum dalam tidurnya.

Seung-yeon kembali dengan gembira, bangga pada pencapaiannya. Dia melihat Jin-soo tidur begitu lelap. Meski dia tidak bisa mendapatkan pujian atas pencapaiannya, dia tersenyum melihat pemandangan itu. Dia memindahkan kaca mata Jin-soo lalu mematikan lampu dan berjinjit keluar. Ini memberikan kesempatan besar pada Seung-yeon untuk mencari pil tidur dan dia menemukan sebuah botol di laci Jin-soo. Ini juga membuat perhatian Seung-yeon beralih ke naskah yang dikerjakan Jin-soo lalu mengambil halaman paling atas untuk dibaca.

Cerita itu dimulai dengan deskripsi seorang wanita yang bermain hula hoop di tengah malam. Telpon berdering dan dia berusaha menggapai telpon itu masih dengan hula hoop-nya. Semakin jauh Seung-yeon membacanya, dia menjadi tambah senang – jadi dia dulu bermain hula hoop untuk sebuah alasan. Dia senang mengetahui kalau semua usahanya tidak berakhir sia2.

Seung-yeon mengganti pil Jin-soo dengan vitamin dan membuang pil tidur itu ke tempat sampah. Dia juga mencabut telpon untuk membiarkan Jin-soo tidur nyenyak. Dia pergi dengan tenang dan bangga pada pekerjaannya hari ini. Akan tetapi, dalam usahanya untuk menjinjit, Seung-yeon terpeleset dan jatuh dari tangga dan mendapati hidungnya berdarah. Seorang ibu cleaning service berlari ke Seung-yeon dengan khawatri dan kaget melihat hidung Seung-yeon yang berdarah. Seung-yeon begitu inginnya bersikap tenang jadi dia bahkan tidak tahu hidungnya yang berdarah sampai ditunjukkan.

Meski sudah mendapat jaminan kalau Seung-yeon baik2 saja, ibu cleaning servive itu tetap membunyikan bel rumah Jin-soo, membangunkan penulis agar tahu keadaan Seung-yeon. Ibu itu berkata kalau gadis itu jatuh dari tangga dan hidungnya berdarah cukup parah. Meski dia sudah berjanji akan pergi ke RS tapi ibu itu tetap tidak bisa berhenti khawatir. Ini membuat Jin-soo bangun sepenuhnya dan mencari handphone-nya di seluruh apartemennya. Karena kali ini bukan Jin-soo yang membuang hp-nya, maka dia kesulitan menemukannya. Akhirnya dia mencari telpon umum di lingkungan dekat situ.

Jin-soo mulai menelpon setiap rumah sakit di dekat sana untuk menanyakan Seung-yeon tapi tidak ada hasilnya. Dia begitu ingin melacak keberadaan Seung-yeon sehingga pagi hari pun dia masih disana. Saat Eun-young kembali untuk memeriksa Jin-soo, dia mendapati penulis mencari hpnya dengan gelisah lagi. Dia berkeliling apartemen dengan gelisah sampai akhirnya dia menemukan hp itu di mesin cuci.

Eun-young melihat dengan bingung ketika Jin-soo menyambungkan kembali telponnya dan memeriksa apakah itu masih bekerja tapi dia tidak menelpon. Malah dia duduk di samping telpon menunggu sebuah telpon. Ternyata telpon Seung-yeon rusak saat dia jatuh dan kakaknya telah memperbaiki telpon itu untuknya. Dia menghidupkan telpon dan mendapati nomer aneh menelponnya beberapa kali. Matanya semakin melebar ketika dia melihat pesan dan mendengar suara Jin-soo yang marah bercampur khawatir terdengar dan ingin tahu Seung-yeon ada dimana.

Seung-yeon memeriksa jam dan melihat kalau Jin-soo menelpon pada jam 5.30 pagi sedangkan sekarang sudah jam 5 sore. Karena saking gelisahnya menunggu telpon dari Seung-yeon, Jin-soo dan Eun-young bertanya-tanya apakah Seung-yeon tidak menelpon karena seharian ini berada di rumah sakit. Mereka berdua pergi ke rumah Seung-yeon untuk memeriksa keadaannya. Disana mereka melihat Seung-yeon yang memanggil taksi untuk pergi ke tempat Jin-soo.

Jin-soo dan Eun-young menghentikan Seung-yeon lalu mereka bertiga berkendara ke tempat Jin-soo. Seung-yeon meminta maaf karena sudah mengganggu tidur Jin-soo. Dia berpikir Jin-soo terganggu karena suara jatuhnya. Seung-yeon hanya ingin agar Jin-soo tidak terbangun jadi itulah kenapa dia menyembunyikan hp Jin-soo. Jin-soo menyuruh Eun-young untuk berputar jadi Seung-yeon bisa keluar dan pulang ke rumah. Seung-yeon bersikeras kalau dia sudah siap untuk bekerja. Tapi Jin-soo berkata kalau dia akan tidur seharian besok jadi Seung-yeon tidak usah datang.

Seung-yeon keluar dan Jin-soo berniat akan membiarkannya pergi dengan sikap baik tapi Jin-soo berubah pikiran di menit2 terakhir. Jin-soo keluar dari mobil dan menyerahkan notebook-nya pada Seung-yeon. Dia meminta nomer telpon rumah Seung-yeon. Setelah tidak bisa menghubungi Seung-yeon seharian lewat hp-nya, Jin-soo menyadari dia tidak punya cara lain berhubungan dengan Seung-yeon.

Jin-soo bertanya bagaimana pria porno itu. Seung-yeon menjawab kalau pria itu berusia kira2 40an tahun terlihat sangat baik dan sangat malu. Jin-soo tersenyum. Berlawanan dengan perintahnya yang duluan, ketika Jin-soo berbalik ke mobilnya, dia memberitahu Seung-yeon untuk bekerja besok. Jin-soo berkata, “Tanpa seseorang di sekitarku, rasanya… sedikit tidak nyaman.” Seung-yeon menjadi sangat gembira dan melambaikan tangan pada mereka dengan semangat. Dia begitu gembiar sehingga membuat Eun-young kagum. Jin-soo mengatakan kalau Seung-yeon bodoh seperti yang selalu dia katakan dulu. Eun-young berkata kalau Jin-soo perlu asisten yang benar2 membantu dan menawarkannya untuk mengenalkannya pada seseorang.

Tapi, Jin-soo menjawab kalau untuk pertama kalinya dalam sebulan akhirnya Seung-yeon melakukan sesuatu yang sangat berharga baginya – “Meski hanya untuk 30 menit tapi akhirnya aku benar2 bisa tidur!” Ada sesuatu yang istimewa dengan cara Jin-soo mengatakan itu yang benar2 memukul Eun-young.

Sementara itu, Ji-won mengumpulkan semua potongan teka-teki yang aneh itu dan menyimpulkan kalau dirinya sudah dikerjai. Tapi ini bukan Eun-young jadi dia pasti tidak sendirian. Siapa yang membantunya? Kemudian dia menyadari seseorang – bukan penguntit. Ji-won akhirnya mengerti dan dia tertawa seperti orang gila. Dia menghempaskan kakinya lalu tertawa lagi. Di sela2 tawanya, dia berkata, “Lee Jin-soo, kau sialan!”

Malam itu, Seung-yeon memutuskan untuk latihan meruncingkan pensil. Dia merasa dirinya melambung karena kejadian hari ini. Dia memutar komentar Jin-soo berulang-ulang di kepalanya dan merasa bahwa itu sangat menyenangkan. Dia bahkan mengubah beberapa perkataan menjadi perkataan yang lebih menyenangkan.

“Tanpa seseorang di sekelilingku, rasanya sedikit tidak nyaman.” Seung-yeon memotongnya menjadi kalimat yang lebih deklaratif: “Tanpa siapapun disini, rasanya tidak nyaman.” Jelas kalau ‘siapapun’ disini mengacu ke Seung-yeon. Bisa dibilang kalimat ini seperti: Tanpa Kang Seung-yeon disini, rasanya tidak nyaman. Dan kalimat ini masih bisa diubah lagi: Kang Seung-yeon harus ada disini!

Jadi Seung-yeon mengeluarkan mikroskopnya untuk mempelajari penajaman pensil lebih detail lagi dan menajamkan pensil-nya sesuai dengan cara yang didapat. Di kantornya, Jin-soo membungkuk untuk mendapatkan pensil terakhirnya dan mengambil pisau untuk meruncingkannya.

5 thoughts on “Sinopsis Coffee House – Episode 4

  1. mb’ mey!salam knl!sy br nemuin blog ne..saya pgemar film korea jg..saya ud baca sinopsis film coffee house..bgs bgt..tp kok dk dlanjutin y mb’?tlg dlanjutin y mb’ )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s