Sinopsis Coffee House – Episode 3

Jin-soo dengan panik menghentikan aksi buka baju Seung-yeon. Faktanya, Jin-soo terlalu shock hingga dia harus tertawa pada kekonyolan itu. Eun-young membunyikan bel pintu yang membuat Jin-soo harus bersembunyi. Dia tahu Eun-young pasti masih marah karena tadi malam meninggalkannya bersama Ji-won. Jin-soo mengendap-endap ke kamarnya dan meminta Seung-yoen untuk mengatakan kalau dirinya sedang tidak ada di rumah.

Ini artinya, Seung-yeon harus membuat alasan tentang menari-nari sementara Jin-soo pergi ke luar. Untungnya, Eun-young tidak terlalu mempermasalahkan hal ini. Akan tetapi, dia mendapati kalau kopi buatan Eun-young begitu mengerikan. Eun-young melempar kopi itu lalu memperhatikan Seung-yun membuat yang baru.

Eun-young mengajak Seung-yun turun ke kafe buku dan memberikan setumpuk buku yang berhubungan dengan kopi. Eun-young juga mengatakan kalau kakeknya adalah ahli kopi yang punya andil besar dalam mengenalkan kopi di masyarakat Korea. Untuk itu, apabila ada orang yang memperlakukan kopi dengan tidak hormat, itu rasanya seperti menghina kakek Eun-young. Pada akhirnya, Eun-young memberikan PR pada Seung-yeon dengan mengatakan meski Seung-yun adalah sekretaris Jin-soo, secara teknis Eun-young lah yang membayar gaji Seung-yun sebab Jin-soo bekerja pada Eun-young.

Seung-yun berkata pada diri sendiri kalau sekarang dia mengerti kenapa kedua orang itu berteman. Dalam perjalanannya kembali ke atas, Seung-yun menemui manajer kafe buku itu, Dong-wook. Dia menyapa pria itu dengan bahasa isyarat sebab dia tidak bisa bicara. Dong-wook membungkuk untuk membalas salam dari Seung-yun. Sebenarnya, dia cukup senang karena bisa mempraktekkan skil terbarunya yaitu berbahasa isyarat.

Ji-won menuju kantor Jin-soo bersama Seung-yun. Jin-soo tidak terlalu terkejut melihat kedatangan Ji-won. Akan tetapi, Ji-won terlihat mengharapkan kalau Jin-soo seharusnya menyapa dirinya dengan antusias. Ji-won bersandar ke Jin-soo sebab dia ingin menunjukkan hadiah yang akan dia berikan untuk ulang tahun Eun-young. Sekalian dia ingin agar Seung-yun tidak mendengarkan apa yang dia katakan soalnya ini adalah rahasia. Seung-yun sendiri tidak peduli. Akan tetapi, dia suka melihat Ji-won memukul Jin-soo dan bahkan berdoa agar Ji-won melakukannya lebih keras lagi.

Ji-won membelikan kalung untuk Eun-young dan berharap kalau dia akan berteriak karena saking kagetnya. Jin-soo mengatakan kalau Eun-young akan berteriak tapi untuk alasan yang berbeda. Karena ingin kabur dari Ji-won, Jin-soo kabur ketika sebuah hp berdering lalu bergegas untuk mengangkatnya. Dia tidak peduli kalau sebenarnya itu adalah hp Seung-yun. Jin-soo berpura-pura kalau telpon itu adalah untuknya dan ketika dia di ruangan sebelah, dia berhenti berakting dan meminta sang penelpon untuk menelpon lagi nanti.

Ini membuat Seung-yun hanya berdua dengan Ji-won. Ji-won benar2 berpikir kalau Jin-soo menyewa Seung-yun untuk tempat curhat dan mengomentari selera Jin-soo yang doyan daun muda. Ji-won berkata pada Seung-yun agar memberitahunya kalau Jin-soo menyulitkannya dan dia pasti akan membereskan Jin-soo. Ji-won kuliah di universitas yang sama dengan Jin-soo dan mereka adalah teman baik – bersama istri Jin-soo juga. Ini adalah berita mengejutkan – Jin-soo sudah menikah tapi kemudian bercerai? Ji-won mengatakan kalau itu terjadi sebelum Jin-soo terkenal jadi itu tidak menadi berita heboh.

Jin-soo, yang mendengarkan percakapan antara Ji-won dan Seung-yun dari ruangan lain, menjadi tidak senang. Ketika Ji-won pergi, Jin-soo memberitahu Seung-yun kalau Ji-won dilarang masuk ke tempat itu. Dia juga mencemooh Ji-won yang menyebutkan kalau mereka adalah teman dan Jin-soo bergumam, “Aku tidak pernah berteman dengannya!” Seung-yun mencoba mencari info di internet tentang apakah Jin-soo sudah menikah lalu bercerai. Ini membuat Jin-soo semakin marah yang membuat Seung-yun menjadi bingung. Tapi pencarian itu tidak ada hasilnya. Kelihatannya, pernikahan itu memang rahasia.

Kemudian, Jin-soo ingin jalan2 keluar dan tanpa menjelaskan apa2, mereka tiba di departemen store. Jin-soo kesana untuk membelikan Seung-yun pakaian, untuk acara apa tidak jelas. Pertama-tama, Jin-soo meminta Seung-yun untuk mencoba sebuah baju tapi ternyata kebesaran. Dia ingin sesuatu yang pas dan meminta pelayan untuk mengukur lebih tepat agar bajunya pas. Kemudian mereka membeli koper. Jin-soo mengamati postur Seung-yun yang menurutnya aneh. Dan Seung-yun sama sekali tidak tahu harus berbuat apa. Apakah dia harus marah atau bagaimana.

Dalam perjalanan pulang ke kantor, Dong-wook melihat Seung-yun kerepotan membawa barang2nya jadi dia bergegas untuk membantu Seung-yun. Dengan sikap yang sangat ramah, Seung-yun mengucapkan terima kasih pada Dong-wook dan lagi2 dia menggunakan bahasa isyarat dan menggumamkan ‘terima kasih’.

Sekarang baru ketahuan kenapa Jin-soo membeli koper dan mengukur Seung-yun: dia menyuruh Seung-yun untuk masuk ke dalam koper itu! Ketika Seung-yun menolak dengan keras, Jin-soo mengingatkannya tentang hal2 ingin menjadi professional. Bagaimana kalai Seung-yun bersikap pro dengan masuk ke dalam koper? Seung-yun masuk. Dia membiarkan dirinya mengkuti kegilaan Jin-soo dan mendesah untuk menyuruh Jin-soo meanjutkan aksinya. Jin-soo mengambil beberapa foto lalu menyerahkan hp pada Seung-yun. Jin-soo meminta sekretarisnya itu untuk menelponnya dari dalam koper. Setelah memastikan kalau Seung-yun tidak pingsan, Jin-soo menutup kopernya.

Tepat ketika Seung-yun akan menelpon Jin-soo, dia mendapatkan telpon – itu dari keluarganya dimana mereka baru saja menghadiri acara pernikahan di sekitar sana dan memtuskan untuk mampir. Seung-chul dan ayah merasakan hal aneh dan bertanya apakah mereka tidak akan mengganngu pekerjaan seorang penulis. Nenek berkata kalau tidak ada yang salah mengunjungi cucunya yang sedang bekerja dan mendorong mereka untuk maju. Sebelum Jin-soo dan Seung-yun sadar, para pengunjung itu sudah ada di depan pintu. Jin-soo mencoba mengeluarkan Seung-yun dari dalam koper tapi tidak berhasil. Dia terlalu ngepas di dalam koper itu. Karena sudah tidak ada waktu, Jin-soo menarik Seung-yun ke dalam kamar (tentunya dia masih di dalam koper!).

Jin-soo mencoba untuk mengusir keluarga Seung-yun tapi nenek mulai beraksi. Dia memberikan hadiah pada Jin-soo – sebuah cardigan jelek – yang diterima Jin-soo dengan tidak nyaman. Jin-soo mengatakan kalau Seung-yun sedang keluar jadi dia tidak akan kembali sampai nanti malam. Akan tetapi, mereka memperhatikan barang2 Seung-yun masih ada dan heran bagaimana Seung-yun bisa keluar tanpa barang2nya. Sebagai pengalihan, Jin-soo mengaluarkan cardigan itu tapi itu hanya untuk sementara. Seung-chul mengambil hp-nya dan mulai menelpon saudarinya yang ternyata hp-nya berdering di ruangan sebelah.

Dengan terburu-buru, Seung-yun mencoba meraih hp-nya untuk mematikannya. Akan tetapi, karena posisinya yang begitu pas di dalam koper, Seung-yun gagal melakukannya. Keluarga Kang mendengar suara itu dan menunjuk ruangan asal suara itu. Jin-soo mencoba menutupi hal itu dan berlari ke kamar itu tapi dia dihentikan oleh suara bel di pintu. Jin-soo harus membukan pintu itu (tamunya adalah Eun-young). Keluarga Kang akhirnya berhasil mengikuti asal suara hp itu.

Jin-soo cuma bisa pasrah saat keluarga Kang mencoba menerka kenapa Seung-yun berbaring di dalam koper. Eun-young datang menyelamatkan. Dia memperkenalkan dirinya pada keluarga itu dan menjelaskan kalau Jin-soo saat ini sedang mengerjakan novel tentang pembunuhan dan hal ini (memasukkan Seung-yun ke dalam koper) adalah sebuah percobaan. Eun-young menenangkan keprihatinan mereka dengan kopi saat dia menjelaskan tentang pembunuhan berantai terhadap turis wanita ketika berkunjung ke Ulleungdo. Rupanya pembunuhnya memasukkan mayat turis itu ke dalam koper.

Berkat Eun-young, keluarga Seung-yun tidak marah pada Jin-soo tapi hal itu membuat mereka khawatir pada keadaan mental Jin-soo. Eun-young bertanya apakah Jin-soo akan dituntut dan dia terlihat kegirangan memikirkan hal ini. Tidak heran, malam itu juga ayah Seung-yun menelpon buat memberitahu kalau Seung-yun tidak akan bisa bekerja di tempat Jin-soo lagi.

Seung-yun protes dan menarik telpon lalu menyerahkannya pada nenek agar ditutup saja. Tapi nenek sama sekali tidak akrab dengan teknologi canggih seperti ini jadi dia menekan beberapa tombol dan ternyata tombol itu membuat Jin-soo mendengarkan percakapan keluarga itu dengan jelas. Eun-young juga ikut mendengarkan.

Ayah bertanya apakah penulis itu gila dan Seung-yun menjawab kalau Jin-soo tidak sepenuhnya sinting. Dengan desahan, Seung-yun menjelaskan kalau setelah beberapa hari mengamati Jin-soo, dia bisa menyimpulkan kalau dia hanya berada di tepi ketidakwarasan. Menurut perkiraan Seung-yun, Jin-soo bukanlah penduduk tetap dunia gila tapi dia hanya berkunjung sebentar kesana. Nenek mengatakan kalau Jin-soo itu tampan jadi dia pasti baik hati.

Eun-young bertanya apakah Seung-yun akan muncul besok dan Jin-soo menjawab kalau dia pasti akan muncul sebab dia punya satu titik yang kuat, yaitu dia itu tolol. Jin-soo menjelaskan, “Itu sebuah keuntungan besar jika dia akan bekerja padaku.” Memang benar, Seung-yun muncul keesokan harinya dan dia membuatkan kopi yang tidak enak seperti biasanya. Jin-soo mengatakan kalau kopi buatan Seung-yun seperti racun. Jin-soo tidak tahan untuk mengulang komentar Seung-yun tadi malam. Jadi dia menggunkan kalimat khusus Seung-yun dan Seung-yun sadar kalau Jin-soo sudah mendengarkan percakapan keluarganya tadi malam. Seung-yun kaget bukan main dan Jin-soo terus mengulangi kalimat2 itu berulang-ulang.

Malam itu, Eun-young mendapatkan pesta kejutan dari pegawainya dan dia diseret dari kantor ke tempat acara itu berlangsung. Semuanya sudah direncanakan dengan teliti dan semua teman Eun-young hadir disana. Jin-soo juga diundang tapi dia mengirim Seung-yun terlebih dahulu bersama para pegawai. Dia akan datang nanti. Eun-young didudukan di kursi kehormatan. Dia bertanya-tanya siapa biang keributan ini. Sebuah suara piano terdengar dan senyum Eun-young langsung hilang. Ji-won sedang main piano.

Ji-won merayu Eun-young dengan foto2 yang muncul dari layar proyeksi di belakang Eun-young dan kemudian gelembung muncul dari langit2. Eun-young memutar bola matanya tapi dia tersenyum ketika bangkit dan menuju ke piano lalu mengambil mic Ji-won ketika dia sedang bernyanyi. Ketimbang marah2, Eun-young sambil tersenyum menyapa seluruh tamu yang ada disana seolah-olah dia adalah MC dari acara itu.

Setelah pesta, Eun-young mendelik kepada Ji-won dan mengatakan kalau dia tidak punya hak untuk menyanyikan lagu itu. Kemudian Eun-young pergi ke kamar mandi bersama dokternya (Byung-hee) untuk melepaskan frustasinya. Dia beteriak sejadi-jadinya. Rupanya, Ji-won memberitahu seluruh teman Eun-young kalau dia dan Eun-young sudah kembali bersama dan Eun-young sudah memaafkannya. Ji-won yang menggagas pesta itu sebagai kejutan karena itulah mereka tidak memberitahukannya pada Eun-young.

Ji-won mabuk dan menelpon Jin-soo untuk berteriak bersama dan memberikan dukungan padanya. Ji-won menabrak meja Eun-young ketika Eun-young sedang membuka hadiah untuk memberikan hadiah ulang tahunnya. Tapi Eun-young malah pergi untuk urusan bisnis agar bisa bebas dari saat2 mengerikan itu. Ji-won mengikuti Eun-young sampai ke kantor ketika Eun-young masih sibuk menelpon. Ketika Jin-soo tiba di pesta itu, dia tidak bisa menemukan Eun-young. Dia mendengar kalau Eun-young sudah kembali ke kantor dan langsung menuju kesana.

Sementara itu, Ji-won yang mabuk mengeluhkan Eun-young yang menurutnya sangat baik, terlalu sukses, dan terpandang. Pasti karena hal itu dia masih single selama ini. Dia membuat semua orang merasa rendah diri. Ji-won berani bertaruh kalau tidak ada pria yang berani mendekati Eun-young sebab mereka tidak bisa cocok dengan Eun-young. Akhirnya, Ji-won mengaku kenapa dia tidak minta maaf selama ini adalah karena Eun-young. Dia lalu memberikan kalung pada Eun-young dan mengatakan kalau benda itu mahal dan betapa Eun-young bahkan tidak tersentuh.

Sebagai perbandingan, Ji-won menjelaskan tentang Young-mi (selingkuhan Ji-won) yang lebih bisa berterima kasih pada hadiah yang dia berikan. Young-mi tidak seperti Eun-young yang sama sekali tidak tersentuh. Meski masih mabuk Ji-won mengatakan kalau dia sudah bersikap baik pada Eun-young.

Eun-young tidak bisa menahan air matanya dan memandang Ji-won dengan sangat terluka. Ji-won pergi dan saat itu pula Jin-soo tiba di kantor Eun-young lalu membuka pintu. Ji-won terkena pukulan pintu itu dan ambruk di lantai. Eun-young dan Jin-soo khawatir – apakah dia terluka? Tapi ternyata Ji-won hanya tertidur. Jin-soo meraba-raba kantongnya untuk mencari hadiah buat Eun-young tapi tidak menemukan apa2. Eun-young menebak kalau Jin-soo sengaja datang terlambat sebab dia tahu apa yang akan terjadi. Eun-young berkata, “Bajingan, apakah semuanya baik2 saja selama kau nyaman? Kau dan dia sama saja!”

Eun-young bergumam, “Aku benci semua ini.” Dia berharap bisa membuat Ji-won pergi jauh dan itu memberi Jin-soo ide bagus. Karena dia datang ke pesta itu dengan tangan kosong, Jin-soo berkata apakah Eun-young mau hal ini sebagai hadiah: dia membayar taksi dan menyuruh sopirnya untuk membawa Ji-won pergi sejauh mungkin!

Seung-yun minum banyak di pesta itu lalu naik bus untuk pualng ke rumah. Di bus itu ada penumpang lain: Si bisu Dong-wook. Seung-yun tidur selama perjalanan dan tersentak bangun lalu turun dari bus setengah tidur. Dong-wook muncul dari belakang Seung-yun dan menangkap Seung-yun yang tersandung. Dong-wook berkata, “Hati-hati!” Setelah itu, Dong-wook pergi.

Seung-yun perlu waktu beberapa saat untuk menceran info ini. Dia kemudian memutuskan kalau dia pasti terlalu mabuk makanya membayangkan hal gila. Pada pagi harinya, Ji-won bangun dengan diterpa cahaya matahari pagi yang cerah ceria. Tunggu. Dia ada dimana? Dia tertidur di atas rumput… dengan jas-nya… di padang pengembaraan domba. Dia tidak punya hp, tidak ada dompet, dan tidak ingat kenapa dia bisa sampai disini. Ji-won berjalan sempoyongan di jalanan yang kosong sampai dia tiba di pemberhentian bus dan melihat seorang nenek duduk di bangku.

Ji-won bertanya pada nenek itu dia ada dimana. Tapi nama tempat yang disebutkan bahkan tidak dikenalnya. Dia meminta kesempatan agar bisa menggunakan telpon dan akhirnya mendapatkan koin. Sayangnya, Ji-won kena apes lagi. Koin yang akan dia gunakan untuk menelpon menggelinding turun dan mendarat di air kubangan. Hwek!

Seung-yun tiba di kantor Jin-soo pagi itu dan dia siap untuk menyapa Dong-wook dengan bahasa isyaratnya. Akan tetapi, dia terkejut sebab Dong-wook menjawab pertanyaan Jin-soo dengan lancar. Dong-wook bisa bicara. Seung-yun berdiri membeku dihadapan Dong-wook ketika pria itu membalas salamnya. Kemudian dalam perjalannya keluar, Dong-wook berkata, “Kau disini.” Karena bingung, Seung-yun bertanya pada Jin-soo. Jadi ternyata Dong-wook tidak bisu. Tapi Seung-yun yakin pekerja kafe mengatakan kalau Dong-wook bisu. Jin-soo menjelaskan kalau mereka berkata begitu karena Dong-wook sedikit bicara.

Ji-won menelpon Jin-soo. Jin-soo langsung turun ke kafe untuk memberitahu Eun-young berita yang sangat mengejutkan dan sangat lucu. Eun-young tidak mengerti apa yang dikatakan Jin-soo sampai Ji-won muncul di kafe dengan sebuah taksi. Dia keluar dari taksi dengan tampang kacau, baju kumal dan rambut kusut. Eun-young menahan tawanya ketika Jin-soo mengucapkan keprihatinannya. Eun-young megap2 melihat apa yang terjadi pada Ji-won. Apa yang terjadi? Tentunya Ji-won tidak diculik UFO atau apa kan?

Ji-won cukup takut mengambil langkah itu. Dia punya hal lain untuk dikhawatirkan misalnya membersihkan dirinya. Jin-soo membayar taksinya dan Ji-won pergi untuk membersihkan diri. Ketika dia berbalik, dia melihat Eun-young memandanginya dengan takjub. Ji-won menganggap itu sebagai penghinaan dan bersikap berani dengan mengedip pada Eun-young.

Ternyata, Jin-soo yang mengirim Ji-won ke Daegwallyeong, yang jaraknya beberapa jam dari Seoul. Eun-young mengucapkan terima kasih pada Jin-soo atas lelucon itu, “Terima kasih!” Eun-young lalu menambahkan lagi, “Aku sangat menyukai hadiah ualng tahunku.” Sambil mengacungkan jempol, Eun-young berkata, “Terima kasih!”

Ketika Jin-soo bersiap untuk pergi, dia tersenyum sebab masih ada lagi yang akan datang, “Kau menyukai cerita bersambung. Perhatikan saja nanti.”

2 thoughts on “Sinopsis Coffee House – Episode 3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s