Sinopsis The Return of Iljimae Episode 6

Iljimae marah2 di dalam bangsalnya yang gelap. Dia berteriak pada biksu itu agar membiarkannya bebas. Beberapa hari berikutnya, biksu itu datang ke bangsal Iljimae dan membawakan makanan untuknya. Biksu berkata kalau Iljimae harus dikurung disana selama setidaknya 10 bulan. Biksu itu berkata, “Iljimae, tempat ini adalah rahim ibumu!” Iljiame perlu waktu untuk merenung dan kemudian lahir kembali ke dunia. Biksu berbicara dengan gaya yang tenang dan hanya ingin agar Iljimae mampu mengendalikan amarahnya. Iljiame malah berteriak, “Aku akan memukulmu!”

Bae Sun Dal menyaksikan Cha Dol menipu pria lain dengan pedang berharganya. Kemudian, dia mengikuti anak itu. Bae melihat Cha Dol masuk ke sebuah halaman, menyembunyikan beberapa koin di dalam lubang di tembok dan masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah, ada tiga orang pejudi yang salah satunya dipanggil Cha Dol ‘ayah’. Ayah menarik Cha Dol dengan kasar dan mengambil semua uangnya. Dia lalu memberikan pedang lain untuk dijual. Cha Dol bertanya apakah dia bisa makan dulu dan ayah bilang kalau dia baru bisa makan kalau dia telah menjual pedang itu.

Bae Sun Dal menyaksikan Cha Dol yang disiksa dengan penuh ngeri. Khususnya lagi setelah Cha Dol pergi dan kedua pejudi yang lain menawarkan untuk membeli Cha Dol. Ayah menolak penawaran itu – sebab Cha Dol membawa keuntungan yang besar untuknya. Bae berlari untuk memperingatkan petugas keamanan tentang para penjudi itu. Mereka langsung menggrebek kandang mereka dan menahan para penjudi itu. Mereka ternyata punya daftar kejahatan yang panjang! Ketika Cha Dol pulang dan mendapati rumah yang kosong, Bae mendekatinya dan memarahinya karena bersedih. Cha Dol melawan dan kabur.

Selama itu, Iljimae dikurung di dalam bangsal yang gelap, sepi, dan terasing. Ternyata benar, biksu mengurung Iljimae disana selama berbulan-bulan: ketika masa kurungan Iljimae habis, biksu bertanya, “Siapa kau?” Iljimae menjawab dengan suara rendah kalau dia hanyalah kutu kotor yang hanya menyebabkan orang lain mendapat masalah, orang tidak berharga yang bernama Iljimae. Biksu setuju. Selama ini, Iljiame hidup dengan membenci orang lain dan bahkan ingin membunuh. Akan tetapi, biksu berkata, “Mereka yang bisa dibunuh, bisa juga diselamatkan!”

Iljiame bebas. Sebelum pergi, dia membungkuk dengan tenang pada biksu. Ketika biksu bertanya kemana Iljimae akan pergi, dia hanya menjawab kalau dia ingin bertemu dengan seseorang yang sangat ingin dia temui. Dan itu adalah Wol Hee. Gadis ini terlihat pergi ke pasar. Saat Iljimae tiba di depan pintu gerbang Wol Hee, Iljimae berpikir kalau sekarang bukan waktu yang tepat untuk mengucapkan terima kasih. Iljimae berkata, “Aku akan pergi sekarang. Tapi aku janji, aku akan kembali.”

Wol Hee sedang mencari pekerjaan. Dia harus menghidupi diri sendiri setelah ayahnya meninggal karena sakit. Dia meminta untuk mengambil alih pekerjaan ayahnya menyalin tulisan. Pihak percetakan ragu mempekerjakan Wol Hee sampai dia mengungkapkan kalau dialah yang mengerjakan pekerjaan ayahnya setelah ayah jatuh sakit. Saat Wol Hee menemui pamannya, dia memberitahu Wol Hee kalau pekerjaan itu rendahan – meski Wol Hee miskin, tapi tetap saja dia kelahiran bangsawan.

Setiap kelas memiliki tempatnya dalam hidup dan setiap orang harus memperhatikan peranan sosial mereka. Wol Hee mengatakan kalau manusia yang menciptakan pengkelompokan itu dan semua orang bisa melakukan apapun untuk bertahan hidup. Paman kaget mendengar pandangan ini. Wol Hee menjelaskan kalau ini adalah pandangan yang diyakini ayahnya. Wol Hee yakin apapun yang diyakini ayahnya benar.

Di pasar, ada seorang pegawai pemerintah yang mengancam seorang pedagang yang berdagang tanpa ijin resmi. Pedagang ini memberikan tanda kalau dia akan menyuap pejanat pemerintah itu. Kalau dia tidak membayar dalam jumlah besar, maka dia akan dimasukkan ke penjara dan dihukum.

Ketika pedagang itu diseret dan barang dagangannya disita, sebuah gangguan menarik perhatian semua orang. Cha Dol melarikan diri dari seorang pedagang setelah mencuri makanan. Pegawai pemerintah itu mengendalikan situasi. Dia menarik belatinya dan melemparkannya. Cha Dol tertusuk di bagian punggung. Anak itu jatuh dan Bae berlari ke sisinya. Para penduduk heran melihat aksi Bae yang berlebihan. Bae hanya bergumam, “Beraninya kau mencuri!”

Ketika keadaan semakin panas, Petugas Gu tiba untuk menilai keadaan. Mendengar bahwa seorang anak dibacok karena mencuri kue, Gu beralih ke petugas pemerintah itu. Si petugas ini malah marah2 pada reaksi masyarakat – dia adalah orang berjasa yang telah menangkap pencuri. Dia berharap Gu ada di pihaknya. Tapi Gu malah mengatakan pada petugas pemerintah itu kalau karena keterlibatannya dalam urusan ini, dia harus ikut ke kantor polisi.

Petugas pemerintah itu mencoba kabur tapi Soo Ryun menghentikannya. Petugas ini lalu mengeluarkan pisaunya seolah-olah ingin menekankan kalau Soo Ryun bukan siapa2. Terjadi saling pandang yang cukup lama. Tapi, Gu menangani masalah ini dengan bijak dan tenang. Dia memperingatkan pegawai pemerintah itu kalau dia tidak bebas dari hukum. Dia harus tetap datang ke kantor polisi.

Setelah pegawai pemerintah itu dibereskan, mereka bergegas untuk mengobati Cha Dol. Meski anak itu akan sembuh, tapi tabib mengatakan kalau dia perlu istirahat dan pengobatan lebih lanjut. Gu menyusun rencana untuk memindahkan Cha Dol. Tapi, Bae membela anak itu dan menawarkan diri untuk merawat anak itu. Dia juga berjanji akan mengantarkan Cha Dol ke kantor polisi ketika dia sudah sembuh.

Iljimae berkelana ke arah selatan dan tiba di desa pinggir laut. Ke sinilah biksu menyuruhnya pergi. Dia bertanya tentang keberadaan Keol Chi – pengemis yang menjaganya waktu masih bayi. Iljiame melihat mantan pengemis itu dia pantai berbatu, sedang berjuang dengan tombak ikannya. Keol Chi melihat kedatangan Iljimae dengan curiga. Karena Iljimae tahu nama pria itu, maka dia bertanya, “Apakah kau tidak mengenaliku?” Iljimae lalu menceritakan tentang biksu yang mengatakan padanya ada pria bernama Keol Chi yang dulu menjaganya waktu masih bayi. Iljimae berada disini untuk berterima kasih pada pria itu.

Keol Chi ingat dan dia begitu terharu melihat Iljimae sekarang. Dia sangat sakit hati waktu kehilangan Iljimae dulu. Sekarang dia berterimakasih pada Tuhan karena sudah mengembalikkan Iljimae ke sisinya. Dia memegang Iljimae dengan erat. Keol Chi menjelaskan kalau dia terikat pada Iljimae dan sempat mengembara setelah kehilangan Iljimae dulu. Dia berakhir disini dan menjadi nelayan. Dia memerungn beberapa saat kalau hidup ini memang aneh. Dulu dia berharap ingin melupakan bayi itu tapi sekarang malah muncul dihadapannya. Untuk itu, Iljimae harus tinggal dengannya sekarang. Iljimae dengan senang menyetujuinya.

Cha Dol sembuh dari lukanya dan dibawa ke kantor polisi. Masalah pencurian itu bukan lagi jadi masalah besar sebab Bae sudah membayar kue yang dicuri. Akan tetapi, Cha Dol menghadapi masalah yang lebih besar karena menjual pedang palsu. Bae membela dengan mengatakan bahwa dia dipaksa oleh ayah Cha Dol yang abuser. Gu memberitahu Bae kalau pria itu bukan ayah Cha Dol. Sebenarnya, ayah kandung Cha Dol meninggal beberapa tahun lalu dan kemudian diikuti olah kematian ibunya. Cha Dol berkelana selama beberapa saat sampai bertemu dengan pejudi yang mau memberinya makan asal dia mau menjual pedang palsu. Dia juga memaksa Cha Dol untuk memanggilnya ayah.

Cha Dol meminta maaf pada Bae karena sudah menipunya. Bae sendiri tersentuh dan khawatir akan nasib anak itu sekarang. Soo Ryun menjawab kalau Cha Dol akan dikirim ke panti asuhan agar bisa diadopsi. Dia mungkin akan diambildengan cepat karena usianya – bukan diadopsi, untuk bekerja atau dijual sebagai budak. Bae tidak bisa membiarkan Cha Dol dijual sebagai budak. Dia mau mengadopsi Cha Dol!

Sementara itu, Iljimae mengalami hidup yang tenang dan belajar menangkap ikan dari Keol Chi. Mereka hidup dengan tenang di pinggir laut. Akan tetapi, semuanya akan segera berubah. Keberadaan seorang pria tampan di desa terpencil menyebabkan kehebohan di kalangan para wanita. Mereka berusaha menarik perhatian Iljimae tapi dia sama sekali tidak tertarik.

Dan kemudian, suatu hari seorang gadis bernama Bong Yi ditemukan tewas di hutan. Kejadian itu disaksikan oleh seorang gadis jahat bernama Nan Yi, yang menuduh Iljimae sebagai pelaku kejahatan itu. Dia bersikeras kalau dia melihat Bong Yi mencium Iljimae di hutan. Bong Yi digambarkan sebagai gadis yang agresif. Iljimae menolak dan akhirnya memukulkan batu ke kepala Bong Yi.

Iljimae sedang berada di desa ketika dia dipanggil untuk ditanyai. Hal terakhir yang dia lihat sebelum pergi adalah Sung Kae yang mendayung perahunya terburu2 ke sebuah teluk kecil. Ada sesuatu yang aneh tapi dia harus pergi dulu ke tempat tetua desa. Dia harus membela dirinya dari tuduhan aneh itu. Iljimae menolak tuduhan itu dan melihat ada keanehan dalam kesaksian Nan Yi. Nan Yi langsung mengatakan alibinya yang dibenarkan oleh yang lain. Iljimae menjelaskan alibi Nan Yi yang kacau – kalau dia berada jauh, kenapa dia bisa melihat Iljimae membunuh Bong Yi?

Nan Yi tertangkap basah dan bicara tergagap-gagap. Iljimae menjelaskan kalau Nan Yi adalah sepupu Sung Kae dan pria ini terlihat aneh dengan mendayung perahunya ke teluk. Jika Nan Yi tidak mau mengakui kebenaran, mungkin Sung Kae tahu sesuatu. Iljimae bergegas ke teluk dan menghadang Sung Kae yang mencoba kabur. Terjadi pertarungan singkat. Sung Kae mencoba mencambuk Iljimae sebab dia begitu marah.

Iljimae sudah tahu ceritanya dan menarik benda yang selama ini dijaga Sung Kae. Iljimae menemukan banyak perhiasan di dalamnya yang dikenali. Iljimae menjelaskan cerita sebenarnya – Nan Yi membayar Sung Kae dengan perhiasan itu agar dia mau memperkosa Bong Yi. Akan tetapi, Bong Yi melawan dan Sung Kae memukulkan batu ke kepala gadis malang itu hingga dia meninggal.

Semua perhatian tertuju pada Nan Yi, yang jatuh terisak-isak. Dia meraung2 bahwa dia melakukan itu karena Bong Yi lebih cantik darinya. Nan Yi mengaku kalau dia takut Bong Yi akan mencuri Iljimae darinya. Tapi, ketika Iljimae mendengar ini, dia diam dan mencerna fakta kalau dia adalah sumber kekacauan ini.

Sung Kae mencoba melakukan serangan terakhir untuk mengalahkan Iljimae tapi gagal. Iljimae ingin mengakhiri ini semua dalam kemarahan yang aneh. Dia naik ke atas tebing dan melompat ke laut dan berteriak, “Semoga hidupmu menyenangkan. Aku pergi!” Malam itu, Iljimae tenggelam dalam pikirannya dan mengatakan pada Keol Chi kalau dia mungkin harus meninggalkan desa ini. Semua ini tidak akan terjadi kalau dia tidak datang.

Keol Chi segera berkata kalau Iljimae tidak perlu menyalahkan dirinya. Semuanya adalah salah seorang gadis kejam dan pria bodoh. Kalimat itu sangat menenangkan. Tapi Iljimae menyelinap di tengah malam buta. Dia mengambil perahu Keol Chi dan berlayar. Celakanya lagi, dia bertemu dengan badai waktu masih di tengah lautan. Sepanjang malam, Iljimae berjuang agar bertahan di atas perahu.

Ketika pagi tiba, yang terisisa hanyalah patahan perahu Keol Chi. Iljimae menggantungkan nyawanya dengan memegang papan sampai tiba di darat. Iljimae kelelahan dan terbaring tidak sadarkan diri di pinggir pantai. Seorang pria datang untuk menyelamatkannya. Iljimae ternyata terhempas hingga ke Jepang…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s