Sinopsis Coffee House – Episode 1

Sambil duduk di Kafe yang kosong, Seung Yeon mengkhayalkan cerita buku manhwa yang suka dia baca. Tahu kan, cerita yang biasanya tentang pria tampan yang meninggalkan aktivitas rutinnya dan malah memilih menjalani kegiatan yang tidak terduga. Misalnya saja seperti ini:

Jin Soo sedang duduk dengan dua orang pedagang. Mereka menjamin Jin Soo kalau mereka hampir tiba dan memang selalu tidak ada yang pernah tepat waktu. Tapi Jin Soo memutuskan untuk keluar dari kehebohan ini. Dia mengambil barang-barangnya dan berlari keluar mobil. Kedua orang itu tidak tahu harus bersikap bagaimana. Mereka tidak mampu keluar mobil dan mengejar Jin Soo. Jalanan sedang macet dan mereka hanya memanggil Jin Soo. Hanya saja, Jin Soo menjauh dari mobil dan mengambil arah yang berbeda. Dia sempat berhenti sejenak untuk melihat kedua orang yang tadi bersamanya.

Jin Soo gagal ditemukan, sebab dia bersembunyi di Kafe terdekat. Seung Yeon mendongak dari bukunya dan berjalan mengambil pesanan Jin Soo. Dia memesan cappuccino. Seung Yeon melihat ada sepotong tissue yang menempel di wajah Jin Soo dan segera mengambil benda itu. Sentuhan itu membuat Seung Yeon terkejut dan menyadari jika Jin Soo adalah tipikal pria yang tadi dia khayalkan. Sekarang dia memandang Jin Soo dengan tatapan berbeda.

Di dalam pesawat, Eun Young dikenali oleh teman duduknya, yang sedang membaca majalah yang menampilkan Eun Young. Eun Young menikmati pujian dari pria itu ketika dia menyebutkan pencapaian profesionalnya. Eun Young menggunakan telpon di pesawat untuk mengecek acara penandatanganan buku dan tahu kalau ternyata Jin Soo kabur. Dia memperingatkan agar pegawainya harus segera menemukan Jin Soo. Lalu dia pergi ke toilet untuk melepaskan rasa frustasinya pada buku Jin Soo. Pemakai toilet yang selanjutnya menemukan foto Jin Soo yang robek dan mempertanyakannya pada Eun Young.

Seung Yeon sedang membuatkan Jin Soo cappuccino ketika mantan pacarnya masuk dengan marah-marah. Dia tidak terima diputuskan lewat sms. Pertengkaran meluas dan Seung Yeon mengunci dirinya di kamar mandi sambil masih terus berteriak. Setelah mantan pacarnya pergi, Jin Soo mengetuk pintu untuk menanyakan pesanannya. Seung Yeon bersiap-siap untuk bekerja lagi dan akan keluar kamar mandi. Tapi… kamar mandinya tidak bisa dibuka. Kuncinya rusak. Jin Soo yang akhirnya menelpon keluarga Seung Yeon tapi tidak ada yang mengangkatnya. Kemudian dia menawarkan diri untuk menelpon orang yang bisa memperbaiki kunci itu.

Sementara Seung Yeon menunggu, sekelompok ajumma masuk dan memesan sebab mereka mengira Jin Soo adalah pegawai di Kafe itu. Jin Soo ternyata pintar membuat minuman. Berikutnya, teman Jin Soo, Do Sang, tiba di Kafe dan ternyata mereka sudah berjanji untuk bertemu di tempat itu. Do Sang menyarankan Kafe itu karena dia mengenal Seung Yeon, yang merupakan adik kelasnya waktu kuliah. Repairman-nya datang dan di dalam kamar mandi, Seung Yeon sedang mengalami masalah dengan perutnya. Oh…

Seung Yeon tertangkap dengan celana yang lagi diturunkan (ngerti kan?!) dan keluar dengan wajah yang sangat malu ketika Jin Soo dan Do Sang berpamitan. Do Sang menyapa Seung Yeon dengan gembira dan Jin Soo mengatakan kalau dia meninggalkan uang para ajumma di meja. Seung Yeon sangat terpesona dan finally sadar siapa Jin Soo sebenarnya: dia adalah penulis terkenal itu!!!

Di rumah, keluarga Seung Yeon berkumpul untuk ritual peringatan kematian ibu Seung Yeon. Dia kaget ketika keluarganya membawa makanan yang bentuknya sudah jelek pulang ke rumah. Nenek berkata semuanya sama saja saat sudah dipotong. Seung Yeon akhirnya tahu apa yang menyebabkan makanan itu rusak berat. Rupanya keluarga Seung Yeon mengunakan makanan itu untuk memukuli mantan pacar Seung Yeon bersama wanita lain. Seung Yeon berkata kalau dialah yang mencampakkan pria itu jadi seharusnya tidak perlu merasa bersedih untuknya.

Eun Young kembali ke tempat kerja dan mendapati bila kantornya masih belum bisa melacak keberadaan Jin Soo. Sang penulis, si Jin Soo, menelpon dari Ulleungdo – sebuah pulau di bagian timur Korea dan begitulah. Ketika Jin Soo kembali ke rumah, dia mendapatkann voice mail dari Eun Young. Isinya sangat formal: Jin Soo akan dituntut karena sudah melanggar kontrak. Eun Young sudah mengirim surat resmi yang berisi setiap acara wawancara yang Jin Soo tinggalkan, setiap event yang tidak dia datangi dan semua pelanggaran kontrak Jin Soo di masa lalu.

Awalnya Jin Soo terkejut pada perbuatan Eun Young. Dia mendengarkan dan pidato Eun Young berubah menjadi tawa riang. Dia bergembira sebab tahu bila Jin Soo tidak akan menang. Ngomong2, berapa lama Jin Soo berpikir kalau dia akan tahan pada sikap Jin Soo yang keterlaluan? Ketimbang membela diri karena sudah disebut sampah busuk, Jin Soo hanya tertawa.

Di kantor, Eun Young membuka botol champagne dan bersulang. Para oegawai tidak bisa berkata apa-apa sebab kehilangan penulis seperti Jin Soo bukan sesuatu yang harus dirayakan. Jin Soo tiba di kantor saat mereka semua mengangkat gelas untuk bersulang. Dia menyebut Eun Young hanya menggertak – tentu saja gertakan dan Eun Young tidak bisa mengakhiri hubungan bisnis mereka dengan cara seperti ini. Jin Soo bilang kalau selama dia pergi, dia menulis synopsis sebuah cerita yang menurutnya sangat bagus. Dia melipat kertas yang berisi synopsis itu berbentuk kapal dan menerbangkannya. Kapal itu mendarat di atas kue.

Semua orang membeku. Setelah beberapa saat, Eun Young memasang wajah berani dan mengatakan pada Jin Soo untuk membawa ceritanya itu ke penerbit yang selanjutnya. Tapi Jin Soo mengatakan kalau cerita yang satu ini sangat bagus dan punya kans buat difilmkan. Eun Young terdiam tapi dia tetap bertahan. Dia lalu memilin kertas itu tanpa membacanya dan membuanya ke champagne-nya.

Jin Soo terkejut dan menyebutkan kalau itu adalah satu-satunya yang dia punya. Tapi Eun Young sudah yakin pada keputusannya dan tidak bisa berbalik lagi jadi dia terus memutar gelasnya. Dia berkata kalau sayang sekali bila Jin Soo hanya punya satu. Ketika Jin Soo pergi, semua orang berebut untuk menyelamatkan kertas itu. Setelah membuka kertas itu, Eun Young mulai membaca. Dan ternyata… cerita itu memang bagus!

Malam itu, Jin Soo menemukan kertas yang berisi synopsis ceritanya di pintu dengan sebuah post it dari Eun Young yang memerintahkan Jin Soo untuk menyelesaikan cerita itu dalam waktu enam bulan. Kata-kata pertamanya berisi kalau Jin Soo harus menyelesaikan buku itu dalam waktu yang sudah ditentukan. Tapi, kata-kata berikut sangat manis: “Kau bisa melakukannya. Aku percaya padamu. Penulis Lee, berjuang!”

Seung Yeon mendapat kabar dari Do Sang tentang sebuah pekerjaan baru, yang membuat keluarganya sangat senang. Pekerjaan itu adalah menjadi sekretaris Jin Soo dan Seung Yeon sangat senang mendapat kesempatan ini. Akan tetapi, dia juga bingung kenapa Jin Soo menyewanya padahal dia tidak berpengalaman. Semua orang berpikir selama beberapa saat tapi mereka terlalu senang untuk terus memikirkannya.

Seung Yeon muncul dengan gugup di apartemen Jin Soo keesokan harinya untuk mulai bekerja. Jin Soo memulai dengan memberitahu detailnya – Jin Soo punya waktu 6 bulan untuk menyelesaikan bukunya dan pekerjaan Seung Yeon juga berlangsung selama itu. Jin Soo bisa membayarnya per hari. Seung Yeon sekali lagi terpesona soalnya Jin Soo sangat keren dan mempesona. Selain itu, Jin Soo juga baik hati dan bersikap sangat sopan.

Selanjutnya, Seung Yeon berbicara dengan rumah penerbit untuk memperoleh informasi tentang kebiasaan Jin Soo. Contohnya saja, Jin Soo tidak punya mobil – dia pergi kemana-mana dengan sepeda atau Segway. Jin Soo juga tidak punya handphone, yang membuat semua orang susah menghubunginya. Ketika dia sedang menulis buku, dia harus didampingi oleh 10 pensil runcing dan segelas kopi. Dia melukan dua pekerjaan dengan semangat, yaitu menyiakan pensil dan kopi. Jin Soo meminum kopi buatan Seung Yeon dan berbohong kalau kopi itu enak padahal tidak enak. Pensil yang disiapkan membuat Jin Soo terganggu dan ketikan Seung Yeon sangat kacau.

Untuk membuat Seung Yeon tetap sibuk dan menjauh darinya, Jin Soo mengirimnya untuk meringkas sebuah buku yang bisa dia lakukan di book café dia bawah. Jin Soo menyuruh Seung Yeon untuk bekerja disana, tapi ketimbang mengatakan kalau Seung Yeon sebenarnya sangat mengganggu, dia hanya tersenyum dan bilang kalau bukunya memang tidak bisa dibawa keman-mana. Seung yeon dengan senang melaksanakan pekerjaannya. Tapi, ketika dia kembali ke atas untuk mengambil sesuatu yang ketinggalan, dia melihat Jin Soo membuang semua pensil dan kopi buatan Seung Yeon lalu membuat sendiri kopi untuk dirinya.

Di bawah, Seung Yeon kaget karena buku yang dibacanya sangat tebal dan dalam bahasa Inggris pula! Book café itu ternyata milik Eun Young dan dia menyapa Seung Yeon dengan hangat. Ketika Eun Young mendengar kalau pekerjaan Seung Yeon adalah perintah Jin Soo, dia hanya tertawa dan berkata kalau seung Yeon akan perlu waktu lama untuk menyelesaikan pekerjaannya. Seung Yeon tinggal di book café seharian hingga Jin Soo memanggilnya. Seung Yeon minta maaf karena hanya bisa mengerjakan lima halaman. Jin Soo tersenyum dan bilang kalau itu tidak apa-apa. Pekerjaan itu bisa dilanjutkan besok. Jin Soo membayar gaji Seung Yeon dan menyuruhnya pulang.

Dengan gaji pertamanya, Seung Yeon mentraktir keluarganya makan malam dan berharap jika pekerjaannya berlangsung terus. Tapi, seminggu berlalu, dia mendapati dirinya bertambah bosan dan bingung. Dia melakukan dua pekerjaannya dengan gampang tapi Jin Soo tetap saja membuang kopi dan pensilnya. Di sisi lain, Jin Soo tetap membayarnya dan tetap tersenyum manis padahal Seung Yeon tidak melakukan apa-apa selama seharian.

Ini sangat membuat Seung Yeon terganggu dan dia pun menelpon Do Sang. Dia bertanya ada perjanjian apa dengan Jin Soo. Do Sang hanya tertawa, dia tidak mengerti permasalahannya. Do Sang hanya berkata kalau sebenarnya punya kepribadian yang lucu. Hal ini tidak membuat Seung Yeon puas. Jadi di dalam taxi, dia melepaskan unek-uneknya pada supir taxi. Sang supir bilang kalau pria itu mungkin saja menyukai Seung Yeon. Tapi Seung Yeon berkata kalau itu hal konyol. Lalu supir itu menasehati Seung Yeon untuk bertanya langsung.

Seung Yeon merasa kalau itu ide bagus dan berbalik ke apartemen Jin Soo. Dia menggedor pintu Jin Soo dan menumpahkan semuanya. Dia ingin tahu kenapa Jin Soo tidak menyuruhnya melakukan apa-apa. Jika Jin Soo tidak menyukai kopinya, dia bisa langsung bilang. Atau Jin Soo bisa menyuruhnya berhenti. Kenapa dia harus membodohinya? Jin Soo tertawa. Tidakkah pekerjaannya gampang dan menyenangkan? Seung Yeon menjawab tidak! Kenapa dia harus membaca buku tebal? Kemudian dia memikirkan perkataan supir taxi. Seung Yeon bertanya dengan gagap, “Apa kau menyukaiku?”

Jin Soo memandangi Seung Yeon dengan tidak percaya yang membuat Seung Yeon berkata kalau sikap Jin Soo sangat konyol hingga membuatnya berpikir kesana. Jadi apa persetujuannya? Jin Soo mengatakan kalau dia akan membayar Do Sang sebesar 10 juta won karena sudah melakukan pekerjaan untuknya. Tapi Do Sang malah bilang untuk menyerahkan uang itu pada Seung Yeon. Pekerjaan ini diciptakan sebagai alasan saja untuk kesenangan Do Sang. Seung Yeon bingung dan bertanya kenapa. Jin Soo tersenyum dan menjawab, “Kau seharusnya tahu kenapa.” Seung Yeon kemudian sadar jika Do Sang menyukainya. Jin Soo mengantar Seung Yeon keluar dan menyuruhnya untuk menyelesaikan ini dengan Do Sang sebab dia punya banyak pekerjaan.

Seung Yeon mulai keluar tapi dia masih ada ganjalan dan kembali menggedor pintu apartemen Jin Soo. Dia masuk ke tempat Jin Soo dan mengatakan kalau Jin Soo masih belum menjawab pertanyaannya. Jika Jin Soo menyewanya sebagai sekretaris kenapa Jin Soo tidak menyuruhnya melakukan pekerjaan? Tidakkah itu pemborosan? Jin Soo menjawab kalau Seung Yeon tidak sesuai dengan seleranya. Seung Yeon protes dan berkata dia bisa mencoba agar sesuai dengan selera Jin Soo. Akan tetapi, Jin Soo menjawab, “Kau tidak bisa!”

Seung Yeon bertanya kenapa tidak bisa. Jin Soo berkata dengan setengah tertawa, “Apa yang bisa aku harapkan dari amatiran?” Jin Soo menghubungkan dengan pertemuan pertama mereka di kafe dan Jin Soo tahu ada yang salah dengan tempat itu sebab Seung Yeon adalah amatiran. Dia tidak punya semangat kerja. Apakah Seung Yeon sudah mengerti?

Seung Yeon menjamin Jin Soo kalau dia sudah mendapatkan pesannya dengan jelas. Seung yeon meminta maaf tapi Jin Soo berkata kalau dia tidak perlu meminta maaf sebab gaji Seung Yeon toh berasal dari Do Sang. Mereka bisa melanjutkan persetujuannya lagi dan bila Seung Yeon tidak suka bukunya, dia bisa memilih buku yang lain.

Melihat Seung Yeon masih bingung, Jin Soo menawarkan untuk membuatkan kopi sebelum dia pergi. Akan tetapi, Seung Yeon hanya menatap Jin Soo dengan tatapan kecewa. Dan Jin Soo tidak senang ataupun terkejut dengan senyuman marah Seung Yeon…

Iklan

4 thoughts on “Sinopsis Coffee House – Episode 1

  1. hi.
    first?

    seneng bisa nemu blog yang ada sinopsis coffeehousenya bahasa indonesia.
    jadi bisa ngebandingin, yang aku tangkep setelah nonton sama gak sih sama orang lain.
    ternyata emang sama.
    hehe.
    keep posting ya 🙂

  2. penasaran bgt sama drama yg satu ini..
    tapi lum nonton..

    penasaran juga sama eun jung (Seung Yeon) nya..

    sebenarnya pemeran utama cewe nya sapa yaa??
    seung yeon ato Eun Young?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s