Sinopsis Chuno – Episode 10

Episode ini dimulai dengan Dae Gil yang berlari ke arah kakak Un Nyun dan menodongkan pria itu pisau. Dia menyerah dan berlutut. Dae Gil pun mulai menanyakan pertanyaan yang selama ini berputar-putar di kepalanya: “Dimana Un Nyun?”

Kakak Un Nyun tidak diam tanpa perlawanan. Dia berkata pada Dae Gil untuk membunuhnya saja. Dae Gil mulai mengencangkan pisaunya di leher pria itu. Tapi, dia kembali ragu-ragu. Kakak Un Nyun (Seong Hwan) bertanya kenapa Dae Gil ragu-ragu. Dia bahkan mengingatkan Dae Gil kalau dia adalah orang yang membunuh ayahnya. Dae Gil membalaskan dendamnya. Dia melukai wajah Seong Hwa tepat di matanya dengan membuat goresan seperti yang Dae Gil miliki.

Sementara itu, Tae Ha dan Un Nyun di kelilingi oleh pasukan dan tidak bisa lagi kabur kemana-mana. Tae Ha meyakinkan Un Nyun kalau semuanya akan baik-baik saja. Un Nyun mengangguk. Matanya penuh dengan keyakinan. Tae Ha berlutut dan melipat tangannya di belakang kepala sebagai tanda menyerah. Beberapa orang bersiap-siap akan mengikatnya. Tapi itu hanya tipuan – saat pasukan itu mendekat, Tae Ha merampas tali yang mereka bawa dan mulai bertarung.

Di tengah-tengah pertarungan, seorang tentara mengarahkan panahnya ke Un Nyun dan bersiap-siap memanah. Tae Ha melihat hal ini dan berlari untuk menghentikannya. Un Nyun memang selamat. Tapi panah itu mengenai lengan Tae Ha.

Tentara yang menembakkan panah itu kabur dan Tae Ha menarik anak panah yang menembus lengannya. Un Nyun memintanya untuk berhenti lalu berlari untuk mengumpulkan sesuatu dari sebuah kendi yang seperti terdapat benda yang berguna untuk mengobati luka Tae Ha.

Di pihak lain, pelayan pangeran masih mengejar Han Seom aka Kwok yang lari bersama pangeran. Pelayan itu tidak mau menyerah. Han Seom akhirnya berhenti dan menyerahkan pangeran padanya, yang membuat wanita itu menjadi tenang. Han Seom kemudian mengatakan kalau ada seorang pembunuh yang ingin menghabisi nyawa pangeran. Wanita itu sadar bagaimana sulit situasinya sekarang dan menurut saja perintah Han Seom.

Tae Ha dan Un Nyun sampai di tempat yang sama dengan pangeran dan pelayannya. Begitu pula dengan Hwang Chul Woong. Tae Ha ingin jalan terus tapi Un Nyun bersikeras agar mereka berhenti dan merawat lukanya. Saat merawat luka Tae Ha, Un Nyun bertanya soal pangeran dan pelayannya. Kali ini Tae Ha menjawab dengan jujur pertanyaan itu. Un Nyun juga bertanya apakah pangeran akan menjadi raja suatu hari kelak. Tae Ha memastikan hal itu padanya. Un Nyun kemudian ingat pada hari dimana dulu Dae Gil berjanji padanya kalau dia akan mengubah negara dan menciptakan asas persamaan jadi mereka dapat bersatu. Un Nyun kemudian bertanya: “Kalau kita punya raja baru, apakah dunia akan berubah?” Tae Ha sekali lagi berkata bahwa hal itu harus!

Un Nyun tersenyum mendengar jawaban ini. Dia selesai merawat luka sang mantan jenderal. Tae Ha kemudian berkata kalau mereka harus segera pergi. Un Nyun membuat Tae Ha terkejut dengan berkata tidak. Dia juga mengatakan kalau dia tidak ingin mencampuri urusan penting Tae Ha. Un Nyun berkata: “Kau harus berhasil dan menciptakan dunia yang lebih baik!”

Tae Ha terdiam dan mencerna ucapan Un Nyun. Kemudian dengan manis dia berkata: “Meski ini bertentangan dengan ajaran moral, tapi aku akan terus menggenggam tanganmu… karena kita harus lari.”

Tae Ha kemudian menjulurkan tangannya pada Un Nyun. Wanita itu ternyata meraih uluran tangan Tae Ha. Mereka saling pandang dan sudah pasti kini mereka yakin untuk tidak mau berpisah. Mereka pun pergi.

Di tempat lain, Dae Gil sudah berancang-ancang akan menginterogasi Seong Hwa ketika dia diganggu oleh sebuah suara. Seol Hwa telah ditangkap oleh anak buah Seong Hwa. Salah satunya bahkan menodongkan pedang ke leher Seol Hwa sambil mengancam akan membunuhnya bila Dae Gil tidak melepaskan Seong Hwa.

Dae Gil sepertinya tidak peduli. Dia memarahi Seol Hwa karena sudah menghilangkan kuda-kuda mereka. Jadi suatu hari nanti dia harus membayar hutangnya. Seol Hwa ketakutan mendengar hal itu dan memohon pada Dae Gil agar tidak mendekat dan berteriak kalau dia akan mati bila Dae Gil mendekat.

Dae Gil sebenarnya sudah menebak kalau anak buah Seong Hwa hanya mengancam saja. Memang benar begitu. Sebab, detik berikutnya, mereka malah berlari ke Dae Gil dan mulai menyerang. Seol Hwa ditinggalkan di belakang. Dengan cepat, Dae Gil menghabisi orang-orang itu.

Seong Hwan bertanya apakah Dae Gil tidak penasaran kenapa dia membantai keluarganya 10 tahun yang lalu. Dae Gil bilang dia tidak peduli tapi Seong Hwan bercerita juga. Ceritanya ini sangat mengejutkan. Dia dan Dae Gil ternyata bersaudara tiri. Ibu Seong Hwan yang seorang budak dihamili oleh ayah Dae Gil. Kemudian ibu Seong Hwan menikah dengan budak lainnya dan melahirkan Un Nyun. Jadi mereka sebenarnya saling terikat. Kemudian dia berkata: “Hari itu aku tidak membunuh ayahmu. Tapi, aku membunuh ayahku!”

Dae Gil yang terkejut mendengar cerita itu, berteriak menyuruh kakak Un Nyun untuk diam. Dia kembali menodongkan pisau ke leher pria itu, mencoba mengumpulkan tenaga untuk membunuhnya. Seong Hwan berkata: “Apa kau masih mencintai Un Nyun? Kalau begitu lupakan saja dia sekarang. Un Nyun sudah menikah. Dengan Song Tae Ha.”

Mendengar kalimat ini, Dae Gil menangis dan melepaskan Seong Hwan. Dia kembali teringat pada saat dia melemparkan pisau dan mengenai wanita yang berkuda bersama Song Tae Ha. Dia sempat melihat wajah wanita itu. Dae Gil kembali memastikan: “Apa kau menyebut Song Tae Ha? Un Nyun sudah menikah dengan Song Tae Ha?” Bahkan, saat Seong Hwan berkata pada Dae Gil untuk melupakan Un Nyun saja, Dae Gil sepertinya tidak mendengarkan. Seong Hwan kemudian merampas pisau Dae Gil dan menusuk perutnya sendiri. Seong Hwan mati.

Dae Gil menangis dan bertanya-tanya kenapa harus Song Tae Ha. Kenapa Un Nyun menikahi pria itu? Dia kemudian menarik kerah baju Seong Hwan dan memintanya untuk bangun. Dia tidak boleh mati.

Dae Gil ambruk. Seol Hwa yang menyaksikan semua kejadian ini berlutut di samping Dae Gil. Dia memegang tangan pria itu yang berlumuran darah. Berharap hal itu dapat membuatnya tenang.

Kembali ke Han Seom. Mereka bertiga beristirahat di sebuah gua, dan Han Seom bercerita kalau selama ini dia berpura-pura menjadi orang jahat agar bisa tetap dekat dengan pangeran sehingga bisa menyelamatkannya saat keadaan bertambah buruk. Tae Ha sendiri yang meminta Han Seom melakukan ini dan juga menyuruhnya untuk menunggu perintah ketika waktunya tiba.

Mereka bertiga kemudian melanjutkan perjalanan. Han Seom tetap masih ingin melamar pelayan pangeran, menjanjikan kalau mereka akan hidup bahagia. Mereka saling berkelakar. Han Seom menanyakan nama wanita itu. Dari mana dia berasal, dsb… tapi, Hwang Chul Woong berada sudah sangat dekat dengan ketiga orang itu. Waktu wanita itu berkata: “Namaku…” Hwang Chul Woong berhasil melihat mereka.

Dia mempersiapkan sebuah tombak dan melemparkannya. Tombak itu tepat mengenai punggung sang pelayan. Sekarat, dia masih melanjutkan perkataannya: “Namaku… Jang.. Pil… Soon…” Dia juga meminta Han Seom untuk menjaga pangeran.

Chul Woong akhirnya sampai dan mencoba membunuh pangeran. Dia gagal karena Han Seom selalu berhasil menangkis serangannya. Saat Han Seom sudah terpojok, mereka mendengar sebuah suara: Tae Ha sudah tiba disana juga. Dia menyuruh Chul Woong untuk berhenti. Dia lalu memungut pedang Han Seom yang terjatuh. Sebab, Tae Ha sendiri tidak membawa pedangnya.

Tae Ha: “Berhenti. Bukankah kita teman yang berlumuran darah di medan perang?”

Chul Woong: “Teman? Pernahkah kau menganggapku sebagai seorang teman? Bukankah kau selalu memandang rendah diriku dan memberiku perintah?”

Tae Ha: “Jika kau melanjutkannya, aku akan membunuhmu.”

Chul Woong: “Apakah kau berpikir karena sudah pernah menyelamatkan hidupku membuat nyawaku menjadi milikmu?”

Tae Ha tidak menyahut. Dia menyuruh Han Seom pergi dan menyelamatkan pangeran. Dia menurut.

Sementara itu, Un Nyun melanjutkan perjalannya dengan mengikuti jalan yang diambil Tae Ha. Dia berusaha secepat mungkin. Tiba-tiba saja dia berhenti. Dia melihat pedang Tae Ha yang ditinggalkan untuknya, yang menandakan kalau laki-laki itu akan kembali untuknya. Un Nyun berhenti dan duduk. Dia mengayunkan pedang itu.

Pertarungan antara Tae Ha dan Chul Woong jelas berlangsung sengit. Mereka awalnya imbang. Tapi kemudian Tae Ha berhasil menggores Chul Woong dengan pedangnya. Chul Woong kalah tapi masih bersikeras melanjutkan pertarungan. Tae Ha berhasil kembali dengan menodongkan pedangnya ke leher Chul Woong.

Tae Ha: “Berhenti mengejarku sekarang.”

Chul Woong: “Jangan berbicara padaku seolah-olah kau sedang memberiku perintah!”

Tae Ha kabur dan Chul Woong berteriak padanya untuk kembali dan bertarung hingga mati.

Tae Ha bergabung dengan Han Seom dan Pangeran. Mereka bertiga menuju rakit yang sudah dipersiapkan sebelumnya untuk mereka pakai saat kabur. Tae Ha berkata bahwa dia harus kembali dan menjemput seseorang. Tae Ha pergi dan mencari Un Nyun.

Han Seom: “Saya tahu bahwa seseorang yang tidak bisa menyelamatkan satu nyawa, tidak akan bisa menyelamatkan negerinya. Yang Mulia, saya tidak melakukan apa-apa dan hanya bisa kabur… tapi Jenderal… pergi untuk menyelamatkan satu nyawa lagi. Bukankan dia orang yang bisa membangun seluruh negeri? Bukankah demikian, Yang Mulia?”

Sementara itu Dae Gil, yang sangat sedih, sedang berjalan di sebuah jalan setapak. Di sampingnya, Seol Hwa berusaha membuatnya senang kembali. Dia bahkan menari dan menyanyi. Dan ketika Dae Gil sama sekali tidak merespon, Seol Hwa berkata: “Hidup denganku saja! Lebih baik hidup dengan wanita yang menyenangkan daripada wanita yang cantik.”

Di hadapan Dae Gil tiba-tiba muncul bayangan Un Nyun. Rambutnya sudah diikat yang menandakan kalau dia sudah menikah. Wajahnya terlihat sedih. Seolah-olah dia mengucapkan selamat tinggal pada Dae Gil. Waktu Dae Gil mendekatinya, Un Nyun malah berjalan menjauh. Dia perlahan-lahan memalingkan wajahnya. Dia pergi.

Di saat yang bersamaan, Tae Ha sampai ke tempat Un Nyun sedang duduk. Un Nyun melihat kedatangan Tae Ha dan langsung bangkit. Mereka berdua berjalan mendekat.

Tae Ha: “Kau menungguku?”

Un Nyun: “Kau meninggalkan pedangmu.”

Tae Ha memeluk Un Nyun… dia kemudian menciumnya. Awalnya Un Nyun ragu, tapi akhirnya memejamkan mata dan menerima ciuman itu…

Ketika semua itu terjadi, bayangan Un Nyun yang dilihat oleh Dae Gil perlahan-lahan memudar. Dia berbalik. Pergi. Dan akhirnya benar-benar menghilang. Dae Gil menatap jalan yang kosong dengan hati yang terluka…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s