Sinopsis Chuno – Episode 9

Sang pembunuh Yoon Ji meluncurkan serangan mengejutkan pada Un Nyun dan hanya kecepatan Tae Ha yang dapat menyelamatkannya. Yoon Ji kemudian terpaksa berhadapan dengan Tae Ha dengan mengeluarkan jurus berputar dengan belati. Dia memakai dua belati dan Tae Ha yang gesit tetap tak tersentuh. Akan tetapi, ikat kepala mantan jenderal itu terpotong oleh salah satu belati Yoon Ji dan mengungkap tato mengerikan di dahi Tae Ha. Sebuah tato yang menegaskan kalau dia adalah seorang budak.

Un Nyun yang benar-benar percaya pada Tae Ha ketika dia mengatakan kalau dia bukan budak, sangat terkejut. Baginya, pengungkapan ini memiliki arti khusus. 10 tahun yang lalu, dia dan kakaknya Seong Hwan, lari dari rumah keluarga Dae Gil. Menyatu ke dalam masyarakat sebagai manusia bebas, mereka memutuskan untuk menghapus tato di badan mereka dengan menggunakan besi panas dan membakar tanda budak itu. Un Nyun membeku melihat tato di dahi Tae Ha.

Tae Ha membuat Yoon Ji membayar mahal atas serangan mendadak yang dilakukannya. Berhadapan dengan lawan yang lebih unggul adalah sebuah ide buruk apabila serangan awal gagal. Dengan sigap, Tae Ha menusukkan salah satu belati yang digenggam Yoon Ji ke perut wanita itu sendiri!

Seperti yang diprediksi oleh Dae Gil, Tae Ha dan Un Nyun pergi ke pulau Jeju melalui kota pelabuhan yang terdekat yang menuju ke pulau itu. Tae Ha menggenggam pergelangan tangan Un Nyun dan naik ke atas perahu. Karena tidak ada halangan lagi, mereka berangkat menuju pulau Jeju.

Sementara itu, gerakan tergesa-gesa Dae Gil agar cepat sampai ke Tae Ha dan Un Nyun dihalangi ketika Baek Ho dan anak buahnya menghadang. Dae Gil dapat lolos dari serangan awal Baek Ho yang bisa saja membelahnya menjadi dua bagian. Dae Gil dengan cepat dapat mengalahkan orang-orang Baek Ho lalu berhadapan dengan pria yang mendapat perintah dari kakak Un Nyun untuk membunuh Dae Gil.

Kemudian Baek Ho melakukan hal yang sangat mengejutkan. Dia menunjukkan gambar Un Nyun pada Dae Gil. Jelas saja laki-laki itu membeku. Sebab, Baek Ho punya gambar terbaru Un Nyun. Itu berarti, dia pernah bertemu dengan Un Nyun. Baek Ho meluncurkan serangan mematikan pada Dae Gil, namun sebelum hal itu tercapai, dia sudah dihentikan. Choi menyelamatkan Dae Gil dengan lemparan tombak yang sangat akurat.

Tombak itu menembus dada Baek Ho! Dia sekarat dan hanya punya sedikit waktu untuk menunjukkan rasa cintanya pada Un Nyun. Gambar Un Nyun robek menjadi dua. Salah satu robekannya dipungut oleh Baek Ho sementara yang lainnya di ambil oleh Dae Gil.

Dae Gil menggeledah mayat Baek Ho untuk mencari sesuatu yang mungkin bisa dijadikan petunjuk untuk menemukan Un Nyun. Dia menemukan sesuatu: tanda pengenal Baek Ho, yang bertuliskan nama Baek Ho, tempat tinggal, tahun lahir, dan derajat!

Dengan petunjuk itu, Dae Gil segera pergi ke desa tempat tinggal Baek Ho dan bahkan tidak menunggu Choi dan Wang Son. Dia kembali ke tempat Seol Hwa dan merampas tali pengikat kuda dari tangan wanita itu lalu menunggangi kudanya. Seol Hwa naik ke kuda yang terakhir dan mengejar Dae Gil. Choi dan Wang Son tiba terlambat!

Kembali ke ibukota Han yang, beberapa anak buah Chun Ji Ho diperintahkan untuk bertemu dengan Perdana Menteri Lee Gyeong Shik di paviliunnya sementara, Chun Ji Ho dan yang lainnya masih mengikuti Hwang Chul Woong. Orang-orang itu akan bertemu dengan Perdana Menteri Lee sambil membawakan surat dari Komandan Hwang yang berisi informasi tentang kematian Perdana Menteri Im.

Perdana Menteri Lee sangat senang dengan berita itu dan segera pergi, meninggalkan orang-orang Chun Ji Ho di tempat itu dengan meja yang penuh makanan lezat. Anak buah Ji Ho menyenangkan diri mereka dengan menyantap makanan itu tanpa tahu kalau Lee Gyeong Shik sudah meracuninya! Mereka mati dengan cara yang mengenaskan lalu digantung bak penjahat!

Di tempat lain, Tae Ha dan Un Nyun sedang dalam perjalanan ke Wando. Dan Un Nyun punya banyak pertanyaan!

Un Nyun: Bagaimana kau bisa menjadi seorang budak?

Tae Ha: Aku bukan budak.

Un Nyun: Lalu apa arti semua ini? Kau budak tapi bukan budak. Kau yang dikejar tapi tidak sedang dalam pelarian. Ucapan macam apa ini? Yang mana yang bisa aku percaya dan yang mana yang harus aku lupakan?

Tae Ha menceritakan semuanya. Setelah dihianati anak buahnya, Hwang (yang bersekongkol dengan Lee Gyeong Shik), Perdana Menteri Im menemui Tae Ha dan menceritakan tentang surat rahasia yang ditulis Putra Mahkota pada Tae Ha. Sangat penting bagi Tae Ha untuk bertahan hidup jadi dia membiarkan dirinya dan anak buahnya menjadi budak sebab Perdana Menteri Im punya rencana untuk mengaktifkan Tae Ha dan anak buahnya ketika waktunya sudah tepat.

Un Nyun: Lalu apakah kau mencoba mengungkap tuduhan palsu ini dan kembali ke kehidupanmu sebelum kau menjadi budak? Karena itukah kau melarikan diri?

Tae Ha: Ada hal lebih penting yang harus aku lakukan ketimbang menghapus status budak.

Un Nyun: Adakah hal lebih penting dari membebaskan dirimu dari perbudakan?

Tae Ha: Ada hal yang harus aku lakukan, meski itu artinya aku harus diubah menjadi sesuatu yang lebih buruk dari menjadi seorang budak.

Un Nyun memandang Tae Ha dan pelan-pelan menggelengkan kepalanya. Tae Ha mungkin saja benar. Tapi jelas dia tidak tahu apa-apa tentang apapun yang diucapkannya. Kemudian Un Nyun berkata kalau tidak ada yang lebih buruk di dunia ini dari menjadi seorang budak.

Meski Un Nyun menggelengkan kepala, dia kemudian melepas mantelnya dan merobek pakaian itu untuk membuatkan ikat kepala yang baru bagi Tae Ha. Pria itu tersentuh pada hadiah yang diberikan Un Nyun. Sebenarnya bisa saja dia menyuruh Tae Ha merobek pakaiannya sendiri. Tapi, Un Nyun malah merobek pakaiannya sendiri.

Konspirasi pemberontakan budak berlanjut. Eop Bok sebelumnya telah membunuh seorang bangsawan dan mencuri semua uang bangsawan itu. Malam itu, Eop Bok dan kekasihnya, Cho Bok, sedang jalan-jalan. Dia bertanya pada Cho Bok apakah mungkin menjalankan misi mereka menggunakan orang yang tidak tepat? Cho Bok berpikir sejenak, kemudian dia tersenyum dan menggenggam tangan Eop Bok.

Di tempat lain, Dae Gil dan Seol Hwa berkemah karena hari sudah malam. Seol Hwa masih belum tahu kenapa mereka harus meninggalkan Choi dan Wang Son tapi Dae Gil sama sekali tidak mengatakan apa-apa. Seol Hwa menggeliat karena puas dan tidak puas pada hidupnya.

Seol Hwa mencoba mengajak Dae Gil mengobrol. Dia mengatakan sesuatu yang berani dengan bilang bahwa dia ingin menjadi pemburu budak saja seperti Dae Gil dan kawan-kawannya. Hal itu mengejutkan Dae Gil yang merespon ucapan Seol Hwa itu.

Dae Gil: Sekarang kau sudah sampai di dasarnya. Inikah hal yang menurutmu berharga untuk dilakukan?

Seol Hwa: Lalu kenapa kau melakukannya?

Dae Gil terdiam dan tanpa sadar meraba luka yang dia dapat dari kakak Un Nyun, yang sudah membunuh seluruh keluarganya dan manghancurkan rencana hidupnya dengan Un Nyun. Dae Gil berkata: “Karena para budak yang kabur harus ditangkap. Para budak yang mengkhianati tuannya harus ditangkap dan dikembalikan ke tempat mereka semula.”

Keesokkan paginya, Seol Hwa dan Dae Gil sampai di desa tempat asal Baek Ho. Dae Gil memerintahkan Seol Hwa untuk bertanya dan menemukan tempat tinggal Baek Ho, siapa   tuannya, apakah ada yang mengenal Un Nyun dan seterusnya. Seol Hwa kemudian bertanya apakah Dae Gil akan meninggalkannya ketika dia pergi bertanya.

Seol Hwa: Kalau kau meninggalkanku lagi, aku tidak akan membiarkannya begitu saja. Meski aku tidak percaya pada setiap pria di dunia ini… kau tahu aku percaya padamu, kan? Dan kau tahu kan apa artinya ketika seorang wanita berkata pada seorang pria jika dia mempercayainya?!

Kembali ke Tae Ha dan Un Nyun. Mereka akhirnya menemukan kapal barang yang menuju ke Jeju. Kelihatannya, Un Nyun mulai menyukai Tae Ha. Setelah melewati malam yang penuh kegelisahan di dalam kapal barang itu dimana mereka saling pandang, Tae Ha dan Un Nyun bertemu di dek pada paginya. Un Nyun berterimakasih pada Tae Ha karena sudah meminjamkan mantelnya sebagai selimut lalu menyerahkannya pada Tae Ha. Dia memperhatikan jaket yang diserahkan Un Nyun yang sudah terlipat dengan rapi. Tae Ha sudah pernah menikah sebelumnya dan tahu kalau sikap Un Nyun itu berarti lebih dari sekedar mengembalikan sebuah jaket.

Jauh di Jeju, Penjaga Kwok sedang berjudi dengan kawan-kawannya. Setelah mengalami kekalahan, dia memutuskan untuk mencari udara segar dan menuju tong air untuk minum. Tapi kemudian dia mengeluarkan sebuah kertas kosong dan di lemparkannya ke dalam air. Itu adalah surat rahasia Perdana Mneteri Im. Kwok berubah pucat waktu membaca pesan itu. Dia sadar kalau waktunya sangat sedikit dan harus segera membawa kabur pangeran.

Waktunya bahkan sepertinya sudah habis saat dia menuruni jalan desa dan melihat Hwang Chul Woong sedang mendekat. Dengan cepat Kwok membunuh kawan-kawannya. Suara ribut membuat perawat pangeran keluar tapi dia terkejut ketika Kwok merenggut pangeran dan kabur. Setelahnya, Hwang dan Chun Ji Ho tiba dan dikejutkan oleh suara teriakkan.

Hwang melakukan pemeriksaan. Dia memerintahkan Ji Ho dan Man Deuk untuk mengejar pangeran dan siapapun yang bersamanya. Tapi Man Deuk malah meminta uang lagi yang membuatnya kehilangan nyawa. Komandan Hwang tidak punya waktu buat bermain-main. Chun Ji Ho kabur ketika Hwang menyerangnya juga. Hwang harus menemukan pangeran. Meski ada banyak mayat bergelimpangan, dia tetap masuk ke dalam gubuk dan mencari tanda. Dia sadar kalau semua ini sudah diatur dan dia menemukan sebuah klu yang menuntunnya ke arah utara.

Satu atau dua mil jauhnya, Tae Ha dan Un Nyun juga menuju gubuk yang sama, tidak tahu kalau mereka sudah sedikit telat. Ketika sampai mereka melihat ada 6 mayat tergetak disana.

Tae Ha mencari-cari dan menemukan tanda yang sama seperti yang ditemukan Hwang sebelumnya. Tapi terlambat artinya mati. Saat dia dan Un Nyun keluar dari dalam gubuk, mereka sudah dikepung oleh 12 tentara termasuk 10 orang dengan panah.

Akhirnya Seol Hwa kembali ke Dae Gil dengan informasi tentang tempat tinggal Baek Ho. Awalnya dia menggoda Dae Gil. Namun, keceriaan Seol Hwa berubah jadi menakutkan saat melihat tatapan Dae Gil. Tapi, dia memberikan informasi itu pada Dae Gil. Tidak membuang-buang waktu, Dae Gil memasuki rumah seorang Yang Ban untuk mencari jawaban.

Pada malam harinya, Dae Gil masuk dengan kasarnya ke rumah tuan itu dan bertanya pada pemilik rumah keras-keras apakah Baek Ho tinggal disana. Terkejut, sang pemilik rumah keluar untuk bertemu Dae Gil. Mengejutkan! Itu adalah kakak Un Nyun. Dae Gil mengeluarkan belatinya dan berteriak ketika dia mulai menyerang…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s