Sinopsis Chuno – Episode 5

Di episode sebelumnya, Dae Gil, Choi, Wang Son, dan Seol Hwa telah berhasil mengikuti jejak Tae Ha sampai di sebuah pinggiran sungai, ketika Tae Ha sedang menyusuri sungai dengan menggunakan perahu kecil. Sekali lagi sang pemburu budak Dae Gil dan si pelarian Tae Ha berhadapan. Tapi yang jadi pertanyaan adalah apakah Dae Gil mengenali wanita yang bersama Tae Ha? Apakah dia tidak merasa kalau wanita itu adalah Un Nyun yang dicari-carinya selama ini?

Ternyata tidak! Dae Gil malah melepaskan anak panahnya, yang dapat ditangkis oleh Tae Ha dengan pedangnya. Tae Ha memang luar biasa. Dae Gil menembakkan dua anak panah lagi. Dan lagi-lagi dapat ditangkis oleh Tae Ha! Dae Gil menyeringai, dia mengakui kehebatan Tae Ha. Saat perahu yang ditumpangi oleh Tae Ha dan Hye Won aka Un Nyun mulai menjauh, Choi memperingatkan Dae Gil bahwa sebaiknya mereka menangkap budak itu hidup-hidup.

Dae Gil mengeluarkan sebuah peta dan kompas, mencoba menerka tempat mana yang akan dituju Tae Ha. Waktunya berkuda dan bergerak lagi, jika mereka ingin mendapatkan buruannya di tempat tujuan selanjutnya. Seol Hwa mulai membuat perhitungan. Ada tiga kuda dan empat orang. Choi dan kudanya, akan tetapi sudah ada dua wanita yang memperebutkannya. Tidak baik bila berkuda dengannya. Kemudian ada Wang Son dan Seol Hwa jelas-jelas tidak mau berkuda dengannya. Jadi yang tersisa hanya Dae Gil. Dia pun melompat ke punggung kuda Dae Gil dan pengejaran pun dimulai.

Un Nyun dan Tae Ha berlari melewati daerah dengan pemandangan yang luar biasa. Un Nyun dengan baju putihnya berusaha berlari mengikuti Tae Ha. Tapi akhirnya dia ambruk. Tae Ha sadar bahwa dia sudah terlalu memaksa wanita itu, jadi dia setuju untuk beristirahat. Inilah waktunya tanya jawab. Siapa sebenarnya Tae Ha? Un Nyun sangat ingin tahu. Dan siapa orang-orang dipinggir sungai tadi?

Tae Ha, yang punya sebuah rahasia yang mungkin akan menurunkan raja, berusaha menyembunyikan kebenaran. Dia tidak memberitahu apa-apa tentang kehidupan masa lalunya. Tidak tentang jabatannya sebagai seorang jenderal, tidak tentang kedekatannya dengan putra mahkota. Tidak tentang persekongkolan yang membunuh putra mahkota dan kedua putranya. Yang membungkus kejadian itu dengan pembunuhan masal. Dan sekarang, hanya putra bungsu putra mahkota yang masih hidup dan Tae Ha harus menyelamatkannya. Tae Ha yang mendapatkan pesan rahasia dari putra mahkota yang memintanya untuk bergerak cepat, menyelamatkan putra bungsunya dan membalaskan dendamnya. Untuk itu, Tae Ha harus menemui penasehatnya dan dia tidak bisa membawa Un Nyun bersamanya. Intinya, Tae Ha hanya memberitahu Un Nyun bahwa dia bukan orang jahat!

Sementara itu, Komandan Hwang Chul Woong tetap dipenjara. Sebab, dia menolak untuk mengejar Tae Ha, orang yang dulu menyelamatkan hidupnya selama invasi bangsa Qing. Komandan Hwang duduk dibalik jeruji penjara, sambil mengingat bagaimana dia bisa terlibat dalam hal ini – sedikit demi sedikit, Perdana Menteri Lee mendekati Hwang. Pertama, dengan menawarkan Komando Pelatihan Militer padanya. Kemudian, mengangkatnya sebagai anak dengan menikahkannya dengan putrinya sendiri. Dan sekarang, putra dari Perdana Menteri Lee duduk dibalik jeruji penjara.

Bermil-mil jauhnya, di seberang bukit dan lembah, para pemburu budak dan yang diburu beristirahat untuk menikmati makan malam. Disanalah Wang Son melakukan semua pekerjaan femininnya. Mulai dari memasak, mencuci piring, mencuci pakaian, bahkan menjahit! Dia ditemani Seol Hwa yang tidak bisa apa-apa selain menunggu makanan siap! Wang Son bertanya pada Seol Hwa apakah dia bisa memasak dan hanya satu jawaban untuk itu: TIDAK! Kemudian bertanya lagi apakah dia bisa menjahit dan lagi-lagi jawabannya sama: TIDAK! Wang Son marah dan menyuruh Seol Hwa mengganggu orang lain saja. Di wajah Seol Hwa tampak jelas siapa pemenangnya!

Seol Hwa yang mendapatkan informasi tentang Un Nyun dari Wang Son, memperhatikan Dae Gil dengan rasa kagum yang semakin dalam. Pria yang menghabiskan 10 tahun untuk mencari cintanya. Betapa kerennya! Wang Son mengeluh panjang pendek. Kemudian beralih ke pekerjaannya. Dia bertanya-tanya apakah Seol Hwa tidak tertarik berguling-guling di rerumputan tinggi.

Seol Hwa bangkit dan duduk di sebelah Dae Gil meminta perlindungan sebab Wang Son masih saja menyentuh pantatnya. Tapi Wang Son tidak melakukan apa yang dituduhkan Seol Hwa. Tapi, Dae Gil meminta Wang Son untuk berhenti, bahkan Choi menggelengkan kepalanya. Wang Song protes tapi dia tidak punya pilihan lain karena dia adalah yang termuda di kelompok itu. Sebenarnya Dae Gil tahu kalau Seol Hwa berbohong tapi dia tetap memarahi Wang Son karena (1) Wang Son perlu mendapatkan pelajaran dan (2) hal itulah yang dilakukan seorang kakak pada adiknya.

Seol Hwa juga kena semprot. Tapi kemudian dia mengambil hae-geum-nya (sejenis alat musik) untuk membuktikan keseriusannya pada kelompok itu. Dia mulai dengan beberapa lelucon, menirukan suara binatang dengan alat musiknya dan membuat para pria disana tertawa. Kemudian dia mulai memainkan lagu tentang pasangan kekasih yang cintanya tak bisa bersatu. Para pemburu budak yang mendengarkan lagu itu dibuat terdiam dan mendengarkan dengan penuh penghayatan. Setelahnya, Seol Hwa mengunyah makanannya dengan gembira, dia tahu bahwa dia sudah diterima dikeolmpok itu selama dia bisa bertahan.

Di tempat lain, Tae Ha dan Un Nyun juga menikmati makan malamnya lalu tidur sepanjang malam itu. Namun, ketika pagi datang, Tae Ha bangun dan menemukan sekelompok bandit mencoba merampok mereka. Tae Ha membereskan orang-orang ini dengan cepat. Ketika para bandir sudah mendapatkan pukulan Tae Ha, mereka semua kabur. Lucunya, sebelum kabur pimpinan bandit itu berlutut dihadapan Tae Ha dan menyembahnya.

Selama pertarungan, Tae Ha menjatuhkan selembar kertas yang dia dapat dari orang misterius yang menabraknya ketika dia masih menjadi budak (bersama dengan surat dari Putra Mahkota tepat sebelum dia meninggal), selembar kertas bergambar yang menunjukkan pembunuhan sengaja terhadap anak-anak Putra Mahkota dan warga lainnya di Pulau Jeju. Dengan begitulah, kita akhirnya tahu apa yang sebenarnya terjadi di pulau itu dimana para rakyat menderita bersama dua dari tiga anak Putra Mahkota yang terbunuh. Inilah salah satu desa di Pulau Jeju, tempat dimana sisa keluarga dari Putra Mahkota diasingkan. Sayangnya, sebuah bencana telah menghancurkan desa ini. Mereka yang mati dibiarkan terbaring untuk dibakar biar mencegah virus apapun yang menyerang desa ini menyebar.

Terlihat tiga orang penjaga sedang main dadu, sementara itu seorang anak tengah menangis di sebuah rumah. Anak itu sebenarnya adalah Pangeran Seok Gyeon, anak dari Putra Mahkota yang bertahan hidup, anehnya para penjaga itu tidak memerdulikannya. Lalu dimanakah pelayan yang seharusnya menjaga Pangeran? Ada yang tidak beres disini.

Di ujung desa, pelayan sang Pangeran terlihat sedang mengambil air segar untuk memasak, mandi, dan minum. Dia ditemani oleh penjaga bernama Kwak. Kwak selalu meminta pelayan pangeran untuk menikahinya sebab tidak ada lagi pria yang peduli padanya di tempat seperti itu. Pelayan itu selalu bersikap galak pada Kwak dan sekarang dapat diketahui alasan kenapa dia tidak mempedulikan Kwak. Dia tahu bahwa Kwak adalah orang yang mengkhianati Jenderal Song Tae Ha dengan mengatakan hal bohong yang menyebabkan sang Jenderal menjadi budak. Tuduhan itu menghentikan langkah Kwak. Sebuah kilas balik muncul: semua anak buah Jenderal Song Tae Ha disiksa dengan cara menekankan besi panas ke kulit mereka. Setelah beberapa siksaan, Kwak menyerah. Tatapan kekecewaan di mata Song Tae Ha membakar ingatan Kwak. Faktanya, anak buah Jenderal Tae Ha yang lain lebih memilih disiksa sampai mati dari pada menjadi pengkhianat dan pengecut.

Kembali ke perburuan budak, dimana Dae Gil dan gang-nya sudah sampai di tempat penyerangan terhadap Tae Ha terjadi, dengan cerdas mereka menerka kemana Tae Ha pergi karena dia membuat jalan setapak buat dilalui teman wanitanya. Dengan jalan itu, pengejaran dilanjutkan dengan kecepatan penuh, setiap hari membawa Dae Gil lebih dekat dan lebih dekat lagi ke Tae Ha dan juga ke Un Nyun meski dia tidak mengetahui hal ini. Di sisi lain, Tae Ha dan Un Nyun sedang mendiskusikan rencana mereka. Tae Ha harus mencapai Chung Joo untuk bertemu dengan mentornya dan menyusun rencana (untuk menyelamatkan anak terakhir Putra Mahkota). Un Nyun mengerti mereka akan segera berpisah dan tidak punya ide apa yang akan dilakukannya.

Dan penasehat Tae Ha? Di rumah yang terlihat dimiliki oleh orang kaya, seorang pria tua duduk menulis surat dengan tinta tidak terlihat. Apakah dia mata-mata? Seorang pelayan dari pria ini membungkuk dan memberikan laporannya. Pelayan ini dalah orang yang memberikan pesan terakhir Pangeran pada Song Tae Ha lewat tabrakan yang ‘tak disengaja’. Dia melaporkan bahwa ada berbagai jenis orang yang mengejar Tae Ha, termasuk pemburu yang baik hati, pasukan militer, dan pemburu yang disewa oleh Perdana Menteri Lee Gyeong Shik. Pria tua itu kemudian mengumpulkan semua pesan yang ditulisnya dan memerintahkan pelayannya untuk mengirimkan surat-surat itu. Mereka punya waktu kurang dari dua hari untuk melaksanakan rencana mereka. Dan mereka tidak bisa lagi menunggu hingga Tae Ha muncul. Kedengaran parah kan? Kelihatannya mereka bakal mengirim Song Tae Ha ke pulau Jeju untuk menyelamatkan anak itu.

Kembali ke pengejaran, Tae Ha dan Un Nyun mencapai penginapan. Dari sanalah mereka akan memilih jalan yang terpisah. Malam harinya, Tae Ha bertanya tentang orang yang Un Nyun cintai. Orang yang membuatnya lari dari pernikahannya agar tetap perawan. Dia pun mengatakan kalau kekasihnya sudah pergi ke tempat yang jauh sekali. Dan sebuah kilas balik tentang malam dimana rumah Dae Gil dibakar pun muncul. Kakak Un Nyun dan beberapa budak lainnya bangun dan membunuh keluarga Dae Gil malam itu. Kakaknya tahu bahwa Un Nyun punya perasaan pada tuan muda-nya dan berpikir bahwa Un Nyun mungkin saja sudah diperkosa. Sudah habis kesabaran kakak Un Nyun dan menebas Dae Gil di dalam rumah yang terbakar, tepat dihadapan mata Un Nyun.

Kembali ke masa kini. Un Nyun berterima kasih pada Tae Ha atas segala bantuannya. Dia juga mendoakan Tae Ha semoga selamat mencapai tujuannya. Ada emosi dalam suara mereka ketika berbicara. Kedua orang ini punya luka yang sama, yaitu sama-sama ditinggal orang yang dicintai. Apakah waktu bisa menghapus luka itu?

Keesokan harinya, Dae Gil dan gang-nya akhirnya tiba di penginapan yang disewa Tae Ha. Namun, kelihatannya Tae Ha dan Un Nyun baru saja pergi. Mungkin semenit yang lalu. Mereka begitu dekat. Dae Gil, Choi, dan Wang Son berpencar untuk mencari di sekitar daerah tersebut sebab buruan mereka tidak mungkin pergi jauh kalau berjalan kaki. Seol Hwa diminta untuk tetap diam ditempatnya, akan tetapi dia memperhatikan kuda-kuda di belakang penginapan. Seol Hwa melompat ke atas kuda dan mengejar Dae Gil, dia berpikir kalau mereka akan meninggalkannya sendirian di penginapan. Dengan begitu saja, Seol Hwa mengatakan pada Dae Gil kalau rasanya aneh, buruan mereka tidak pergi dengan kuda. Dengan cepat Dae Gil sadar kalau dia sudah kena tipu. Dia memutar kudanya dan menungganginya menuju ke penginapan. Sementara itu, Tae Ha yang masih di penginapan juga tersadar kalau rencanya tidak berjalan baik sebab seorang pemburur kembali. Tae Ha mengambil kendali atas kuda yang terakhir dan memandangai Un Nyun yang tidak berdaya… beberapa menit kemudian Dae Gil tiba dan menempelkan telinganya ke tanah… mengatakan bahwa kuda terakhir menuju ke arah barat… balapan kuda pun dimulai…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s