Sinopsis Chuno – Episode 4

Seol Hwa menghalangi langkah Dae Gil dan menolak untuk mengalah sampai dia diikutsertakan dalam misi menangkap Tae Ha. Dae Gil baru saja akan memutar kudanya ke arah lain ketika Eop Bok menembakkan senapannya. Peluru senapan itu menghantam kepala Dae Gil dan dia pun terjatuh. Untuk beberapa saat dia terlihat seperti sudah meninggal. Akan tetapi, dia bangkit lagi, megap-megap, dan dengan cepat memerintahkan Choi dan Wang Son untuk menangkap penembaknya. Sementara itu, Cho Bok, budak wanita yang ikut dalam persekongkolan Eop Bok, memberikan tanda bahwa misi sudah terlaksana dari bawah, jadi Eop Bok turun dari tempatnya menembak sasarannya lalu menyembunyikan senapannya di tengah-tengah sebuah bundelan tongkat.

Choi dan Wang Son memilih arah yang berbeda dalam misi pengejaran terhadap orang yang tega menembak Dae Gil. Choi bahkan berpapasan dengan Eop Bok tapi tentu saja dia tidak bisa menduga bahwa budak lemah seperti Eop Bok adalah penembak itu. Pada akhirnya, mereka memilih arah yang sama untuk mencari penembak misterius itu. Namun tetap saja mereka gagal menangkap penjahatnya. Di pihak lain, Dae Gil cukup beruntung karena tembakan Eop Bok hanya menyerempet dahinya saja. Di penginapan, Dae Gil disembuhkan oleh seorang dokter hewan yang biasa menyembuhkan kuda, bernama Maeui, yang tidak dapat mengerti kenapa perbannya tidak mau menempel dengan baik di kepala Dae Gi padahal beberapa waktu yang lalu benda yang sama mau menempel dengan baik di kepala kuda. Maeui meminta bayaran atas pelayanan yang sudah diberikannya. Akan tetapi, Dae Gil malah menekankan kalau seorang dokter hewan yang menyembuhkan manusia bisa disebut sebagai perbuatan yang illegal. Jadi dia dipersilahkan melapor ke pemerintah atas sikap membangkang Dae Gil yang tidak mau membayarnya.

Pemilik kedai tempat Dae Gil dan kawan-kawannya tinggal, Jumo kecil, ingin meyakinkan Jenderal Choi untuk berhenti saja dari pekerjaannya sebagai penangkap budak – dia percaya kalau dia bisa menjamin hidup Choi dari kedai yang dikelolanya. Namun sang kakak memintanya diam dan menekankan bahwa pria menginginkan wanita yang patuh bukan yang nge-bos. Tapi kemudian, malah sang kakak yang memohon pada Choi untuk berhenti saja dari pekerjaannya sebagai pemburu budak karena pekerjaan itu sangat berbahaya. Dia meyakinkan Choi kalau dia bisa menjamin kehidupan Choi dari hasil kedainya. Dia juga akan memasakkan Choi ayam, yang membuat Dae Gil berkata: “Aku yang terkena tembak, jadi kenapa Jenderal Choi yang dapat ayam?!”

Saat ini Dae Gil memikirkan cara bagaimana menemukan penjahat yang mengancam nyawanya – seseorang telah memesan senjata api di pandai besi terdekat. Seol Hwa punya ide siapa pelakunya – orang jahat! Karena ancaman kematian yang diterima Dae Gil, Wang Son menyarankan agar mereka membagi saja uang yang selama ini Dae Gil sisihkan untuk hari pensiun mereka kelak. Bukan karena dia tidak percaya pada Dae Gil, tapi siapa pun tidak tahu kapan malaikat maut datang. Dae Gil mengingatkannya bahwa kematian selalu ada bersamaan dengan pekerjaan mereka. Sementara itu, Choi mulai merasa tertarik. Menurutnya, semua ini terlalu kebetulan. Ini terjadi tepat setelah mereka disewa untuk menangkap Song Tae Ha. Mungkin saja sebuah konspirasi politik sedang dijalankan. Namun, hal yang paling penting harus didahulukan. Mereka harus tahu siapa yang menginginkan kematian Dae Gil.

Di tempat lain… di sebuah gua yang berdekatan dengan sebuah kuil kecil di atas sebuah gunung, Hye Won/Un Nyun mengobati luka Tae Ha. Mimpinya membawanya kembali ke ingatan tentang istri dan anak lelakinya. Kali ini tentang kejadian dalam perang Manchu. Dia bertemu dengan pasukan Qing yang menjarah rumahnya dan berusaha menebas sebagian dari mereka untuk sampai ke tubuh anak dan istrinya. Dia menutupi bahu istrinya yang terbuka dan marah karena dia datang terlambat untuk menyelamatkannya. Tiba-tiba saja, dia tersadar bahwa putranya masih bernafas. Dia menggendong putranya lalu berhenti sejenak untuk memandangi sang istri buat yang terakhir kalinya. Dengan semangat baru, Tae Ha mengambil pedangnya lagi dan membasmi lebih banyak tentara Qing. Meski kalah banyak dalam jumlah serta dengan putranya yang terikat di punggungnya, Tae Ha dapat memenuhi tanah dengan mayat-mayat tentara Qing.

Kembali ke gua, Hye Won mencoba melepaskan pedang Tae Ha dari tangannya. Tapi dia tidak bisa menandingi genggaman tangan Tae Ha yang kuat. Ketika tangan Tae Ha menggapai-gapai, Hye Won menurunkannya. Sentuhan itu mengejutkan Tae Ha dan membangunkannya dari mimpi lalu menyergap leher wanita itu. Hye Won terkecat kehabisan nafas dengan pedang Tae Ha menempel di lehernya. Perlu beberapa saat bagi Tae Ha untuk menyadari keadaan yang sebenarnya lalu melepaskan Hye Won sembari meminta maaf padanya.

Tae Ha bertanya dimana mereka berada dan Hye Won menjelaskan bahwa dia membawanya ke sebuah kuil kecil dimana arwah keluarganya disemayamkan karena kelihatannya luka Tae Ha parah. Biksu di kuil tersebut, Myeong han, membawakan makanan. Dia memperhatikan seragam militer Tae Ha dan bertanya apakah lukanya dia dapat dalam pertempuran, tapi Tae Ha menjelaskan bahwa lukanya dia peroleh selama latihan. Dia berterima kasih kepada Hye Won dan buru-buru bangkit akan pergi tapi jatuh lagi, masih dalam keadaan yang lemah. Hye Won memintanya untuk tetap tinggal dan beristirahat selama satu hari lagi – itu akan membuatnya tenang sebab Hye Won berhutang padanya karena telah menyelamatkan nyawanya.

Kembali ke Nanyang (nama lama Seoul), Hwang Chul Woong pulang telat malam itu, dan kita bisa tahu bahwa dia menikah dengan Lee Sun Young, wanita dengan otak lumpuh dan juga putri dari Lee Gyeong Shik, Penasihat Pemerintah yang kebetulan juga seorang politikus jahat! Chul Woong memberitahu Gyeong Shik tentang informasi terbaru pencarian Song Tae Ha. Gyeong Shik adalah orang yang mengutus Chul Woong untuk membunuh penasihat Tae Ha, Im Young Ho dan Pangeran Seok Gyeon, sebelum dia sempat bertemu dengan mereka. Akan tetapi, saat Lee Gyeong Shik menginginkan agar Chul Woong sendiri yang mengerjakan misi penting ini, dia menolaknya dengan alasan dia tidak bisa meninggalkan pos-nya di Komando Pelatihan Militer. Hal ini sangat tidak menyenangkan bagi sang penasehat.

Kilas balik ke Perang Manchu. Dan terlihatlah alasan keengganan Chul Woong. Dia terluka parah dalam pertempuran dengan tentara Qing dan Tae Ha menolak untuk meninggalkannya. Dia berjanji pada Tae Ha bahwa suatu hari nanti dia akan membayar hutang itu dengan nyawanya. Dia membayarnya dengan sebuah kunjungan tengah malam ke ibu Tae Ha. Wanita ini sangat mengkhawatirkan putranya dan menyebutkan bahwa istri Tae Ha masih mampu melahirkan seorang anak – topik yang membuat Chul Woong tidak nyaman. Chul Woong memberikan ibu Tae Ha uang dan memintanya untuk berhenti bekerja jadi dia bisa beristirahat. Dia menyuruhnya untuk menunggu sedikit agak lama dan dia akan membelikan ibu Tae Ha rumah yang lebih baik dimana mereka bisa tinggal bersama.

Lee Gyeong Shik memakai kaburnya para budak sebagai alasan untuk memenjarakan Chul Woong karena dia sudah lalai menjalankan tugas. Di penjara, Chul Woong menggunakan sangjwa (orang paling atas di rantai makanan penjara) untuk membangun senioritas. Dengan gampang Chul Woong mengalahkan orang-orang sangjwa dan menjadi bos! Sementara itu, Lee Gyeong Shik memanggil pemburu budak paling terkenal, siapa lagi kalau bukan Dae Gil! Dia ingin Tae Ha ditangkap – hidup atau mati dan menawarkan uang yang sangat besar pada Dae Gil. Dae Gil, yang memang cerdas kalau berurusan dengan uang, berhasil menaikkan jumlah uang hadiah itu dari jumlah semula. Lee Gyeong Shik setuju pada permintaan Dae Gil. Akan tetapi, dia juga punya syarat tersendiri – Dae Gil punya waktu satu bulan untuk menyelesaikan pekerjaannya, tapi jika dia gagal, dia harus membayarnya dengan nyawanya!

Kembali ke kedai dimana Dae Gil mengumumkan pada teman-temannya tentang misi terbaru mereka. Wang Son dan Seol Hwa bergairah mendengar jumlah uang yang begitu banyak. Namun, Choi berpikir kalau jumlah itu terlalu besar dan masalah selalu mengikuti uang dalam jumlah besar, lalu memperingatkan Dae Gil untuk tidak mempercayai orang istana. Sebagai perlindungan tambahan, Choi memberikan baju besi pada teman-temannya untuk dipakai. Sebuah perasaan membawa Dae Gil ke makam Putra Mahkota So Hyeon untuk mencari Tae Ha dan menemukan bukti kunjungan Tae Ha dan bahwa dia sedang terluka. Dae Gil memeriksa peta dan menyimpulkan kalau Tae Ha pasti sedang berada di kuil kecil tak jauh dari sana.

Sang playboy, Wang Son mencoba menggoda Seol Hwa. Awalnya wanita ini kelihatan baik-baik saja. Tapi kemudian dia membuat Wang Son kecewa dengan mengatakan pada Dae Gil bahwa dia tidak bisa berkuda dengan Wang Son karena pria itu terus saja mengganggunya! Ho ho…

Alasan utama Hye Won datang ke kuil itu adalah untuk melaksanakan ritual Buddha yaitu berlutut untuk menghormati orang yang sudah meninggal. Dia sudah berlutut semalaman untuk menyenangkan jiwa orang yang dicintainya (Dae Gil). Pada pagi harinya, Tae Ha menemui Hye Won di tempat suci itu dan tidak bisa berhenti memandanginya dengan seksama. Ketika Tae Ha meninggalkan kuil itu, dia berterimakasih pada biksu disana karena kebaikannya. Sekali lagi dia menanyakan nama biksu itu, jadi dia bisa memberitahu namanya pada Hye Won tanpa bersikap sombong.

Hye Won memotong rambutnya dengan jang-do (pisau kecil yang selalu dibawa wanita bangsawan agar mereka bisa bunuh diri saat kehormatan mereka terancam) dan memberikannya pada Myeong Han sebagai persembahan. Kemarin adalah peringatan kematian orang yang dicintainya dan dia meminta agar Myeong Han mengadakan peringatan setiap tahun dan Hye Won hanya harus memberikan rambutnya.

Baek Ho dan dua orang pria tiba di kuil kecil itu untuk membawa Hye Won kembali. Hye Won lebih baik mati daripada harus kembali dan dia meminta mereka untuk kembali tanpa dirinya. Mereka mengabaikan perintah Hye Won lalu menyeret Hye Won pergi. Untungnya, pahlawan kita, Tae Ha, datang tepat waktu. Di kota, dia menguping rencana Baek Ho yang ingin pergi ke kuil itu. Jadi dia kembali ke Hye Won untuk menyelamatkannya sekali lagi. Dengan gerakan yang mudah, dia memukul pria-pria itu hingga pingsan. Myeong Han menuntun Tae Ha ke sebuah jalan kecil tapi sulit yang menuju ke arah barat. Tae Ha berencana untuk pergi sendiri tapi kembali lagi dan bertanya pada Hye Won apakah dia mau pergi bersamanya ke Chunju. Dan begitulah, mereka akhirnya menjadi teman seperjalanan! Ha-ha!!!

Dae Gil dan kawan-kawannya tiba di dasar gunung yang mengarah ke kuil. Dia memerintahkan Choi dan Wang Son untuk mendaki dari arah utara dan selatan. Sementara, dia sendiri akan mengambil jalan dari arah timur. Lalu, Seol Hwa mendapat tugas untuk menjaga kuda! Ketika mereka mencapai kuil, hanya ada Myeong Han serta Baek Ho dan orang-orangnya yang masih pingsan. Setelah Dae Gil dan biksu Myeong Han bertukar lelucon (mereka sudah saling kenal dengan baik), Dae Gil menunjukkan gambar Tae Ha. Tapi, Myeong Han mengatakan bahwa pria itu sudah lama pergi.

Seol Hwa bosan menunggui kuda-kuda dan memutuskan untuk bergabung dengan para pria di kuil. Dia mengenali bau jibun yang keluar dari tempat suci itu, yang mengindikasikan kalau Tae Ha tidak hanya pergi bersama wanita tapi juga baru saja pergi dari tempat itu sebelum para pemburu tiba. Menyadari hal itu, Myeong Han kehilangan kesabarannya, mengangetkan Seol Hwa dengan dialek lokalnya dan tindakannya yang cerdik. Dae Gil menyimpulkan kalau kedua orang itu mengambil jalur yang menuju ke arah barat. Sebelum pergi, Dae Gil menunjukkan gambar Un Nyun kepada Myeong Han sambil bertanya:
Dae Gil: “Apakah kau pernah melihat wanita ini?”
Myeong Han: “Kau masih mencarinya?”

Myeong Han menghindar untuk menjawab pertanyaan itu dan malah berpura-pura prihatin akan jiwa Dae Gil. Sebaliknya, Dae Gil meminta Myeong Han untuk mengkhawatirkan dirinya sendiri saja dan menitipkan salamnya pada Jjakwi (orang yang Dae Gil kirimkan anak dan ibu di episode 1 itu). Mereka pun pergi.

Kelompok pemburu akhirnya berhasil mejumpai Tae Ha dan Hye Won di sungai. Dae Gil bersiap-siap untuk memanah Tae Ha dengan sebuah busur dan pyun-jeon. Dae Gil yang sudah memfokuskan panahnya pada Tae Ha mulai menarik busurnya dan akan menembak. Tapi Tae Ha menangkap sosok Dae Gil di pinggir sungai dan bergerak dengan cepat untuk melindungi Hye Won. Yang bisa dilihat Dae Gil hanyalah Tae Ha yang berusaha melindungi teman wanitanya… kemudian, tepat saat Dae Gil akan melepaskan anak panahnya, dia berhenti dan menurunkan busurnya, sementara itu, Hye Won yang dilindungi oleh Tae Ha, megap-megap…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s