Sinopsis Chuno – Episode 3

Tae Ha dan Dae Gil berdiri diantara rerumputan tinggi, saling berhadap-hadapan. Tae Ha menggenggam pedang Zhanmadao-nya sebagai pelindung, sementara itu Dae Gil memegang pedang Jian-nya untuk menghalau serangan Tae Ha. Kedua pria itu mulai saling serang, saling melukai. Mereka mendarat dengan selamat tapi Dae Gil mendapatkan segores luka. Apakah Dae Gil mengenali Tae Ha dari kehidupan masa lalunya?

Sementara itu, teman Dae Gil sesama penangkap budak, Choi, menggulung budak-budak lainnya. Duel antara Dae Gil dan Tae Ha terpaksa harus berhenti sebab anak panah melesat ke arah mereka dari jarak dekat. Para penangkap budak lainnya sudah tiba. Chun Ji Ho dan anak buahnya sudah mulai menembakkan anak panah kepada mereka berdua. Chun Ji Ho bukanlah siapa-siapa sebenarnya. Dia memerintahkan anak buahnya untuk melepaskan anak panah. Jika dia berencana membunuh Dae Gil dan budak yang kabur itu, bukankah itu seperti membunuh dua ekor burung dengan lusinan anak panah? Tae Ha tertusuk anak panah. Pada saat itu, Choi muncul dari belakang dan menempelkan pedangnya di leher Chun Ji Ho. Yang dilakukan Choi itu bodoh. Chun Ji Ho mengancamnya dengan mengatakan bahwa dia punya banyak anak buah yang mengarahkan panahnya ke Choi. Tapi Jenderal Choi sama sekali tidak gentar.

Ancaman Chun Ji Ho yang tidak menggetarkan Choi membuatnya mundur. Dia kalah dari Choi dengan berkata padanya bahwa dia tidak tahan pada pria itu. Caranya mundur sangatlah menggelikan. Disini, pada dasarnya Ji Ho adalah pecundangnya! Choi dan Dae Gil kembali ke kamar sewaan mereka sambil mendiskusikan Tae Ha. Wang Son berhamburan masuk, tersedu-sedu karena prihatin atas keadaan Dae Gil. Tapi saat dia melihat kalau Dae Gil baik-baik saja, dia segera pergi sebab dia punya urusan yang belum selesai dengan wanita yang dia pikat bulan ini. Sementara itu, Choi pergi keluar untuk mencari tahu lebih banyak tentang Tae Ha yang begitu misterius serta mampu menahan serangan Dae Gil yang terkenal sangat hebat. Di tempat lain, si pengecut Chun Ji Ho tanpa secuil rasa malu pun menceritakan bagaimana Dae Gil kalah dari budak yang dikejarnya serta bagaimana Chun Ji Ho dan anak buahnya menyelamatkan Dae Gil dengan serangan anak panah. Para petani yang berkumpul bersama Chun Ji Ho percaya begitu saja pada apa yang diucapkan pengecut itu.

Sementara Dae Gil berusaha mengembalikan reputasinya sebagai penangkap budak nomer satu yang sudah dinodai oleh Chun Ji Ho, orang yang bertanggung jawab atas hilangnya reputasi Dae Gil masih di ladang. Tae Ha terluka parah oleh sebuah anak panah. Dia akan ambruk. Tapi akhirnya berhasil mencabut anak panah yang melukainya. Bayangan tentang istri dan anak lelakinya membuat Tae Ha terdorong untuk tetap bertahan hidup. Di sisi lain, Hwang Chul Woong menginterogasi budak yang mencoba kabur yang berhasil ditangkap kembali oleh Choi. Dia menyiksa para budak itu dengan menekankan besi panas ke kulit mereka untuk mendapatkan informasi yang diperlukan. Salah seorang budak mengatakan semua yang ia ketahui tentang Tae Ha dan bagaimana dia berhasil kabur tanpa cacat sedikit pun. Informasi itu sangat penting bagi Hwang Chul Woong, yang melihat bahwa Song Tae Ha tidak selemah yang dia kira sebelumnya. Karena kekuasaan yang dia miliki, dia kemudian memerintahkan untuk membutakan para budak yang mencoba kabur!

Kembali ke trio Dae Gil, Choi, dan Wang Son. Choi sudah berhasil mendapatkan informasi tentang Tae Ha hanya dengan bertanya ke penduduk sekitar, lengkap dengan pekerjaannya yang terdahulu dan sejarah pekerjaannya, alamat lamanya, kemampuan bela dirinya, yang tidak disukai dan yang disukai, bahkan warna favoritnya! Haha! Terlalu lengkap! Choi meminta Dae Gil untuk berhenti mengejar Tae Ha sebab dia dekat dengan mendiang pangeran dan semua persekongkolan yang terjadi saat pangeran dibunuh sangat mengerikan. Mengejar Tae Ha berarti melibatkan diri dengan hal-hal diluar kebiasaan mereka. Namun Dae Gil menolak untuk menyerah; reputasinya ada dalam bahaya, dia harus menangkap dan atau membunuh Tae Ha. Wang Son, sang playbloy, memutuskan untuk pergi buat bersenang-senang dengan para gisaeng. Setelah mendapatkan informasi tentang Tae Ha, mereka sudah bisa menebak dimana Tae Ha mungkin berada.

Dan cukup yakin, Tae Ha, yang masih terluka akibat anak panah, muncul dihadapan makam Putra Mahkota, berlutut dihadapan mantan tuannya. Sebuah kilas balik ke masa lalu dimana terlihat Jenderal Song Tae Ha memimpin sekelompok prajurit untuk menyelamatkan Putra Mahkota ketika beliau akan dibawa ke China. Tae Ha dan pasukannya menyerang tentara Qing yang mengawal pangeran. Akan tetapi, dengan sangat aneh pangeran menghentikan usaha itu. Tae Ha akhirnya tahu dari Putra Mahkota bahwa dia dengan suka rela pergi ke Qing karena dia harus mempelajari musuhnya agar bisa mengalahkan mereka. Tae Ha juga tahu bahwa sebuah persekongkolan akan terjadi di pengadilan istana, dimana saat Putra Mahkota ingin memperluas pengetahuan Korea tentang dunia luar, Raja dan pembantunya tidak menginginkan hal tersebut. Kembali ke masa kini: Tae Ha berbicara dihadapan makam Putra Mahkota: “Yang Mulia, maafkanlah pelayanmu ini yang tidak membawakan anggur ke hadapan yang mulia sebab hamba tergesa-gesa melarikan diri.”

Salah satu tradisi orang Korea adalah membawakan makanan atau minuman terbaik ke hadapan makam majikan atau orang yang dicintai sebagai perwujudan rasa bakti. Tae Ha menunjukkan rasa bersalahnya karena telah kembali dan menekankan bahwa dia harus dimaafkan karena tidak membawa anggur (atau minuman apapun) untuk memuaskan rasa haus Putra Mahkota. Tae Ha dituntut untuk melanjutkan jalan buat membalas dendam atas kematian Putra Mahkota serta melindungi putra dari sang pangeran yang bertahan hidup. Meski masih terluka oleh anak panah, Tae Ha mencoba untuk mencabuti rumput yang tumbuh di sekitar makam Putra Mahkota – sebagai orang terakhir yang bertanggung jawab atas keselamatan Putra Mahkota, Tae Ha berusaha menunjukkan kesetiaannya pada tuannya.

Kembali ke Chun Ji Ho, yang telah menangkap lebih banyak budak lagi dan sedang menyusun sebuah rencana khusus antara dirinya serta anak buahnya dengan petugas keamanan. Kelihatannya petugas itu hanya peduli pada uang, yang membuatnya tidak hanya sebagai seorang pedagang tapi juga orang munafik. Chun Ji Ho melanjutkan usahanya untuk menghancurkan Dae Gil dan kawan-kawannya dengan mengerahkan dua orang bodoh, untuk juga ambil bagian dalam usaha menjebak Dae Gil. Apa sebenarnya yang sedang direncanakan si serigala tua Chun Ji Ho?

Sore itu, muncul seorang karakter baru: Seol Hwa. Seol Hwa adalah seorang gi-saeng. Dia pandai menari dan memiliki sebuah kelompok yang selalu bersamanya, mencari uang di siang hari dengan meminta pada orang-orang yang menonton pertunjukkan mereka. Sementara, malam harinya Seol Hwa menjadi host – wanita malam. Senyum Seol Hwa yang sangat menawan berhasil memperdaya Wang Son (udah jelas!), yang mungkin saja bakal memberikan beribu-ribu uang padanya kalau saja Dae Gil dan Choi tidak menariknya pergi. Waktu Dae Gil menyuruhnya untuk menyiapkan makanan, Wang Son nampak sangat marah. Dia memandang Choi untuk meminta bantuan, tapi tidak berhasil.

Malam itu Seol Hwa melarikan diri dari dunianya sebagai penari dan wanita malam. Dia menemui trio pemburu budak yang dengan enggan mau menjaganya tetap aman untuk sementara waktu. Seol Hwa itu wanita yang licik. Dia menggunakan berbagai cara agar Dae Gil mau menerimanya tinggal bersama mereka. Tepat saat Dae Gil kehilangan kesabarannya, Seol Hwa mulai beraksi. Dia bercerita bahwa dia telah kehilangan ibunya saat masih kecil karena suatu hal yang sama sekali tidak diketahuinya. Tak lama setelahnya, ayahnya meninggal karena sakit. Yang Seol Hwa inginkan adalah menemukan sang ibu, yang kebetulan punya tanda lahir besar dekat payudaranya (telinga Wang Son langsung berdiri mendengar hal ini). Choi, yang begitu lembut, meminta agar Seol Hwa sebaiknya tetap tinggal. Karena Wang Son sangat setuju dengan usulan itu, jadi Dae Gil tidak lantas melempar wanita itu keluar. Seol Hwa sangat puas dengan dirinya. Dia tidak hanya kabur dari dunia prostitusinya, tapi juga berhasil mendapatkan perlindungan dari tiga orang pria gagah dan tampan yang tidak akan punya maksud untuk melukainya!

Sementara itu, di tempat lain sekelompok budak sedang mengadakan sebuah pertemuan rahasia. Mereka telah membuat kesepakatan bahwa mereka akan membunuh setiap bangsawan yang mereka jumpai, kemudian membunuh Raja. Dengan meninggalnya para bangsawan, mereka akan menjadi penguasa! Eop Bok, budak yang sebelumnya berhasil ditangkap kembali oleh Dae Gil, dan seorang wanita yang menyukainya terlihat ambil bagian dalam persekongkolan itu. Eop Bok dengan enggan setuju untuk ikut di dalam persekongkolan itu agar wanita yang bersamanya, yang kebetulan mendengar semuanya, tidak menjadi sasaran pembunuhan budak yang lainnya. Meski ide mereka kedengaran sangat konyol, tapi mereka memiliki sebuah benda yang tak seorang pun akan mengira dimiliki sekelompok budak seperti mereka – sebuah senapan! Eop Bok, mantan pemburu yang sudah bertahun-tahun tinggal di Qing menggunakan senjata seperti itu, dipilih untuk melakukan uji coba dengan senapan itu. Tiba-tiba saja, Eop Bok mendapatkan ide siapa yang bakal jadi target pembunuhan pertamanya – Dae Gil, pria kejam yang sudah memupuskan keinginannya untuk menjadi manusia bebas.

Di sisi lain, Un Nyun alias Hye Won, yang telah berhasil kabur, terlihat lewat di depan beberapa pria. Sebenarnya, wanita ini telah menceburkan dirinya ke dalam masalah besar. Dalam waktu sekejap saja, semua orang sudah bisa mengenalinya sebagai wanita yang sedang menyamar dalam pakaian pria. Hari itu, dua petani jahat telah mengenalinya sebagai seorang wanita. Mereka mengikuti Un Nyun dan menunggu waktu yang tepat untuk menyerangnya. Tidak seperti Seol Hwa yang cerdik, Un Nyun sama sekali tidak punya rencana ke depan. Apakah dia berpikir bisa selamat melewati desa asing tanpa ditemani siapapun dan para pria jahat tidak akan mengenalinya sebagai seorang wanita? Un Nyun bersembunyi di balik sebuah pohon. Tapi terlambat, para pengejarnya justru muncul dibelakangnya. Mereka menarik Un Nyun untuk mulai menjalankan aksinya. Untungnya, Tae Ha yang hampir pingsan karena kehilangan banyak darah, muncul dengan menunggang sebuah kuda curian. Dia menghentikan serangan itu dan menghalau para penyerang Un Nyun meski kondisinya sendiri juga sangat parah. Setelah itu, Tae Ha ambruk dihadapan Un Nyun.

Di tempat lain, Dae Gil juga kena musibah. Eop Bok yang mendendam padanya, telah melihat Dae Gil. Saat Dae Gil dan teman-temannya akan pergi, dia menembakkan senjatanya ke arah Dae Gil. Tembakan itu tepat sasaran. Dae Gil yang terkena tembakan jatuh dan darah mulai mengalir. Matanya pun mulai kehilangan arah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s