Sinopsis Chuno – Episode 1-2

Tahun 1648, tahun ke-26 Pemerintahan Raja Injo, yang merupakan ayah dari Putra Mahkota So Hyun yang terbunuh.

Cerita dimulai ketika tiga orang pemburu yang baik sedang melacak sekelompok budak yang kabur di sebuah tempat yang lebih mirip kedai. Mereka adalah Lee Dae Gil (sang pemimpin) dan kedua bawahannya, Jenderal Choi yang tabah serta playboy berwajah imut, Wang Son. Adalah pekerjaan yang sangat mudah menaklukkan kelompok tersebut. Ketiga orang tersebut menangkap para buronan itu dan mengikat mereka. Sang Pemimpin, Dae Gi menawarkan para budak disana satu kesempatan untuk menyelamatkan diri mereka sendiri, memegang gambar seorang wanita – jika ada yang pernah melihat wanita dalam gambar itu, dia akan menyelamatkan mereka. Sayangnya, tak satu pun diantara para budak itu yang pernah melihat wanita dalam gambar. Jadi mereka pun mendirikan kemah untuk bermalam. Pemburu yang paling muda, Wang Son, adalah orang yang paling pertama muncul ketika dia mengeluh tentang pekerjaan-pekerjaan wanita yang harus dilakukannya. Keluhannya yang berulang-ulang ini agar dia mendapatkan seorang budak wanita buat melakukan pekerjaan yang menurutnya feminin itu. Sementara itu, Dae Gil hanya memandang dengan diam perapian di hadapannya, mengabaikan isak tangis para budak. Sang ibu memohon ampunan bagi anak gadisnya – jika kembali ke majikannya, dia akan menjadi mangsa majikannya. Pria lain, Up Bok, berpikir untuk menyerang dengan batu tapi merasa ragu ketika Dae Gil bertanya pada mereka apakah mereka sudah pernah mendengar pemburu budak bernama Lee Dae Gil. Para budak itu terlihat ngeri – mereka sudah pernah mendengar tentang Lee Dae Gil, sang Chuno yang ditakuti karena kekejamannya. Mereka juga mengatakan bahwa dia adalah pemburu budak yang baik, tidak seperti Lee Dae Gil! Harapan mereka patah berkeping-keping ketika Dae Gil mengatakan bahwa dia adalah Lee Dae Gil, Chuno alias pemburu budak yang terkenal kejam itu.

Paginya, Dae Gil menyerahkan budak-budak itu kepada petugas keamanan. Dia mendapatkan bayaran per budak yang berhasil ditangkap. Tapi, mereka juga menipunya, meski hal itu tidak ada gunanya. Dae Gil yang sombong dan tidak pedulian, membuat Up Bok marah, tapi apa yang bisa dia lakukan? Dae Gil adalah pemburu budak terbaik disana, akan tetapi wajah Dae Gil yang ceria mendadak berubah serius saat nama Un Nyun disebut-sebut, wanita yang selalu dicarinya selama ini. Dia kecewa sebab tidak ada informasi baru mengenai wanita itu.

Di bagian kota yang lain, Song Tae Ha bekerja keras sebagai salah satu budak pemerintah yang melayani negara. Dia biasanya bekerja di kandang kuda, dan dia selalu menunduk untuk menghindarkan konfrontasi dengan orang lain. Bahkan ketika pemimpin budak memarahinya, dia menerima penyiksaannya begitu saja. Akan tetapi, Tae Ha dulunya bukanlah budak – sebuah kilas balik menunjukkan kalau dahulu dia adalah seorang Jenderal yang membela negaranya di garis depan pertempuran bersama Hwang Chul Woong, orang yang kini harus dia layani. Chul Woong adalah majikan yang kejam yang selalu memberitahu mereka bahwa kuda-kuda yang mereka rawat lebih mahal dari harga para budak disana. Nanti, kita akan tahu bahwa dialah yang mengkhianati Tae Ha buat menaikkan posisinya.

Setelah menyelesaikan pekerjaannya, waktunya bagi ketiga pemburu budak untuk beristirahat sejenak. Wang Son melanjutkan keluhannya tentang pekerjaan wanita yang harus dilakukannya. Tapi, ketika tiba waktunya untuk bermain-main, dia jelas-jelas melupakan masalah itu. Setiap wanita yang ditemuinya adalah untuk kesenangan sesaat. Dia akan membuat para wanita itu bertekuk lutut dan berjanji setia tapi saat sudah mendapatkan maksudnya (bersenang-senang di atas tempat tidur), dia akan menghilang. Di sisi lain, Jenderal Choi adalah pria yang disiplin dan pendiam. Hal inilah yang menyebabkan dua wanita yang mengelola tempat dimana dia dan kedua temannya tinggal, tertarik padanya. Choi tidak tertarik sama sekali pada kedua wanita itu tapi tidak juga menghentikan usaha-usaha para wanita itu. Wang Son dan Dae Gil selalu terkagum-kagum pada hal ini. Sedangkan, Dae Gil memiliki hubungan yang berbahaya dengan pria bernama Chun Ji Ho. Dia adalah seorang pemburu budak tua yang dulu melatih Dae Gil. Kini dia merasa bahwa dia memiliki hak untuk mengklaim Dae Gil sebagai miliknya. Ji Ho ingin agar Dae Gil bekerja padanya dan ini membuat Dae Gil tertawa. “Bagaimana mungkin seekor harimau bekerja pada seekor anjing?” Kedua pria itu tertawa. Tapi kemudia wajah Ji Ho berubah marah dan malah meminta orang-orangnya untuk menyerang. Dae Gil tentu saja sudah siap. Dia memenangkan pertarungan dengan para penyerangnya.

Sebagai hukuman atas kesalahannya melarikan diri, Up Bok ditandai di wajahnya berupa sebuah tato yang berbunyi ‘budak’ sementara sang ibu berubah cemas. Anak perempuannya ditarik untuk dijadikan persembahan bagi pria tua dirumah tersebut. Gadis muda itu meminta agar ibunya tidak diikat. Si pria tua itu tidak sabaran ingin melampiaskan nafsunya pada si gadis muda, melucutinya sementara dia menangis. Dia belum terlalu jauh sebab seseorang mengetuk pintu kamarnya. Pria tua itu merogoh dadanya mencari uang. Itu adalah Dae Gil. Dia mengambil beberapa koin dan membantu gadis itu berdiri. Mereka mengendap-endap keluar, membebaskan ibunya dan kabur ke sebuah hutan. Saat Dae Gil membuka penutup wajahnya, ibu dan anak itu terkejut. Mereka mengenalinya sebagai pria kejam yang sudah menangkap mereka. Dae Gil mengabaikan reaksi mereka dan menyuruh mereka pergi ke sebuah tempat pelarian yang aman dan disana mereka bisa bertemu dengan pria yang bisa menyelamatkan mereka. Dia juga menyerahkan sekantong uang yang tadi diambilnya dari bangsawan tua itu lalu berjalan pergi di tengah kegelapan.

Gambar wajah Un Nyun dibuat oleh Pelukis Bang, yang selama hampir satu dekade ini tertarik pada kesenangan yang sama. Dia mengatakan bahwa wajah Un Nyun mungkin berubah banyak – sebagai tambahan, di usia yang 25, dia bukan lagi gadis muda yang ceria. Dae Gil mungkin tidak akan mengenalinya lagi. Sebuah kilas balik mengungkap kenapa Dae Gil benar-benar ingin menemukannya dan menjadi pemburu budak: Dae Gil dulunya adalah seorang putra bangsawan dan Un Nyun adalah pelayannya. Untuk menghilangkan rasa dingin Un Nyun, dia memanaskan beberapa batu di kamarnya untuk diberikan pada gadis itu. Status mereka membuat keduanya mustahil untuk bersatu. Tapi mereka tetap menikmati saat-saat mereka bisa saling mencuri pandang. Pada Perang Manchu, ditengah-tengah kekacauan dan pertarungan, tentara musuh menyerang rumah-rumah dan menarik keluar penghuninya. Ketika rumahnya diserang, Dae Gil bersembunyi ketakutan di bawah rumahnya, sementara Un Nyun dipegang oleh para penjarah. Dia menangis, dan ketakutan ketika dibawa pergi. Dae Gil mengumpulkan keberaniannya, mengejar orang yang menangkap Un Nyun dan menusuknya dengan belati. Akan tetapi, orang itu tidak mati seketika, dia mendatangi Dae Gil… untungnya seorang tentara Joseon muncul dan menyelamatkan mereka. Tentara itu adalah Jenderal Song Tae Ha! Mereka pun selamat. Tapi, ketika ayah Dae Gil tahu dia menyelamatkan seorang budak, dia berencana untuk menjual Un Nyun. Sayangnya, hal itu tidak terjadi karena kakak Un Nyun malam itu datang mengendap-endap dan menyelamatkannya. Dia bahkan membakar rumah majikannya ketika mereka kabur.

Pencarian Dae Gil pada gadis itu sudah diketahui banyak orang. Jadi ketika Wang Son mendengar berita tentang Un Nyun, dia segera mencari Dae Gil untuk memberitahunya. Dae Gil pun segera berangkat untuk mencari wanita yang dicintainya itu, tanpa tahu bahwa sekarang dia akan menikah. Dia berdandan cantik dan pergi ke lokasi pernikahannya sambil menangis. Tapi, yang tidak diketahui Dae Gil saat sampai di sana yaitu itu adalah perangkap yang dipersiapkan Chun Ji Ho. Orang-orang Ji Ho mulai menyerang, dan Dae Gil yang jatuh dalam pada kesedihannya, hampir tidak mengetahui hal itu. Kemudian dengan suara pelan, dia mengingatkan bekas pelatihnya, “Leluconmu sudah terlalu jauh. Hari ini, kau akan mati ditanganku!” Reaksi dinginnya berubah menjadi menakutkan – fakta bahwa Un Nyun tidak disini, serta Ji Ho yang mempermainkan harapannya – dan dia pun mulai bertarung. Dia memukul semua orang-orang Ji Ho meski tidak bersenjata. Dia kemudian mengambil salah satu senjata dari anak buah Ji Ho dan menodongkannya di leher Ji Ho. Dia terlalu marah untuk merasa kasihan, jadi dia pun bersiap-siap menebas leher Ji Ho. Saat itu tiba-tiba Choi muncul dan mengatakan pada Dae Gil bahwa dia tidak boleh membunuh Ji Ho karena dia akan dianggap sebagai pembunuh. Dae Gil tidak peduli. Dia mengambil pedangnya lagi dan akan membunuh Ji Ho tapi lagi-lagi Choi mengehentikannya. Ji Ho memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur dan membiarkan Dae Gil dihalang-halangi oleh Choi. Namun, perkelahian sekarang malah beralih antara Dae Gil dan Choi. Sementara Wang Son berteriak-teriak meminta mereka untuk berhenti. Dae Gil memenangkan pertarungan itu. Choi pun berkata: “Lepaskan Un Nyun sekarang. Meskipun kalian bertemu, kalian tidak pernah benar-benar bertemu. Jadi, meskipun kalian terpisah, kalian tidak pernah benar-benar terpisah. Kita menyebut hal yang seperti itu takdir – sesuatu yang tidak akan pernah terjadi meskipun kau menginginkannya.” Air mata meluncur dari mata Dae Gil. “Jadi sekarang kau bersikap seperti seorang guru…”

Sekarang Un Nyun adalah Kim Hye Won, dan sekarang menikah dengan seorang pengusaha kaya, Tuan Choi. Ketika sedang menunggu di kamar untuk malam pernikahannya, dia mengingat kembali masa lalunya saat Dae Gil memanaskan batu untuknya dan berkata: “Aku benci melihatmu kedinginan, sakit, atau kesusahan!” Un Nyun bertanya: “Apa kau melakukan ini karena aku menyedihkan? Yang aku ingin terima bukanlah rasa kasihan.” Meski Dae Gil mencintainya, dia telah ditunangkan dengan wanita yang sekelas dengannya. Dia berusaha untuk menunda hal itu meski dia selalu memberitahu ayahnya bahwa itu bukan karena dia sedang jatuh cinta. Tidak ada seorang wanita pun dalam kehidupannya. Un Nyun menguping percakapan itu dengan sedih. Akan tetapi, Dae Gil kemudian muncul di dapur untuk menemuinya. Dia memberikan sepasang sepatu padanya dan berkata: “Aku akan menghabiskan sisa hidupku… denganmu…”

Un Nyun (Hye Won) masih menyimpan sebuah batu dan tidak bisa melupakan masa lalunya. Sebelum suaminya masuk ke kamarnya, kakak Un Nyun masuk terlebih dulu untuk mengucapkan beberapa patah kata, memintanya untuk bersikap senang dan melupakan masa lalu. Melihat betapa kacaunya Un Nyun, sang kakak pun berkata: “Kau masih belum mengerti? Kau mencintai sesorang yang tidak seharusnya kau cintai!” Hye Won menangis, menuduh kakaknya bahwa dia sudah membunuh banyak orang (dia yakin kalau Dae Gil mati dalam kebakaran itu). Kakaknya membela diri – dia melakukan hal itu agar mereka bisa menjadi orang normal. Dia pun berkata pada Hye Won, “Kau harus bahagia. Ini permintaan terakhirku. Maukah kau berjanji?” Un Nyun membalas: “Kau yang harus berjanji padaku lebih dulu. Aku akan bahagia, tidak peduli apapun yang terjadi. Jadi jangan khawatirkan aku lagi.”

Hye Won telah memutuskan arti kebahagiaan bagi dirinya – dia mengenakan pakaian pria dan menyelinap kabur, meninggalkan suaminya yang mendapati kamar pengantinnya kosong. Tuan Choi sangat marah, dan kakak Hye Won meminta maaf serta berjanji akan segera membawa Hye Won kembali. Pada akhirnya, kakak Hye Won mengirim tangan kanannya untuk mengejar sang adik. Pria ini bernama Baek Ho. Dia mendapatkan tugas untuk menemukan Hye Won sesegera mungkin sebab jika Tuan Choi yang terlebih dahulu menemukan Hye Won, dia tidak bisa memastikan apakah adiknya akan baik-baik saja. Dulu Baek Ho pernah diselamatkan oleh Hye Won dan laki-laki ini sangat setia serta memendam perasaan pada Hye Won. Jadi dia berjanji pada kakak Hye Won dia akan membawa wanita itu kembali dengan selamat. Sementara itu, Tuan Choi menyewa seseorang untuk mendapatkan Hye Won kembali. Wanita misterius ini bernama Yoon Ji dan dia berjanji pasti akan membawa Hye Won kembali pada Tuan Choi.

Persekongkolan dalam pengadilan: seorang pria membayar Pelukis Bang untuk membuat sebuah gambar yang kemudian disebarkan di masyarakat. Pria itu mengingatkan sang pelukis bahwa hal ini harus tetap menjadi rahasia. Ini menjadi masalah bagi pengadilan kerajaan sebab gambar tersebut menggambarkan kekejian yang dilakukan terhadap anak-anak di pulau Jeju. Semua perhatian tertuju pada Raja Injo. Masyarakat percaya bahwa Pulau Jeju dihantam oleh wabah, tapi gambar yang beredar menunjukkan bahwa penduduk disana dibunuh dengan racun, yang efeknya menjelma menjadi sejenis penyakit yang sejenis dengan penyakit yang membunuh Putra Mahkota So Hyun. Gambar ini mulai menggoyangkan opini masyarakat dan mereka berpendapat bahwa anak-anak di sana dibunuh untuk membunuh satu-satunya ahli waris Raja. Tentu saja, yang lain berpendapat bahwa teori konspirasi itu tidak masuk akal – teori itu berpendapat bahwa sang Raja yang memerintahkan pembunuhan. Kenapa Raja sendiri yang menghabisi ahli warisnya? Sekelompok bangsawan berkumpul untuk mendiskusikan masalah ini, dan juga gambar tentang Pulau Jeju itu. Mereka tidak tahu siapa yang telah melakukan hal tersebut, tapi harus sampai ke akar permasalahannya. Tapi pertemuan ini disusupi oleh tentara kerajaan, yang menyerang kelompok ini serta membawa mereka ke pengadilan kerajaan untuk disiksa dan ditanyai kemudian menuduh mereka semua sebagai dalang dibalik beredarnya gambar itu. Ini bisa membalikkan pendapat masyarakat dan menggusur posisi Raja, dan bisa disebut sebagai tindak pengkhianatan. Hukuman mati bagi pengkhianat.

Di kandang kuda pemerintah, sekelompok budak mendapatkan saat-saat yang langka untuk berkumpul dan merencanakan pelarian. Tae Ha tidak termasuk di dalamnya – dia adalah orang luar, bahkan diantara para budak – dan mereka tidak berkata apa-apa di sekitarnya. Bahkan ketika sang pemimpin menendangnya ke tanah dengan keras, Tae Ha tidak melawan. Dia memikirkan hal lain. Misalnya saja, surat yang diberikan padanya secara diam-diam. Surat itu ditulis oleh Pangeran So Hyun yang dilayani Tae Ha dengan setia setelah sang pangeran kembali ke Joseon dari penjara Qing. Pangeran sudah tahu bahwa dia dan keluarganya akan menjadi target pembunuhan, jadi surat itu meyatakan bahwa jika Tae Ha sudah membaca surat itu, berarti pangeran sudah meninggal. Surat itu memutar kembali kenangan Tae Ha akan perang, tepat sebelum pangeran dibawa ke Qing. Pangeran meminta Tae Ha untuk ikut bersamanya jika mereka kalah tapi Tae Ha sudah bersumpah untuk bertarung sampai mati dan tidak tertangkap. Dan ketika pangeran tertangkap, Tae Ha cuma bisa menyaksikannya. Tae Ha melihat kertas kedua yang terselip di surat selundupan itu – gambar pembunuhan masal di Jeju, yang menggambarkan satu-satunya orang yang bertahan hidup, anak bungsu pangeran.

Budak yang lain merancang rencana pelarian mereka dalam gerak cepat, akan tetapi para penjaga segera mengetahui rencana mereka dan dihentikan dengan cepat. Mereka mengangkat senjata dan bersiap-siap bertarung hingga mati. Tapi segera berhenti ketika muncul satu orang terakhir. Penuh dengan keputusan baru, Tae ha muncul dengan pedangnya, yang selama ini disembunyikan di suatu tempat kandang kuda itu. Karena biasanya dia selalu penurut, perubahan ini mengejutkan beberapa budak; Tae Ha muncul dengan gerakan memutar yang cepat. Ketika para penjaga menyerang, Tae Ha menjatuhkan mereka satu per satu. Kelompok itu kabur dan Tae Ha secara resmi menjadi pemimpin mereka. Pelarian itu sangat sulit sehingga keesokan harinya mereka semua kelelahan. Mereka ambruk di sebuah ladang, megap-megap, dan memprotes keputusan Tae Ha untuk mengalihkan perhatian para pengejarnya dengan menuju arah berlawanan. Mereka berterima kasih pada Tae Ha, tapi ketika mereka terlalu lelah untuk melanjutkan perjalanan, mereka merasa sudah waktunya untuk berpisah. Tae Ha memperingatkan mereka untuk tidak menyebut-nyebut tentang dirinya seandainya mereka tertangkap – atau dia akan membunuh mereka semua!

Setelah itu, Tae Ha siap untuk pergi, tapi gerakannya yang tiba-tiba menarik perhatian dua orang asing di kejauhan. Mereka adalah Dae Gil dan Choi, yang diminta untuk menangkap budak yang melarikan diri itu. Secara cepat budak yang lain menangkap keberadaan para pemburu, mereka mulai berpencar, tapi Tae Ha tetap diam. Dia mengenggam pedangnya dengan erat ketika Dae Gil menuggang kudanya semakin cepat ke arah Tae Ha sambil membentangkan pedangnya. Saat Dae Gil sudah dekat, dia memegang rendah pedangnya, dan menyambar Tae Ha, tapi Tae Ha berhasil melompat dan mendarat dengan selamat. Dae Gil jatuh ke tanah, terkejut (sedikit sakit hati karena dikalahkan). Dia memandangi Tae Ha, dan kedua pria itu saling pandang melewati rumput tinggi yang memisahkan mereka. Saling berhadapan, kedua pria itu mempersiapkan senjata mereka, bersiap-siap untuk sebuah pertempuran. Dan mulai menyerang… saling melompat dengan senjata dibentangkan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s