Interview with Song Il Gook

Wawancara berikut ini saya dapat di korea-fans.com. Awalnya iseng cuman pengen nyari foto Song Il Gook, eh, tau-taunya dapat petikan wawancara. Pertanyaan interview di bawah ini seputar drama Jumong. Sang reporter bahkan memuji-muji Song Il Gook, yang nggak terduga membawakan pernak-pernik Jumong padanya! Dan kelihatannya, Song Il Gook ini rada-rada pemalu karena di kesempatan tertentu, disebutin kalo wajahnya memerah…

Question (Q): Setelah main di Jumong, apa lagi selanjutnya?
Song Il Gook (SIG): Sekarang ini kami sedang berada di tengah-tengah syuting drama ‘Lobbyist’. Beberapa hari yang lalu kami menyelesaikan syuting di Amerika, dan di Korea dimana kami ada beberapa scene yang diambil.

Q: Di The Lobbyist, kamu main sebagai siapa?
SIG: Saya memainkan peran Halley, bukan nama itu lebih dapat dimengerti, Harry sebenarnya (reporternya ketawa). Harry memiliki masa kanak-kanak yang nggak bahagia dan akhirnya setelah tumbuh dewasa menjadi pedagang senjata.

Q: Beberapa waktu yang lalu kamu ada acara jumpa fans ya? Bagaimana hasilnya?
SIG: Meskipun mereka bukan penggemar Korea yang biasa, saya merasa malu. Tempat itu adalah tempat yang asing dan rasanya sedikit sulit dan aneh.

Q: Hae Sin dan Jumong adalah drama laga historis. Peranmu dalam kedua drama itu kuat dan benar-benar mirip, apa kamu setuju?
SIG: Kedua drama itu luar biasa. Perbedaannya? Di Hae Sin, saya jahat di sepanjang ceritanya dan itu nggak ada hubungannya dengan kehidupan nyata saya. Oh, jelas-jelas itu lelucon! (SIG ketawa). Tapi sekarang, membandingkan Hae Sin dengan Jumong, sesungguhnya ada perbedaan besar. Saya jahat di Hae Sin dan baik di Jumong.

Q: Bagaimana dengan penampilannya?
SIG: Tergantung acting dan make up (ketawa). Di Jumong, dialognya lebih serius dan dalam. Tapi terdapat lebih banyak tekanan dalam Hae Sin karena kata-katanya. Pelafalannya berbeda. Saya mengalami kesulitan memakai baju baja di musim panas, tapi saya harus membiasakannya. Sesudahnya, Jumong adalah sebuah karya yang ditakdirkan buat saya.

Q: Takdir buatmu? Setelah memutuskan bahwa kamu mendapatkan peran Jumong, apa kamu sadar kalo nama itu sendiri berarti ahli dengan busur dan anak panah?
SIG: Peran itu bukan sesuatu yang bisa pedulikan atau yang bisa saya bilang nggak. Faktanya adalah bahwa seseorang menggambarkan peran seorang pahlawan. Hal itu adalah sesuatu yang nggak berani kamu lupakan. Nggak peduli apapun yang saya lakukan, peran itu akan selalu dihubungkan dengan saya dan akan selalu tinggal dalam diri saya. Saya membeli busur saya sendiri dan bahkan menggunakannya selama syuting. Nggaklah sulit. Sebagai tambahan, nama saya berarti ‘Satu Negeri’ dan ulang tahun saya tanggal 1 Oktober, yang juga Hari Militer Nasional Korea. Ibu dan kakek saya telah berkontribusi pada negara ini. Jumong, bagaimanapun juga memiliki hubungan dengan leluhur saya… itu mungkin lebih dari sekedar takdir.

Q: Bagaimana reaksi ibumu sekarang saat kamu berada di tingkat yang lebih tinggi sebagai seorang aktor?
SIG: Ibu memuji pencapaian besar saya. Bahkan memberi saya hadiah. Ketika saya dapat peran di Hae Sin, saya pikir akan sulit menangani Jumong, tapi hal itu nggak terjadi. Ada banyak kemudahan dimana saya harus berkuda sama seperti di Hae Sin. Kalo urusan anak panak dan busur, demi peran Jumong, saya harus mempersiapkannya.

Q: Adakah kesulitan dalam memainkan peran Jumong?
SIG: Saya harus menarik busur sementara menunggang kuda menuruni bukit. Ada banyak stunt, dan adegan laga yang memerlukan timing yang tepat, tapi untungnya kami mampu menyelesaikan adegan-adegan tersebut dengan aman.

Q: Kamu terluka di beberapa adegan laga. Bisa dijelaskan?
SIG: Saya mendapatkan luka kecil; saya senang karena nggak besar dan berbahaya. Ada beberapa contoh dimana saya mendapatkan tingkatan luka yang bervariasi. Ketika sedang menunggang kuda, lari menuruni bukit, kuda meluncur, dan saya terguling-guling. Kaki saya ada di belakang kuda. Di Jumong, lari dan menunggang kuda adalah keharusan. Ada kalanya juga saya harus dilangkahi kuda. Kelihatan seperti mempertaruhkan nyawamu.

Q: Apa ada kesulitan dalam pembuatan serial-serial seperti Hae Sin atau Jumong?
SIG: Memainkan bagian dalam Hae Sin lebih gampang daripada Jumong, khususnya apabila kamu akan memainkan bagian yang nggak biasa kamu lakukan. Sangat sulit.

Q: Adegan apa yang paling sulit selama syuting?
SIG: Keistimewaan saya adalah segera melupakannya. Saya mendapatkan karakter yang optimistik. Adegan kematiannya sedikit kejam. Kami syuting di malam hari di tengah-tengah musim dingin yang benar-benar seperti neraka. Dan kami baru menyelesaikan syuting sekitar jam 4 pagi. Saya merasa mengantuk, membeku, dan gemetaran. Saya harus mengenakan banyak baju. Saya nggak boleh tampil seolah-olah saya sedang kedinginan, kalo nggak, syuting nggak akan berjalan bagus. Stylist saya menyebutnya bunuh diri. Selama syuting musim panas, saya harus memakai 3 atau emapat pakaian. Rasanya panas, sungguh, sangat panas. Tapi sejujurnya, proses syutingnya berjalan baik. Setelah menyelesaikan adegan sulit, kamu merasakan sesuatu di tubuhmu, kamu merasa lelah tapi benar-benar nggak jadi masalah, karena hal terpenting adalah kamu sudah mencapai sesuatu di luar itu. Kamu telah menyelesaikan sesuatu dengan rasa lelah itu yang kamu harapkan akan meninggalkan kesan besar.

Q: Bagaimana dengan aktor yang memerankan ayahmu?
SIG: Kedua aktor yang berperan sebagai ayah bagi saya adalah aktor senior yang ingin saya tiru.

Q: Apakah kamu mendapatkan bonus dari management-mu karena kesuksesan Jumong?
SIG: (wajah SIG berubah merah) Para staf menerima bonus (tersenyum).

Q: Wanita kuat yang muncul dalam Jumong sebagai So Seo No, apakah kamu tertarik padanya?
SIG: (berpikir) Pria mana pun bisa tertarik pada wanita tangguh.

Q: Sebagai wanita ideal buatmu?
SIG: Ideal apa?

Q: Pada wawancara lalu, kamu bilang bahwa kamu tertarik pada wanita yang memperlakukan dan menghormati ibu-mu dengan baik.
SIG: Itu jawaban aman (ketawa). Nggak, saya menyukai wanita yang baik dan manis. Saya juga menganggap wanita yang cerdas seperti penulis siaran. Budaya nggak cukup buat saya, nggak jadi masalah buat saya, tapi mungkin juga ya (ketawa).

Q: Kamu sudah tampil dalam dua drama hsitorikal, mengenakan pakaian jenis tertentu. Bagaimana rasanya?
SIG: Baju baja-nya benar-benar berat. Kami melakukan sesi foto selama dua jam, tapi harus menunggu giliran foto selama dua jam. Memakai dan melepaskan baju baja perlu waktu yang nggak singkat, jadi kami diminta buat memakainya lebih lama. Baju itu beratnya sekitar 10 kg. Kami juga masih harus mengenakan pelindung leher yang nggak nyaman. Waktu itu pertengahan musim panas dan kamu bisa bayangkan rasanya mengenakan baju berat di bawah sinar matahari. Ada kalanya setelah makan saya ingin memecahkan saja baju itu (ketawa). Saya sangat mengalami kesulitan memakainya. Saya harus didampingi dan diam di ruang istirahat selama dua jam. Para staf menuggui saya dan waktu dua jam itu bukan pengecualian untuk semua orang. Saya nggak mau membuat orang lain menunggu karena saya.

Q: Apa kamu sadar kalo orang-orang bilang kamu jail?
SIG: Menurutmu begitu? Ada kalanya saya bergerak terlalu jauh. Saya suka menggoda. Saya pada dasarnya adalah orang yang periang. Saya juga nagis. Badan saya besar, saya tinggi dan saat yang diam saja, kamu harus bersiap-siap dan ketakutan (ketawa). Selama syuting saya akrab dengan siapa saja dan itu menjadi kebiasaan buat dilakukan.

Q: Apakah hidupmu berubah setelah pembuatan flm Jumong? Entah itu sebagai aktor atau orang biasa?
SIG: (terlihat malu) Hidup saya berubah untuk sementara waktu. Sebagai seorang pribadi, namamu dikenal di seluruh dunia. Bukan sesuatu yang mudah memerankan bagian utama dari seorang pahlawan terkenal.

Q: Apa kamu kehilangan privasimu setelahnya?
SIG: Ya. Rasanya sulit karena saya orang yang selalu penasaran. Kalo saya menyukai sesuatu, saya pasti ingin shoping sebentar, tapi saya dapat dikenali. Kamu nggak bisa bersembunyi dan orang-orang bakal mendatangimu dan seperti itulah kamu kehilangan privasimu. Kamu bertanggung jawab pada semua tindakanmu, kamu nggak bisa melakukan sesuatutanpa diketahui orang lain. Rasanya mata mereka melekat pada dirimu sepanjang waktu. Luar biasa sulit meski saya nggak menyesalinya!

Q: Ketika kamu menyelesaikan Jumong, kamu dianggap sebagai aktor nasional. Apa ini menambah tekanan?
SIG: Saya? Aktor nasional? Bagaimana? (wajah SIG berubah merah sampai ke telinganya)

Q: Dengan caramu berbicara, bersikap, semua perhatian dicurahkan padamu.
SIG: Memasuki pekerjaan baru ‘Lobbyist’ dimana masyarakat akan lebih mengenal saya. Jelas menambah tekanan. Saya berharap saya bisa mencapai pengharapan tentang saya. Saya nggak selalu bisa mengerti sama apa yang sedang dibicarakan. Selama syuting, banyak orang berbicara pada saya, mereka berteriak, dan berkata-kata, dan bahkan asisten saya mengatakan pada saya kalo saya bodoh karena nggak bisa mengerti.

Q: Karakter sebenarnya dari seorang Song Il Gook?
SIG: Berbicara tentang diri saya sendiri, nggak sulit menjadi diri saya yang sebenarnya. Ada kalanya kalo kamu merasa sebagai orang yang berbeda berdasarkan tokoh yang kamu mainkan… tapi, nggak. Nggak sulit menjadi saya.

Q: Di Korea, kamu selalu ditonton, tindakanmu selalu dijaga dengan baik?
SIG: Ketika masih kecil, saya bermain dengan apapun dan siapapun nggak jadi masalah. Ibu saya selalu memberitahu saya kalo saya berada di luar rumah, saya harus selalu memperhatikan sikap saya dan selalu rendah hati. Begitulah kami dibesarkan.

Q: Di masa depan, bagaimana kamu ingin diingat sebagao seorang entertainer?
SIG: (berpikir sejenak) Saya ingin diingat sebagai entertainer yang dihormati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s