Sinopsis Jumong – Episode 1

Cerita dimulai ketika diselenggarakan kompetisi silat oleh kerajaan, dan disana Geum-wa sedang bertarung melawan seorang dengan seru. Geum-wa bertarung menggunakan tombaknya melawan pedang yang digunakan oleh musuhnya. Pertarungan ini berlangsung cukup seru, namun akhirnya dimenangkan oleh Geum-wa dengan menusukkan ujung tombaknya ke perut musuhnya dan menendangnya keluar dari arena. Mengetahui bahwa dirinya menang, Geum-wa berniat untuk menghadap penguasa disana untuk memberikan hormat. Namun belum sampai dia memberi hormat, seorang pendekar misterius yang mengenakan penutup wajah dan sebuah “topi” berusaha masuk dan menantang Geum-wa untuk bertanding. Pejabat setempat menolak permintaan tersebut karena pertandingan sudah usai, namun si pendekar misterius ini berkata, “Jika kamu mengejar aku terus, kamu akan menyesalinya.” Mendengar kata-kata tersebut Geum-wa menengokkan kepalanya, dan melihat antusiasme penonton, yang menyorakkinya. Setelah berfikir sejenak, Geum-wa meminta izin kepada penguasa setempat untuk bertanding dengan orang tersebut. “Biarkan saya bertanding, dia akan menerima ganjarannya dengan kematian jika dia kalah.” ujar Geum-wa. Penguasa mengizinkan pertarungan tersebut dengan meneriakkan kata mulai.

Genderang pun ditabuh, kedua pendekar tersebut masuk ke dalam arena. Mereka beradu pandang. Geum-wa mengambil tombaknya yang tergeletak di lantai dengan menggunakan kelihaian kakinya. Mereka berdua mengambil posisi bersiap, begitu pertarungan tersebut di mulai tombak dan pedang kembali beradu. Pertarungan berlangsung cukup alot dan seru. Sorakan penonton semakin menambah seru pertarungan. Pendekar misterius itu tepat menusukkan pedangnya, apabila Geum-wa terlambat untuk menghindar. Geum-wa membalasnya dengan menusukkan pedangnya kearah lawannya itu, dan berhasil masuk kedalam sela-sela “topi” yang dikenakannya. Penguasa setempat terkagum-kagum melihat hal tersebut. Pendekar Misterius itu berusaha menyingkirkan tombak Geum-wa, dan Geum-wa terdorong ke belakan. Mereka saling berpandangan dan mengarahkan masing-masing senjata mereka ke arah lawan. Serangan tombak Geum-wa berhasil ditangkis dan menyebabkan tombaknya itu patah dan terlempar ke atas. Mereka berdua memandangi tombak tersebut. Kedua penguasa kembali dibuat terpana akan adegan itu.

Si pendekar misterius itu berlompat dan menendang potongan tombak Geum-wa itu dan tepat mengenai penguasa dan ujung tombak tersebut menembus kursi yang di duduki oleh si penguasa. Melihat hal tersebut Tai Shou terheran-heran dan setengah berdiri melihat hal tersebut terjadi, seketika itu juga prajurit memerintahkan untuk melindungi Tai Shou yang dari tadi bersama dengan sang penguasa menikmati pertarungan itu. “Cepat! Lindungi Tai Shou!” Penonton berhamburan, namun beberapa diantara mereka malah mengganti pakaian mereka dan mengenakan penutup muka dan maju kearah Geum-wa dan Pendekar misterius. Para penonton yang berganti pakaian itu membunuh prajurit yang ada disana.

Seorang prajurit kerajaan Han berteriak-teriak, “Pembunuh! Pembunuh! Seorang pembunuh telah memasuki kota!”, dan terus berlari. Seorang komandan mendengar hal itu, dan memerintahkan anak buahnya untuk masuk ke kota.
Dua orang dari kelompok penyerang misterius itu menyerang dua orang penjaga benteng, dan mereka masuk ke dalam penjara. Orang-orang di dalam penjara spontan meminta tolong kepada mereka. Salah seorang dari kelompok misterius berteriak, “Kami adalah pasukan DalMu!” Mereka membebaskan para tahanan.

Sementara itu diarena pertarungan, Geum-wa dan pendekar misterius itu dikelilingi oleh kelompok misterius. Pendekar misterius itu menyerahkan pedangnya kepada Geum-wa. Prajurit kerajaan mendekat ke podium penguasa untuk melindungi Tai Shou, mereka membuat sebuah formasi bertahan. Geum-wa berjalan maju ke arah podium, sedangkan pendekar misterius itu mengarahkan busur dan menembakkan panahnya ke arah podium. Panah pertama ditembakkan, dan masih terlalu jauh dari target sasaran yang hanya mengenai pasukan pelindung terluar di depan podium. Busur panah kedua diambil dan dibidik, dia mencoba arah yang berbeda dari yang tadi. Hasilnya sudah lumayan, mengenai bagian tengah dari pasukan pelindung. Dia mengambil busur panahnya lagi, dan maju beberapa langkah sambil membidikkan panahnya, seorang prajurit mencoba membunuhnya dari belakang, namun Geum-wa melihat hal tersebut dan menebasnya dengan pedang. Namun, anah panak terlepas kurang sempurna dan meleset kurang dari 10 cm dari kepala Tai Shou.

Melihat Geum-wa yang sedikit kualahan karena tesayat pedang, pendekar misterius itu datang menolong dengan membunuh menggunakan anak panah yang ditusukkan ke badang musuh dengan tangannya. Pendekar tersebut memegangi tubuh Geum-wa dan melihat luka yang ditimbukan oleh sayatan pedang tersebut. Seketika itu juga dia melihat pintu kota terbuka dan melihat bantuan pasukan datang ke arena tersebut.

Melihat situasi tersebut si pendekar meniupkan terompet tanda mundur. Seluruh kelompok itu mundur satu per satu. Tai Shou yang dari tadi masih setengah berdiri terlihat shock dengan kejadian itu, dia merebahkan tubuhnya ke kursi seakan tidak percaya dengan kejadian yang ada di hadapannya itu.

Geum-wa mengendarai kuda bersama kelompok itu, namun ditengah jalan Geum-wa terjatuh dari kudanya dan memegang bekas lukanya itu. Pendekar misterius itu merupakan Geum-wa, pangeran Bu Yeo. Geum-wa memerintahkan untuk kembali ke markas.

Di benteng pasukan DalMu, Hae Mosu berusaha mengobati lukanya. Ada empat orang yang memegangi anggota badan Geum-wa, dari mulai tangan, kaki, sampai kepala. Hae Mosu berusaha mengeluarkan racun yang diakibatkan sayatan pedang itu dari tubuh Geum-wa.

Hae Mosu mencuci tangan dan membasuh mukanya, setelah menyelesaikan urusannya dengan Hae Mosu.

Pagi itu di kota Buyeo, Raja Hae Bu-ru sedang bercakap-cakap dengan salah satu jenderalnya. Percakapan itu berbicara tentang ulah Hae Mosu, belum lama mereka bercakap-cakap seorang pejabat bernama Bu Deuk-Bul datang menghadap Raja Bu Yeo (Hae Bu-ru). Duta besar tersebut meminta kepada Jenderal untuk tidak membantu lagi pengungsi yang datang ke tempat itu, dengan alasan pasukan berkuda bangsa Han telah melewati Liao Dong. Pasukan tersebut berjalan ke arah Hyeon-to-Geoon.

Pasukan tersebut dikirim untuk mencegah para pengungsi agar tidak melarikan diri dari peraturan keempat kelompok Han. Raja bertanya kepada Duta besar, “Bagaimana dengan para pengungsi yang tinggal di Bu Yeo?” “Mereka yang telah tinggal di negara kita sudah memperoleh kewarganeraan dari kita, sehingga mereka tidak akan tertangkap.” kata duta besar. Duta besar menyarankan supaya Bu Yeo tidak lagi menyediakan bantuan bagi para pengungsi itu, atau bangsa Bu Yeo akan mendapatkan balasan dari bangsa Han. Terlebih lagi ulah Hae Mosu yang telah membunuh Duta Besar yang merupakan kesayangan Raja Han. Raja Bu Yeo mencoba membantah perkataan duta besarnya, dan berkata “Bukankah prajurit kita dilengkapi dengan senjata besi yang sama? Sehingga kalau kita berperang…..” Duta besar memotong perkataan Raja dengan mengatakan “Pasukan kita hanya dilengkapi dengan senjata yang terbuat dari besi pilihan yang hanya sedikit lebih keras dari perunggu, sedangkan pasukan berkuda bangsa Han dilengkapi dengan tombak tembaga untuk berperang.”

Dikutip dari:http://kreatif.web.id/entertainment/drama/sinopsis-jumong-episode-1/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s