Arsip

Sinopsis Cinderella’s Stepsister – Episode 20 (Final)

Eun-jo dan Ki-hoon akhirnya berciuman dan mereka melangkah ke masa depan. Eun-jo dengan mengangumkan menggambar rumah kecil mereka di tengah hutan. Dia bergumam kalau Hyo-sun menikah, mereka harus membawa Kang-sook ke rumah kecil itu sebab Eun-jo pasti merindukan seseorang untuk diajak bertengkar.

Ki-hoon terlihat termenung dan Eun-jo memperhatikan hal ini. Eun-jo tahu kalau saat ini Ki-hoon hanya bisa memikirkan ayahnya. Ki-hoon berkata kalau gambar dan perjalanan ke masa depan kebahagiaan itu sangat menolong dan bahwa, Eun-jo tidak boleh mengubah lagunya nanti atau kapanpun. Ki-hoon juga mengatakan kalau hal yang akan dia tahan sebelumnya kelihatannya tidak tertahankan, tapi sekarang tidak satu pun jadi masalah. Mereka lalu pergi untuk mengatakan yang sebenarnya pada Hyo-sun.

Di gudang anggur, ibu memberikan hadiah pada para pekerja karena pekerjaan mereka sudah selesai dengan baik. Dia berjanji kalau akan ada lebih banyak hadiah lagi selama mereka bekerja dengan setia di masa yang akan datang. Ibu meminta untuk bertemu dengan paman Hyo-sun dan ketika paman berdehem ketakutan, Hyo-sun menjamin dan menyuruhnya masuk.

Wajah Hyo-sun bersinar ketika Ki-hoon dan Eun-jo tiba tapi Ki-hoon dihalangi lagi oleh kedatangan para penyidik yang membawanya pergi. Para penyidik mengatakan kalau mereka menemukan buku bank Hong Ju atas nama Ki-hoon. Ki-hoon berkata kalau semuanya akan baik2 saja dan menyuruh Eun-jo untuk mengatakan semuanya pada Hyo-sun. Ki-hoon dibawa oleh pria dengan baju hitam ketika Eun-jo dan Hyo-sun melihat dengan ketakutan. Eun-jo mengejar mobil itu dan meminta mereka untuk berhenti jadi dia bisa mengatakan sesuatu tapi mereka terus berkendara.

Kang-sook mengajak paman bicara dimana Kang-sook mengatakan dengan terang2an kalau mereka berdua memang tidak ingin saling bertemu. Tapi mengusir paman akan menyulut kemarahan Hyo-sun begitu pula para tetua. Jadi ibu mengungkapkan sebuah solusi: ibu akan menikahkan paman dan dia bahkan telah mempersiapkan paman secara financial serta mendapatkan gadis yang prospektif. Kang-sook menunjukkan foto gadis itu dan paman langsung jatuh cinta.

Sedangkan, Eun-jo telah memberitahu Hyo-sun rahasia gelap Ki-hoon. Hyo-sun tidak percaya pada awalnya dan berpikir kalau Eun-jo mengarang ini semua untuk membalas dendam karena surat itu. Hyo-sun memutuskan kalau Eun-jo adalah orang jahat dengan mengatakan kalau Eun-jo tidak bisa membuat menderita gadis seperti dia sekarang dan bahwa, dia kecewa karena sudah mencoba berpegang pada Eun-jo selama 8 tahun belakangan ini.

Hyo-sun: Sejak kau muncul, apa kau tahu bagaimana hidupku telah berubah? Pandangan ayah mulai berpindah padamu dan secara tetap mendarat disana. Aku harus membagi ayahku. Lalu, tanpa sepengetahuanku, aku tidak bisa melihatnya lagi. Aku tahu kalau kasih sayang ibu adalah palsu dan aku mendapati kalau ibu telah mengkhianati ayah. Dan aku harus menangis karena aku adalah gadis menyedihkan yang tidak bisa membiarkannya pergi. Karena aku hanyalah anak tiri… Aku harus bahagia hanya dianggap anak tiri. Tapi sekarang… Kak Ki-hoon?

Hyo-sun mengenang semua kenangan manis dengan Ki-hoon. Hyo-sun jatuh dan Eun-jo segera bergerak ke dekat Hyo-sun. Hyo-sun sama sekali tidak ingin ditenangkan oleh Eun-jo, tapi Eun-jo memeluk Hyo-sun dan memegangnya dengan manis seperti kakak ketika Hyo-sun menangis.

Eun-jo merawat lutut Hyo-sun lalu mereka duduk menyebelah. Eun-jo berkata kalau dia masih punya banyak hal untuk dikatakan dan bahwa ketika dia bertanya-tanya apakah itu hal yang baik untuk dilakukan, dia berpikir kalau yang terbaik adalah terluka sekalian. Eun-jo berkata, “Aku… dan orang itu…” Tapi Hyo-sun tidak membiarkan Eun-jo menyelesaikan kata2nya.

Hyo-sun berkata kalau dia merasa bersedih untuk Ki-hoon dan bahwa dia ingin memeluknya. Hyo-sun berkata pada Eun-jo kalau ayah ingin menjaga Ki-hoon dan dia bertanya-tanya kalau Ki-hoon tidak pergi selama 8 tahun, dia mungkin tidak terlalu terluka. Hyo-sun bertanya-tanya jika dia meminta untuk mengembalikan Ki-hoon, maka Ki-hoon akan membiarkannya. Hyo-sun meminta Eun-jo untuk mengatakan pada Ki-hoon untuk tidak kabur.

Eun-jo berpikir sendiri: “Pada akhirnya, apakah cerita dongeng cocok denganku? Dunia dongeng yang indah dan manis… apakah itu sesuatu yang aku tidak diijinkan untuk dipunyai? Aku tidak mencoba untuk menaklukkan jagat raya. Aku tidak mencoba untuk menyelamatkan planet ini. Bahkan tidak mencoba untuk menyelamatkan negara ini…”

Ki-hoon tetap tenang selama pemeriksaan, dan menjawab dengan jujur kalau dia bahkan tidak pernah memikirkan kalau rekening seperti itu bisa ada dan bahwa dia sama sekali tidak tahu kalau miliaran uang disalurkan melaluinya. Eun-jo melanjutkan perkataannya, “Aku bahkan belum mampu memanggilnya dengan namanya. Jadi aku hanya meminta untuk hidup untuk memanggil namanya. Apakah itu sesuatu yang tidak bisa?”

Jung-woo mengemasi barang2nya dan bermain baseball untuk yang terakhir kalinya dengan Jun-su. Jung-woo melempar bolanya dengan keras hingga bola itu menghilang dengan matahari. Kemudian, Jung-woo melempar tongkat baseball-nya ke sungai saat dia melepaskan cintanya.

Ki-hoon bertemu dengan ayahnya. Dia mengatakan kalau dia ingin agar mereka hidup bersama, yang membuat ayahnya menangis. Ki-hoon berkata kalau sudah berkali-kali dia menginginkan ayah hanya menjadi ayah untuknya, tidak lebih. Ki-hoon berkata dia tahu bahwa meminta ayahnya untuk berkata jujur adalah mungkin memenjarakannya yang hanya Tuhan yang tahu sampai berapa lama.

Ki-hoon: “Aku akan menunggumu. Bersama dengan seorang gadis cantik, kami akan mendapatkan sebuah rumah untuk kau tinggali dan kami akan menunggumu. Gadis itu berjanji untuk melakukan itu. Selain aku… jangan berpegang pada yang lain, ayah.” Dan Ki-hoon menang dengan mudah. Dia memegang tangan ayahnya ketika kedua pria itu menangis. Ayah akhirnya jujur untuk pertama kalinya dan meletakkan tangannya di tangan Ki-hoon, bahagia pada kasih sayang Ki-hoon.

Eun-jo gelisah menunggu pesan dari Ki-hoon. Hyo-sun masuk untuk memberitahu kalau para tetua memutuskan untuk menjual saham mereka ke Hong Ju, yang tidak mengejutkan Eun-jo sebab dia tahu nilainya. Tapi dia tidak memberitahu Hyo-sun kenapa. Hyo-sun ingin memberitahu Ki-hoon jadi dia memberitahu Eun-jo untuk pergi ke Seoul bersamanya dan mencoba menemui Ki-hoon disana. Eun-jo mulai memberitahu Ki-hoon tapi dia menghentikannya.

Eun-jo berpikir sendiri, “Aku ingin mengatakan, bagaimana kalau seandainya aku hanya memikirkan diriku sendiri? Jika aku hanya melakukan seperti yang aku inginkan, apa yang akan kau lakukan? Tapi anak ini, yang berkata kalau aku mencuri segalanya darinya, yang berkata dia tidak punya apapaun yang tertinggal, aku tidak bisa membuka mulutku di depannya.” Eun-jo setuju pergi yang membuat Hyo-sun tersenyum.

Eun-jo pergi keluar dan paman Hyo-sun menyerahkan sepucuk surat padanya dari Jung-woo. Surat Jung-woo: “Tidak peduli dimanapun aku berada, tidak peduli dimanapun kau berada, satu2nya wanita dalam hatiku adalah kau. Tidak peduli apapun yang kau lakukan, aku akan selalu mencarimu. Jika kau memerlukanku, aku akan datang. Ingatlah itu.”

Eun-jo berlari sambil bergumam, “Jung-woo ya!” Eun-jo berlari ke stasiun bus sambil memanggil Jung-woo dan ketika Jung-woo melihat Eun-jo datang, dia menghampiri noona-nya. Eun-jo bertanya kemana Jung-woo akan pergi, apakah dia punya tempat tujuan. Jung-woo menjamin kalau dia punya banyak tempat untuk dituju. Eun-jo meminta Jung-woo untuk bersikap kejam dan menarik tangan Jung-woo. Eun-jo begitu mungil hingga Jung-woo dengan mudah memeluknya. Jung-woo berkata, “Aku ingin memelukmu seperti ini, sekali saja. Jika aku melepaskanmu sekarang, kau akan memukulku, kan?”

Jung-woo berkata semuanya akan baik2 saja, dia hanya akan dipukul sebelum dia pergi. Jung-woo memberikan jaminan pada Eun-jo kalau dia tidak akan kelaparan, jadi Eun-jo tidak perlu mengkhawatirkannya. Jung-woo: “Jika kau tidak hidup dengan baik, aku akan langsung tahu. Jika kau pikir kau mungkin memerlukanku, aku akan langsung tahu. Jika kau tidak ingin aku datang, hiduplah dengan baik.”

Eun-jo mencoba dengan mengatakan kalau Jung-woo tidak bisa pergi di saat dia belum melakukan apa2 untuk Jung-woo. Eun-jo memohon agar Jung-woo menunggu tapi Jung-woo sudah berkeras kalau dia harus pergi. Jung-woo tersenyum dan berkata, “Tidak peduli kemanapun kau pergi, aku akan bersamamu. Kau tahu itu, kan?” Jung-woo naik bus dan memberikan Eun-jo senyuman terakhirnya.

Kepergian Jung-woo membuat Eun-jo memikirkan sesuatu. Eun-jo berpikir kalau pergi lebih mudah dari yang dia pikirkan sebelumnya – kau hanya pergi melakukannya seperti itu, mudah dengan sebuah senyuman seperti Jung-woo. Eun-jo masuk ke kamarnya dan mengeluarkan ransel tuanya sambil mengingat kata2 Dae-sung kalau dia boleh bergantung padanya. Ki-hoon menelpon dalam perjalannya pulang ke rumah. Dia mengatakan kalau dia akan mencari Eun-jo dan bahwa dia merindukan Eun-jo dan bahwa dia melakukan yang terbaik, dengan memikirkan Eun-jo. Eun-jo menangis ketika mengatakan pada Ki-hoon kalau dia melakukan yang terbaik. Ki-hoon: “Eun-jo ya, aku lapar. Aku akan datang padamu… pada gadis jahatku.”

Eun-jo mengemasi barang2nya dan pergi. Ki-hoon kembali dan menemukan sebuah surat: “Tolong jaga Hyo-sun.” dan Eun-jo pun telah pergi. Hyo-sun terguncang mendengar berita ini, “Kakak meninggalkanku dan pergi.” Ki-hoon memohon pada ibu untuk memberitahunya kemana Eun-jo pergi. Tapi ibu menolak memberitahu dengan berbohong dan mengatakan kalau dia tidak tahu kemana Eun-jo pergi.

Beberapa bulan lewat dan perusahaan anggur berjalan dengan baik. Paman Hyo-sun masih disana. Hyo-sun mendapat pesan dari seorang temannya kalau seseorang tahu Gu Eun-jo di sebuah lab, jadi Hyo-sun bergegas untuk memeriksanya. Hyo-sun bertanya apakah kali ini memang sungguhan. Mobil Ki-hoon terparkir di luar yang menaikkan harapan Hyo-sun, tapi ternyata Gu Eun-jo yang ini adalah seorang pria jadi mereka pulang dengan kecewa.

Di luar, Hyo-sun bertanya apakah Ki-hoon dan Eun-jo berjanji sebelum Eun-jo pergi. Ki-hoon mengiyakan dan Hyo-sun mulai menepis tangan Ki-hoon. Hyo-sun bertanya kenapa Ki-hoon tidak mengatakannya sebelumnya ketika dia berkata kalau mereka memulai dari awal lagi. Ki-hoon menjawab kalau dia perlu waktu untuk berpikir, sebab Eun-jo memintanya untuk menjaga Hyo-sun di dalam suratnya dan Ki-hoon tidak tahu apa maksudnya itu. Ki-hoon berpikir kalau sampai Eun-jo kembali, dia akan menjaga Hyo-sun. Hyo-sun akhirnya mengerti sekarang. Dia meminta Ki-hoon untuk berhenti dan sebaiknya mereka bergabung untuk mencari Eun-jo.

Ketika Ki-hoon beranjak pergi, Hyo-sun mengatakan kalau sekarang Ki-hoon yang ditolak olehnya dan Hyo-sun terlihat sedikit membaik. Hyo-sun bertanya, dengan air mata mengalir, kalau ketika Eun-jo kembali, apakah Ki-hoon mau pergi untuk beberapa saat. Dengan cara seperti itu, ketika Ki-hoon kembali, dia akan bisa menganggap Ki-hoon sebagai kakak iparnya. Ki-hoon mengiyakan. Hyo-sun mulai menangis ketika dia berkata kalau dia merindukan Eun-jo.

Ternyata pria itu memang bukan Eun-jo tapi teman kantor Eun-jo yang dia minta untuk berbohong untuknya. Ki-hoon kebetulan mendengar pria itu di jalan dan mendengarkannya memperkenalkan diri dengan nama aslinya melalui telpon. Itu membuat Ki-hoon berhenti tapi Ki-hoon tidak memikirkan hal lain lagi.

Hyo-sun kemudian menelpon Ki-hoon dan mengatakan kalau dia membaca sebuah artikel di majalah tentang ragi, yang tidak mencantumkan nama Eun-jo tapi kelihatannya dia yang menulisnya. Nama tempat penelitiannya sama dengan nama lab yang mereka datangi sebelumnya. Ini membuat Ki-hoon teringat pada pria yang memakai nama aslinya dan dia pun bergegas.

Eun-jo pulang kerja dan ketika dia keluar, Ki-hoon berdiri di seberang jalan memandangi Eun-jo. Ki-hoon terlihat marah. Eun-jo melarikan diri dan Ki-hoon mengejarnya sambil memanggil namanya. Eun-jo tetap berlari dan membuat Ki-hoon memutuskan untuk menyeberangi jalan di tengah keramaian jalan raya. Suara klakson terdengar dan rem berdecit ketika Eun-jo berbalik dengan pelan. Dia berjalan seperti zombie ke tengah lengkingan suara klakson tapi Ki-hoon muncul dan meletakkan tangannya di pundak Eun-jo untuk menghentikannya. Dia mengambil tangan Eun-jo dan menuntunnya ke sebuah tempat.

Ki-hoon berteriak pada Eun-jo pada kebodohannya. Eun-jo hanya bertanya, “Nomer empat… apa itu? Dalam ‘Hal untuk diberitahu MMM’… Apa itu nomer empat?” Ki-hoon bertanya, “Apa kau ingin mendengarnya?” Eun-jo: “Aku mungkin tidak pernah bisa mendengarnya dan kau bisa saja mati!” Ki-hoon: “Aku mencintaimu. Kau gadis jahat. Aku mencintaimu.” Eun-jo memeluk Ki-hoon dan mereka pun berciuman. Eun-jo bertanya apa kepanjangan MMM dan Ki-hoon menjawab, “Mi malo muchacha. Gadis jahat-ku.”

Beberapa bulan kemudian, seluruh keluarga mengambil penghargaan untuk perusahaan anggur dan Ki-hoon muncul sebab dia telah pergi sebelumnya seperti permintaan Hyo-sun. Eun-jo dan Hyo-sun pergi ke kantor Dae-sung dan mempersembahkan penghargaan dan bunga untuk ayah. Hyo-sun berbalik pada Eun-jo: “Bukankah ada hal yang ingin kau akui, di hadapan ayah? Apakah kau tidak tahu apa yang aku maksud? Aku… merindukanmu.” Dia melihat kakakanya dan Eun-jo berkata, “Aku… juga merindukanmu.”

Hyo-sun dengan lembut mengambil tangan Eun-jo dengan foto Dae-sung sebagai latar belakangnya. Mereka berpelukan sebab akhirnya bisa saling menyayangi sebagai saudara. Dae-sung muncul diantara mereka yang membuat mereka semakin merasakan kehadirannya.

The End.

Sinopsis Cinderella’s Stepsister – Episode 19

Setelah dibebaskan dari genggaman kakaknya, Ki-hoon berkendara dengan mood yang sangat bagus hingga dia tidak bisa berhenti tersenyum. Meskipun begitu, Eun-jo tidak merasakan semangat Ki-hoon itu dan lebih peduli pada keadaan Ki-hoon – Ki-hoon lapar sebab dia tidak makan apa2 selama diculik. Ketika mereka berhenti di tengah hutan, Ki-hoon mengisyaratkan agar Eun-jo mendekat untuk mengobrol. Eun-jo malah pergi untuk mencari makanan.

Tidak ada rumah makan di sekitar sana jadi Eun-jo mendekati seorang penjaga toko yang sudah tua lalu meminta disiapkan bubur. Saat Ki-hoon makan, dia mengatakan pada Eun-jo kalau dia tahu apa yang Eun-jo pikirkan tapi untuk 80 menit ke depan, itu tidak jadi soal sebab dia akan bersikap kalau sekarang adalah 8 tahun yang lalu, seperti Ki-hoon tidak pernah naik kereta itu dan mereka berpisah. Ki-hoon akan menganggap 10 menit sebagai 1 tahun yang dimulai dengan tahun 2002.

Setelah itu, Ki-hoon mulai dengan bicara pada Eun-jo seolah-olah dia masih guru matematika Eun-jo dan memberikannya tugas karena melewatkan sebuah permasalahan yang sudah Ki-hoon tunjukkan pada Eun-jo bagaimana memecahkannya. Eun-jo tersenyum melihat kekonyolan Ki-hoon dan mengijinkan Ki-hoon terus dengan cara ikut dalam permainan ini dan memperlakukan Ki-hoon seperti dulu waktu dia menjadi guru les-nya.

Ketika sekmen 10 menit berlanjut ke sekmen yang selanjutnya, Eun-jo berubah dari anak SMA ke anak kuliahan di kampus Ki-hoon. Mereka terus berkencan dan Ki-hoon mengatakan ketidaksenangannya tentang anak laki2 yang berada di sekitar Eun-jo di kampus.

Sebuah perjalanan naik sepeda memberikan kesempatan pada keduanya untuk membayangkan kalau mereka sedang berkencan dan sekarang kita sudah melewati empat tahun: Ki-hoon melanjutkan ke jenjang yang selanjutnya sebab dia enggan untuk terjun langsung ke tempat kerja dan meninggalkan Eun-jo serta khawatir dia akan mengencani pria lain. Ki-hoon memarahi Eun-jo soal nilai2 Eun-jo saat Eun-jo merebahkan kepalanya di punggung Ki-hoon.

Sekmen 10 menit lewat lagi dan sekarang Ki-hoon mempermasalahkan Eun-jo yang ingin belajar keluar negeri dan menawarkan untuk mengajarinya bahasa inggris malahan. Pada 2008 bayangan mereka ketika Eun-jo lulus dari universitas, hubungan mereka tetap kuat dengan tidak ada tanda2 perpecahan.

Akhirnya, saat mereka berjalan ke mobil, Ki-hoon bicara soal pernikahan. Dia menjamin Eun-jo kalau dia punya segalanya untuk membuat Eun-jo bahagia – pintar, tampan, dan humoris. Ki-hoon tidak punya uang tapi dia akan belajar mencari uang mulai dari sekarang. Dan Ki-hoon ingin hidup dengan ayahnya dalam skenario ini karena ayah dipecat dari pekerjaannya di perusahaan.

Ki-hoon membicarakan ini dengan cara yang biasa. Eun-jo jadi berpikir sendiri kalau Ki-hoon yang ini tidak pernah menyakitinya, tidak punya rasa bersalah, dan untuk itu bisa bebas melakukan lamaran untuk menikah. Eun-jo memutuskan untuk membuat Ki-hoon menunggu jawaban darinya, hanya untuk membuat Ki-hoon menderita sedikit. Eun-jo mengatakan pada Ki-hoon untuk mencari uang dulu sebelum dia mempertimbangkan untuk mengiyakan.

Akan tetapi, saat waktu 80 menit mereka semakin dekat, senyum menghilang dari wajah Ki-hoon. Eun-jo kembali ke toko untuk berterima kasih pada nenek karena sudah membantu. Dan ketika dia kembali, Ki-hoon dan mobilnya sudah hilang. Ki-hoon meninggalkannya. Dia menelpon Eun-jo untuk mengatakan kalau dia akan mengantarkan bukti itu ke Hong Ju untuk menyelamatkan perusahaan. Dia melakukan ini sebab dia tahu Eun-jo akan protes. Eun-jo berusaha mencegah Ki-hoon tapi dia merasa semua ini merupakan keharusan.

Ada berita yang lebih mengerikan: Hyo-sun menelpon dengan panic sebab Jun-su menghilang. Jun-su tidak di sekolah saat Hyo-sun pergi menjemputnya. Dia juga tidak di rumah dan sudah dicari Hyo-sun ke sekeliling rumah. Dan tidak ada satu pun teman Jun-su yang tahu dimana Jun-su berada.

Jung-woo, paman Hyo-sun dan para ajumma berpencar menjelajahi perumahan itu untuk mencari Jun-su sedangkan Hyo-sun menahan rasa takutnya lalu menelpon Kang-sook untuk memberiathukannya hal ini. Eun-jo pulang ke rumah dengan taksi dan sangat mengkhawatirkan adiknya. Dia juga berpikir kalau dongengnya berakhir pada jam 5.20.

Kang-sook mendekati anak temannya yang menangis di halaman. Gadis itu benci melihat bagaimana ibunya bercumbu dan bertengkar tiap hari dengan pria2 itu. Kang-sook mengatakan pada gadis itu kalau ibunya melakukan itu bukan untuk bersenang-senang, tapi untuk memberi makan anaknya. Kalimat ini tidak menenangkan gadis itu dan dia terus menangis. Kang-sook lalu bertanya, “Apa itu benar2 membuatmu kesal?” Ketika gadis itu mengangguk, Kang-sook memberikan pelukannya dan meminta maaf: “Bagaimana mungkin aku tahu kalau ini akan begitu menyakitkan untuk anak kecil?”

Dalam perjalanan ke kantor polisi, Eun-jo mencoba menghibur Hyo-sun kalau Jun-su akan baik2 saja. Hyo-sun bertanya kemana saja Eun-jo seharian ini – kemana Eun-jo ketika Hyo-sun memohon pada nenek soal saham itu dan Jun-su menghilang dri rumah? Hyo-sun bertanya, “Apa kau mengkhawatirkan Jun-su? Apa kau pernah memegangnya? Apa kau tahu kalau dia adalah adik kita? Apa kau pernah memikirkan dia sebagai adikmu?”

Tapi Hyo-sun sebenarnya membuat pernyataan yang pas tentang Eun-jo yang tidak menunjukkan ketertarikan pada Jun-su. Tidak benar kalau Eun-jo tidak peduli pada Jun-su. Bukan sebuah kejutan lagi kalau anak2 kurangnya interaksi merupakan kurangnya ketertarikan. Ketika Eun-jo membalik buku gambar Jun-su, dia melihat sebuah potret keluarga dan Jun-su hanya menggambar empat orang dan Eun-jo tidak ada disana.

Ki-hoon memarkir mobilnya di depan kantor Hong Ju lalu menelpon kakaknya untuk menyusun perjanjian: Ki-hoon akan menukar bukti yang dia punya dengan mereka untuk sebuah kontrak perjanjian untuk tidak mengganggu perusahaan Dae-sung dan mengembalikan saham yang mereka beli dari para tetua. Ki-jung menolak perjanjian ini dan menyuruh Ki-hoon untuk melakukan yang terburuk. Ki-jung tidak percaya kalau Ki-hoon akan melakukan itu sebab hal itu akan menghancurkan ayah mereka. Ki-hoon mengatakan dengan tegas kalau bukti itu ada padanya. Lalu dia memberikan Ki-jung tenggat waktu: Ki-hoon akan menunggu sampai besok pagi.

Selagi seluruh anggota keluarga duduk dan menunggu berita dengan gelisah, Kang-sook tiba dan menanyakan Jun-su. Kemana mereka sudah mencari? Apa mereka sudah mencari ke semua tempat? Eun-jo dan Hyo-sun kaget melihat kepulangan ibu dan Hyo-sun mendekat untuk memeluk ibu. Dia bertanya apa ibu kembali untuk berbaikan. Hyo-sun tidak mendapatkan jawaban sebab Kang-sook langsung berlari untuk terus mencari.

Kemudian mereka berhasil menemukan Jun-su… di bawah meja barangkali? Mereka sebenarnya menemukan Jun-su setelah dia bangun dan mulai terisak. Suara itu membawa mereka ke kantor Dae-sung dimana ibu memeluk Jun-su dengan gembira dan diikuti oleh Hyo-sun. Eun-jo melihat semua ini dari samping dan merasakan bahwa dia bukan bagian dari keluarga ini. Di kamarnya, Eun-jo berpikir lagi bagaimana dongengnya berakhir sore ini.

Ibu dan Hyo-sun memandikan Jun-su yang terlihat sangat senang. Jun-su menjelaskan kalau dia bermain petak umpet dan sebuah flashback memberitahu kita bagaimana dia bisa berada di bawah meja Dae-sung. Seperti yang sudah sering dia lakukan ketika ayah masih hidup, Jun-su bermain petak umpet bersama ayah dalam bayangannya saja. Pada awalnya terlihat kalau Jun-su hanya terlihat menghidupkan kenangan lama tapi kenangan itu menjadi kabur dengan kenyataan ketika Dae-sung mengatakan pada Jun-su untuk menjaga ibu dan kakak2 perempuannya sebab dia adalah satu2nya pria dalam keluarga itu.

Eun-jo memaksa ibunya untuk menjelaskan kenapa dia pergi dan kemudian kembali lagi. Tapi Kang-sook berkeras kalau dia tidak punya penjelasan apa2. Saat keluarga itu sedang makan, Hyo-sun berkata pada Kang-sook kalau mereka miskin sekarang – mereka mungkin akan kehilangan rumah ini. Hyo-sun meminta Kang-sook untuk memberitahukan apa yang dia rencanakan jadi Hyo-sun bisa mempersiapkan dirinya.

Kang-sook mengaku kalau dia hanya tertarik pada kekayaan jadi kenapa Hyo-sun mau percaya setiap kata yang ibu akan katakan sekarant? Kemudian ibu mengkritik cara bicara Hyo-sun dan memintanya untuk belajar bicara yang baik dari Eun-jo. Kang-sook juga bergumam pada Hyo-sun tentang tidak akan kehilangan rumah ini – apa Hyo-sun tahu kalau dia adalah Song Kang-sook? Dia akan mati bila dia membiarkan seseorang mengambil rumah ini darinya.

Kang-sook mengambil kendali seolah-olah dia tidak pernah pergi dan mengumpulkan semua pekerja untuk memberikan kuliah soal etika bekerja. Akan tetapi, sekarang nada bicaranya berbeda, kalau di masa lalu dia selalu menunjukkan kekuasaannya dan sekarang dia terdengar bahkan peduli pada keadaan perusahaan. Ketika paman Hyo-sun lewat dan melihat Kang-sook dengan ketakutan, Kang-sook membuatnya terkejut dengan tidak mengusirnya seperti yang paman pikirkan. Malahan, Kang-sook menyuruh paman untuk segera bekerja.

Perubahan sikap ini juga berimbas ke Hyo-sun yang ibu perlakukan tidak seperti dulu tapi dia berbicara apa adanya. Ibu membalik-balik lemari Hyo-sun dan ibu meminta Kang-sook untuk memberikan beberapa barang2nya yang bagus itu pada Eun-jo sebab Hyo-sun harus merasa bersalah karena dia punya banyak barang bagus tapi Eun-jo berdandan begitu sederhana. Kelihatannya Kang-sook sudah menemukan tempatnya tapi Hyo-sun bingung pada perubahan ini.

Kang-sook mengatakan semuanya pada Hyo-sun dan berkata kalau dia akan bersikap seperti ibu tiri sekarang. Ibu tidak bisa berpura-pura lagi sekarang dan dia sudah lelah memaniskan kata2nya jadi dia akan bersikap jujur sekarang – dia tidak bisa merasakan hal yang sama pada Hyo-sun seperti yang dia rasakan pada darah dagingnya. Ketika Eun-jo atau Jun-su sakit, Kang-sook merasa semua organ tubuhnya dikeluarkan tapi pada Hyo-sun, dia tidak merasakan hal yang sama. Akan tetapi, Kang-sook mengakui kalau adanya waktu 8 tahun bersama itu dan Hyo-sun adalah orang yang paling mengingatkannya pada Dae-sung – jadi sekarang dia memutuskan mereka akan mempunyai hubungan ibu tiri dan anak tiri.

Hyo-sun bertanya apakah ibu bersungguh-sungguh dengan ucapannya – begitukah Hyo-sun artinya bagi ibu, bahwa ibu tidak merasa seperti ditikam ketika dia sakit? Kang-sook menjawab iya. Hyo-sun menarik Kang-sook dan memeluknya dan memintanya untuk tidak melupakan kesalahan Kang-sook padanya dan pada Dae-sung. Hyo-sun menambahkan, “Aku tidak akan memintamu untuk membayarnya dengan hal lain, jadi rasakan saja hal yang sama padaku seperti yang kau rasakan pada Unni.”

Ketika Jung-woo memandangi tulisan di pemukul baseball-nya, dia mengenang kembali masa kanak2nya dan bagaimana dia tumbuh mencintai Eun-jo. Flashback itu membawa Jung-woo ke saat2 awal mereka bersama hingga ke hari dimana dia merayakan ‘ultah-nya’ bareng Eun-jo. Cukup meyakinkan, Jung-woo bicara pada Eun-jo dan memberikannya pemukul baseball-nya pada noona. Jung-woo tahu kalau dia akan ditolak, tapi dia harus melakukan ini tidak peduli apapun jawaban Eun-jo.

Setelah itu, Jung-woo menyatakan perasaannya kalau Eun-jo sudah menjadi wanita di hati Jung-woo sejak masih kecil dan dia selalu ingin menjaga Eun-jo. Ki-hoon sudah membuat Eun-jo banyak menangis dan akan terus membuat Eun-jo menangis nanti dan Jung-woo tidak bisa duduk saja melihat itu terjadi: “Hiduplah dengaku.” Sebenarnya itu lamaran pernikahan dan Jung-woo berjanji untuk membuat Eun-jo bahagia dan hanya hidup dengannya.

Eun-jo mengatakan pada Jung-woo ini bukan artinya dia tidak menyukai Jung-woo tapi dia tidak bisa bersama Jung-woo sebab dia sangat menyukai Ki-hoon. Meski dia tidak tahu apakah dia bisa bersama Ki-hoon nanti, tapi itu tidak jadi masalah: “Apa artinya itu saat aku tergila-gila padanya? Kau akan bertemu wanita yang menyukaimu seperti aku menyukai Ki-hoon.” Eun-jo menyerahkan kembali pemukul baseball itu dan berkata kalau dia benar2 peduli pada Jung-woo. Tapi sekarang, Eun-jo harus menemui Ki-hoon.

Setelah menunggu semalaman di dalam mobilnya, Ki-hoon bangun keesokan paginya. Sedikitnya jawaban dari Ki-jung berarti dia tidak ada rencana untuk menurut. Eun-jo telah membaca laporan di Koran pagi dan langsung menuju ke Hong Ju. Ki-hoon melihat Eun-jo memasuki gedung dan mengikutinya dan mencoba untuk meminta tinggal sebab semua ini akan berakhir. Tapi tidak, Eun-jo mengatakan pada Ki-hoon – semuanya sudah berakhir. Hong Jud an ayah Ki-hoon sudah dituntut atas perbuatan illegal mereka.

Setelah itu, pintu terbuka dan Ki-jung keluar untuk memberitahukan Ki-hoon bahwa dia sudah menang. Ternyata Direktur Park yang menghancurkan perusahaan itu. Eun-jo dan Ki-hoon melihat dari mobil ketika ayah Ki-hoon dikawal dari mobilnya dan dikerumuni oleh reporter yang penasaran. Ki-hoon melewati kerumunan itu untuk mengetuk pintu mobil ayahnya dan mendekat untuk meminta ayahnya sekali lagi untuk meninggalkan semuanya.

Ki-hoon berjanji akan mendukung ayahnya dan menjadi anak yang berbakti jika ayah meninggalkan semua ini dan tinggal bersama Ki-hoon. Ayah tersentuh pada sikap Ki-hoon dan bahkan menangis serta memandang Ki-hoon dalam-dalam. Tapi ini jelas tidak mudah dan ayah tidak bisa melakukannya. Kaca jendela kambali menutup dan ayah meminta sopirnya untuk jalan. Setelah mobil itu berlalu, kerumunan itu berpencar dan Ki-hoon tetap berdiri beku. Eun-jo mendekat dan memegang tangan Ki-hoon lalu menuntunnya kembali ke mobil.

Sedangkan, Hyo-sun dan Kang-sook berbelanja pakaian dan Kang-sook mengambil sebuah baju untuk Eun-jo. Tapi dengan caranya yang aneh, Hyo-sun menganggap itu sebagai sikap untuk bersikap lebih berani pada ibu. Hyo-sun mengatakan pada ibu untuk tidak bersikap diskriminatif pada putri-putrinya dan mengambil satu baju untuk ditambahkan ke tumpukan baju ibu.

Eun-jo mengantar Ki-hoon ke tempat bicara favorit mereka – hutan – dan keluar untuk memberikan kesempatan bagi Ki-hoon untuk sendiri sebab dia menangis. Setelah beberapa waktu, Eun-jo membuka pintu mobilnya dan menepuk bahu Ki-hoon. Kemudian, Eun-jo memegang tangan Ki-hoon lagi dan dengan pelan mengajaknya keluar mobil. Eun-jo memeluk Ki-hoon dan tangannya dengan pelan mengusap punggung Ki-hoon. Dia berkata kalau Ki-hoon seharusnya memberitahukannya dari awal sebab dia bisa membantu Ki-hoon dalam saat sulitnya. Mereka seharusnya membicarakan semuanya bersama dan mereka tidak akan kehilangan apa2.

Eun-jo: ‘Kau bisa bersandar padaku’. Ketika ayah mengatakan itu padaku, aku tahu meskipun aku tidak langsung bersandar padanya, aku telah menemukan seseorang untuk bersandar saat aku perlu. Pada saat itu, rasanya seperti sesuatu yang terikat terbuka dan tenang. Bersandarlah padaku. Kau bisa bersandar padaku. Aku memintamu untuk bersandar padaku kali ini, ya?

Ki-hoon memegangi Eun-jo dengan erat untuk beberapa saat. Dan saat dia mundur, Ki-hoon mengecup kening Eun-jo lalu perlahan-lahan mereka berciuman.

Sinopsis Cinderella’s Stepsister – Episode 18

Ki-hoon memanggil, “Eun-jo ya.” Eun-jo berbalik tapi tidak mendekatinya. Ki-hoon sadar kalau Eun-jo tidak akan mendatanginya jadi Ki-hoon mengatakan kalau dia yang akan mendatangi Eun-jo. Ki-hoon mendekat dan melambaikan secarik kertas dihadapan wajah Eun-jo lalu meletakkannya di tangan Eun-jo. Ki-hoon berkata kalau dia tidak pernah menyelesaikan satu kalimat yang pernah dia mulai dengan Eun-jo, sebab kebiasaan Eun-jo yang sering kabur. Ki-hoon, “Jika kau bergerak satu langkah sebelum aku selesai bicara, kau mati, kau bajingan kecil.”

Eun-jo membuka kertas itu dan ada nomer satu sampai empat tulisan disana. Ki-hoon berkata pada Eun-jo kalau banyak hal akan terjadi dan Eun-jo harus: 1). Tidak peduli apa yang terjadi, jangan kaget. 2). Percaya bahwa perusahaan Dae-sung akan bertahan. 3). Kau akan tutup mulut. Dan nomer empat – Ki-hoon akan memberitahukan nomer empat pada Eun-jo kalau Eun-jo masih melihat wajah Ki-hoon setelah semuanya berakhir.

Ki-hoon menyuruh Eun-jo untuk menyimpan catatan itu baik2 sebab catatan itu sangat penting. Eun-jo tidak tahan – apa yang sedang direncanakan Ki-hoon? Ki-hoon berkata kalau yang terpenting bukanlah apa yang akan terjadi masalahnya, semua itu toh akan berlalu. Keesokan harinya, para tetua kembali dan mereka mengatakan pada Eun-jo dan Hyo-sun kalau mereka akan menjual saham mereka pada Hong Ju. Eun-jo sekarang sadar apa arti kata2 Ki-hoon. Hyo-sun mencoba memohon pada para tetua tapi tidak ada hasil. Eun-jo melangkah maju dan mengatakan kalau dia mengerti harapan para tetua.

Hyo-sun ketakutan karena berpikir kalau Eun-jo menyerah, tapi Eun-jo melanjutkan, dengan mengatakan bahwa perusahaan Dae-sung adalah warisan ayah mereka dan mengingatkan mereka pada kesedihan mereka dan kehilangan atas Dae-sung. Eun-jo memberitahukan mereka lagi akan harapan2 Dae-sung agar anak2 perempuannya ingat mimpi2 Dae-sung. Eun-jo meminta mereka untuk mempertimbangkan keputusan itu lagi. Tapi nenek menolak permohonan Eun-jo, “Kau seharusnya tidak bicara sekarang. Biarkan saja sikap2 ibumua itu, kau tidak punya hak untuk berdiri disini dan mengkuliahi kami!”

Eun-jo ketakutan sebab dia tidak punya pembelaan untuk ibunya. Tapi kemudian Hyo-sun yang membela ibu dihadapan para tetua, “Jangan bicara tentang ibu kami dengan gampangnya. Apa kau sudah mengikutinya kemana-mana? Apa kau punya bukti? Aku hidup dengannya dan aku berkata kalau itu tidak benar! Kalau itu benar, orang yang tidak akan bisa memaafkannya adalah aku. Tapi aku telah memberitahumu waktu itu dan sekali lagi sekarang kalau itu tidak benar!” Eun-jo terpaku waktu Hyo-sun berdiri disana dan membela ibu.

Tapi nenek tidak bisa menerima itu. Dia sama sekali tidak bisa mempedulikan Jun-su atau yang lainnya. Dia juga menyingkirkan Hyo-sun sebagai seorang anak dan terus menyeret nama Kang-sook ke hal2 buruk. Nenek mengumumkan kalau seberapa banyak uang yang telah Kang-sook ambil selama 8 tahun ini. Eun-jo terhuyung dan Hyo-sun memeganginya agar tidak jatuh.

Eun-jo memandangi nenek dan menantangnya kalaupun hal itu benar, apa yang akan nenek lakukan soal itu? Ibu mereka sama sekali tidak berhubungan dengan bisnis anggur beras itu dan dia juga mengatakan untuk membawa surat cerai ke kuburan Dae-sung agar bisa ditandatangani olehnya. Mereka tidak punya hal untuk mengusir ibu. Eun-jo berlari keluar ketika para tetua terlihat jengkel.

Hyo-sun mengikuti Eun-jo, yang tidak bisa percaya kalau apa yang dia pikirkan adalah rahasia terbesar yang diketahui oleh seluruh dunia. Satu2nya rahasia adalah dia tidak tahu rahasia itu. Sekarang Hyo-sun yang menyemangati Eun-jo dengan berkata, “Ayo lakukan bersama. Bukan itu masalahnya sekarang. Perusahaan anggur kita… apa kau ingin menyerahkannya pada Hong Ju lalu menyelesaikan semuanya? Apa kau akan begitu?! Aku tidak akan! Aku akan memohon dan berlutut pada para tetua kalau perlu. Kau yang paling pintar… apa yang akan kau lakukan?” Eun-jo terlihat menderita untuk beberapa saat dan meminta waktu 10 menit untuk sendiri dan menjauh. Hyo-sun di belakangnya berteriak, “Hei, kau baru saja mencoba dan menyerah padaku!”

Eun-jo pergi ke gudang anggur untuk menyendiri. Dia menelpon ibu dan meninggalkan voicemail: “Bu, jangan kembali. Bersembunyilah dan jangan kembali. Ya, aku berpikir jika kita bersembunyi cukup baik, semuanya akan menghilang tapi ternyata tidak begitu, Bu. Kau akan menjadi penyihir sampai hati dimana kau meninggal dan aku adalah anak dari penyihir itu. Aku akan membakar tonggak di tempatmu. Kabur saja dan jangan kembali. Selamanya.”

Ki-hoon muncul di belakang Eun-jo dan telah mendengar pesannya. Ki-hoon berjalan mendekati Eun-jo dan menghapus air matanya. Eun-jo bertanya-tanya pada dirinya sendiri, “Jika aku adalah anak penyihir, apa aku juga penyihir? Jika aku penyihir, apa aku mengeluarkan mantra? Aku pasti sudah lupa siapa orang ini, apa yang telah dia lakukan.” Ki-hoon mengingatkan Eun-jo kata2nya tadi malam untuk mempercayakan segalanya pada Ki-hoon. Dia menghapus lagi air mata Eun-jo dan meletakkan tangannya di pundak Eun-jo.

Ki-hoon berkata, “Aku memintamu untuk tidak kaget tapi kau kaget. Aku memintamu untuk tidak berteriak tapi kau sudah menangis. Gadis jahat. Apa kau tahu? Aku juga takut. Tapi meskipun aku takut, aku tidak akan menghindarinya. Aku akan melakukan yang terbaik.” Eun-jo jadi berpikir sendiri, “Dan seperti itulah mantra penyihir berakhir. Saat dia berkata dia takut, aku juga merasakan yang sama.” Eun-jo memanggil Ki-hoon dan bertanya apa yang sebenarnya Ki-hoon rencanakan. Ki-hoon hanya memandangi Eun-jo dan tersenyum lalu berkata kalau yang hanya harus Eun-jo lakukan adalah menunggu seperti gadis yang baik.

Selagi Ki-hoon menyusun rencananya, Eun-jo dan Hyo-sun mengumpulkan keuangan mereka untuk melihat aset apa saja yang mereka bisa kumpulkan. Eun-jo terkejut bahwa Hyo-sun tidak tahu apa2 tentang kekayaan keluarga mereka. Eun-jo sadar kalau rencana Ki-jung selama ini adalah menghapuskan perusahaan Dae-sung dan tidak meninggalkan apa2 jadi Hong Ju bisa memimpin pasar – pada dasarnya hanya menghilangkan pesaing. Dan janji agar Eun-jo tetap melakukan penelitian adalah berarti Eun-jo menjadi pegawai Hong Ju.

Ki-hoon menyerahkan dokumen rahasianya pada ayahnya dan Ki-jung secara bersamaan. Mereka membaca semua lobi-lobi harga dan kegiatan illegal perusahaan Hong Ju lainnya dengan tatapan ngeri, sedangkan Ki-hoon tersenyum penuh kemenangan. Ki-jung bertanya darimana asal dokumen itu dan apa yang Ki-hoon inginkan. Ayah menyuruh Ki-jung untuk diam dan berkata kalau itu bukan dokumen Hong Ju. Ki-jung kehilangan sikap tenangnya untuk pertama kalinya dan menyebut Ki-hoon serigala licik.

Ki-jung berteriak agar bisa tahu apa yang Ki-hoon minta dan mengakui kalau dokumen itu bukanlah dokumen palsu seperti yang ayah katakan. Ki-hoon memuji keberanian mereka dalam melakukan perjanjian gelap ketika Ki-jung dan ayah bereaksi kaget. Ki-jung mengaku kalah dan ayah mengernyit. Ki-hoon berkata, “Kau sudah tahu apa permintaanku. Jangan ganggu kami.” Ki-jung bertanya, “Kami?” dan Ki-hoon langsung menjawabnya, “Perusahaan Dae-sung.”

Kemudian, Ki-hoon menelpon untuk mendengarkan kembali percakapan mereka yang ternyata telah direkam. Eun-jo dan Hyo-sun sudah mendapatkan cara untuk menyelamatkan perusahaan. Eun-jo berkata kalau saham mereka bila digabungkan adalah 40 persen jadi mereka hanya memerlukan dua dari tetua untuk mengganti diri menjadi tim pemenang dan tentu saja setelahnya mereka akan menjadi pemilik saham mayoritas. Tapi salah satu dari tetua itu adalah nenek.

Ki-hoon pulang ke rumah dengan berkendara dan seseorang mengikutinya dari belakang. Eun-jo melihat kalau Ki-hoon punya E-mail baru dan mencoba beberapa password tapi gagal. Ki-hoon tiba di rumah tapi sebelum Ki-hoon bisa masuk ke dalam penjahat yang mengikutinya menarik dan menculiknya.

Hyo-sun membacakan ‘Kongji dan Patzzi’ pada Jun-su sebagai cerita sebelum tidur. Di luar, Jung-woo mengatakan pada Eun-jo kalau dia sudah siap untuk menikah. Eun-jo mengatakan kalau dia akan membantu (secara financial) apapun yang bisa dia bantu meski itu lebih cepat dari yang Eun-jo harapkan. Tapi bukan itu yang Jung-woo maksud.

Hyo-sun mengatakan pada Eun-jo kalau dia punya sesuatu yang ingin dia tunjukkan pada kakak tertuanya itu. Mereka pergi ke kamar Hyo-sun dan diapun mengeluarkan harta karun Hyo-sun yang disimpan dalam sebuah kotak. Hyo-sun mengatakan pada Eun-jo tentang baju yang dia berikan kepada ibu waktu ibu pertama kali tiba di rumah ini dan menunjukkan foto ayah waktu masih kecil. Dia terlihat seperti Jun-su tapi Eun-jo melihat hal yang lain.

Eun-jo membaca surat Ki-hoon itu dengan gemetaran dan Hyo-sun memandangi Eun-jo dengan takut2. Tapi Hyo-sun juga terlihat tenang dengan keputusan itu dan tahu kalau itu hal yang benar buat dilakukan meski hal itu membuat hatinya terluka. Eun-jo membaca surat itu dengan teliti di kamarnya. Kita sudah tahu isi awalnya dan inilah sisanya:

Surat Ki-hoon: Jangan kabur. Jangan pergi kemana-mana. Tunggu aku di rumah. Aku akan bertahan berpikir kalau kau akan menungguku dan aku berharap kau akan bertahan dengan memikirkan kepulanganku. Aku menyukaimu, Eun-jo. Aku paling menyukaimu di dunia ini. Aku mencintaimu. Jika aku berpisah denganmu dalam waktu singkat, aku ingin menuliskanmu surat seperti ini. Jangan pergi kemana dan tunggu aku. Aku mencintaimu, Eun-jo. Aku ingin menuliskanmu surat seperti ini, mengetuk hatiku, memintamu untuk menungguku… Tapi, aku yang telah menyeberangi sungai dan tidak bisa kembali, harus secara menyedihkan bukan memintamu untuk menunggu, tapi menghentikanku. Apa kau akan menghentikanku?

Lalu, Eun-jo melakukan percakapan dengan surat itu. Ini dia:

Surat Ki-hoon: Aku akan membawamu ke bulan dan bintang2.
Eun-jo: Kapan?
Surat Ki-hoon: Apa kau akan menghentikanku?
Eun-jo: Bagaimana?
Surat Ki-hoon: Jika kau memegangiku, aku rasa aku bisa berhenti disini.
Eun-jo: Orang ini berpegang padaku seperti sebatang sedotan.

Kesadaran akan hal ini membuat Eun-jo menangis.

Surat Ki-hoon: Meskipun darah meluncur keluar dari lututmu, kau tidak mampu menangis, sama seperti Hong Ki-hoon yang bodoh.
Eun-jo: Orang ini juga berdarah.
Surat Ki-hoon: Apa kau akan menghentikanku?
Eun-jo: Jika aku tahu orang ini tidak punya apa2 melainkan hanya gadis 18 tahun yang keras kepala untuk menghentikannya, kalau begitu aku tidak punya alasan untuk memanggil namaku sendiri seperti burung dan menangis.

Eun-jo dan Hyo-sun terdiam dan keduanya memikirkan Ki-hoon: Hyo-sun akhirnya melepaskan dan Eun-jo bertahan. Eun-jo pergi ke kamar Ki-hoon pada pagi harinya. Tapi Jung-woo mengatakan padanya kalau Ki-hoon tidak pernah pulang. Eun-jo langsung tahu kalau ada yang tidak beres. Mereka berlari keluar dan melihat mobil Ki-hoon terparkir jauh. Eun-jo mulai panik dan dia mencoba memecah password Ki-hoon lagi. Jung-woo berdiri ketika Eun-jo mencoba untuk mencaritahu langkah selanjutnya. Eun-jo bertanya-tanya apa hal keempat dalam surat itu – hal yang dikatakan akan diberitahu Ki-hoon nanti. Eun-jo menemukan passwordnya: MMM.

Ki-jung yang ternyata menculik Ki-hoon dan Ki-hoon dipukuli. Dia terduduk lemas. Ki-jung berkata kalau dia hanya ingin menahan Ki-hoon untuk beberapa hari sebab perceraian orang tua mereka akan dilaksanakan besok dan perusahaan Dae-sung akan berurusan dengan kejatuhannya.

Ki-hoon menyeringai pada kakaknya, “Aku tidak tahu kalau kau juga seorang penjahat, Kak Ki-jung. Meski bukan untukku, kau tetap ditakdirkan untuk gagal. Aku bisa mengatakan perbuatan macam apa yang kau ambil… betapa lemahnya kau sebenarnya.” Ki-hoon dihantam di wajahnya lagi dan mencoba untuk kabur tapi para penjahat disana tidak membiarkan Ki-hoon pindah 5 langkah sekalipun. Di sisi lain, Eun-jo sedang mendengarkan rekaman percakapan dan memutuskan sikap yang akan dia ambil: menukar Ki-hoon dengan rekaman itu.

Hyo-sun berlutut di depan rumah nenek dan menolak untuk pergi sampai nenek mau bicara dengannya. Dia berteriak apakah nenek siap mengambil tanggung jawab untuk dirinya, Jun-su dan Eun-jo jika nenek menolak ibu untuk kembali. Lalu, seseorang datang dan Hyo-sun menengadah: ternyata Jung-woo. Jung-woo berkata kalau Eun-jo yang mengirimnya untuk menemani Hyo-sun.

Eun-jo menelpon Ki-jung dan mengatakan kalau dia melakukan penculikan. Ki-jung mencoba untuk mengelak dengan bertanya apakah Eun-jo pernah mendengar seseorang yang menculik saudaranya sendiri. Eun-jo mengingatkan Ki-jung kata2nya sendiri bahwa Ki-hoon tidak pernah menjadi saudaranya. Ki-jung mencoba menyangkalnya tapi Eun-jo mengatakan kalau dia akan melakukan pembicraan dengan Ki-jung.

Eun-jo mengatakan pada Ki-jung kalau dia datang kesini dengan maksud untuk menukar Ki-hoon dengan rekaman itu. Tapi kemudian Eun-jo sadar bahwa jika Ki-hoon khawatir tentang kesehatannya, dia tidak akan melakukan ini pada awalnya. Dia juga sadar kalau Ki-hoon pasti tidak ingin dia melakukan barter. Jadi rencana Eun-jo adalah menyerahkan segalanya pada yang berkuasa dan berurusan dengan mereka dengan satu hentakan saja. Eun-jo tidak tahu apa isi dokumen itu tapi berdasarkan rekaman itu, dia berkata bahwa orang paling bodoh akan tahu kalau mereka pasti melakukan sesuatu yang buruk. Ki-jung mencoba mengelak tapi Eun-jo melanjutkan lagi.

Eun-jo: Ini hal yang benar untuk dilakukan. Meski kau menelan Dae-sung Co dan menghancurkannya, meski kau menghapus nama Dae-sung dari Korea selamanya, ini adalah hal yang benar untuk dilakukan. Ayah kami yang sudah meninggal juga akan berpikir begitu. Alasan terbesarnya adalah orang itu… Hong Ki-hoon. Aku tidak ingin membuatnya merasa malu lagi. Orang itu merasa malu selama ini – karena itulah dia tidak bisa mencariku. Karena dia merasa begitu bersalah, dia selalu mengatakan yang sebaliknya. Tidak pernah mengatakan apa yang sebenarnya aku rasakan, aku tidak pernah sekalipun memberikan kata2 yang ramah padanya. Tapi jika aku menukar rekaman ini untuknya, orang itu dan aku… kami tidak akan pernah mendapatkan kesempatan.

Eun-jo mengatakan pada Ki-jung kalau dia akan memberikan waktu pada Ki-jung sebelum dia masuk ke dalam sana. Dan jika Ki-jung membiarkan Ki-hoon pergi dan menelpon Eun-jo, maka Eun-jo akan membatalkan tuntutan yang akan dia berikan pada Ki-jung. Ki-jung ketakutan dan menelpon pengacaranya. Kemudian dia melihat Ki-hoon. Dia terlihat sangat bimbang, masalahnya dia sudah dipukul oleh Ki-hoon dan seorang gadis kecil (Eun-jo).

Telpon Eun-jo berdering dan ternyata dari Ki-hoon. Ki-hoon mengatakan pada Eun-jo agar dia menurunkan kaca mobilnya jadi dia bisa melihat wajah Eun-jo. Eun-jo melakukannya dan mereka bisa saling pandang dari seberang jalan. Ki-hoon berkata, “Siapa yang menyuruhmu melakukan itu?” Eun-jo bertanya apakah Ki-hoon baik2 saja dan menyuruh Ki-hoon untuk pulang ke rumah. Ki-hoon mengatakan kalau Eun-jo tidak boleh menyerahkan bukti itu – hanya itu satu2nya cara untuk menyelamatkan perusahaan. Eun-jo menggelengkan kepalanya dan menangis. Menurut Eun-jo, inilah satu2nya cara agar mereka bisa bersama. Ki-hoon menutup telpon dan mulai menyeberang jalan untuk mencari Eun-jo.

Eun-jo keluar dari mobil dan ketika Ki-hoon tiba2 berhenti, Eun-jo memecahnya lalu berlari ke Ki-hoon dan memeluknya. Kendaraan lalu lalang ketika mereka berpelukan!

Sinopsis Cinderella’s Stepsister – Episode 17

Hyo-sun pulang ke rumah dalam keadaan kacau dan dia berkata pada Eun-jo, “Ibu kabur.” Hyo-sun berkata kalau ibu kabur karena dia merasa sedih atas Dae-sung. Eun-jo memandangi Hyo-sun dengan tatapan tidak percaya. Hyo-sun mengaku kalau dia menggunakan Paman Jang sebagai alasan untuk menahan ibu – bahwa dia tidak ingin mengusir ibu, jadi kalau Hyo-sun bisa memaafkan Paman Jang, maka dia tidak perlu mengusir ibu.

Hyo-sun bertanya siapa Eun-jo dan ibu baginya sehingga membuatnya menjadi seperti ini. Tapi Eun-jo tidak punya jawaban dan malah menanyakan hal yang sama: “Siapa kami hingga kau tidak bisa membiarkan kami pergi?” Hyo-sun menjawab dengan bertanya siapa yang bersikap lebih aneh, Eun-jo atau Kang-sook. Eun-jo tidak tahan ini – dia dan ibunya sudah membuat banyak dosa pada Hyo-sun dan ayahnya yang sama sekali tidak bisa ditahan. Eun-jo meminta Hyo-sun untuk mengusirnya saja tapi Hyo-sun menolak.

Eun-jo mulai meninggalkan ruangan itu tapi Hyo-sun meraih kaki Eun-jo dan memeganginya erat2. Eun-jo mencoba untuk melepaskan dirinya dari pegangan Hyo-sun. Akan tetapi, Hyo-sun menarik tangan Eun-jo, pergelangan kaki Eun-jo, kaus Eun-jo – apa saja yang bisa Hyo-sun pegang untuk menarik Eun-jo kembali.

Karena tidak bisa membebaskan diri, Eun-jo berteriak kalau dia membenci ini, membenci Hyo-sun dan membenci segalanya. Hyo-sun berteriak, “Bagaimana bisa kau tidak tahu?” Hyo-sun lalu menyandarkan kepalanya di lutut Eun-jo dan berkata kalau Eun-jo dan Kang-sook adalah orang2 sakit – bagaimana mungkin mereka mengubah waktu 8 tahun menjadi bukan apa2? Jika Eun-jo tidak sakit, bagaimana mungkin Eun-jo bersikap seolah-olah mereka tidak punya hubungan? Hyo-sun berujar kalau Jun-su mengikat ibu pada ayah dan Eun-jo pada Hyo-sun.

Eun-jo mendesah, “Kau benar2 membuatku gila, Gu Hyo-sun.” Hyo-sun membalik sentiment itu dan meminta Eun-jo untuk membawa ibu kembali. Hyo-sun masih sakit jadi Eun-jo meletakkannya di tempat tidur dan merawatnya. Eun-jo bertanya-tanya apakah dia harus memeluk Hyo-sun – bahwa jika dia memegang saudarinya yang demam maka dia akan bisa merasakan panas tubuh Hyo-sun dan dapat mengerti Hyo-sun untuk sekali saja.

Eun-jo tidak terlalu terkejut pada kepergian ibu dan mengatakan kalau dibandingkan shock yang dirasakan Hyo-sun, apa yang dia rasakan sama sekali tidak ada. Eun-jo meminta Jung-woo untuk menemui Paman Jang kalau2 Kang-sook menemuinya. Ki-hoon mengatakan kebohongan pada Hyo-sun dengan bilang bahwa ibu mungkin saja perlu waktu untuk berpikir, yang dia tidak miliki kalau Hyo-sun ada di sekitarnya. Ibu akan kembali saat dia rasa semuanya sudah berakhir.

Eun-jo mengantar Jun-su ke sekolah TK-nya dan mengatakan kalau ibu akan segera kembali. Jun-su tidak puas dengan jawaban itu dan bertanya apakah Eun-jo tahu siapa SNSD, T-ara atau U-Kiss. Jun-su bahkan menarikan tarian salah satu band itu tapi dia terlihat kesal karena Eun-jo tidak tahu apa yang dia bicarakan. Ibu tahu semua hal itu.

Ternyata Kang-sook bekerja pada sebuah restoran yang dijalankan oleh teman lamanya. Rsetoran itu sangat tidak nyaman dan para berandal bisa sangat tidak terkendali dengan beberapa botol soju di tangan mereka. Kang-sook membantu temannya menangani para pria mabuk itu dan melihat kalau putri dari temannya itu melihat kejadian ini. Gadis itu menangis.

Kang-sook mengajak gadis kecil itu keluar untuk menghindar dari keributan itu dan rasanya aneh melihat Kang-sook bersimpati pada anak orang lain padahal seharusnya dia bersimpati pada anak sendiri. Tapi mungkin hal ini membuat Kang-sook melihat kalau dia sama sekali tidak bisa menenangkan anaknya sendiri tapi dia sukses menenangkan anak orang lain.

Eun-jo berkata pada Jun-su kalau dia akan mempelajari tarian itu untuk acara di kelas Jun-su. Tapi Jun-su berteriak kalau dia ingin Hyo-sun yang mengantarnya ketimbang kakak tertuanya yang jelek. Eun-jo tetap ngotot yang membuat Jun-su berteriak lagi kalau Eun-jo berbohong dan di samping itu, Eun-jo juga tidak tahu bagaimana caranya menari.

Eun-jo mendatangi Ki-hoon di kantor yang sedang menyalin tulisan Dae-sung ke komputer. Ki-hoon telah berencana untuk menyelesaikannya sebelum pergi dari perusahaan ini tapi mungkin dia tidak punya waktu lagi. Ki-hoon meminta Eun-jo untuk melihatnya. Sebagai tambahan, di dalam buku itu juga ada komentar pribadi. Di dalam salah satu tulisan itu, Eun-jo menemukan sonogram Jun-su yang diberi nama Dae-sung sebagai ‘hadiah ketigaku.’

Ki-hoon meninggalkan kantor untuk memberikan kesempatan pada Eun-jo untuk menggunakan computer. Tapi sebuah suara menarik perhatian Ki-hoon – penampilan live T-ara yang Eun-jo putar di laptop. Eun-jo memandangi video itu seolah-olah itu video tentang alien. Dan Eun-jo mau berlatih melakukan gerakan tangan dan sebagainya seperti di video. Ki-hoon sama sekali tidak bisa menahan senyumnya melihat ini semua.

Eun-jo akhirnya menerima telpon dari ibunya yang menelpon lewat telpon umum. Kang-sook mengingatkan Eun-jo kalau dulu Eun-jo pernah berkata kalau dia akan bahagia tinggal tanpa ibunya. Kang-sook berkata kalau akan sangat baik bila Eun-jo membiarkannya pergi dan mungkin mereka bisa bertemu setahun sekali.

Eun-jo berbicara dengan genting dengan mengatakan kalau Hyo-sun dan Jun-su ingin bertemu dengan ibu. Eun-jo berujar, “Bu, apa kau pikir tidak apa kabur seperti ini? Apa kau berkata kalau kau tidak peduli pada apa yang terjadi pada orang lain selama kau bisa kabur? Meski kau pergi, kau tidak bisa melakukannya seperti ini!” Kang-sook mengatakan kalau dia belum memutuskan apakah akan kabur atau tidak dan dia akan memberitahu Eun-jo kalau dia sudah memutuskan.

Jung-woo mencoba meminta Hyo-sun untuk makan sesuatu tapi Hyo-sun masih dengan keras kepala duduk di tangga rumah, menunggu Kang-sook. Jung-woo mengatakan pada Hyo-sun kalau Kang-sook akan kembali. Ini sesuai dengan pengalamannya dulu ketika Kang-sook mengatakan dia akan benar2 pergi tapi akhirnya kembali lagi. Kang-sook tidak pernah menggalkan anak2nya yang artinya dia akan kembali untuk anak2nya. Akan tetapi, karena Eun-jo tidak akan pergi dari rumah ini, itu artinya Kang-sook juga akan tinggal.

Setelah mendengar kalau Eun-jo sudah menghubungi ibu, Hyo-sun bersikeras pergi dengan Jung-woo. Mereka tidak memiliki lokasi tepatnya, tapi Ki-hoon dan Eun-jo berhasil mempersempit pencarian ke sebuah kota kecil. Eun-jo mencoba memaksa Ki-hoon untuk tinggal di rumah bersama Hyo-sun sedangkan Eun-jo bisa lanjut mencari ibu. Ki-hoon berkata kalau dia sudah merasa tenang sekarang setelah memberitahukan Eun-jo semua yang harus dia beritahu – tidak masalah bila Eun-jo membencinya sekarang, dia merasa bebas untuk mengkhawatirkan Eun-jo sekarang. Sebelumnya Ki-hoon tidak bisa melakukan itu sebab dia dibebani rasa bersalah.

Sebuah masalah menghampiri mereka dalam perjalanan. Mobil yang mereka kendarai mengalami masalah dan harus menunggu mekanik untuk memperbaikinya. Di atas semua itu, kelihatannya mobil itu tidak akan langsung selesai diperbaiki, jadi Ki-hoon menyarankan agar mereka meninggalkan mobil bersama sang mekanik dan mereka pergi naik bus melanjutkan perjalanan.

Eun-jo benci kehilangan waktu dan dia semakin kesal melihat senyum Ki-hoon. Tapi sekarang, karena Ki-hoon sudah tidak terbebani lagi maka tidak akan ada yang bisa mengjungkirbalikkan moodnya dan menghilangkan senyumnya. Ki-hoon berkata, “Meski di keadaan serius seperti ini, aku ingin bicara tentang hal2 yang tidak berhubungan dengan ini. Sepertinya mereka semua telah meledak. Apa kau akan mendengarkanku?”

Ki-hoon menarik pundak Eun-jo dan mendorongnya ke arah mobil. Tapi Ki-hoon malah bersandar di mobil dan menyuruh Eun-jo untuk bersandar juga agar Eun-jo tidak membuat dirinya sendiri kelelahan. Ki-hoon mulai mengenang dengan mengatakan kalau Eun-jo tidak berubah selama 8 tahun. Eun-jo tidak sanggup untuk mengingat masa lalu dan berbalik, tapi Ki-hoon menarik tangan Eun-jo dan berkata, “Bersandarlah pada sesuatu.” Kali ini Ki-hoon tidak hanya mengimplikasikan mobil. Mereka menunggu.

Ini artinya, Jung-woo dan Hyo-sun yang tiba paling pertama di tempat tujuan. Tanpa membuang banyak waktu, mereka mulai berkeliling untuk menanyakan informasi pada warga setempat. Mereka sama sekali tidak beruntung dan Jung-woo menyarankan agar mereka istirahat untuk makan. Dia bahkan tidak mengindahkan protes Hyo-sun dan malah tiba di restoran yang dikelola teman Kang-sook.

Kang-sook sedang ada di dapur dan mengenali suara Hyo-sun. Kang-sook menjadi panic dan langsung mengungsi ke kamar sebelah serta meminta temannya untuk tidak mengatakan apa2 tentang dirinya. Dia juga meminta temannya itu untuk melayani kedua anak itu dengan lambat jadi bisa memberikan waktu padanya untuk kabur. Akan tetapi, anak dari teman Kang-sook ini bertanya pada ibunya keman ajumma pergi, khususnya tanpa dompetnya yang Hyo-sun kenali sebagai dompet Kang-sook.

Ki-hoon dan Eun-jo meninggalkan mobil mereka dan memilih naik bus dan selama perjalanan Eun-jo terkantuk-kantuk. Kepala Eun-jo bersandar dengan tidak nyaman. Ki-hoon memandangi Eun-jo yang tidur dan perlahan-lahan memindahkan kepala Eun-jo agar bersandar di bahunya. Sambil melihat Eun-jo yang tidur, Ki-hoon tersenyum seperti anak kecil.

Jung-woo mengirimi Ki-hoon sms yang mengatakan kalau mereka sudah menemukan Kang-sook yang dihadapi Hyo-sun dengan marah. Kang-sook tetap menjaga jarak dengan Hyo-sun dan menyuruhnya pergi – meski Jung-woo dan Hyo-sun menyeretnya pulang, dia akan menemukan jalan untuk kabur. Hyo-sun ingin tahu kenapa dan Kang-sook menjawab, “Aku telah menyadari apa artinya tidak mampu menunjukkan wajahku.” Kang-sook bisa melakukannya kalau dia disini. Tapi tidak di rumah – tidak dihadapan anak2nya. Hyo-sun meminta ibu untuk tetap tinggal dengan kepala meununduk (literal) dan itu merupakan hukuman untuk Kang-sook.

Kang-sook meminta Hyo-sun untuk bertanya pada Eun-jo tentang hal2 buruk yang telah ibu lakukan di masa lalu. Kang-sook seolah-olah berharap Hyo-sun mengerti kalau dia belum siap pulang ke rumah. Kang-sook berkata kalau dia akan pulang ke rumah saat dia merasa dia bisa. Hyo-sun setuju untuk pergi tapi ibu harus berjanji dulu kalau dia akan pulang nanti. Dan sampai hari itu tiba, Kang-sook harus tinggal disini bersama temannya. Kang-sook berjanji.

Ketika Eun-jo bangun, dia kaget mendapati dirinya bersandar di bahu Ki-hoon dan sekarang bus sudah kosong. Ki-hoon telah meminta wakti 10 menit pada supir bus tapi sekarang sudah 30 menit sejak mereka sampai. Ki-hoon mengatakan kalau Hyo-sun sudah menemukan ibu dank arena itulah dia setuju untuk bertemu mereka di rumah. Mereka juga tidak perlu mencari jadi mereka bisa pulang sekarang. Eun-jo secara alami menolak hal itu dengan keras dan tetap kukuh agar mereka mencari ibu juga.

Dengan sikapnya yang biasa, Eun-jo mendesak wanita pemilik restoran itu. Dia bahkan memanggil wanita itu pembohong dan menuntut agar diberitahu kemana Kang-sook pergi. Ajumma itu menelan kekesalannya dan berkata kalau Kang-sook berkemas-kemas setelah anak2 yang lainnya pergi yang hal ini sangat tidak dipercaya Eun-jo. Akhirnya, ajumma itu habis kesabaran dan menjawab kalaupun dia tahu kemana Kang-sook pergi, dia pasti akan bohong sebab sikap Eun-jo sangat menyebalkan. Tapi Eun-jo malah terus berteriak yang membuat dirinya diusir.

Dan setelah itu, Eun-jo tetap saja menggedor pintu dan berkeras agar ajumma memberitahu kemana ibunya pergi. Ki-hoon hanya diam saja selama percakapan itu. Tapi akhirnya dia maju dan menarik Eun-jo ke dalam pelukannya. Sikap ini adalah untuk menenangkan Eun-jo dan Ki-hoon memeluk Eun-jo erat sekali. Pada awalnya Eun-jo melawan tapi pada akhirnya dia tenang ketika Ki-hoon menepuk kepalanya seperti seorang ayah. Eun-jo berkata, “Dia bilang kalau dia tidak pernah sekalipun berpikir untuk membuangku tapi dia melakukannya juga.”

Ki-hoon terus menepuk kepala Eun-jo dan membagi ceritanya sendiri pada Eun-jo. Pada waktu mudanya, Ki-hoon diambil paksa oleh orang2 besar dan hal ini sama sekali tidak diharapkan oleh ibunya. Ibu Ki-hoon berlari mengejar mobil yang membawa Ki-hoon meski dia tidak mampu berlari. Begitulah Ki-hoon terpisah dengan ibunya.

Suatu hari, ibunya datang ke rumah dimana Ki-hoon tinggal dengan saudara2nya untuk menjemputnya. Ketika itu, kakak Ki-hoon memberikan alasan aneh untuk mengecoh ibunya dan ibu berlari mengejar Ki-hoon. Eun-jo mendengar cerita dari hidup Ki-hoon yang belum pernah dia dengan sebelumnya. Ki-hoon berjanji pada Eun-jo, “Aku akan menemukannya untukmu. Jangan khawatir.”

Eun-jo tiba di rumah sangat larut malam itu dan mendapati Jun-su yang menangis meminta ibu. Hyo-sun menenangkan Jun-su dengan menceritakan bagaimana dia merawat temannya yang sakit hingga kembali sembuh. Untuk membuat Jun-su tertidur, Hyo-sun menggendong Jun-su di halaman, sambil bergumam dengan lembut persis seperti yang sering dilakukan Dae-sung.

Saat Eun-jo dan Hyo-sun berbaring di sisi Jun-su, Eun-jo bertanya apakah itu yang dulu ayah lakukan untuk Hyo-sun saat Hyo-sun tidak bisa tidur – apakah itu yang ayah bilang? Eun-jo menggunakan kata ‘ayah’ yang membuat Hyo-sun bangkit dengan kaget. Dengan sedih, Hyo-sun bertanya, “Kenapa aku mendengar ini untuk pertama kalinya? Kau seharusnya sudah mengatakan itu lebih awal.”

Semua orang yakin kalau Kang-sook akan kembali tapi Eun-jo perlu menyuarakan ketakutannya dan bertanya apa yang akan Hyo-sun lakukan kalau ibu tidak pernah kembali. Tapi Hyo-sun menjawab pertanyaan kenapa dia yakin ibu akan kembali: “Karena ibu berkata dia tidak mampu mengangkat wajahnya.” Tapi mengabaikan Jun-su adalah sikap yang bahkan membuat Kang-sook lebih sulit mengangkat wajahnya jadi ibu akan kembali.

Hal itu sangat mengejutkan Eun-jo hingga dia duduk dengan tatapan sangat tidak percaya. Ini adalah indikasi pertama kalau Kang-sook benar2 menyesali perbuatannya dan yang paling penting, dia merasa malu. Hyo-sun menambahkan kalau dia percaya Kang-sook tidak akan melupakan waktu 8 tahun, tidak peduli betapa sulitnya sebab itu artinya juga melupakan Dae-sung. Bukankah Eun-jo merasakan hal yang sama?

Narasi Eun-jo: Sangat sulit untuk dipercaya, tapi dia memberitahukanku kalau ibu telah menyadari apa itu rasa malu. Tanpa aku ketahui, Hyo-sun telah tumbuh dari gadis yang lucu menjadi orang dewasa yang tahu bagaimana menghormati masa lalu. Hanya aku dan kuku-ku yang patah yang tetap sama.

Ki-hoon kembali ke rsetoran itu untuk mendekati anak ajumma disana untuk mendapatkan info sebab dia melihat gadis ini kemarin. Ki-hoon tersenyum dan mulai bertanya tentang teman ibu gadis itu. Tapi gadis itu takut pada orang asing dan berkata kalau ajumma sudah pergi. Ketimbang memaksa, Ki-hoon malah bersikap lunak dan berkata kalau sangat sayang sekali.

Ketika Ki-hoon pergi, dia melihat gadis kecil itu berlari ke ibunya. Sebuah telpon penting membuat Ki-hoon pergi sebelum dia berhasil melihat Kang-sook yang ternyata mendengar seorang pria menanyakan tentang dirinya.

Telpon itu adalah dari Direktur Park, pegawai Ki-jung yang mengundurkan diri. Ternyata Park sangat menderita. Dia sangat terbebani oleh semua kecurangan yang dia lakukan dan memberitahukan Ki-hoon informasi penting tentang semua kajahatn yang Ki-jung lakukan via E-mail.

Hari ini ada kungjungan para tetua dari perusahaan Dae-sung. Ki-hoon tahu kalau hal itu tidak bagus jadi dia menghubungi Jung-woo untuk memastikan agar Eun-jo tidak datang ke gudang anggur hari ini sebab dia tidak ingin Eun-jo hadir dalam pertemuan itu.

Para tetua ada disini untuk menginformasikan kalau Hong Ju telah menerima saham mereka di perusahaan Dae-sung sebagai pertukaran untuk saham Hong Ju. Ki-hoon bertanya tentang persyaratan pertukaran itu sebab perusahaan ini tidak bisa mereka telan begitu saja. Salah seorang memotong pembicaraan Ki-hoon dan berkata kalau mereka disini untuk bicara dengan kedua putri Dae-sung bukan untuk berkonsultasi dengan Ki-hoon. Mereka akan kembali besok untuk bicara dengan Eun-jo dan Hyo-sun.

Ki-hoon mencoba menjelaskan kalau kedua anak Dae-sung itu telah melewati banyak hal belakangan ini – jika mereka mendengar tentang ini, maka mereka akan kehilangan keinginan untuk bertahan. Ki-hoon meminta lebih banyak waktu serta detail penawaran Hong Ju. Mereka tetap diam dan pergi.

Berikutnya, Ki-hoon bertemu dengan Park untuk bertanya tentan maksud Park – bantuan mendadak ini sangat mencurigakan. Park hanya mengatakan kalau sebagian dirinya ingin agar Ki-hoon mendapatkan info itu dan menggunakannya untuk melawan Hong Ju tapi yang paling penting adalah keinginan Park untuk mati dengan bersih. Pada akhirnya, apapun motivasi pribadi Park, yang salah tetap salah.

Ki-hoon mengingatkan kalau Park sedang mengundang penyelidikan terhadap perbuatannya sendiri tapi Direktur Park sudah siap bahkan untuk hal yang lebih buruk dari itu. Park mengatakan pada Ki-hoon untuk menggunakan informasi itu untuk apa saja, apakah itu mempublikasikan perbuatan Hong ke seluruh dunia atau memperbaiki perusahaan Dae-sung.

Jung-woo telah melakukan sesuai yang diperintahkan yaitu mengajak Eun-jo pergi jauh. Dia bahkan mengabaikan keinginan Eun-jo yang ingin kembali ke gudang anggur. Jung-woo bahkan berteriak pada Eun-jo agar Eun-jo mendengarkannya. Tapi Eun-jo tetap saja mengeluh dan akhirnya Jung-woo mengeluarkan kartu tersembunyinya: hari ini ulang tahunnya. Jung-woo tidak ingin menjadi pria yang memaksa seseorang untuk merayakan ultahnya bersamanya tapi dia akan menggunakan kartu itu dimana dia bisa. Eun-jo akhirnya mau menurut dan bahkan dia bersenang-senang.

Karena merasa ini adalah hari special bagi Jung-woo, Eun-jo bahkan mau menunjukkan sisi menyenangkan dari dirinya. Mereka pergi berkeliling dan Jung-woo bahkan membandingkan Eun-jo dengan boneka berkepala bulat dan meminta Eun-jo untuk memakai bando warna pink. Eun-jo sebenarnya enggan tapi karena sekarang ulang tahun Jung-woo, dia tidak menolaknya.

Setelah sampai di rumah malam itu, Eun-jo mengucapkan selamat malam pada Jung-woo lalu menuju ke kamarnya sendiri. Tepat saat Eun-jo tiba di pojok, Ki-hoon ternyata ada disana, di paviliunnya.

Ki-hoon memanggilnya, “Eun-jo ya.” Dan menyuruh Eun-jo untuk mendekat. Eun-jo berpikir kalau Ki-hoon pasti sudah gila. Apakah dia sudah melupakan kemarahan diantara mereka? Eun-jo berpikir, “Dia tersenyum. Dia pasti gila.” Tapi kemudian, Eun-jo berjalan ke tempat Ki-hoon sambil berpikir, “Dan aku benar2 gila juga.”

Sinopsis Cinderella’s Stepsister – Episode 16

Eun-jo berjalan di lorong2 rumah dan bahkan mencari Hyo-sun untuk membantunya berurusan dengan berita yang mengerikan ini. Sayangnya, Hyo-sun tidak ada disana untuk berbagi dengannya. Eun-jo pergi ke kantor Dae-sung dan meminta foto Dae-sung untuk memberikannya penjelasan tentang apa yang sedang terjadi sekarang.

Ki-hoon menghubungi Eun-jo tapi Eun-jo tidak mau mengangkatnya. Ki-hoon mengiriminya sms, tapi ketika Eun-jo akan memeriksa sms itu, Hyo-sun menelpon dan Eun-jo menjawabnya dengan cepat. Setelah mendengar kalau Hyo-sun akan menemui Dong-soo, Eun-jo menutup telponnya dan langsung menelpon Dong-soo untuk meminta Dong-soo tutup mulut tentang Ki-hoon dan Hong Ju. Dong-soo menurut dengan mudah dan meminta Eun-jo datang juga.

Eun-jo pergi tapi waktu Ki-hoon mencoba menyetir untuknya, Eun-jo malah hampir menbraknya. Eun-jo berkendara tanpa penjelasan ketika Ki-hoon mencoba memanggilnya. Eun-jo tidak pergi ke tempat Dong-soo tapi dia menemui Ki-jung. Dia ingin tahu apakah Ki-jung punya saudara laki2. Ki-jung mengatakan Ki-tae sebagai umpan tapi Eun-jo ingin tahu saudara laki2nya yang lain. Saudara dari lain ibu? Eun-jo menanyakan tentang Ki-hoon dan Ki-jung mengatakan kalau sementara Ki-tae adalah saudaranya, Ki-hoon bukan. Ki-hoon adalah anak haram.

Eun-jo menganggap kalau seluruh klan keluarga Hong sedang dalam persekongkolan untuk mengambil alih perusahaan Dae-sung tapi Ki-jung menghentikan Eun-jo sebelaum dia bisa berkata lebih jauh. Ki-jung tidak punya urusan dengan Ki-hoon dan persetujuan ayahnya dan Ki-jung menjamin bahwa ketika Eun-jo mengetahui apa yang mereka rencanakan, Eun-jo akan kembali untuk menemuinya (Ki-jung), siap untuk melakukan kerja sama. Eun-jo bangkit untuk pergi dan Ki-jung memberitahunya kalau tidak ada yang bangkit sebelum dia.

Eun-jo membiarkannya tenggelam, ketika Eun-jo mengingat kembali apa yang Ki-hoon katakan tentang mereka yang tidak bisa bersama, kenapa semuanya sangat terlambat, dan kenapa Ki-hoon tidak akan pernah bisa membayar hutangnya pada Dae-sung. Tangan Eun-jo bergetar hingga kopinya bercipratan. Ki-jung melihat akibat dari semua pembicaraan itu ketika Eun-jo berjalan keluar. Eun-jo terjatuh dari kursinya jadi Ki-jung menyuruh sekretarisnya untuk membantu Eun-jo. Ki-jung melihat Eun-jo terjatuh waktu berjalan ke mobilnya jadi lagi2 Ki-jung menyuruh sekretarsinya untuk mengantar Eun-jo pulang.

Eun-jo berteriak, “Apa yang kalian semua lakukan? Jadi membuatku sampai di garis ini… kalian semua mengumpulkan kekuatan kalian dan membunuh seorang pria. Aku pikir aku adalah orang yang melakukan itu. Tapi kalian memberitahuku kalau aku bukan pelakunya… siapa yang membunuh ayahku? Semua orang itu… termasuk orang itu… termasuk orang itu… mereka semua membunuh seorang pria. Itukah yang kau beritahu padaku?”

Ki-jung mendekat dan bertanya apakah Eun-jo baik2 saja sebab dia terlihat pucat. Eun-jo tetap melanjutkan perkataannya, “Apa yang akan kau lakukan sekarang? Kalian semua ada dalam masalah besar…” Dan Eun-jo menengadah dengan pelan2, memberikan tatapan kematian khas Eun-jo pada Ki-jung. Eun-jo berkata, “Aku tidak akan membiarkanmu pergi dengan semua itu. Apa yang akan kau lakukan sekarang? Hah?”

Eun-jo pergi untuk bertemu dengan Hyo-sun di restoran Dong-soo. Dia ingin agar mereka makan siang bersama. Hyo-sun tahu ada sesuatu yang sedang terjadi karena Eun-jo terlalu baik dan peduli. Hyo-sun bertanya apakah ibu mengatakan seuatu. Tapi ternyata bukan itu. Ini adalah hal lain.

Eun-jo bertanya pada Hyo-sun bagaimana perasaan Hyo-sun tentang penolakan Ki-hoon. Eun-jo juga memastikan dengan menambahkan bahwa dia bukan bertanya karena ingin mendekati Ki-hoon. Hyo-sun bertanya dengan enggan apakah Eun-jo benar2 ingin tahu.eun-jo menjawab, “Aku benar2 ingin tahu. Aku berjanji akan lebih dekat denganmu. Kau mungkin tidak mempercayaiku tapi sebagai saudaramu… atau kalau bukan itu, mungkin sebagai teman yang wajahnya kau lihat tiap hari… hanya itu yang bisa aku minta.” Hyo-sun berujar, “Apa kau benar2 penasaran? Rasanya sakit. Ditolak secara resmi… rasanya sakit.”

Eun-jo bertanya Ki-hoon itu orang macam apa dan bagaimana dia bisa ada di rumah. Hyo-sun berkata kalau ayah membawa Ki-hoon suatu hari dan berkata kalau Ki-hoon adalah putra temannya yang memerlukan pekerjaan paruh waktu untuk membayar uang kuliahnya. Eun-jo bertanya apakah hati Hyo-sun masih pada Ki-hoon. Hyo-sun berkata, “Bagaimana menurutmu?” Eun-jo: “Aku bertanya karena aku tidak tahu.” Hyo-sun menjawab, “Ya, meskipun oppa mencari wanita lain. Meskipun dia tidak mau berurusan denganku… selamanya.” Hyo-sun berterima kasih karena Eun-jo sudah bertanya.

Ki-hoon menerima telpon dari Ki-jung dan mengatakan kalau Eun-jo sudah tahu latar belakang keluarga Ki-hoon. Tambahan, Eun-jo juga berpikir kalau mereka (Ki-hoon dan Ki-jung) berkomplot dengan ayah Hong. Ki-hoon bertanya bagaimana Eun-jo menghadapi berita itu, apakah dia menangis. Ki-jung berpura-pura tidak ingat dan berkata dia hanya terguncang. Ki-jung meminta Ki-hoon untuk memberitahu dan mengatur agar Eun-jo tidak bicara pada pers tentang keluarga Hong. Tapi Ki-hoon tidak mendengarkan. Ki-hoon bertanya-tanya kemana Eun-jo pergi dengan keadaan terguncang seperti itu. Dia berteriak pada Ki-jung, “Bagaimana kau membiarkannya sendiri ketika dia terguncang seperti itu? Kau seharunya menelponku!” Ki-hoon merosot dari tenpat tidurnya dan Jung-woo terlihat di pintu.

Kedua pria ini pergi ke tempat Dong-soo, dimana Hyo-sun ikut dalam tes meincicipi makguli dengan mata tertutup. Untuk beberapa alasan, Hyo-sun sama sekali tidak bisa mengenali mana anggur beras ayahnya. Ki-hoon meminta Eun-jo untuk bicara sebentar dan Hyo-sun memandang dengan tatapan sakit. Jung-woo yang membereskan ini. Eun-jo mencoba untuk kabur tapi Ki-hoon berhasil menyusulnya. Ki-hoon mencoba menjelaskan dengan mengatakan kalau dia ingin memberitahu Eun-jo berkali-kali. Eun-jo menutup telinganya dan berteriak kalau dia tidak ingin mendengar apapun. Ki-hoon berusaha membuat Eun-jo mau mendengarkan tapi Eun-jo malah menampar wajah Ki-hoon. Ki-hoon lalu menarik Eun-jo dan mendudukkannya di kursi penumpang.

Ki-hoon membawa Eun-jo ke tengah hutan. Eun-jo bereaksi dengan kejam, dia berteriak, memukul, agar Ki-hoon mau membiarkannya pergi. Eun-jo berkata, “Alasan macam apa yang akan kau berikan? Aku tidak bisa mendengar apa2 sekarang. Jika aku mendengarkannya sekarang, aku merasa seolah-olah seluruh tubuhku akan pecah berkeping-keping. Sialan. Keparat. Kau yang terendah diantara yang terendah. Aku bahkan tidak ingin mendekatimu. Semua ini tidak tertahankan!” Ki-hoon menarik Eun-jo waktu dia mencoba untuk pergi. Ki-hoon berkata, “Ayo akhiri ini sekarang!” Eun-jo mencoba menggigit tangan Ki-hoon lalu merosot ke tanah.

Jung-woo mengantar Hyo-sun pulang ke rumah dan Hyo-sun bertanya kemana Eun-jo dan Ki-hoon pergi. Jung-woo berbohong dengan mengatakan kalau mereka mendiskusikan masalah yang berkaitan dengan pabrik tapi Jung-woo tidak tahu itu apa. Hyo-sun bertanya apa hubungan Jung-woo dengan Eun-jo. Jung-woo menjawab kalau dulu waktu mereka masih kecil, mereka pernah tinggal di rumah yang sama. Hyo-sun mencoba mengumpulkan semua kejadian dan menyadari kalau Jung-woo tahu Paman Jang. Jung-woo berkata kalau Jang tidak ada hubungan dengannya. Tapi Hyo-sun melangkah lebih jauh, menyadari kengganan Jung-woo untuk membiarkannya bertemu dengan Jang. Hyo-sun berkesimpulan kalau Jang adalah ayah Jung-woo. Hyo-sun bertanya kenapa mereka semua berada di rumahnya dan menganggap kalau mereka semua melakukan persekongkolan. Jung-woo mencoba menjelaskan tapi Hyo-sun memintanya untuk diam.

Kembali ke Eun-jo dan Ki-hoon. Eun-jo sambil menangis mengatakan pada Ki-hoon kalau Ki-hoon bisa saja bersikpa berbeda tidak peduli apa yang sudah ayah Ki-hoon katakan atau lakukan. Bagaimana mungkin Ki-hoon melakukan hal seperti itu pada pria yang sudah mengajaknya pulang ke rumahnya dan membuatnya bertemu dengan Hyo-sun… dan dengan Eun-jo… Ki-hoon mengatakan kalau dirinya menjadi gila setelah mengetahui kalau Ki-jung adalah penyebab kematian ibunya. Ki-hoon masih terus memohon atas nama balas dendam. Tapi Eun-jo tidak bisa menerimanya. Eun-jo bertanya bagaimana Ki-hoon bisa diam saja dan melihat Dae-sung, Hyo-sun dan dirinya dibohongi…

Eun-jo: Bagaimana rasanya, melihat Hyo-sun yang menyukaimu? Dan aku, yang seperti orang gila yang tidak bisa melupakanmu? Apa rasanya menyenangkan!?
Ki-hoon: Apa kau ingin mati? Apa kau ingin mati? Benarkah, apa kau ingin mati? Aku sudah melepaskanmu, dan paman yang lepas melalui tanganku. Aku membiarkanmu pergi. Aku bisa melihatmu dimana aku melepaskanmu, tapi aku tidak bisa membawamu kembali. Apa rasanya menyenangkan? Aku, yang melakukan dosa besar, dan yang hanya bisa aku pikirkan adalah bagaimana aku bisa tetap memilikimu… bagaimana rasanya untukku? Aku mati dan pergi ke neraka, kau…
Eun-jo: Diam.
Ki-hoon: Gadis jahat.

Eun-jo tidak membiarkan Ki-hoon melepaskan tanggung jawabnya. Eun-jo berkata kalau Ki-hoon mungkin ingin lari tapi takdir Ki-hoon dalam hidup adalah untuk tetap menjadi oppa bagi Hyo-sun. Dia mengatakan pada Ki-hoon untuk jangan pernah mengatakan hal ini pada Hyo-sun, Ki-hoon hanya harus terus lanjut dan menyelesaikan pekerjaannya lalu pergi, seperti bagaimana dia pergi ke militer. Eun-jo berkata kalau Ki-hoon juga harus mengatakan pada Hyo-sun kalau Ki-hoon akan selalu ada untuknya kapanpun dia perlu dan hal ini harus terus Ki-hoon lakukan sampai mati.

Eun-jo berkata, “Beginilah, tanpa membunuhmu disini, tanpa melakukan hal lain, inilah satu2nya cara bagimu untuk membiarkanmu tetap disini.” Lalu Eun-jo masuk ke dalam mobil dan berkendara tanpa Ki-hoon. Dalam diamnya, Ki-hoon memandangi Eun-jo menjauh kemudian memutuskan untuk mengejarnya. Eun-jo dengan penuh air mata melihat Ki-hoon dari kaca mobil dan menginjak gas. Ki-hoon jatuh dan berguling di tanah.

Eun-jo pulang ke rumah dimana Jung-woo sudah menunggunya. Jung-woo mencoba memberitahu Eun-jo tentang Hyo-sun tapi Eun-jo bahkan tidak membiarkannya mulai dengan mengatakan bahwa dia tidak ingin mendengar apa2 sekarang. Eun-jo masuk ke kamarnya dan mencari semua benda yang mengingatkannya pada Ki-hoon, benda2 yang dulu dia anggap berharga. Eun-jo mencoba mematahkan pulpen Ki-hoon menjadi dua padahal masih dalam kotaknya. Lalu, Eun-jo malah melemparnya ke bawah tempat tidurnya. Eun-jo mengambil peta Ushuaia dan merobek-robeknya. Jun-su masuk ke kamar Eun-jo dan mengatakan kalau ibu dan Hyo-sun telah pergi. Jun-su bersandar pada Eun-jo.

Eun-jo lalu menghubungi ibu tapi hpnya tidak dijawab. Dia lalu menghubungi Hyo-sun dan sama saja tidak dijawab. Hyo-sun dan ibu naik kereta dan ibu bertanya apakah mereka harus menyelesaikannya dengan cara seperti ini. Hyo-sun menceritakan sudut pandangnya: dia jatuh cinta pada ibu saat pertama kali melihatnya, ayah mempercayai dan mencintai ibu dan meski Hyo-sun tahu bahwa cinta ibu tidak murni, dia tetap bersyukur karena ada ibu… selama 8 tahun. Tapi sekarang, rasa terima kasih Hyo-sun, cinta ayah… telah dikotori. Kang-sook berkata kalau semua pembicaraan ini tidak penting. Ibu hanya ingin tahu apa yang Hyo-sun inginkan.

Lalu Hyo-sun mencoba mengajari ibu tentang menjadi manusia, “Begitulah kau berurusan dengan perasaan orang. Bukan babi, bukan sapi, bukan anjing tapi manusia! Kau memperlakukan ayahku dan aku seperti babi, seperti anjing. Bagaimana bisa kau tidak tahu itu?” Kang-sook berteriak kalau dia tidak mengerti kenapa mereka harus melewati semua ini di saat Dae-sung sudah mati. Dan ibu sudah putus hubungan dengan Jang, yang sama sekali tidak dipercayai Hyo-sun.

Kang-sook berujar, “Jangan bilang kalau Eun-jo kejam. Kau ratusan, ribuan kali lebih buruk darinya, kau jalang jahat!” Paman Jang mendengarkan semua ini dari luar stasiun kereta. Lalu, Jang dan Hyo-sun duduk di sebuah restoran, sedangkan ibu menunggu sendiri. Ide buruk membiarkan ibu sendiri sebab dia bisa saja merencanakan untuk kabur. Kang-sook memulai rencananya tapi dia dikenali oleh seorang wanita.

Di dalam restoran, Hyo-sun menunjukkan foto Dae-sung pada Paman Jang dan berkata kalau ayah adalah pria yang sangat baik. Hyo-sun mengatakan kalau Eun-jo saja mencintai dan menghormati ayahnya. Kalau Eun-jo tidak mencintai ayahnya, Hyo-sun pasti sudah mengusir Eun-jo dari dulu. Hyo-sun berujar, “Karena dia mencintai ayahku… maka aku membiarkannya tinggal.”

Hyo-sun berkata kalau ayahnya juga sangat mencintai ibu hingga dia tidak pernah memberitahu kalau dia tahu hubungan ibu dan Jang sebab ayah takut ibu akan meninggalkannya. Hyo-sun memberitahu Jang kalau dia baru bisa bicara sekarang, setelah bertemu dengannya, bahwa Jang tidak akan pernah bertemu dengan ibu lagi. Tapi Hyo-sun berada disini bukan untuk hal itu. Apa yang Hyo-sun inginkan adalah permintaan maaf bukan padanya tapi kepada Dae-sung. Sebab Hyo-sun tidak bisa tidur karena saking sedihnya memikirkan ayahnya. Hyo-sun berkata kalau ibu juga bersalah tapi dia sudah dihukum sekarang dan dengan tulus menyesali perbuatannya.

Hyo-sun berekeras kalau Jang harus minta maaf pada ayahnya, kalau dia memang manusia. Jang tidak berkata apa dan malah menegak minuman lagi. Hyo-sun meminta sebotol anggur beras Dae-sung. Hyo-sun memegangnya dengan erat dan air mata mulai berjatuhan dan berkata kalau anggur ini adalah anggur ayahnya. Jang akhirnya memandang Hyo-sun dan berkata kalau dia adalah binatang buas dan berpikir bahwa apa yang dia lakukan adalah perbuatan binatang bukan manusia. Jang berkata, “Jika kau mau mendengarkan kata2 binatang maka aku akan bicara. Aku bersalah. Bilang pada ayahamu kalau aku bersalah. Aku bersungguh-sungguh.” Jang membayar dan pergi. Hyo-sun menangis. Dia memegang foto Dae-sung dan sebotol anggur beras ketika dia terisak.

Anggur beras Dae-sung sekarang sudah beredar dan hasilnya sangat memuaskan. Jung-woo melakukan usaha yang kedua dan menelpon Eun-jo. Akan tetapi Eun-jo malah menyapanya dengan, “Ada sesuatu yang terjadi di gudang anggur? Tidak? Baiklah kalau begitu. Aku bisa menghubungiku nanti.” Eun-jo dan Ki-hoon ada di restoran Dong-soo sedang meletakkan logo yang baru pada anggur beras Dae-sung. Dong-soo ingin bicara pada Eun-jo jadi mereka menyingkir dan meninggalkan Ki-hoon sendiri.

Dong-soo bertanya apa yang terjadi sebab dia tidak mengerti kenapa Ki-hoon masih disini kalau dia berasal dari keluarga Hong. Eun-jo berkata kalau Dong-soo tidak perlu mengkhawatirkannya. Dong-soo mengatakan kalau Eun-jo sama sekali tidak berubah sedikit pun. Tapi, Dong-soo ternyata akan menikah. Dia memberikan undangan pada Eun-jo, Hyo-sun dan Ki-hoon. Dong-soo bertanya-tanya apakah Ki-hoon akan datang sebab Ki-hoon tidak pernah menyukainya. Eun-jo berkata kalau dia akan memberikan undangan itu.

Lalu, Dong-soo mengatakan alasannya kenapa dia ingin bicara dengan Eun-jo. Dong-soo khawatir kalau ada hal serius yang terjadi pada Hyo-sun. Fakta bahwa dia tidak bisa merasakan apapun… tidaklah normal untuknya atau siapapun. Dong-soo berkata pada Eun-jo kalau semua terasa sama bagi Hyo-sun dan bahwa seharusnya Hyo-sun dibawa ke rumah sakit.

Akhirnya Eun-jo menerima telpon Jung-woo dan tahu kalau Hyo-sun sudah tahu tentang Paman Jang. Eun-jo dan Ki-hoon berhenti. Eun-jo merasa resah bagi Hyo-sun dan sekarang tahu kenapa Hyo-sun sakit dan terluka. Eun-jo menangis untuk Hyo-sun. Ki-hoon mendekati Eun-jo dan mengulurkan tangannya di atas Eun-jo. Tapi Ki-hoon ragu dan akhirnya menarik kembali tangannya.

Hyo-sun kembali ke stasiun kereta dan ibu telah pergi. Dia menunggu dan menunggu tapi tidak ada hasilnya. Dia menelpon ke rumah dan Jun-su mengatakan kalau ibu tidak di rumah. Hyo-sun terus menunggu sampai kereta berhenti berjalan. Dia duduk sendirian di dalam kegelapan, “Jadi seperti ini, benar kan? Bu, beginikah jadinya?” Hyo-sun berlari tapi semuanya sudah tutup dan dia sendirian. Hyo-sun menangis lalu dia berteriak, “Ibu… Ibu… Ibu… Ibu… Jangan pergi! Ibu, jangan tinggalkan aku!”

Sinopsis Cinderella’s Sister – Episode 15

Setelah membaca buku harian ayahnya, Hyo-sun berhamburan ke kamar Kang-sook. Dia menatap Kang-sook dengan tatapan benci dan mulai melempari baju dari dalam lemari ibu dan bahkan melemparkan koper ibu. Hyo-sun berteriak, “Keluar!” Sayangnya, kejadian itu hanya ada di kepala Hyo-sun sebab sebenarnya, Hyo-sun hanya berdiri di luar pintu kamar ibu. Dia yakin akan memerankan skenario itu tapi akhirnya kemudian dia berbalik dan pergi. Di dalam kamarnya, Kang-sook duduk dengan tenang menguatkan dirinya untuk menghadapi pertengkaran yang tidak pernah terjadi.

Di kamarnya, Hyo-sun mengatakan pada foto ayahnya kalau dia baru saja akan bertanya bagaimana Kang-sook bisa melakukan itu pada ayah dan bahwa dia bisa saja mengusir Kang-sook! Hyo-sun berkata, “Tapi aku tidak melakukannya, ayah! Aku tidak ingin mengusir dia dengan mudahnya. Sebab aku tidak ingin menyelesaikan ini dengan mudahnya, aku bertahan.” Hyo-sun mengatakan pada ayahnya untuk menunggu dan melihat bagaimana dia menyelesaikan ini.

Keesokan paginya, Hyo-sun mengejutkan ibu di lorong. Dia memandang ibu dengan dingin dan menebak kalau ibu pasti akan menceritakan apa yang terjadi pada Eun-jo. Hyo-sun tidak akan membiarkan hal itu terjadi dan dia menjelaskan pada ibu dengan nada yang tenang, “Kau tidak harus melakukan itu, I – bu!” Suara Hyo-sun terdengar menantang ketika dia melanjutkan, “Kalau Eun-jo tahu, segalanya akan jadi ramai, dan aku tidak menginginkan itu. Biarkan ini mengendap dengan tenang. Jangan melakukan apapun. Tinggal saja dengan tenang sebagai nyonya rumah ini. Sebagai ibuku.”

Kemudian, Hyo-sun kembali ke suara normalnya dan mengatakan kalau Eun-jo telah pergi untuk menangani masalah kontrak. Kang-sook dibiarkan heran pada apa yang terjadi pada anak tirinya. Ke masalah lain. Sekarang mesin sudah dibatalkan, jadi Ki-hoon pergi ke teman lamanya dan meminta pertolongan. Begitu pentingnya permintaan Ki-hoon hingga dia tidak meminta banyak ketika dia memberitahu kenalannya apa yang dia perlukan. Ki-hoon tahu dia sudah bersikap lancing tapi penderitaannya tidak memikirkan bagaimana harus bersikap sopan.

Tidak sukses dengan satu kenalan, Ki-hoon beralih ke yang lain yang bahkan kali ini menutup telponnnya. Ki-hoon menelpon lagi pria itu kalau dia akan bertemu dengannya karena dia menolak untuk menyerah sampai dia mendapat kesempatan untuk bertemu. Hyo-sun mengumumkan pesan bahwa Ki-jung ingin bertemu dengan Eun-jo dan kelihatannya perubahan sikap Hyo-sun tidak membuat Eun-jo curiga.

Hyo-sun dengan santai bertanya tentang seorang pria yang bernama Jang. Dia bertanya apakah Eun-jo yakin kalau tidak ada orang seperti itu di keluarga ibu. Eun-jo tegang, seolah-olah Hyo-sun sudah tahu yang sebenarnya, dan menjawab kalau tidak ada pria seperti itu. Hyo-sun memandangi Eun-jo dengan lekat lalu berkata, “Baiklah. Aku mengerti.”

Eun-jo berharap Hyo-sun ikut dengannya bertemu dengan Ki-jung. Akan tetapi, Hyo-sun sudah berencana untuk tinggal di rumah sebab kelihatannya ibu memerlukannya. Kata2 yang diucapkan Hyo-sun memang tidak aneh tapi cara Hyo-sun mengucapkan kata2 itu membuat Eun-jo tidak tenang. Karena bertambah tidak nyaman, Eun-jo menelponl ibunya. Karena tidak mendapatkan jawaban, Eun-jo langsung mencari Jung-woo untuk mengatakan padanya kalau Paman Jang tidak boleh muncul lagi.

Jung-woo memberikan jaminan pada Eun-jo kalau Jang tidak akan muncul. Dia sudah mengatakan dengan jelas kalau dia memerlukan uang, dia akan menelpon Jung-woo dan bukan Eun-jo. Hyo-sun menemukan Kang-sook dengan mengemas kimbap di dapur dan memasukkan sepotong ke mulutnya. Kang-sook begitu penasaran pada sikap Hyo-sun dan sedikit pujian membuatnya ngeri.

Ini bahkan tidak dibantu oleh telpon yang diterima Hyo-sun dari nenek, khususnya lagi ketika Hyo-sun bertanya, “Bagaimana dengan ibuku?” Kang-sook memandang anak tirinya dengan khawatir ketika Hyo-sun melanjutkan, “Aku tidak tahu apa yang akan kau ucapkan, tapi jangan katakan itu, Nek! Aku akan datang menemuimu segera. Jadi jangan katakan itu sekarang.” Di tempat lain, Ki-hoon pergi ke tempat Ki-jung untuk meminta kakaknya itu memberitahunya sejauh mana Ki-jung akan melaksanakan perbuatan kejam itu.

Ki-jung menjawab kalau dia tidak bisa memberitahu Ki-hoon sebab dia tidak mengenal dirinya sendiri – tapi dia berencana melakukan ini sampai akhir. Ki-jung hanya ingin membuat Ki-hoon takut dan kemudian dia mengatakan kalau Ki-hoon sebaiknya pergi sebelum Eun-jo tiba. Ki-hoon turun dengan lift dan benar saja, waktu pintu lift terbuka, ada Eun-jo dihadapannya.

Pikiran Eun-jo sangat tersita hingga waktu masuk ke dalam lift dan berdiri di depan Ki-hoon, dia sama sekali tidak memperhatikan Ki-hoon disana. Eun-jo naik untuk bertemu dengan Ki-jung. Ki-jung menyarankan pada Eun-jo ketimbang menggunakan dana dari Jepang untuk membangun kembali perusahaan Dae-sung, lebih baik menggunakan dana dari Hong Ju. Ini cara yang baik untuk mengambil alih dan Eun-jo tahu itu. Ki-jung menjelaskan proposalnya dengan sederhana: dia akan membantu Eun-jo melanjutkan penelitian tentang ragi dan dia akan membiarkan perusahaan Dae-sung mempertahankan namanya sebab perusahaan itu telah membangun reputasi yang solid yang patut dipertahankan.

Berlawanan dengan pernyataan Ki-jung, Eun-jo mengatakan, “Terima kasih.” Eun-jo mengatakan kalau Ki-jung baru saja mengatakan potensi besar perusahaan Dae-sung sebab pasti sangat berharga bagi perusahaan minuman nomer satu di negeri ini untuk menelan mereka. Eun-jo menambahkan, “Kau telah memberikanku kekuatan untuk bangkit kembali.” Faktanya, jika ragi Eun-jo seharga sesuai dengan harga yang ditawarkan Ki-jung maka harga pasarannya pasti beberapa kali lebih tinggi dari harga itu. Eun-jo pasti bodoh bila menjualnya sekarang. Eun-jo sekali lagi mengucapkan terima kasih pada Ki-jung lalu menambahkan, “Aku tidak akan melupakan apa yang telah kau lakukan pada kami, tidak akan pernah. Aku akan membalasmu jadi tunggu dan lihat.”

Perubahan yang terjadi sekarang berarti membuat Kang-sook tidak nyaman dengan semua saran dari Hyo-sun, seperti misalnya menjemput Jun-su ke TK-nya meskipun sebenarnya dia bisa pulang sendiri naik bus. Masih berbicara dengan nada yang sopan dan tenang, Hyo-sun menyarankan agar mereka membuat foto keluarga. Terlalu buruk sebab mereka tidak pernah berfoto bersama saat Dae-sung masih hidup tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Kehangatan Hyo-sun yang terlihat pura2 membuat Kang-sook takut. Hyo-sun jadi sulit ditebak dan Kang-sook hanya bisa menyaksikan waktu Hyo-sun bermain dengan Jun-su. Kang-sook merasa ada bahaya bila mempercayai kepolosan Hyo-sun dan dia berpikir:

Kang-sook: Makhluk kecil itu berani melawanku tanpa rasa takut – aku, Song Kang-sook, yang bertarung dengan Tuhan atau Buddha dan menang. Aku tidak pernah takut pada Tuhan atau Buddha, tapi gadis itu yang hanya seekor anak anjing sekarang menunjukkan taringnya. Anak anjing ini lebih menakutkan dari hantu buatku.

Kang-sook menyelinap untuk pulang ke rumah saat anak2nya sedang bermain di taman. Dia cepat2 mengemasi barang2nya dan bergegas ke halte bus. Halte bus yang sama dimana Dae-sung dulu pernah datang untuk menghentikan kepergiannya.

Kang-sook: Takdir wanita jalang ini… melihatnya sekarang, hal paling kotor dalam hidupku adalah rumah ini. Tuhan, Buddha, terima kasih sudah menunjukkannya padaku sekarang. Akhirnya, kau harus mempercayai akalmu.

Bus akhirnya berhenti di halte itu tapi Hyo-sun ternyata tidak membiarkan Kang-sook pergi begitu saja. Dia terlihat dari kejauhan, berlari dan berteriak agar ibu tidak pergi kemana-mana. Kang-sook terburu-buru masuk ke dalam bus dan duduk dengan gelisah ketika bus itu mulai berjalan. Hyo-sun tersandung sepatunya jadi dia mengejar bus itu dengan bertelanjang kaki. Ketika supir bus melihat dia di kaca, dia mengabaikan perintah Kang-sook untuk tidak berhenti.

Hyo-sun masuk ke dalam bus. Dia megap2 kehabisan nafas dan terlihat marah. Dia menarik Kang-sook dan satu tangannya tetap memegangu baju ibu agar dia tidak kabur. Tapi itu tidak menghilangkan keinginan Kang-sook untuk kabur. Dia lari dan Hyo-sun mengejarnya. Pergulatan diantara mereka berdua membuat mereka terpeleset di rumput dan terguling ke parit kotor. Kang-sook berteriak kalau Hyo-sun adalah gadis mengerikan seperti hantu. Tapi Hyo-sun malah menatap dengan kejam dan berkata ibu tidak akan pergi kemana-mana – ibu akan tinggal dimana dia memang tinggal dan hidup di bawah perintah Hyo-sun, “Jika aku ingin melihatmu kabur, aku bisa saja mengusirmu. Apa kau pikir aku akan meninggalkanmu sendiri begitu saja?” Hyo-sun mengumumkan kalau ini adalah rahasia diantara mereka dan surga. Jadi tetap tutup mulut.

Kang-sook meminta Hyo-sun untuk mengutuknya saja atau memanggilnya jalang – bagaimana bisa Hyo-sun tersenyum dan memanggilnya ‘ibu’? Kang-sook berkata, “Kau seratus kali lebih menakutkan dariku, kau tahu itu?” Hyo-sun meledak dan berkata kalau bukan karena Jun-su, dia pasti akan melakukan itu. Tapi bagaimana bisa dia mengutuk adiknya – putra ayahnya? Hyo-sun: “Apakah aku harus mencoba? Apakah aku harus meludah di wajah Jun-su dan memanggilmu perempuan jalang?” Kang-sook menantang Hyo-sun untuk melakukannya tapi Hyo-sun berteriak kalau dia tidak bisa melakukan itu pada ayahnya. Sekarang Kang-sook mulai terisak tapi Hyo-sun tidak akan membiarkan Kang-sook untuk menenangkannya dan mendorongnya. Hyo-sun memperingatkan Kang-sook untuk jangan berani2nya meminta maaf sebab dia tidak akan mempercayai ibu.

Hyo-sun: Apa kau akan meminta permintaan maafku, ibu? Orang yang seharusnya kau mintai maaaf sudah meninggal, jadi kenapa kau bersikap seperti ini padaku? Hiduplah seperti itu sepanjang hidupmu, sebagai pendosa. Apa kau pikir aku akan memaafkanmu? Apa kau pikir aku akan membiarkanmu hidup dengan perasaan tenang?

Hyo-sun berteriak saat dia menangis dan meratapi ketidakadilan ini. Kedua wanita ini berjalan pelan ke rumah dan keduanya terlihat sangat kacau. Hyo-sun lemas di belakang ibu sebab kakinya sakit. Kang-sook memandang lukan Hyo-sun dan Hyo-sun menaikkan dagunya seolah-olah dia ingin mengatakan, “Apa?!” Kang-sook berlutut di depan ibu dan menyuruh Hyo-sun untuk naik ke punggungnya. Begitulah Kang-sook membawa Hyo-sun pulang.

Eun-jo telah berusaha menghubungi Ki-hoon sepanjang hari tapi tidak berhasil. Jadi ketika akhirnya Ki-hoon muncul di rumah, Eun-jo cukup marah untuk memintanya mengundurkan diri. Tapi kemarahan itu segera hilang ketika Ki-hoon memberitahu Eun-jo kalau dia akhirnya berhasil menghubungi salah satu kenalannya untuk bekerja sama dengan mereka. Untuk itu, mereka sekarang punya pengganti untuk mesin pengetes ragi mereka yang dibatalkan. Tapi syarat ketat datang bersama perjanjian ini.

Sebagai tambahan atas harga tinggi dan perjanjian untuk bekerja sama dalam penelitian ragi, Ki-hoon harus bekerja untuk perusahaan itu. Kenalan Ki-hoon itu adalah kakak kelas saat dia kuliah di luar negeri (AS) dan kenalan ini mengatakan kalau Ki-hoon sangat diperlukan di perusahaan mereka. Ki-hoon setuju sebab itu satu2nya cara agar perusahaan Dae-sung bisa bangkit kembali dan menahan semua usaha yang ingin menghancurkan mereka.

Hal ini adalah berita buruk buat Eun-jo. Dan saat Ki-hoon sudah lama pergi, Eun-jo masih duduk dengan sedih. Beberapa waktu kemudian, Jung-woo melihat Eun-jo dengan khawatir dan memintanya untuk bergerak atau melakukan sesuatu.

Eun-jo: Dari dulu, cahaya matahari pagi sama sekali tidak menyenangkan bagiku. Aku lebih suka membuka mataku di rumah beberapa pria atau di kamar motel. Suara yang paling sering aku dengar adalah makian ibuku dan umpatan yang diucapkan oleh kekasih ibu. Suara peralatan rumah tangga yang pecah, hal2 seperti itu. Tapi suatu hari, aku tidak mendengar suara itu. Aku menebak setelah beberapa lama, aku akan mulai mendengar suara2 itu lagi. Kedamaian ini akan pecah, jadi aku tidak memercayainya. Jika aku percaya dan ternyata tidak benar, aku akan menjadi satu2nya yang terluka. Tapi meskipun waktu telah berlalu, aku tidak mendengar umpatan ibuku. Di atas semua itu, cahaya matahari mulai menyenangkan untukku – aku ingin tidur di malam hari karena begitulah cara pagi akan keluar. Jika aku tidur  lalu bangun, maka aku akan memulai hariku bersama pria itu. Kapanpun aku membalikkan kepala, orang inilah yang senang aku lihat. Aku tidak berani berharap banyak. Jika aku kembali dari suatu tempat, sudah cukup kalau dia berada disana. Jika aku tidak melihatnya untuk beberap waktu lalu tiba2 melihatnya, aku bahagia seolah-olah baru melihatnya untuk pertama kalinya setelah seribu tahun. Itu sudah cukup buatku. Tapi yang seperti itu adalah berharap terlalu banyak, dia pergi dan aku tidak bisa melihatnya lagi ketika yang aku perlukan hanyalah melihatnya lagi. Tapi sekarang dia pergi lagi. Dia bilang dia akan pergi. Benar2 menyebalkan…

Karena prihatin pada apa yang terjadi pada Eun-jo, Jung-woo setengah bercanda untuk menahan kepergian Ki-hoon dengan cara mematahkan kakinya. Begitu menderinya Eun-jo hingga dia bertanya, “Bisakah kau melakukan itu?” Eun-jo lalu berusaha meyakikan dirinya kalau ini adalah yang terbaik bagi mereka semua. Meski, dia tidak membohongi siapa2.

Eun-jo masuk ke dalam rumah dan mendengar suara ribut2. Dia melihat Hyo-sun dan Kang-sook sedang bertengkar – ibu berusaha mengobati kaki Hyo-sun tapi Hyo-sun menolak. Setelah Eun-jo masuk, mereka berhenti bertengkar. Hyo-sun tersenyum pada Eun-jo dan menatap Kang-sook dengan tatapan yang mengatakan, “Kau sebaiknya ikut bersandiwara atau aku akan membuatmu menyesalinya.”

Hyo-sun berkata kalau dia menangis karena ibu mengobatinya kurang hati-hati dan dengan manis meminta ibu untuk mengobatinya secara pelan-pelan saja. Kang-sook menurut dan Eun-jo meninggalkan ruangan itu, kecurigaannya menghilang untuk sekarang. Setelah Eun-jo menghilang, Hyo-sun menendang tangan Kang-sook dan menatapnya dengan marah.

Pada saat sarapan, Hyo-sun dan Kang-sook melanjutkan perang dingin mereka selagi Eun-jo makan. Eun-jo sama sekali tidak memerhatikan saling pandang diantara keduanya. Akan tetapi, dia memerhatikan keanehan Hyo-sun yang menggarami makanannya seolah-olah itu bukan apa-apa. Tapi saat Eun-jo mencobanya, dia tersedak. Karena merasa kalau Hyo-sun sedang demam, maka Eun-jo menariknya ke tempat tidur. Eun-jo mengabaikan perkataan Hyo-sun kalau dia baik2 saja. Eun-jo menyuruh Hyo-sun untuk beristirahat dan menunggu dokter sedangkan Kang-sook yang menunggui.

Hyo-sun melawan dan memandangi Kang-sook yang mendesah dengan berat, “Aku telah melakukan banyak dosa sehingga kau pasti dikirm padaku oleh takdir. Jadi ini hukuman buatku.” Ketika Eun-jo tiba di gudang anggur, dia mendengar suara tak terduga yang berasal dari ruang penyimpanan. Disana, dia melihat Ki-hoon sedang mencoba anggur dengan seorang wanita. Ki-hoon mengantar wanita itu ke mobilnya dan menyuruhnya pulang dengan senang.

Ki-hoon bergabung dengan Eun-jo untuk memberinya dokumen yang berhubungan dengan perkiraan harga. Eun-jo mulai membaca dan dia terpaku pada kenalan Ki-hoo hingga yakin dia bisa tertawa lepas. Dan Ki-hoon tertawa lepas bersama Eun-jo. Eun-jo mengatakan pada Ki-hoon kalau perubahan pekerjaan bagus untuknya – Ki-hoon seharusnya bekerja pada perusahaan besar. Alasan kenapa Ki-hoon masih tetap tinggal setelah kematian Dae-sung adalah karena dia tidak mendapatkan ijin untuk pergi, kan? Dalam sikap normalnya, Eun-jo sebenarnya menutup pintu dan menghadapi kenyataan.

Hyo-sun dirawat oleh dokter tradisional dan sedang tidur ketika Kang-sook memeriksa keadaannya. Tiba2 saja, Hyo-sun merintih dalam tidurnya dan mengatakan sesuatu dengan menyakitkan, “Jangan… jangan pergi.” Dia bahkan menangis. Kang-sook berbicara dengan foto pernikahannya untuk memberitahu Dae-sung, “Kau benar2 kejam dalam menghukum. Kau dan putrimu jauh lebih kuat daripada aku.”

Ki-jung menghadapi masalah baru ketika dia mendengar kalau perusahaan Dae-sung berusaha membuat anggur lagi. Di atas semua itu, mereka punya pembeli – Ki-hoon telah berusaha meyakinkan pembeli Jepang mereka untuk membeli produk dari mereka ketimbang Hong Ju. Di samping itu, penelitian telah mebuktikan kalau anggus Dae-sung lebih enak ketimbang punya Hong Ju. Ki-jung mencoba menahan marahnya dan bertanya apa ada lagi. Kemudian, Direktur Park mengeluarkan sebuah surat dan memberikannya pada Ki-jung – surat pengunduran dirinya.

Di pabrik, Eun-jo menikmati suasana ketika melihat pabrik berproduksi lagi. Tapi ini hanya untuk sementara sebab dia kemudian menerima telpon dari Dong-soo. Dia mengatakan kalau Hong Ju adalah perusahaan yang mengacaukan perdagangan mereka di Jepang. Dan ada satu hal yang lebih penting… Apa Eun-jo tahu kalau Ki-hoon adalah putra bungsu di keluarga Hong?

Ki-hoon datang dengan membawa berita gembira dan memegang sebuah majalah dengan wajah Dae-sung di cover-nya. Headlinenya adalah penemuan ragi baru mereka. Dengan wajah tersenyum, Ki-hoon mengumumkan, “Semuanya berakhir sekarang, Eun-jo.”

Sinopsis Cinderella’s Sister – Episode 14

Ki-hoon berdiri di sisi tempat tidur ayahnya. Dia bertanya pada ayahnya apakah ayah tidak mau membiarkan saja semuanya – perang dan permusuhan keluarga. Ki-ho mengira ayah pingsan akibat mendengar kata2nya. Ayah mungkin ingin memiliki hubungan yang lebih dekat dengan Ki-hoon – sebuah hubungan yang nyata. ki-hoon berkata kalau ayah memang menginginkan itu maka ayah harus meninggalkan semuanya dan tinggal di rumah yang sederhana bersamanya dimana mereka bisa pergi memancing berdua.

Dan kalau ada kesempatan, Eun-jo mungkin akan memaafkannya. Ki-hoon mungkin akan membawa gadis keras kepala sebagai menantu ayah dimana ayah bisa membesarkan anak mereka. Ayah menangkis semua perkataan Ki-hoon. Ayah akan mempertahankan semua uangnya. Ayah setuju untuk menyerah tapi Ki-jung tidak akan melepaskannya dan akan datang pula hari dimana Ki-jung akan memerlukan bantuan ayah.

Kang-sook meletakkan buku harian Dae-sung yang mengungkapkan betapa betapa cintanya pria itu padanya. Hyo-sun masuk ke dalam kamar itu mencoba untuk mendapatkan ketenangan dari ibu. Tapi kali ini, Kang-sook sedang tidak mood jadi dia melepaskan Hyo-sun begitu saja. Hyo-sun berkata pada ibu kalau hari ini dia sudah ditolak. Dia hanya ingin mencari kenyamanan tapi Kang-sook tidak dapat memberikannya.

Paman Jang menelpon Jung-woo untuk menjemput Eun-jo. Jang pergi dan Jung-woo dengan manis menyerahkan uang di kantongnya pada Jang serta menyuruhnya membeli sesuatu untuk dimakan. Eun-jo gemetaran di kuris belakang dan Jung-woo mengantarnya pulang ke rumah. Eun-jo tidak menghiraukan bantuan Jung-woo dan berjalan ke dalam rumah seperti zombie. Dia lalu memandangi ibu dengan tatapan khasnya. Tapi ibu masih duduk di tempatnya – seperti patung.

Eun-jo pergi ke kamarnya dimana Hyo-sun sedang menunggu. Hyo-sun bertanya apakah Eun-jo tidak akan bermain dengannya. Eun-jo terlihat seperti seorang kakak. Tapi Hyo-sun mulai memberitahunya kalau hari ini dia ditolak oleh pria yang dia suka. Hyo-sun mencoba tersenyum di tengah2 tangisnya tapi berkata kalau hatinya seperti dicabik-cabik. Eun-jo mendesah dan air mata mengalir di pipinya.

Eun-jo memanggil Jung-woo dari luar kamar pria itu dan Ki-hoon mendengar panggilan ini. Ki-hoon memberengut sebab Jung-woo yang dipanggil. Tapi ternyata, Eun-jo memanggil Jung-woo untuk membawa Ki-hoon keluar dari kamarnya. Eun-jo dan Ki-hoon kemudian berakhir di hutan… berdua. Mereka mengobrol.

Eun-jo memaki Ki-hoon karena ‘mengabaikan’ Hyo-sun pada saat2 seperti ini. Pada saat dimana dia hanya bergantung pada seutas benang. Eun-jo mengingatkan Ki-hoon kalau Ki-hoon sudah berjanji padanya kalau dia akan menjaga Hyo-sun, untuk menjaganya di tempat yang seharusnya diisi Eun-jo. Eun-jo mengulangi apa yang dia katakan pada ibunya – Hyo-sun lebih baik memiliki saudara dan ibu yang membencinya ketimbang tidak memiliki siapa2. Eun-jo: “Hyo-sun hanya punya satu orang di dunia ini. Apakah orang itu harus melakukan ini padanya?” Ki-hoon mendengarkan dengan tenang dan berikutnya, dia memuntahkan semua isi hatinya.

Ki-hoon: Apa kau sudah selesai? Dengan kata2mu yang berlebihan? Apa aku harus menerima Hyo-sun? Anak yang tidak pernah menjadi wanita bagiku, menyukaiku, jadi aku harus menerimanya dengan kesalahan? Apa aku tidak diharapkan untuk mempunyai perasaan atau pikiran? Kenapa? Karena aku berhutang pada paman (Dae-sung)? Haruskah aku menerimanya untuk membayar hutang? Apa begitu caramu membayar hutangmu, kau sialan? Cukup. Hentikan ini. Apa kau serius pada apa yang kau ucapkan? Sejujurnya, apa kau serius? Apa itu adalah hal yang ingin benar2 kau katakan padaku? Jika aku mengatakan padamu: ‘aku salah. Aku akan menerima Hyo-sun.’ Lalu apa yang akan kau lakukan? Apa itu yang ingin kau dengar? Sejujurnya? Apa itu yang benar2 kau rasakan?

Eun-jo berteriak balik, “Apa perasaanku yang sebenarnya?” Ki-hoon menjawab, “Kau tahu itu!” Eun-jo menantang Ki-hoon, “Apa?!” Ki-hoon kembali berujar, “Kau… aku…” Ki-hoon mendekat dan menarik tangan Eun-jo. Dia menarik Eun-jo lebih dekat dan berkata, “Kau hanya berusaha dan mengatakan kata2 itu padaku lagi. Jika kau mengatakannya lagi, aku akan sibuk sekali dengan pikiran untuk menyerah. Ayo lupakan semua itu. Kebaikan paman, hutangku, aku akan melepaskan semuanya. Yang aku butuhkan hanyalah kau. Jika aku memilikmu maka aku akan melupakan semua hutangku… dan hidup.”

Ki-hoon bertanya pada Eun-jo apakah Eun-jo ingin agar dia bersama Hyo-sun – dan air mata mulai jatuh dari mata Ki-hoon. Eun-jo akhirnya memecah kebekuannya dan membiarkan dirinya menangis. Ki-hoon memeluk Eun-jo. Dia memegang Eun-jo erat sekali dan mereka berdua menangis. Ki-hoon berkata, “Kita tidak bisa Eun-jo. Semuanya sudah terlambat. Kita tidak bisa. Aku tahu kau tidak mengerti, tapi kita tidak bisa. Aku marah seperti orang gila tapi kita tidak bisa.”

Eun-jo melepaskan dirinya dari Ki-hoon dan meminta Ki-hoon untuk memikirkan ulang saudari tirinya. Dia menambahkan, “Kalau Hyo-sun bertambah sedih, aku rasa aku tidak akan sanggup menanganinya lagi.” Keesokan paginya, Eun-jo berangkat ke Jepang untuk melakukan uji coba pada mesin pembuat ragi yang baru. Dia bahkan bersikap baik pada Hyo-sun dan berjanji akan bermain dengannya begitu dia pulang nanti. Hyo-sun dan Ki-hoon menyaksikan kepergian Eun-jo dan ketika Hyo-sun berbalik untuk memandang Ki-hoon, dia melihat Ki-hoon memandang jauh ke arah Eun-jo. Di dalam mobil, Eun-jo juga memanfaatkan waktu yang ada untuk memandang Ki-hoon dan mengingat kejadian sebelumnya bersama Ki-hoon.

Sekelompok bibi datang ke rumah untuk mencari Kang-sook. Bibi pendeta ingin mencari selingan untuk diajak berkelahi. Bibi mencoba untuk mengusir Kang-sook karena dugaan perselingkuhan yang Kang-sook lakukan. Kang-sook memutuskan untuk menantang mereka untuk membuktikannya. Kalimat ini mengarah ke saling jambak, dorong, lengkap dengan vas pecah dan hidung yang berdarah.

Setelahnya, Kang-sook langsung menuju telpon untuk menelpon tetua kota yang lain dimana dia menangis bagaimana dia bersalah. Dia lalu menemui paman Hyo-sun – menantangnya bahwa tidak ada yang bisa mengeluarkannya dari rumah ini. Dia menggunakan Jun-su sebagai alatnya. Lalu, Kang-sook mengusir paman. Lagi.

Perusahaan beras datang dan membuat Hyo-sun dan Ki-hoon kaget. Dia datang untuk memastikan bahwa pengantarannya sudah sampai sebab dia memutuskan untuk menghormati permintaan Hyo-sun dan Ki-hoon. Ki-hoon tersenyum pada Hyo-sun, memujinya karena sudah menangani masalah beras sampai tuntas. Hyo-sun memandang Ki-hoon dengan tatapan aneh dan menyuruh Ki-hoon untuk menghentikan itu.

Hyo-sun: Jangan bicara begitu manis padaku. Aku tidak terlalu pintar, jadi itu benar2 membuatku bingung. Jika aku memikirkannya, sejak hari kau datang kesini, sampai hari kau secara resmi menolakku… selagi kau memarahiku karena bersikap kekanak-kanakan, memintaku untuk tidak bergantung padamu… kau sangat manis padaku seperti yang selalu kau lakukan. Meski dunia hancur, perasaan bahwa jika aku bergantung padamu maka semuanya akan baik2 saja… kau melakukan itu. Kau mendorongku ke ujung tebing… dank au bersikap baik padaku lagi… kau tidak bisa melakukan itu.

Hyo-sun mengirimkan Eun-jo sms dan di saat yang bersamaan, Hyo-sun mendapatkan E-mail dari Eun-jo. Kedua bersaudari ini saling mengirimkan berita kesuksesan mereka. Hyo-sun memgirim hasil itu ke lab dan dia menamai ragi itu ‘Dae-sung Ssakaro Myesis’. Hyo-sun berlari ke dalam rumah untuk mencari ibu tapi kemudian dia malah pergi ke tempat foto ayah – dia memberitahu ayah berita bagus ini. Hyo-sun berkata kalau unni sudah berhasil. Dan Eun-jo menamainya bukan dengan namanya sendiri tapi dengan nama ayah. Hyo-sun menangis karena bahagia sebab akhirnya bisa mencapai sesuatu atas nama ayah.

Hyo-sun bertemu dengan Dong-soo dan memberitahunya berita bagus itu selagi Dong-soo sedang sibuk mengetik. Hyo-sun bertanya apakah tidak apa bila Dong-soo membuat tulisan untuk perusaan Dae-sung sekali lagi di majalahnya. Dong-soo mengatakan kalau tulisan ini untuk blog-nya. Dia mengatakan pada Hyo-sun untuk tidak merendahkan netizem dan kekuatan internet. Dong-soo mengatakan kalau blog-nya punya lebih banyak pembaca ketimbang majalahnya. Bahkan dia menyebutkan namanya. Dong-soo memang selalu aneh. Hyo-sun pulang ke rumah untuk menyaksikan kekuatan internet. Dia disapa oleh fanclub-nya lengkap dengan tiruan iklan Hyo-sun.

Mesin untuk membuat ragi telah dikirim dari Jepang jadi ketika Eun-jo kembali mereka sudah bisa mulai membuat anggur beras dengan ragi Dae-sung. Sementara itu, Ki-jung sedang berusaha untuk menawar perusahaan Dae-sung dalam perjanjian dengan pedagang Jepang. Dia mencoba untuk memenangkan kembali pedagang yang dicuri oleh perusahaan Dae-sung.

Jung-woo bertanya pada Ki-hoon, “Bagaimana jika aku menikammu sekarang?” Ki-hoon tidak terlihat peduli dan mengatakan kenapa Jung-woo tidak memanfaatkan banyak kesempatan yang ada untuk melakukan hal itu. Ki-hoon berujar, “Karena Eun-jo, bukan? Adik laki2 seseorang, Han Jung-woo.” Ki-hoon berkata kalau semuanya sama saja baginya dan ketika perusahaan ini sudah mencapai suksesnya, tidak akan jadi masalah apa yang akan terjadi padanya. Ki-hoon menambahkan sambil tersenyum kalau Jung-woo masih membiarkannya hidup setelah itu, maka akan menjadi hal yang sangat menarik.

Hyo-sun memeriksa ibu yang malam ini sedang minum sendirian. Hyo-sun melihat keragu-raguan ibu untuk pertama kalinya – ibu mencurahkan kesedihan dan kematiannya setelah kematian Dae-sung. Bagi Hyo-sun, melihat orang lain dalam keluarganya berduka atas kematian ayahnya – yang hal ini disembunyikan oleh Eun-jo – membuat tembok diantara mereka hancur.

Ibu mengutip kata2 dari diari Dae-sung tentang Hyo-sun dan mengatakan kalau dia membacanya berulang-ulang sampai matanya kabur. Hyo-sun meminta pelukan ibu. Kang-sook bertanya, “Apa kau putri pria itu? Putri pria bodoh itu? Jika dia begitu takut hidup tanpaku, kenapa dia meninggalkanku sendiri tanpa dirinya?” Hyo-sun mencari tangan ibu lalu meletakkannya di kepalanya dan meminta ibu untuk memanggilnya ‘sayangku’ hanya satu kali saja. Ibu mengelus rambut Hyo-sun sambil menangis. Ibu menuruti kemauan Hyo-sun dan akhirnya memberikan Hyo-sun kasih sayang yang benar2 dia cari selama ini.

Eun-jo kembali dari Jepang dan terlihat lebih buruk dari biasanya. Dia mengabaikan protes Jung-woo bahwa mereka harus pergi ke rumah sakit. Mereka tiba di gudang anggur tepat waktu untuk mendengarkan berita buruk. Ki-hoon baru saja mendapatkan telpon dari pembeli Jepang kalau mereka membatalkan penyewaan mesin dan pemesanan anggur beras. Eun-jo pingsan mendengarkan berita ini.

Ki-hoon mengangkat Eun-jo dan mendorong Jung-woo. Dia ingin mengatarkan Eun-jo semdiri ke rumah sakit. Eun-jo terbangun dan mencoba mengatakan kalau dia baik2 saja. Sementara itu, Hyo-sun menelpon pembeli Jepang untuk tahu apa yang terjadi sebenarnya. Dia lalu pergi ke musuh yang mengambil kesempatan besar dari depan hidungnya… Hong Ki-jung.

Mereka bertemu. Hyo-sun belum mengatakan apa2 tapi Ki-jung sudah menjatuhkannya dan membuatnya merasa sebagai orang tolol dan tidak berpengalaman. Ki-jung mengumumkan kalau dia tidak tertarik bermain jujur. Dia sudah melakukan penawaran dan menang. Ki-jung berharap kalau Eun-jo yang akan datang sebab dia punya sesuatu yang akan dikatakan pada Eun-jo. Karena tahu kalau Hyo-sun adalah saudari yang termuda maka Ki-jung mengusirnya dengan sopan.

Malam itu, Hyo-sun memberitahu Ki-hoon kalau Hong Ju yang merampas peluang mereka. Ki-hoon ketakutan dan berkata, “Bagaimana kau… mengetahuinya?” Hyo-sun bertanya apakah Ki-hoon juga sudah tahu. Tapi Hyo-sun sama sekali tidak menaruh curiga apa2. Hyo-sun mengumumkan menyatakan perang dengan Ki-jung dan bersumpah akan menghancurkan pria itu. Hal ini memicu ketakutan yang lebih besar dari Ki-hoon bahwa Hyo-sun pergi sendiri menemui kakaknya yang jahat.

Hyo-sun membersihkan kamar ibu. Di saat yang bersamaan dia juga menjaga Jun-su. Dia menemukan buku harian ayah dan gembira karena mengenali itu sebagai tulisan ayah.

Eun-jo dan ibu pulang dari rumah sakit. Ibu bertanya bagaimana menurut Eun-jo kalau mereka diusir dari rumah ini besok. Eun-jo berkata kalau perjanjian itu lebih penting dan jika hal itu gagal, mereka harus pergi juga. Yang mengejutkan, Kang-sook tidak ketakutan mendengar berita ini.

Ibu pergi ke kamarnya dan menemukan Hyo-sun sedang dikelilingi oleh buku harian Dae-sung. Kang-sook memandangi Hyo-sun dengan tatapan kaget ketika Hyo-sun gemetar dan menengadahkan wajahnya pelan2 ke ibu.