Sinopsis The Return of Iljimae Episode 18

Setelah ditembak, Iljimae pingsan di tengah hutan dimana beberapa anak2 menemukannya. Mereka membalut luka di tangan Iljimae dan sangat mengkhawatirkan kondisinya yang parah. Namun sayang mereka tidak dapat melakukan apa2 dan pergi meninggalkan Iljimae terbaring disana. Antara sadar dan tidak sadar, Iljimae menyeret dirinya ke kuil dimana pada akhirnya dia ditemukan oleh Yeol-gong.

Wol-hee dibiarkan sendiri menunggu Keol-chi dan dia tetap berada dikotahingga malam hari, dimana Wol-hee sangat khawatir kenapa Keol-chi belum datang juga. Seorang pria tua yang baik bertanya apa yang Wol-hee lakukan dan menawarkan bantuan. Jika Wol-hee tidak keberatan berbagi kamar dengan putrinya maka pria itu bisa membiarkan Wol-hee menginap di rumahnya.

Wol-hee tidak punya tempat tujuan malam itu, jadi dia mengikuti pria itu ke rumahnya. Ketika berada di rumah pria itu, Wol-hee mulai merasa tidak nyaman sebab ada yang aneh dengan pria itu – dia begitu bersemangat menawarkan Wol-hee sebuah kamar. Pria itu mendekat dan membuat pernyataan yang tidak pantas, membuat Wol-hee ngeri dan melakukan protes. Pria itu mengatakan kalau dia kesepian – istri dan anaknya pergi sudah selama berbulan2 – lalu dia menarik Wol-hee. Wol-hee melawan dan terbanting ke pintu dan membuat pintu terbuka. Disanalah seorang biksu menunggu dengan murka.

Lucu juga bagaimana Yeol-gong membuat pria itu menjadi malu dan meminta maaf hanya dengan beberapa kalimat saja. Pria itu meminta ampunan waktu biksu Yeol-gong mengancam akan melaporkan pria itu kepada istrinya. Akhirnya Yeol-gong mendapatkan janji pria hidung belang itu untuk tidak macam2 malam ini. Apalagi, Yeol-gong menginap di rumahnya.

Malam itu, Wol-hee mencoba tidur dan menggenggam lengan baju biksu itu seolah-olah sebagai jaminan keamanannya. Pada pagi harinya, Yeol-gong menuntun Wol-hee kembali ke kuil, mengatakan kalau dia tahu dimana pria yang Wol-hee cari berada. Ketika biksu itu kelihatannya tahu siapa dia dan Keol-chi sebenarnya, Wol-hee menyadarai kalau biksu ini pasti Yeol-gong, yang sudah pernah dibicarakan Iljimae beberapa kali. Wol-hee menduga kalau pria yang Yeol-gong maksud adalah Keol-chi, yang dia khawatirkan sudah ditangkap oleh polisi.

Tapi tidak. Yang Yeol-gong maksud disini adalah Iljimae – dan mendengar itu membuat Wol-hee menghentikan langkahnya. Wol-hee memutuskan kalau dia tidak mau pergi, masih merasa sakit atas penolakan Iljimae. Yeol-gong tidak mencoba memaksa Wol-hee, tapi dia malah mengatakan hal yang berbeda, dengan mengatakan kalau dia harus kembali membawa bungkusan obat2annya. Mendengar ini, Wol-hee kaget – apa Iljimae sakit? Biksu itu mengatakan pada Wol-hee tentang tembakan senapan itu dan menggambarkan kondisi Iljimae sangat parah.

Cara ini berhasil sebab Wol-hee buru2 mengikuti Yeol-gong menuju kuil. Dia melihat Iljimae terbaring tidak sadarkan diri, dan dia pun menyibukkan dirinya dengan merawat Iljimae. Wol-hee merebus obat untuk Iljimae dan berada di sisinya selama beberapa hari. Sang narrator drama ini mengatakan kalau racun dalam tembakan senapan itu bisa saja membunuh orang yang lebih lemah dari Iljimae: “Dan perawatan Wol-hee sedikit lebih kuat dari racun itu.”

Saat tidur, Iljimae menyebut-nyebut nama Wol-hee dan berkata, “Wol-hee, jangan pergi. Kau tidak boleh pergi.” Jika Wol-hee merasa tersentuh, ini membuktikan kalau dia sangat berarti bagi Iljimae dan mendengar ini merupakan sebuah ketenangan besar bagi Wol-hee dan tentu saja ini juga membuatnya nyaman.

Berikutnya dia menggumamkan, “Ibu, dimana kau?” yang ini tidak mendapatkan banyak perhatian Wol-hee. Tapi kemudian Iljimae berkata, “Dal…” yang ini membuat Wol-hee mulai marah tapi setelah Iljimae berkata, “Wol-hee,” emosi Wol-hee menurun lagi. Tapi saat Iljimae yang tidak sadarkan diri kembali menyebut nama Dal-yi, kali ini Wol-hee mengakali dengan mengambil sebuah kertas tas dan membuat perbandingan berapa banyak Iljimae menyebut nama dirinya dan Dal-yi.

Kim Ja-jeom memanggil dukun wanitanya untuk mendapatkan informasi keberadaan Iljimae, meski begitu ucapan wanita itu malah membuatnya frustasi sebab kata2nya begitu ambigu dan sulit ditebak. Wanita itu menyebut tentang pilar berwarna merah dengan berbagai aksesorisnya. Wanita itu sedikit tergganggu sebab Kim Ja-jeom ingin semuanya dijelaskan dengan detail. Kemudian dukun wanita itu mengatakan kalau pilar merah bisa menandakan istana atau kuil Budha. Lebih jauh, orang yang sedang dibicarakan sedang terluka, berdarah, dan di sebuah bangunan batu di daerah pegunungan. Akan tetapi, sesuatu menghalangi pandangan dukun itu dan dia tidak bisa mendapatkan bayangan yang jelas.

Iljimae semakin membaik, meski dia belum bangun juga. Ketika Wol-hee memandangi Iljimae, Wol-hee mencuri ciumnya, yang dilihat oleh Dok-bo, seorang biksu baru. Dia tidak senang dan memarahi Wol-hee, yang memberikan sedikit gambaran kalau Dok-bo itu jahat. Wol-hee membaringkan kepalanya di samping Iljimae dan beberapa saat kemudian, Iljimae membuka matanya.

Adegan ini benar2 indah dengan akting kedua artis ini yang bagitu bagus, ketika Iljimae berbalik untuk melihat Wol-hee berbaring di sampingnya. Mata Wol-hee membuka perlahan dan keduanya sadar apa yang mereka lihat. Mengabaikan rasa sakitnya, Iljimae bangun, memandangi Wol-hee dengan tatapan tidak percaya; Iljimae masih percaya kalau Wol-hee sudah meninggal. Wol-hee mengatakan dengan yakin, “Ini aku, Wol-hee.” Dengan nada suara sedih, Iljimae berkata, “Wol-hee sudah meninggal.”

Wol-hee: Aku tidak mati. Aku hidup.

Iljimae: Kau hidup?

Wol-hee: Ya. Aku hidup.

Iljimae: aku berbuat salah. Aku tidak akan mau kehilangan kau lagi.

Bertahan dari luka tembakan senapan tidak membuat Iljimae lolos dari hukuman Yeol-gong, yang memukul Iljimae dengan kayu untuk membunuh manusia. Wol-hee menyaksikan dengan khawatir sementara Iljimae menerima hukumannya dengan tabah. Iljimae mengatakan tujuannya, sebab Tuan Kwon akan menjual negeri ini pada Cina. Tapi Yeol-gong mengatakan kalau bukan hak Iljimae untuk memberikan hukuman seperti itu – Iljimae tidak berhak membunuh.

Iljimae berkata, “Aku sudah gila. Aku pikir Wol-hee sudah meninggal.” Itu membuat Wol-hee memandangi Iljimae penuh tanda Tanya selagi Iljimae melanjutkan, “Tapi sekarang, aku tidak akan membunuh lagi. Aku akan mengikuti ajaran Buddha yang membuat Wol-hee hidup.” Yeol-gong bertanya apakah Iljimae mau bersumpah untuk hal itu dan Iljimae mengiyakan. Biksu itu mulai mengulangi pukulannya tapi sekarang Wol-hee memohon pada Yeol-gong untuk berhenti dan melangkah untuk melindungi Iljimae agar tidak dipukul. Wol-hee mengatakan kalau Biksu Yeol-gong ingin memukul seseorang, dia sebaiknya memukulnya dulu. Yeol-gong berhenti lalu mengatakan pada Iljimae kalau disini bukan wilayahnya untuk memilih orang mana yang harus dihukum – tak seorang pun menyuruhnya melakukan itu. Yeol-gong bersikap seperti sebelumnya menyelamatkan Iljimae.

Sementara itu, sekali lagi Wang Hweng-bo bosan dan memerlukan lebih banyak tindak penipuan untuk memuaskan dirinya. Kali ini dia mengusulkan pada Sung-kae kalau mereka akan menjual obat dan mendapatkan uang. Tidak peduli mereka punya obat atau tidak atau uang untuk membeli obatnya – sebab mereka bisa menggunakan kotoran. Keduanya segera bekerja keras untuk mengubah kotoran menjadi pil dimana Wang Hweng-bo dengan senang hati menambahkan ludah dan kotoran telinganya.

 

Kemudian, dia menarik perhatian masyarakat di pasar dengan menunjukkan kekuatannya yang menakjubkan dan kemampuan bertarungnya yang hebat, yang tentu saja merupakan latihan keras yang dia lakukan tapi dia mengatakan pada orang2 kalau kemampuan itu dia dapat dari obat baru yang dia buat. Pil itu sangat berkhasiat dan membuat yang meminumnya menjadi kuat, tapi obat itu hanya dijual satu hari saja, sebab dia akan segara pergi. Hweng-bo mendapatkan respon yang bagus dan orang2 yang lewat berpikir kalau mereka harus memanfaatkan kesempatan ini dan membeli obat ajaib itu. Sebuah suara terdengar dan mengatakan kalau obat itu palsu. Orang itu Yang-po dan dia menantang Wang Hweng-bo untuk meminum obat itu dulu untuk membuktikan keampuhannya.

 

Wang Hweng-bo mencoba memikirkan alas an untuk menghindari hal ini – tahu apa yang dicampur ke dalam obat itu – lalu dia berbohong kalau dia sudah banyak meminum obat ini dan tidak baik bila meminumnya dalam dosis banyak. Akhirnya dia menyerah dan setuju untuk mengunyah satu pil itu-huek! Tapi dia tidak dapat menelannya dan muntah. Sementara itu, Keol-chi yang ditangkap oleh polisi dan diminta untuk membersihkan jamban, mencoba melarikan diri. Karena dia melakukan ini tanpa perencanaan, maka dia dibawa kehadapan Gu Ja-myung.

 

Petugas Gu menginginkan informasi tentang Iljimae, tapi Keol-chi bersikeras kalau dia belum mendengar apa2 mengenai Iljimae dan sudah lama kehilangan kontak. Karena sangat inginnya menekankan kalau dia tidak tahu apapun, Keol-chi keceplosan mengatakan tentang pondok tempat tinggal mereka di gunung, fakta yang sempat didengar Gu. Gu memerintahkan anak buahnya untuk bersiap-siap dengan tim pemanah dan berangkat menuju tempat sasaran. Mendengar kalau Keol-chi ditahan oleh polisi, Iljimae keluar untuk menyelamatkannya, dan mendapati kalau Wol-hee enggan membiarkannya pergi. Iljimae menebak, “Kau takut aku akan pergi lagi?”

 

Perkataan itu benar2 mengena, sebab Wol-hee masih merasa gugup kalau Iljimae mungkin menghilang seperti sebelumnya. Dengan penuh keyakinan, Iljimae memberikan ucapan terima kasih yang tulus pada Wol-hee karena sudah mampu bertahan dan berkata, “Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi lagi!” Sedangkan Kim Ja-jeom menerima tamu yang misterius lagi, kali ini biksu Dok-bo, yang motifnya masih belum jelas. Biksu ini mengatakan kalau dia punya hadiah untuk Tuan Kim Ja-jeom!

Biksu Dok-bo tentu punya koempetitor sebab polisi juga memburu Iljimae. Gu Ja-myung memimpin anak buahnya ke pondok di gunung yang Keol-chi sebutkan secara tidak sengaja, dan mereka mendekati rumah itu dengan anak panah yang siap melesat kapan saja. Iljimae kebetulan berada di dalam rumah itu ketika dia merasakan ada bahaya mendekat, dan mendapatkan cukup waktu untuk bersembunyi sebelum para polisi itu masuk ke dalam. Iljimae merangkak di atap rumah itu, dan tetap diam selagi para petugas itu mencari keberadaannya dan mendapatkan kalau rumah itu koosng.

 

Gu menebak kalau Iljimae pasti akan mencari Keol-chi, dan memberikan perintah pada dua orang petugas untuk tetap berjaga. Sisanya pergi dan menuju ke markas. Untuk itulah, kuil menjadi kosong ketika para pemburu dengan senapan itu muncul dengan sasaran baru. Dengan perginya Iljimae, mereka memburu kekasihnya, dan sesuai dengan perintah Kim Ja-jeom agar membawanya hidup2. Mereka tahu hubungan Iljimae dengan Wol-hee dan berniat menggunakan Wol-hee sebagai umpan guna memancing Iljimae keluar

 

Parapemburu, dipimpin oleh Park Su-dong, menarik Wol-hee dan berniat untuk menyeretnya, tapi dengan cepatnya Yeol-gong tiba yang menghentikan tindakan itu. Mereka semua tenang dan membungkuk dihadapan biksu itu – mereka mungkin saja membunuh dan menculik tapi mereka kelihatannya juga tahu rasa hormat pada pemimpin agama. Tapi sayang, rasa hormat pada Yeol-gong tidak menghentikan niat mereka pada rencana semula. Malah, itu membuat mereka semakin ingin melanjutkan aksinya. Gu Ja-myung melepaskan Keol-chi dari penjara. Iljimae, yang siap membebaskan keol-chi dari penjara, mendekati pria tua itu di pasar.

 

Setelah bersatu lagi, mereka beranjak pergi, namun berhenti sejenak ketika Keol-chi berpapasan dengan Baek-mae, yang baru saja tiba di Hanyang. Sesuatu tentang penampilan wanita itu menjentik ingatannya Keol-chi, dan dia berhenti untuk mengenang wajah yang familier itu. Ketika Keol-chi ingat bagaimana dia mengenal wanita itu, Keol-chi mengatakan pada Iljimae kalau wanita itu – kemungkinan – adalah ibunya. Iljimae tidak yakin, tapi wanita itu sangat mirip dengannya. Iljimae mulai menyusul Baek-mae, tapi dia sudah berbelok ke jalan lain dan mereka kehilangan jejak Baek-mae.

 

Baek-mae menjelaskan tujuannya kembali ke Hanyang pada Soo-ryun, yang melihatnya di depan kantor polisi. Baek-mae merasakan hal yang tidak nyaman dan mengalami mimpi buruk sehingga dia khawatir pada keselamatan Gu Ja-myung. Soo-ryun bertanya-tanya apakah mimpi Baek-mae ada hubungannya dengan masalah yang menimpa Iljimae belakangan ini, dan dengan enggan membicarakan hal tersebut. Soo-ryun mengatakan kalau Iljimae telah melakukan pembunuhan dan polisi sedang mencari tahu kasus ini guna menemukan latar belakangnya.

 

Setelah melewati shocknya, Baek-mae mencerna apa akibat dari kejahatan Iljimae, dimana dia sadar kalau itu artinya polisi harus menangkap Iljimae sekarang. Baek-mae meratap kalau seharusnya dia tinggal di rumah dan menunggu berita selanjutnya dengan keyakinan, sebab perjalannya ke Hanyang mengatakan bahwa, “Aku berkata aku percaya padanya, tapi dalam kebenaran aku sama sekali tidak memiliki apapun.”

 

Baek-mae meminta Soo-ryun untuk tidak mengatakan pada Gu kalau dia sempat kesini dan berkata, “Aku lebih takut sekarang ketimbang sebelumnya, hingga aku mungkin kehilangan salah satu dari mereka.” Iljimae dan Keol-chi kembali ke kuil, hanya untuk mendapati kalau Wol-hee sudah ditangkap oleh para pemburu. Iljimae kesal sebab Yeol-gong membiarkan hal tersebut terjadi, tapi Yeol-gong mengatakan kalau dia hanya seorang biksu – apa Iljimae mengharapkannya bertarung? Dan juga kelompok pemburu itu membawa senapan.

 

Mereka juga meninggalkan pesan untuk Iljimae, yang mengatakan kalau Iljimae harus membawa apa yang sudah dia curi dari Tuan Kwon dan mengantarkannya ke Kim Ja-jeom. Ini membuktikan kalau Kim Ja-jeom terlibat dalam konspirasi menjual Negara itu dan lebih jauh, dia pastilan orang dibalik aksi Tuan Kwon. Hal ini membawa mereka ke rumah Bae Sun-dal dan Cha-dol, yang senang melihat Iljimae di tengah2 mereka. Mereka seperti penggemar berat Iljimae, dimana keduanya menggenggam tangan Iljimae dengan kagum. Iljimae menarik tangannya dari Cha-dol, sebab dia merasa tidak nyaman pada perhatian seperti itu.

 

Alasan kunjungan ini adalah karena rumah Cha-dol dan Bae Sun-dal kebetulan berdekatan dengan Kim Ja-jeom. Iljimae menanyakan pada mereka informasi tentang penghuni rumah itu serta denah rumah Kim Ja-jeom, mencoba mendapatkan beberapa detail untuk menyelamatkan Wol-hee.

 

Pada saat itu, Wol-hee disekap di ruang penyimpanan besar di rumah itu, meski begitu dia tidak takut kali ini. Sebaliknya, dia menantikan Iljimae akan datang menyelamatkannya. Reaksi Wol-hee berubah menjadi jijik ketika Kim Ja-jeom memeriksa keadaannya, dia senang karena sudah menangkap umpan yang sangat sempurna. Dengan Wol-hee aman disekap di gudang, tim pemburu Park Su-dong menyebar dan bersembunyi di tempat2 tertentu dan mempersiapkan diri mereka untuk kedatangan Iljimae.

 

Akan tetapi, ramalan sang dukun wanita sedikit berbeda, sebab dia mengatakan pada Kim Ja-jeom kalau dia tidak bisa merasakan apapun saat ini dan bahwa Iljimae tidak akan beraksi setidaknya hingga sepuluh hari lagi. Itu membuat Kim tenang dan meminta para pemburu untuk keluar dari tempat persembunyiannya. Tidak ada gunanya bersiaga seperti itu ketika tidak akan ada hal yang terjadi. Lebih jauh, Kim Ja-jeom merasa senang sebab ada satu tim pemburu yang akan melawan Iljimae.

Untuk itulah, dia memanggil para gisaeng untuk berpesta malam ini. Park Su-dong tidak begitu tenang dan tetap berjaga, tidak ikut menikmati kemewahan itu. Dia melangkah keluar, menjauh dari pesta itu, dimana dia bertemu dengan bangsawan yang sangat tampan…

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s